Anda di halaman 1dari 2

KONDISI ALAM DAN PERILAKU MANUSIA PENYEBAB BANJIR Jakarta 40 persen wilayahnya sudah dibawah laut dan daerah-daerah

di Jakarta yang sekarang sering banjir sudah berdiri pemukiman masyarakat sehingga menyebabkan banjir dan Jakarta tidak akan 100 persen bebas banjir, ujar Harmadi, Kasubdit. OP dan Penaggulangan Bencana Alam Direktorat Sungai, danau dan Waduk, Ditjen SDA (301108), dalam acara dialog interaktif Radio RRI PRO 4 92,8 FM di Jakarta. Penyebab banjir disebabkan oleh kondisi alam dan perilaku manusia. Untuk kondisi alam seperti topografi dimana 40% wilayah Jakarta terletak di dataran rendah, curah hujan dengan intensitas tinggi hampir 300 mm, penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah yang berlebihan, pendangkalan sungai dan penurunan kapasitas alur drainase dan pasang air laut, sedangkan perilaku manusia terdiri dari perubahan fungsi ruang yang terdiri dari perubahan kawasan lindung menjadi kawasan pemukiman dan industri, penyempitan sungai akibat bantaran kali dijadikan tempat hunian/bangunan liar, ruang terbuka hijau di daerah hulu yang semakin berkurang akibat pesatnya pembangunan dan perubahan tata guna lahan yang menambah kecepatan runoff air ke Jakarta. Kesadaran warga yang masih rendah juga ditengarai sebagai penyebab banjir yang sering melanda Jakarta sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Menurut Harmadi, BKB dan BKT tidak menjamin 100% Jakarta bebas banjir, hal tersebut hanya akan mengurangi banjir Jakarta. Dengan adanya pertambahan penduduk maka membuat lahan untuk perumahan dan pemukiman menjadi berkurang dan akhirnya mereka memanfaatkan bantaran sungai sebagai lingkungan perumahan dan pemukiman padahal tidak dibenarkan untuk membangun rumah di wilayah tersebut karena bila banjir akan memakan korban jiwa dan harta benda. Harmadi melanjutkan bahwa pendekatan konsep penanggulangan banjir Jakarta dan sekitarnya mencakup 5 aspek yaitu penataan ruang, perumahan dan pemukiman, prasarana perkotaan, sumber daya air dan pemberdayaan masyarakat.

Untuk itu telah ada program terpadu penanganan pasca banjir Jakarta dan sekitarnya selain percepatan pembangunan BKT dan peningkatan kapasitas dan pekuatan BKB yaitu penanganan normalisasi sungai-sungai dengan komponen normalisasi sungai, pintu air dan pengerukan muara, rehabilitasi situ-situ dan sumur resapan, optimasi waduk, polder dan pompa, penanganan drainase kota, penataan bantaran sungai ciliwung dan rusuna, penataan ruang, penanganan jalan dan terakhir adalah gerhan di Jabodetabek. Harmadi juga menjelaskan status penanganan sampai saat ini adalah BKT pembebasan tanah 72% dari target total sepanjang 23,5 km telah diselesaikan penggalian saluran sepanjang 14,5 km), perbaikan situ dari total 202 buah situ sampai dengan 2007 telah ditangani 50 buah situ sementara dalam tahun 2008 sebanyak 21 situ telah ditangani diantaranya adalah situ di jabar 15 buah dan banten/tangerang 6 buah dan untuk tahun 2009 diprogramkan penanganan perbaikan 11 situ. Harmadi meng dan juga harapkan agar masyarakat di Jakarta terutama yang tinggal di bantaran sungai waspada karena sewaktu-waktu jika curah hujannya tinggi akan banjir dan juga bagi semua pihak agar selalu menjaga lingkungan dengan tidak mebuang sampah sembarangan dan yang paling penting agar dapat membuat sumur resapan di halaman rumah karena hal itu berguna untuk menampung air dan menjaga ketersediaan air kita. (humas SDA)