Anda di halaman 1dari 7

SKENARIO Seorang pasien wanita dating ke dokter gigi dengan keadaan gingiva merah kebiruan yang mengalami hiperplasi.

Hamper pembesaranya menutupi permukaan inssisal maupun oklusal. Pemeriksaan klinis ditemukan plak dan sedikit kalkulus. Pasien sebelumnya menceritakan bahwa akhir-akhir ini gusinya sering berdarah spontan. 3 hari belakangan badannya demam naik turun. Dokter gigi kemudian menginstruksikan pasien untuk memeriksakan gula darahnya, namun ternyata normal. Badannya semakin lemah karena juga tidak bias mengunyah dengan baik. 1. Diagnosa Diagnosa kasus tersebut adalah leukemia gingivitis enlargement

2. Etilogi Pembesaran dan perdarahan gingiva merupakan komplikasi oral yang paling umum dari leukemia. Jaringan gingiva dianggap lebih rentan terhadap infiltrasi sel leukemia yang menyebabkan pengeluaran komponen molekul adhesi endothelial sehingga infiltrasi leukosit meningkat (1). Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai dengan penggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Hal ini disebabkan oleh proliferasi tidak terkontrol dari klon sel darah immatur yang berasal dari sel induk hematopoietik. Sel leukemik tersebut juga ditemukan dalam darah perifer dan sering menginvasi jaringan retikuloendotelial seperti limpa, hati dan kelenjar limfe (2).

3. Manisfestasi klinis Gambaran klinis hiperplasia gingiva akibat leukemia dapat terlihat berupa pembengkakan yang difus pada papila interdental, margin gingiva dan gingiva cekat. Pada papila interdental terlihat seperti masa yang menyerupai tumor.. Gingiva yang membengkak berwarna merah kebiruan dan tidak memiliki stippling sehingga permukaannya menjadi licin dan berkilat. Konsistensinya tidak terlalu lunak tetapimudah terjadi perdarahan spontan akibat iritasi yang ringan, kadang disertai infeksi,odontalgia dan inflamasi ulserstif nekrosis akut pada daerah interdental (3). 4. Patogenesis Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan (4). Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahangenetik sel yang kompleks). Translokasi kromosom

mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bias menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal,dan otak (4) Leukemia diklasifikasikan berdasarkan tipe sel, yaitu kematangan sel dan cell lineage. Kematangan sel digunakan untuk membedakan antara leukemia akut dengan kronis. Ketika sel-sel ganas bersifat immature (steam cell, blast, atau prekursor imatur lainnya, leukemia diklasifikasikan sebagai leukemia akut; ketika sel ganas bersifat mature, diklasifikasikan sebagai leukemia kronis. Secara umum kedua grup tersebut berhubungan dengan perjalanan klinisnya, yaitu cepat (akut) dan lambat (kronis) (4). Leukemia merupakan neoplasma sel darah putih dengan manifestasi klinis dan oral yang bervariasi dan dapat dideteksi pertama kali di rongga mulut. Penyakit ini terjadi pada semua ras dan dapat berkembang pada semua umur. Pada hiperplasia gingiva terjadi pertambahan ukuran gingiva oleh karena adanya peningkatan jumlah sel penyusunnya yang disebabkan oleh inflitrasi leukosit secara premature ke gingiva, sehingga menyebabkan pembesaran yang tidak normal. Secara klinis hiperplasia gingiva tampak sebagai suatu pembesaran gingiva yang biasanya dimulai dari papila interdental menyebar ke daerah sekitarnya. Kelainan ini tidak menimbulkan rasa sakit, dapat

mengganggu oklusi dan estetik serta dapat mempersulit pasien dalam melakukan kontrol plak.(5) Secara histopatologi, jaringan gingiva di infiltrasi oleh sel-sel leukosit yang belum matang pada inflamasi kronik dapat juga terlihat leukosit yang telah matang.Jaringan epitel memperlihatkan derajat yang bervariasi terhadap infiltrasi sel-selleukemik, lamina propria dipenuhi oleh sel-sel leukemik yang meluas dari lapisan sel basal epitel ke dalam gingiva. Pembuluh darah setempat tertekan oleh infiltrat yangmenyebabkan jaringan gingiva mengalami edema dan degencrasi. Pada hyperplasia gingiva yang disertai inflamasi nekrosis akut, permukaan gingiva dilapisi oleh jaringan fibrin

pseudomembran, sel-sel epitel yang nekrosis, polimorfonuklear leukosit dan kolonisasi bakteri (3).

5. Perawatan Perawatan periodontal pada pasien leukemia memerlukan konsultasi antara dokter gigi dan dokter spesialis yang menangani pasien. Pada pasien leukemia yang memiliki status hematologi yang kurang baik tidak memungkinkan dilakukan tindakan invasif. Oleh karena itu, tindakan yang dapat dilakukan pada pasien hanya bertujuan untuk mengurangi dan mencegah infeksi dengan meningkatkan dan memelihara kesehatan rongga mulut pasien, seperti edukasi dan instruksi kontrol plak serta pemberian antibiotik profilaksis. Sedangkan pada pasien leukemia dengan status

hematologi yang baik dapat dilakukan tindakan perawatan periodontal seperti skaling dan root planning (6). Skaling dan root planning paling efektif dalam mengurangi inflamasi gingiva dan kedalaman poket. Bila dikombinasikan dengan kebersihan mulut yang baik dan pemeliharaan yang teratur, efek ini dapat berlanjut selama bertahun-tahun (7). Pasien mungkin merasa sedikit kurang enak selama root planning dan untuk ini sebaiknya berikan analgesik ringan dan antibiotik setelah prosedur perawatan selesai dilakukan. Proses pemulihan terjadi setelah beberapa hari dan dapat dibantu dengan upaya pembersihan mulut yang cermat (7).

DAFTAR PUSTAKA 1. Haytac MC. Severe alveolar bone loss and gingival hyperplasia as initial manifestation of burkitt cell type acute lymphoblastic leukemia. Journal periodontol 2003; 74(4): 547-551. 2. Rofinda ZD. Kelainan hemostad pada leukemia. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012;1(2):68-74. 3. Couper CL, Loewen R, Shore T. Gingival hyperplasia complicating myelomonocytic leukemia. J Can Dent Assoc 2000. 4. Harmening, DM. Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasi. 4th Ed. USA: F. A. Davis 2002 5. Patil S, et al. Leucemic gingival enlargement: a report of two cases. Archives of Orofacial Sciences 2010; 5(2): 69-72. 6. Afandi Y. Pembesaran Gingiva pada Pasien leukemia. Medan; Universitas Sumatera Utara, 2011. 7. Manson JD and Eley BM. Periodontics Fifth Edition. Wright. London, Inggris. 2004.

MAKALAH PERIODONSIA LEUCEMIC GINGIVAL ENLARGEMENT

Oleh Sulaima Athalmi Sani I1D109237

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI BANJARMASIN 2013