Anda di halaman 1dari 15

Sistem nilai

Sistem nilai merupakan bagian inti dari sistem budaya (ideasional/kognitif/mental) yang saling terikat dengan sistem-sistem gagasan, pengetahuan, kepercayaan, norma/aturan, dan lain-lain dalam kebudayaan bersangkutan.

Sistem nilai
Suatu perangkat sistem nilai dibagi bersama masyarakat maritim, khususnya nelayan dan pelayar, ialah nilai-nilai akan kekuatan fisik manusia, pengetahuan dan keterampilan, kejujuran, kepatuhan, kesetiaan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai praktik tersebut menjadi ukuran bagi perekrutan anak buah kapal dan menjadi penentu bagi kekokohan kelompok dan keberlangsungan sektor usaha kebaharian (Acheson,1981).

D. Sistem Norma/Aturan

Sistem norma/aturan dalam setiap kebudayaan, termasuk kebudayaan maritim, tentu saja berfungsi mengatur secara khusus perangkat-perangkat tindakan kelompok atau individu dalam semua bidang kehidupan.

D. Sistem Norma/Aturan

misalnya, kebijakan dan norma yang mengatur pemanfaatan lingkungan dan sumber daya laut seperti larangan penggunaan sarana tangkap destruktif dan eksplitatif, larangan mengambil terumbu karang, larangan mengambil tumbuhan dan satwa langka, larangan pencemaran laut, sistem pemilikan wllayah laut, dan lain-lain, sebetulnya didasarkan pada nilai kelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam laut secara adil dan berkelanjutan.

D. Sistem Norma/Aturan

Mengenai pemberlakuan norma/aturan berkenaan pengelolaan modal usaha nelayan, aturan bagi hasil, pengelolaan lokasi penangkapan, dan aturan kuota penangkapan dapat dicontohkan dl bawah ini:

Norma penkreditan, pomataran, dan penentuan harga. Penerapan aturan bagi hasil Hak penguasaan wllayah/lokasi penangkapan.
Larangan penggunaan bom, bius, dan pukat harimau. Peraturan kuota. Peraturan keselamatan pelayaran.

2. Bahasa

Bahasa yang digunakan masyarakat maritim banyak berbeda dengan yang digunakan masyarakat di darat meskipun berasal dari suku bangsa yang sama. perbedaan itu bukan dari segi tatabahasa/gramtikanya, tetapi dalam hal perbendaharaan dan pemaknaan kata-kata yang diucapkan sehari-hari menamai unsurunsur dan gejala alam fisik dan flora-fauna yang dimanfaafkan

2. Bahasa

Musim: timo' (musim timur), bare' (musim barat), jenne' kebo' (musirn pancaroba), dan lain-lain. . Lokasi sumber daya alam : taka, pasi, bungin, pulau, dan lain-lain , Jenis-Jenis karang : batu/batu karang, k.bunga, k.kantapa, k.kikirang, k.batu kalapi, k.tinggi, k,keriting, k.lamo, k.puto (karang mati berwarna putih), dan sebagainya. Kondisi air laut : antara lain pasang, meti, dan tain-lain . Jenis-jenis Ikan karang: antara tain sunu, kerapu, katamba, langkoe atau laccukang, sarisi, rappo-rappo, lamuru, tenggiri, baronang (ekor kuning). Perahu: lepa-lepa, sampan, jarangka', lambo, sandeq, patorani, padewakang, pinisi, p.bagang, jolloro', bodi(tipe kapal kayu ukuran kecil). Alat tangkap : antara lain pancing labu, p.kedo-kedo/p.tonda, bubu, puka', rumpong, bagang, kompresor, gula-gula dan kelereng (potas), pupuk/tepung (bahan peledak). Kata pengganti nama binatang yang dlpermalikan diucapkan di laut : antara lain toriwai/torije'ne (buaya), todapo' (kucing), dan totakke (monyet). Nama-nama binatang tersebut, menurut kepercayaan pelaut bugis dan Makassar masa lalu, kalau disebut dapat menimbulkan bahaya.

3. Organisasi Sosial

Dalam masyarakat maritim, kelompok kerja/organisasi sosial yang merupakan salah satu unsur universal kebudayaan dibutuhkan secara mutlak kelompok kerja/organisasi sosial ltu mempunyai multifungsi yang kompleks. Contoh kelompok-kelompok kerjasama nelayan dan pelayar, antara lain seperti ships's capkincrew (komunitas-kornunitas nelayan dan pelayar berbahasa Inggris), schiBper-bemanning (Belanda), juragan-pandega (jawa), tanasewasanae (Maluku), dan ponggawa-sawl (bugis, Makaosar).

3. Organisasi Sosial

Sekurang-kurangnya ada empat fungsi utama yang paling berkaitan dari kelompok kerja/organisasi sosial (dengan bentuknya yang berbeda-boda) mutlak diperlukan, yakni:
Meringankan dan menyederhanakan pekerjaan berat dan rumit di laut Mekanisme perolehan modal dan pemasaran tangkapan Wadah dan media pembelaJaran pengetahuan, keterampilan kerja dan kepribadian kebaharian. Lembaga dan media tolong menolong dan sekuritas sosial Mekanisme distribusi risiko bahaya kqrugian ekonomi dan bahaya maut serta meringankan beban psikologis dan tanggung jawab sosial.

3. Organisasi Sosial

Sudah menjadi wacana umum dalam masyarakat maritim bahwa pekerjaan di laut penuh dengan resiko bahaya yang mengancam keselamatan jiwa dan kerugian ekonomi serta meningkatkan ketegangan jiwa bagi para anak buah. Pada kenyataannya dari waktu ke waktu selalu terjadi kecelakaan tenggelamnya kapal yang membawa korban iiwa dan,material (ekonomi) yang tak ternilai; Untuk itu diperlukan kelompok kerja/organisasi sosial yang secara aktif melakukan upaya nyata pemecahan masalah, pada satu sisi, dan secara pasif dan spontan mendistribusi resiko bahaya maut dan kerugian material serta meringankan beban psikologis dan tanggung jawab sosial bagi setiap awak kapal pada sisi lainnya.

4. Sistem Teknologi Kebaharian

Salah satu pembeda utama antara kebudayaan masyarakat maritim dan darat yang sekaligus menjadi keunikannya yang mencolok ialah kompleksitas tipe/bentuk dan variasi teknologi digunakan.

4. Sistem Teknologi Kebaharian

Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompokkelompok suku bangsa pelaut di lndonesia (lihat Horridge, 1986,1980), antara lain sebagai berlkut : P.patorani (Makassar) Lambo (Mandar) Pinisi (Bugis) Sandeq, Pangkur, Bago (Mandar) Bagang (Bugis) Padewakang(makassar)

4. Sistem Teknologi Kebaharian

Teknologi penangkapan ikan di lndonesia (lihat P.N. van Kampen, 1909) dapat dikategorikan ke dalam lima kategorl besar sebagai berikut : 1) Net 2) Pancing 3) Bubu 4) Alat tusuk: tombak, panah 5) Teknik lainnya.

4. Sistem Teknologi Kebaharian

Dalam hal tipe perahu dan alat tangkap, menjadi kenyataan masih bertahannya tekonologi lokal yang dicirikan dengan kebudayaan suku bangsa pelaut tertentu, demikian halnya tipe perahu nelayan lokal masih ada kecenderungan seperti itu. Sebaliknya, dalam tipe kapal dan mesin serta berbagai unsur perlengkapan modern (kompas, radar, sonar, pemancar radio, GPS, sarana pengolahan dan pengawetan hasil tangkapan) justru mulai menunjukkan homogonitas sebagai konsekuensid ari hegemoni ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Hal tersebut mengenal pula sektor-sektor kebaharian lainnya