P. 1
Refluks Laringo Faring

Refluks Laringo Faring

|Views: 44|Likes:
Dipublikasikan oleh Handi Tri Effendi

More info:

Published by: Handi Tri Effendi on Aug 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

Refluks Laringo Faring

• Penyakit refluks gastro esofagus (PRGE) terjadi apabila refluks ini menimbulkan gejala-gejala abnormal dan komplikasi pada esofagus. Manifestasi RGE di luar esofagus disebut sebagai refluks ekstra esofagus (REE) atau isitlah lainnya refluks laringo faring (RLF)

Sfingter Esofagus Bawah
• Mekanisme pertahanan utama untuk mencegah refluks dari isi lambung • Kontraksi dari sfingter ini akan menyebabkan tertutupnya esofagus dari lambung. • Relaksasi dari sfinter ini terjadi sewaktu proses menelan fase esofageal. • Relaksasi sfingter sementara (transient LES relaxation) juga dapat terjadi biasanya pada saat setelah makan. • Untuk mencegah refluks isi lambung, sfingter ini harus mempertahankan tekanan yang lebih tinggi dibanding dengan tekanan di lambung. • Keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan tekanan sfingter esofagus atas atau yang meningkatkan tekanan di intraabdomen akan menimbulkan terjadi refluks gastro esofagus (esofagitis, hernia hiatal, kehamilan, gastroparesis dan lain-lain)

• Jika terjadi gangguan dari fungsi sfingter ini makan isi refluks akan mencapai bagian diluar esofagus terutama faring dan laring.Sfingter esofagus atas • Merupakan mekanisme pertahan terakhir dari refluks isi lambung. • Hipotonia kronis sfingter esofagus atas pada pasien-pasien dengan kelainan pulmonal juga berhubungan dengan terjadinya REE. 1 . • Konsumsi alcohol menurukan tekanan di sfingter esofagus baik atas maupun bawah.

Reflusk Laringofaring • Epidemiologi – 10% penduduk Amerika merasakan gejala heartburn setiap hari dan 30%-50% memiliki heartburn – (GERD) merupakan penyebab tersering. – 10% sampai 50%  riwayat refluks gastroesofagus .

Manifestasi Klinis • Disfonia / Hoarseness . leher • Mukus pada tenggorokkan yang berlebih • Batuk kronis • Disfagia • Odinofagia • Obstruksi jalan nafas yang kronis atau episodik. • Berdeham (clearing throat) yang kronis • Vocal fatigue • Voice breaks • Nyeri di tenggorokkan. baik yang berlangsung secara episodic maupun kronis. • Sensasi globus. .

.

Tabel Perbedaan Manifestasi Klinis GERD dan Refluks Laringofaring .

Pemeriksaan Penunjang : • laringoskopi • endoskopi • barium esofagografi • prolonged Ambulatory pH monitoring • manometri esofagus .

Ventricular obliteration 80% pasien celah ventrikular tidak tampak lagi pada obliterasi komplit . 11.Laringoskopi 1. 6. Peningkatan jumlah dan ketebalan mukus disertai dengan pengumpulan mukus Ulserasi laring. Jaringan parut. 7. Granular mucositis”. 8. Pachydermia laryngeus. 3. 5. 4. 9. Granuloma. 10. Edema dan eritema pada laring posterior. 2. dan Stenosis Pseudosulkus.

.

.

.

perdarahan gastrointestinal menyingkirkan kelainan traktus gastrointerstinal atas. • Pasien yang tidak respon dengan terapi medik. • pasien yang mengalami gejala lebih dari 5 tahun untuk • menilai prognosis dan hasil terapi medik. . berat badan menurun. anemia. metaplasia Barrett dan komplikasi lain.Endoskopi Indikasi Endoskopi • • • • • Pasien dengan gejala tanda bahaya antara lain disfagia.

Esofagitis erosif digolongkan menurut Klasifikasi Savary Miller yaitu • Derajat I : esofagitis erosif dengan ulkus soliter non sirkumferensial • Derajat II : esofagitis erosif dengan ulkus multipel dan confluent (membaur) • Derajat III : esofagitis erosif dengan ulkus sirkumferensial dan membaur • Derajat IV : Barrett’s Esophagus2 .

• Barium esofagografi • Prolonged Ambulatory pH monitoring • Manometri esofagus .

• Menyembuhkan kerusakan mukosa. dan • Mencegah remisi gejala.Tatalaksana • Menghilangkan gejala. • Mengatasi komplikasi. Tatalaksana merupakankombinasi modifikasi gaya hidup dan diet. terapi farmakologis. dan terapi bedah anti-refluk .

kopi. teh.Modifikasi Gaya Hidup 1. bawang). hindari makanan yang mengiritasi esofagus dan lambung (jus citrus. alkohol. tidak makan 2 jam sebelum tidur . produk tomat. cola. Meninggikan kepala tempat tidur (6-8 inchi) 2. protein tinggi. Diet: rendah lemak.

800 mg 2x/hari (esofagitis erosif) • Ranitidine: 150 mg 2x/hari(penyakit simptomatik non erosif).Antacid .Medikamentosa . 150 mg 4x/hari(esofagitis erosif) • Famotidine: 20 mg 2x/hari (penyakit simptomatik non erosif).H2 bloker – Pada PGRE • Cimetidine 400 mg 2x/hari (penyakit simptomatik non erosif). 40 mg 2x/hari (esofagitis erosif) • Nizatidine: 150 mg 2x/hari (semua manifestasi penyakit refluks) .

• Proton Pump Inhibitor • Agen Promotilitas ( Metoclopramide ) .

Malnutrisi berat 3. Infeksi saluran nafas rekuren 4. Esofagus Barrett . Striktur esofagus yang gagal dengan terapi dilatasi 5. PRGE refrakter/persisten yang gagal dengan terapi medik 2.TERAPI BEDAH Indikasi terapi bedah anti-refluks: 1.

Mengatasi distensi lambung . Memperbaiki kompetensi kardia dengan menambah panjang dan tekanan SEB 2.Tujuan terapi bedah anti-refluks 1. Mengurangi diameter esofagus 3.

Komplikasi • • • • • Laringospasme paroksismal Stenosis laring Karsinoma laring Esofagus Barret Striktur Peptik .

TERIMAKASIH .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->