Anda di halaman 1dari 7

PERANCANGAN BIOREAKTOR PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF

Hafni Zulaika Lubis, Endang Is Retnowati, Zulkarnain Dosen Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Medan Jl. Gedung Arca No. 52 Medan. Telp (061)7363771 E-mail : ZulaikaLubisHafni@yahoo.com

1,2,3

Abstrak Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari hasil penguraian mikroorganisme dari limbah organik melalui reaksi fermentasi secara anaerob. Proses fermentasi penelitian ini dilakukan di dalam kondisi Reaktor Anaerob dengan tiga tahap proses, dan bantuan Mikroba pengurai limbah. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisa laju ratarata pembentukan gas perhari dan jumlah total gas yang dihasilkan, dan mengkaji hasil optimum gas yang dihasilkan setiap tahap selama fermentasi. Bahan yang digunakan adalah limbah cair tahu, EM4 (Efektivitas Mikroba), dan feses sapi. Prosedur penelitian dilakukan pada temperatur dan tekanan lingkungan dengan menggunakan limbah cair tahu dan waktu operasi 14 hari. Analisa COD, BOD dan TSS dari limbah dan pada hasil biogas setelah 14 hari fermentasi berlangsung. Hasil optimum pada fermentasi 1500 ml limbah cair dengan 210 gr starter feses sapi dan o 125 ml EM4 pada temperatur 29 C dan pH 6,1 dan pada waktu hari ke-14 3 fermentasi, total volume gas yang dihasilkan 822 cm , dan laju rata rata gas 3 perhari sebesar 58,71 cm . Kata kunci: Biogas, limbah industri, fermentasi

Pendahuluan Berbagai kasus pencemaran lingkungan dan memburuknya kesehatan masyarakat yang banyak terjadi dewasa ini diakibatkan oleh limbah dari berbagai kegiatan industri, rumah sakit, pasar, restoran hingga rumah tangga. Hal ini disebabkan karena penanganan dan pengolahan limbah tersebut belum mendapatkan perhatian yang serius. Lebih signifikan, keberadaan limbah dapat memberikan nilai negatif bagi pada kegiatan proses industri tersebut. Namun, penanganan dan pengolahannya membutuhkan biaya yang cukup tinggi sehingga kurang mendapatkan perhatian dari kalangan pelaku industri, terutama kalangan industri kecil dan menengah. Industri pengolahan makanan baik dalam skala kecil maupun menengah banyak terdapat di wilayah Indonesia, dimana dalam proses produksinya menghasilkan limbah yang apabila tidak segera ditangani, tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga produknya. Terutama industri tahu dan tempe, sebagai industri kecil yang paling banyak jumlahnya di Indonesia. Karena kedelai dan produk makanan yang dihasilkannya merupakan sumber makanan yang dapat diperoleh dengan mudah dan murah serta memiliki kandungan gizi yang tinggi. Industri-industri rumah tangga,khususnya industri tahu menghasilkan limbah organik baik dalam bentuk cair maupun padat, namun kebanyakan industri tersebut membuang limbahnya secara langsung ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga mencemari lingkungan.
305

Teknologi pengolahan limbah baik cair maupun padat merupakan kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan limbah cair dan limbah padat baik domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara masyarakat setempat. Jadi teknologi yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. Berbagai teknik pengolahan limbah untuk menyisihkan bahan polutannya yang telah dicoba dan dikembangkan selama ini belum memberikan hasil yang optimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu metode penanganan limbah yang tepat, terarah dan berkelanjutan. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah dengan cara BIO-PROSES, yaitu mengolah limbah organik secara biologis menjadi biogas dan produk alternatif lainnya. Dengan metode ini, pengelolaan limbah tidak hanya bersifat penanganan namun juga memiliki nilai manfaat. Untuk mengetahui efektifitas teknologi bioproses dalam membentuk energi alternatif (biogas) maka dilakukan perancangan alat dan penelitian tentang pembentukan biogas melalui teknologi bioproses dengan media limbah cair industri tahu. Fundamental Teknologi bioproses merupakan teknologi yang memanfaatkan proses fermentasi limbah organik dalam kondisi hampa udara (anaerobic process) oleh bakteri methanogen, yang sensitif terhadap oksigen, diketahui petumbuhannya akan terhambat dalam konsentrasi oksigen terlarut 0,01 mg/L. Bakteri ini secara alami antara lain terdapat pada feses sapi, dasar danau, dan perairan payau. Selain menghasilkan gas methan, yang memiliki sifat mudah terbakar jika kadar methannya mencapai lebih dari 50%, juga menghasilkan sludge yang sangat baik sebagai pupuk. Komposisi biogas lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 1 [1]. Tabel 1. Komposisi Biogas Komponen Metana (CH4) Karbon dioksida (CO2) Nitrogen (N2) Hidrogen (H2) Hidrogen sulfida (H2S) Oksigen (O2) % 55-75 25-45 0-0.3 1-5 0-3 0.1-0.5

Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik. Biogas sebanyak 1000 ft3 (28,32 m3) mempunyai nilai pembakaran yang sama dengan 6,4 galon (1 US gallon = 3,785 liter) butana atau 5,2 gallon gasolin (bensin) atau 4,6 gallon minyak diesel. Untuk memasak pada rumah tangga dengan 4-5 anggota keluarga cukup 150 ft3 per hari [2]. Dalam kelestarian hutan. mengestimasikan kotribusi penggunaan biomassa di negara berkembang sekitar 15% dari total biaya energi yang diperlukan. Sebagian besar limbah yang dihasilkan industri pembuatan tahu dan tempe, adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih. Cairan ini mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Sumber limbah cair lainnya berasal dari pencucian kedelai, pencucian peralatan proses, pencucian lantai dan pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai. Total limbah cair yang dihasilkan kira-kira 15-20g/kg bahan baku kedelai. Sedangkan bahan pencemarnya kira-kira untuk TSS sebesar 30kg/kg bahan baku kedelai, BOD 65 g/kg bahan baku

306

kedelai dan COD 130 g/kg bahan baku kedelai. Karakter limbah cair yang dihasilkan berupa bahan organik padatan tersuspensi [3]. Metode a. Perancangan Bioreaktor Alat yang yang dirancang dalam penelitian ini adalah Bioreaktor yang dilengkapi dengan stirer, thermometer, manometer, dan selang sebagai lintasan gas yang dihasilkan. b. Persiapan bahan baku Dengan bahan baku limbah cair 60 liter, dilakukan analisa COD-BOD, dan pengukuran pH. Kemudian disiapkan starter yang dibuat dari EM4 sebanyak 3 liter. Kemudian difermentasi dalam bioreaktor selama 3 hari. c. Pengamatan Fermentasi Mengukur temperatur dan pH dalam reaktor, serta mengukur volume gas yang dihasilkan. Melakukan Tes uji nyala sebagai pembuktian bahwa terdapat gas methan dalam produk biogas. Analisa COD, BOD, dan TSS juga dilakukan terhadap bahan baku dan limbah sisa proses. Hasil dan Pembahasan Fermentasi Limbah Cair Tahu Starter EM4 dengan Pengenceran Tabel 2 memperlihatkan hasil fermentasi limbah cair tahu dengan starter EM4 Tabel 2. Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter EM4
Waktu (hari) 2 4 6 8 10 12 14 pH 6,6 6.5 6.3 6,0 6,0 5,5 5,6 T (C) 28,0 28,0 28,5 28,5 28,0 28,0 28,5 A1 A2 A3 Volume gas (cm ) A4 B1 B2 B3 B4 3

Fermentasi Limbah Cair Tahu Starter Feses dengan Pengenceran Tabel 3 memperlihatkan hasil fermentasi limbah cair tahu dengan starter feses Tabel 3. Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses
Waktu (hari) 2 4 6 8 10 12 14 pH 6,5 6,5 5,9 5,8 5,9 6,0 6,1 T (C) 29,0 28,9 28,5 28,0 28,5 29,0 29,0 C1 C2 Volume gas (cm ) C3 C4 D1 D2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2
3

D3 2 2 2 2 2 1

D4 1 1 1 2 2

Fermentasi Limbah Cair Tahu Starter EM4 dengan Variasi Pengenceran Tabel 4 memperlihatkan hasil fermentasi limbah cair tahu dengan starter EM4
307

Tabel 4 Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter EM4
Waktu (hari) 2 4 6 8 10 12 14 pH 6,5 6,5 6,0 6,6 6,6 6,8 6,5 T (C) 28,5 29,0 29,0 29,5 28,0 27,5 27,5 E1 Volume gas (cm ) E2 E3 E4 E5 E6 3

Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses Sapi Tabel 5 memperlihatkan hasil fermentasi limbah cair tahu dengan starter feses sapi Tabel 5. Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses Sapi
Waktu (hari) 2 4 6 8 10 12 14 pH 6,5 6,5 6,0 6,6 6,6 6,8 6,5 T (C) 28,5 29,0 29,0 29,5 28,0 27,5 27,5 F1 1 3 5 6 8 8 Volume gas (cm ) F2 F3 F4 F5 1 1 3 2 2 1 5 3 2 2 6 6 5 3 6 7 6 5
3

F6 1 2 2 3

Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses Sapi Tanpa Pengenceran Tabel 6 memperlihatkan Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses Sapi dan EM4 Tabel 6. Data Hasil Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Starter Feses Sapi dan EM4
Waktu (hari) 2 4 6 8 10 12 14 pH 6,5 6,5 5,9 5,8 5,9 6,0 6,1 T (C) 29,0 28,9 28,5 28,0 28,5 29,0 29,0 G1 2 6 22 47 72 125 133 G2 2 7 19 50 73 130 140 G3 3 8 27 63 81 142 168 Volume gas (cm ) G4 G5 G6 2 3 3 9 9 8 30 27 31 65 66 70 99 101 122 156 173 181 176 209 231
3

G7 4 10 33 75 130 193 259

G8 8 17 48 95 150 226 278

Analisa COD BOD Analisa COD dan BOD pada bahan baku dan hasil dilakukan untuk mengetahui perbandingan terhadap baku mutu limbah sisa proses, yang akan digunakan pada lingkungan. Adapun data yang dihasilkan dari hasil analisa terdapat dalam Tabel 7. Tabel 7. Data Hasil Pengujian Analisa COD dan BOD
Parameter Uji BOD (mg/L) COD (mg/L) TSS (mg/L) Awal 1354 985 1250 Penambahan Feses dan EM4 38550 29220 13445 Akhir 29040 14880 13407 308

Pembahasan Hubungan Pengenceran Terhadap Variasi EM4 Dari hasil pengamatan fermentasi selama 14 hari run A1-A4 dan B1-B4 sama-sama tidak menunjukkan adanya pembentukan biogas. Run A dengan volume limbah terhadap air sebesar 1:0 dan run B dengan perbandingan limbah dan air yaitu 1:1. Variasi EM4 yang digunakan yakni 5 ml; 10 ml; 15 ml; 20 ml. Fermentasi dengan atau tanpa pengenceran sama-sama tidak terbentuk biogas. Tidak terbentuknya biogas terjadi karena limbah cair industri hanya memiliki sedikit sekali mikroba yang dapat merombak limbah cair menjadi metana meskipun kandungan bahan organik limbah yang tinggi. Sedangkan mikroba yang terdapat dalam EM4 tidak mampu merombak substrat limbah menjadi metana. Jika fermentasi dilakukan sedikit lebih lama mungkin baru terbentuk gas. Namun hal ini tidak sesuai dengan tujuan awal penelitian yaitu memproduksi biogas dalam waktu yang relatif lebih singkat. Hubungan Pengenceran Terhadap Variasi Starter Feses Sapi Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perbedaan starter untuk fermentasi dapat mempengaruhi perolehan biogas. Bila digunakan starter yang banyak mengandung mikroba perombak substrat menjadi biogas tentu akan menghasilkan biogas yang lebih besar. Starter yang digunakan adalah starter umum yang telah dikenal mengandung mikroba penghasil metana yaitu feses sapi. Variasi berat feses yakni 0 gr; 10 gr; 15 gr; 20 gr. Perbandingan limbah terhadap air yang digunakan adalah 2:1 dan 1:1. Pengamatan terhadap run C1 dan C2 hingga hari ke-14 tidak diperoleh biogas. Hal ini dapat dimaklumi karena tidak menggunakan feses sapi sebagai starter fermentasi. C3 (air 50 ml) pada hari ke-8 sudah mulai terbentuk gas sedangkan C4 (air 100 ml) baru terbentuk biogas pada hari ke-10. Hal ini disebabkan karena air yang ditambahkan pada C4 lebih besar dua kali daripada C3. Volume biogas total yang terbentuk hingga hari ke-14 yaitu 4 cm3;C3 dan 3 cm3;C4. Pada run D1-D4 feses yang digunakan lebih besar sehingga volume biogas yang dihasilkan lebih besar. Berturut-turut volume total gas untuk D1;D2;D3;D4 adalah 6 cm3; 4 cm3; 11 cm3; 7 cm3. Dari pengamatan diperoleh bahwa penambahn air (pengenceran) bersifat menurunkan produksi biogas. Jumlah biogas D1>D2 dan D3>D4. Hal ini terjadi karena pada limbah cair tahu telah mengandung air dalam jumlah yang lumayan besar. Sehingga penambahan kadar air akan menurunkan konsentrasi substrat limbah cair tahu. Hubungan Fermentasi Limbah Cair Tahu Starter EM4 terhadap Variasi Pengenceran Dari hasil pengamatan fermentasi selama 14 hari run E1-E6 tidak ada satupun yang menunjukkan adanya pembentukan biogas. Tidak terbentuknya biogas terjadi karena limbah cair industri hanya memiliki sedikit sekali mikroba yang dapat merombak limbah cair menjadi metana meskipun kandungan bahan organik limbah yang tinggi. Sedangkan mikroba yang terdapat dalam EM4 tidak mampu merombak substrat limbah menjadi metana. Jika fermentasi dilakukan sedikit lebih lama mungkin baru terbentuk gas. Namun hal ini tidak sesuai dengan tujuan awal penelitian yaitu memproduksi biogas dalam waktu yang relatif lebih singkat. Hubungan Fermentasi Limbah Cair Tahu Tanpa Pengenceran Terhadap Variasi Feses Gambar 1 memperlihatkan Hubungan Antara Massa Starter dengan Volume biogas.

309

Hubungan Massa Starter Terhadap Volume Biogas

Volume Biogas

Massa Starter Feses Sapi

Gambar 1. Grafik Hubungan Antara Massa Starter dengan Volume biogas Berdasarkan gambar 1 dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan volume biogas yang diperoleh berbanding lurus dengan massa starter feses yang ditambahkan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan starter feses sapi untuk fermentasi mempengaruhi perolehan biogas. Starter feses sapi banyak mengandung mikroba perombak substrat menjadi biogas yang menghasilkan biogas lebih besar. Variasi berat feses yakni 105 gr; 120 gr; 135 gr; 150 gr; 165 gr; 180 gr; 195 gr; 210 gr. Volume limbah cair tetap 1500 ml dan EM4 125 ml. Pengamatan terhadap run G1 hingga G8 pada hari ke-2 setelah fermentasi tidak diperoleh biogas. Hal ini dapat dimaklumi karena bakteri masih beradaptasi dan belum mencerna substrat dengan baik hingga bermetabolisme menghasilkan biogas. Pada hari ke-4 semua run sudah mulai terbentuk gas. Hingga hari ke-14 fermentasi dihentikan diperoleh volume biogas run G1<G2<G3<G4<G5<G6<G7<G8. Hingga hari ke-14 fermentasi dihentikan diperoleh volume biogas run G1<G2<G3<G4<G5<G6<G7<G8. Volume biogas terbesar diperoleh pada run G8 dengan total volume biogas sebesar 822 cm3. Volume biogas terendah diperoleh pada run G1 dengan total volume biogas sebesar 407 cm3. Hal ini terjadi karena pada volume limbah cair tahu yang sama besar bila ditambahkan variasi berat starter feses maka akan memberikan variasi hasil biogas. Jumlah feses sapi yang lebih besar memiliki lebih banyak mikroba penghasil biogas. Sehingga dapat dikatakan makin besar jumlah starter feses sapi yang ditambahkan maka makin besar volume biogas yang diperoleh.

Hasil Pengujian BOD;COD dan TSS Menurut KepMenLH No. 51 Tahun 1995 nilai BOD;COD dalam limbah cair tahu harus diperhatikan sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam hal ini, limbah cair industri tahu tidak layak dibuang langsung ke lingkungan. Oleh karena itu, dari gambar di bawah ini dapat dilihat nilai BOD;COD selama proses fermentasi di dalam bioreaktor. Pada awal proses limbah tahu belum dicampur dengan feses, air maupun EM4, BOD/COD sebesar 1354 mg/L; 985 mg/L. setelah limbah dicampur feses dan EM4 siap untuk difermentasi nilai BOD;COD meningkat menjadi 38550 mg/L; 29220 mg/L. Setelah proses fermentasi 14 hari BOD;COD turun menjadi 29040 mg/L ; 14880
310

mg/L. Penurunan nilai BOD;COD disebabkan karena adanya peran aktif mikroba EM4 dalam merombak substrat. Selain itu juga penambahan EM4 mereduksi bau yang ditimbulkan proses fermentasi. Hasil analisa TSS limbah cair tahu awal sebelum proses sebesar 1250 mg/L. TSS naik menjadi 13445 mg/L setelah penambahan feses dan EM4 dimana sudah siap untuk difermentasi. Pada akhir proses fermentasi selama 14 hari TSS cenderung tidak jauh berbeda yaitu sebesar 13407 mg/L. Hal ini terjadi karena tidak ada penambahan bahan atau substrat lain selama proses fermentasi. Kesimpulan Biogas gas yang dihasilkan dari penguraian mikroorganisme limbah organik melalui reaksi fermentasi anaerob, mempunyai laju rata-rata sebesar 58,71 cm3/hari. Hasil optimum pada fermentasi 1500 ml limbah cair dengan 210 gr starter feses sapi dan 125 ml EM4 pada temperatur 29 oC dan pH 6,1 dan pada waktu hari ke-14 fermentasi, total volume gas yang dihasilkan 822 cm3, dan laju rata rata gas perhari sebesar 58,71 cm3. Referensi
[1] Aprianti, Y. 2006. Pencipta Reaktor Biogas. http://www.tokohindonesia.com /aneka/penemu/indonesia/andrias-wiji/index.shtmtl. [23 April 2007] [2] Construction option for RABR Remote Area Biogas Reactor, 2003, dalam Biogas Support Program (BSP), SNV-Nepal [3] Ginting, N. 2007. Penuntun Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah Peternakan. Universitas Sumatera Utara Medan. http://wwwusu.ac.id./fakultas peternakan. [26 April 2007]

311