Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang termasuk tinggi dalam usaha peternakan. Hal ini karena metabolisme dalam tubuh induk yang menyusui sangat tinggi selama periode laktasi, terutama pada saat puncaknya. Secara kualitatif komposisi air susu dari berbagai spesies hewan adalah hampir sama. Namun, apabila diteliti akan terdapat perbedaan pada komponenkomponennya. Misalnya protein dan lemak dari spesies yang satu akan berbeda dengan spesies yang lain. Komposisi air susu dari beberapa spesies konstituen terbanyak dari air susu semua spesies adalah air, yang berkisar dari 80.1% sampai 87.5%. Juga terdapat kisaran yang tinggi dari mineral dan komponen lain seperti asam amino, kreatin, urea, albumin yang larut dalam air. Laktose, enzim-enzim, vitamin-vitamin yang larut dalam air. Kesemuanya terdapat dalam keadaan suspensi koloidal dalam komponen-komponen air dari kalsium dan fosfor, kasein protein dan globula lemak. Lemak mengandung gliserida, fosfolipida, kolesterol, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, bermacam-macam pigmen, protein, serta logam-logam berat tertentu. Nilai yang sebenarnya dari air susu adalah terletak pada kandungan bahan padat tak mengandug lemak (solids not fat) atau SNF, yaitu bahan kering yang tertinggal setelah lemak air susu dihilangkan. 1.2 Rumusan Masalah a. Apa yang dimaksud dengan laktasi dan sebutkan jenis jenis sapi perah? b. Zat apa saja yang terkandung dalam susu? c. Apasaja kebutuhan nutrisi untuk laktasi pada sapi? d. Sebutkan pengaruh kekurangan kekurangan zat makanan dalam diet pada produksi air susu?

1.3 Tujuan a. Untuk mengetahui pengertian laktasi, jenis jenis sapi perah, komposisi air susu, standar makanan untuk laktasi dan pengaruh kekurangan kekurangan zat makanan dalam diet pada produksi air susu.

1.4 Metode Penulisan Metode penulisan paper ini bersumber dari kepustakaan dan internet.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pengertian Laktasi dan Jenis Jenis Sapi Perah Laktasi adalah karakteristik yang spesifik bagi ternak mamalia. Susu adalah produk yang dihasilkan oleh glandula mamae dan merupakan nutrisi bagi anaknya untuk mendapatkan imunitas pasif. Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus. Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Jersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Drought master (dari Australia)

2.2 Komposisi Air Susu Susu mempunyai susunan kimia yang kompleks. Konstituen utamanya adalah air yaitu sebesar 46 90 %, tergantung spesies ternaknya. Komposisi susu juga bervariasi tergantung spesies. Komponen utama lainnya adalah protein, lemak dan laktosa. Susu juga merupakan sumber berbagai mineral seperti Ca, Mg dan P serta berbagai vitamin. Air susu yang pertama keluar setelah proses kelahiran mengandung maternal immunoglobulin atau antibody yang dapat bertindak sebagai imunitas terhadap penyakit, disebut kolostrum.

Tabel 1: Persentase komposisi air susu dari berbagai spesies hewan Spesies Sapi Kambing Kuda Domba Kerbau Babi Wanita Air % 87,2 86,5 89,0 80,1 83,0 80,4 87,5 Protein % 3,5 3,6 2,7 5,8 3,8 5,4 1,0 Lemak % 3,7 4,0 1,6 8,2 7,4 8,3 4,4 Laktose % 4,9 5,1 6,1 4,8 4,9 5,0 7,0
3

Abu % 0,71 0,80 0,51 0,92 0,78 0,85 0,21

Kalsium % 0,121 0,131 0,100 0,250 0,180 0,252 0,035

Fosfor % 0,095 0,104 0,060 0,166 0,120 0,151 0,13

Energi Kkal/l 73 79 54 127 109 126 70

Protein dan lemak merupakan komposisi penting pada susu. Protein dalam susu disebut casein. Lemak mengandung gliserida, fosfolipida, kolesterol,vitamin vitamin yang larut dalam lemak, bermacam macam pigmen, protein serta logamberat tertentu.

Tabel 2 : Komposisi susu dari berbagai breed sapi perah Breed Ayrshire Brown Swiss Guernsey Holstein Jersey Lemak % 4,1 4,0 5,0 3,7 5,1 Protein % 3,6 3,6 3,8 3,1 3,9 Laktosa % 4,7 5,0 4,9 4,9 4,9 Abu % 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 Total Solid % 13,1 13,3 14,4 12,4 14,6 SNF 8,52 8,99 9,01 8,45 9,21

Sekresi Air Susu dan Sumber dari Zat Zat Penyusunnyaa Sebagian besar zat zat penting yang ada dalam air susu disentesa dalam kelenjar susu dari ikatan zat zat yang diserap dari darah. Kelenjar susu menyerap protein, mineral, dan vitamin tertentu dari darah dan kemudian zat ini langsung dipindahkan ke dalam air susu. Tabel 3: Komposisi darah dan air susu dari sapi Plasma Darah Konstituen % Air 91,0 Glukosa 0,05 Kasein 0,00 Albumin 3,20 Globulin 4,40 Lemak 0,06 Fosfolipida 0,24 Kalsium 0,009 Fosfor 0,011 Natrium 0,34 Kalium 0,03 Klor 0,35 Air Susu Konstituen Air Laktosa Kasein Albumin Globulin Lemak Fosfolipida Kalsium Fosfor Natrium Kalium Klor

% 87,00 4,90 2,90 0,52 0,20 3,70 0,10 0,05 0,10 0,05 0,15 0,11

Protein air susu mengandung 95%nitrogen air susu.Casein adalah protein terbanyak yang terdapat dalam air susu yaitu menyusun 78% dari nitrogen air susu.

Bagian kecil dari albumin da globulin globulin diserap langsung dari darah ke dalam air susu. Laktosa air susu kenanyakan di sintesis dari glukosa darah. Laktose merupakan suatu disakarida mengandung glukosa dan galaktosa namun besar kadarnya dalam air susu tergantung dari spesies hewan. Lemak air susu adalah suatu campuran trigliserida yang mengandung asamlemak jenuh dan tak jenuh. Pada umumnya lemak air susu sapi mengandung proporsi asam lemak jenuh bermolekul rendah lebih tinggi terutaka asam butirat. Pada sapi asam asetat dan asam beta hidroksi butirat darah digunakan untuk mensintesa asam lemak. Mineral diserap langsung masuk ke dalam air susu tetapi kelenjar susu selektif dalam penyerapan mineral tertentu. Seperti selenium dan fluor tidak diserap sehingga tidak terkandung dalam air susu. Vitamin pada air susu tidak disentesis dalam kelenjar susu melaikan langsung diserap dari darah. Sumber metabolit darah adalah makanan, dan dalam hal ini sapi makanannya di tunjang oleh sintesa mikrobial dalam saluran pencernaannya. 2.3 Kebutuhan Nutrisi Bagi Sapi Perah Kebutuhan zat makanan bagi sapi perah tergantung kebutuhan untuk hidup pokok ditambah jumlah zat zat makanan yang terdapat dalam air susu yang disekresikan, yang terkandung dari jumlah air susu dan komposisi zat zatnya. Kebutuhan ternak perah akan zat makanan terdiri atas 2 bagian. Pertama, kebutuhan hidup pokok (maintainance repoirements), yaitu kebutuhan untuk memelihara keutuhan organ dan fungsi tubuh, dalam arti kata kebutuhan untuk mempertahankan bobot hidup dan perawatan tubuhnya. Kedua, yaitu kebutuhan produksi (pertumbuhan,

penggemukan, reproduksi serta laktasi). Sekresi air susu dan komposisi air susu, keduanya bergantung dari bangsa sapi, umur sapi, stadium dalam siklus laktasi, status gizi dan beberapa faktor lainnya. Sapi sapi Friesian adalah penghasil tertinggi susu, diikuti oleh sapi Ayrs hires, shorthorn, guernsey,dan jersey.

Periode laktasi normal sapi- sapi normal sapi sapi yang dikawinkan dan mengandung tiap 12 bulan adalah kira kira 44 minggu atau 350 hari. Perkawinan yang lebih lambat dalam periode laktasi akan memungkinkan periode laktasi lebih panjang. Umur sapi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi produksi air susu dan pada umumnya, produksi pada laktasi pertama adalah yang terendah dan akan meningkat pada periode periode berikutnya. Namun faktor faktor lain seperti makanan, kesehatan, frekuensi pemerahan, dapat berpengaruh terhadap produksi air susu dibanding faktor umur sapi.
45

30 C 15 A B

0 56

12

16

20

24

28

32

36

40

44

48

52

Minggu

Kurve laktasi normal sapi friesian A. Dikawinkan lagi dan mengandung tiap 12 bulan B. Dikawinkan lagi dan mengandung tiap 15 bulan C. Tidakmengandung lagi. Umumnya, kadar protein dan lemak air susu sapi friesian lebih rendah dibanding kadar protein dan lemak air susu sapi jersey, bila umur sapi bertambah kualitas air susu sapi menjadi kurang terutama kadar bahan padatnya. Juga stadium laktasi mempunyai pengaruh terhadap komposisi air susu. Umumnya kualitas terendah air susu didapat pada saat produksi air susu tertinggi, kemudian kualitas akan bertambah baik secara teratur seiring dengan menurunnya produksi.

Kebutuhan akan Hijauan Pada umumnya jumlah hijauan yang diberikan pada ternak tersebut adalah 10 % dari berat hidup, sedangkan makanan penguat misalnya konsentrat hanya diberikan 1 % saja dari berat hidup. Kebutuhan akan Bahan Kering (BK) Dalam memberi makan, kita perlu mempunyai perkiraan berapa jumlah makanan yang layak diberikan kepada ternak. Pemberian makanan yang terlalu sedikit atau terlalu banyak jelas akan merugikan. Jumlah pemberian ransum (hijauan + konsentrat) dapat diperkirakan dari kebutuhan akan bahan kering (BK). Kebutuhan Energi Kebutuhan energi bagi sapi laktasi berasal dari hasil penelitian cara faktorial dan akan mengikutsertakan kadar energi dalam air susu ditambah kebutuhan hidup pokok sapi setelah keduanya dikoreksi terhadap hilangnya energi dalam metabolisme. Standar pemberian makanan NRC sap perah mencantumkan kebutuhan energi Netto (NE) laktasi untuk tiap kg air susu untukmemproduksi lemak yang berkisar antara 2,5% - 6,0%. Misalnya: kebutuhan NEI untuk produksi 1 liter air susu dengan 2,5% le mak adalah 0,59M kal, sedangkan untuk 6,0% lemak adalah 0,86 Mkal. Keutuhan untuk hidup pokok sapi perah merupakan fungsi dari berat sapi dan aktivitasnya dan dalam kebutuhan dalam NRC menggunakan rumus: Kebutuhan hidup pokok sapi laktasi = 0,085 NEIWkg0,75 Jangung merupakan konsentrat sumber energi yang berdegradasi lambat dan dapat meningkatkan produksi susu. Pada sapi laktasi, kekurangan energi akan menurunkan produksi dan bobot hidup. Defisiensi yang parah dapat mengganggu reproduksi.

Tabel 4: Pengaruh kadar lemak yang berbeda terhadap komposisi air susu Lemak % 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 protein % 62 68 73 79 85 91 96 energi kkal/100g 2.7 2.9 3.7 3.3 3.5 3.7 3.9 bahan padat total % 11.3 12.0 12.7 13.4 14.1 14.8 15.5

Lembaga penelitian pertanian inggris menggunakan sistem Starch Equivalent SE dan prosedurnya kembali pada masa kellner yang menemukan bahwa 1kg SE mengandung kira kira 2.95 kkal NE untuk memproduksi air susu, sehingga untuk 1 kg air susu dengan kadar lemak 4% . Kegunaan energi dari sapi laktasi dapat ditentukan dengan percobaan makanan dan prosedurnya. Umumnya takaran energi yang berbeda diberikan pada ternak yang dicatat kebutuhannya yang memberikan hasil yang tertinggi selama beberapa waktu dan energi tersebut juga cukup untuk memenuhi hidup pokok ternak. Kegunaan dari percobaan makanan dalam menentukan kebutuhan energi sapi sapi laktasi. Terbatas mengingat kemampuan sapi untuk mengganti lemak yang dipakai dengan air selama laktasi puncaknya. Karena air lebih berat dibanding lemak maka berat sapi bertambah meskipun sebenarnya dalam keaadaan imbangan energi yang negatif. Pelaksanaan praktek pemberian makanan dengan kadar energi tinggi, berupa konsentrat selama 60 90hari pertamamasa laktasi. Menghasilkan puncak kurve yang lebih tinggi. Sapi sapi yang berkemampuan menghasilkan air susu yang tinggi membutuhkan energi yang lebih besar tiap unit air susu yang disekresikan dibanding sapi sapi berproduksi rendah. Perbedaan yang menyolok disebabkan karena berkurangnya daya cerna makanan sebab konsumsi makanan yang lebih tinggi. Sapi-sapi yang berkemampuan menghasilkan air susu yang tinggi membutuhkan energi lebih besar, tiap unit air susu yang disekresikan dibanding sapi-sapi berproduksi rendah. Perbedaan yang menyolok disebabkan karena berkurangnya daya cerna makanan sebab konsumsi makanan yang lebih tinggi. Namun ada penyebab lain, seperti kemampuan genetik sapi, status gizi pada waktu laktasi, dan juga gambaran makanan yang diterima pada saat pertumbuhannya.

Tabel 5: Pengaruh berbagai makanan selama masa pertumbuhan terhadap laktasi laktasi berikutnya . Macam Makanan 62% (a) 100% (a) FCM Efisiensi FCM Efisiensi kg (b) kg (b) % % 4010 53 4110 50 4672 53 4767 53 4981 53 5088 55 5288 54 5127 52 5631 55 5700 58 5626 55 5180 52

Laktasi

146% (a) FCM Efisiensi kg (b) % 4185 4424 4882 4852 4875 5114 48 47 50 49 47 49

1 2 3 4 5 6

Kebutuhan akan Protein Kebutuhan protein untuk laktasi juga diperkirakan dengan metode yang sama dengan yang dipakai pada kebutuhan energi. Metode faktorial mencakup kebutuhan untuk hidup pokok, ditambah jumlah protein yang dikeluarkan dalam air susu, dan kebutuhan neto yang didapat dari penjumlahan nilai ini harus dikoreksi dengan yang hilang dalam metabolisme. Nilai biologi (biological value =BV) dari protein makanan adalah angka yang biasanya diterima, yang menunjukan efisiensi penggunaan protein dan kenyataannya mempunyai nilai tetap yakni kira kira 70 untuk laktasi. Percobaan percobaan makanan juga digunakan untuk menentukan kebutuhan protein bagi sapi. Seperti halnya pada percobaan-percobaan penentu kebutuhan, konsumsi protein minimum yang cukup untuk produksi maksimum dapat ditentukan. Percobaan makanan harus dilakukan selama periode yang lama karena sapi mungkin menggunakan jaringannya sendiri untuk produksi air susu dalam waktu pendek. Rumen Degraded Protein (RDP) adalah sebagai protein asal pakan yang berdegradasi di dalam rumen. Sintesis protein mikroba sangat dipengaruhi oleh ketersediaannya prekursor N dan ketersediaannya energi hasil fermentasi. Kebutuhan akan Mineral Kebutuhan mineral untuk laktasi termasuk NaCl, Ca, dan P. Kebanyakan mineral terdapat cukup jumlahnya dalam makanan yang berasal dari alam, sehingga hanya garam, kapur dan fosfor yang diberikan dalam pemberian makanan secara
9

langsung. Air susu yang mengandung 4% lemak juga mengandung kira-kira 1.23 g kalsium dan kira-kira1,0 g fosfor tiap liter sehingga sapi yang menghasilkan 40 kg air susu tiap hari akan mengeluarkan49.2 g kalsium dan 40 g fosfor tiap hari. Seekor sapi mungkin ada dalam keadaan imbangan Ca negatif pada sebagian besar masa laktasinya. Namun, bila disediakan Ca makanan cukup, sapi mungkin kembali ke dalam imbangan positif pada masa akhir laktasi dan mungkin mampu mengganti cadangan yang hilang dalam tulang. Tabel 6 : Kebutuhan akan mineral mineral esensial lain dibicarakan dalam

penerbitan-penerbitan standar makanan, beberapa diantaranya sebagai berikut : Mineral Natrium NaCl Kalium Magnesium Yodium Kobalt Tembaga Besi Mangan Seng Belerang Selenium Na NaCl K Mg Y Co Cu Fe Mn Zn S Se Bagian dalam bahan kering 0,18% 0,45% 0,50% sampai 0,80% 0,20% 1,2mg/kg 0,10 mg/kg 10,0 mg/kg 30,0 mg/kg 20 mg/kg 40 mg/kg 0,20% 0,1 mg/kg

Kebutuhan akan Vitamin Kebutuhan akan vitamin bagi sapi laktasi tidak spesifik untuk proses laktasinya, tetapi vitamin adalah bagian dari air susu dan memegang peranan umum dalam fungsi fisiologik jalannya metabolisme hewan untuk menghasilkan air susu. Hasil dari banyak percobaan menunjukan bahwa apabila kebutuhan akan vitamin untuk hidup pokok, reproduksi dan pertumbuhan badan telah terpenuhi, maka tidak diperlukan tambahan vitamin lagi kecuali untuk mengganti vitamin yang hilang melalui sekresi air susu dan juga yang hilang dalam proses metabolisme. Vitamin B-kompleks tidak menimbulkan persoalan dalam pemberian makanan pada ternak ruminansia karena sistese mikrobial dalam rumen dapat menyediakan vitamin yang cukup. Standar pemberian makanan untuk sapi mencamtumkan kebutuhan akan vitamin A dan D, dan ini didasarkan dari hasil percobaan dasar mengenai kebutuhan
10

akan

vitamin

yang

kemudian

dicantumkanlah daftar kebutuhannya guna keamanan status gizi tinggi ternak. Dalam hijauan segar banyak terdapat zat karotinoid, terutama beta-karotin yang merupakan provitamin A yang aktif. Dalam tubuh, beta-karotin tersebut dapat diubah menjadi vitamin A aktif. Tabel 7: Kebutuhan Kebutuhan Zat Gizi Harian untuk Sapi Perah
Vitamin A 1000 I.U. 30 38 46 53 61 30 38 46 53 61 -

Berat Badan Kg 400 500 600 700 800 400 500 600 700 800 Lemak 3% 4% 5% 6%

Makanan Protein Harian kg g 5,5 6,5 7,5 8,5 9,5 7,2 8,6 10,0 11,3 12,6 -

TDN

DE

ME

NEi

Ca

P g 13 15 17 19 21 18 22 26 30 34 1,7 1,8 1,9 2 -

Kehilangan Pertambahan

kg Mcal g Hidup Pokok Sapi Betina Dewasa 373 3,15 13,86 11,9 7,16 15 432 3,72 16,39 14,06 8,46 18 489 4,27 18,79 16,12 9,70 21 542 4,79 21,09 18,10 10,89 24 592 5,29 23,32 20,01 12,03 27 Hidup pokok dan kebuntingan (akhir kebuntingan) 702 4,10 17,98 15,47 9,30 26 821 4,84 21,25 18,29 11,0 31 931 5,55 24,37 20,97 12,61 37 1035 6,23 27,35 23,54 14,15 42 1136 6,89 30,24 26,02 15,64 47 Zat - zat gizi per kg air susu 77 0,282 1,24 1,07 0,64 2,5 87 0,326 1,44 1,24 0,746 2,7 98 0,365 1,61 1,39 0,83 2,9 108 0,41 1,81 1,56 0,93 3,1 Perubahan berat badan selama laktasi -320 -2,17 -9,55 -8,25 -4,92 500 2,6 9,96 8,55 5,12 -

2.4 Pengaruh Kekurangan Kekurangan Zat Makanan dalam Diet pada Produksi Air Susu. Bila sapi perah tidak diberi makan, produksi air susu akan turun dengan cepat dan akan berhenti sama sekali dalam 4 sampai 5 hari. Pembatasan energi lebih menberi pengaruh kepada hasil total dibanding protein. Kadar lemak air susu ruminansia sangat peka terhadap faktor-faktor yang mampengaruhi produksi asam asetat dalam rumen. Diketahui bahwa rumput muda yang mengandung serat kasar sedikit menyebabkan
11

kadar lemak air susu turun. Juga pemberian makan rumput kering atau jerami yang digiling dan energi makanan konsentrat akan menyebabkan penurunan kadar lemak air susu yang menyolok. Imbangan asam asetat dan asam propionat yang dihasilkan rumen kelihatannya menentukan kadar lemak air susu. Semua faktor-faktor tersebut apabila diberlakukan pada sapi perah, akan menyebabkan pengurangan asam asetat, dan sebaliknya terdapat kenaikan asam propionat. Penambahan minyak kelapa dan palm ke dalam makanan yang rendah lemaknya menyebabkan penurunan presentasi lemak air susu. Takaran rendah dari vitamin A dan D dalam makanan sapi perah juga akan menyebabkan penurunan vitamin-vitamin ini dalam air susu, dan bila kurangnya sangat menyolok, maka akan menyebabkan gangguan fisiologik hewan.

12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Laktasi adalah karakteristik yang spesifik bagi ternak mamalia. Susu adalah produk yang dihasilkan oleh glandula mamae dan merupakan nutrisi bagi anaknya untuk mendapatkan imunitas pasif. Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn, Friesian Holstein, Jersey,Brown Swiss, Red Danish dan Drought

master. Komposisi air susu terdiri dari air, protein, lemak,laktose, abu,kalsium, dan fosfor. Kebutuhan zat makanan bagi sapi perah yaitu kebutuhan akan hijauan, bahan kering, energi, protein, mineral dan vitamin.

13

Daftar Pustaka

Adriani, Lovita; Mushawir, Andi. 2009. Kadar Glukosa Darah, Laktosa dan Produksi Susu Sapi Perah pada Berbagai Tingkat Suplementasi Mineral Makro. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/12/kadar_glukosa_darah_la ktosa_dan_produksi_susu_sapi_perah.pdf. [08 10 2011]

Arif Rokhayati, Umbang. 2010. Pengaruh Suplementasi Energi dan Undegrated Protein Terhadap Produksi Susu Sapi Perah Friesian Holstein. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/7110825835.pdf. [05 10 2011]

Christiyanto, M ;dkk. 2005. Konsumsi dan Kecernaan Nutrien Ransum yang Berbeda Prekursor Protein Energi Dengan Pakan Basal Rumput Raja pada Sapi Perah. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/37924/jurnal%20vol.%2 030%20no.%204_konsumsi%20dan%20kecernaan_christiyanto.pdf?sequence= 1. [06 10 - 2011]

Lestari, Tita Damayanti. 2006. Laktasi pada Sapi Perah Sebagai Lanjutan Proses Reproduksi. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/laktasi_pada_sapi_perah. pdf . [09 10 2011 ]

Manalu, Wasmen. 1995. Pengantar Ilmu Nutrisi Hewan. Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.

Nursiam, Intan. 2010. Kebutuhan Hijauan dan Konsentrat Bagi Ternak Perah. http://intannursiam.wordpress.com/2010/09/20/kebutuhan-hijauan-dankonsentrat-bagi-ternak-perah/#more-223. [20 09 2011]

Sumardi. 2008. Jumlah Mikroba dan pH Rumen Serta Efisiensi produksi Susu Sapi Friesian Holstein Akibat penambahan Tepung Daun Katu (Sauropus androgynus, L. Merr) dalam Ransum. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/261082737.pdf. [09 10 2011]
14

15