Anda di halaman 1dari 8

I.

Pendahuluan Para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi, hamburger (ham = babi, sebab aslinya, hamburger adalah dari daging babi, dan ketika dipasarkan di negara muslim diganti dengan daging sapi -pent). Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Dan para dokter di rumah sakit May Clinics di negara bagian Arizona telah melakukan pembedahan terhadapnya di rumah sakit tersebut setelah mereka berhasil mengetahui adanya rasa sakit di bagian otak karena adanya cacing yang tumbuh di dalamnya. Dan akhirnya para dokter memberitahukan bahwa mereka harus melakukan operasi secepatnya untuk bisa mengobati sang perempuan tersebut. Para dokter menegaskan bahwa makanan daging babi yang terkenal itu telah dikonsumsi oleh sang perempuan AS di Meksiko, dan mengandung cacing yang dikenal dengan nama taenia solium yaitu cacing yang masuk ke dalam tubuh manusia dari jalan makanan yang tidak sempurna ketika dimasak. Josef Seirphin, salah seorang dokter perempuan di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa telur cacing menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak. Dan ketika cacing itu sampai di otak, maka ia menyebabkan sakit yang ringan pada awalnya, hingga akhirnya mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal ini menyebabkan dis-fungsi yang sangat keras pada susunan organ di daerah yang mengelilingi cacing itu di otak. Akhirnya, sang perempuan menerima untuk dioperasi dalam waktu 6 jam berturut-turut untuk mengeluarkan cacing yang ada di dalam otak kepalanya. Dan para dokter melakukan pembiusan lokal, dimana sang perempuan harus dalam keadaan sadar dan bisa berfikir ketika dioperasi, sebab hal itu dilakukan diorgan yang sangat vital, yaitu otak; dan harus diajak bicara selama operasi sehingga operasi itu tidak membawa efek samping sedikitpun terhadap otak perempuan itu. Pada akhirnya, para dokter menemukan satu ekor cacing yang sudah rusak dan mengeluarkannya tanpa ada satu dampak negatif pun.

II. Tinjauan Pustaka Taeniasis adalah suatu infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh cacing taenia dewasa; sistiserkosis adalah penyakit/infeksi yang terjadi pada jaringan lunak yang disebabkan oleh larva dari salah satu spesies cacing taenia yaitu spesies Taenia solium. Gejala-gejala klinis dari penyakit ini jika muncul sangat bervariasi seperti, gangguan syaraf, insomnia, anorexia, berat badan yang menurun, sakit perut dan atau gangguan pada pencernaan. Terkecuali merasa terganggu dengan adanya segmen cacing yang muncul dari anus, kebanyakan penyakit ini tidak menunjukkan gejala. Taenasis biasanya tidak fatal, akan tetapi pada stadium larva cacing Taenia solium mungkin menyebabkan sistiserkosis yang fatal.Penyebab penyakit Taeniasis adalah Taenia soliumyang biasanya terdapat pada daging babi, dimana cacing tersebut dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan (oleh cacing dewasa), dan bentuk larvanya dapat menyebabkan infeksi somatik (sistisersi). Penyakit Taeniasis tersebar di seluruh dunia, dimana orang-orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging babi mentah atau yang dimasak tidak sempurna, dan kondisi kebersihan lingkungannya jelek sehingga babi makanannya tercemar dengan tinja manusia. Angka kejadian paling tinggi dari penyakit ini adalah di negara-negara seperti Amerika Latin, Afrika, Asia Tenggara, dan negara-negara di Eropa Timur, dan infeksi sering dialami oleh para imigran yang berasal dari daerah tersebut.Manusia merupakan hospes definitif kedua spesies Taenia, sedangkan babi merupakan hospes perantara untuk spesies Taenia solium. Gejala dari penyakit cysticercosis biasanya muncul beberapa minggu sampai dengan 10 tahun atau lebih setelah seseorang terinfeksi. Telur cacing akan tampak pada kotoran orang yang terinfeksi oleh Taenia solium dewasa antara 8 12 minggu setelah orang yang bersangkutan terinfeksi.Infeksi Taenia solinum terjadi karena memakan daging babi mentah atau yang dimasak kurang sempurna (measly pork) yang mengandung cysticerci; cacing menjadi dewasa didalam intestinum. Namun, cysticercosis dapat terjadi secara tidak langsung karena orang tersebut menelan minuman yang terkontaminasi atau secara langsung dari tinja orang yang terinfeksi langsung kemulut penderita sendiri (aoutoinfeksi) atau ke mulut orang lain. Apabila telur Taenia solinum tertelan oleh manusia atau babi, maka embrio akan keluar dari telur, kemudian menembus dinding usus menuju ke saluran limfe dan pembuluh darah selanjutnya dibawa keberbagai jaringan dan kemudian berkembang menjadi cysticercosis.

III. Pembahasan Penyakit-penyakit cacing pita atau disebut juga taeniasis merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui konsumsi daging babi. Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar 1000 ekor dengan panjang antara 4 10 meter, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar). Ketika seseorang mengkonsumsi daging babi, maka larva yang ada di dalamnya akan menjadi cacing dalam perut manusia. Cacing ini akan menyebabkan seseorang merasa lemah, letih. Dan kekurangan vitamin B-12 yang menyebabkan terjadinya kekurangan darah, terkadang bisa menyebabkan munculnya penyakit pada syaraf otak, semisal dis-fungsi syaraf pusat. Larva-larva pada sebagian keadaan bisa mencapai otak dan menyebabkan terjadinya sawan atau naiknya tekanan dalam syaraf, pusing yang sangat, atau bahkan bisa menyebabkan lumpuh. Dan mengkonsumsi daging babi yang tidak sempurna di masak juga menyebabkan adanya cacing rambut. Ketika cacing ini sampai di usus 12 jari, maka akan keluar larva yang sangat banyak setelah 4 atau 5 hari dan kemudian masuk ke dalam dinding lambung. Kemudian ia masuk ke dalam darah, kemudian masuk ke sebagian besar jaringan organ tubuh. Larva kemudian berjalan persendian dan menjadi besar Maka orang tersebut akan menderita sakit seperti nyeri otot yang sangat. Terkadang penyakit itu berkembang hingga terjadi dis-fungsi kerja otak, dis-fungsi otot jantung dan paru-paru, ginjal, syaraf pusat. Dan terkadang penyakit ini bisa menyebabkan kematian, dan ini kecil persentasenya.

IV. Kesimpulan Manusia terinfeksi cacing taenia solim dengan ara memakan daging babi menta atau kurang masak, yang mengandung larva sistiserkus. Larva sistiserkus merupakan larva infektif cacing taenia solium yang banyak menimbulkan gangguan pada dinding usus, tempatnya melekat. Keluhan penderita umumnya ringan, berupa rasa tidak enak diperut, gangguan pencernaan, diare, konstipasi, sakit kepala dan anemia. Sangat jarang terjadi adalah komplikasi peritonitis akibat kait yang menembus dinding usus. Darah tepi menunjukkan eosinofili. Selain di usus, manusia dapat juga terinfeksi larva sistiserkus pada jaringan subkutis, mata, otot, otak, hati, limpa.Bila menganai jaringan otak atau medula spinalis seperti yang terjadi pada kasus di atas dapat mengakibatkan epilepsi, meningo-encefalitis, hidrocephalus internus bila ada sumbatan aliran cairan serebrospinal. Selain dengan pengobatan, dapat dilakukan pencegahan untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis solium. Dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti mengobati penderita untuk menguragi sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi larva cacing, pengawasan daging babi yang dijual agar bebas larva cacing, memasak daging babi sampai di atas 50o celcius selama 30 menit untuk membunuh kista larva cacing, menjaga kebersihan lingkungan dan tidak memberikan tinja manusia sebagai makanan babi.

V. Daftar Pustaka Soedarto, 2008. Parasitologi Klinik, Surabaya : Airlangga University Press. Prof.dr.Srisari Gandahusada, Drs.H.Herry D.Ilahude DAP&E, Prof.dr.Wita Pribadi, 2000. Parasitologi Kedokteran, Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. R.Heru Prasetyo, 2003. Atlas Berwarna Helmintologi Kedokteran, Surabaya : Airlangga University Press. W.A.Newman Dorland, 2002. Kamus Kedokteran Dorland, Jakarta : EGC. http://ibnujafar86.wordpress.com/2009/05/14/seputar-masalah-babi-part-1/

Cacing dewasa taenia solium

Skoleks taenia solium

Telur taenia solium

Cysticercus cellulosae yang ditemukan pada otot babi


7