Anda di halaman 1dari 2

Perbincangan kita Malam itu

Aku sedang ada masalah. Ucapku langsung saat kita bertemu didunia yang tak tersentuh, Mereka memaksaku melakukannya, tapi aku rasa aku belum siap. Gara-gara masalah ini aku menjadi tidak bisa diam, mebuatku gugup dan resah. Aku rasa saat itu dia sedikit bingung dengan apa yang ku maksud, ada kerutan didahinya yang menandakan ia sedang berpikir dan mencerna apa yang ku maksud. Siapa yang memaksa? Hidupmu adalah keputusanmu. Apa kamu sudah yakin? ucapnya langsung, aku rasa ia sudah mengerti sekarang. Mereka terkesan memaksaku, orang-orang dikanan dan dikiri yang tidak percaya atau mungkin tidak rela jika aku berdiam diri. Dengan tatapan seriusnya ia berkata Jadi masalahnya apa? Apa kau tertekan dengan desakan mereka? Jangan pernah mau disengsarakan oleh sesuatu yang tidak jelas, ikuti saja kata hatimu. Tapi hatiku sedang tidak berkata apa-apa. Masalah ini sungguh membuatku lesu, bingung. Sambil tersenyum ia berkata Mau sekarang atau nanti, menurutku itu bukan suatu masalah untukmu Ah. Andai mereka tau bagaimana aku dan apa mau-ku. Aku tetap mengelak. Dan kamu tidak pernah mau ungkapkan apa yang kau mau Ucapannya membuatku berpikir, sedkit menusuk. Itu benar, aku merasa tersudut dengan masalahku sendiri. Kadang aku bingung dengan mau-ku. Sulit mengucap kepada kepala lain. Atau mungkin aku yang tidak tau dengan mau-ku. Kenali dulu apa mau-mu, pastikan alasan kau bertahan dengan mau-mu Ucapnya. Tapi malam ini, mau-ku tak mau dikenal. Aku coba mendekat tapi mau-ku menoleh pun tidak. Aku janji mau bertahan andai mau-ku mau mendekat Kenapa kamu yang mencoba mendekat? Kenapa tidak mencoba berpikir dan merasa seperti mau-mu, aku rasa mengenal juga merupakan upaya penyatuan visi Mendengar perkataannya membuatku bingung, Kata-katamu terlalu berat, bahuku tidak sanggup untuk mengemban. Andai perkenalan semudah itu. Kali ini aku tetap mengelak, aku tidak tau kenapa. Aku meminta saran tapi sulit untuk menerima. Tapi perkenalan masih lebih mudah dibanding mempertahankan Apa yang perlu dipertahankan? Aku hanya ingin mengenal, memahami, itu cukup. Tentunya setiap kemauan punya alasan tersendiri untuk dipertahankan, tak sebatas memahami Kemudian aku diam, tidak mengerti. Sepertinya ia mengerti dengan ketidak-mengertian-ku. Apa yang kamu tidak mengerti? tanyanya. Aku bingung mengenai kemauan yang dipertahankan, apa hubungannya dengan masalahku?

Apa masalahmu? Mengenai kewajiban itu? Apa mengenai cibiran sekitar? Atau benturan kemauanmu dengan ekspektasi orang lain? Tidak ada ekspektasi apalagi cibiran. Ini hanya sekedar nasihat kebenaran yang mereka sampaikan. Mereka memintaku bangun, berdiri kemudian berlari. Tapi aku, sekarang (masih) memilih diam. Bodohnya aku. Tidak ada kebodohan disini, tidak ada sama sekali. Ini hanya tentang ketegasan memilih. Aku rasa diam karena sebuah perenungan merupakan hal yang wajar. Jangan sia-kan diammu dengan menghasilkan keputusan mundur, itu baru sebuah kebodohan. Mendengar kalimat itu membuatku sekali lagi berpikir, ada titik terang sekarang. Aku melihat titik kecil itu tapi masih kabur. Baiklah, sekarang aku ingin berpikir sambil bermimpi. Selamat malam, semoga mimpi kita indah.. ucapku menyudahi perbincangan kita. Besoknya titik terang itu aku temukan disudut suatu tempat penuh debu, titik itu masih kabur tapi membayang. Aku rasa aku sudah mulai menemukan mau-ku. Terima kasih untuk semua itu...