Anda di halaman 1dari 18

KOMUNIKASI DAN ADVOKASI (TBC)

TUGAS KELOMPOK
OLEH :

KELOMPOK II UDIN SYAFRIUDIN MUHAMAD SATRIA AGUS DAHLIAH SRI KARTINI FREDY TETARIA EDON SRI RATNA WILIS RAHMAWATI M.NUR

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) HANG TUAH PEKANBARU 2012/ 2013

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok yang berjudul TBC tepat pada waktunya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Komunikasi dan Advokasi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan masukan dalam perkuliahan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. kami juga ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada : 1. dr. H. Zainal Abidin, M.PH selaku ketua STIKes HTP Pekanbaru. 2. Beserta staff pengajar dan karyawan Pasca Sarjana STIKes HTP Pekanbaru. 3. Rekan-rekan mahsiswa/ i Program Studi s2 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes HTP Pekanbaru. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih belum sempurna, sehingga dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan dimasa akan datang. Akhirnya, semoga Allah SWT sentiasa melimpahkan rahmat dan ridho-Nya pada kita semua, Amin.

Pekanbaru, 03 Mei 2013

Tim

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari Pembangunan Nasional dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh (Depkes RI, 2002). Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Depkes RI, 2009) Dalam meningkatkan program kesehatan dilakukan upaya-upaya memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Untuk itu dalam pencegahan penyakit dilakukan Program Pemberantasan Penyakit Menular mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan penerapan teknologi kesehatan secara tepat oleh petugas-petugas kesehatan yang didukung peran serta aktif masyarakat (Depkes RI,2002:vii). Dalam 10 prioritas pemberantasan penyakit menular, salah satunya adalah penyakit TB paru, dimana penyakit tersebut penyebarannya sangat mudah karena penularan penyakit tersebut hanya melalui droplet yang disebarkan lewat udara oleh penderita TB paru BTA (Bakteri Tahan Asam) (+) (Depkes RI,2002). Menurut Kepmenkes RI nomor 364/MENKES/SK/V/2009, bahwa penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, dan salah satu penyebab kematian sehingga perlu dilaksanakan program penanggulangan TB secara berkesinambungan; Micobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (Depkes RI, 2007).

Laporan TB dunia oleh WHO menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar ke lima (5) setelah India, China, Afrika Selatan, Nigeria. WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB. Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Untuk mengatasi maslah TB di Indonesia pada tahun 1995 Indonesia menerapkan strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB yaitu dengan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy ) terdiri dari lima komponen utama yaitu : 1) Komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; 2) Deteksi kasus TB di antara orangorang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; 3) Enam hingga delapan bulan pengobatan teratur yang diawasi (termasuk pengamatan langsung untuk pengkonsumsian obat setidaknya selama dua bulan pertama); 4) Persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; 5) Sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program. Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/kota dengan terus mempertahankan:1) Angka konversi lebih dari 80%; 2) Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%; 3) Angka kesalahan laboratorium dibawah 5%. (Depkes RI, 2007) Rendahnya angka konversi berdampak negatif pada kesehatan masyarakat, karena memberi peluang terjadinya penularan penyakit TB Paru BTA Positif kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Selain itu memungkinkan terjadinya resistensi kuman TB Paru terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT), sehingga menambah penyebarluasan penyakit TB paru, meningkatkan kesakitan dan kematian karena TB. (Ridwan dkk, 2007). Di Indonesia angka konversi sudah tercapai target yang ditetapkan yaitu tahun 2007 sebesar 87,4%; kemudian pada tahun 2009 meningkat sebesar 89,1% dan pada tahun 2010 mengalami penurunan yaitu sebsear 83,3%. Untuk propinsi Riau angka konversi juga sudah mencapai target dimana Pada tahun 2009 di angka konversi adalah 86,01% dan tahun 2010 angka konversinya sebesar 83,3%. Artinya bahwa pencapaian angka konversi di Propinsi Riau sudah tercapai Target nasional yaitu diatas 80%. Di Kabupaten Pelalawan pencapaian kasus penderita TB BTA Positif tahun 2009 adalah 168 kasus TB BTA Positif yang diobati, dari penderita yang diobati tersebut yang mengalami konversi adalah 105 atau 62,5%,

sehingga angka konversi dikabupaten pelalawan belum tercapai target. Pada tahun 2012 penemuan kasus penderita TB BTA Positif yang ditemukan di seluruh Puskesmas se Kabupaten Pelalawan yaitu 142 kasus dan yang mengalami konversi sebanyak 123 atau 86,6% sehingga pencapaian konversi pada tahun 2012 dapat tercapai, akan tetapi apabila dilihat dari pencapaian perpuskesmas terdapat tiga puskesmas yang belum mencapai target yaitu : Puskesmas Sekijang sebesar 75%, Puskesmas Kuala Kampar sebesar 66,7% dan Puskesmas Langgam sebesar 53,8%, seperti pada gambar dibawah ini Gambar 1.1 Presentase Angka Konversi Penderita TB Baru BTA Positif BTA Positif di Kabupaten Pelalawan Tahun 2012
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100 100 100 100 91.7 87.2 83.3 81.8

75

66.7 53.8

Dari gambar diatas, memperlihatkan bahwa pencapaian angka konversi di kabupaten Pelalawan tahun 2012 bahwa dari 12 Puskesmas, yang tercapai target sebanyak delapan Puskesmas, yang tidak melakukan pengobatan sebanyak satu Puskesmas karena tidak ditemukannya kasus TB BTA Positif yaitu Puskesmas Bunut dan yang tidak tercapai target sebanyak 3 Puskesmas dengan pencapaian terendah Puskesmas Langgam dengan 53,8%.

Gambar 1.2 Presentase Angka Konversi Penderita TB Baru BTA Positif BTA Positif di Puskesmas Langgam tahun 2010 s/d 2012
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

62.5 53.8 42.2

2008 2009 2010 2010 2011 2012 0 Dari gambar diatas didapatkan data bahwa pencapaian konversi Puskesmas langgam dari tahun 2010 s/d tahun 2012 belum pernah mencapai target dimana tahun 2008 sebesar 46,2%, tahun 2009 62,5% dan tahun 2012 sebesar 53,8% dari terget yang ditetapkan sebesar 80%. Dari gambaran diatas tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan angka konversi TB Paru BTA Positif di Puskesmas Langgam Kabupaten Pelalawan.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Meningkatnya Penyakit Kurangnya Pengetahuan masyarakat tentang pecegahan, pengobatan serta penyembuhan penyakit TBC Perilaku (merokok, minum-minuman keras, bergadang,dll) Lingkungan (rumah yang layk huni, Kepadatan hunian, Ventilasi, pencahayaa,dll) Pengawasan Minum Obat (PMO) Kepatuhan Minum Obat Keteraturan Minum Obat

BAB II TINJAUAN KASUS

A. Alasan Pemilihan Kasus Masih rendahnya angka konversi TB (53,8%) dipuskesmas kec. Langgam kab. Pelalawan dari target nasional yaitu 80%.

B. Pengaruh Masalah Jika Tidak Diatasi Dapat menularkan ke masyarakat lain Produktifitas kerja menurun Terjadi resistensi obat Dapat menyebabkan kematian

C. Tujuan Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar terhindar dari penyakit TBC melalui terciptanya masyarakat yang hidup dengan perilaku dan lingkungan yang sehat terbatas dari penyakit TBC, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata. D. Kebijaksanaan Upaya Pemberantasan TBC dititik beratkan pada: 1. Kewaspadaan dini terhadap penyakit TBC dengan melaksanakan surveilans vektor guna mencegah dan membatasi agar tidak terjadi KLB/wabah. 2. Penganjuran tidak merokok, minum-minuman keras, dan kebiasaan buruk lainnya. 3. menghimbau masyarakat untuk melakukan pengobatan dengan tuntas yaitu 6 bulan dipelayanan kesehatan terdekat.

E.

Strategi Pemberantasan penyakit TBC meliputi: 1. Menyelanggarakan penyuluhan kepada masyarakat agar mampu secara mandiri mencegah penyakit TBC. 2. Penggerakan masyarakat dalam pemberantasan TBC melalui kerjasama lintas program yang dikoordinasikan oleh kepala wilayah/daerah. 3. Melakukan tindakan kewaspadaan dini kasus/KLB-TBC. 4. Melaksanakan pengobatan/ pertolongan penderita TBC di RS dan puskesmas. 5. Menanggulangi secepatnya KLB-BC agar penyebaran dapat dibatasi.

F. Sasaran, Waktu, Tempat Pelayanan, Dan Tenaga Pelaksana. 1. Sasaran : adalah seluruh masyarakat di kelurahan langgam kecamatan pelalawan yang mempunyai faktor resiko tinggi terhadap penyebaran penyakit TBC. Waktu Pelaksanaan : Kegiatan ini dilaksanakan di kelurahan langgam kecamatan pelalawan selama 2 hari. Tempat Pelayanan : Program pemberantasan penyakit TBC ini dilaksanakan di tempat pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan, misalnya puskesmas, puskesmas pembantu, polindes,dll. Tenaga : Jumlah tenaga disesuaikan dengan sasaran yang ada. Tenaga pelaksana program pemberantasa penyakit TBC ini terdiri atas tenaga paramedis, non paramedis dan kader dengan tugas sebagai berikut: a. Tenaga Kesehatan Tenaga paramedis untuk memeriksa kesehatan masyarakat baik penderita TBC maupun yang belum menderita TBC. Tenaga non paramedis untuk mencatat, membantu mengisi kartu, menyiapkan sarana pelayanan,dll. b. Kader bertugas: Pendataan sasaran Penyuluhan Menyiapkan tempat pelayanan.

2.

3.

4.

BAB III SAP PENYULUHAN DAN GERAK JALAN SEHAT

Pokok bahasan Sub pokok bahasan Sasaran Tempat Hari/ Tanggal Waktu

: TB paru : Gambaran penyakit TB paru : Audiens : Puskesmas Langgam : 20-22 April : 08.00-10.00 WIB

A. Penyuluhan Hari Pertama : Tgl 22 April 2013 jam 08.00-10.00 1. Materi (Terlampir) : - Pengertian TB - Penyebab TB - Tanda dan gejala penyakit TB - Cara penularan penyakit TB - Pencegahan penularan penyakit TB - Pengobatan TB - Progmose / gambaran penyakit TB 2. Metode - Ceramah - Tanya jawab 3. Media Leaflet, Sepanduk, laptop dan infocus 4. Setting Tempat Teras samping puskesmas langgam

DENAH TEMPAT

Audien Audien

Audien Audien

Audien Audien

Audien Audien

Audien Audien

5. Kegiatan Penyuluhan Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan pasien Media kegiatan Pendahuluan 5 menit Memperkenalkan Mendengarkan Kata-kata diri Bertanya / kalimat Mempersiapkan mengenai diri perkenalan dan Menyatakan tujuam jika ada tentang tujuan yang kurang jelas pokok Penyajian 10 menit Menyajikan materi tentang : Pengertian TB Penyebab TB Tanda dan gejala penyakit TB Cara penularan penyakit TB Pencegahan penularan penyakit TB Pengobatan TB Progmose / gambaran penyakit TB Melakukan diskusi (menjawab pertanyaan) Leaflet, Mendengarkan dengan seksama infocus dan laptop Bertanya mengenai halhal yang kurang jelas dan belum dimengerti

Penutup

5 menit

Melakukan Sasaran dapat Kalimat evaluasi dengan atau katamenjelaskan memberikan kembali point- kata pertanyaan point yang sederhana diajarkan Menyampaikan Mendengarkan ringkasan materi Menyampaikan hasil evaluasi

Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. 6. Kriteria Evaluasi a. Evaluasi Struktur - Kesiapan materi. - Kesiapan SAP. - Kesiapan media: Leaflet, poster, laptop, infocus, dll - Peserta hadir di tempat penyuluhan. - Penyelenggaraan dilaksanakan di Puskesmas Langgam - Pengorganisasian penyelenggara penyuluhan dilakukan sebelumnya. b. Evaluasi proses - Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan. - Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. - Suasana penyuluhan tertib.

B. Gerak Jalan Sehat Basmi TBC Hari Kedua : Tgl 23 April 2013 jam 08.00-10.00 1. Metode - Gerak jalan - Tanya jawab 2. Media - Spanduk - Baju geratis untuk peserta gerak jalan yang bertuliskan iklan pemberantasan TBC 3. Setting Tempat Star dimulai dari puskesmas langgam menuju jalan utama SD 04 langgam kembali menuju puskesmas langgam.

melalui

4. Kegiatan gerak jalan sehat basmi TBC Tahap kegiatan Waktu Kegiatan perawat Kegiatan pasien Media Pendahuluan 5 menit Memperkenalkan Mendengarkan Kata-kata / diri kalimat Mempersiapkan diri Menyatakan tentang tujuan pokok gerak jalan Pembukaan 10 menit Menjelaskan rute Mendengarkan gerak jalan sehat dengan Membacakan seksama panduan acara Menerima Pembagian baju pengarahan peserta gerak jalan Bertanya yang bertuliskan mengenai haliklan hal yang pemberantasan kurang jelas TBC dan belum dimengerti Serta menerima baju gerak jalan Poster, dan baju bertuliskan iklan pemberanta san TBC

Pelaksanaan

60 menit

Panitia ikut dalam gerak sehat

serta Masyarakat gerak jalan jalan

Penutup

15 menit

Melakukan Sasaran dapat evaluasi dengan menjawab memberikan pertanyaan pertanyaan yang sederhana. diberikan Memberikan Mendengarkan bingkisan kepada peserta gerak jalan

Poster, Kalimat atau katakata

yang bisa menjawab pertanyaan. Menyampaikan pesan-pesan ringan tentang penyakit TBC. Pembagian makanan ringan kepada peserta. Menyampaikan hasil evaluasi. Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

5. Kriteria Evaluasi a. Evaluasi Struktur - Kesiapan materi. - Kesiapan SAP. - Kesiapan media: Poster, baju peserta gerak jalan - Peserta hadir di tempat gerak jalan. - Penyelenggaraan dilaksanakan di Puskesmas Langgam - Pengorganisasian penyelenggara gerak jalan sehat memberantas TBC dilakukan sebelumnya. b. Evaluasi proses - Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan. - Peserta mendengarkan arahan, melaksanakan gerak jalan, serta menjawab pertanyaan yang diberikan. - Suasana gerak jalan berjalan lancar.

C. Anggaran Kegiatan Penyuluhan Dan Gerak Jalan Sehat Berantas TBC No. 1. Biaya Operasional Biaya Tenaga/ Satuan Output Rp.50.000 x 12 org x 2 hari Biaya Transpor/ Satuan Output Rp.20.000 x 12 org x 2 hari Biaya Snack/ Satuan Output Rp.15.000 x 12 org x 2 hari Makanan ringan penyuluhan Rp. 7.000 x 100 org Biaya famplet Rp.3.000 x 200 lmbar Biaya spanduk Rp.150.000 x 3 buah Sewa peralatan penyuluhan (infocus,laptop,layar) Rp.200.000 x 1 buah Baju peserta gerak jalan : Rp.15.000 x 500 buah Bingkisan kuis diakhir gerak jalan Rp.200.000 x 5 orng Makanan ringan dan minuman untuk peserta gerak jalan Rp.7.000 x 500 orng Biaya tidak terduga Biaya Total peserta Jumlah

Rp.600.000 x2 Rp.1.200.000 hari Rp.240.000 x2 Rp.480.000

2.

3.

Rp.180.000 x2

Rp.360.000 Rp. 700.000

4.

5.

Rp.300.000

6.

Rp. 450.000

7.

Rp. 200.000

8.

Rp. 7.500.000

9.

Rp. 1.000.000

10.

Rp. 3.500.000

11.

Rp. 1.000.000 Rp. 16.690.000

D. Monitoring dan Evaluasi 1. Pemantauan Kegiatan : Pemantauan dilaksanakan untuk setiap tahap kegiatan sesuai dengan rencana, Pemantauan dilakukan melalui: - Sistem pencatatan dan pelaporan program. - Unit pengaduan masyarakat. - Kunjungan rumah Tindak Lanjut Pemantauan dilakukan melalui: - Umpan Balik - Supervisi - Bimbingan teknis 2. Evaluasi Kegiatan : Evaluasi dilakukan secara bertahap. Evaluasi hasil kegiatan berupa: a. jumlah penderita TBC yang diberikan pengobatan dan penyuluhan di desa-desa resiko tinggi. b. Lokasi dan jumlah pos pelayanan. c. Masalah-masalah lain.

BAB IV MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian TB Paru TB paru adalah suatu penyakit radang paru menahun dan dapat menular yang disebsbkan oleh infeksi bakteri. Penyakit TB paru menyerang segala umur terutama pada mereka yang lemah, kekurangan gizi serta tinggal bersama dengan penderita TB paru. Penyakit ini juga sangat dipengaruhi oleh keadaan dan sanitasi lingkungan B. Penyebab TB Paru penyebab dari penyakit TB paru adalah kuman atau bakteri Mycobacterium tubercolosis C. Tanda Dan Gejala Penyakit TB Paru penyakit TB paru sukar ditemukan saat timbulnya gejala pertama, karena mulainya secara perlahan-lahan sehingga orang yang merasa sehatpun mengidap kuman TB paru. Kadang-kadang terdapat demam yang tidak diketahui penyebabnya dan sering disertai tanda-tanda infeksi saluran pernapasan bagian atas, seperti batuk, pilek, tenggorokan sakit atau nyeri tekan. TB paru gejalanya cenderung mereda sendiri, tetapi sebagian besar akan menyebar ke organ lain sehingga dapat menimbulkan komplikasi dan kuman dapat masuk ke dalam aliran darah menuju otak, tulang, hati, ginjal dan limpha dan jika kuman TB di paru semakin banyak maka kemungkinan besar akan menyebar ke jantung. Gejala dari TB paru adalah : batuk lebih dari 2 minggu baik disertai dahak atau tidak pernah batuk yang dahaknya bercampur dengan darah merasa tidak enak didada dengan sesak demam, meriang lebih dari 1 bulan dan malam sering keluar keringat dingin tidak nafsu makan dan badan makin kurus

D. Penularan TB Paru 1. Langsung Kuman-kuman yang berasal dari percikan ludah atau cairan hidung penderita berpindah ke orang lain secara langsung pada waktu mereka berbicara, berhadapan, berciuman atau bersin.

2. Tidak Langsung Bila penderita TB paru meludah di sembarang tempat, kemudian ludak yang mengandung kuman TB paru itu mengering, berterbangan dan dihirup oleh orang lain. E. Pencegahan Penularan TB Paru Untuk mencegah agar penyakit TB paru tidak menular/menyebar kepada orang lain, hendaknya keluarga dan penderita senantiasa untuk selalu mengingatkan yaitu : jika batuk, mulut ditutup dengan sapu tangan dahak ditampung pada tempat kemudian diberi lysol atau pembunuh kuman anggota keluarga dan orang yang sering bergaul dengan penderita sebaiknya memeriksakan diri kelab pada bayi jangan lupa diimunisasi BCG secara dini dilakukan pengobatan dan memeriksakan kesehatannya bila batuk lebih dari 2 minggu ventilasi rumah harus ada dan memenuhi syuarat kesehatan dan sinar matahari dapat masuk ke ruangan, terutama pada pagi hari sehingga dapat membunuh kuman TB paru meningkatkan daya tahan tubuh antara lain dengan memakan makanan bergizi F. Pengobatan TB Paru TB paru dapat disembuhkan dengan berobat secara rutin dan teratur selama 6 bulan atau 12 bulan. Obat-obatan yang diberikan dipergunakan sesuai dengan petunjuk dokter.

G. Prognose/ Gambaran Penyakit TB Paru Ada beberapa prognose TB paru tergantung dari pengobatan yang diberikan Bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat dan minum obat secara teratur Bila tidak diobati secara adekuat dapat menyebar ke organ tubuh yang lainmelalui aliran darah Bisa terlihat sembuh/ gejala menurun tapi sewaktu-waktu kambuh lagi karena kuman TB paru masih hidup namun tidak aktif

DAFTAR PUSTAKA

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta : PDPI, 2003 Bahar A, 2001. Tuberkulosis Paru, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai PenerbitFKUI, Jakarta. A l s a g a f f , H , d k k . ( 2 0 0 6 ) . D a s a r - d a s a r I l m u P e n ya k i t P a r u . E d i s i - 4 . , S u r a b a ya : Universitas Airlangga ArtoYuwono Soeroto. (2002). Bahaya pengobatan TBC yang tidak tuntas. PT Rineka Cipta, Bandung Trastotenojo. M.S. dkk.(1995).Tuberkulosis Klinik.Widya Medika. Jakarta Herryanto. dkk. (2004).Peran s menelan obat (PMO) pada kejadian putus berobat penderita TB Paru di DKI Jakarta Tahun 2002. Media Litbang Kesehatan Vol. XIV No. 2 tahun 2004. Gklinis. (2004). Pengobatan tuberkulosis paru masih menjadi masalah. Jakarta