Anda di halaman 1dari 25

KEPERAWATAN BENCANA SISTEM PENDIDIKAN KEPERAWATAN BENCANA

Disusun oleh :
Agus Darmawan Anbar Irwanti Awang Yuniana Ferdi Crisnandi P (P17320310015) (P17320310030) (P17320310027) (P17320310026)

Herti Setia Maharani (P17320310028) Nita Yulianti (P17320310029)

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG PRODI KEPERAWATAN BOGOR


JL.Dr. Sumeru No.116,Bogor

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan bencana. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendalakendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Keperawatan bencana yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Aamiin.

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................................................................................i DAFTAR ISI ....................................................................................................................................................................... ii BAB I ....................................................................................................................................................................................1 PENDAHULUAN ................................................................................................................................................................1 A. Latar belakang ...........................................................................................................................................................1 B. Tujuan .......................................................................................................................................................................1 BAB II ..................................................................................................................................................................................2 TINJAUAN TEORITIK .......................................................................................................................................................2 A. Pendekatan Secara Bertahap dalam Pendidikan dan Pelatihan Keperawatan Bencana ....................................6 B. Jenis-jenis dan Pola Pendidikan dan Pelatihan ................................................................................................... 14 a) Pengkategorian melalui tingkat ketepatan rencana dan isi terhadap partisipan pelatihan .............................. 14

b) Pengkategorian melalui metode pendidikan ................................................................................................... 15 c) pengkategorian melalui peserta pelatihan ....................................................................................................... 16

d) Pendidikan dan pelatihan khusus .................................................................................................................... 18 BAB III ............................................................................................................................................................................... 21 PENUTUP .......................................................................................................................................................................... 21 A. Kesimpulan ................................................................................................................................................ 21 B. Saran .......................................................................................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................................................... 22

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Tak seorang pun tahu kapan atau dimana bencana selanjutnya akan terjadi dan itu tidak mungkin dapat diprediksikan dengan akurat tentang jenis, skala dan tingkat kerusakan dari bencana yang akan terjadi. Ada pribahasa yang menjelaskan tentang bencana yang terjadi secara tiba-tiba yang berbunyi bencana itu datang ketika kita lupa padanya dan ini merupakan suatu frasa untuk menyampaikan pentingnya persiapan sehari-hari terhadap bencana yang akan datang. Selanjutnya bab ini memfokuskan pada pendidikan keperawatan bencana yang merupakan salah satu upaya konkret dalam kesiapsiagaan bencana dan menjelaskan tentang pendekatan dasar dalam mengembangkan pendidikan dan pelatihan dengan melihat bagaimana system pendidikan dan pelatihan perlu dikembangkan. B. Tujuan

BAB II TINJAUAN TEORITIK

A. Pentingnya Pendidikan Keperawatan Bencana Pendidikan keperawatan bencana merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan pada fase tenang dari siklus bencana. Tugas perawatan dalam situasi darurat adalah bukan tugas yang dapat dilakukan oleh semua perawat. Untuk memberikan tindakan medis dan perawatan yang terbaik kepada korban dan orang-orang yang terluka dalam jumlah banyak pada saat kondisi darurat, maka perlu dilakukan pendidikan keperawatan bencana sebelum bencana terjadi sehingga perawat mendapatkan pemahaman dan keterampilan khusus yang memungkinkan menangani situasi khusus pada saat bencana secara cepat dan fleksibel. Pada akhir tahun 1990, banyak bencana alam dalam skala besar terjadi di seluruh dunia, menimbulkan kerusakan di Negara-negara secara luas, tidak terikat pada ukuran ataupun status sebagai Negara industry atau pertanian, bahkan Negara-negara yang teknologinya maju pun telah terkena bencana. PBB telah menetapkan periode dari tahun 1990-1999 sebagai Dekade Internasional Pengurangan Bencana Alam (IDNDR; International Decade Natural Disaster Reduction) dan melakukan berbagai aktivitas untuk berkontribusi dan mempromosikan upaya untuk mengurangi dampak bencana alam dengan tema Menciptakan Kultur Pencegahan. Pada tahun 2000, Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana telah didirikan untuk meneruskan misi IDNDR. Hubungan kerja sama ini melibatkan pemerintah, tenaga ahli, organisasi-organisasi dan masyarakat untuk meminta pengertian dari tenaga ahli dalam ruang lingkup yang besar tentang perlunya mengurangi resiko bencana. Telah ditunjukkan pentingnya perawat untuk memahami bencana alam dan mengembangkan program penanganan bencana yang akan terjadi. Keadaan ini menunjukkan pentingnya tenaga ahli keperawatan uang meningkatkan kesehatan masyarakat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam kesiapsiagaan bencana, kemudian meningkatkan kesadaran mereka terhadap bencana dalam kehidupan sehari-sehari, mempunyai
2

pengetahuan khusus dan tepat tentang keperawatan bencana, dan belajar keterampilan dimana mereka dapat melakukan praktik dalam situasi darurat. Memperkuat pendidikan dan pelatihan terhadap SDM dan mengembangkan system untuk kegiatan tersebut merupakan upaya penting dalam kesiapsiagaan bencana dan mengurangi kerugian dari dampak bencana. B. Pendekatan dasar untuk mengembangkan pendidikan keperawatan bencana Apa pendekatan yang menjadi dasar untuk mengembangkan pendidikan keperawatan bencana? Pembahasan tentang pendidikan dan pelatihan dapat dilihat dari tiga perspektif, yaitu berkelanjutan,bertahap,dan jenis/pola. 1. Sifat berkelanjutan/kontinuitas pendidikan dan pelatihan Perspektif yang penting dalam pengembangan pendidikan keperawatan bencana adalah sifat berkelanjutan/kontinuitas pendidikan dan pelatihan. Aktivitas praktik keperawatan baik yang berkaitan dengan keperawatan bencana atau sebaliknya, tidak dapat dilakukan apabila program pendidikan dailkaukan hanya sekali. Dalam masyarakat yang terus berubah, yang paling penting adalah tenaga ahli keperawatan secara berkelanjutan mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dan mereka harus secara terus-menerus mempelajarinya sehingga mereka akan siap memanfaatkan kapabilitasnya ketika hal itu diperlukan. Melanjutkan pendidikan menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi situasi bencana, dimana keadaan lingkungan spesifik yang berbeda dari biasanya (ditandai dengan terbatasnya penyediaan obat, SDM dan fasilitas). Dalam situasi yang demikian tenaga professional perlu menangani aktifitas di luar ruang lingkup dari tugas pokok sehari-hari. Untuk memastikan bahwa pendidikan keperawatan bencana terus berjalan dan meningkatkan tingkat kesiapsiagaan bencana di antara perawat, hal penting yang dilakukan adalah melihat situasi dari perspektif keduanya baik pendidikan keperawatan dasar maupun pendidikan berkelanjutan melalui pertanyaan sbb: 1. Bagaimana caranya supaya pendidikan keperawatan bencana dimasukan ke dalam pendidikan keperawatan dasar sebelum mahasiswa menjadi perawat? 2. Bagaimana caranya supaya pendidikan keperawatan bencana dimasukkan ke dalam pendidikan perawatan berkelanjutan setelah lulus?
3

Dan penting juga menetapkan kesempatan pendidikan dan pelatihan sehingga perawat dapat mengembangkan pengetahuan mereka secara sistematis dalam bidang ini (gb 1)

Pendidikan Keperawatan berkelanjutan Pendidikan Keperawatan dasar

Di Jepang, Palang Merah Jepang (JRCS:Japanese Red Cross Society) dan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF:Self-Defence Force) telah menangani pemberian pendidikan keperawatan bencana secara aktif di pendidikan keperawatan dasar dan pendidikan keperawatan berkelanjutan. Misalnya, JRCS diminta untuk membantu dalam koordinasi aktivitas pertolongan sesuai dengan Perjanjian Bantuan Bencana dan berdasarkan sejumlah Konvensi Jenewa, Keputusan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Undang-Undang Pokok Penanganan Bencana dan undang-undang Penanganan Gempa Bumi Berskala Besar. Untuk melaksanakan tugas tersebut, JRCS telah merekrut, melatih, dan membina tenaga pertolongan dan menyiapkan perlengkapan / materi pertolongan, dan telah berhasil dalam melaksanakan program pendidikan medis dan keperawatan bencana. Di dalam program pendidikan keperawatan dasar di Akademi Keperawatan dan Universitas keperawatan Palang Merah di seluruh Jepang terdapat mata kuliah metode pertolongan pertama Palang Merah dan keperawatan bencana, maka mahasiswa diberikan kesempatan untuk belajar keperawatan bencana selama mereka masih kuliah. Dalam hal pendidikan keperawatan berkelanjutan, kurikulum pendidikan keperawatan bencana yang harus diambil untuk menjadi tenaga pertolongan dimasukkan ke dalam pendidikan pelayanan di rumah sakit (PBL: Praktik Belajar Lapangan) dan program pelatihan bencana juga dilakukan secara berkala. Gempa bumi besar di Hanshin-Awaji (1995) membawa peralihan pada pendidikan keperawatan bencana yang sebelumnya hanya diberikan kepada kelompok perawat tertentu. Pengalaman dari Gempa Bumi Besar di Hanshin-Awaji ini membuat perawat di seluruh Jepang memiliki kepedulian yang tinggi tentang pentingnya pendidikan keperawatan bencana. Sebagai

akibantnya banyak institusi pendidikan yang mulai mengimplementasikan pendidikan keperawatan bencana ke dalam kurikulum kepeerawatan dasar mereka. Namun demikian, metode implementasinya berbeda-beda di setiap institusi kartena tidak adan standar pelaksanaan yang jelas. Contohnya, beberapa institusi telah mendirikan keperawatan bencana sebagai mata kuliah tersendiri, di lain pihak telah memperkenalkannya sebagai sebuah unit dalam mata kuliah keperawatan komunitas. Juga, beberapa institusi telah menjadikannya sebagai materi kuliah wajib untuk semua mahasiswa, sedangkan ada juga yang menjadikannya sebagai mata kuliah pilihan. Institusi-institusi lain juga memasukkannya di luar kurikulum akademik normal, dan sebagai gantinya merekomendasikan mahasiswa untuk belajar langsung di dalam latihan gabungan siap siaga bencana yang dilakukan oleh berbagai institusi dan di dalam latihan itu, mahasiswa berperan sebagai korban bencana. Kalau memikirkan bencana dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, dan bencana dalam skala besar bertambah dewasa ini, maka semua mahasiswa keperawatan diharapkan mengembangkan kepedulian terhadap bencana dan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan di bidang ini. Mempelajari keperawatan bencana selama pendidikan keperawatan dasar termasuk penting dari sisi pemberian motivasi mahasiswa untuk melanjutkan pelajarannya setelah lulus. Table 1 menunjukkan bagaimana keperawatan bencana telah dijadikan sebagai materi kuliah wajib (30 jam per 1 SKS) di Universitas Keperawatan A. hal penting disini adalah program pendidikan dasar mengidentifikasi bagaimana mahasiswa perlu dilatih serta apa yang harus diketahui dalam mencapai tujuan. Mengetahui tingkat kemampuan praktik keperawatan bencana yang dimiliki mahasiswa pada saat lulus akan mempermudah untuk menetapkan apa yang harus diajarkan dalam program pendidikan keperawatan berkelanjutan, dan bagaimana

mengajarkannya, serta informasi apa yang perlu ditambahkan dalam fondasi pengetahuan dasar mereka.

2. Pendekatan Secara Bertahap dalam Pendidikan dan Pelatihan Keperawatan Bencana Kunci perspektif kedua dalam pengembangan pendidikan keperawatan bencana adalah pendekatan secara bertahap, yaitu pendidikan perlu diberikan berdasarkan setiap tahap. Sama seperti keterampilan praktik keperawatan yang dibina secara bertahap, keterampilan praktik keperawatan pada saat bencana juga perlu dibina dengan cara yang sama supaya memperoleh efektifitas yang optimal. Hal ini berkaitan dengan pertanyaan yang telah disebutkan sebelumnya : Bagaimana caranya supaya pendidikan keperawatan bencana dimasukkan ke dalam pendidikan keperawatan berkelanjutan setelah lulus?. Itu juga berkaitan dengan perluasan peran yang harus dimainkan oleh perawat selama terjadi bencana. Sebagai contoh, dalam keadaan darurat, perawat biasa dan manajer / kepala perawat seharusya memainkkan peran yang berbeda. Jika dibuat sistem pendiikan secara bertahap, seperti melaksanakan pendidikan dan pelatihan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dari perawat dan perluasan peran yang harus dimainkan oleh perawat, atau perawat yang sudah menyelesaikan / lulus pendidikan dan pelatihan tahap 1 akan diikutsertakan pada pendidikan dan pelatihan tahap berikut, maka efektifitas dari pendidikan dapat ditingkatkan. Setiap rumah sakit melakukan berbagai usaha untuk memberikan pendidikan dan pelatihan secara bertahap8)9). Tabel 2 menunjukkan contoh bagaimana memberikan pendidikan secara bertahap di rumah sakit dimana akan menjadi pusat pelayanan medis pada saat bencana. Dalam contoh iini, mahasiswa yang baru direkrut oleh rumah sakit dilibatkan di dalam pelatihan pemula dan belajar materi dasar. Berdasarkan hal ini rumah sakit telah membentuk beberapa tingkatan peelatihan dimana perawat dapat mengikuti : pelatihan untuk perawat tingkat menengah yanng telah bekerja 35 tahun, pelatihan untuk kepala perawat, dan pelatihan untuk ahli keperawatan bencana berposisi membimbing perawat bencana yang lain.

Target pelatihan Pelatihan untuk

Tujuan pelatihan 1. Mengembangkan kesadaran dan

Komponen Pelatihan Utama 1. Pemahaman struktur seluruh /

perawat pemula (baru mulai bertugas)

fasilitas

kepedulian yang tinggi terhadap kesiapsiagaan pada bencana 2. Mempelajari pengetahuan dasar

sarana rumah sakit dari sisi keamanan. 2. Mengkonfirmasikan jalur evakuasi dan

jaringan komunikasi. 3. Pengkajian fisik

yang dibutuhkan pada saat bencana dan

(asesmen fisik) latihan membalut, metode pasien. dan pemindahan

melengkapi keterampilan dasar.

Pelatihan

untuk

perawat

1. Mempelajari pengetahuan khusus

1. Definisi jenis bencana. 2. Pengetahuan dasar

menengah (berpengalaman 3 tahun)

yang diperlukan pada saat bencana dan

keperawatan bencana. 3. Pelatihan triage. 4. System bencana,, pencegahan

melengkapi keterampilan. 2. Memahami peran

perlengkapan,

dan

yang harus dimainkan oleh perawat pada

persediaan pada saat bencana di dalam

saat bencana.

rumah sakit. 5. Pelatihan untuk evakuasi tsimulasi

bencana.pengetahuan dan keterampilan


7

tentang darurat. Pelatihan untuk kepala / 1. Mempelajari pengetahuan keterampilan dan supaya

pengobatan

1. Peran kepala / manajer perawat dalam pada saat (penataan organisasi / bencana bencana struktur ketika terjadi

manajer perawat

bisa menunjukan sifat kepemimpinan sebagai manager kepala

perawat

memanfaatkan sumber dan ESDM yang efektif , mengumpulkan dan

pada saat bencana, menyelamatkan nyawa orang, dan

menyampaikan informasi, dll) 2. Perawatan ketika

mencegah sekunder. 2. Memahami organisasi

bencana

respon terhadap

bencana terjadi 3. Penyusunan jaringan

saat terjadi bencana

dengan institusi terikat pada saat bencana.

Pelatihan bencana

perawat

ahli

1. Memahami peranana dan tanggung jawab dari tenaga ahli

1. Ciri-ciri

khusus

dan

pengobatan bencana 2. Jenis bencana dan ciriciri penyakit khusus 3. Perubahan bencana kebutuhan keperawatan 4. Perawatan untuk
8

keperawatan bencana. 2. Mampu memberikan pada

siklus dan

bimbingan

keperawatan bencana. 3. Mampu memahami

dan melakukan praktik

dan memainkan peran sebagai parawat

orang-orang

yang

lemah pada bencana 5. Psikologi bencana, mental pada saat

dalam berbagai fase siklus bencana.

kesehatan korban dan

penyelamatan 6. Perencanaan dan

praktek pendidikan dan pelatihan untuk

keperawatan bencana

Table 1: contoh pendidikan keperawatan bencana di universitas keperawatan A Keperawatan bencana membutuhkan keterampilan khusus supaya dapat memberi respon dengan cepat, fleksibel dan tepat dalam situasi yang tidak menentu dan tidak terduga. Melengkapi perawat untuk memberikan perawatan dalam situasi darurat membutuhkan pelatihan secara bertahap, namun beberapa keterampilan dasar yang diperlukan adalah kemampuan untuk melakukan sebuah pengkajian fisik (asesmen fisik), memberikan pertolongan pertama, dan membuat pertimbangan yang tepat. Mahasiswa diharapkan telah mempelajari bagaimana melakukan pengkajian fisik dan bantuan pertama dasar di dalam ruang kelas melalui latihan praktik, tetapi ini tidak berarti bahwa mereka dapat menerapkan keterampilan keperawatan bencana. Hal penting dalam keperawatan bencana. Hal penting dalam keperawatan bencana adalah menyadari perlunya pengembangan lebih lanjut dari pendidikan perawat dan menguasai keterampilan khusus serta berupanya untuk membina diri akan keterampilan dasar termasuk kemampuan membuat keputusan yang tepat. Universitas kami menganggap bahwa bencana Bencana dan Keperawatan adalah mata kuliah komperhensif dimana mahasiswa berupaya mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan sebelumnya serta harus diambil oleh mahasiswa semester 8. Berdasarkan kondisi pelajaran tersebut, tujuan dari mata kuliah ini adalah supaya mahasiswa
9

belajar siklus bencana secara keseluruhan; memahami masalah masalah kesehatan, kebutuhan keperawatan dan peran perawat dalam setiap siklus bencana . serta mendapatkan keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk memberikan pelayanan keperawatan bencana. Untuk meningkatkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat, hal-hal yang penting adalah mahasiswa perlu memahami bencana, pendekatan manajemen, dan perbedaan antara situasi darurat dan yang normal (walaupun keduanya kondisi kritis), dan juga memiliki kemampuan untuk berpikir tentang peranan perawat di dalam situassi darurat. Gambaran umum dari kelas/mata kuliah ini seperti di bawah ini. Akhirnya setelah melakukan simulasi di ruang kelas, kita akan bekerja sama dengan Red Cross Society/ Palang Merah untuk melakukan latihan di luar sehingga mahasiswa dapat menyadari perbedaan bagaimana mereka mambayangkan situasi darurat, dan keadaan darurat yang sesungguhnya seperti apa, sehingga mereka diberi motivasi untuk melanjutkan pendidikannya di bidang ini di masa depan. 1. Gambaran umum bencana 1 pertemuan (90 menit) Mempelajari definisi dan jenis bencana. Memahami pengaruh bencana terhadap kesehatan masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Memikirkan mengenai rawan bencana.

2. Gambaran umum manajemen bencana, 1 pertemuan 90 menit Mempelajari ciri-ciri siklus bencana dan setiap fase bencana. Memikirkan peran perawat dalam manajemen bencana.

3. Gambaran umum keperawatan bencana, 1 pertemuan (90 menit) Memahami perbedaan antara keperawatan bencana dan keperawatan darurat. Memikirkan kebutuhan keperawatan dalam setiap fase bencana.

10

4. Topik Keperawatan bencana, 11 pertemuan (90 X 11 pertemuan) Memahami ciri-ciri keperawatan selama fase akut bencana, 1 pertemuan (90 menit) Mempelaari dasar-dasar triage, 2 pertemuan (90 menit X 2) Memahami pentingnya kesehatan mental pada korban dan para penolong; dan mempejakari metode dukungan, 2 pertemuan (90 menit X 2) Memikirkan dukungann kepada penduduk di daerah paling lemah pada bencana, 2 pertemuan (90 menit X 2) Praktek umum 9 simulasi di dalam kelas dan latihan di luar menggunakan studi kasus0, 4 pertemuan (90 menit X 4). Target pelatihan Pelatihan untuk Tujuan pelatihan 3. Mengembangkan kesadaran dan Komponen Pelatihan Utama 4. Pemahaman struktur seluruh /

perawat pemula (baru mulai bertugas)

fasilitas

kepedulian yang tinggi terhadap kesiapsiagaan pada bencana 4. Mempelajari pengetahuan dasar yang dibutuhkan pada saat bencana melengkapi keterampilan dasar. dan

sarana rumah sakit dari sisi keamanan. 5. Mengkonfirmasikan jalur evakuasi dan

jaringan komunikasi. 6. Pengkajian fisik

(asesmen fisik) latihan membalut, dan metode pemindahan pasien. 6. Definisi jenis bencana.

Pelatihan

untuk

perawat

3. Mempelajari pengetahuan khusus

menengah (berpengalaman 3 tahun)

7. Pengetahuan

dasar

yang diperlukan pada saat bencana dan

keperawatan bencana. 8. Pelatihan triage.


11

melengkapi keterampilan. 4. Memahami peran yang harus dimainkan oleh perawat bencana. pada saat

9. System bencana,,

pencegahan

perlengkapan,

dan

persediaan pada saat bencana di dalam

rumah sakit. 10. Pelatihan untuk evakuasi tsimulasi

bencana.pengetahuan dan tentang darurat. Pelatihan untuk kepala / 3. Mempelajari pengetahuan keterampilan dan supaya 4. Peran kepala / manajer perawat dalam pada keterampilan pengobatan

manajer perawat

saat bencana (penataan struktur organisasi

bisa menunjukan sifat kepemimpinan sebagai kepala perawat bencana, menyelamatkan nyawa orang, dan mencegah bencana sekunder. 4. Memahami organisasi respon terhadap / manager pada saat

ketika bencana terjadi memanfaatkan sumber dan ESDM yang efektif , mengumpulkan dan menyampaikan informasi, dll) 5. Perawatan bencana terjadi 6. Penyusunan jaringan ketika

saat terjadi bencana

dengan institusi terikat pada saat bencana.

Pelatihan

perawat

ahli

4. Memahami

peranana

7. Ciri-ciri

khusus

dan
12

bencana

dan tanggung jawab dari tenaga ahli

pengobatan bencana 8. Jenis bencana dan ciriciri penyakit khusus 9. Perubahan siklus

keperawatan bencana. 5. Mampu bimbingan memberikan pada

bencana dan kebutuhan keperawatan 10. Perawatan untuk orangorang yang lemah pada bencana 11. Psikologi bencana, mental pada saat

keperawatan bencana. 6. Mampu memahami

dan melakukan praktik dan memainkan peran sebagai parawat dalam berbagai fase siklus bencana.

kesehatan korban dan

penyelamatan 12. Perencanaan dan

praktek pendidikan dan pelatihan untuk

keperawatan bencana

Sebagai tambahan, di Jepang, pendidikan keperawatan bencana juga dilakukan di luar rumah sakit dimana perawat bekerja. Sebagai contoh, Asosiasi Keperawatan Jepang (JNA: Japanese Nursing Association) sebagai organisasi fungsional (professional) perawat mulai memberikan pendidikan keperawatan bencana sebagai bagian dari mata kuliah keperawatan berkelanjutan sejak bulan juni 2000. Tujuan dari pelatihan yang biasanya 2 hari ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bencana dan kemampuan, mempersiapkan serta menciptakan organisasi yang dapat merespon segala sesuatu bencana. Topic utama yang diangkat adalah dasar-dasar dari pengobatan pada saat bencana, keperawatan bencana yang nyata, manajemen krisis di dalam masyarakat / komunitas, kegiatan perawatan yang nyata di tempat pengungsian, dan kegiatan pelayanan kesehatan mental pada saat bencana. Sesi pelatihan ini dibuka untuk seluruh anggota perawat yang telah terdaftar sebelumnya. Selama 4
13

tahun, sejak 2000 hingga 2003, pelatihan ini telah melatih perawat sebanyak 1390 orang dan pelatihan ini telah memberikan kesempatan bagi banyak perawat untuk belajar pengetahuan dan keterampilan yang khusus yang diperlukan untuk keperawatan bencana. 3. Jenis-jenis dan Pola Pendidikan dan Pelatihan Kunci perspektif ketiga dalam pengembangan pendidikan keperawatan bencana adalah jenis/pola pendidikan dan pelatihan. Ada bermacam-macam jenis pendidikan dan strategi yang perlu diadopsi dalam rangka meningkatkan efektifitas pendidikan dengan memilih jenis pendidikan khusus yang didasari pada tujuan pelatihan, kesiapan partisipan, dari kebutuhan pelajaran. a) Pengkategorian melalui tingkat ketepatan rencana dan isi terhadap partisipan pelatihan Jenis-jenis dari pendidikan dan pelatihan dapat dikategorikan atas dasar tingkat ketepatan partisipan dengan rencana dan isi sebagai berikut. Hal ini berdasarkan buku pedoman untuk pembentukan organisasi yang disusun oleh Pan American Health Organization (PAHO). (1) Latihan yang telah direncanakan sebelumnya : Ini adalah latihan-latihan yang dilakukan atas dasar scenario yang telah direncanakan. Glari resik kadang-kadang dilakukan. Dengan pelaksanaan pelatihan beberapa kali, yang berdasarkan manual penanganan bencana, maka hal itu akan membantu partisipan untuk lebih mengenali tugas dan perannya sendiri.

14

(2) Pelatihan mendadak (tanpa diberitahukan secara rinci) Pada jenis latihan ini partisipan hanya mengetahui informasi mengenai pelaksanaan pelatihan dan hal-hal yang utama saja. (3) Latihan ditempat kerja yang dirahasiakan (dilaksanakan secara mendadak ditempat kerja) Hanya sedikit saja yang mengetahui pelatihan itu dilakukan ditempat kerja. Jenis pelatihan ini adalah tidak efektif jika peserta menerima pelatihan yang secukupnya melalui latihan-latihan yang berulang-ulang sebelumnya dari jrnis latihan ertama dan kedua yang telah dijelaskan diatas b) Pengkategorian melalui metode pendidikan Jenis pendidikan dan pelatihan yang dikategorikan melalui metode pelatihan seperti 1) kuliah dan 2) praktik. Praktik termasuk pelatihan dasar , simulasi di dalam kelas, dan simulasi di luar kelas. (1) Kuliah Kuliah merupakan hal yang penting dalam rangka membantu peserta mendapatkan pengetahuan pokok yang mereka butuhkan untuk mendukung praktik keperawatan bencana dan memotivasi pembelajaran peserta. Perkuliahan yang menggunakan alat / bahan membantu peserta untuk membayangkan / mendapatkan gambaran situasi bencana dan lebih memahami materi yang telah dipelajari.

(2) Praktik Praktik adalah cara yang penting supaya pengetahuan yang telah mereka pelajari melalui kuliah akan diterapkan pada saat pelaksanaan yang nyata. Bahkan praktiknya menjadi lebih efektif ketika mengikuti tahap tahap seperti berikut ini. Praktik pelatihan dasar didesain untuk membantu peserta mendapatkan keterampilan dasar yang penting dalam situasi darurat seperti triage, pertolongan pertama, cara
15

memindahkan / mengangkut pasien, dan pembukaan dan manajemen tempat pertolongan. Kemudian simulasi di kelas dengan kerja kelompok dilakukan berdasarkan scenario hipoten, seperi menetapkan jenis bencana dan skala bencana, fase siklus bencana dan tempat aktivitas. Lebih lanjut, informasi yang diperoleh dari simulasi di kelas dapat digunakan untuk menciptakan simulasi di luar kelas sebagai kesempatan belajar yang praktis dan komprehensif. Ketika simulasi dimanfaatkan conoh bencana sebelumnya yang familier bagi peserta, maka simulasi cenderung lebih mudah bagi peserta untuk mengikuti pelatihan tersebut dan menjadi sangat efektif. c) pengkategorian melalui peserta pelatihan Pendidikan dan pelatihan dapat dikategorikan berdasarkan lingkup para peserta sebagai berikut : (1) Pendidikan dan pelatihan untuk perawat Pendidikan dan pelatihan ini ditunjukan kepada perawat, dan isinya telah dijelaskan sebelumnya, maka tidak dibahas lagi disini. Yang perlu diperhatikan adalah untuk memperlihatkan kemampuan seseorang didalam situasi darurat, peserta harus berpartisipasi secara aktif dalam kesempatan belajar dan latihan, belajar tentang cara menghadapi situasi bencana dan meningkatkan tingkat kesiagaan diri pada saat normal. Pada waktu sama, penting juga mengembangkan praktek keperawatan yang berbasis dalam praktik keperawatan setiap hari. Perawat yang dapat membuat observasi secara teliti dengan menggunakan seluruh panca indera selama melakukan aktivitas keperawatan yang biasa mereka lakukan, dan dapat membuat keputusan yang akurat yang didasari pada observasi ini, akan mendapatkan kemampuan untuk memutuskan secara cepat dan mengambil tindakan yang tepat pada saat bencana. Akumulasi dari pengalaman keperawatan yang dilakukan setiap hari akan menjadi daya penggerak yang menyokong praktik keperawatan bencana.

16

(2) Pendidikan dan pelatihan untuk tim medis Ketika bencana terjadi, rumah sakit yang ada di dekat lokasi bencana akan memainkan peran untuk mengirim tim medis ke lokasi bencana, menerima korban luka/sakit, bekerjasama dengan rumah sakit yang mendukung untuk membantu dan menerima staf medis dari/ keinstitusi medis, memasok persediaan obat-obatan dan menerima perpindahan pasien. Agar pengiriman tim medis ke lokasi bencana berjalan lancar, rumah sakit perlu membentuk tim medis di dalam rumah sakit itu sebelumnya dan tim medis tersebut harus diberi pendidikan dan pelatihan. Sebagai contoh , rumah sakit B yang menjadi RS basis pada saat bencana selalu membentuk 9 tim yang terdiri dari 2 dokter, 3 perawat, 2 petugas administrasi (kadang-kadang termasuk farmasi) dan mereka telah mengembangkan sebuah system untuk pengiriman tim ini dalam peraturan shift ketika bencana terjadi. Selain itu, setaun sekali, rumah sakit ini melakukan program pelatihan selama 2 hari penuh yang terfokus pada pelatihan dasar (termasuk pemasangan tenda) dan triage, sehingga tim ini siap bertugas pada saat darurat. Penting juga mengembangkan system ini untuk akomodasi jumlah yang besar dari pasien yang terkena luka dan membuat latihan untuk system implementasi. Ini memerlukan control pada perencanaan internal di rumah sakit dalam menghadapi bencana, sebagai contoh bagaimana aktivitas harus dikoordinasikan pada setiap institusi medis, pendirin pusat penanganan bencana internal, penempatan area triage dan tempat tindakan, pengalokasian SDM dan material, dan pemanggilan staf secara darurat. (3) Pelatihan gabungan dengan institusi lain yang terkait Ketika bencana terjadi, 1 tim medis dapat beroperasi sendiri atau adakalanya bekerjasama dengan beberapa tim medis, pemadam kebakaran, tenaga pasukan militer, pemerintah dan organisai relawan untuk mengatasi situasi bencana tersebut. Oleh karena it, tidak hanya melakukan pendidikan dan pelatihan untuk tim individu medis yang telah dijelaskan diatas, tetapi penting juga melakukan aktivitas pelatihan gabungan yang bertujuan untuk melakukan kerjasama antara institusi terkait. Di jepang,
17

dilaksanakan pelatihan gabungan bencana tingkat prefektur, kota dan rukun tetangga (RT). Sebaiknya latihan-latihan ini dilakukan secara berkala dimana telah dibuat scenario berkenaan dengan jenis dan skala yang diperkirakan dan juga jumlah korban, identifikasi peranan dan ruang lingkup tanggung jawab dari setiap institusi dan peserta yang terlibat dan metode komunikasi satu sama lain. (4) Pelatihan gabungan yang dilibatkan penduduk setempat dan organisasi relawan Penting sekali melibatkan penduduk setempat dalam latihan bencana. Dengan partisipasi penduduk setempat sebagai pemeran pasien pada latihan-latihan yang dijelaskan diatas, maka penduduk setempat diberikan kesempatan penyuluhan terhadap pencegahan bencana dan pada saat yang sama pelatihan gabungan menjadi lebih dinamis dan realistis bagi instansi yang terkait. Ada juga upaya-upaya melakukan latihan yang diikuti kelompok wanita, anggota pemadam kebakaran, dan kelompok relawan local untuk melatih diri di dalam peran khusus yang dapat mereka mainkan seperti mempersiapkan makanan (bagian dapur), pengiriman dan pembagian barang bantuan kepada korban. d) Pendidikan dan pelatihan khusus Sebagai tambahan diatas, berikut ini adalah jenis-jenis pendidikan dan pelatihan khusus. 1.DMAT (Disaster Medical Assistance Team) DMATs adalah tim medis yang dikirim pada saat bencana yang telah dilatih khusus dan dapat diaktifkan sewaktu-waktu agar dapat bergerak dalam fase akut bencana (dalam 48 jam pertama). Di jepang, setifikat DMAT diberikan oleh Departemen kesehatan, tenaga kerja dan kesejahteraandimulai pada tahun 2006 ddan sampai 2007sebanyak 386 pada 272 organisasi/sarana telah menyelesaikan pelatihan ini, menghasilkan 2391 petugas DMAT. Dari jumlah ini, 992 orang adalah perawat.
18

2.MIMMS (Major Incident Medical Management and Support) MIMMS adalah program pealtihan selama 3 hari dimana personil medis dan kesehatan (dokter, perawat, tenaga ambulan dll) mempelajari cara-cara yang sistematis dari pendekatan kecelakaan besar dan bencana.Program ini sedang diterapkan secara luas di inggris dan Australia dan sekarang sedang berkembang dan menjadi standar umum di eropa. Bagian ini telah dipertimbangkan dari 3 perspektif fundamental yakni berkelanjutan< secara bertahap, dan jenis/pola sebagai pemikiran pengembangan pendidikan keperawatan bencana. Pengembangan sumber daya manuisa merupakan hal yang harus ada untuk bersiap pada bencana yang terjadi secara tiba-tiba. Berdasarkan ini, kita harus menciptakan kesempatan pendidikan dan pelatihan dan pengembangan systemsistem pendidikan keperawatan bencana. 3. Menuju perbaikan program pendidikan keperawatan bencana. Akhirnya, di bagian ini akan didiskusikan upaya-upaya yang sedang dilakukan mengenai pengembangan lebih lanjut dari pendidikan bencana. Pertama, menangani upaya-upaya yang sedang berlangsung dalam mengevaluasi dan mengembangkan program pelatihan dan pendidikan yang sedang diimplementasikan dalam bidang pendidikan keperawatan bencana adalah hal penting, sama seperti pentingnya mengevaluasi bagaimana aktivitas pendidikan yang baik dalam

menyampaikan tujuan yang telah didesaindan membuat perbaikan yang diperlukan. Tanpa evaluasi ini, tidak mungkin mendapatkan informasi tentang bagian mana yang diperlukan . Tanpa evaluasi ini, tidak mungkin mendapatkan informasi tentang bagian mana yang memerlukan perbaikan. Sama dengan seluruh aktivitas pendidikan harus mengikuti siklus PDCA (Plan, Do, Cheak, Art). Dalam proses ini, harus dipertanyakan apakah isi dari pendidikan dan pelatihan yang diberikan untuk menghasilkan tujuan pendidikan dan pelatihan yang diberikan untuk menghasilkan tujuan pendidikan yang khusus telah tepat atau pendidikan yang khusus telah tepat atau belum dan apakah
19

metode pengajarannya telah efektif atau belum. Kunci kedua dalah pengembangan materi pelajaran. Materi pelajaran yang digunakan ketika meneruskan pendidikan keperawatan bencana termasuk teks dan materi video yang digunakan dalam kuliah, studi kasus yang digunakan pada saat latihan dikelas dan diluar kelas serta berbagai alat peraga/ model yang digunakan untuk menambah realitas selama pelatihan dilakukan. Untuk meningkatkan efek pendidikan itu, penting untuk mengembangkan materi ini, maka hal ini perlu dipertimbangkan. Kunci ketiga adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Dalam hal ini penting untuk mengembangkan keterampilan pengajar yang melakukan aktivitas pendidikan keperawatan bencana. Pembinaan spesialis pendidikan keperawatan bencana merupakan tantangan besar untuk masa depan.

20

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Bab ini telah memfokuskan pada pendidikan keperawatan bencana sebagai salah satu upaya kongkrit yang dilakukan dalam rangka kesiapsiagaan bencana dan telah menjelaskan pendekatan dasar dan contoh kongkrit untuk mengembangkan pendidikan dan pealtihan dengan melihat bgaimana system pendidikan dan pelatihan perlu dikembangkan/ ditata. Pendidikan keperawatan bencana adalah salah satu aktivitas yang dilakukan selama masa tenang satu aktivitas yang dilakukan selama masa tenang dari siklus bencana. Perawat mempunyai peranan penting dalam fase ini, yakni menignkatkan kesadarannya terhadap bencana dan pada saat normal memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk keperawatan bencana. Untuk melakukan tugas ini perlu mengembangkan kesiapsiagaan pada bencana dengan mempertahankan dan

meningkatkan keterampilan diri sendiri melalui program pendidikan dan pelatihan secara berkala dan berkelanjutan dan perlu terus melanjutkan praktik keperawatan didalam aktivitasnya sehari-hari.Untuk mengembangkan kemampuan praktik pada keperawatan bencana bagi perawat, maka hal ini menjadi penting untuk mengembangkan program pendidikan bencana yang menekankan berkelanjutan, secara bertahap, dan jelas/pola mengevaluasi terhadap program pendidikan dan pelatihan yang sedang / telah dilaksanakan serta melakukan upaya yang berkelanjutan untuk perbaikannya. B. Saran

21

DAFTAR PUSTAKA
Zailani,et.al.2009.Keperawatan Bencana.Banda Aceh:Forum Keperawatan Bencana

22