Anda di halaman 1dari 10

Trauma Abdomen

Defenisi Salah satu kegawatdaruratan pada sistem pencernaan adalah trauma abdomen yaitu trauma/cedera yang mengenai daerah abdomen yang menyebabkan timbulnya

gangguan/kerusakan pada organ yang ada di dalamnya. Cedera pada organ padat terutama limpa, hati dan mesenterium dapat menimbulkan perdarahan intraperitoneal manakala pada organ berongga seperti usus halus dan colon dapat terjadi peritonitis progresif dalam beberapa jam setelah trauma. Cedera organ retroperitoneal bisa bervariasi; kebanyakan cedera pada ginjal dapat ditangani secara konservatif, sementara secara umum pada ruptur pancreas memerlukan tindakan operasi. Cedera pada organ pelvis seperti rektum, vesika urinaria dan urethra, juga memerlukan penanganan yang tersendiri.

Klasifikasi Trauma abdomen dapat berupa : Trauma tumpul Trauma tajam

Trauma tumpul

Secara umum, luasnya kerusakan organ tergantung pada kecepatan, arah dan besarnya energi yang diberikan. Dinding abdomen : kontusio sering ditemui manakala hematoma pada sarung rektus dapat terjadi dengan ruptur pada pembuluh darah akibat dari trauma yang langsung atau kontraksi yang tiba-tiba dari otot rektus abdominis. Organ intra-abdominal : organ padat seperti hepar, limpa dan ginjal sering disebabkan oleh trauma abdominal tertutup karena organ-organ ini relatif terfiksasi, besar dan terpapar. Perdarahan sering terjadi dan pada keadaan berat bisa jatuh ke shock hipovolemik. Usus relatif mobile, oleh karena itu tidak mudah terjadi kerusakkan seperti organ-organ padat kecuali pada daerah yang relatif terfiksasi seperti duodenum, plexura duedonojejunal, secum, kolon asecendens dan plexura kolon. Apabila tubuh mengalami deselerasi akut sebagai contoh pada kecelakan lalu lintas, organ-organ abdominal akan terus bergerak ke depan, proses ini dapat melukai mesenterium dari usus halus dan besar. Peritonitis adalah gejala khas dari ruptur organ-organ yang berrongga dan disebabkan oleh isi usus yang keluar dari bekas robekkan atau defek yang lain yang terdapat di usus. Tingkat mortalitas cedera pada organ-organ rongga lebih tinggi dari pada cedera organ-organ padat disebabkan oleh peningkatan pada resiko infeksi. Resiko ini lebih besar dari pada trauma kolon

Trauma tajam

Usus merupakan organ yang paling sering terkena pada luka tembus abdomen, sebab usus mengisi sebagian besar rongga abdomen. Trauma tembus dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra peritoneal. Rangsangan peritoneal yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangssangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi bagian atas, misalnya dibagian lambung, maka akan terjadi perangsangan segera setelah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat. Sedangkan bila bagian bawah, seperti kolon, mula-mula tidak terdapat gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum. Pada trauma tembus, usahakan untuk memperoleh keterangan selengkap mungkin, mengenai senjata yang dipakai, arah tusukan, atau pada trauma tumpul harus diketahui bagaimana terjadinya kecelakaan. Namun kadang terjadi kesulitan bila pasien dalam keadaan syok atau tidak sadar. Setelah pasien stabil yaitu airway, breathing dan circulation stabil baru kita lakukan pemeriksaan fisik. Perlu diingat syok dan penurunan kesadaran dapat menimbulkan kesulitan
3

dalam pemeriksaan abdomen karena akan menghilangkan gejala perut. Jejas di dinding perut menunjang terjadinya trauma abdomen.

Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui adanya cedera anorektal atau uretra, pemasangan kateter untuk mengetahui adanya darah pada saluran kemih dan monitoring produksi urin. Pamasangan kateter perlu dilakukan setelah dipastikan tidak terdapat cedera uretra dengan colok dubur, dan pemasangan NGT untuk mengetahui adanya perdarahan saluran cerna bagian atas dan dekompresi lambung.

Patofisiologi Jika terjadi trauma penetrasi atau non-pnetrasi kemungkinan terjadi pendarahan intra abdomen yang serius, pasien akan memperlihatkan tanda-tanda iritasi yang disertai penurunan hitung sel darah merah yang akhirnya gambaran klasik syok hemoragik. Bila suatu organ viseral mengalami perforasi, maka tanda-tanda perforasi, tanda-tanda iritasi peritonium cepat tampak. Tanda-tanda dalam trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan, nyeri spontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi peritonitis umum. Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami takikardi dan peningkatan suhu
4

tubuh, juga terdapat leukositosis. Biasanya tanda-tanda peritonitis mungkin belum tampak. Pada fase awal perforasi kecil hanya tanda-tanda tidak khas yang muncul. Bila terdapat kecurigaan bahwa masuk rongga abdomen, maka operasi harus dilakukan.

Tanda dan Gaejala Tanda dan gejala/manifestasi klinis meliputi: nyeri tekan diatas daerah abdomen, distensi abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah, takikardi, peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan. Pada trauma non-penetrasi (tumpul) pada trauma non penetrasi biasanya terdapat adanya Jejas atau ruptur dibagian dalam abdomen: Terjadi perdarahan intra abdominal. Apabila trauma terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi usus tidak normal dan biasanya akan mengakibatkan peritonitis dengan gejala mual, muntah, dan feses hitam (melena). Kemungkinan bukti klinis tidak tampak sampai beberapa jam

setelah trauma. Cedera serius dapat terjadi walaupun tak terlihat tanda kontusio pada dinding abdomen. Pada trauma penetrasi biasanya terdapat: Terdapat luka robekan pada abdomen Luka tusuk sampai menembus abdomen Biasanya organ yang terkena penetrasi bisa perdarahan/memperparah keadaan keluar dari dalam abdomen. Trauma Operasi Terjadi perforasi Lapisan abdomen (kontusio,laserasi Menekan Syaraf.

Pemeriksaan Penunjang 1. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) Dilakukan pada trauma abdomen perdarahan intra abdomen, tujuan dari DPL adalah untuk mengetahui lokasi perdarahan intra abdomen. Indikasi untuk melakukan DPL, antara lain: o Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya o Trauma pada bagian bawah dari dada o Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas. o Pasien cidera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat, alkohol, cedera otak) o Pasien cedera abdominalis dan cidera medula spinalis (sumsum tulang belakang) o Patah tulang pelvis. Pemeriksaan DPL dilakukan melalui anus, jika terdapt darah segar dalm BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi (trauma tumpul) mengenai kolon atau usus besar, dan apabila darah hitam terdapat pada BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi (trauma tumpul) usus halus atau lambung. Apabila telah diketahui hasil Diagnostic Peritonea Lavage (DPL), seperti adanya darah pada rektum atau pada saat BAB. Perdarahan dinyatakan positif bila sel darah merah lebih dari 100.000 sel/mm dari 500 sel/mm, empedu atau amilase dalam jumlah yang cukup juga merupakan indikasi untuk cedera abdomen. Tindakan selanjutnya akan dilakukan prosedur laparotomi.

Kontraindikasi dilakukan Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL), antara lain: Hamil Pernah perasi abdominal Operator tidak berpengalaman

2. Skrinning pemeriksaan rongten. Foto rontgen thoraks erect berguna untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium. Serta

rongten abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum. a. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning Ini di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada. b. Uretrografi.Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretrac. SistografiIni di gunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing, contohnya pada 1) fraktur pelvis.2) Trauma non-penetrasiG. Penatalaksanaan Penatalaksanaan atau pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian. Apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani, penilaian awal dilakuakan prosedur ABC jika ada indikasi, Jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas. 1. Airway, dengan Kontrol Tulang Belakang Membuka jalan napas menggunakan teknik head tilt chin lift atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas. Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.
7

2. Breathing, dengan Ventilasi Yang Adekuat Memeriksa pernapasan dengan menggunakan cara lihat-dengar-rasakan tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada napas atau tidak, Selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan). 3. Circulation,dengan Kontrol Perdarahan Hebat Jika pernapasan korban tersengalsengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 15 : 2 (15 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas.

BAB III KESIMPULAN 1. Trauma abdomen ialah trauma/cedera yang mengenai daerah abdomen yang menyebabkan timbulnya gangguan/kerusakan pada organ yang ada di dalamnya. 2. Trauma abdomen dapat berupa : a) Trauma tumpul b) Trauma tajam 3. Tanda dan gejala/manifestasi klinis meliputi: nyeri tekan diatas daerah abdomen, distensi abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah, takikardi, peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan. 4. Pada trauma non-penetrasi (tumpul) pada trauma non penetrasi biasanya terdapat adanya Jejas atau ruptur dibagian dalam abdomen. 5. Pada trauma penetrasi biasanya terdapat: Terdapat luka robekan pada abdomen Luka tusuk sampai menembus abdomen Biasanya organ yang terkena penetrasi bisa perdarahan/memperparah keadaan keluar dari dalam abdomen. 6. Indikasi untuk melakukan DPL, antara lain: o Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnyaoTrauma pada bagian bawah dari dadaoHipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas. o Pasien cidera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat, alkohol, cedera otak)oPasien cedera abdominalis dan cidera medula spinalis (sumsum tulang belakang) o Patah tulang pelvis. 7. Penatalaksanaan penilaian awal dilakuakan prosedur ABC jika ada indikasi, Jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas.

DAFTAR PUSTAKA 1. Charles FB, Andersen DK, Billiar TR, et al. Schwartzs Manual of Surgery. The MacGraw-Hill Companies. 2006. 8th edition.
9

2.

Williamson RCN, Waxman BP. SCOTT An Aid to Clinical Surgery. Churchill Livingstones. 1998. 6th Edition.

3. Wim de Jong, Sjamsuhidajat R. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta : EGC, 2004 4. Penanganan Cedera tumpul. Available from http://www.docstoc.com/docs/19409600 5. Kegawatan darurat pada system pencernaan trauma abdomen. Available from http://irwanashari.blogspot.com/2009/12/kdpsptb.html

10