Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Obat adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi penyembuhan, penurunan atau pencegahan penyakit. Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor. Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung). Obatobatan misalnya gas anastesi umum, berinteraksi dengan membrane sel, setelah sifat sel berubah, obat mengeluarkan pengaruhnya. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. Reseptor melokalisasi efek obat. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. Obat dan reseptor saling berikatan kuat, ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan.

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui perundang-undangan tentang Obat, Pengobatan dan Prinsip Pemberian Obat 2. Tujuan Khusus Menjelaskan tentang obat Menjelaskan tentang cara pengobatannya Menjelaskan tentang cara pemberian obat
1

BAB II PEMBAHASAN

A. OBAT 1. Pengertian Obat Obat adalah zat yang digunakan dalam diagnosis , terapi,penyembuhan, penurunan atau pencegahan penyakit 2. Pemberian Obat Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki kesehatan. Perawat bertanggung jawab memehami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat,memantau respons klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Perawat harus memahami masalah klien saat ini dan sebelumnya. Pertimbangan perawat penting dalam pemberian obat yang tepat dan aman.

B. UNDANG UNDANG DAN STANDAR OBAT a. Undang Undang Pasal 61 Ayat (1) Perbekalan kesehatan merupakan unsur penting dalam upaya kesehatan khususnyaobat, bahan obat, dan alat kesehatan. Oleh sebab itu, jumlahnya harus memadai,mudah didapat, mutunya baik, harganya terjangkau.Ayat (2 ) Cukup jelas Ayat (3) Bantuan pemerintah dalam penyediaan perbekalan kesehatan dapat berupa kemudahandalam pendirian unit produksi, perizinan, dan sebagainya.

Pasal 62 Ayat (1)Potensi nasional adalah bahan yang tersedia dan digali dari bumi Indonesia untukdigunakan sebagai obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetika, dan alat kesehatan.Dalam pemanfaatan potensi nasional tersebut termasuk meningkatkan daya saing terhadap produk luar negeri.

b. Standar Obat Dokter, Perawat dan ahli Farmasi menggunakan standar obat untuk memastikan klien menerima obat yang alami dalam dosis yang aman dan efektif. Standar yang diterima masyarakat harus memenuhi kriteria berikut: 1. Kemurnian Pabrik harus memenuhi standar kemurnian untuk tipe dan konsentrasi zat lain yang diperbolehkan dalam produksi obat.

2. Potensi Konsentrasi obat aktif dalam preparat obat memengaruhi kekuatan atau potensi obat. 3. Bioavailability Kemampuan obat untuk lepas dari bentuk dosisnya dan melarut, diabsorbsi , dan diangkut tubuh ketempat kerjanya disebut bioavailability. 4. Kemanjuran Pemeriksaan laboratorium yang terinci dapat membantu

menentukan efektivitas obat. 5. Keamanan Semua obat harus terus dievaluasi untuk menentukan efek samping obat tersebut.

UNDANG UNDANG DAN KONTROL - Perawat harus mengetahui peraturan yang memengaruhi penatalaksanaan pengobatan di area praktik mereka. - Sebelum menerima tanggung jawab dalam memberi obat intravena, perawat harus berhati-hati terhadap kebijakan administrative yang berlaku di institusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena suntikan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius, perawat yang melaksanakan fungsi ini harus berkualitas, telah mengikuti dan memiliki pendidikan dan pengalaman terkait.

- Perawat harus mengetahui peraturan yang memengaruhi penatalaksanaan pengobatan di area praktik mereka. - Sebelum menerima tanggung jawab dalam memberi obat intravena, perawat harus berhati-hati terhadap kebijakan administrative yang berlaku di institusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena suntikan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius, perawat yang melaksanakan fungsi ini harus berkualitas, telah mengikuti dan memiliki pendidikan dan pengalaman terkait. - Perawat bertanggung jawab mengikuti ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (obat yang memengaruhi pikiran atau perilaku), yang hanya dapat dikeluarkan jika diresepkan. Pelanggaran terhadap Controlled Substances Act dihukum dengan dikenakan denda, dipenjarakan dan ijinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit dan institusi perawatan kesehatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpanan dan pendistribusian zat terkontrol yang benar, termasuk narkotik.

a. Mekanisme kerja obat - Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membran sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor. - Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung). Obat-obatan misalnya gas anastesi umum, berinteraksi dengan membrane sel, setelah sifat sel berubah, obat mengeluarkan pengaruhnya. - Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. - Reseptor melokalisasi efek obat. - Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. - Obat dan reseptor saling berikatan kuat, ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan. b. Farmakokinetik Adalah ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh. Dokter dan Perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat, memilih rute pemberian obat, menilai resiko perubahan kerja obat, dan mengobservasi respons klien. 1. Absorpsi Adalah cara molekul obat masuk kedalam darah. Kebanyakan obat, kecuali obat yang digunakan secara topical untuk memperoleh efek local, harus masuk kedalam sirkulasi sistemik untuk menghasilkan efek yang terapeutik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain : - Rute pemberian obat, memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat, bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relative tidak dapat ditembus zat kimia, sehingga absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar. Karena obat yang diberikan peroral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi, kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi Intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk kedalam sirkulasi sistemik. - Daya larut obat, yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut. Larutan dan suspensi, yang tersedia dalam bentuk cair, lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. Obat yang bersifat basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus. - Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik. - Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah. - Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan.

- Otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan per intramuskuler (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan lewat per subkutan. - Pada beberapa kasus , absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. - Apabila perfusi jaringan klien buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi , rute pemberian obat yang terbaik adalah melalui intravena. - Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat. - Obat oral lebih mudah diabsorpsi, jika diberikan diantara waktu makan. Saat lambung terisi makanan, isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum, sehingga absorpsi obat melambat. - Beberapa makanan dan antacid membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna, contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama makan. - Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan, misalnya zat besi dapat mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan.

2. Distribusi - Setelah diabsorpsi, obat didistribusikan di dalam tubuh kejaringan dan organ tubuh dan akhirnya ketempat kerja obat tersebut. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya. 3.Berat dan komposisi tubuh - Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan. - Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna, misalnya pada klien lansia. - Semakin kecil berat badan klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya, dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. 4.Dinamika Sirkulasi - Obat lebih mudah keluar dari ruang interstisial kedalam ruang intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. - Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut, kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum. - Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat vasodilatasi atau vasokonstriksi local, dan kecepatan aliran darah

kesebuah jaringan. Contoh, jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intra muskuler, akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan distribusi obat. - Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotic yang langsung disuntikkan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. Klien lansia dapat menderita efek samping (mis.konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah otak karena masuknya obat larutlemak kedalam otak lebih mudah. 5. Ikatan Protein - Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum, misalnya albumin, memengaruhi distribusi obat. - Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. - Ketika molekul obat terikat pada albumin, obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. Obat yang tidak berikatan atau bebas adalah bentuk aktif obat. - Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah, kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati, akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat, toksisitas obat, atau keduanya. Metabolisme - Setelah mencapai tempat kerjanya, obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif, sehingga lebih mudah di eksresi. - Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi, mengurai (memecah), dan melepas zat kimia aktif secara biologis.
10

- Kebanyakan biotransformasi berlangsung di dalam hati, walaupun paru-paru, ginjal, darah dan usus juga memetabolisasi obat. - Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik. - Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan. - Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. - Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh, akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. Eksresi - Setelah dimetabolisme, obat keluar dari tubuh melalui ginjal, hati, usus dan kelenjar eksokrin. - Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak, ketika obat keluar melalui kelenjar keringat, kulit dapat mengalami iritasi - Perawat membantu klien melakukan praktik hygiene yang baik untuk meningkatkan kebersihan dan intergritas kulit - Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae, bayi yang disusui dapat mengabsorpsi zat kimia obat tersebut, resiko pada bayi yang menerima obat dan resiko pada ibu yang tidak mendapatkan obat harus dipertimbangkan dengan cermat.

11

- Saluran cerna adalah jalur lain eksresi obat. Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan dieksresi kedalam empedu. Setelah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu, zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus - Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic, misalnya laksatif dan enema, mempercepat eksresi obat melalui feses, sedangkan factor-faktor yang memperlambat misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat akan memperpanjang efek obat. - Ginjal adalah organ utama eksresi obat, apabila fungsi ginjal menurun, yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan, risiko toksisitas meningkat - Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat dosis obat perlu dikurangi - Apabila asupan cairan yang normal dipertahankan, obat akan dieliminasi dengan tepat. Efek Samping - Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan, efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera.

- Contoh penggunaan obat kodein fosfat dapat membuat seorang klien mengalami konstipasi ini dianggap tidak berbahaya, namun digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang dapat menyebabkan kematian. Efek Toksik - Umumnya efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama - Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien
12

- Jumlah obat yang berlebihan didalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan, bergantung pada kerja obat. Reaksi Alergi - Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat - Dari seluruh reaksi obat 5 % sampai 10% merupakan reaksi alergi. - Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respons alergi terhadap obat, zat pengawet obat, atau metabolitnya. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen, memicu pelepasan antibody. - Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. - Gejala alergi bervariasi, bergantung pada individu dan obat. Gejala alergi yang umum antara lain adalah urtikaria, ruam, pruritus,rhinitis

- Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaksis di tandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus, edema faring dan laring, mengi berat dan sesak napas. - Klien juga dapat mengalami hipotensi berat. - Klien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut. Interaksi Obat - Apabila suatu obat memodifikasi kerja obat yang lain, terjadi interaksi obat

13

- Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat - Apabila dua obat diberikan secara bersamaan, kedua obat tersebut dapat memiliki efek yang sinergis atau adiktif - Dengan efek sinergis, kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila diberikan terpisah. - Interaksi obat selalu diharapkan, seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik. Contoh, klien yang menderita hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat, misalnya diuretic dan vasodilator, yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada kadar yang diinginkan.

Respons Dosis Obat - Tujuan suatu obat deprogram ialah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman - Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). Ketika absorpsi berhenti ,hanya metabolisme, eksresi dan distribusi yang berlanjut - Konsentrasi serum tertinggi obat biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorpsi. Setelah mencapai puncak, konsentrasi serum turun bertahap - Pada penginfusan obat intravena, konsentrasi puncak dicapai dengan cepat, tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat.
14

- Semua obat memiliki waktu paruh serum, yakni waktu yang diperlukan proses eksresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai setengahnya. - Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian dosis. Dengan mengetahui interval waktu kerja obat, perawat dapat mengantipasi efek suatu obat : 1. Awitan kerja obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons muncul setelah obat diberikan 2. Kerja puncak obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi dicapai 3. Durasi kerja obat : Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respons 4. Plateau : Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat yang sama kembali diberikan Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat 1. Perbedaan Genetik - Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat - Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama, factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat, akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat.

15

2. Variabel fisiologis - Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu - Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama - Usia berdampak langsung pada kerja obat - Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan memengaruhi respons terhadap terapi obat. Pengaruh Kerja Obat Pada Lanjut Usia

16

3. Kondisi Lingkungan - Stres fisik dan emosi yang berat - Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan aktivitas enzim - Panas dan dingin . Klien hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol tekanan darahnya. Pada cuaca panas, dosis perlu dikurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokonstriksi, sehingga dosis perlu ditambah. - Klien yang dirawat di isolasi , dan diberi obat analgesic memperoleh efek pereda nyeri lebih kecil disbanding klien yang dirawat di ruang biasa 4. Faktor psikologis

17

- Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh keluarga, anak-anak yang sering melihat orang tuanya minum obat akan cepat terpengaruh dengan kebiasaan orang tuanya tersebut. - Sebuah obat dapat digunakan untuk mengatasi rasa tidak aman, pada situasi ini, klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan - Obat seringkali memberi rasa aman. Penggunaan secara teratur obat tanpa resep atau obat yang dijual bebas, misalnya vitamin, laksatif dll. - Perilaku perawat saat memberikan obat dapat berdampak secara signifikan pada respons klien terhadap pengobatan. 5. Diet - Interaksi obat dan nutrient dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient. - Klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi - Menahan konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.

C. RUTE PEMBERIAN OBAT - Pilihan rute pemberian obat bergantung pada kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik dan mental klien - Perawat sering terlibat dalam menentukan rute pemberian obat yang terbaik dengan berkolaborasi dengan dokter.
18

Rute Oral 1. Pemberian Oral - Paling mudah dan paling umum digunakan - Obat diberikan melalui mulut dan ditelan - Lebih murah 2. Pemberian Sublingual - Dirancang supaya, setelah diletakkan di bawah lidah dan kemudian larut, mudah di absorpsi - Obat yang diberikan dibawah lidah tidak boleh ditelan - Bila ditelan, efek yang diharapkan tidak akan dicapai - Klien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut. 3. Pemberian Bukal - Rute bukal dilakukan dengan menempatkan obat padat di membrane mukosa pipi sampai obat larut - Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis obat secara bergantian di pipi 4. kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi - Klien juga diperingatkan untuk tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air bersama obat

19

- Obat bukal bereaksi secara local pada mukosa atau secara sistemik ketika obat ditelan dalam saliva.

Keuntungan Pemberian Obat Rute Oral, Bukal, Sublingual - Rute ini cocok dan nyaman bagi klien - Ekonomis - Dapat menimbulkan efek local atau sistemik - Jarang membuat klien cemas Kerugian o Rute ini dihindari bila klien mengalami perubahan fungsi saluran cerna, motilitas menurun dan reaksi bedah bagian saluran cerna o Beberapa obat dihancurkan oleh sekresi lambung o Rute oral dikontraindikasikan pada klien yang tidak mampu menelan (mis, klien yang mengalami gangguan neuromuscular, striktur (penyempitan) esophagus, lesi pada mulut. o Obat oral tidak dapat diberikan kepada klien yang terpasang pengisap lambung dan dikontraindikasikan pada klien yang akan menjalani pembedahan atau tes tertentu o Klien tidak sadar atau bingung, sehingga tidak mampu menelan atau mempertahankan dibawah lidah o Obat oral dapat mengiritasi lapisan saluran cerna, mengubah warna gigi atau mengecup rasa yang tidak enak.

20

Rute Parenteral Adalah memberikan obat dengan menginjeksinya kedalam jaringan tubuh, pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut : 1. Subcutan(SC), injeksi kedalam jaringan tepat dibawah lapisan dermis kulit 2. Intradermal (ID), injeksi kedalam drmis tepat dibawah epidermis 3. Intramuskular (IM), injeksi kedalam otot tubuh. 4. Intravena (IV), suntikan kedalam vena Keuntungan dari rute parenteral : - Digunakan jika rute oral di kontraindikasikan - Absorbsi lebih cepat - Memungkinkan pengantaran obat saat klien dalam kondisi kritis atau terapi jangka panjang - Jika perfusi perifer buruk, rute IV lebih dipilih Kerugian - Resiko infeksi dan obat mahal - Klien berulang kali disuntik - Rute SC, IM, dan Intradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami perdarahan - Risiko kerusakan jaringan pada injeksi SC

21

- Rute IM dan IV berbahaya karena absorpsinya cepat - Rute ini menimbulkan rasa cemas yang cukup besar pada banyak klien khususnya anak-anak. Pemberian Topikal - Obat yang diberikan melalui kulit dan membrane mukosa - Menimbulkan efek local - Pemberian topical dilakukan dengan mengoleskannya disuatu daerah kulit, memasang balutan yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan, atau menyediakan air mandi yang dicampur obat - Efek sistemik timbul, jika kulit klien tipis, konsentrasi obat tinggi, atau jika obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu lama - Metode pengantaran obat ini menjamin klien menerima kadar obat secara kontinu dalam darahnya, bukan kadar yang terputus-putus, seperti yang terjadi pada pemberian obat dalam bentuk oral atau injeksi - Dapat diberikan sekurang-kurangnya 24 jam sampai tujuh hari - Obat juga dapat diberikan pada membrane mukosa, biasanya diabsorpsi lebih cepat. Pemberian Melalui Endotrakea atau Trakea - Dalam situasi kedaruratan, jika klien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea klien.

22

- Perawat yang turut dalam melakukan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini. Intraokuler - Pemberian dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip sebuah lensa kontak, kedalam mata klien - Obat mata berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat. - Cakram diinsersi kedalam mata klien, sangat mirip lensa kontak - Cakram dapat tetap didalam mata klien selama satu minggu - Pilokarpin, obat yang digunakan untuk mengobati glaucoma, adalah cakram obat yang paling sering digunakan

PRINSIP 6 ( ENAM ) BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT 1.Benar Pasien

Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.
23

2.Benar Obat

Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.

Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.

3.Benar Dosis

Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya.

Misalnya ondansentron 1 amp, dosisnya berapa ? Ini penting !! karena 1 amp ondansentron dosisnya ada 4 mg, ada juga 8 mg. ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. jadi Anda harus tetap hati-hati dan teliti.
24

4.Benar Cara/Rute

Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.

a. Oral

Adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.

b. Parenteral

Kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).

c. Topikal

Yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.

d. Rektal

Obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti

25

konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria. e. Inhalasi

Yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.

5.Benar Waktu

Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.

26

6. Benar Dokumentasi

Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.

D. KESALAHAN PENGOBATAN

Kesalahan pengobatan adalah suatu kejadian yang dapat membuat klien menerima obat yang salah atau tidak mendapat terapi obat yang tepat

Kesalahan pengobatan dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat dalam pembuatan resp, transkripsi, persiapan, penyaluran, dan pemberian obat

Sistem penyaluran obat di rumah sakit harus dirancang supaya ada sebuah sistem pemeriksaan dan keseimbangan, hal ini akan membantu mengurangi kesalahan pengobatan.

Perawat sebaiknya tidak menyembunyikan kesalahan pengobatan. Perawat bertanggung jawab melengkapi laporan yang menjelaskan sifat insiden tersebut Laporan insiden bukan pengakuan tentang suatu kesalahan atau menjadi dasar untuk memberi hukuman dan bukan merupakan bagian catatan medis klien yang sah.

27

E. PERTIMBANGAN KHUSUS PEMBERIAN OBAT PADA KELOMPOK USIA TERTENTU

Tingkat perkembangan klien adalah faktor yang menentukan cara perawat memberikan obat. Pengetahuan tentang perkembangan klien membantu perawat mengantisipasi respons klien terhadap terapi obat. A. Bayi dan Anak - Usia, berat badan,, area permukaan tubuh, dan kemampuan mengabsorbsi, dan mengekresi obat pada anak berbeda-beda. - Dosis untuk anak lebih rendah daripada dosis pada dewasa, sehingga perhatian khusus perlu diberikan dalam menyiapkan obat untuk anak. - Obat biasanya tidak disiapkan dan dikemas dalam rentang dosis yang standarisasi untuk anak. - Orang tua adalah sumber yang berharga dalam mempelajari cara terbaik pemberian obat pada anak - Semua anak memerlukan persiapan psikologis khusus sebelum menerima obat. - Supaya anak kooperatif, perawatan diperlukan yang suportif. - Perawat menjelaskan prosedur kepada anak, menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana, yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak

28

- Anak kecil yang menolak bekerjasama dan terus menolak , walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik, apabila hal ini terjadi, lakukan dengan cepat dan hati-hati. - Jika anak dan orang tuanya dapat dilibatkan, perawat kemungkinan akan lebih berhasil dalam memberikan obat. - Ijinkan anak menetapkan pilihan - Jangan pernah memberikan anak pilihan untuk tidak meminum obatnya - Setelah obat diberikan, perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan hadiah kecil.

B. Lansia Pemberian obat pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusus Perubahan fisiologis penuaan, faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia Individu berusia lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak

(Eberson,Hess,2994) Perawat yang memberi obat kepada lansia harus mencermati lima pola penggunaan obat oleh klien lansia Menurut Ebersole dan Hess (1994), mengidentifikasi pola penggunaan obat pada lansia :

29

a.

Polifarmasi, artinya klien menggunakan banyak obat, yang diprogramkan atau tidak, sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan. Apabila ini terjadi, ada risiko interaksi obat dengan obat lain dan makanan, klien juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadap pengobatan.

b.

Meresepkan obat sendiri. Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia, misalnya nyeri, konstipasi, insomnia dan ketidakmampuan mencerna. Lansia seringkali berupaya mencari pereda gangguan yang mereka alami dengan menggunakan preparat yang dijual bebas, obat-obatan rakyat dan jamu-jamuan.

c.

Obat yang dijual bebas , obat yang dijual bebas digunakan oleh 75 % lansia untuk meredakan gejala

d. e.

Penggunaan obat yang salah Ketidakpatuhan, diartikan penggunaan obat yang salah secara disengaja. Dari semua populasi lansia, 75% diantaranya tidak mematuhi program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat karena obat dirasa tidak efektif atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.

PEMBERIAN OBAT ORAL

Cara pemberian obat yang paling aman Paling mudah diberikan, kecuali klien ada gangguan fungsi cerna dan tidak mampu menelan Kebanyakan tablet dan kapsul harus diberikan bersama cairan dalam jumlah yang adekuat, - Untuk klien yang terpasang selang nasogastrik, obat-obatan cair lebih dipilih Jika tablet atau kapsul dibuka terlebih dahulu dan dicampur dengan air

- Pada saat memberikan obat oral, perawat harus melindungi klien dari kemungkinan aspirasi

30

Posisi duduk atau berbaring miring akan mencegah akumulasi obat cair atau padat di belakang tenggorok Klien yang menelan dengan lambat sebaiknya tidak dipaksa untuk minum banyak cairan setiap kali menelan. Apabila klien mulai batuk ketika minum obat, perawat harus menunda pemberian sisa obat sampai klien dapat bernapas dengan mudah Apabila klien sulit menelan tablet, bentuk obat lain dapat dipertimbangkan, misalnya supositoria .Beberapa Langkah Pemberian Obat Oral

PEMBERIAN INJEKSI

Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan tekhnik steril Setelah jarum menembus kulit, muncul resiko infeksi Rute yang diberikan perawat adalah rute SC, IM, ID dan IV Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantng pada kecepatan absorbsi obat Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat. Langkah Langkah Mencegah Infeksi Selama Injeksi

31

- Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat, jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka - Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis, sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum dll) - Untuk mencegah kontaminasi spuit , jangan sentuh badan pengisap atau bagian dalam karet. Jaga ujung spuit tetap tertutup penutup atau jarum - Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kotoran, drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan. - Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptik. Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.

32

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Obat adalah zat yang digunakan dalam diagnosis , terapi,penyembuhan, penurunan atau pencegahan penyakit Pasal 61 Ayat (1)Perbekalan kesehatan merupakan unsure penting dalam upaya kesehatan khususnya obat, bahan obat, dan alat kesehatan. Oleh sebab itu, jumlahnya harus memadai, mudah didapat, mutunya baik, harganya terjangkau.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Bantuan pemerintah dalam penyediaan perbekalan kesehatan dapat berupa kemudahandalam pendirian unit produksi, perizinan, dan sebagainya. Pasal 62 Ayat (1) Potensi nasional adalah bahan yang tersedia dan digali dari bumi Indonesia untuk digunakan sebagai obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetika, dan alat kesehatan. Dalam pemanfaatan potensi nasional tersebut termasuk meningkatkan daya saing terhadap produk luar negeri.

PRINSIP 6 ( ENAM ) BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT 1. Benar Pasien 2. Benar Obat 3. Benar Dosis
33

4. Benar Cara/Rute 5. Benar Waktu 6. Benar Dokumentasi

B. SARAN Sebaiknya setelah makalah ini di baca agar para pembaca terutama mahasiswa/I dapat mengetahui informasi yang ada di dalam makalah ini dan berguna bagi kedepan nya.

34