Anda di halaman 1dari 9

NAMA NIM TUGAS

: SELAMAT ARYADI : 100402023 : LAPORAN ELDA

1. APLIKASI THYRISTOR SEBAGAI PENGONTROL MOTOR DC Seperti diketahui bahwa thyristor merupakan sakelar DC yang penutupan dan pembukaan kontak antara anoda (A) dan katoda (K) dilakukan dengan mengatur arus gate (Ig). Apabila arus gate (Ig) harganya di bawah arus holding current (Ih) maka kontak antara anoda dan katoda dari thyristor belum dapat melakukan penutupan atau kontaknya masih tetap membuka. Dalam kondisi demikian maka tidak akan terjadi pengaliran arus dari anoda ke katoda (Ia-k) atau dengan kata lain thyristor tidak menghantarkan arus atau belum conduct sehingga motor DC belum berputar. Jika harga Ig lebih besar dari harga Ih, maka antara anoda dan katoda dari thyristor akan terjadi penutupan sehingga menjadi conduct, mengakibatkan motor berputar (Oman Sumantri, 1993). Disamping digunakan sebagai sakelar DC, thyristor juga digunakan sebagai pengatur daya yang diberikan pada beban. Pengaturan daya yang diberikan pada motor dilakukan dengan mengatur besar kecilnya arus gate (Ig), sehingga putaran motor DC kecepatannya dapat diatur. Perhatikan gambar 8, disini rangkaian motor DC dikontrol oleh sumber tegangan DC gelombang penuh dengan menggunakan thyristor. Apabila digunakan osiloskop untuk melihat bentuk tegangan thyristor akan tampak seperti pada gambar 9. Pada gambar tersebut diperlihatkan bentuk arus beban, arus gate dan bentuka arus sumber yang diberikan pada thyristor.

Gambar 9. Rangkaian motor DC dikontrol oleh tegangan DC gelombang penuh dengan thyristor Berdasarkan gambar 9 dapat dilihat bahwa dengan tegangan DC gelombang penuh tanpa filter, maka SCR masih mengalami off maka arus pada setiap setengah gelombang turun ke bawah holding current (Ih). Karena itu untuk setengah gelombang berikutnya SCR tetap membutuhkan pentrigeran lagi atau triger tidak dapat dilepas. Dengan dipasangnya kapasitor C paralel dengan R2 sebesar 7 K pada rangkaian gate, akan meyebabkan timbulnya pergeseran fase sehingga pada setengah gelombang pertama akan terjadi penundaaan waktu dalam pentrigeran. Kalau Rnya makin besar maka waktu yang diperlukan mengisi C semakin cepat. Jika R-nya kecil maka waktu pengisian C makin lama dan bila pengisian C makin lama maka waktu untuk pentrigeran juga semakin lama. Apabila rangkaian penyearah gelombang penuh terdapat dalam gambar 8 dipasang suatu filter C sebesar 40 F maka arus thyristor atau arus beban tidak akan pernah turun ke bawah holding current. Perhatikan gambar 10. Karena arus tidak turun ke bawah holding current (Ih), maka sekali ditriger thyristor itu akan conduct meskipun trigernya dilepas. Begitu pula kecepatan putaran motor sudah tidak dapat diatur lagi. SCR dapat kembali off bila bebannya diturunkan terus sehingga arus beban turun ke bawah holding current atau sumber tegangannya di-off-kan dahulu.

2. APLIKASI SCR SEBAGAI PENGONTROL MOTOR AC Apabila SCR digunakan untuk mengontrol sumber AC, selain dapat mengatur daya listrik yang diberikan kepada beban juga berfungsi sebagai penyearah. Motor AC dalam rangaian ini tentu saja dapat dikontrol dengan thyristor, karena motor AC tersebut dirancang untuk dapat dioperasikan pada tegangan AC dan tegangan DC. Jenis motor seperti ini disebut motor universal.

Gambar 10. Rangkaian motor universal dikontrol dengan thyristor menggunakan tegangan AC Motor AC dalam rangkaian ini tentu saja dapat dikontrol dengan SCR, karena motor AC tersebut dirancang untuk dapat dioperasikan pada tegangan AC dan tegangan DC. Jenis motor seperti ini disebut motor universal. Dalam prakteknya untuk lebih aman maka R untuk tegangan gate harus dibuat tetap agar tegangan maksimum antara gate dengan katoda tidak dilampaui. Besarnya tegangan gate maksimum (Ug maks) dapat dihitung dengan rumus :

Selanjutnya bentuk arus beban dan arus gate dengan menggunakan R dan C dapat dilihat pada gambar 12. Dengan menggunakan tahanan R2 sebagai penentu tegangan gate maksimum, maka daya yang dapat seluruhnya diserahkan kepada beban. Jika dalam gambar 12.a tahanan R2 diganti dengan kapasitor C sebagai penentu tegangan gate, maka daya listrik tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada motor karena adanya penundaan waktu pentrigeran untuk setiap setengah periode seperti ditunjukkan pada gambar12.b. Dengan demikian maka penggunaan sistem arus gate yang berbeda akan menyebabkan kecepatan putaran motor yang berbeda pula.

3. Aplikasi Kontrol Switch Menggunakan Silicon Controlled Rectifier (SCR) Melalui Parallel Port Secara keseluruhan rangkaian yang didesain sesuai dengan blok diagram seperti pada Gambar 3. Bagian Personal Computer (PC) merupakan pusat pengendali alat. Di dalam PC terdapat program yang dibuat menggunakan bahasa pemograman Ezy Pascal dan berfungsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkan beban. Dengan program yang dibuat, PC akan mengirimkan bit-bit kendali melalui parallel port kepada rangkaian switch sehingga beban dapat dikendalikan. Untuk memudahkan pengamatan maka pada bagian beban dipasang 8 buah lampu pijar, masing-masing lampu mempunyai daya 5 Watt dan tegangan 220 Volt, yang digunakan sebagai indikator beban.

Keterangan Pada penelitian ini, standar parallel port yang digunakan adalah Standard Printer Port (SPP), konektor DB- 25 dengan label LPT1 yang beralamat $378 - $37F. Register data yang beralamat $378 digunakan untuk mengeluarkan data pada jalur data parallel port (pin 2 sampai dengan pin 9) sehingga dapat mengkontrol 8 beban sekaligus. Indikator beban menggunakan 8 buah lampu pijar sebagai indikator berfungsi atau tidaknya aplikasi sistem yang dirancang. Catu daya yang digunakan adalah catu DC (Direct Current) sebesar 5 Volt digunakan untuk memberi catu kepada optocoupler dan kaki gate SCR sebagai trigger sedangan tegangan AC (Alternating Current) jala-jala PLN 220 Volt digunakan untuk memberi catu ke lampu melalui anoda-katoda SCR. Rangkaian switch terdiri atas Silicon Controlled Rectifier (SCR) dan optocoupler. SCR yang digunakan adalah jenis 2P4M dan tipe optocoupler yang dipakai adalah 817B1. Gambar 4 memperlihatkan rangkaian switch keseluruhan yang dibuat. Rangkaian switch akan menerima data input dari PC melalui parallel port sebanyak 8 saluran dari D0 sampai D7 dan masing-masing saluran akan mengeluarkan level tegangan 1 (high) atau level tegangan 0 (low).

4. Aplikasi Triac rangkaian penghubung arus AC pada motor Skema rangkaian penghubungan triac yang dioperasikan dari sumber ac diperlihatkan pada Gambar 5.

Gambar 5 Rangkaian penghubungan triac ac Jika tombol tekan PB1 dipertahankan tertutup, arus trigger terus-menerus diberikan pada gerbang. Triac menghantarkan pada kedua arah untuk menghubungkan semua tegangan ac yang diberikan pada beban. Jika tombol tekan dibuka, triac kembali OFF atau mati, apabila tegangan sumber ac dan penahanan arus turun menjadi nol atau polaritas terbalik. Perhatikan bahwa tidak seperti output dari rangkaian SCR yang sama, output rangkaian ini adalah arus bolak-balik, bukan arus searah.

Gambar 6 Aplikasi triac pada rangkaian penghubungan arus pada motor Satu aplikasi umum dari triac adalah penghubungan arus ac pada motor ac. Rangkaian penghubungan motor triac pada Gambar 6 menggambarkan kemampuan triac untuk mengontrol jumlah arus beban yang besar dengan jumlah arus gerbang yang kecil. Aplikasi ini akan bekerja seperti relay solid-state. Transformator penurun tegangan 24 V digunakan untuk mengurangi tegangan pada rangkaian thermostat. Tahanan membatasi jumlah aliran arus pada rangkaian gerbang-MTl ketika thermostat terhubung kontaknya untuk menswitch triac dan motor ON. Ukuran kerja arus maksimum dari kontak thermostat jauh lebih rendah

dibandingkan dengan arus kerja triac dan motor. Jika thermostat yang sama dihubungkan seri dengan motor untuk mengoperasikan motor secara langsung, kontak akan dihancurkan dengan aliran arus yang lebih besar.

Triac dapat digunakan untuk merubah arus ac rata-rata menjadi beban ac seperti terlihat pada Gambar 7. Rangkaian trigger mengontrol titik dari bentuk gelombang ac di mana triac yang dihubungkan ON. Bentuk gelombang yang terjadi adalah masih arus bolak-balik, tapi arus rata-rata diubah. Pada rangkaian penerangan, perubahan arus menjadi lampu pijar akan merubah jumlah cahaya yang dipancarkan oleh lampu. Jadi, triac dapat digunakan sebagai pengontrol keredupan cahaya. Pada rangkaian motor yang sama, perubahan arus itu akan merubah kecepatan motor. Diac adalah alat seperti transistor dua terminal yang digunakan untuk mengontrol trigger SCR dan triac. Tidak seperti transistor, dua sambungan diac diberi bahan campuran yang sama kuat dan sama. Simbol diac memperlihatkan bahwa diac bertindak seperti dua dioda yang menunjuk pada arah yang berbeda. Arus mengalir melalui diac (pada salah satu arah) ketika tegangan antaranya mencapai tegangan breakover yang diratakan. Pulsa arus yang dihasilkan ketika diac berubah dari status non-induksi ke status konduksi digunakan untuk pentriggeran gerbang SCR dan triac.

Diac Sebagai DRIMMER

DIAC banyak digunakan sebagai pemicu rangkaian pengendali daya yang menggunakan TRIAC. Gambar 4-3, memperlihatkan salah satu contoh rangkaian yang memperlihatkan peran DIAC dalam rangkaian pengendali daya.

Gambar 4-3. Aplikasi DIAC dalam rangkaian pengendali daya.

Jika tegangan pengisian kapasitor telah mencapai breakover DIAC, maka DIAC akan menghantar sehingga kapasitor akan menggosongkan muatannya melalui DIAC dan gate-TRIAC. Arus penggosongan kapasitor merupakan pulsa penyulut yang digunakan oleh TRIAC sebagai pengendali. Jika beban sebenarnya bersifat induktif, maka perlu dipasang rangkaian R dan C secara parallel terhadap TRIAC untuk mengatur komutasi TRIAC.