Anda di halaman 1dari 7

Lampiran A.

Mengembangkan Pertimbangan Untuk Yurisdiksi

Protokol

yang

disesuaikan:

Yurisdiksi yang memulai dari nol dalam mengembangkan protokol pemeriksaan, didorong untuk mempertimbangkan rekomendasi protokol nasional secara keseluruhan dan menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan lokal, tantangan, undang-undang, dan kebijakan mereka. Yurisdiksi yang memiliki protokol yang sudah ada dapat mempertimbangkan apakah salah satu rekomendasi protokol atay tugas-tugas di bawah ini bisa berfungsi untuk meningkatkan tanggapan langsung mereka terhadap kekerasan sesual atau menangani kesenjangan dalam layanan atau intervensi. Pembentukan tim perencanaan protokol. Setidaknya tim ini harus melibatkan responden yang terlihat dalam proses pemeriksaan, termasuk personil layanan kesehatan, perwakilan penegak hukum, advokat korban, jaksa, dan petugas laboratorium forensik. Organisasi yang melayani populasi tertentu di masyarakat juga harus terlibat pada level tertentu untuk memastikan protokol berbicara mengenai kebutuhan korban dengan berbagai latar belakang. Tim peserta harus memiliki wewenang untuk membuat keputusan kebijakan atas nama lembaga mereka. Mempertemukan tim seperti ini dapat menjadi sebuah tantangan, terutama di yurisdiksi dengan beberapa program advokasi korban kejahatan seksual, fasilitas pemeriksaan, lembaga penegak hukum, kantor-kantor kejaksaan, dan sistem pengadilan (atau di mana beberapa tingkat pemerintahan mungkin terlibat dalam investigasi dan penuntutan kekerasan seksual kasus). Meskipun perwakilan dari semua disiplin ilmu dan lembaga yang terlibat dianjurkan, namun pada titk tertentu tim yang dikumpulkan harus bergerak maju dengan upaya perencanaan. Cobalah untuk menjaga absen informasi dari aktivitas tim dan tawarkan mereka kesempatan untuk memberikan umpan balik pada pengembangan protokol dan revisi. Menilai Kebutuhan. 299 Sebelum memulai perubahan kebijakan, merupakan hal yang penting bahwa tim perencanaan menilai respon yurisdiksi saat itu terhadap kejahatan seksual, dengan fokus pada proses pemeriksaan. Beberapa aktivitas yang mungkin dapat membantu: Bandingkan data statistik kekerasan seksual dalam masyarakat seperti yang ditangkap oleh representatif instansi; Mengidentifikasi demografi masyarakat, termasuk berbagai populasi yang membentuk area; Ulas umpan balik yang ada dari korban tentang pengalaman dan kepuasan dengan respon langsung dari mereka; Mencari masukan dari para profesional yang terlibat dalam proses ujian pada kesenjangan saat ini, masalah, dan tantangan; Mengevaluasi kelayakan kebijakan yang berkaitan dengan setiap aspek dari respon langsung; Tinjau kerusakan sistemik yang terjadi pada respon langsung; Mengevaluasi kapasitas masing-masing disiplin ilmu untuk mendukung respon langsung yang terkoordinasi; Mengevaluasi efektivitas respon terhadap korban yang datang dari berbagai latar belakang atau dalam beberapa jenis kasus; Mengevaluasi kelengkapan pelatihan terkait dan material sumber daya, dan

Mengidentifikasi undang-undang yurisdiksi terkait dan kelayakan mereka dalam mendukung respon yang efektif.

mengevaluasi

Menyusun Rencana Aksi Tim perencanaan protokol dapat mengambil apa yang dipelajarinya melalui penilaian kebutuhan dan menerjemahkannya ke dalam rencana aksi untuk meningkatkan proses pemeriksaan dan menciptakan sebuah protokol. Rencana tersebut harus secara jelas mengidentifikasi apa yang perlu terjadi, siapa yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan atau melaksanakan setiap tindakan, sumber daya yang memungkinkan, 300 hasil yang diinginkan, dan bagaimana efektivitas tindakan akan dievaluasi. Rencana tersebut dapat ditinjau kembali secara berkala untuk menilai kemajuan dan mengevaluasi hasil. Membuat Sebuah Protokol. Untuk memajukan proses pengembangan protokol yang efektif, pertimbangkan hal berikut:301 Siapa yang harus memimpin upaya untuk menciptakan dan menerapkan protokol? Proses apa yang akan digunakan untuk memfasilitasi pengambilan keputusan pada pengembangan protokol atau revisinya? Proses apa yang akan digunakan untuk memfasilitasi penerapan protokol oleh lembaga atau masyarakat? Bagaimana pemenuhan protokol dipantau, dan mekanisme apa yang akan diterapkan untuk memecahkan masalah yang muncul? Tim perencanaan harus meninjau ulang protokol nasional untuk menentukan apa yang ingin cakup dalam protokol yang dibentuk dan kelayakan rekomendasi nasional untuk yurisdiksi. Hal ini harus mempertimbangkan undang-undang apa dan kebijakan yurisdiksi apa yang perlu dibahas dan bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan masyarakat tertentu. Setelah konsep telah dikembangkan, konsep tersebut harus dibuat tersedia untuk profesional yang bersangkutan, lembaga, kelompok korban, dan organisasi yang melayani populasi tertentu di yurisdiksi. Umpan balik mereka harus diminta dan kemudian dimasukkan ke dalam konsep sebisa mungkin. Setelah protokol final dibuat, tim harus mempertimbangkan uji coba dan revisi berdasarkan umpan balik dari tes. Kemudian protokol harus dilaksanakan sesuai rekomendasi dari anggota tim dan orang lain yang darinya masukan dicari. Distribusi Protokol. Tim perencanaan harus menentukan metode yang paling efesien agar protokol didapat oleh semua profesional dalam yurisdiksi yang terlibat dalam respon langsung terhadap kekerasan seksual. Tim perencanaan membutuhkan daftar kontak para profesional tersebut yang paling baru dan menyetujui rencana distribusi yang spesifik (misalnya, mengirimkan atau membagikan salinan cetak dan/atau menyediakan akses ke protokol melalui internet). Jika internet digunakan untuk mendistribusikan dokumen, pastikan bahwa para profesional yang tidak memiliki akses internet mendapatkan salinan cetak. Membangun Kapasitas Lembaga Untuk Mengimplementasikan Protokol. 302 Efektivitas sebuah protokol tergantung pada sumber daya memadai yang dimiliki masing-masing lembaga (misalnya, dana, personel, kapasitas multi-bahasa, peralatan, supervisi, pelatihan, kesempatan pengembangan profesional, dan kemitraan masyarakat) untuk melaksanakan tanggung jawab mereka dan upaya koordinasi

dengan responden yang terlibat lainnya. Agen dapat membantu satu sama lain dalam membangun kapasitas individu dan kolektif untuk menanggapi kekerasan seksual dan berpartisipasi dalam intervensi yang terkoordinasi. Misalnya, bersama-sama mereka dapat mencari peluang untuk bantuan teknis, pelatihan, dan hibah, serta biaya berbagi, persinol, peralatan, keahlian, dan informasi. Juga, setiap yurisdiksi kemungkinan besar akan menghadapi hambatan dan kesulitan dalam implementasi protokol. Dalam mengatasi masalah tersebut membutuhkan kemauan pada bagian dari instansi terkait unutk memahami kebutuhan unik dari para korban dalam komunitas mereka dan berpikir "di luar kotak" untuk mengidentifikasi solusi. Untuk membantu pelaksanaan, pertimbangkan untuk meminta lembaga penjawab untuk melengkapi protokol dengan perjanjian antar atau memorandum kesepakatan. Gunakan protokol sebagai dasar, perjanjian tersebut dapat menguraikan peran dan mengartikulasikan bagaimana responden harus bekerja sama untuk mengkoordinasi respon. Dokumen-dokumen ini harus dikembangkan bersama, disepakati, dan ditandatangai oleh para lembaga pembuat kebijakan. Mereka dapat direvisi dan ditandatangani secara periodik untuk memastikan semua profesional yang terlibat dalam respon, menyadari perubahan protokol dan untuk menegaskan kembali komitmen mereka untuk melaksanakan perjanjian. Mempromosikan pelatihan. Pelatihan badan-spesifik dan multidisipliner merupakan komponen penting dari implementasi protokol. Responden yang terlibat harus diberitahu adanya setiap perubahan pada bagaimana mereka melaksanakan tanggung jawab lembanga spesifik selama proses pemeriksaan dan memahami mengapa perubahan ini diperlukan. Jika mereka diminta untuk mengkoordinasikan upaya mereka secara formal dengan lembaga lain, mereka harus memahami peran mereka dalam koordinasi, manfaat dari respon kolaboratif, tantangan yang memerlukan usaha, dan cara mengatasi tantangan.

Mengatur sistem evaluasi. Tim perencanaan harus meluangkan waktu untuk mempertimbangkan bagaimana cara yang paling baik dalam mengkompilasi data yang berkaitan dengan proses pemeriksaan (sambil menjaga anonimitas korban) dan bagaimana menggunakannya untuk mengevaluasi efektivitas respon dan melakukan perbaikan terhadap protokol yang diperlukan.

Revisi Protokol Berkala. Revisi mungkin didasarkan pada umpan balik dari responden dan korban, rekomendasi, evaluasi, perubahan dalam hukum, identifikasi tren baru kejahatan dan upaya pencegahan, teknologi, penelitian, dan identifikasi praktekpraktek baru yang menjanjikan. Tim perencanaan harus terus melacak protokol mana yang perlu diperbaiki dan bertemu secara berkala untuk membahas isu-isu terkait seperti bahasa yang akan digunakan, cara mengatasi kontroversi, dan akhirnya untuk membuat perubahan yang diperlukan. 129

Lampiran B. Mencipatakan Tim Respon Kekerasan Seksual


Buat SART untuk memfasilitasi koordinasi antar disiplin yang terlibat.303 Setelah mengidentifikasi anggota dan mendefinisikan peran, anggota dapat merencanakan bagaimana untuk mengoperasikan tim mereka untuk melayani kebutuhan masyarakat. Tentukan bagaimana mengaktifkan SART. Prosedur Aktivasi harus memperhitungkan bahwa korban memasuki "sistem" pada titik-titik yang berbeda (misalnya, melalui panggilan ke 911 atau hotline advokasi 24 jam, datang ke fasilitas layanan kesehatan, atau mengungkapkan ke komunitas profesional). SART harus menentukan bagaimana untuk mempublikasikan pelayanan kepada masyarakat profesional yang mungkin sering berhubungan dengan individu yang mengungkapkan kekerasan seksual. Para profesional mungkin termasuk, namun tidak terbatas pada, dokter pribadi, staf klinik kesehatan, kesehatan mental dan staf program pelayanan sosial, personel yang melayani penyandang disabilitas, staf program pengobatan penyalahgunaan zat, personil sekolah, personil dari masyarakat berbasis agama, staf koreksi dan Staf percobaan, dan staf dari program perumahan dan tempat penampungan darurat. Hal ini dan pelayanannya harus dipublikasikan lebih luas kepada publik, menjelaskan dinamika kekerasan seksual, dan mendorong korban untuk mencari bantuan. Merencanakan respon SART untuk berbagai situasi yang dihadapi korban. Tim harus mempertimbangkan dan merencanakan modifikasi terhadap proses pemeriksaan untuk memenuhi kebutuhan spesifik dan hal yang merupakan keprihatinan korban. Misalnya, dalam rangka menanggapi korban non-berbahasa Inggris, anggota tim harus mampu berbicara bahasa mereka atau segera mengatur personil interpretasi yang bersertifikat. Karena korban dianggap memiliki cacat kognitif, anggota tim harus tahu siapa yang harus dihubungi untuk mendapatkan bantuan dan memastikan mereka menerima akses yang sama untuk layanan yang korban lainnya akan diperoleh. Beberapa korban dapat meminta pendukung dan responden lain dari jenis kelamin tertentu atau dari budaya tertentu. Prosedur harus di tempat untuk memastikan respon terhadap anak di bawah umur mengikuti ketetapan yurisdiksi. SARTs harus siap untuk menangani masalah koordinasi multi-yurisdiksi yang mungkin muncul ketika serangan terjadi pada lokasi militer atau prajurit di lapangan, kampus sekolah, tanah suku, penjara, dan program residensial. Dengan melibatkan instansi terkait sesegera mungkin sesuai dengan prosedur yang telah disepakati dapat membantu dengan cepat menentukan siapa yang memiliki yurisdiksi atas kasus dan bagaimana membantu masing-masing korban sebaik-baiknya.

Bertemu secara teratur. Di luar respon langsung, SART harus bertemu seacara regular304 untuk dua tujuan yang berbeda. Yang pertama adalah untuk meninjau respon langsung dalam kasus-kasus individu dalam rangka meningkatkan kinerja tim secara keseluruhan. Evaluasi tersebut memungkinkan anggota tim memiliki kesempatan untuk saling memberikan masukan tim lain terhadap efektivitas respon selama proses pemeriksaan, masalah yang membutuhkan penyelesaian, dan daerah yang membutuhkan perbaikan. Kasus biasanya diulas secara anonim, 305 tanpa menggunakan nama korban atau lainnya yang mengidentifikasi informasi.306 Selama diskusi ini, adalah penting bahwa tim menghormati kerahasiaan informasi catatan medis pasien dan berbagi dengan pendukung berbasis masyarakat. Kedua, SART

dapat memanfaatkan pertemuan anggota untuk menjaga dan meningkatkan kualitas SART tersebut. Tugas ini melibatkan penanganan masalah sistem, seperti membuat dan merevisi kebijakan dan prosedur dalam menanggapi perubahan lokal dalam pemerintahan atau lembaga berbasis masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan umpan balik dari para korban. Hal ini juga melibatkan saling berbagi informasi umum yang berkaitan dengan SART dan memfasilitasi pendidikan berkelanjutan dari tim. Meskipun terlihat sulit untuk melibatkan semua responden bersangkutan dalam pertemuan SART (misalnya, laboratorium kejahatan memiliki jarak yang cukup jauh dari sumber daya masyarakat dan kurangnya akal menjawab pertanyaan lokal), pertimbangkan pilihan seperti telekonferensi untuk memasukkan perspektif mereka. Anjurkan pemberian pendidikan bagi anggota SART pada respon yang terkoordinasi selama proses pemeriksaan. Sebagai contoh: Disiplin-pelatihan khusus yang memajukan keahlian dalam keterampilan responden dan menekankan pendekatan tim yang adalah sangat penting. Sesi pelatihan Multidisiplin dapat menjelaskan proses SART, menekankan perlunya pemeriksaan cepat, menjelaskan peran dan tantangan masing-masing disiplin, menekankan pendekatan yang berpusat pada korban, dan membuat jelas dimana koordinasi antar disiplin ilmu yang dibutuhkan dan bagaimana hal itu harus terjadi. Mereka dapat menggambarkan kebijakan multidisipliner, perjanjian antar lembaga, standarisasi form, dan material terkait lainnya. Pelatihan Multidisiplin juga dapat membangun pemahaman anggota akan 'kebutuhan, nilai / keyakinan, dan praktek dari populasi tertentu dalam komunitas mereka. Mereka dapat meningkatkan kesadaran tentang bagaimana populasi yang berbeda menanggapi pengungkapan kekerasan seksual dan bekerja untuk membangun kapasitas yang melibatkan profesional harus peka terhadap kebutuhan korban dari populasi tersebut. Sesi Cross-training yang berguna untuk memungkinkan responden dari satu disiplin untuk mendidik orang-orang dari disiplin lain tentang spesifikiasi bagaimana mereka campur tangan dalam kasus ini dan menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Sebagai contoh, peneliti penegak hukum dapat mendidik penguji dan pendukung tentang apa yang terlibat dalam penyelidikan secara menyeluruh, menekankan bahwa ujian forensik korban hanyalah salah satu bagian dari penyelidikan. Dalam yurisdiksi yang membatasi negara India, Jaksa Federal dapat mendidik responden lain mengenai hukum federal India dan bagaimana itu berlaku untuk kasus kekerasan seksual. Pelatihan Multidisiplin dan cross-trainings dapat menyediakan sebuah forum untuk staf dari lembaga yang berbeda untuk mengenal dan menghormati satu sama lain, membangun tujuan bersama, dan meningkatkan kenyamanan mereka dalam bekerja sama. Kolaborasi antara lembaga dan individu dapat memberikan responden dengan dukungan jaringan yang lebih luas karena mereka melakukan pekerjaan ini. Pelatihan ini juga dapat menekankan kesulitan bekerja pada kasus kekerasan seksual dan trauma sekunder yang responden dapat alami. Mereka dapat memfasilitasi diskusi di antara para responden tentang perawatan diri dan mencegah atau mengatasi trauma sekunder, sehingga mereka selanjutnya dapat memberikan intervensi yang optimal dan bantuan kepada korban.

Terdapat peluang pendidikan informal dan alat-alat yang dapat mendorong koordinasi antara anggota SART. Sebagai contoh, semua responden kunci, terutama mereka yang baru terlibat dalam kasus kekerasan seksual, mungkin berguna untuk lokasi wisata dan kantor yang terlibat dalam respon SART. Wisata dan diskusi dengan staf kantor/lokasi tersebut dapat membantu membangun pengetahuan tentang respon apa yang masing-masing disiplin perlukan dan logistik respon itu. Berbagi materi pendidikan terkait dan literatur adalah cara mudah untuk terus memperluas dasar-dasar pengetahuan umum di antara anggota SART. Alat seperti flow chart dan daftar disiplin khusus yang membantu anggota SART memahami kontinum respon dan secara tepat mengkoordinasi intervensi mereka mungkin juga berguna.

Pelatih. Selain melibatkan perwakilan dari perawatan kesehatan, advokasi, penegakan hukum, penuntut, pengadilan, dan kejahatan dan laboratorium toksikologi sebagai pelatih SART, termasuk pengacara untuk mendidik peserta pada taktik pertahanan. Manfaatkan lembaga lokal dan pemimpin yang melayani populasi tertentu untuk mendidik SART pada kebutuhan penduduk dan layanan yang mereka tawarkan relevan terhadap korban kekerasan seksual. Menjangkau ke pedesaan, terpencil, dan masyarakat miskin. Mungkin sulit untuk pedesaan, masyarakat terpencil, dan masyarakat miskin untuk menawarkan pelatihan untuk anggota SART, karena kurangnya sumber daya dan / atau keahlian. Negara, Wilayah, dan suku-suku mungkin dapat mempertimbangkan unutk membentuk tim khusus yang dapat menawarkan pelatihan multidisipliner yang konsisten dengan praktik mutakhir di semua yurisdiksi mereka. Tim-tim ini dapat bekerja dengan responden lokal untuk memastikan bahwa sesi pelatihan yang mereka tawarkan dapat menangani kebutuhan komunitas yang unik dan penuh tantangan. 299 Bagian ini diambil dari K. Littel, M. Malefyt, and A. Walker, Promising Practices: Improving the Criminal Justice Systems Response to Violence Against Women, 1998, p. 240 and 246, and American College of Emergency Physicians Evaluation and Management of the Sexually Assaulted or Sexually Abused Patient, 1999, p. 21. 300 Pendanaan dibawah STOP kekerasan terhadap wanita program hibah formula dan STOP kekerasan terhadap wanita suku indian program hibah diskresioner dapat digunakan untuk menutupi biaya yang berkaitan dengan pengembangan dan implementasi protokol. Untuk informasi lebih lanjut, lihat www.ojp.usdoj.gov/vawo. 301 Bagian dengan tanda bullet diambil dari K. Littel, M. Malefyt, and A. Walker, Promising Practices: Improving the Criminal Justice Systems Response to Violence Against Women, 1998, p. 242. 302 Bagian ini diambil dari K. Littel, M. Malefyt, and A. Walker, Promising Practices: Improving the Criminal Justice Systems Response to Violence_Against Women, 1998, p. 241 303 Sebuah diskusi yang lebih dalam dari pengembangan dan pemeliharaan SART daripada yang disediakan adalah di luar cakupan dokumen ini. Namun sumber daya ada dibahas dalam topik ini. Seperti contoh, banyak yurisdiksi telah menerbitkan buku panduan mengenai penyelenggaraan SART dan/atau protokol respon SART. Beberapa koalisi kekerasan seksual menawarkan informasi, bantuan teknis, dan pelatihan bagi masyarakat yang tertarik untuk memulai SARTs. Sejak tahun 2001,

sebuah konferensi pelatihan SART nasional telah diadakan dua kali setahun (lihat www.sane-sart.com untuk informasi). 304 "Teratur" adalah definisi secara lokal. Beberapa tim bertemu setiap bulan, sementara yang lain setiap 6 minggu atau per kuartal. Tim mungkin bertemu secara teratur untuk mengulas kasus dan berkumpul lebih jarang membicarakan masalah yang lebih sistemik. 305 Di California, ada hukum untuk melindungi diskusi kasus-kasus individual selama pertemuan SART. Diskusi ini secara teknis dicirikan sebagai kegiatan jaminan kualitas medis. 306 Ulasan kasus biasanya hanya menyertakan anggota SART yang biasanya terlibat dalam respon langsung. Tapi, bahkan jika semua atau sebagian anggota SART yang terlibat dalam kasus tertentu dan sadar akan identitas korban, tetap tidak ada alasan untuk mengungkapkan identitas korban saat tinjauan kasus SART. SARTs mungkin memilih untuk tidak mengambil catatan tentang kasus yang dikaji untuk memastikan bahwa informasi kasus terkait tidak dibagi dengan siapa pun di luar pertemuan. Dalam situasi di mana identitas korban akan dengan mudah disimpulkan selama kasus oleh anggota yang tidak terlibat dalam respon (misalnya, jika hanya ada satu kasus yang ditangani selama periode waktu yang terakhir), komentar harus dijaga seluas mungkin dan menghindari kasus spesifik. Dalam masyarakat di mana penduduk cenderung saling mengenal dan berita tentang kejahatan perjalanan cepat, merupakan tantangan agar tidak mengungkapkan korban mengidentifikasi selama tinjauan kasus SART tanpa sengaja. SARTs di yurisdiksi tersebut harus mempertimbangkan bagaimana cara pendekatan terbaik untuk mengulas kasus sedemikian rupa sehingga dapat meminimalisir kemungkinan pengungkapan identifikasi korban.