Anda di halaman 1dari 4

Diare pada anak disebabkan beberapa faktor diantaranya : 1. Peradangan pada Usus.

Usus besar pada tubuh berfungsi untuk menyerap sebagian besar air yang terkandung pada makanan, setelah diserap oleh usus besar, sisa atau ampas makanan yang berbentuk setengah padat (kotoran) akan dikeluarkan dari tubuh. Jika terjadi peradangan pada usus ini, maka fungsi usus besar akan terganggu. 2. Kurang Gizi 3. Keracunan makanan tertentu 4. Tidak kuat atau alergi terhadap jenis makanan tertentu, misalnya makanan yang pedas, asam 5. Virus atau bakteri Jika kelima hal diatas terjadi pada buah hati kita maka bisa dipastikan anak akan mengalami demam pada tubuhnya, diantaranya tanda tanda jika terjadi Demam pada tubuh anak kita : 1. adalah naiknya temperature tubuh diatas normal. 2. Temperature tubuh yang normal adalah sekitar 97F sampai 99F (36-37C). 3. kenaikan suhu badan sampai 106F (41C) atau lebih. Sebab demam dan reaksi tubuh jika anak demam : 1. dapat merupakan pertanda reaksi tubuh terhadap kemungkinan suatu penyakit, mulai dari penyakit ringan sampai penyakit yang tergolong berat. 2. Demam akan menguras kalori dalam tubuh dan merusak jaringan tubuh. 3. Serta berkurangnya cairan tubuh akibat keluarnya keringat sebagai suatu mekanisme pengaturan suhu tubuh. 4. Keadaan yang biasa menyertai demam adalah muka merah, sakit kepala, mual, sakit di sekujur tubuh, nafsu makan berkurang atau tidak ada sama sekali Penanganan jika anak kita mengalami demam : 1. Kompres dengan air biasa 2. Minum obat penurun panas sementara 3. Minum air mengandung gula & garam/ air teh hangat/ susu encer, sesering mungkin untuk mengganti cairan tubuh yg hilang karena panas 4. Jangan panik menghadapi kondisi anak kita yang sedang mengalami demam dan tetap tenang dalam menghadapinya 5. Bila panas tidak turun dalam 1x24 jam segera bawa ke dokter Untuk mencegah dehidrasi, sebetulnya cukup berikan terus cairan apa saja. Bisa minuman, makanan yang mengandung banyak air seperti jeli, agar-agar, atau buah-buahan, atau makanan dengan kuah yang banyak seperti sup. Makin disukai anak makin baik karena dengan begitu masuknya juga makin banyak dan mudah. Beberapa orang menyarankan minuman isotonik yang katanya merupakan pengganti cairan tubuh. Ini tidak sepenuhnya bagus untuk kondisi sakit karena biasanya minuman seperti ini

kandungan sodium/natriumnya sangat tinggi. Pada beberapa orang kandungan natrium yang tinggi akan menimbulkan iritasi pada pencernaan. Saya sendiri memberikan salah satu merek minuman seperti ini untuk anak-anak karena mereka suka rasanya dan gampang terminum dalam jumlah banyak ketika sakit. Mungkin cocok sama rasanya :) Kebetulan yang saya pilih ternyata adalah merek dengan natrium paling sedikit dan alhamdulilah ngga ada keluhan apapun. Oiya, saya hanya berikan minuman tersebut ketika sakit atau ketika bepergian jauh saja. Bila nampaknya kecepatan asupan cairan yang masuk tidak setara dengan cairan yang terbuang, berikan Cairan Rehidrasi Oral (CRO). CRO mengandung elektrolit, garam dan gula yang seimbang untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah atau diare. CRO bisa dibuat sendiri dari campuran air, garam, dan gula. Bisa juga beli oralit sachet di apotek untuk dilarutkan dalam air matang sesuai petunjuk, atau beli pedialyte yang sudah langsung dalam bentuk cairan. Sebaiknya CRO diberikan dalam jumlah yang sedikit tapi sering supaya ngga dimuntahkan lagi. Berikut ini langkah-langkah pemberian cairan berdasarkan umur anak: 1. Bayi dibawah usia 1 tahun: o Jika bayi disusui secara eksklusif dan muntah (tidak gumoh, tetapi muntah sebanyak apa yang diminumnya) lebih dari sekali, maka berikan ASI selama 5-10 menit setiap 2 jam. Jika masih muntah juga, hubungi dokter. o Jika bayi berusia di bawah 1 bulan dan memuntahkan semua yang diminumnya (bukan hanya gumoh) setiap kali habis disusui, hubungi dokter. o Hindari pemberian air putih pada bayi di bawah usia 1 tahun, kecuali jika dokter Anda secara langsung menentukan jumlahnya. o Berikan CRO dalam jumlah sedikit tetapi sering sekitar 3 sendok teh, atau ons (sekitar 20 ml) setiap 15-20 menit dengan sendok atau suntikan tanpa jarum (seperti pipet dengan dosis terukur) melalui mulut. CRO mengandung elektrolit, garam dan gula yang seimbang untuk menggantikan cairan yang hilang dari muntah atau diare. o Untuk bayi dibawah 6 bulan (yang bukan bayi ASI eksklusif) sebaiknya dipilih CRO tanpa rasa, sementara bayi di atas usia 6 bulan mungkin lebih suka yang ada rasanya. Untuk memberikan rasa, dapat ditambahkan sendok teh (sekitar 3 mililiter) jus untuk pada CRO. CRO yang dibekukan (dibuat pop ice) juga mungkin menarik untuk bayi usia setahunan. o Secara bertahap tingkatkan jumlah CRO yang diberikan bila bayi dapat menerimanya dalam beberapa jam tanpa muntah. Misalnya, jika bayi biasa mendapat 4 ons (sekitar 120 ml) setiap minum, maka secara perlahan-lahan berikan CRO sampai sejumlah ini. o Jangan memberikan CRO lebih banyak dari porsi minum normal bayi pada satu waktu. Hal ini justru dapat memicu muntah karena kekenyangan. o Setelah melalui 8 jam tanpa muntah, ASI atau susu formula (bila menggunakan susu formula) dapat diberikan kembali perlahan-lahan. Mulailah dengan jumlah sedikit ( 30-60 ml), lebih sering dan perlahan-lahan bekerja sampai mendekati jumlah asupan normalnya. MPASI juga dapat mulai diberikan dalam jumlah kecil dan tekstur yang lembut terlebih dahulu seperti pisang, sereal, biskuit, atau makanan bayi ringan lainnya.

Jika bayi tidak muntah selama 24 jam, pola makan dapat kembali seperti biasa.

2. Anak usia diatas 1 tahun: o Berikan cairan dalam jumlah kecil (mulai dari 2 sendok teh sampai 2 sendok makan, atau sampai dengan 1 ons atau 30 ml) setiap 15 menit. Cairan bening yang sesuai meliputi: CRO, atau tambahkan sendok teh (sekitar 3 ml) dari jus buah yang tidak asam ke CRO CRO yang dibekukan (jadi semacam es loli atau pop ice) o Bila susu dan produk turunan susu (es krim, yogurt, keju, dll) memicu mual dan muntah, maka sebaiknya dihindari dulu. Demikian pula dengan minuman yang sifatnya asam. Tapi bila disukai dan tidak ada efek merugikan, bisa diteruskan. Pada dasarnya semua cairan akan membantu menghambat dehidrasi. o Jika anak muntah, maka mulai kembali dengan jumlah yang lebih kecil (2 sendok teh, atau sekitar 5 ml) dan lanjutkan seperti di atas. o Jika tidak ada muntah selama sekitar 8 jam, maka dapat diperkenalkan makanan ringan secara bertahap. Tapi jangan memaksa setiap makanan. Anak akan memberi tanda ketika dia lapar. Biskuit asin, roti bakar, kaldu, atau sup ringan, pure kentang, beras, dan roti dapat diberikan. o Jika tidak ada muntah-muntah selama 24 jam, maka pola makan seperti biasa dapat perlahan-lahan dilanjutkan . Tunggu 2 sampai 3 hari sebelum kembali memperkenalkan produk-produk susu. Diperlukan kecepatan dan ketepatan dalam menangani dehidrasi. Pengamatan klinis merupakan langkah awal yang penting dalam serangkaian penanganan diare pada anak, terutama dalam hal penentuan derajat dehidrasi. Kita mengenal 3 status dehidrasi pada seorang anak yang mengalami diare, yaitu: (1) tanpa dehidrasi, (2) dehidrasi ringan-sedang, dan (3) dehidrasi berat. Tetapi cairan yang diberikan pun disesuaikan dengan derajat dehidrasi yang ada. Pada keadaan tanpa dehidrasi, secara klinis anak masih terlihat aktif dan buang air kecil masih berlangsung normal. Pada keadaan ini tidak perlu membatasi pemberian makanan dan minuman termasuk susu formula. ASI diteruskan pemberiannya. Untuk mencegah dehidrasi dapat diberikan CRO sebanyak 5-10 cc/kg BB setiap buang air besar dengan tinja cair. Pada bayi, oralit dapat diberikan dengan cara berselang-selang dengan cairan yang tidak mengandung kadar Na seperti air putih atau ASI. Rehidrasi dengan menggunakan clear fliud (air putih, cairan rumah tangga, sari buah, dsb) akan memberikan hasil tidak optimal. Karena, kandungan natriumnya kurang. Sebaiknya, pemberian jus buah dan coal dapat memperbesar keadaan diare, karena mengandung osmolaritas tinggi di samping kadar Na yang rendah. Dehidrasi ringan-sedang Pada keadaan dehidrasi ringan-sedang, anak terlihat gelisah, rewel, sangat haus, dan buang air kecil mulai berkurang. Mata agak cekung, tidak ada air mata, turgor (kekenyalan kulit)

menurun, dan mulut kering. Rehidrasi dilaksanakan dengan memberikan CRO sebanyak 75ml/kg BB yang diberikan dalam 3-4 jam. Apabila telah tercapai rehidrasi dapat segera diberikan makan dan minum, ASI diteruskan, pemberian CRO rumatan (5-10 ml/kg BB) setiap buang air besar cair. Minuman, seperti cola, gingerale, aple juice, dan minuman olah raga sports drink umumnya mengandung kadar Na yang rendah sehingga tidak dapat mengganti kehilangan elektrolit yang telah terjadi. Makanan tidak perlu dibatasi, karena meneruskan pemberian makanan (early feeding) akan mempercepat penyembuhan. Bila disertai muntah, CRO dapat diberikan secara bertahap; 1 atau 2 sendok teh setiap 1 atau 2 menit dengan peningkatan jumlah sesuai dengan kemajuan daya terima anak. Tindakan ini perlu di bawah pengawasan, sehingga dapat dilaksanakan pada suatu ruang observasi yang dikenal dengan ruang Upaya Rehidrasi Oral atau Ruang Rawat Sehari. Pada akhir jam ke 3-4, pasien dapat dipulangkan untuk mendapat terapi rumatannya di rumah, atau tetap diobservasi untuk mendapat terapi lebih lanjut bila dehidrasi masih berlangsung. Suatu hal yang paling penting sebelum memulangkan pasien adalah orangtua harus paham betul dalam menyiapkan dan memberikan CRO dengan benar. Seorang anak tidak boleh hanya diberikan CRO saja selama lebih dari 24 jam. Early feeding harus segera diberikan. Makanan sehari-hari dapat dicapai secara bertahap dalam 24 jam. Memuaskan anak yang menderita diare hanya akan memperpanjang durasi diarenya. Dehidrasi berat Pada dehidrasi berat, selain tanda klinis pada dehidrasi ringan-sedang, juga terlihat kesadaran anak menurun, lemas, malas minum, mata sangat cekung, mulut sangat kering, pola napas yang sangat cepat dan dalam, denyut nadi cepat, dan kekenyalan kulit sangat menurun. Pada keadaan ini, anak harus segera dirawat untuk mendapat terapi rehidrasi parenteral (malalui infus). Pemberian susu formula khusus pada bayi diare hanya pada kasus yang terindikasi. Pemberian susu yang mengandung rendah atau bebas laktosa hanya diberikan kepada anak yang secara klinis jelas memperlihatkan gejala intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa yang terdapat di dalam susu). Sebagian besar diare pada anak terutama pada bayi disebabkan oleh virus, karena itu antibiotik pada bayi dengan diare hanya diberikan pada kasus tertentu saja. Pemberian obat antidine yang banyak beredar saat ini meskipun dari beberapa laporan memperlihatkan hasil yang baik dalam hal lama dan frekuensi diare. Tetapi, hal ini belum dimasukkan ke dalam rekomendasi penanganan diare pada anak. Secara singkat, pemahaman gejala dehidrasi dan penanganan yang benar merupakan kunci keberhasilan terapi anak dengan diare.