Anda di halaman 1dari 5

DIAGNOSIS

Gejala klinis dari trombosis vena dalam bervariasi (90% tanpa gejala klinis). Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :1 a. Anamnesis Nyeri lokal, bengkak, perubahan warna dan fungsi berkurang pada anggota tubuh yang terkena. b. Pemeriksaan Fisik Edema, eritema, peningkatan suhu lokal tempat yang terkena, pembuluh darah vena teraba. Tes dari Homan (Homans test) yakni dengan melakukan dorsofleksi pada kaki maka akan didapatkan peningkatan rasa nyeri pada betis belakang. Nilai diagnostik pemeriksaan ini rendah dan harus hati-hati karena bisa menjadi pemicu terlepasnya thrombus. Tanda dari Pratt (Pratts sign), dilakukan squeezing pada otot betis maka akan timbul peningkatan rasa nyeri. Scarvelis dan Wells tahun 2006 mengemukakan nilai probabilitas untuk penderita DVT yang dikenal dengan Wells score digunakan untuk stratifikasi, Clinical Pre-test Probability (PTP) menjadi kelompok resiko ringan, sedang atau tinggi. Kelompok PTP rendah: 0, intermediat:1-2, PTP tinggi: 2.1

No 1. 2.

Jenis Kriteria Menderita kanker aktif mendapat terapi 6 bl terakhir atau perawatan paliatif Edema tungkai bawah > 3cm (diukur 10 cm bawah tuberositas tibial, bandingkan dengan sisi sehat)

Nilai 1 1

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Didapat kolateral vena permukaan (non varises) Pitting edema Bengkak seluruh tungkai bawah Nyeri disepanjang distribusi vena dalam Kelemahan, kelumpuhan atau penggunaan casting pada tungkai bawah Bedridden > 3hr, atau 4 minggu pasca operasi besar dengan anestesi general atau regional

1 1 1 1 1 1

9.

Penegakan diagnosa alternative

-2

Interpretasi skor dari Wells adalah jika didapat minimal 2 point maka mengarah DVT dan disarankan dengan pemeriksaan penunjang radiologis. Apabila skornya kurang dari 2 belum tentu DVT, dipertimbangkan dengan pemeriksaan D-dimer untuk meniadakan diagnosa DVT. 1

DIAGNOSIS BANDING 1. Bakers Cyst Bakers cyst atau kista popliteal adalah pembengkakan yang disebabkan oleh cairan dari sendi lutut menonjol di bagian belakang lutut. Bakers cyst merupakan distensi cairan dari bursa antara tendon gastrocnemius dan semimembranosus melalui komunikan dengan sendi lutut. Penyebab dari penumpukan cairan sendi termasuk radang sendi rheumatoid, osteoarthritis dan terlalu banyak menggunakan lutut. Gejala sangat mudah dikenali yakni terdapat tonjolan halus di belakang sendi lutut atau di atas betis yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sebelum pecah. Hal ini dapat menyebabkan sakit ringan atau tidak nyaman di belakang lutut terutama ketika berolahraga. Jika kista pecah, bisa menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan dan gejala ini serupa dengan thrombophlebitis dari tungkai bawah. Diagnosis kista Baker secara efektif dengan MRI karena distensi cairan dari bursa gastrocnemiosemimembranosus baik digambarkan pada T2-tertimbang gambar MR aksial. Terapi dapat berupa konservatif dan operatif. Terapi konservatif yaitu dengan prosedur aspirasi kista dari sendi dan menyuntikan kortikosteroid. Jika kista sudah pecah, rasa sakit dapat diobati dengan NSAID.2,3

2. Selulitis Selulitis adalah suatu infeksi bakteri pada kulit dan jaringan lunak yang disebabkan oleh bakteri steptokokus atau staphylokokus. Tampak peradangan lokal pada kulit yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri dan rasa hangat. Selulitis dapat menetap sebagai infeksi superfisial atau menyebar ke jaringan lunak di bawah kulit yang berisi pembuluh darah, pembuluh limfa dan saraf. Gejala awal berupa kemerahan dan nyeri tekan yang terasa disuatu daerah yang kecil di kulit. Kulit yang terinfeksi menjadi panas dan bengkak, dan tampak seperti kulit jeruk yang mengelupas ( peau d'orange ). Pada kulit yang terinfeksi bisa ditemukan lepuhan kecil berisi cairan ( vesikel ) atau lepuhan besar berisi cairan ( bula ), yang bisa pecah. Karena infeksi menyebar ke daerah yang lebih luas, maka kelenjar getah bening di dekatnya bisa membengkak dan teraba lunak. Pemeriksaan darah lengkap dapat dilakukan untuk menentukan jumlah sel darah putih dan kultur pus dari daerah infeksi atau kultur darah dapat dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab untuk membantu memilih terapi antibiotik yang tepat.2,3

3. Emboli Paru Emboli Paru (Pulmonary Embolism) adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah. Kebanyakan kasus disebabkan oleh bekuan darah dari vena, terutama vena di tungkai atau panggul. Tanda umum adalah dyspnoea secara tiba-tiba dan ada pada 90% kasus, nyeri dada pleuritik, haemoptysis, pingsan, tachikardia > 100/menit, tachipnoe > 20/menit, demamdan gejala DVT dengan tanda bengkak pada kaki dan nyeri pada perabaan vena. Diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan foto toraks, elektrokardiogram (EKG), gas darah arteri, dan D-dimer untuk menilai zat yang mengumpal dalam darah yang berfungsi sebagai tes skrining yang cepat. Color flow Doppler ultrasound pada kaki dapat digunakan untuk mendiagnosis bekuan darah di pembuluh darah kaki. Pemeriksaan angiogram paru (computed tomography [CT] angiography) adalah tes yang paling definitif untuk mendiagnosis emboli paru. 2,3

4. Penyakit Buerger Penyakit Buerger (Tromboangitis obliterans) adalah suatu kondisi kronis dimana terjadi peradangan dan pembentukan thrombus yang menyebabkan penyumbatan pada arteri dan vena yang berukuran kecil sampai sedang pada bagian tangan dan kaki. Penelitian menunjukkan penyakit ini mungkin hasil dari reaksi hipersensitivitas genetik terhadap nikotin atau mungkin disebabkan oleh gangguan autoimun di mana tubuh menyerang kolagen yang merupakan konstituen pembuluh darah. Gejala karena berkurangnya pasokan darah ke lengan atau tungkai terjadi secara perlahan, dimulai pada ujung-ujung jari tangan atau jari kaki dan menyebar ke lengan dan tungkai, sehingga akhirnya menyebabkan gangren (kematian jaringan). Penderita merasakan kedinginan, mati rasa, kesemutan atau rasa terbakar. Penderita juga seringkali mengalami fenome Raynaud dan kram otot, biasanya di telapak kaki atau tungkai. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan arteriogram pada ekstremitas atas dan bawah yang dapat menunjukkan penyempitan (stenosis) atau penyumbatan aliran darah di beberapa tempat serta kerusakan pembuluh darah. 2,3

DAFTAR PUSTAKA 1. Skinner. N., 2008. Case Management Adherence Guidelines : Deep Vein Thrombosis. Case Management Society of America, Radio Gate International, Inc. Aston, PA, 2007. 2. Patel. K., 2012. Deep Venous Thrombosis. Available from : 23

http://www.emedicine.medscape.com/1911303-differential.htm. December 2012]

[accessed

3. Medical Disability Advisor, MD Guildelines, 2012. Deep Vein Thrombosis : Differential Diagnosis. Available from : http://www.mdguildelines.com/dvt/ differential-diagnosis.htm [Accessed 23 December 2012]