Anda di halaman 1dari 3

Anestesi Permukaan pada Orang Percobaan

Langkah Kerja 1. Mengeringkan lidah orang percobaan (OP), serta meminta untuk menjulurkan lidahnya keluar dengan ditahan oleh gigi geliginya. Liur OP diusahakan tidak membasahi lidah apalagi setelah penetesan obat anestesi karena akan mengencerkan obat tersebut, sehingga dapat mempengaruhi hasil percobaan. 2. Setelah itu kami melakukan penggoresan dengan kapas dan ujung jarum steril pada lidah sebelah kiri OP sebanyak lima kali, untuk menguji rasa raba dan nyeri. Orang percobaan menutup matanya selagi dilakukan penggoresan agar lebih objektif kemudian member tanda apabila dapat merasakan adanya raba halus atau nyeri. 3. Melakukan langkah kedua sebanyak dua kali lalu ambil rata-ratanya sebagai parameter dasar. 4. Selanjutnya dengan menggunakan pipet bersih, kami meneteskan satu tetes larutan prokain 1% pada lidah sebelah kiri tadi 5. Setiap dua menit kami melakukan perabaan dengan kapas atau sentuhan jarum sebanyak lima kali. 6. Melakukan pencatatan terhadap waktu penetesan dan waktu di mana 3 dari 5 goresan tidak dapat dirasakan oleh OP, hal ini merupakan waktu mulai kerja obat (onset of action) 7. Kemudian kami melanjutkan lagi hingga saat 3 dari 5 goresan terasa kembali. Waktu dari mula kerja sampai terasa 3 dari 5 goresan adalah lama kerja (duration of action) obat anestesi. 8. Setelah itu, kami melakukan seluruh prosedur tadi pada lidah sebelah kanan, tetapi dengan meneteskan larutan Lidokain 1%. 9. Membandingkan mula kerja dan lama kerja antara Prokain dan Lidokain.

Landasan Teori Anestesi lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Bila anestetik lokal dikenakan pada korteks motoris, impuls yang dialirkan dari daerah tersebut

terhenti, dan bila disuntikkan ke dalam kulit maka transmisi impuls sensorik dihambat. Pemberian anestetik lokal pada batang saraf menyebabkan paralisis sensorik dan motorik yang dipersarafinya. Paralisis saraf oleh anestetik lokal bersifat reversible, tanpa merusak serabut atau sel saraf. Sifat anestetik lokal yang ideal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen. Batas keamanan harus lebar sebab akan diserap sari tempat suntikan. Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak demikian lama sehingga memperpanjang masa pemulihan. Zat anestetik lokal harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. Sifat hidrofobik anestesi lokal akan meningkatkan potensi dan lama kerjanya karena suasana hidrofobik akan meningkatkan jumlah partikel di tempat kerjanya dan menurunkan kecepatan metabolism yang diperantarai oleh esterase plasma dan enzim hati. Secara umum anestetik lokal mempunyai rumus dasar yang terdiri dari 3 bagian: gugus amin, hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatik lipofil melalui suatu gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan dengan ikatan amida atau ester sehingga anestesi lokal digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid. Anestetik lokal yang tergolong dalam senyawa ester ialah tetrakain, benzokain, kokain, dan prokain. Sedangkan yang tergolong dalam senyawa amid adalah dibukain, lidokain, bupivakain, mepivakain, dan prilokain.

Prokain Prokain disintesis dan diperkenalkan pertama kali dengan nama dagang novokain. Selama lebih dari 50 tahun, obat ini merupakan obat terpilih untuk anestetik lokal suntikan; namun kegunaannya kemudian terdesak oleh obat anestetik lain, lidokain yang ternyata lebih kuat dan lebih aman disbanding prokain. Sebagai anestetik lokal prokain, pernah digunakan untuk anestetik infiltrasi, anestetik blok saraf, anesthesia spinal, anestesi epidural dan anestesi kaudal. Namun karena potensinya rendah, mula kerja lambat serta masa kerja pendek, maka penggunaan sekarang hanya terbatas pada anestesi infiltrasi dan terkadang anestesi blok saraf.

Di dalam tubuh prokain akan dihidrolisis menjadi PABA, yang dapat menghambat kerja sulfonamide. Selain itu PABA inilah yang diduga dapat menimbulkan reaksi

alergi/hipersensitivitas bahkan hingga reaksi anafilaktik.

Lidokain Merupakan anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain pada konsentrasi yang sebanding. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anesthesia infiltrasi, sedangkan larutan 1-2% untuk anesthesia blok dan topikal. Efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor, tetapi kecepatan absorbs dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Farmakokinetik lidokain mudah diserap dari tempat suntikan, saluran cerna dan saluran pernapasan serta dapat melewati sawar darah otak. Metabolism di hati, ekskresi bersama urin. Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efek terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma dan kejang. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung. Selain itu, lidokain juga dapat digunakan sebagai obat antiaritmia jantung.