Anda di halaman 1dari 3

Ketika kecerdasan dan kebaikan berkolaborasi dengan kerja keras, optimisme, ketulusan, dan antusiasme: sebuah testimoni dan

refleksi Widiastuti Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Bali wiwiedwidiastuti@yahoo.fr

Saya selalu bertanya-tanya pada diri saya sendiri apa yang bisa saya berikan untuk negeri ini di usia saya yang sudah setengah abad ini??? Maka ketika Prof. dr. AA Muninjaya, MPH menghimbau saya untuk mendaftar di klas Inspirasi Indonesia maka saya mendapat salah satu jawabannya. I. Ide cerdas Ide Pak Anies Baswedan untuk meluncurkan Program Indonesia Mengajar benar-benar ide brilian. Saya membandingkan dengan para politikus, budayawan, ataupun cendekiawan yang lebih sibuk berdebat, mengkritisi bahkan mencaci maki pengelola negri ini namun tidak cukup cerdas untuk bekerja membantu mengeluarkan negri ini dari permasalahan yang mereka kritisi. Kelas Indonesia Menyala pada program ini bukan hanya memberikan akses bagi anak-anak negri yang terpencil dari pendidikan yang berkualitas, namun juga menghimpun generasi muda yang memiliki empati untuk membina tunas-tunas bangsa agar menjadi warga Negara yang kuat, cerdas, berkepribadian, dan bermartabat. Anak-anak muda yang terpilih dalam Kelas Indonesia Menyalapun bukanlah anak-anak muda sembarangan. Mereka merupakan keluaran dari sekolah-sekolah atau perguruan tinggi terbaik di negri ini yang rela menghabiskan waktunya selama setahun untuk membantu negri ini keluar dari sebagian permasalahan melalui pendidikan. Kepiawaian Prof. dr. AA Muninjaya, MPH untuk menangkap program ini dan mengembangkan dalam bentuk Kelas Inspirasi Bali juga merupakan keperdulian beliau akan pentingnya membina tunas-tunas Bangsa di desa yang tertinggal. Sebuah kolaborasi yang hebat antara pemikir dan inisiator lapangan. II. (Masih) Banyak orang baik di Indonesia Dalam Kelas Inspirasi Indonesia dijaring para profesional yang berminat memberikan inspirasi anak-anak agar mereka berani memiliki cita-cita. Ketika terpilih di kelas ini saya membayangkan yang akan menjadi partner saya adalah para professional senior yang mapan. Namun betapa kagumnya saya karena yang hadir adalah anak-anak muda yang rela cuti satu hari demi menginspirasi adik-adik mereka. Cuti sehari berarti gaji hari itu dipotong, belum lagi mereka harus ke Bali dengan biaya sendiri. Sampai di Balipun

mereka bukannya mendapat honor malah harus rela mengeluarkan biaya bersama untuk operasional kegiatan. Hebat!!!!!. Beberapa dari mereka tidak bisa hadir karena beberapa alasan yang bisa dimengerti. Saya berusaha merekrut penggantinya atau cadangan. Baik sebagai relawan maupun donator. Nana jadi tim kami sebagai sukarelawan fotografer dadakan. Begitu jadi anggota Nana segera menggunakan semua jejaring sosialnya untuk menghimpun donator untuk membantu adik-adiknya di desa. Dari tawaran yang kami sebarkan, banyak yang segera menyanggupi baik sebagai relawan cadangan maupun sebagai donator. Dalam waktu singkat terkumpul setidaknya dua kardus besar berisi buku, pensil, pensil warna, pulpen, dan alat tulis lainnya serta uang sekitar Rp. 6.520.000 yang kami gunakan untuk membeli Lap Top dan LCD untuk SDN 2 Kayubihi. Hebat!!!! Hal ini memberikan gambaran bagi saya betapa banyaknya orang baik di negri ini. Saya banyak belajar dari mereka yang jauh lebih muda dari saya bagaimana memaknai hidup ini. III. Optimisme, Kerja keras dan ketulusan Saat briefing tanggal 1 Juni 2013 di kelompok kami yang hadir hanya saya dan Ni Wayan Widayanti Arioka, anggota dari Bank Mandiri. Terselip pesimisme jangan-jangan kami hanya akan berdua sampai acara ini berakhir. Apalagi anggota kami berasal dari daerah lain: Jakarta, Malang. Itu alasan utama saya mencari cadangan. Namun kami berdua tetap semangat, pantang mundur dan meyakinkan diri untuk tetap melanjutkan acara ini sekalipun hanya berdua. Namun optimisme muncul melalui komunikasi yang kami jalin terutama melalui SMS. Optimisme semakin membesar ketika satu persatu anggota tiba di barak (rumah saya): Nancy dari Jakarta yang begitu ramah dan ramai dan segera menjadi akrab seperti keluarga kami, Yazid dari Malang yang kalem dan berwibawa, Novi dari Jakarta yang walaupun bukan dari tim kami ikut meramaikan barak kami. Satu anggota yaitu Sri Juwita Kusumawardhani dari Universitas Indonesia langsung menuju Bangli. Sedangkan Pak Rudolf tidak bisa ikut serta karena baru tiba dari Philipina dan ada kegiatan lain yang sangat mendesak namun tetap memberikan komitmen untuk berpartisipasi dari jauh. Pak Rudolf pada akhirnya digantikan anggota cadangan yaitu LetKol Firman AK. Saat Rebriefing sehari sebelum hari-H tim kami lengkap hadir minus Bu Juwita yang sudah di Bangli. Kami begadang membungkus kado untuk anak-anak di Bangli, sharing beli kue untuk mereka sambil merancang dan berbagi tugas memberi inspirasi untuk keesokan harinya. Sampai tengah malam kami selesaikan tugas kami dengan penuh canda, padahal besok pagi sekali kami harus pergi ke Bangli. Benar-benar semangat dan ketulusan anak-anak muda yang patut diapresiasi. IV. Antusiasme anak-anak Tepat pukul 06.50 kami tiba di SD Negeri 2 Kayubihi, Bangli setelah perjalanan sekitar 2 jam. Rasa lelah dan kantuk karena harus bangun jam 03 pagi segera hilang oleh sambuatan anak-anak yang begitu antusias menyambut kedatangan kami. Acara segera kami mulai dengan upacara pembukaan, penanaman pohon inspirasi dan dilanjutkan dengan acara utama: pengenalan profesi. Satu persatu secara bergantian kami berbaur dengan anak-anak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 untuk menginspirasi mereka. Membawa mereka ke mimpi masa depan melalui pengalaman kami untuk mencapai citacita kami. Cita-cita yang hanya bisa dicapai dengan kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan kejujuran. Saya begitu bersemangat melihat mata-mata kecil itu berbinar

mendengarkan bagaimana saya berjuang menjadi arsitek. Dengan dibantu oleh alat peraga berupa maket, gambar, dan foto dan diiringi lagu cita-citaku (Ria Enes dan Boneka Susan) saya berusaha menjelaskan apa pekerjaan seorang arsitek. Mereka begitu terpesona mendengarkan bagaimana seorang arsitek bermain dengan kecanggihan teknologi dan memadukannya dengan seni dan pengetahuan untuk menciptakan bangunan. Begitu semangatnya anak-anak mengikuti kegiatan ini sehingga acara terus diperpanjang sampai jam 13.00 dari yang seharusnya jam 12.00. Bahwa mengajar anakanak SD bukanlah pekerjaan yang mudah. Terutama anak-anak kelas 1 dan 2 yang bahasa Indonesiapun masih belajar. Betapa sulitnya jadi guru SD. Itu juga kami rasakan. Sulit karena menulis kertas kosong tersebut harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab karena akan dibawa sampai mereka dewasa. Namun antusiasme itu menunjukkan bahwa anak-anak kita sekalipun di desa punya semangat yang besar untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik dari orangtua mereka. Semangat para relawan juga membesarkan hati para guru dan memperkuat keyakinan bahwa mereka tidak sendirian membina anak-anak bangsa ini. Para relawan dan donatur siap mengulurkan tangan ketika dibutuhkan. V. Refleksi Bahwa program ini bukan hanya memberi inspirasi anak-anak SD namun juga menginspirasi para relawan, dirasakan oleh semua relawan. Bahwa mengajar di SD bukanlah pekerjaan yang mudah itu juga disimpulkan oleh semua relawan. Namun komitmen untuk bekerja sama membina anak-anak Indonesia yang cerdas, kuat, berkepribadian, dan bermartabat terus menggelora. Optimisme muncul karena (ternyata) di Indonesia ini masih banyak orang baik yang tidak hanya berdebat dan menghujat orang lain namun mau berpikir, berbuat, bekerja, dan memberi apapun sesuai yang dimiliki untuk saling membantu membesarkan bangsa ini tanpa melihat suku, agama dan ras. Tinggal kemauan untuk mengelola potensi ini yang perlu dipertahankan dan terus dikembangkan. Kemauan itulah yang perlu dipertahankan untuk menyusun kembali kelanjutan kegiatan ini. Apa lagi yang bisa kita perbuat untuk anak-anak kita selanjutnya??? Sebuah pertanyaan yang diajukan semua relawan ketika menutup acara ini. Indonesia memiliki memiliki semua potensi: orang cerdas dan mau bekerja seperti Pak Anies dan Prof Muninjaya, anak-anak muda yang rela dan tulus bekerja membantu merealisasikan ide mereka, para donator yang siap menyisihkan anggaran, anak-anak peserta didik yang penuh semangat belajar, dan guru-guru yang memiliki komitmen. Semua perlu dirumuskan untuk mengambil langkah bersama menuju kejayaan Indonesia. Salam Inspirasi!!! Indoneisa Bisa!!!!!