Anda di halaman 1dari 6

Koruptor tidak harus di hukum mati

Sebenarnya cara untuk memberikan hukuman mati itu salah, kita itu bukan Tuhan tapi kita itu manusia sama dengan manusia yang diberi hukuman mati, sama2 ciptaan Tuhan yang berhak memberi hukuman adalah Tuhan bukan kita.. untuk lengkapnya baca ini.. Kita harus mencabut hak negara untuk menghukum mati manusia! Kematian biarkanlah menjadi hak Tuhan, bukan hak negara dan manusia. Hak negara dan manusia adalah mempertahankan hidup dan kehidupan, titik. Sikap tegas ini penting karena di hari-hari mendatang, negara seolah monster tak berwajah kembali menuntut darah korban baru: Fabianus Tibo, Domingus da Silva, Marinus Riwu, Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghufron, dan sejumlah narapidana hukuman mati beragam kasus di Indonesia, dari pembunuhan, politik, terorisme, hingga narkoba. Seolah-olah Tuhan Negara dan manusia bertindak seolah-olah Tuhan, Tuhan kecil, atau wakil Tuhan di dunia ketika memiliki hak mencabut nyawa manusia. Pelaku absolut yang dilindungi gagasan absolut seperti ini semestinya tak ada lagi di mana pun di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Pilar demokrasi adalah hak asasi manusia, "Setiap orang berhak untuk hidup" (Pasal 3 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia PBB, 1948) dan "Setiap orang mempunyai hak alami untuk hidup. Hak ini harus dilindungi oleh hukum. Siapa pun tidak boleh dengan sewenang-wenang dicabut nyawanya" (Pasal 6 Ayat Kovenan PBB tentang Hak-hak Sipil dan Politik, 1966 yang telah diratifikasi menjadi undang-undang oleh pemerintah dan DPR bulan September 2005). Konstitusi kita, Pasal 28A UUD 1945, juga menegaskan, "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Jadi atas nama konstitusi dan perjanjian internasional yang sudah kita tanda tangani, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara politik dapat menghentikan hukuman mati terhadap Tibo Cs, Imam Samudra Cs, dan terhukum mati dalam kasus lainnya. Apakah kita memunggungi para korban kejahatan? Tidak, tak sedetik pun wajah korban dan kehilangan tak tergantikan dari ayah, ibu, keluarga, dan sahabat korban sirna dari simpati terdalam kita. Siapa pun mereka, baik korban bom Bali, kerusuhan Poso, atau kejadian lain yang mencabut nyawa manusia. Namun, kita menolak hukuman mati sebagai pembalasan setimpal atas pembunuhan yang pernah dilakukan. Hukuman mati tidak mungkin, dan tak akan pernah, menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Sebuah sarana untuk berbelas kasihan, tetapi tanpa belas kasihan. Sikap ini tak mudah dan penuh pertarungan batin, tetapi Suciwati, istri almarhum Munir, adalah perempuan dengan dua anak kecil, yang tegar menolak hukuman mati terhadap pembunuh suaminya. Pembunuhan, dengan cara dan tujuan apa pun, adalah kejahatan. Maka, kejahatan tersebut semakin sempurna dan terencana bila negara melakukannya melalui hukuman mati. Saatnyalah kita dan negara berhenti menjadi Tuhan bagi manusia! Hukuman seumur hidup

Setiap keputusan selalu mengandung kemungkinan salah. Bahkan, teori fisika sekelas Einstein tetaplah hipotetif (bersifat sementara), dapat salah, dan tunduk terhadap falsifikasi. Kata Karl R Popper, "Elimination of error leads to the objective growth of our knowledge." Maka, keputusan absolut, apalagi

menyangkut nyawa manusia, menjadi irasional, tak berhati nurani dan tak manusiawi.

Bila si terhukum sudah terbunuh, tertutup kemungkinan mengoreksi, kalau ada, kesalahan keputusan pengadilan. Rehabilitasi, walaupun dicantumkan di nisan almarhum tak bermakna apa-apa. Hukuman seumur hidup cukuplah bagi manusia. Dihantui kesalahan seumur hidup, sebenarnya adalah kondisi teramat kejam, bila publik dan keluarga korban tetap menginginkan pembalasan setimpal. Si terhukum juga menjadi monumen hidup bahwa pembunuhan, atas nama keadilan sekalipun, adalah pengabadian kejahatan kemanusiaan di muka bumi. Sungguh berbahagia negeri yang mampu memerdekakan diri dari pelaku dan gagasan absolut untuk menghukum mati manusia. Penjajahan biadab terhadap pikiran harus diakhiri, itulah inti kemerdekaan manusia, prasyarat perjuangan demokrasi. Sudah 118 negara, sampai 1 Oktober 2004, menghapuskan hukuman mati dalam sistem hukum dan praktik, bahkan 24 negara memasukkan dalam konstitusi. Mereka, melepaskan gagasan bahwa manusia dapat bertindak seperti Tuhan, mencabut nyawa, dan memiliki keputusan absolut terhadap nasib dan masa depan Pada tahun 1998, dalam rangka memperingati HUT ke-50 pendeklarasian HakHak Asasi oleh PBB, ada diskusi tentang perlunya sebuah kodeks yang menetapkan Kewajilban-Kewajiban Asasi Manusia sebagai imbangan terhadap Hak-Hak Asasi Manusia. Argumentasi dasarnya adalah bahwa manusia tidak hanya mempunyai hak yang melekat pada kemanusiaannya, tetapi juga sejumlah kewajiban yang mesti dilaksanakannya. Keluhuran martabat manusia tidak hanya ditunjukkan oleh kesadaran akan hak-haknya, tetapi juga oleh kesanggupan untuk menerima sejumlah kewajiban sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. Salah satu pemikiran dominan yang disampaikan menanggapi keinginan pendeklarasian kewajiban-kewajiban asasi itu adalah kecemasan bahwa orang akan merangkaikan tuntutan akan hak dengan pelaksanaan kewajiban. Apabila ada kewajiban-kewajiban asasi, maka tidak mustahil akan diambil kesimpulan, bahwa hak asasi seseorang ada dan dijamin selama dia memenuhi kewajibankewajiban asasinya. Kegagalan melaksanakan kewajiban-kewajiban asasi dilihat sebagai pengkhianatan terhadap kemanusiaan diri sendiri. Dengan demikian orang tersebut kehilangan pijakan untuk menuntut perlindungan terhadap hak-hak asasinya. Apabila ada kewajiban asasi, maka pelaksanaan kewajiban itu dilihat sebagai ungkapan kemanusiaan seseorang. Tidak melaksanakan kewajiban asasi berarti tidak ada lagi kesadaran diri sebagai manusia. Pelaku kejahatan itu sendiri sudah tidak menghargai dirinya sebagai manusia. Tanpa adanya penghargaan terhadap kemanusiaan di dalam diri sendiri dan tanpa kesadaran akan martabat diri sendiri sebagai manusia, seseorang ketiadaan basis rasional untuk menuntut penghormatan terhadap hak-hak dasarnya. Dengan pola pikir seperti ini hak-hak asasi manusia dibahayakan, karena hak-hak itu ditentukan oleh kualifikasi dan prestasi dirinya sebagai manusia yang ditunjukkan di dalam kesanggupan memenuhi kewajiban-kewajiban asasinya. Gagal memenuhi kewajiban asasi berarti gagal menjadi manusia, gagal menjadi manusia adalah alasan untuk tidak diperlakukan sebagai manusia. Pola pikir di atas tampaknya bercokol cukup mendalam pada pikiran banyak orang yang merestui hukuman mati bagi para pelaku kejahatan berat. Disadari

atau tidak, konsep pemikiran seperti ini sering melatari sikap orang yang membenarkan tuntutan hukuman mati bagi para pelaku kejahatan berat. Karena itu, kita perlu menanggapi secara serius pandangan seperti ini, sebab pemikiran seperti ini mengharuskan kita untuk mempertajam pemahaman kita tentang hakhak asasi manusia.

Memang ada banyak alasan yang disampaikan oleh kelompok yang mendukung adanya hukuman mati. Misalnya: untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat yang berpedoman pada prinsip ius talionis (mata ganti mata, hidup ganti hidup); untuk melindungi masyarakat secara keseluruhan dari seorang warga yang telah menunjukkan dirinya sebagai bahaya besar bagi keamanan seluruh warga melalui tindak kejahatan besarnya; untuk memberikan shock therapy kepada masyarakat yang diperkirakan akan merasa takut untuk melakukan pelanggaran yang sama. Dan satu lagi yang dominan adalah apa yang dikatakan di atas: seorang pelaku kejahatan berat sudah menunjukkan diri bahwa dia bukan manusia. Dia melakukan di luar batas kewajaran sebagai seorang manusia. Sebab itu, dia tidak layak diperlakukan sebagai manusia. Dia kejam, dia jahat. Dia sudah bukan manusia lagi. Untuk apa kamu masih memperjuangkan hak-haknya? Betapa sering pertanyaan yang mengungkapkan penolakan atas perlakuan manusiawi terhadap pelaku kejahatan berat ini dialamatkan kepada mereka yang terus memperjuangkan hak-hak asasi orang seperti ini. Pandangan seperti ini sudah bermula ketika orang melukiskan tindak kejahatan seseorang sebagai tindakan yang bestialis, tindakan yang cuma ditemukan dalam gerombolan binatang-binatang buas. Logika berpikirnya mengatakan: kalau tindakan itu bestialis, maka berdasarkan prinsip: tindakan adalah ekspresi jati diri, orang lalu berkesimpulan, bahwa subjek yang melakukan tindakan itu adalah juga binatang. Dia direndahkan menjadi binatang, dan karena binatang buas yang membahayakan dibenarkan pembasmiannya, maka ada legitimasi pula untuk mengeliminasi subjek seperti ini melalui penjatuhan dan pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Menanggapi pola pikir seperti ini perlu diuraikan prinsip pertama dan utama yang menjadi pedoman penting setiap perjuangan membela HAM: bahwa hak-hak ini melekat pada kemanusiaan seseorang, sebelum ada kualifikasi moral dan rasional apa pun. Kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh kualitas moralnya. Seseorang tetap merupakan seorang manusia, juga ketika moralitasnya patut diragukan karena pelanggaran-pelanggaran yang terbukti. Kenapa demikian? Adalah benar bahwa manusia merupakan insan moral. Namun moralitas bukanlah sebuah status yang sudah baku dan terberi. Dengan kelahiran sebagai manusia tidak diberikan kepada manusia satu kualitas moral yang sempurna. Sebaliknya, dengan kelahiran sebagai manusia ia mendapat sebuah tugas untuk terus mengkualifikasikan dirinya sebagai makhluk moral. Moralitas adalah sebuah tugas, bukan sebuah pemberian. Yang terberi adalah kemanusiaan, sementara moralitas merupakan sebuah cita-cita yang perlu diwujudkan manusia. actually a way to give the death penalty is wrong, we were not God but we are human beings equal to men who were given the death penalty, sama2 God's creation that God has the right give punishment is not us .. for details read this .. We must deprive the state to punish the dead man! Leave death to the rights of God, not the state and human rights. Countries and human rights is to preserve life and livelihood, period.

Assertion is important because in the days ahead, the state-as faceless monstersreturn of blood demanded new victims: Fabianus Tibo, Domingos da Silva, Marinus Riwu, Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghufron and a number of inmates on death penalty cases varied Indonesia, from murder, politics, terrorism, to the drug. It was as if God State and humans act as if God, the little Lord, or God's representative in the world as human beings have the right to take a life. Performer protected absolute absolute ideas like this should no longer anywhere in the world, including Indonesia. Pillars of democracy are human rights, "Everyone has the right to life" (Article 3 of the General Declaration on Human Rights, 1948) and "Every person has the natural right to life. This right shall be protected by law. Anyone who can not by arbitrary authorities revoked his life "(Article 6 Paragraph UN Covenant on Civil Rights and Political Rights, 1966 which was ratified into law by the government and Parliament in September 2005). Our Constitution, Article 28A of the 1945 Constitution, also asserted, "Everyone has the right to live and to defend life and the life." So on behalf of the constitution and international treaties we have signed, President Susilo Bambang Yudhoyono in politics can stop the executions of Tibo Cs, Cs Imam Samudra, and sentenced to death in other cases. Are we back to the victims of crime? No, not for one moment the victim's face and the irreplaceable loss of a father, mother, family, and friends of the victims vanished from our deepest sympathy. Whoever they were, both victims of the Bali bombing, riots in Poso, or other events that take a human life. However, we reject the death penalty as retribution for the killing kind ever undertaken. Death penalty is not possible, and will never, be a means to uphold justice and humanity. A means to take pity, but without mercy. This attitude is not easy and full of inner struggle, but Suciwati, Munir's wife, is a woman with two small children, the unruly reject the death penalty against the killer of her husband. Murder, by whatever means and ends, is a crime. So, the more perfect and the crime when the state planned to do it through the death penalty. Saatnyalah us and the country ceased to be God for mankind! Life sentence

Any decisions always contain the possibility of wrong. In fact, Einstein's theory of physics classmates still hipotetif (temporary), can be wrong, and subject to falsification. Karl R Popper said, "Elimination of error leads to the objective of growth of our knowledge." Thus, absolute decisions, especially concerning human lives, become irrational, never a good conscience and inhumane. If the inmate has been killed, a possibility of correction, if any, the court's decision a mistake. Rehabilitation, although not listed on the headstone of the late mean anything. Life imprisonment is sufficient for humans. Haunted by a lifetime mistake, actually is extremely cruel conditions, when the public and victims' family still wants revenge in kind. The inmate is also a living monument to the murder, the name of fairness though, is pengabadian crimes against humanity on earth. Really happy country that is able to liberate themselves from the perpetrators and to punish the absolute idea of human death. Barbaric colonization of the mind

must be ended, that is the essence of human freedom, a prerequisite of democracy struggle. Already 118 countries, until October 1, 2004, abolished capital punishment in the legal system and practice, even the 24 countries included in the constitution. They are, to release the idea that human beings can act like God, to take a life, and has absolute decision on the fate and future In 1998, to commemorate the 50th anniversary pendeklarasian Rights by the United Nations, there was discussion about the need to establish a codexKewajilban Human Rights Obligations as a counterweight against Human Rights. The argument basically is that humans not only have rights inherent in humanity, but also a number of obligations that must be implemented. Nobleness of human dignity is not only shown by the awareness of their rights, but also by the ability to receive a number of obligations as a task that must be implemented. One of the dominant ideas presented respond to the desire pendeklarasian rights obligations is the anxiety that people will weave the demand for rights with the implementation of obligations. If there is a fundamental obligations, it is not impossible will be concluded, that the rights guaranteed a person exists and as long as he meets their human obligations. Failure to carry out basic obligations is seen as a betrayal of humanity itself. Thus the person is losing ground to demand the protection of the rights-their human rights. If there is a fundamental obligation, then the implementation of the obligations of humanity is seen as an expression of someone. No human duty means no more self-awareness as a human. Perpetrators of the crime itself is not value themselves as human beings. Without the appreciation of the humanity within oneself and without awareness of self dignity as a human being, someone absence of a rational basis for demanding respect for their basic rights. With this thinking process of human rights is endangered, because those rights are determined by the qualifications and performance of himself as a man who is shown in the ability to meet their human obligations. Failed to fulfill its obligation is to fail to be human rights, failed of being human is reason to not be treated as human beings. Above mindset seems deeply entrenched enough in the minds of many people who condone the death penalty for perpetrators of serious crimes. Knowingly or not, the concept of this kind of thinking is often behind the attitude of those who justify the death penalty for perpetrators of serious crimes. Therefore, we need to seriously respond to this view, because this kind of thinking requires us to sharpen our understanding of human rights. Indeed there are many reasons given by those who support the death penalty. For example: to satisfy the public sense of justice is guided by the principle of ius talionis (eye for an eye, life change of life); to protect society as a whole from a citizen who has shown himself as a serious danger to the security of all citizens through the crime; to provide shock therapy to people who expected to feel scared to do the same violation. And one more dominant is what was said above: a perpetrator of serious crimes has already shown himself that he's not human. He performed beyond the bounds of fairness as a human. Therefore, he does not deserve to be treated as human beings. "He's ruthless, he's bad. He's not human anymore. What are you still fighting for their rights? "How often have questions that express the rejection of the humane treatment of perpetrators of serious crimes is addressed to those who continue to fight for basic rights of people like

this. Such views have started when people describe someone as an act of crime that bestialis, measures only found in wild animals gangs. Logic that says: if the action bestialis, then based on the principle: the action is an expression of identity, people then concluded, that the subject's action is also an animal. He was reduced to animals, and because of the dangerous beast pembasmiannya justified, then there is the legitimacy of the subject as well as to eliminate this through the imposition and execution of the death penalty on themselves. Responding to this kind of thinking needs to described the first and overriding principle that guides every struggle to defend human rights is important: that these rights are inherent in the human person, before any rational and moral qualifications whatsoever. Humanitarian someone is not determined by its moral qualities. A person remains a human being, as well as morality worthy of doubt because the violations are proven. Why is that?

It is true that humans are moral beings. But morality is not a status that is raw and terberi. With the birth as a human being is not given to man a moral quality is perfect. Conversely, with the birth as a human being he had a duty to continue to qualify themselves as moral beings. Morality is a duty, not a gift. Terberi is a humanitarian who, while morality is an ideal that human beings need to be realized. Humanity exists as a basis to be a moral creature. If we say that morality is a task, then this statement is actually born from the realization that humans are always in danger to perform the actions

Tidak setuju... Karna jika di hukum mati, uang hasil korupsi nya gk bisa di balikin.Trus kita tidak boleh seenaknya menjustis yang korupsi dengan hukuman mati karen dia juga memiliki hak untuk hidup Disagree. For if the law of death, the proceeds of his corruption can not go back. And we should not arbitrarily punish the corruption of the death penalty because he also has the right to life.