Anda di halaman 1dari 8

ANDI RYAN ADITYA (G411 08 267) Peranan Ekstrak Kulit Telur, Daun Gamal, dan Bonggol Pisang Sebagai

Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai dan Populasi Aphis Craccivora Pada Fase Vegetatif (DIBAWAH BIMBINGAN PROF. DR. IR. ITJI DIANA DAUD. M.S dan DR. IR. MELINA, MP.) ABSTRAK Cabai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Produksi cabai sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sedangkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman ditentukan oleh kesuburan tanah dan perlindungan dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penelitian ini dilakukan untuk menhetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit telur, daun gamal, dan bonggol pisang pada perakaran terhadap pertumbuhan tanamana cabai dan populasi Aphis craccivora. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 5 ulangan sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Perlakuan terdiri dari 4 formula ekstrak (ekstrak kulit telur, ekstrak daun gamal, ekstrak bonggol pisang dan campuran antara ekstrak kulit telur, ekstrak daun gamal dan ekstrak bonggol pisang). Pada setiap perlakuan tanaman cabai diinfestasikan Aphis craccivora sebanyak 5 ekor kemudian disungkup dengan polybag secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman cabai dengan perlakuan pupuk organic ekstrak daun gamal memiliki populasi A. craccivora paling rendah yaitu 93,8 ekor dan menghasilkan daun yang paling banyak yaitu 31,4 cm. Kata kunci : Ekstrak kulit telur, Ekstrak daun gamal Ekstrak bonggol pisang, Aphis craccivora, Tanaman Cabai

PENDAHULUAN Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman perdu yang berasal dari daratan Amerika dan Amerika Tengah, termasuk Meksiko, kira-kira sejak 2500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan cabai adalah orang Inca di Amerika Selatan, orang Maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka memanfaatkan buah ini sebagai penyedap masakan (Wiryanta 2006). Cabai adalah komoditas yang bernilai ekonomi tinggi, nilai jualnya sangat dipengaruhi oleh kualitas buahnya, khususnya penampilan produknya. Komoditas buah cabai banyak ditanam baik di kawasan dataran tinggi, pertengahan, bahkan yang terbanyak di dataran rendah. Pemasaran buah cabai merah cukup baik karena buah cabai merah dapat dijual, baik sebagai buah muda (cabai hijau) maupun tua (cabai merah), baik dalam bentuk segar, bahan industri (giling, kering, tepung), olahan (sambal, variasi bumbu, dan lain-

lain), maupun hasil industri (pewarna, bumbu, rempah, dan lain-lain) (Rukmana 2005). Rendahnya hasil produksi cabai menyiratkan terdapatnya beberapa hambatan dalam meningkatkan nilai produksi. Salah satu hambatan dalam peningkatan nilai produksi maupun kualitas hasil produksi cabai adalah rentannya tanaman cabai terhadap serangan hama dan penyakit. Seperti hama Aphis (A. crassivora) yang merupakan salah satu hama pada tanaman cabai yang bisa menurunkan produksi baik dari segi ekonomi. Salah satu langkah yang dapat diambil dalam upaya peningkatan kualitas cabai adalah dengan mengembangkan pengendalian hama tanaman secara biologis yang dapat menandingi kemampuan pestisida sintetis tanpa menimbulkan dampak negatif baik bagi lingkungan maupun bagi organisme yang bukan sasaran. Ada tiga unsur yang sangat menentukan tingkat kesuburan tanah di lahan pertanian yaitu unsur biologi, fisika dan kimia, ketiga unsur ini saling terkait dan hama seimbang. Ketimpangan unsur di dalam kandungan tanah akan mematikan unsur biologi di dalam tanah, tanah menjadi semakin keras dan tidak dapat menyimpan air. Apabila sudah terjadi ketimpangan ini, pemulihannya akan memakan waktu lama dan biaya yang besar. Kesadaran para petani untuk menggunakan pupuk organik masih rendah karena mereka hanya berpikir pada nilai ekonomis jangka pendek sehingga tanah dieksploitasi secara maksimal tanpa mempedulikan keseimbangan unsur tanah tersebut di atas, untuk itu menjadi tugas bersama bagaimana menyadarkan para

petani dengan kembali menggunakan pupuk organik agar keseimbangan unsur kimia tanah kembali seperti semula. Perlunya kepedulian Pemerintah dalam mengatur mekanisme pasar untuk mengurangi ketergantungan pupuk kimia dan pemberdayaan PPL dalam menjalin kerjasama dengan GAPOKTAN untuk kembali menggunakan pupuk alam dan pupuk organik.(Anonim 2012). Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang mengandung unsur haranya lebih cari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara. tidak bermasalah dalampencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat.Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu pupuk ini juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman.(Anonim 2011). Kulit telur kering mengandung sekitar 95% kalsium karbonat dengan berat 5,5 gram (Butcher dan Miles, 1990). Sementara itu, Hunton (2005) melaporkan bahwa kulit telur terdiri atas 97% kalsium karbonat. Selain itu, rerata dari kulit telur mengandung 3% fosfor dan 3% terdiri atas magnesium, natrium, kalium, seng, pangan, besi, dan tembaga (Butcher dan Miles, 1990). Kandungan kalsium yang cukup besar berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman. Hasil analisis kandungan kulit telur

di Laboratorium tanah menunjukkan kandungan kalsium terdiri atas kalium, kalsium, fosfor, dan magnesium, masingmasing sebesar 0,121; 8,977; 0,394; 10,541%. Kalsium (Ca) pada tanaman berperan untuk merangsang pembentukan bulu akar, mengeraskan batang tanaman, dan merangsang pembentukan biji. Kalsium pada daun dan batang berkhasiat menetralkan senyawa atau menyebabkan suasana yang tidak menguntungkan pada tanah (Lingga dan Marsono, 2007). Gamal telah dimanfaatkan secara luas untuk berbagai keperluan. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar, arang atau juga sebagai bahan bangunan dan alat pertanian. Tanaman ini juga digunakan dalam berbagai sistem pertanaman, sebagai pohon pelindung dalam penanaman ten, cokelat atau kopi. Sebagai penyangga hidup untuk tanaman vanili, lada hitam dan ubi jalar. Yang lebih umum digunakan sebagai pagar hidup, tanaman pupuk hijau pada pola tanam tumpang sari, sebagai penahan tanah pada pola tanam lorong dan terasering. Selain itu, tanaman ini juga ternyata dapat digunakan untuk mereklamasi tanah atau lahan yang gundul atau tanah yang rapat ditumbuhi oleh alang-alang (Imperata cylindrical). Bahkan konon, nama Gamal itu merupakan akronim dari Ganyang Mati Alang-alang. Biji, pepagan, daun dan akarnya dapat digunakan sebagai rodentisida dan pestisida setelah terlebih dahulu dilakukan fermentasi. Bunganya digunakan oleh lebah sebagai sumber nutrisi dan zat gula dalam pembuatan madu lebah. Bahkan di beberapa daerah, Gamal ditanam sebagai tumbuhan eksotik dan penghias taman karena memiliki bunga berwarna lembayung

yang indah. Di beberapa tempat di Afrika, masyarakat disana memakan bunga gamal setelah terlebih dahulu di rebus.(Anonim 2006). Bonggol pisang memiliki banyak senyawa penting untuk pertumbuhan tanaman seperti mengandung hormon tumbuh alami giberelin dan sitokinin. Selain itu, bonggol pisang merupakan rumah bagi mikroorganisme bermanfaat seperti Azospirillum, Azotobacter, Bacillus, Aspergillus, dan beberapa mikroba pelarut fosfat. Kehadiran mikroorganisme tersebut berguna sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik dan penyubur tanah.(Anonim 2013) BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Rumah kaca Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar, dan dimulai pada Februari 2012 sampai selesai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 5 ulangan sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Masing-masing perlakuan menggunakan polybag yang berukuran 12 x 17 cm, jarak antar perlakuan satu dengan yang lain adalah 30 cm, dan jarak antar ulangan 20 cm. Persiapan Penelitian Pada penelitian ini menggunakan Daun gamal 100g/liter air, Gula pasir 20g/liter air, Bonggol pisang yang sudah dicacah 100g/liter air, Kulit telur 100g/liter air.

Pembuatan Ekstrak Daun Gamal Daun gamal di cuci bersih dan ditimbang seberat 100g/liter air kemudian sediakan gula pasir seberat 20g/liter air, lalu daun gamal dan gula dimasukkan ke dalam blender dan di blender hingga halus, setelah di haluskan bahan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi selama 2 minggu untuk mendapatkan hasil fermentasi yang baik sebelum pengaplikasian. Pembuatan Ekstrak Kulit Telur Kulit telur di cuci bersih dan di timbang seberat 100g/liter air kemudian sediakan gula pasir seberat 20g/liter air, lalu kulit telur dan gula dimasukkan ke adalam blender dan di blender hingga halus, setelah di haluskan bahan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi selama 2 minggu untuk mendapatkan hasil fermentasi yang baik sebelum pengaplikasian. Pembuatan Ekstrak Bonggol Pisang Bonggol pisang terlebih dahulu dicuci bersih dan di timbang seberat 100g/liter air kemudian sediakan gula seberat 20g/liter air, lalu masukkan bonggol pisang dan gula ke dalam blender dan dihaluskan, setelah dihaluskan bahan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi selama 2 minggu untuk mendapatkan hasil fermentasi yang baik sebelum pengaplikasian. Pembuatan Ekstrak campuran daun gamal, kulit telur dan bonggol pisang Semua bahan seperti daun gamal, kulit telur dan bonggol pisang dicuci dan masing-masing ditimbang setengah dari berat sebelumnya yaitu daun gamal 50g/liter

air, kulit telur 50g/liter air, bonggol pisang 50g/liter air kemudian sediakan gula 20g/liter air, lalu semua bahan dimasukkan ke dalam blender dan dihaluskan. Setelah dihaluskan bahan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi selama 2 minggu untuk mendapatkan hasil fermentasi yang baik sebelum pengaplikasian. Pelaksanaan Percobaan Tanaman cabai yang telah disemai kemudian ditanam pada polybag. Setelah tanaman berumur 3 minggu, pada tanaman tersebut masing-masing diberikan perlakuan (P1/PCS) pupuk cair sintetik, (P2/DGM) ekstrak daun gamal, (P3/KUT) ekstrak kulit telur, (P4/BGM) ekstrak bonggol pisang sehat , (P5/CMP) campuran daun gamal+boggol pisang+ kulit telur. Pada setiap perlakuan diinfestasikan A. craccivora sebanyak 5 ekor kemudian disungkup secara keseluruhan pada percobaan tersebut untuk menjaga agar A. craccivora yang telah diinfestasikan pada tanaman tidak keluar dari lingkungan percobaan saat tanaman tidak lagi memungkinkan sebagai tempat/ habitat dari A. craccivora tersebut. Pada percobaan tersebut dilakukan penyiraman setiap minggu sesuai perlakuan pada masing-masing tanaman. P0/KTR di lakukan penyiraman dengan menggunakan air, P1/PCS dilakukan penyiraman dengan menggunakan pestisida sintetik yang biasa digunakan petani pada umumnya, P2/DGM dilakukan penyiraman dengan menggunakan ekstrak daun gamal, P3/KUT dilakukan penyiraman dengan menggunakan ekstrak kulit telur, P4/BPS dilakukan penyiraman dengan menggunakan esktrak bonggol

pisang, P5/CMP dilakukan penyiraman dengan menggunakan ekstrak yang digabung dari 3 bahan perlakuan yaitu ekstrak daun gamal, ekstrak kulit telur dan ekstrak bonggol pisang. Adapun dosis yang digunakan dalam pengaplikasiannya sebesar 15 cc/liter air yang diambil dalam setiap perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Rata-rata tinggi tanaman cabai dari berbagai perlakuan
Perlakuan Tinggi Tanaman (cm) Pada Umur (minggu) 7 8 9 10 c c cd 26,06 28,88 29,78 31,2d 25,98c 26,6c 27,12c 27,94 c 22,76b 23,38 b 23,64b 24,36 b 27,34c 29,08 d 29,22c 29,58 c 16,26a 17,58 a 18,72a 21,18 a 22,22b 23,56 b 23,9 b 25,2b

KTR PCS DGM KUT BPS CMP

Hail penelitian yang didapatkan seperti yang ada pada Tabel 1 menunujukkan bahwa pada kontrol (KTR) tinggi tanamannya berbeda nyata dengan semua perlakuan yaitu 31,2 cm. dan terendah pada perlakuan BPS yaitu 21,18. Hal ini dapat disebabkan karena persentase Ca dalam pupuk tinggi dan menyebabkan pH menjadi lebih tinggi yang kemudian menghambat peredaran banyak nutrisi mikro (Zn, Cu, B, Fe dan Mn) sehingga membuat nutrisi tidak dapat di serap oleh tanaman dan unsur P di endapkan oleh Ca. Selanjutnya pengamatan tinggi tanaman cabai pada akhir pengamatan (Tabel 1) menunjukkan tinggi tanaman cabai tertinggi ke 2 yaitu pada perlakuan pupuk organik yang mengandung ekstrak kulit telur (KUT) dengan rata-rata 29,58 cm dan yang terendah pada perlakuan pupuk organik yang mengandung ekstrak

bonggol pisang sehat dengan rata-rata 21,18 cm. Tinggi tanaman cabai tertinggi yaitu pada perlakuan pupuk organik yang mengandung ekstrak kulit telur. Hal ini disebabkan karena ekstrak telur kering mengandung Calsium (Ca) yang merupakan unsur hara makro bagi tanaman selain Nitrogen, Fosfor, Kalium, Magnesium dan Belerang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Butcher dan Miles (1990) yang menyatakan bahwa kulit telur kering mengandung sekitar 95% kalsium karbonat serta sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hunton (2005) yang melaporkan bahwa kulit telur terdiri atas 97% kalsium karbonat. Kalsium dijumpai pada setiap sel tanaman sebagai kalsium pektat pada dinding sel-sel daun dan batang, sehingga kalsium akan memperkuat bagian daun dan batang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anonim (2013) yang menerangkan bahwa peranan kalsium dalam pertumbuhan tanaman antara lain (a) mendorong pembentukan dan pertumbuhan akar lebih dini, (b) Memperbaiki ketegaran dan kekahatan tanaman, (c) mempengaruhi pengangkutan air dan hara-hara lain, (d) diperlukan untuk pemanjangan sel-sel, sintesis protein dan pembelahan sel, (e) mengatur translokasi karbohidrat, kemasaman dan permeabilitas sel.

Tabel 2 Rata-rata jumlah daun tanaman cabai dari berbagai perlakuan


Perlakuan KTR PCS DGM KUT BPS CMP Jumlah Daun (cm) Pada Umur (minggu) 7 8 9 10 tn tn tn 13,4 14 18 17,4 tn 19,2 tn 22,4 tn 13,2 tn 11,6 tn 16 tn 19,8 tn 23,4 tn 16 tn 12 tn 20.6 tn 23,2 tn 27 tn 19,8 tn 13 tn 21,6 tn 26,2 tn 31,4 tn 26,2 tn 15,2 tn 28,2 tn

menurut Lewis (1986) Nitrogen juga berperan dalam pembentukan komponen tumbuhan lain seperti pofirin yang terdapat dalam klorofil. Tabel 3 Rata-rata populasi aphids pada berbagai perlakuan Populasi Aphids (ekor) Pada Umur Tanaman (minggu) Perlakuan 6 7 8 KTR 210,2 390,6 238 PCS 225,8 152,8 325 DGM 152,2 157,8 93,8 KUT 236,6 154,2 164,8 BPS 159,2 156 152 CMP 243,4 205,6 161,4 Rata-rata populasi A. Craccivora yang terendah yaitu pada perlakuan ekstrak daun gamal sebanyak 93,8 ekor. Hal ini disebabkan karena ekstrak daun gamal mengandung bahan aktif yang bersifat toksik terhadap serangga seperti tannin. Hal ini sesuai dengan Duke dan Wain (1981) yang menyatakan bahwa daun gamal dapat digunakan sebagai insektisida, rodentisida dan pengobatan penyakit kulit, luka dan reumatik. Sifatnya sebagai pestisida ini karena keaktifan senyawa toksik kumarin yang terdapat dalam daun gamal tersebut. Disamping senyawa toksik kumarin juga ditemukan adanya senyawa toksik dicoumarol (furan ring) sebagai derivatnya dari kumarin yang dapat menyebabkan perdarahan lebih luas, paralysis dan mati apabila kandungannya melebihi dari 10 ppm. Sementara ditemukan dicoumarol tersebut dalam daun gamal apabila daun gamal mengalami pembusukan (kering) dengan adanya kontaminan jamur (Cornell

Jumlah daun terbanyak yaitu pada perlakuan pupuk organik yang mengandung ekstrak daun gamal. Hasil ini disebabkan karena ekstrak daun gamal mengandung unsur hara N yang essensial bagi tanaman. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lahadassy (2006) yang menyatakan bahwa gamal mempunyai kandungan nitrogen yang cukup tinggi dengan C/N rendah sehingga biomassa tanaman ini mudah mengalami dekomposisi dan sebagai sumber pembuatan pupuk cair organik yang sangat baik. Endapan dari hasil fermentasi perasan daun gamal mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi. Nitrogen adalah unsur yang berpengaruh cepat terhadap pertumbuahan tanaman karena memiliki peranan yang penting dalam fotosintesis. Hal ini sesuai dengan Syekhfani (1997) yang menyatakan bahwa nitrogen berfungsi sebagai regulator penggunaan kalium, fosfor dan unsur-unsur lain yang terlibat dalam proses fotosintesis. Gardner et al. (1991) mengemukakan bahwa fungsi nitrogen yaitu untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan merupakan bahan penting penyusun asam amino, amida, nukleotida, dan nukleoprotein, serta esensial untuk pembelahan sel dan pembesaran sel. dan

University Department Of Animal Science, 2010). Begitu juga pendapat dari Everist (1974) bahwa ditemukan bentuk derivat kumarin (senyawa kimia benzopyrone) dalam tanaman dan ada 4 bentuk derivatnya, yaitu derivat pertama dicoumarol yang bersifat antikoagulan dan dapat menyebabkan perdarahan lebih luas Derivat kedua: dihydroxykumarin glycosideyang mempunyai sifat racun akut karena mengandung glikosida. Derivat ketiga: aflatoksin yang mempunyai sifat toksin hati yang sangat kuat dan karsinogenik yang cukup tinggi dan merupakan hasil produksi dari Aspergillus. Kemudian derivat keempat: furokumarin mempunyai sifat keaktifan photosensitisasi yaitu bereaksi langsung merusak sel-sel jaringan dengan adanya sinar matahari.

organik-cair/. Anonim. 2012. Organik Cair http://www.pupukm8.com/. M8.

Anonim. 2013. Kandungan Cangkang Telur. http://meitaisme.wordpress.com/tuugaasss/kimia-analitik/laporankandungan-caco3-dalam-cangkangtelur/html/. Anonim. 2013. Mengenal Tanaman Cabai. http://www.tanijogonegoro.com/ 2013/01/mengenal-tanamancabai.html). Anonim. 2013. Mengenal Tanaman Cabai. http://www.bebeja.com/bonggolpisang-sumber-pupuk-hayati/. Anonim. 2006. HIJAUAN PAKAN TERNAK: Gamal (Gliricidiasepium). http://manglavang.blogsome.com/20 06/03/06/hiiauan-pakan-ternakgamal-gliricidia-sepium/. Blackman, R.L and V.F Eastop. 1985. Aphids on The Worlds Crops. Departement of Entomology. British Museum Natural History. New York. Buckman Harry O dan Brandy Nyle.C. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta : Penerbit Bhratar Karya Aksara Butcher, G.D. dan R. Miles. 1990. Concepts of Eggshell Quality. http//edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/VM/V M01300.PDF 1990 . Departemen Agribisnis Tanaman. 2012.

KESIMPULAN DAN SARAN Ekstrak daun gamal yang diaplikasikan sebagai pupuk organic cair dapatdigunakan pada tanaman cabai untuk mengendalikan hama kutu daun A. Craccivora dan memperbanyak jumlah daun tanaman cabai.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/j urnal/8208106109.pdf. Diakses pada tanggal 2 November 2013 Anonim. 2011. Pupuk Cair Organik. http://afghanaus.com/pupuk-

Modul Pemupukan Tanaman Cabai Keriting. Cianjur: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian. Desatiga. 2009. Panen Raya Cabe Besar Setinggi 2 Meter di Bangli. Nusa Tenggara Barat. http://wordpress.go.id. Diakses tanggal 29 Oktober 2013. Durit AS, Gunaeni Neni, Wulandari AW. 2007. Monografi : Penyakit Penting pada Tanaman Cabai dan Pengendaliannya. Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran. No.31. hal 20-30 Hafizah Nur. 2011. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabe Merah pada Lahan Rawa Lebak (Effect of Organic Liquid Fertilizer and Phosphor on Growth and Yield of Chillion The Swamp Land). Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai : Vol.12(1). Hunton, P. 2005. Research on Eggshell Structure and Quality: An Historical Overview. Brazilian Journal of Poultry Science .http://www.scielo.br/pdf/rbca/v7n2/ a01 v7n2.pdf. Diakses tanggal 20 Maret 2012 Nasaruddin, Rosmawati. 2011. Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Hasil

Fermentasi Daun Gamal, Batang Pisang dan Sabut Kelapa Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao. Jurnal Agrisistem, Juni 2011, Vol.7 No.1 Pracaya. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Secara Organik. Kanisius : Yogyakarta Suharto. 2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan. Andi : Yogyakarta SL Martina. 1999. Budidaya Tanaman Cabe. Jayapura : Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat Waluyo dan Kuswanto. 2007. Model Pendugaan Jumlah Aphis (Aphis craccivora Koch) secara in situ pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L.Fruwirth). Fak. Pertanian Univ Brawijaya.