Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS POTENSI METABOLIT SEKUNDER DARI BAKTERI SEBAGAI BIOPESTISIDA HAMA ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia binotalis) I Putu

Raiwata Mertanjaya Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Undiksha Jalan Udayana Singaraja Bali Email: rai_dgen@rocketmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi metabolit sekunder dari bakteri sebagai biopestisida hama ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis). Bakteri penghasil metabolit sekunder tersebut diisolasi dari tanah pertanian kubis di Desa Pancasari, Buleleng. Metabolit sekunder dari bakteri diproduksi dengan metode Solid State Fermentation (SSF) dengan menggunakan jerami sebagai solid support. Optimalisasi produksi metabolit sekunder dilakukan dengan variasi massa jerami, kelembaban media, dan waktu fermentasi. Aktivitas biopestisida metabolit sekunder diamati dari mortalitas larva dan aktivitas antifeedant. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi merupakan Bacillus brevis. Waktu pertumbuhan Bacillus brevis hasil isolasi optimal pada 25 jam setelah inkubasi. Kondisi optimum untuk produksi metabolit sekunder adalah dengan menggunakan massa jerami 10 gram, kelembaban media 70%, dan waktu fermentasi 3 hari. Mortalitas larva tertinggi diperoleh sebesar 66,7% dan aktivitas antifeedant tertinggi diperoleh sebesar 37,09%. Kata-kata kunci: Bacillus brevis, biopestisida, Crocidolomia binotalis Abstract This study aims to produce secondary metabolites from bacteria as a biopesticide to Crocidolomia binotalis. The secondary metabolite-producing bacteria isolated from soil of cabbage farms in Pancasari Village, Buleleng. Secondary metabolites from bacteria produced by Solid State Fermentation (SSF) using rice straw as solid support. The production of secondary metabolites was optimized with mass variations, moisture level, and fermentation time. Biopesticide activities of secondary metabolites were observed from larval mortality and antifeedant activity. Identification results showed that the isolated bacterium is Bacillus brevis. The growth of the isolated Bacillus brevis was optimal at 25 hours after incubation. The optimum conditions to produce secondary metabolites were found by using a 10 gram of straw, moisture level 70%, and fermentation time of 3 days. The highest larval mortality obtained was 66.7% and the highest antifeedant activity obtained was 37.09%. Keywords: Bacillus brevis, biopesticide, Crocidolomia binotalis Pendahuluan Permintaan sayur mayur di Indonesia meningkat 5% per tahun antara tahun 1998 sampai 2010 (Wibisono, 2011). Kubis (Brassica oleracea) merupakan sayuran yang sangat populer di Indonesia dan biasa disebut dengan kol. Kubis segar mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium, vitamin (A, C, E, tiamin, riboflavin, nicotinamide) dan beta karoten. Selain itu, kubis juga mengandung senyawa sianohidroksibutena (CHB), sulforafan, dan iberin yang merangsang pembentukan glutation, suatu enzim yang

bekerja dengan cara menguraikan dan membuang zat- zat beracun yang beredar dalam tubuh (Dalimarta, 2001). Kubis sangat rentan terhadap serangan hama ulat daun (Plutella xylostella), ulat krop (Crocidolomia binotalis), ulat grayak (Spidoptera litura), dan ulat tanah (Agrotis ipsilon), yang dapat mengganggu pertumbuhan kubis (Yuan, 2012). Upaya yang telah dilakukan oleh petani untuk mencegah serangan hama maupun penyakit adalah menggunakan pestisida sintetis. Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis antara lain adalah keracunan, pencemaran lingkungan, matinya organisme yang menguntungkan misalnya musuh alami dari organisme pengganggu tanaman (OPT), terjadinya serangan hama sekunder, munculnya resistensi serangga hama, dan terjadinya resurgensi serangga hama (Novizan, 2005). Oleh karena itu, diperlukan pestisida yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi manusia. Biopestisida diperkenalkan sebagai alternatif dalam menangani hama yang lebih ekologis, murah, serta tidak memiliki dampak negatif seperti pestisida sintetis. Berdasarkan asalnya, biopestisida dapat dibedakan menjadi pestisida nabati dan pestisida hayati. Pestisida nabati merupakan hasil ekstraksi dari bagian tanaman yang memiliki senyawa hasil metabolit sekunder yang bersifat racun terhadap hama atau patogen penyebab penyakit. Pestisida hayati adalah formulasi yang mengandung mikroba tertentu (jamur, bakteri, virus, protozoa, nematoda) yang bersifat antagonis atau antibiosis terhadap patogen penyebab penyakit ataupun bersifat racun terhadap hama (Djunaedy, 2009). Menurut Eyhorn et al., (2002), pestisida nabati dapat digunakan karena mudah terurai (highly biodegradable) di alam, serta relatif aman bagi manusia dan lingkungan. Penelitian Wiyantono, et al., (2001) menunjukkan bahwa ekstrak biji Aglaia harmsiana mampu menghambat nafsu makan Crocidolomia binotalis sebesar 96,2%. Selain itu, hasil penelitian Makal dan Turang (2011) yang menunjukkan bahwa ekstrak batang serai dapat mengakibatkan kematian C. binotalis sebesar 95% dari total populasi serangga uji. Produksi biopestisida nabati secara massal memerlukan lahan dan sumber daya alam yang banyak. Selain itu, bahan tumbuhan yang telah diekstrak dengan pelarut harus

segera digunakan karena enzim pengurai dan mikroorganisme tertentu, yang dapat mendegradasi bahan aktif juga ikut terekstrak (Prijono, 2003). Oleh karena itu, penggunaan pestisida nabati dapat digantikan dengan menggunakan pestisida hayati, yaitu produk pestisida yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimanfaatkan untuk memproduksi biopestisida diantaranya bakteri, virus dan jamur (Schlegel, 1986). Bakteri dapat memproduksi senyawa metabolit sekunder yang memiliki fungsi sebagai biopestisida. Bakteri penghasil metabolit sekunder yang berpotensi sebagai biopestisida dapat ditemukan di tanah pertanian, serangga mati, daun kering dan feses binatang (Cetinkaya, 2002). Bacillus thuringiensis aktif mematikan sebagian besar serangga yang termasuk dalam kelas Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera (Jaquet et al., 1986). Penelitian Yasin (2004) yang mengkaji toksisitas suspensi Bacillus thuringiensis (Bt) terhadap hama ulat kubis Plutella xylostella, menemukan bahwa pemberian suspensi Bt dapat meningkatkan angka kematian (mortalitas) ulat kubis. Menurut Blibech et al., (2012) bakteri yang bersifat pathogen bagi hama Lepidoptera dan Coleoptera adalah Bacillus licheniformis, Paenibacillus polymyxa, and Bacillus brevis. Fermentasi perlu dilakukan untuk memproduksi metabolit sekunder yang bersifat toksik bagi hama. Proses fermentasi yang umum dilakukan pada bakteri adalah dengan metode SSF (Solid State Fermentation) dan SmF (Submerged Fermentation). Perbedaan dasar dari dua metode ini adalah media fermentasi yang digunakan dan kandungan air dalam media fermentasi tersebut. Metode SSF merupakan metode untuk memproduksi metabolit sekunder yang berlangsung pada media lembab dan memerlukan media support. Kandungan air untuk kulturisasi mikroorganisme secara SSF berkisar 4080% (Gervais et al., 1996). Keunggulan metode SSF adalah menghasilkan jumlah produk lebih banyak, harga produksi yang lebih murah dibandingkan dengan metode SmF (Kuberan et al., 2010). Jerami padi mempunyai kandungan serat kasar, protein kasar, lemak dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), masingmasing sebesar 26,63%; 4,26%; 1,56% dan

40,88% (Widodo, 2002). Jerami padi tersusun atas 31,42% hemiselulosa; 33,35% selulosa; 4,84% lignin; 4,25% silika dan 12,10% abu (Shen et al., 1998). Kandungan nutrisi jerami padi ini dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri untuk produksi metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bakteri dari tanah pertanian kubis sebagai penghasil metabolit sekunder serta menganalisis potensi biopestisidanya untuk menanggulangi hama ulat krop kubis. Aktivitas biopestisida yang dikaji adalah aktivitas penghambat makan (antifeedant) dan tingkat kematian (mortalitas) ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis) terhadap penggunaan metabolit sekunder. Metode Penelitian Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, spatula, neraca analitik, pemanas listrik, statif dan klem, autoklaf, cawan petri, pipet tetes, kawat ose, inkubator, Spektronik 20+, Sentrifuge, dan toples plastik. Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah media Nutrien Agar (pepton, beef extract, dan bacteriological agar), larutan NaCl 0,85%, alkohol 70%, kertas saring, aluminium foil, plastik, jerami, reagen Biuret, larutan BSA (Bovine Serum Albumin), reagen Folin-Ciocalteu dan larutan garam (KH2PO4, 4 g/L; (NH4)2SO4, 10 g/L; CaCl2, 0,5 g/L; dan MgSO4,0,5 g/L). Isolasi dan Identifikasi Bakteri Tanaman kubis yang terserang ulat diambil tanahnya sampai kedalaman 10 cm. Sampel tanah ditimbang sebanyak 0,5 gram kemudian ditempatkan ke dalam tabung ulir yang berisi larutan garam fisiologis (NaCl 0,96%) kemudian dikocok sehingga terbentuk suspensi. Suspensi ditumbuhkan pada media Nutrient agar (NA). Pembuatan NA dilakukan sesuai dengan metode yang direkomendasikan oleh Dulmage (1990). NA disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada temperatur 1210C selama 15 menit. NA yang sudah steril dituangkan ke dalam cawan petri dan didinginkan. Cawan petri diinkubasi dalam selama 2 hari. Koloni-koloni yang tumbuh kemudian dipisahkan berdasarkan pada bentuk dan warna koloni. Koloni sejenis ditumbuhkan kembali dalam media NA. Identifikasi koloni

yang tumbuh sampai dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Sanglah Denpasar-Bali. Bakteri hasil isolasi diidentifikasi dengan beberapa tahap, yaitu tes media agar menggunakan Mac Concey Agar dan Blood Agar, pewarnaan gram, tes manitol, dan tes suhu. Pembuatan Kurva Pertumbuhan Kurva pertumbuhan dibuat untuk menentukan waktu tumbuh optimal dari bakteri. Sebanyak 2 mL suspensi bakteri hasil isolasi diinokulasikan ke dalam 100 mL media cair. Pengukuran absorbansi dilakukan pada interval 1 jam menggunakan spektronik 20+ pada panjang gelombang 600 nm. Produksi Metabolit Sekunder Produksi senyawa metabolit sekunder dilakukan dengan metode Solid State Fermentation (SSF). Untuk mendapatkan hasil yang optimum, dilakukan variasi massa jerami, kelembaban media fermentasi, dan waktu inkubasi. Massa jerami yang dipakai adalah 5 gram; 7,5 gram; 10 gram; 12,5 gram; dan 15 gram. Kelembaban media fermentasi yang digunakan adalah 60%, 65%, 70%, 75%, dan 80%. Waktu inkubasi yang digunakan adalah 1 hari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, dan 5 hari. Ke dalam labu Erlenmeyer 250 mL dimasukkan 5 15 gram jerami, 5 mL larutan garam (KH2PO4, 4 g/L; (NH4)2SO4, 10 g/L; CaCl2, 0,5 g/L; dan MgSO4,0,5 g/L), kemudian ditambahkan aquades untuk mendapatkan kelembaban 60 80 % . Kelembaban media fermentasi dihitung metode yang dilakukan oleh Vastrad (2012).
Kelembaban (%) berat basah - berat kering x 100% berat kering

Media fermentasi disterilisasi pada suhu 1210C dalam autoklaf selama 15 menit kemudian didinginkan pada suhu kamar. Sebanyak 5 mL bakteri dimasukkan ke dalam media fermentasi dan diinkubasi selama 1-5 hari pada suhu kamar. Setelah fermentasi, 250 mL aquades ditambahkan ke dalam media fermentasi kemudian diaduk dan disentrifugasi pada 2000 rpm selama 30 menit. Filtrat yang diperoleh diuji menggunakan metode Lowry yang menggunakan larutan BSA (Bovine Serum Albumin) sebagai larutan standar. Pengukuran absorbansi dilakukan dengan spektronik 20+ pada panjang gelombang 775 nm.

Uji Mortalitas Ulat Krop Kubis Uji mortalitas ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis) dilakukan dengan memberikan kubis yang sudah direndam dalam metabolit sekunder dan kontrol (aquades). Metabolit sekunder yang digunakan divariasikan persentasenya (v/v) dengan menambahkan sejumlah aquades. Persentase yang digunakan adalah 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Sebanyak 10 gram kubis yang sudah direndam selama 30 menit dalam metabolit sekunder di masukkan ke dalam toples yang sudah berisi 5 ekor larva instar III Crocidolomia binotalis. Pengamatan dilakukan selama 3 hari dengan mencatat jumlah kematian yang terjadi setiap harinya. Perlakuan dilakukan dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Tingkat mortalitas ulat Crocidolomia binotalis dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut. A M x100% (Pattahudin, 2005)
B

Hasil Penelitian Isolasi dan Identifikasi Bakteri Identifikasi dilakukan dengan beberapa tahapan yakni tes media agar, pewarnaan gram, tes manitol, dan tes suhu. Hasil identifikasi dapat dilihat pada tabel 4.1 Tabel 1. Hasil Identifikasi Bakteri Isolasi No Parameter Keterangan Identifikasi 1 Tes Media Agar MCA BA 2 3 4 +

Pewarnaan Gram + Tes manitol + Tes Suhu 45oC + dengan media NA Dari hasil identifikasi, dapat dinyatakan bahwa bakteri hasil isolasi Bakteri tersebut teridentifikasi sebagai Bacillus brevis. Kurva Pertumbuhan Bakteri Kurva pertumbuhan bakteri dibuat dengan mengalurkan nilai absorbansi terhadap waktu (jam). Kurva pertumbuhan Bacillus brevis disajikan pada Grafik 1.

Keterangan: M merupakan tingkat mortalitas (kematian) ulat kubis Crocidolomia binotalis, A adalah jumlah ulat mati, dan B adalah jumlah awal ulat yang diuji. Uji Antifeedant Uji antifeedant dilakukan dengan menghitung jumlah pengurangan massa kubis pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Dalam toples pertama dimasukkan 10 g kubis kemudian toples ditutup dengan kain kasa sebagai kontrol penyusutan air dalam kubis. Dalam toples kedua (kelompok kontrol) dimasukkan 10 g kubis dan 5 ekor ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis) kemudian ditutup dengan kasa. Dalam toples ketiga (kelompok perlakuan) dimasukkan 10 g kubis yang sudah direndam selama 30 menit dalam metabolit sekunder pada kadar yang berbeda (20, 40, 60, 80 dan 100%) dan 5 ekor ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis) kemudian ditutup dengan kain kasa. Perlakuan dilakukan selama 3 hari. Persentase antifeedant dihitung dengan menggunakan rumus: CT (Enturk et al., 2004) %A x100%
CT

Grafik 1. Kurva Pertumbuhan Bacillus brevis Produksi Metabolit Sekunder dengan Metode SSF Produksi metabolit sekunder dilakukan dengan 3 variasi yaitu massa jerami, kelembaban medium fermentasi, dan waktu fermentasi. Tabel 2. Konsentrasi Metabolit Sekunder Variasi Massa Jerami No Massa Jerami Konsentrasi (gram) (g/mL) 1 5,0 525,0 2 7,5 725,0 3 10,0 791,5 4 12,5 691,5 5 15,0 625,0 Konsentrasi metabolit sekunder tertinggi diperoleh pada penggunaan jerami 10 gram.

Keterangan: C adalah massa kubis yang dimakan oleh kelompok kontrol, dan T adalah massa kubis yang dimakan oleh kelompok perlakuan.

Tabel 3. No 1 2 3 4 5

Konsentrasi Metabolit Sekunder Variasi Kelembaban Media Kelembaban Media Konsentrasi (g/mL) 60% 525,0 65% 541,5 70% 791,5 75% 625,0 80% 541,5 Konsentrasi metabolit sekunder tertinggi diperoleh pada kelembaban media 70%. Tabel 4. Konsentrasi Metabolit Sekunder Variasi Waktu Fermentasi No Waktu Konsentrasi Fermentasi (g/mL) 1 1 525,0 2 2 791,5 3 3 1041,5 4 4 908,3 5 5 791,5 Konsentrasi metabolit sekunder tertinggi diperoleh pada waktu fermentasi 3 hari. Uji Tingkat Kematian (Mortalitas) Ulat Krop Kubis (Crocidolomia binotalis) Hasil pengujian tingkat kematian (mortalitas) ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis) disajikan pada tabel 5. Tabel 5. Jumlah Kematian Ulat Krop Kubis (Crocidolomia binotalis) Konsentrasi Kematian Mortalitas No Metabolit Ulat rata(%) (%) rata 1 0 0 0,0 2 20 1,00 20,0 3 40 1,67 33,3 4 60 2,33 46,7 5 80 2,67 53,3 6 100 4,33 66,7 Mortalitas ulat tertinggi diperoleh pada penggunaan konsentrasi metabolit 100%. Uji Aktivitas Penghambat Makan (Antifeedant) Ulat Krop Kubis (Crocidolomia binotalis) Besarnya persentase antifeedant dari metabolit sekunder Bacillus brevis terhadap nafsu makan ulat krop kubis Crocidolomia binotalis disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6.

Aktivitas Antifeedant Metabolit Sekunder Terhadap Nafsu Makan Ulat Krop Kubis (Crocidolomia binotalis) Konsentrasi Metabolit C T %A (%) 20 2,526 g 1,789 g 17,06 40 2,526 g 1,709 g 19,29 2,526 g 1,582 g 22,98 60 80 2,526 g 1,469 g 26,72 2,526 g 100 1,179 g 37,09 Keterangan: C = Pengurangan massa control T = Pengurangan massa perlakuan A = Aktivitas antifeedant Aktivitas antifeedant tertinggi diperoleh pada penggunaan konsentrasi metabolit sekunder 100%. Pembahasan Bakteri hasil isolasi menunjukkan hasil positif untuk BA, pewarnaan gram, tes manitol, dan tes suhu (45oC). Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan maka bakteri hasil isolasi dinyatakan sebagai Bacillus brevis. Hasil identifikasi ini sesuai dengan hasil penelitian Ebrahimi & Abbas (2008), yang menyatakan Bacillus brevis merupakan bakteri gram positif dan bakteri bersifat aerob yang memberikan hasil positif pada tes manitol, dan tes suhu pada 20oC-75oC. Bacillus brevis merupakan salah bakteri bacillus yang dapat memproduksi metabolit sekunder gramicidin dan tyrocidin (Jamil et al., 2007). Fase adaptasi bakteri hasil isolasi berlangsung sampai 2 jam setelah inkubasi. Fase eksponensial dimulai dari 2 jam sampai jam 25 jam setelah inkubasi. Fase stasioner terjadi pada 25 jam sampai jam 38 jam setelah inkubasi. Fase kematian terjadi setelah 38 jam inkubasi. Fase kematian terjadi karena 3 faktor, yaitu ketersedian nutrien yang berkurang, akumulasi metabolit penghambat atau hasil akhir, dan ruang hidup yang semakin terbatas (Abedon, 2003). Fermentasi dilakukan dengan variasi massa jerami, kelembaban media dan waktu fermentasi untuk memperoleh metabolit sekunder yang optimal. Massa jerami yang paling optimal digunakan dalam proses fermentasi adalah 10 gram. Metabolit sekunder yang dihasilkan meningkat seiring kenaikan massa jerami yang digunakan, namun pada

massa yang lebih besar terjadi penurunan metabolit sekunder. Adanya penimbunan hasil metabolisme dapat menurunkan produktivitas dan menghambat produksi metabolit (Meyrial et al., 1991). Pernyataan ini dikuatkan oleh penelitian Prior et al., (1989) yang menyatakan bahwa selama fermentasi selain dihasilkan produk utama dan biomassa, juga terbentuk hasil sampingan berupa etanol dan asam asetat yang dapat menurunkan production yield. Pada SSF, kelembaban media adalah parameter kunci untuk mengontrol pertumbuhan mikroorganisme dan produksi metabolit (Pandey A., 1992). Material basah akan mempercepat pertumbuhan mikroba, namun pada media yang semakin basah akan mengganggu proses transfer oksigen. Bacillus brevis merupakan bakteri aerob yang memerlukan oksigen dalam proses metabolismenya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi metabolit sekunder optimal pada kelembaban 70%. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan pembentukan produk yang kurang optimal karena dapat mengurangi proses transfer oksigen, sedangkan tingkat kelembaban yang rendah akan menghambat pertumbuhan mikroba, aktivitas enzim dan rendahnya ketersediaan nutrisi ke dalam sistem fermentasi (Carrizales, 1981). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maurya, et al., (2012) yang menemukan kelembaban optimum untuk produksi selulase dari Trichoderma reesei sebesar 70%. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian Singh et al., (2010) yang menemukan kelembaban optimum untuk produksi lipase dari Bacillus subtilis sebesar 70%. Waktu fermentasi untuk menghasilkan produk yang optimal sangat bergantung pada jenis mikroba dan jenis produk yang dihasilkan. Pada penelitian ini, waktu fermentasi optimal yang diperoleh adalah 3 hari. Hasil ini berbeda dengan penelitian Vastrad (2012) yang menunjukkan produksi rifamycin dari Amycolaptosis Mediterranean optimal pada waktu fermentasi 10 hari. Penelitian Farzana et al., (2005) yang menemukan waktu optimal untuk produksi bacitracin dari Bacillus licheniformis adalah 2 hari. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Valicente, et al., (2010) yang melaporkan bahwa pembuatan biopestisida dari Bacillus thuringiensis optimal pada waktu

fermentasi 3 hari. Kematian ulat kubis Crocidolomia binotalis disebabkan oleh pengaruh penambahan metabolit sekunder. Metabolit sekunder akan merusak sistem pencernaan ulat. Metabolit sekunder akan berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut (perut bagian tengah) yang berfungsi sebagai pelindung dan menjalankan beberapa proses dalam tubuh seperti sekresi dan eksresi. Interaksi antara metabolit sekunder dengan sel-sel epithelium akan membentuk pori-pori pada saluran pencernaan ulat. Pori-pori ini mengganggu keseimbangan osmotik dalam tubuh ulat yang mengakibatkan sel menjadi bengkak dan pecah (Jaquet, et al., 1986). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 100% metabolit sekunder menghasilkan mortalitas sebesar 66,7%. Tingkat mortalitas pada penelitian hampir sama dengan penelitian Blibech et al., (2012) yaitu mortalitas metabolit sekunder Bacillus brevis terhadap Prays oleae mencapai 67,9%. Purnamasari (2006) melaporkan bahwa uji mortalitas Crocidolomia binotalis terhadap penggunaan metabolit sekunder protein Cry1B Bacillus thuringiensis pada konsentrasi 45 mg/L adalah sebesar 98%. Hasil penelitian Makal dan Turang (2011) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak batang serai 80gr/50 mL dapat digunakan untuk mengendalikan hama Crocidolomia binotalis karena dapat mengakibatkan kematian sebesar 95% dari total populasi serangga uji. Hal ini dapat berarti bahwa tingkat toksisitas metabolit sekunder Bacillus brevis lebih rendah dibandingkan dengan metabolit sekunder (protein Cry1B) dari Bacillus thuringiensis dan ekstrak batang serai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase antifeedant tertinggi (37,09%) diperoleh pada penggunaan metabolit sekunder 100%. Penghambatan nafsu makan ulat (antifeedant) terjadi karena ulat atau serangga dapat mendeteksi keberadaan senyawa asing di dalam makanannya (Dadang & Kanju, 2000). Menurut Isman et al., (1996) keberadaan antifeedant mencegah nafsu makan melalui aksi langsung pada peripheral sensilla (organ perasa) serangga. Antifeedant merupakan senyawa yang menekan makan melalui sistem saraf pusat (diikuti ingestion dan absorpsi). Persentase antifeedant yang diperoleh dari penelitian ini lebih rendah

dibandingkan persentase antifeedant dari Aglaia harmsiana yang dilaporkan oleh Wiyantono et al., (2001). Aglaia harmsiana dengan konsentrasi 0,135% (w/v) mampu menghambat nafsu makan Crocidolomia binotalis sebesar 96,2%. Rokaglamida yang merupakan komponen aktif dalam A. harmsiana yang menyebabkan penghambatan aktivitas makan dari Crocidolomia binotalis. Penutup Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Bakteri hasil isolasi dari tanah pertanian kubis adalah Bacillus brevis. 2. Kondisi media fermentasi untuk menghasilkan metabolit sekunder yang optimum adalah massa jerami 10 gram, kelembaban medium 70%, dan waktu fermentasi 3 hari. 3. Metabolit sekunder dari Bacillus brevis berpotensi sebagai biopestisida. Penggunaan metabolit sekuder 100% memberikan tingkat mortalitas sebesar 66,7% dan persentase antifeedant tertinggi sebesar 37,09%. Daftar Rujukan Abedon, S. T. 2003. Important Words and Concepts from Chapter 6, Black, 1999. Blibech, Imen., Mohieddine Ksantini, Ikbal Chaieb, Brahim Jlassi, Ali Rhouma, Samir Jaoua, dan Sami Aifa. 2011. Isolation of Entomopathogenic Bacillus from a Biodynamic Olive Farm and Their Pathogenicity to Lepidopteran and Coleopteran Insect Pests. Crop Protection 31 (2012) 7277. Elsevier Ltd. Carrizales V, Rodriguez H. 1981. Determination of Specific Growth Rate of Moulds in Semi Solid Cultures. Biotechnol. Bioeng. 1981; 23:321333. Centikaya, Fatos Tuba. 2002. Isolation of Bacillus Thuringiensis and Investigation of Its Crystal Protein Genes. Desertasi. Turkey : Intitute of Technology Izmir. Dadang dan Kanju Oshawa. 2000. Penghambatan Aktivitas Makan Larva Plutella xylostella (L.) (Lepidoptera: Yponomeutidae) yang

Diperlakukan Ekstrak Biji Swietenia mahogany JACQ (Meliaceae). Bulletin of Plant Pests and Diseases, Vol. 12 No. 1: 27-32l. Dalimarta, Setiawan. 2001. Atlas Tumbuhan Obat di Indonesia. Niaga Swadaya: Jakarta. Djunaedy, A. 2009. Biopestisida sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang Ramah Lingkungan. Jurnal Embryo vol.6 no.1:88-95. Dulmage, T., A.A. Yousten, S. Singer, dan L.A. Lacey. 1990. Guidelines for Production Bacillus thuringiensis H-14 and Bacillus sphaericus. Ebrahimi, Saloomeh dan Abbass Akhavan Sepahi. 2008. Exopolysacarid Production by Strain of Brevibacillus brevis: Potential Applications in the Treatment of Hydrocarbons Pollution and Use in Microbial Enhance Oil Recovery (MEOR). Makalah disajikan dalam 2nd WSEAS Int. Conf. on Management, Marketing, and Finances. Islamic Azad University, Iran. Enturk, Omer, Vedat Ekero Lu, dan Ahmet Koc Yavuz Kalkan. 2004. Antifeedant and Toxicity Effects of Some Plants Extracts on Yponomeuta malinellus Zell. (Lep: Yponomeutidae). Journal of Plant Protection Research, Vol. 44 No. 3. Eyhorn, F, M Heeb, G Weidmann. 2002. IFOAM training manual on organic agriculture in the tropics. International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM). Farzana, K., S. N. Hussain Shah, F. B. Butt, dan S. B. Awan. 2005. Biosynthesis of Bacitracin in Solid-State Fermentation by Bacillus licheniformis using Defatted Oil Seed Cakes as Substrate. Pakistan Journal of Pharmaceutical Sciences. Vol. 18, No.1, January 2005, pp.55-57 Gervais, P., P.A. Marechal, dan P. Molin. 1996. Water Relation of Solid State Fermentation. Journal of Scientific and Industrial Research. 55: 343-357. Isman, M.B., H. Matsuura, S. MacKinnon, T. Durst, G.H.N. Towers and J.T. Arnason, 1996. Phytochemistry of the

meliaceae: So many terpenoids, so


few insecticides. Recent Adv. Phytochem. 30: 155-178. Jamil, Bushra, Frank Hasan, A. Hameed, Safia Ahmed. 2007. Isolation of Bacillus subtilis MH-4 from Soil and Its Potential of Polipeptide Antibiotic Production. Journal of Pharm Science. Vol. 20, hal. 26-31. Jaquet, Francoise, R. Hutter, P. Luthy. 1986. Specificity of Bacillus thuringiensis Delta-Endotoxin. Applied and Environmental Microbiology. Mar. 1987. p. 500-504. Vol. 53, No. 3. Kuberan, T., S. Sangaralingam dan V. Thirumalai Arasu. 2010. Isolation dan Optimization of Protease Producing Bacteria from Halophilic Soil. Journal of Biosciences Research, Vol. 1 No. 3: 163-174. Makal, Henny V. G. dan Deflly A. S. Turang. Pemanfaatan Ekstrak Kasar Batang Serai untuk Pengendalian Larva Crocidolomia Binotalis zell. Pada Tanaman Kubis. 2011. Eugenia. Vol. 17 No 1. Maurya, P. Davendra, Dhananjay Singh, Durgesh Pratap dan Jitendra P. Maurya. 2012. Optimization of Solid State Fermentation Conditions for the Production of Cellulase by Trichoderma reesei. J. Environ. Biol. 33,5-8. Meyrial, V., Delgenes, J. P., Moletta, R., dan Navarro, J. M. 1991. Xylitol Production by Candida guilliermondii: Fermentation Behavior. Bio-technol. Lett. 13: 281286. Novizan. 2005. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Agro Media Pustaka. Jakarta. 1-12. Pandey A. Recent Developments in SolidState Fermentation. Process Biochem. 1992; 27:109116. Pattahudin. 2005. Uji Beberapa Konsentrasi dan Resistensi Beauveria bassiana vuillemin (Deteromicetes: Monoliccieae) terhadap Mortalitas Spodoptera exigua hubner (Lepidoptera : Noctuidea) pada Tanaman Bawang Merah. Makalah disajikan dalam Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PGJ dan PFJ XV. Universitas Hassanudin,

Sulawesi Selatan. Prijono, D. 2003. Teknik Ekstraksi, Uji Hayati, dan Aplikasi Senyawa Bioaktif Tumbuhan. Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Institut Petanian Bogor. 62 hlm. Prior, B.A., Killian S.G., dan Preez J.C. 1989. Fermentation of D-xyloseby the yeasts Candida shehatae and Pichia stipites. Proc Biochem 24: 2132 Purnamasari, Astri Wulan. 2006. Keefektifan CRY1B dan CRY1C Bacillus thuringiensis B. terhadap Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae) dan Crocidolomia pavonana F. (Lepidoptera: Pyralidae). Skripsi (tidak diterbitkan). Program Studi Hama dan Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor. Schlegel. 1986. Features of Biotechnological Importance in Microorganisms. Tersedia pada http://www.eplantscience.com Shen, H. S., D. B. Ni and F. Sundstl. 1998. Studies on untreated and urea-treated rice straw from three cultivation seasons: 1. Physical and chemical measurements in straw and straw fractions. Anim. Feed Sci. Technol. 73:243-261. Singh, Manoj, Kumar Saurav, Neha Srivastava dan Krishnan Kannabiran. 2010. Lipase Production by Bacillus subtilis OCR-4 in Solid State Fermentation Using Ground Nut Oil Cakes as Substrate. Journal of Biological Sciences 2(4): 241-245, 2010. Valicente, F. H., E. De Souza Tuelher, M. I. Santos Leite, F. Lyon Freire dan C. M. Vieira. 2010. Production of Bacillus thuringiensis Biopesticide Using Commercial Lab Medium and Agricultural By-products as Nutrient Sources. Revista Brasileira de Milho e Sorgo. v.9, n.1, p. 1-11 Vastrad, BM and SE Neelagund. 2012. Optimization of Process Parameters for Rifamycin B Production under Solid State Fermentation from Amycolatopsis mediterranean MTCC 14. International Journal of Current Pharmaceutical Research, Vol 4 No. 2.

Wibisono, Hariawan. 2011. Analisis Usaha Tani Kubis. Skripsi (tidak diterbitkan). Fakultas Ekonomi. Universitas Diponegoro Semarang. Widodo. 2002. Microbiology for Foods and Industry of Animal Products. Lacticia Press. Wiyantono, Djoko Prijono, dan Syafrida Manuwoto. 2001. Bioaktivitas Ekstrak Biji Aglaia harmsiana Terhadap Ulat Krop Kubis, Crocidolomia binotalis. J. II. Pert. Indon. Vol. 10(1)

Yasin, Nur dan Purnomo. 2004. Isolasi Bacillus thuringiensis dari Tanah Hutan Damar Lampung dan Uji Toksisitasnya terhadap Ulat Kubis (Plutella xylostella). Penelitian Dosen Muda. Fakultas Pertanian Universitas Lampung Yuan. 2012. Perlindungan Tanaman: OPT pada Tanaman. Tersedia pada: http://yuangaknekoneko.blogspot.com/ 2012/03/perlindungan-tanaman-optpada-tanaman.html