Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PJBL 1 BLOK RESPIRATORY Asthma

Oleh Kelompok 3/ IK Reg 1: Hery Eni Suryani Arfianita Ramadhani Dwi Handayani Sundoro Ade Rumondang Megawati H Eka Fitri Cahyani Hartono Ni Wayan Asmanira Yustika Atika Dyah Setiyaningati Fitri Octavia Hadi Putri Frita Ferdina 115070200111013 115070200111015 115070200111017 115070201111003 115070201111001 115070200111055 115070201111011 115070201111013 115070201111015 115070200111031

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 2013

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan berbagai sel imun terutama sel mast, eosinofil, limposit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel, serta meningkatnya respon saluran napas (hipereaktivitas bronkus) terhadap berbagai stimulant. Inflamasi kronik ini akan menyebabkan penyempitan (obstruksi) saluran napas yang reversible, membaik secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Gejala yang timbul dapat berupa batuk, sesak nafas dan mengi. Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan mengganggu aktivitas bahkan kegiatan harian sehigga menurunkan kualitas hidup, salah satu faktor pencetus serangan asma adalah kondisi psikologis klien yang tidak stabil termasuk di dalamnya cemas. Hal ini sering diabaikan oleh klien sehingga frekuensi kekambuhan menjadi lebih sering dan klien jatuh pada keadaan yang lebih buruk, kondisi ini merupakan suatu rantai yang sulit ditentukan mana yang menjadi penyebab dan mana yang merupakan akibat. Badan kesehatan sedunia (WHO) memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma. Bahkan, jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun. Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tapi juga di negara maju sekalipun. Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi penderita asma di Indonesia adalah sekitar 4%. Berdasarkan laporan Heru Sundaru (Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM), prevalensi asma di Bandung (5,2%), Semarang (5,5%), Denpasar (4,3%) dan Jakarta (7,5%). Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi penyakit Asma tertinggi di Indonesia adalah Aceh Barat (13,6%), Buol (13,5%), Pohuwato (13,0%), Sumba Barat (11,5%), Boalemo (11,0%), Sorong Selatan (10,6%), Kaimana (10,5%), Tana Toraja (9,5%), Banjar (9,2%), dan Manggarai (9,2%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0,2%), Langkat (0,5%), Lampung Tengah (),5%), Tapanuli Selatan (0,6%), Lampung Utara (0,6%), Kediri (0,6%), Soppeng (0,6%), Karo (0,7%), Serdang Bedagai (0,7%), dan Kota Binjai (0,7%). Berdasarkan tingginya prevalensi asma di Indonesia, maka makalah ini dibuat untuk menambah pengetahuan mahasiswa dan masyarakat tentang penyakit asma.

2. Batasan Topik a. Definisi b. Etiologi c. Faktor Resiko d. Epidemiologi e. Patofisiologi f. Tanda dan Gejala g. Pemeriksaan Diagnostik h. Penatalaksanaan i. Pencegahan j. Komplikasi

BAB II PEMBAHASAN 1. Definisi Asma adalah serangan dispnea proksimal berulang disertai mengi akibat kontraksi spasmodic bronki. Keadaan ini biasanya disebabkan manifestasi alergi atau sekunder akibat kondisi kronik atau berulang. Asma adalah Gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan nafas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak). Asma adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai inflamasi saluran nafas dan spasme akut otot polos bronkiolus. dan penurunan ventilasi alveolus. 2. Etiologi Faktor-faktor penyebab dan pemicu penyakit asma antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain. Penyakit ini merupakan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua, kakek atau nenek anak menderita penyakit asma maka bisa diturunkan ke anak. Penyebab penyakit asma belum jelas. Diduga, ada beberapa faktor pencetus yaitu: a. Faktor Ekstrinsik - Reaksi antigen antibodi dan alergen (debu, serbuk serbuk, bulu bulu binatang) - Infeksi (virus influenza, pnemonia, respiratory syncytial virus (RSV), mycoplasma) - Bakteri (pertusis dan streptokokkus) - Jamur (aspergillus) - Iritan : kimia, polusi udara (CO, asap rokok, minyak wangi, bau-bauan merangsang, household spray, polutan) - Cuaca (erubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban) - Bahan-bahan di dalam ruangan : (tungau debu rumah, binatang, kecoa) - Bahan-bahan di luar ruangan (tepung, sari bunga) - Makanan-makanan tertentu, bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan - Obat-obatan tertentu Kondisi ini menyebabkan produksi mucus yang berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara,

- Polusi udara dari luar dan dalam ruangan - Exercise induced asthma (mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu) b. Faktor Intrinsik - Emosional (rasa takut, cemas dan tegang serta aktivitas yang berlebihan) - Kemungkinan alergi (Suriadi, 2006). Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronchial yaitu: a. Faktor Predisposisi 1. Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor Presipitasi 1. Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : - Inhalan (masuk melalui saluran pernapasan) Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi - Ingestan (masuk melalui mulut) Contoh : makanan dan obat-obatan - Kontaktan (masuk melalui kontak dengan kulit) Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan 2. Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. 3. Stress

Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. 4. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. 5. Olah raga / aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. 3. Faktor Resiko Berdasarkan pedoman pengendalian penyakit asma 2009, faktor resiko asma dibagi menjadi factor genetic dan factor lingkungan: a. Faktor genetic - Hiperaktivitas - Atopi/alergi bronkus - Factor yang memodifikasi penyakit genetic - Jenis kelamin dimana laki-laki lebih beresiko daripada perempuan - Ras/etnik dimana status ekonomi ras menentukan status gizi b. Faktor lingkungan - Allergen di dalam ruangan (tungau, deburumah, kucing, alternaria/jamur dll) - Allergen di luar ruangan (alternaria, tepung sari) - Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang, makanan laut, susu sapi, telur) - Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID dll) - Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray dll)

- Ekspresi emosi berlebih - Asap rokok dari perokok aktif dan pasif - Polusi udara luara dan dalam ruangan - Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktifitas tertentu - Perubahan cuaca - Kekurangan berat badan saat kelahiran - Obesitas - Jalan nafas sempit sejak lahir 4. Epidemiologi Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum di dunia, dimana terdapat 300 juta penduduk dunia yang menderita penyakit ini. Asma dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa, dengan prevalensi yang lebih besar terjadi pada anak-anak (GINA, 2003). Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia, pada tahun 1986 asma menduduki urutan kelima dari sepuluh penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik, dan emfisema sebagai penyebab kematian (mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar 5,6%. Lalu pada SKRT 1995, dilaporkan prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13 per 1.000 penduduk (PDPI, 2006). Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi penderita asma di Indonesia adalah sekitar 4%. Menurut Sastrawan, dkk (2008), angka ini konsisten dan prevalensi asma bronkial sebesar 515%.

5.

Patofisiologi

6.

Tanda dan Gejala Gejala asma terdiri dari trias dispnea, batuk dan mengi. Pada bentuk yang paling khas, asma merupakan penyakit episodik dan keseluruhan tiga gejala tersebut dapat timbul bersama-sama. Berhentinya episode asma kerapkali ditandai dengan batuk yang menghasilkan lendir atu mukus yang lengket seperti benang yang liat dan kerapkali berbentuk silinder dari saluran napas bagian distal (Spiral Churschmann) serta memperlihatkan sel eosinofil serta kristal Charcot-leyden jika dilihat dengan mikroskop. Berbagai pembagian asma pada anak telah banyak dikemukakan. Pembagian asma menurut Phelan dkk adalah sebagai berikut: a. Asma episodik jarang Golongan ini merupakan 7075% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak umur 36 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas. Banyaknya serangan 34 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama hanya beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung sekitar 34 hari dan batuknya dapat berlangsung 1014 hari. Waktu remisinya bermingu-minggu sampai berbulan-bulan. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan. Tumbuh kembang anak biasanya baik. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain. b. Asma episodik sering Golongan ini merupakan 28% dari populasi asma anak. Pada dua pertiga golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Pada umur 56 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress. Banyaknya serangan 34 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling banyak pada umur 813 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling buruk terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu tidur. Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Jika waktu serangan lebih dari 12 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan

fisik. Hay fever dan eksim dapat ditemukan pada golongan ini. Pada golongan ini jarang ditemukan gangguan pertumbuhan. c. Asma kronik atau persisten Pada 25% anak serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Pada 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan pada 50% sisanya serangan episodik. Pada umur 56 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari. Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Obstruksi jalan napas mencapai puncaknya pada umur 814 tahun. Pada umur dewasa muda 50% dari golongan ini tetap menderita asma persisten atau sering. Jarang yang betul-betul bebas mengi pada umur dewasa muda. Pada pemeriksaan fisik dapat terjadi perubahan bentuk toraks seperti dada burung (pigeon chest), dada tong (barrel chest) dan terdapat sulkus Harrison. Pada golongan ini dapat terjadi gangguan pertumbuhan, yaitu bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas fisiknya sangat berkurang, sering tidak dapat melakukan kegiatan olahraga dan kegiatan biasa lainnya. Sebagian kecil ada juga yang mengalami gangguan psikososial. Disamping tiga golongan besar tersebut diatas terdapat bentuk asma yang tidak dapat begitu saja dimasukkan ke dalamnya, yaitu: a. Asma episodik berat atau berulang Dapat terjadi pada semua umur, biasanya pada anak kecil dan umur prasekolah. Serangan biasanya berat dan sering memerlukan perawatan di rumah sakit. Biasanya berhubungan dengan infeksi saluran napas. Di luar serangan biasanya normal dan tanda-tanda alergi tidak menonjol. Serangan biasanya hilang pada umur 56 tahun. Tidak terdapat obstruksi saluran napas yang persisten. b. Asma persisten Mengi yang persisten dengan takipnea untuk beberapa hari atau beberapa minggu. Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar berhubungan dengan kecilnya saluran napas pada anak golongan umur ini. Terjadi pada beberapa anak umur 312 bulan. Mengi biasanya terdengar jelas jika anak sedang aktif. Keadaan umum anak dan tumbuh kembang biasanya tetap baik, bahkan beberapa anak menjadi gemuk sehingga ada istilah fat happy

wheezer. Gambaran rontgen paru biasanya normal. Gejala obstruksi saluran napas disebabkan oleh edema mukosa dan hipersekresi daripada spasme otot bronkusnya. c. Asma hipersekresi Biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan umur sekolah. Gambaran utama serangan adalah batuk, suara napas berderak dan mengi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi basah kasar dab ronkhi kering.. d. Asma karena beban fisik Serangan asma setelah melakukan kegiatan fisik sering dijumpai pada asma episodik sering dan pada asma kronik persisten. Disamping itu terdapat golongan asma yang manifestasi klinisnya baru timbul setelah ada beban fisik yang bertambah. Biasanya pada anak besar dan akil baliq. e. Asma dengan alergen atau sensitivitas spesifik Pada kebanyakan asma anak, biasanya terdapat banyak faktor yang dapat mencetuskan serangan asma, tetapi pada anak yang serangan asmanya baru timbul segera setelah terkena alergen, misalnya bulu binatang, minum aspirin, zat warna tartrazine, makan makanan atau minum minuman yang mengandung zat pengawet.. f. Batuk malam Banyak terdapat pada semua golongan asma. Batuk terjadi karena inflamasi mukosa, edema dan produksi mukus yang banyak. Bila gejala menginya tidak jelas sering salah didiagnosis, yaitu pada golongan asma anak yang berumur 26 tahun dengan gejala utama serangan batuk malam yang keras dan kering. Batuk biasanya terjadi pada jam 14 pagi. Pada golongan ini sering didapatkan tanda adanya alergi pada anak dan keluarganya. g. Asma yang memburuk pada pagi hari Golongan yang gejalanya paling buruk jam 14 pagi. Keadaan demikian dapat terjadi secara teratur atau intermitten. Keadaan ini diduga berhubungan dengan irama diurnal caliber saluran napas, yang pada golongan ini sangat menonjol. Gejala klinis: Serangan akut yang spesifik jarang dilihat sebelum anak berumur 2 tahun. Secara klinis asma dibagi dalam 3 stadium, yaitu: Stadium I

Disaat terjadi edema dinding bronkus, batuk paroksismal karena iritasi dan batuk kering. Sputum yang kering dan terkumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk. Stadium II Sekresi bronkus bertambah banyak dan timbul batuk berdahak jernih berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai berusaha bernapas lebih dalam. Ekspirasi memanjang dan terdengar mengi. Tampak otot napas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi suprasternal, epigastrium dan mungkin sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada tepi tempat tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat, sianosis sekitar mulut. Toraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung terjadi pernapasan abdominal, retraksi suprasternal dan interkostal. Stadium III Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat, aliran udara sangat sedikit sehingga suara napas hampir tidak terdengar. Stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan. Batuk seperti ditekan. Pernapasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi napas yang mendadak meninggi 7. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.

Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. 2. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. 3. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block). Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.

4. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. 5. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. 8. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan Asma Akut Serangan akut adalah keadaan darurat dan membutuhkan bantuan medis segera. Penanganan harus cepat dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit/gawat darurat. Kemampuan pasien untuk mendeteksi dini perburukan asmanya adalah penting, agar pasien dapat mengobati dirinya sendiri saat serangan di rumah sebelum ke dokter. Dilakukan penilaian berat serangan berdasarkan riwayat serangan, gejala, pemeriksaan fisis dan bila memungkinkan pemeriksaan faal paru, agar dapat diberikan pengobatan yang tepat. Pada prinsipnya tidak diperkenankan pemeriksaan faal paru dan laboratorium yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam pengobatan/tindakan. b. Penatalaksanaan Asma Kronik Pasien asma kronik diupayakan untuk dapat memahami sistem penanganan asma secara mandiri, sehingga dapat mengetahui kondisi kronik dan variasi keadaan asma. Anti inflamasi merupakan pengobatan rutin yang yang bertujuan mengontrol penyakit serta mencegah serangan dikenal sebagai pengontrol, Bronkodilator merupakan pengobatan saat serangan untuk mengatasi eksaserbasi/serangan, dikenal pelega.

Arif Mutaqqin dalam bukunya yang berjudul Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan menyebutkan penatalaksanaan medis untuk klien asma yaitu: a. Pengobatan Nonfarmakologi Penyuluhan. Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, menggunakan obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan. Menghindari faktor pencetus. Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada lingkungannya diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk intake cairan yang cukup bagi klien. Fisioterapi, dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini dapat dilakukan dengan postural drainase, perkusi dan fibrasi dada. b. Pengobatan Farmakologi Agonis beta : metaproterenol (alupent, metrapel). Bentuknya aerosol, bekerja cepat, diberikan sebanyak 3-4 x semprot, dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10 menit. Metilxantin, dosis dewasa diberikan 125-200 mg 4 x sehari. Golongan metilxantin adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Kortikosteroid. Jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respons yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4 x semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama mempunyai efek samping, maka klien yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat. Kromolin dan Iprutropioum bromide (atroven). Kromolin merupakan obat pencegah asma khususnya untuk anak-anak. Dosis Iprutropioum Bromide diberikan 1-2 kapsul 4 x sehari. Pemberian oksigen. Pemberian oksigen menggunakan kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit yang dialirkan melalui air untuk memberikan kelembapan. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. Oleh karena itu, intake

cairan per oral dan infus harus cukup dan sesuai dengan prinsip rehidrasi. Antibiotik diberikan hanya bila ada infeksi.

9.

Pencegahan Pemeriksaan substansi yang mencetuskan asma pada penderita asma, kemudian melakukan upaya untuk menghindari agens penyebab asma seperti: a. Mengeluarkan binatang peliharaan. b. Menghindari asap rokok dan asap dari benda terbakar. c. Penggunaan air conditioner untuk meminimalkan membuka jendela terutama saat musim semi dimana banyak udara yang mengandung serbuk sari. d. Pola hidup sehat dan bersih.

10. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. Status asmatikus 2. Atelektasis Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak lengkap pada bayi atau pengempisan paru pada orang dewasa. 3. Hipoksemia 4. Pneumothoraks Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asma tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan mukus yang kental. Situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya tekanan untuk melakukan ventilasi. 5. Emfisema Empiema adalah berkumpulnya atau timbunan pus (nanah) di dalam suatu kavitas organ berongga yaitu paru-paru. 6. Deformitas thoraks 7. Gagal nafas 8. Bronkiektasis Bronkiektasis adalah dilatasi kronis dari satu atau lebih bronki. 9. Bronkopneumonia

Bronkopneumonia adalah peradangan paru yang biasanya dimulai di bronkioli terminal. 10. Kegagalan jantung 11. Kematian BAB III RINGKASAN Asma adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai inflamasi saluran nafas dan spasme akut otot polos bronkiolus. Penyebab penyakit asma belum jelas. Diduga, ada beberapa faktor pencetus yaitu faktor ekstrinsik yang terdiri dari reaksi antigen antibodi dan alergen, infeksi, iritan, jamur, cuaca, bahan-bahan yang di dalam dan di luar ruangan, dll, dan faktor intrinsik yang terdiri dari emosional dan kemungkinan alergi. Selain itu, ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronchial yaitu genetik, alergen, perubahan cuaca, stress, lingkungan kerja dan olahraga yang berat. Faktor risiko asma dibagi menjadi faktor genentik dan lingkungan. Gejala asma terdiri dari trias dispnea, batuk dan mengi. Pada bentuk yang paling khas, asma merupakan penyakit episodik dan keseluruhan tiga gejala tersebut dapat timbul bersama-sama. Berhentinya episode asma kerapkali ditandai dengan batuk yang menghasilkan lendir atu mukus yang lengket seperti benang yang liat dan kerapkali berbentuk silinder dari saluran napas bagian distal (Spiral Churschmann) serta memperlihatkan sel eosinofil serta kristal Charcot-leyden jika dilihat dengan mikroskop. Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa penyakit asma diantaranya adalah dengan pemeriksaan sputum, pemeriksaan darah, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan tes kulit, elektrokardiografi, scanning paru dan spirometri. Penatalaksaan yang dapat dilakukan pada penderita asma dibagi menjadi 2 yaitu penatalaksanaan asma akut dan asma kronik. Selain itu juga terdapat pengobatan nonfarmakologi dan farmakologi. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit asma adalah dengan cara mengeluarkan binatang peliharaan, menghindari asap rokok dan asap dari benda terbakar, penggunaan air conditioner untuk meminimalkan membuka jendela terutama saat musim semi dimana banyak udara yang mengandung serbuk sari dan pola hidup yang tinggi. Komplikasi yang dapat terjadi apabila asma tidak segera ditangani diantaranya adalah atelektasis, hipoksemia, pneumothoraks, emfisema, deformitas thoraks, gagal nafas, bronkietaksis, bronkopneumonia, kegagalan jantung dan kematian.

DAFTAR PUSTAKA Rengganis, Iris. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronial . Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Mutaqqin, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. Lenfant C. Khaltaev N. 2002. Global Initiative for Asthma. NHLBI/WHO Work Shop Report. GINA (Global Initiative for Asthma). 2006. Pocket Guide for Asthma Management and Prevension In Children. www. Ginaasthma.org. Vita Health. 2005. Asma Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya . PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Anonim. Asthma.http/www.omni.ac.uk/browse/mesh/Doo1249html. Sidhartani M. 2007. Peran Edukasi Pada Penatalaksanaan Asma Pada Anak. Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang. 2-4. Fordiastiko. 2005. Asma dan Seluk-Beluknya Simposium awam, Mengetahui Diagnosis dan Pengobatan Asma. PDPI. Semarang. Kurnia P. 2006. Analisis Hubungan Kondisi Rumah dan Perilaku Keluarga dengan Kejadian Serangan Asma Anak di Kota Semarang, FK UGM , RSUP DR. Sarjito, Yogyakarta. Sundaru H, Sukamto. 2006. Asma Bronkial. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, juni 2006 ; 247. Anonim. 2006. Asma. www kalbe.co.id. 2005. Gangguan