Anda di halaman 1dari 2

3

Ego
Sudah bukan hal yang mengherankan lagi jika ada dua hal yang terbaik, maka persaingan akan timbul di antara kedua hal tersebut. Dan dari persaingan, akan timbul permusuhan. Permusuhan yang tercipta akan melahirkan hasrat untuk menghancurkan satu sama lain. Itulah yang dialami oleh Klan Validha dan Zharull. Kami harus mengesampingkan kebencian kami terhadap iblis yang ada di dalam diri kami untuk patuh terhadap ego untuk membuktikan pada klan saingan kami bahwa kami yang lebih kuat dan berkuasa. Kami harus kalah oleh amarah kami untuk memperingatkan pada klan saingan kami bahwa mereka telah memilih lawan yang salah. Kami harus menjual diri kami pada iblis yang ada dalam diri kami untuk menunjukkan pada mereka siapa yang lebih kuat. Begitu pula dengan klan saingan kamiZharullsehingga pertarungan

berkepanjangan pun tak terhindari lagi. Itu pulalah salah satu alasan mengapa beberapa di antara kami masih lebih memilih untuk tinggal di pedalaman, dan itu juga sebab mengapa masih banyak dari kami yang sepenuhnya belum bisa mengendalikan iblis. Untuk membela klan kami. Harga diri kami. Pertarungan antar klan ini sudah lama terjadi dan tidak ada yang tahu pasti kapan ini dimulai. Setiap saat selalu terjadi peristiwa saling serang hanya untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Karena itu, tidak perlu kukatakan lagi sudah berapa banyak jiwa yang gugur. Berapa banyak anak yang kehilangan orangtuanya. Berapa banyak orangtua yang kehilangan anaknya. Berapa banyak anak yang bahkan belum pernah melihat orangtua mereka. Semua hilang begitu saja seperti debu yang ditiupkan ke udara. Perkampungan-perkampungan kecil baik dari Klan Validha maupun Klan Zharull semakin habis. Tapi itu dianggap lebih baik daripada hancurnya perkampungan intitempat Ketua Klan tinggal sekaligus pusat pemerintahan sebuah klan. Namun tetap saja, duka mendalam dirasakan bagi kami yang merasa kehilangan. 5

Sayangnya, itu saja belum cukup untuk menyadarkan kedua klan untuk menghentikan pertarungan sia-sia ini. Keduanya terlalu sibuk memikirkan masalah harga diri. Keduanya terlalu patuh bak budak pada ego. Ego pulalah yang memicu suatu peristiwa yang memaksaku untuk berada di tempat ini. Di tengah-tengah manusia. Sendirian. Setengah mati menahan iblis yang terus mendobrak untuk keluar tatkala amarahku bangkit. Setengah mati menghadapi orang-orang yang terus saja memicu amarahku. Hingga akhirnya aku tak lagi mampu menahan diri. Andai saja Tuhan tidak menyertakan ego dalam diri manusia....