Anda di halaman 1dari 2

MENGUJI PANGGUNG POLITIK PEREMPUAN Perkembangan politik Indonesia hari ini memasuki babak reformasi.

Dalam masa reformasi, pilihan untuk menempuh pemerintahan dengan sistem demokrasi melahirkan banyak konsekuensi sikap yang harus diambil dalam mengatur kebijakan negara. Diterapkannya pemilihan umum (pemilu) sebagai praktik demokrasi prosedural, telah membuka harapan baru bagi keterwakilan wanita yang direpresentasikan melalui lembaga legislatif di parlemen (Nurhayaty Dewi: !"#) Namun $ita%$ita ideal demokratisasi khususnya upaya men$erdaskan kaum perempuan di Indonesia masih menemui tantangan. Dalam konteks perpolitikan nasional kontemporer misalnya, banyak parpol peserta Pemilu !"& gagal memenuhi kuota #! persen $aleg perempuan. 'ondisi ini menegaskan lemahnya dukungan parpol dalam memajukan kiprah perempuan dalam panggung politik Indonesia. Padahal keterwakilan perempuan sangat penting untuk merepresentasikan perpolitikan Indonesia agar mampu menghasilkan keadilan dan kesetaraan gender. (emahnya dukungan parpol dalam mendorong kiprah politik perempuan jelas pengkhianatan amanat konstitusi. Pasalnya, konstitusi Indonesia sudah akomodatif dengan perempuan seperti ter$ermin dalam )ndang%)ndang No "!* !!+ tentang Pemilihan )mum ,nggota DP-, DPD dan DPD dimana setiap parpol harus memenuhi kuota #! persen keterwakilan perempuan. ,turan itu diperkuat peraturan 'P) No.!. tahun !"# yang mewajibkan salah satu syarat mendaftarkan $aleg ke 'P) adalah keterwakilan perempuan minimal #! persen. Namun harus disadari bahwa ruang ekspresi politik perempuan yang diberikan negara (dan para elite partai) masih jauh dari spirit keadilan dan keseteraan. /akta menyebutkan jumlah politisi perempuan hasil Pemilu !!0 masih jauh dari harapan yakni sebanyak "+ persen atau setara dengan "!# orang. 1elihat itu, tidak mengherankan jika berdasarkan data IP) tahun !!., ketewakilan perempuan di Indonesia berada pada peringkat ke%+2 setelah ,3erbaijan. 1erespons rendahnya penguatan sikap berpolitik kaum perempuan, maka diperlukan re4italisasi peran politik perempuan. Dalam pandangan penulis, setidaknya diperlukan empat langkah strategis agar kiprah politik perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Pertama, mendorong partisipasi politik perempuan. Partai politik harus berani memproritaskan perempuan dalam penentuan $aleg, proporsi kepengurusan parpol dan posisi menteri. Pemberian porsi lebih banyak kepada perempuan bersifat mendesak agar kiprah perempuan dalam politik dapat berdaya jangkau luas. 5api perlu diingat, pemberian porsi harus tetap menga$u kepada kompetensi perempuan bersangkutan agar tidak menjadi bumerang kepada institusi parpol. Kedua, memperkuat penyadaran melalui pendidikan politik perempuan. 6elama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa persentase perempuan yang melek politik sangat ke$il. 7al itu diperburuk lemahnya political will parpol yang tidak menempatkan perempuan sebagai $aleg prioritas. Dalam melengkapi persyaratan 'P) dan undang%undang, parpol sering mengambil jalan pintas dengan menarik masyarakat yang bukan kader dan bukan tokoh untuk menjadi $aleg. )ntuk itu, pendidikan politik melalui kampanye, seminar dan keterlibatan perempuan dalam pertemuan parpol harus digalakkan, sehingga kelahiran politisi perempuan dapat subur berkembang. 8ika itu mampu dilakukan, alasan klise parpol yang mengalami kesulitan memenuhi syarat #! persen dapat terbantahkan.

Ketiga mendorong penerapan se$ara nyata regulasi politik yang menguntungkan perempuan. Diakui, memang selama ini konstitusi sudah memberikan dukungan kepada perempuan agar mampu berkontribusi dalam perpolitikan nasional. Namun dalam realitasnya, aturan itu perlu terus dikawal dan ditegakkan sehingga berjalan maksimal. )ntuk itu, masyarakat khususnya kaum perempuan harus lebih kritis terhadap pembangkangan parpol yang tidak menjalankan aturan tersebut dengan tak memilih parpol tersebut dalam Pemilu mendatang. Keempat membangun semangat dan persaingan yang sehat dalam memperoleh jabatan strategis dalam institusi kenegaraan. Dalam hal ini, soliditas gerakan perempuan harus dimaksimalkan sehingga perilaku dan kesadaran politik perempuan dapat meningkat. 'aum perempuan harus membebaskan diri dari budaya patriarki sehingga terbentuk kesadaran berkontribusi dalam kan$ah perpolitikan nasional ataupun lokal. 8ika kesadaran itu lahir, nis$aya perempuan akan berani bersaing dalam ajang pemilihan legislatif maupun kompetisi politik lainnya. 9agaimanapun harus disadari kuota #! persen adalah peluang besar perempuan Indonesia agar mampu bersaing baik memilih atau dipilih. )ntuk itu, sudah sepantasnya bentuk diskriminasi positif itu dimanfaatkan dengan masuk parlemen dan lembaga pemerintahan sehingga hak dan aspirasi perempuan dapat diperjuangkan. Perempuan harus merebut peluang ini dengan berjuang keras menembus parlemen dan berkompetisi se$ara sehat dengan kandidat pria di partai maupun parlemen. 8ika itu dapat dijalankan maka usaha memper$epat ter$apainya keadilan dan kesetaraan akan semakin menemukan titik $erah. ajang pemilihan legislatif maupun kompetisi politik lainnya. Pada akhirnya wajah perempuan di panggung politik merupakan kenis$ayaan demokrasi. 6ebab kehadiran perempuani akan memperkuat posisi dan daya tawar terhadap persoalan yang melanda perempuan di mata publik. 9agaimanapun perempuan harus sadar, masih banyak kaum perempuan Indonesia yang jauh dari kesejahteraan hidup, fisik dan batinnya. 7al itu memang sulit dilepaskan dari budaya patriarki, sehingga diperlukan perjuangan melalui jalur politik untuk melakukan perubahan sistemik terhadap budaya tersebut. ,khirnya, kita harus mengakui se$ara sadar dan rasional bahwa perempuan adalah tiang negara sehingga kebutuhan terhadap perempuan termasuk dalam politik harus dipenuhi. Perempuan harus mendapatkan kesejahteraan hidup, keamanan, kehidupan yang layak, dan diposisikan sesuai dengan status dan perannya. Nampaknya hal tersebut bukan sesuatu yang berlebihan. 'ita tidak sedang dalam sikap memanjakan sosok perempuan sebab memang seharusnya perempuan mendapatkan posisi terhormat di -epublik ini. Perempuan harus memiliki hak memilih dan dipilih sehingga mampu membangun bangsa dan negaranya, sebab itu adalah konsekuensi logis demokrasi yang dapat diperjuangkan kaum perempuan.

Inggar 6aputra 1ahasiswa 1agister 'etahanan Nasional )ni4ersitas Indonesia : Dimuat pada kolom ;pini 7arian 1onitor Depok, 6enin, + ;ktober !"#