Anda di halaman 1dari 9

Family Folder dengan Penyakit Diabetes Melitus

Danty Danestria* (10.2009.143) *Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara nomor 6. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 11510 Telp 56942061, Faks 5631731 Email: danes_chuu@yahoo.com

Pendahuluan
Latar Belakang Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi dinas kesehatan kota dan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas juga merupakan fondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah informasi yang akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data yang dihasilkan perlu dicatat, dianalisis dan dibuat laporan. Data yang disajikan adalah informasi tentang pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan masyarakat. Informasi yang ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar menjadi pengetahuan bagi semua staf puskesmas. Tujuan Penulisan Tujuan saya membuat laporan kasus diabetes melitus karena pola makan yang tidak teratur dengan metode kedokteran keluarga ini adalah sebagai syarat untuk mengikuti ujian skills lab family folder blok 26 yaitu blok community medicine. Yang nantinya pada hari ujian saya akan mempresentasikan hasil laporan yang saya dapatkan setelah saya melakukan kunjungan ke rumah pasien yang mempunyai penyakit gastritis kronik dan hipertensi karena pola makan tidak teratur tesebut.
1

Masalah Masalah yang pasien saya hadapi dalam kasus ini adalah pasien menderita penyakit diabetes mellitus namun dalam masa pemulihan. Lingkungan disekitar rumahnya yang kurang memadai dapat memperburuk penyakitnya atau dapat juga terjangkit penyakit lainnya karena pencemaran sumber air, ventilasi dan penerangan yang kurang baik dengan posisi rumahnya yang dihapit rumah-rumah lainnya baik didepan maupun dibelakang. Dan juga tidak telihat tempat pembuangan sampah disekitar rumahnya.

Pembahasan Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas adalah semua data yang diperoleh dari pencatatan kegiatan harian progam yang dilakukan dalam gedung puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium, KB dan lain-lain. Pencatatan dan pelaporan ini menggunakan: family folder, kartu indek penyakit, buku register dan sensus harian. Berkas Keluarga (Family Folder/FF) merupakan kumpulan rekam medis dari masing-masing anggota keluarga, yang disimpan menurut nomor urut atau huruf pertama nama kepala keluarga (KK). Keterangan tentang data dasar keluarga (Data Base/ Family Profile), yaitu: 1. Data demografi setiap anggota keluarga 2. Riwayat kesehatan setiap anggota keluarga 3. Data biologis setiap anggota keluarga 4. Keterangan tentang tindakan pencegahan 5. Penyakit setiap anggota keluarga 6. Data tentang pelbagai faktor resiko setiap anggota keluarga 7. Data kesehatan lingkungan rumah 8. Struktur keluarga 9. Fungsi keluarga & pelaksanaannya

Metode Metode yang saya gunakan untuk mengumpulkan data ini adalah dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien dengan mendapat alamat dan data dasar dari Puskesmas Kelurahan Tomang. Pasien bernama Darmah, 63 tahun. Beliau hanya sebagai Ibu rumah tangga namun juga berjualan makanan kecil-kecilan untuk kebutuhan sehari-hari meskipun beliau hanyalah lulusan SMP. Alamat rumahnya dijalan Tomang tinggi XVIII RT 003/007 dengan nomer telepon 021-41241774. Selama saya mengumpulkan data dan berbincang dengannya pasien dapat dikatakan baik karena pasien dapat bercakap cakap dengan baik dan kesadaran serta daya ingatnya baik. Pasien tidak terlihat kesakitan, lemah dan kurang dapat berkomunikasi atau kesadarannya agak menurun. Kebersihan pasien dapat dikatakan baik karena yang terlihat dari hygiene rambut, tangan dan kaki tampak bersih. Gigi geligi dan pakaian yang digunakan pun tampak bersih. Penyakit yang sering diderita oleh pasien yaitu lemas, pusing, batuk, ngilu, dan saat berdiri tiba-tiba dari posisi duduk penglihatan kabur bahkan hitam. Pasien mengatakan ada penyakit keturunan Diabetes Melitus namun tidak ada penyakit kronis, menular ataupun yang menderita cacat fisik dan mental yang diperoleh sejak lahir seperti sumbing, sindrom Down, dan sindrom Turner. Pola makan pasien dapat dikatakan kurang baik karena harus berjualan makanan ringan seperti bihun dan gorengan seharinya pasien hanya makan yang ia jual. Makan nasi hanya sekali jika ada sisa dari hari kemarin. Dan juga pola istirahat pasien dikatakan sedang karena pasien setiap hari harus berjualan makanan sehingga membuat pasien sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk dimasak dan ditambah membersihkan rumah yang kotor baru setelah itu pasien dapat beristirahat. Di dalam rumah pasien ada 4 orang, yaitu Darmah (pasien) sebagai nenek, Endang Supratman (50 thn) sebagai menantu, Muhammad Rafly (6 thn) sebagai cucu pertama, dan Naya (4 thn) sebagai cucu kedua. Untuk menetukan suatu keputusan dalam keluarga yaitu suami sebagai kepala keluarga namun suami Ibu Darmah sudah meninggal sehingga membuat ia menjadi pengambil keputusan dalam keluarga.

Tidak ada ketergantungan obat pada pasien namun saat penyakitnya mulai menyerang ia baru meminum obat metformin 500mg untuk mengontrol penyakitnya yaitu diabetes melitus. Pasien mengaku, bila anggota keluarga ada yang sakit ringan maka beliau akan membawanya ke puskesmas dan klinik didekat rumahnya. Pola rekreasi keluarga pasien dapat dikatakan baik karena keluarga pasien rutin pulang kampung saat ada hari hari besar dan setiap minggunya pergi mengunjungi pasar malam ataupun sesekali mall Taman Anggrek. Cucu laki-lakinya pun antusias setiap kali saya menyebut mall kami tidak butuh waktu yang lama untuk saling bersenda gurau. Keadaan rumah dan lingkungannya cukup memprihatinkan dengan jenis bangunan semi permanent, lantai rumah sudah menggunakan keramik, luas rumah 10 x 7 m2. Karena rumah pasien tidak memiliki ventilasi yang cukup, dan letak rumahnya yang masuk ke gang kecil tidak memungkinkan mendapat penyinaran matahari yang cukup. Dan dirumah pasien pun penerangan lampunya kurang, sehingga tampak gelap. Kebersihan rumah pasien dapat digolongkan ke sedang karena rumah pasien yang sempit dan lingkungannya yang tidak mendukung untuk kesehatan rumah. Tidak memiliki halaman, dan rumah yang sempit ditinggali oleh 4 orang dalam 1 rumah. Tidak ada ventilasi untuk keluar masuk udara, sehingga rumah pasien terasa sumpak dan pengap. Dapur berada di depan pintu masuk dan tempat tidurnya berada disebelah dapur dibatasi dengan tembok. Kamar mandi dan toilet khusus untuk keluarga pasien berada diluar rumah karena satu daerah itu adalah sanak saudaranya sendiri jadi mereka memutuskan membuat kamar mandi untuk bersama berada ditengah-tengah rumah mereka. Sumber air minum mereka dari galon ataupun dari botol yg dijual di supermarket. Namun air untuk mandi dan yang lainnya bersumber dari tanah dengan menggunakan sumur jadi mungkin saja dapat terjadi pencemaran air. Rumah pasien tidak mempunyai saluran pembuangan limbah dan tidak terlihat tempat pembuangan sampah. Sanitasi lingkungan pasien dapat dikatakan kurang karena saat saya melakukan pengamatan ke rumah pasien saya melihat lingkungan depan rumah yang kotor, dan ada got kecil yang kotor di depan rumah.
4

Ketaatan beribadah baik karena keluarga pasien adalah seorang penganut agama Islam yang cukup taat beribadah dan beliau rutin mengaji di sore hari setiap harinya. Keyakinan tentang kesehatan sangat baik karena keluarga pasien datang ke puskesmas bila ada anggota keluarga yang sakit. Tingkat pendidikan beliau memang kurang karena hanya lulusan SMP namun beliau rajin ber silaturohim dengan tetangga-tetangganya dan beliau juga pernah mengajar mengaji dilingkungannya, tidak kenal lelah untuk selalu mengaji mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan anggota keluarga sangat baik karena keluarga pasien selalu makan bersama di rumahnya, dan hubungan antara keluarga juga harmonis dan tidak pernah bertengkar begitu juga hubungan dengan orang lain juga sangat baik. Keluarga pasien adalah sangat aktif dalam kegiatan social di lingkungannya, pasien sering mengikuti pengajian, gotong royong sesama tetangga, PKK, pengajian jika ada yang meninggal di lingkungannya. Meskipun keadaan ekonomi pasien dikatakan kurang namun dari hasil dari jualan makanan sehari-hari cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Walaupun sudah ditinggal suaminya dan anaknya yang juga meninggal, beliau tetap tegar menjalani hidup dengan mengurus cucu-cucunya. Beliau dan keluarganya asli asal Betawi karena itu satu saudara beliau yaitu keluarga kakak dan adiknya tinggal disatu daerah yang sama dengan jarak rumah yang saling berdekatan. Diagnosa Keluhan utama pasien yaitu sering lemas dan ketika sedang duduk lalu berdiri tibatiba penglihatannya menjadi butam dan bahkan hitam atau hilang sama sekali namun hal itu membaik setelah beberapa menit dan terjadi setiap hari namun berbeda-beda waktunya. Beliau juga mengeluhkan kakinya yang mengeras dan sakit karena penyakitnya, diabetes melitus. Keluhan lainnya seperti pusing, rasa ngilu, dan batuk juga dikeluhkannya. Beliau sebisa mungkin selalu menjaga kesehatannya dengan rutin berobat untuk memantau penyakitnya namun ia hanya bisa membeli satu jenis obat karena

penghasilannya yang pas-pasan untuk merawat cucu-cucunya. Dahulu beliau pernah menderita asma sewaktu ia masih kecil namun sekarang sudah sembuh.

Pemeriksaan fisik Tekanan darah 90 / 80, nadi 64 / menit, nafas 20 / menit. Dan terlihat jempol jari kakinya yang mengeras dan mulai menghitam.

Diagnosis keluarga Kesehatan keluarga pasien pada umumnya kurang karena cucu laki-lakinya mengalami gatal-gatal ditangannya atau bisa disebut dermatitis, namun sekarang sedang tahap pengobatan. Dan menantu beliau menderita hemorrhoid yang juga dalam masa pengobatan. Anjuran penatalaksanaan penyakit a. Promotif : Pembuatan ventilasi yang lebih banyak agar bisa terjadi pertukaran udara dan

masuknya sinar matahari. Menyarankan untuk mengkonsumsi buah dan sayur, dan jauhkan asupan garam,

lemak, dan makanan pencetus lainnya. b. Preventif : Memberikan penjelasan bagaimana cara penyebaran penyakit Diabetes Melitus Konsumsi makanan yang berkasiat untuk mengontrol penyakitnya dengan

menghindari makanan-makanan manis. c. Kuratif : Menjaga agar tidak luka pada kakinya.

Terapi

konvensional

dengan

obat-obatan

kimia,

diantaranya

golongan

sulfonilurea,

glinid (sebagai pemicusekresi insulin) dan golongan biguanid,

tiazolidindion (yang bekerja sebagaipenambah sensitivitas terhadap insulin).

d. Rehabilitatif : Edukasi (tentang penyakit, gejala penyakit, cara menangani dan cara pencegahan) Nutrisi dengan gizi yang lengkap terutama yang mengandung vitamin A. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kadar gula darah. Olah raga yang teratur (misalnya tiap 2 hari sekali).

Prognosis Penyakit : Prognosis penyakit diabetes mellitus baik jika pasien tetap mengkonsumsi obat yang dianjurkan dan menjaga kesehatan dan kebersihan dirinya. Keluarga : Prognosis penyakit dermatitis, hemorrhoid umumnya baik karena sedang dalam masa penyembuhan. Masyarakat : Untuk masyarakat, prognosisnya baik karena di lingkungan rumah pasien tidak ada yang mengidap penyakit menular.

Kesimpulan Peran dokter keluarga adalah mengutamakan pencegahan, dengan sasaran keluarga beserta segala aspeknya dan mengikuti perkembangan ilmu/teknologi Kedokteran terkini. Pada pasien ini ia menderita penyakit diabetes melitus sedang dalam

tahap penyembuhan namun tetap harus diperhatikan penyakit degeneratif lainnya yang bisa terjadi. Karena keyakinan atau kepercayaan tentang kesehatan pasien dan keluarganya baik sehingga kesehatan mereka akan lebih terjamin dengan adanya puskesmas dan Kartu Jokowi Sehat (KJS). Dengan adanya KJS ini masyarakat jadi lebih memperhatikan kesehatannya sehingga peran Puskesmas menjadi lebih aktif dari yang sebelumnya dalam memberikan penyuluhan dan menangani penyakit-penyakit di masyarakat.