Anda di halaman 1dari 12

ASURANSI dalam ISLAM

ARTIKEL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester MataKuliah : Bahasa Indonesia Dosen Pengampu : Aliyatin Nafisah, SH, M.Pd

Disusun oleh: Laila Fitriyana ( 212235 )

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN SYARI`AH/EI - REGULER TAHUN AKADEMIK 2013

ASURANSI dalam ISLAM


A. Pengertian Asuransi Asuransi berasal dari kata assurantie dalam bahasa Belanda,

atau assurance dalam bahasa perancis, atau assurance /insurance dalam bahasa Inggris. Assurance berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi, sedang Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Menurut sebagian ahli asuransi berasal dari bahasa Yunani,

yaitu assecurare yang berarti menyakinkan orang. Di dalam bahasa Arab asuransi dikenal dengan istilah : At Takaful, atau At Tadhamun yang berarti : saling menanggung. Asuransi ini disebut juga dengan istilah At-Tamin, berasal dari kata amina, yang berarti aman, tentram, dan tenang. Dinamakan At-Tamin, karena orang yang melakukan transaksi ini (khususnya para peserta) telah merasa aman dan tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya dengan adanya transaksi ini. Adapun asuransi menurut terminologi sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992: Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.1

Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hlm.72.

B. Bentuk - Bentuk Asuransi Para ahli berbeda pendapat di dalam menyebutkan jenis-jenis asuransi, karena masing-masing melihat dari aspek tertentu. Oleh karenanya, dalam tulisan ini akan disebutkan jenis-jenis asuransi ditinjau dari berbagai aspek, baik dari aspek peserta, pertanggungan, maupun dari aspek sistem yang digunakan : 1. Asuransi ditinjau dari aspek peserta, maka dibagi menjadi : a. Asuransi pribadi (Tamin Fard ) : yaitu asuransi yang dilakukan oleh seseorang untuk menjamin dari bahaya tertentu. Asuransi ini mencakup hampir seluruh bentuk asuransi, selain asuransi sosial. b. Asuransi sosial (Tamin Ijtimai) , yaitu asuransi (jaminan) yang diberikan kepada komunitas tertentu, seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota ABRI, orang-orang yang sudah pensiun, orang-orang yang tidak mampu dan lain-lainnya. Asuransi ini biasanya diselenggarakan oleh pemerintah dan bersifat mengikat, seperti Asuransi Kesehatan (Askes), Asuransi Pensiunan dan Hari Tua (PT Taspen), Astek (Asuransi Sosial Tenaga Kerja) yang kemudian berubah menjadi Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), Asabri (Asuransi Sosial khusus ABRI), asuransi kendaraan, asuransi pendidikan dan lain-lain.2 2. Asuransi ditinjau dari bentuknya Asuransi ditinjau dari bentuknya dibagi menjadi : a. Asuransi Takaful atau Taawun (At Tamin At Taawuni) b. Asuransi Niaga (At Tamin At Tijari) ini mencakup : asuransi kerugian dan asuransi jiwa.

Husain bin Muhammad al Malah. (2001). Al fatwa Nasyatuha wa Tathuwuruha. (online), Tersedia: http://www.asuransicerdas.com (20 Mei 2013)

3. Asuransi ditinjau dari aspek pertanggungan atau obyek yang dipertanggungkan Jenis-jenis asuransi ditinjau dari aspek pertanggungan adalah sebagai berikut: a. Asuransi Umum atau Asuransi Kerugian (Tamin Al Adhrar) Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian terjadi karena bencana atau bahaya, baik kerugian itu berupa kehilangan nilai pakai atau kekurangan nilainya atau kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung. Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung jika selama jangka waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang dipertanggungkan. b. Asuransi Jiwa (Tamin al Askhas) Asuransi jiwa adalah sebuah janji dari perusahaan asuransi kepada nasabahnya bahwa apabila si nasabah mengalami risiko kematian dalam hidupnya, maka perusahaan asuransi akan memberikan santunan dengan jumlah tertentu kepada ahli waris dari nasabah tersebut.3 Asuransi jiwa mempunyai tiga bentuk , yaitu : 1. Term Assurance (Asuransi Berjangka) Term assurance adalah bentuk dasar dari asuransi jiwa, yaitu polis yang menyediakan jaminan terhadap risiko meninggal dunia dalam periode waktu tertentu. Contoh Asuransi Berjangka (Term Insurance) : Usia tertanggung 30 tahun Masa kontrak 1 tahun Rate premi (misal) : 5 permill/tahun dari uang pertanggungan Uang pertanggungan : Rp.100.000.000 Premi tahunan yang harus dibayar: 5/1000 x 100.000.000 = Rp. 500.000

Suhrawardi K. Lubis, Op. Cit., hlm.77 78.

Yang ditunjuk sebagai penerima UP: Istri (50%) dan anak pertama (50%) Bila tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak, maka perusahaan Asuransi sebagai penanggung akan membayar uang Pertanggungan sebesar Rp.100.000.000 kepada yang ditunjuk. 2. Whole Life Assurance (Asuransi Jiwa Seumur Hidup) Merupakan tipe lain dari asuransi jiwa yang akan membayar sejumlah uang pertanggungan ketika tertanggung meninggal dunia kapan pun. Polis ini merupakan polis permanen yang tidak dibatasi tanggal berakhirnya seperti pada term assurance. Karena klaim pasti akan terjadi maka premium akan lebih mahal dibanding premi term assurance dimana klaim hanya mungkin terjadi. Polis whole life merupakan polis substantif dan sering digunakan sebagai proteksi dalam pinjaman. 3. Endowment Assurance (Asuransi Dwiguna) Pada tipe ini, jumlah uang pertanggungan akan dibayarkan pada tanggal akhir kontrak yang telah ditetapkan. Contoh Asuransi Dwiguna Berjangka (Kombinasi Term & Endowment) Usia tertanggung 30 tahun Masa kontrak 10 tahun Rate premi (misal) : 85 permil/tahun dari uang pertanggungan Uang pertanggungan : Rp.100.000.000 Premi yang harus dibayar : 85/1000 x 100.000.000 = Rp. 8.500.000,Yang ditunjuk sebagai penerima UP : Istri (50%) dan anak pertama (50%), yaitu : a. Bila tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak, maka perusahaan asuransi sebagai penanggung akan membayar uang pertanggungan sebesar Rp.100.000.000 kepada yang ditunjuk. b. Bila tertanggung hidup sampai akhir kontrak, maka tertanggung akan menerima uang pertanggungan sebesar Rp.100.000.000.

4. Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan Asuransi ditinjau dari sistem yang digunakan, maka menjadi : a. Asuransi konvensional b. Asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan operator.4

C. Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional Adapun perbedaan antara keduanya adalah ditinjau dari berbagai sisi berikut: 1. Prinsip Dasar Asuransi konvensional dan asuransi syariah keduanya bertugas untuk mengelola dan menanggulangi risiko, hanya saja di dalam asuransi syariah konsep pengelolaannya dilakukan dengan menggunakan pola saling menanggung risiko antara pengelola dan peserta (risk sharing) atau disebut dengan at takaful dan at tadhamun. Sedang dalam asuransi konvensional pola kerjanya adalah memindahkan risiko dari nasabah (peserta) kepada perusahaan (pengelola), yang disebut dengan risk transfer sehingga risiko yang mengenai peserta akan ditanggung secara penuh oleh pengelola. 2. Akad Pada bagian tertentu asuransi syariah akadnya adalah tabarru (sumbangan kemanusiaan) dan taawun (tolong menolong), serta akad wakalah dan mudharabah (bagi hasil). Sedangkan pada asuransi konvensional, akadnya adalah jual beli yang bersifat al gharar (spekulatif). 3. Kepemilikan Dana Di dalam asuransi konvensional dana yang dibayarkan nasabah kepada perusahaan (premi) menjadi milik perusahaan secara penuh, khususnya jika peserta tidak melakukan klaim apapun selama masa asuransi. Sedangkan di dalam asuransi syariah dana tersebut masih menjadi milik peserta, setelah dikurangi pembiayaan dan fee (ujrah) perusahaan karena di dalam asuransi
4

Muhaimin Iqbal, Asuransi Umum Syariah dalam Praktik, Afifah Afra, Solo, 2006, hlm.2.

syariah, perusahaan hanya sebagai pemegang amanah (wakil) yang digaji oleh peserta, atau yang sering disebut dengan istilah al Wakalah bi al Ajri. Bisa juga perusahaan sebgai pengelola dana (mudharib) dalam akad mudharabah (bagi hasil). Bahkan ada perusahaan yang mengembalikan underwriting surplus pengelolaan dana tabarrunya kepada peserta selama tidak ada klaim pada masa asuransi ataupun perusahaan sebagai pengelola dana. 4. Obyek Asuransi syariah hanya membatasi pengelolaannya pada obyek-obyek asuransi yang halal dan tidak mengandung syubhat. Oleh karenanya tidak boleh menjadikan obyeknya pada hal-hal yang haram atau syubhat, seperti gedung-gedung yang digunakan untuk maksiat, atau pabrik-pabrik minuman keras dan rokok, bahkan juga hotel-hotel yang tidak syariah. Adapun Asuransi konvensional tidak membedakan obyek yang haram atau halal yang penting mendatangkan keuntungan. 5. Investasi Dana Dana dari kumpulan premi dari peserta selama belum dipakai, oleh perusahaan asuransi syariah diinvestasikan pada lembaga keuangaaan yang berbasis syariah atau pada proyek-proyek yang halal yang didasarkan pada sistem upah atau bagi hasil. Adapun asuransi konvensional pengelolaan investasinya pada sistem bunga yang banyak mengandung riba dan spekulatif (gharar). 6. Pembayaran Klaim Pada asuransi syariah pembayaran klaim diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) dari seluruh peserta, yang sejak awal diniatkan untuk diinfakkan untuk kepentingan saling tolong menolong bila terjadi musibah pada sebagian atau seluruh peserta. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari dana perusahaan karena sejak awal perjanjian bahwa seluruh premi menjadi milik perusahaan dan jika terjadi klaim, maka secara otomatis menjadi pengeluaraan perusahaan.

7. Pengawasan Dalam asuransi syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS), sesuatu yang tidak di dapatkan pada asuransi konvensional. 8. Dana Zakat Dalam asuransi syariah ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat sebagaimana ketentuan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional tidak dikenal istilah zakat.5

D. Hukum Asuransi Menurut Islam Hukum asuransi menurut Islam berbeda antara satu jenis dengan lainnya, adapun rinciannya sebagai berikut : 1. Asuransi Taawun Untuk asuransi taawun dibolehkan di dalam Islam, alasan-alasannya sebagai berikut : a. Asuransi taawun termasuk akad tabarru (sumbangan suka rela) yang bertujuan untuk saling bekerja sama di dalam mengadapi marabahaya, dan ikut andil di dalam memikul tanggung jawab ketika terjadi bencana. Caranya adalah bahwa beberapa orang menyumbang sejumlah uang yang dialokasikan untuk kompensasi orang yang terkena kerugian. Kelompok asuransi taawun ini tidak bertujuan komersil maupun mencari keuntungan dari harta orang lain, tetapi hanya bertujuan untuk meringankan ancaman bahaya yang akan menimpa mereka, dan

bekerjasama di dalam menghadapinya. b. Asuransi taawun ini bebas dari riba, baik riba fadhal, maupun riba nasiah, karena memang akadnya tidak ada unsur riba dan premi yang dikumpulkan anggota tidak diinvestasikan pada lembaga yang berbau riba.

M. Amin Summa, Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional, Kholam Pub, Tangerang, 2006, hlm.60-65.

c. Ketidaktahuaan para peserta asuransi mengenai kepastian jumlah santunan yang akan diterima bukanlah sesuatu yang berpengaruh, karena pada hakikatnya mereka adalah para donatur, sehingga di sini tidak mengandung unsur spekulasi, ketidakjelasan dan perjudian. d. Adanya beberapa peserta dana yang asuransi atau perwakilannya para peserta yang untuk

menginvestasikan

dikumpulkan

mewujudkan tujuan dari dibentuknya asuransi ini, baik secara sukarela, maupun dengan gaji tertentu.6 2. Asuransi Sosial Begitu juga asuransi sosial hukumnya adalah diperbolehkan dengan alasan sebagai berikut : a. Asuransi sosial ini tidak termasuk akad muawadlah ( jual beli ), tetapi merupakan kerjasama untuk saling membantu. b. Asuransi sosial ini biasanya diselenggarakan oleh pemerintah. Adapun uang yang dibayarkan anggota dianggap sebagai pajak atau iuran, yang kemudian akan diinvestasikan pemerintah untuk menanggulangi bencana, musibah, ketika menderita sakit ataupun bantuan di masa pensiun dan hari tua dan sejenisnya, yang sebenarnya itu adalah tugas dan kewajiban pemerintah. Maka dalam akad seperti ini tidak ada unsur riba dan perjudian.7 3. Asuransi Bisnis atau Niaga Adapun untuk asuransi niaga maka hukumnya haram. Adapun dalil-dalil diharamkannya asuransi niaga ( bisnis ), antara lain sebagai berikut : a. Perjanjian asuransi bisnis ini termasuk dalam akad perjanjian kompensasi keuangan yang bersifat spekulatif, dan karenanya mengandung unsur gharar yang kentara. Karena pihak peserta pada saat akad tidak mengetahui secara pasti jumlah uang yang akan dia berikan dan yang akan dia terima. Karena bisa jadi, setelah sekali atau dua kali membayar iuran, terjadi kecelakaan sehingga ia berhak mendapatkan
6 7

Suhrawardi K. Lubis, Op. Cit., hlm.82 85. Ibid., hlm.78 79.

jatah yang dijanjikan oleh pihak perusahaan asuransi. Namun terkadang tidak pernah terjadi kecelakaan, sehingga ia membayar seluruh jumlah iuran, namun tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga pihak perusahaan asuransi tidak bisa menetapkan jumlah yang akan diberikan dan yang akan diterima dari setiap akad secara terpisah. Dalam hal ini, terdapat hadits Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata :


Rasulullah saw melarang jual beli dengan cara hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur penipuan (Hadist Riwayat Muslim, no: 2787). b. Perjanjian asuransi bisnis ini termasuk bentuk perjudian (gambling), karena mengandung unsur mukhatarah (spekulasi pengambilan risiko) dalam kompensasi uang, juga mengandung (al ghurm) merugikan satu pihak tanpa ada kesalahan dan tanpa sebab, dan mengandung unsur pengambilan keuntungan tanpa imbalan atau dengan imbalan yang tidak seimbang. Karena pihak peserta (penerima asuransi) terkadang baru membayar sekali iuran asuransi, kemudian terjadi kecelakaan, maka pihak perusahaan terpaksa menanggung kerugian karena harus membayar jumlah total asuransi tanpa imbalan. Sebaliknya pula, bisa jadi tidak ada kecelakaan sama sekali, sehingga pihak perusahaan mengambil keuntungan dari seluruh premi yang dibayarkan seluruh peserta secara gratis. Jika terjadi ketidakjelasan seperti ini, maka akad seperti ini termasuk bentuk perjudian yang dilarang oleh Allah swt, sebagaimana di dalam firman-Nya :


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib de-ngan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan

(Al-Qur`an, Surah Al-Maidah: 29). c. Perjanjian asuransi bisnis itu mengandung unsur riba fadhal dan riba nasiah sekaligus. Karena kalau perusahaan asuransi membayar konpensasi kepada pihak peserta (penerima jasa asuransi), atau kepada ahli warisnya melebihi dari jumlah uang yang telah mereka setorkan, berarti itu riba fadhal. Jika pihak perusahaan membayarkan uang asuransi itu setelah beberapa waktu, maka hal itu termasuk riba nasiah. Jika pihak perusahaan asuransi hanya membayarkan kepada pihak nasabah sebesar yang dia setorkan saja, berarti itu hanya riba nasiah. Dan kedua jenis riba tersebut telah diharamkan berdasarkan nash dan ijma para ulama. d. Akad asuransi bisnis juga mengandung unsur rihan ( taruhan ) yang diharamkan. Karena mengandung unsur ketidakpastian, penipuan, serta perjudian. Syariat Islam tidak membolehkan taruhan kecuali apabila menguntungkan Islam, dan mengangkat syiarnya dengan hujjah dan senjata. Nabi saw telah memberikan keringanan pada taruhan ini secara terbatas pada tiga hal saja, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda :


Tidak ada perlombaan kecuali dalam hewan yang bertapak kaki (unta), atau yang berkuku ( kuda ), serta memanah (Hadist Shahih Riwayat Abu Daud, no: 2210). Asuransi tidak termasuk dalam kategori tersebut, bahkan tidak mirip sama sekali, sehingga diharamkan. e. Perjanjian asuransi bisnis ini termasuk mengambil harta orang tanpa imbalan. Mengambil harta tanpa imbalan dalam semua bentuk perniagaan itu diharamkan, karena termasuk yang dilarang dalam firman Allah:

10

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (Al-Qur`an, Surah An-Nisa`: 29). f. Perjanjian asuransi bisnis itu mengandung unsur mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syara karena pihak perusahaan asuransi tidak pernah menciptakan bahaya dan tidak pernah menjadi penyebab terjadinya bahaya yang ada hanya sekedar bentuk perjanjian kepada pihak peserta penerima asuransi, bahwa perusahaan akan bertanggung jawab terhadap bahaya yang kemungkinan akan terjadi, sebagai imbalan dari sejumlah uang yang dibayarkan oleh pihak peserta penerima jasa asuransi. Padahal di sini pihak perusahaan asuransi tidak melakukan satu pekerjaan apapun untuk pihak penerima jasa, maka perbuatan itu jelas haram.8

Referensi : M. Amin Summa, Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional, Kholam Pub, Tangerang, 2006. Mohammad Muslehuddin, Asuransi dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2005. Muhaimin Iqbal, Asuransi Umum Syariah dalam Praktik, Afifah Afra, Solo, 2006. Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2004. Husain bin Muhammad al Malah. (2001). Al fatwa Nasyatuha wa Tathuwuruha. (online), Tersedia: http://www.asuransicerdas.com (20 Mei 2013)

Mohammad Muslehuddin, Asuransi dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2005, hlm.123.

11