Anda di halaman 1dari 2

Sebuah penelitian menjelaskan bahwa wanita berbicara sekitar 16.000-21.

000 kata per hari, sedangkan pria hanya mengeluarkan 5.000-9.000 kata per hari. Ada juga hasil riset lain mengatakan bahwa pria mengeluarkan sekitar 30.000 kata-kata per hari-nya, sementara itu wanita mengeluarkan sekitar 50.000-60.000 kata kata per hari-nya. Entah riset/ hasil penelitian mana yang paling valid, tetapi dari hasil riset tersebut kita disadarkan betapa kita harus berhati-hati dengan ucapan/ perkataan kita. Berapa bencana/masalah yang bisa ditimbulkan dalam satu hari saja oleh banyaknya perkataan yang keluar dari mulut kita? Dan berapa banyak berkat yang dapat dihasilkan dari perkataan/ ucapan kita? Saudara mungkin ada yang pernah mendengar verbal abuse itu apa? Segala tindakan yang menyakiti dan menyiksa dengan kata-kata dikategorikan sebagai verbal abuse. Verbal abuse terjadi dimana-mana, tidak terkecuali di rumah tangga, di kantor, di sekolah, di gereja, di perkumpulan/ organisasi, dimanapun. Para pelakunya pun bermacam-macam : laki-laki , perempuan, orang kaya/ miskin, orang berpendidikan/ tidak, anak-anak/ orang dewasa bahkan orang tua sekalipun. Verbal Abuse bisa berupa makian, cacian, kata-kata tajam yang ditujukan untuk menusuk perasaan si korban atau sebagai senjata agar sang korban tunduk dan tak berdaya dihadapan si 'abuser'. Coba Saudara dengar kata-kata ini dan saya yakin kata-kata ini tidak asing bagi kita: e lu pung bodo le; e itu lu pung salah, gara-

tidak berguna, dan sebagainya. Kata-kata itu akan membekas tertanam pada otak si anak dan selalu diingatnya. Dia akan mempercayai kata-kata dan merasa dirinya memang seperti yang diucapkan tadi. Dia akan menganggap dirinya memang bodoh, pemalas, nakal, pembohong, suka melawan, tidak berguna dan sebagainya. Anak mengidentifikasikan dirinya dengan sifat negatif dan hal ini terbawa sampai dia besar nanti. Berapa di antara kita yang sadar akan hal ini?? Bagaimana pesan Alkitab ? Saudara Yakobus menggambarkan betapa buas dan liarnya lidah kita. Ia mengilustrasikannya sebagai sesuatu "yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan". (Yakobus 3:8). Sebegitu ekstrim, tentu karena ini merupakan hal yang serius. Bagaimana tidak, "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita

mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (ay 9-10). Jika menilik
pada Perjanjian Lama, kitab Amsal pun sudah memberikan banyak peringatan akan pentingnya menjaga perkataan. Salah satunya berbunyi:"Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19). Benar bahwa tidak ada batasan bagi kita untuk bebicara selagi bisa, tetapi ingatlah bahwa semakin banyak kita berbicara, semakin banyak pula peluang untuk mengeluarkan kata-kata yang siasia, yang mendatangkan pelanggaran. Jika kita tidak punya kendali sama sekali terhadap perkataan kita, maka berbagai ucapan yang mengarah pada dosa akan sangat mudah keluar dari mulut kita. Dan itu semua kelak biar bagaimanapun tetap harus kita pertanggungjawabkan. Mari kita lihat dosa lidah : 1. Menyebut nama Allah dengan sia sia Ul 5:11 Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan. 2. Menipu Amsal 10:32; 12:20 Mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat..Tipu daya ada didalam hati orang yang merencanakan kejahatan. 3. Bersaksi dusta, Kel 20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 4. Fitnah, Imamat 19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. 5. Mencaci maki, 1 Sam 2:3 Janganlah caci maki keluar dari mulutmu. 6. Sumpah serapah, Yak 5:12 - Tetapi yang terutama saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau sesuatu yang lain.Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman. Imamat 19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu. Akulah Tuhan. 7. Mengutuk, Rom 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah! Dan jangan mengutuk.

gara lu su samua, co kalo sonde ada lu bae, mangkali katong sonde sial begini, aduh lu pung jalek ame le kawan e, bikin pemandangan rusak sa, lu pi buang diri di kali liliba sana su; ai lu kawan paling parah su, atau sapaan-sapaan yang biasa : we monyet, we babi, we anjing.
Saudara tahu sakit akibat kekerasan velbal (Verbal abuse) kadang melebihi sakit yang diakibatkan oleh kekerasan fisik (physical abuse). Walaupun bekas luka dan bilur-bilur kekerasan fisik dapat disembuhkan, tetapi banyak luka yang diakibatkan oleh Verbal Abuse tetap selamanya menjadi luka dihati penderita, sakit yang tetap tinggal di hati kadang tidak sungguh-sungguh tersembuhkan. Kadang-kadang luka yang diderita akibat verbal abuse yang dialami semasa kecil, tetap menjadi masalah ketika orang itu beranjak dewasa. Sungguh hebat luka akibat lidah ini. Dalam kehidupan ini perkataan orang yang bernilai negatif terhadap diri kita lebih membekas daripada pujian. Cacian, umpatan, dan kata-kata kasar lebih lama hilangnya daripada kata-kata yang manis-manis. Begitu pula kritikan, jika kita dkritik maka kritikan itu akan sering terngiang-ngiang dan sulit dilupakan. Hal ini karena kita lebih sering memikirkan kata-kata negatif itu ketimbang memikirkan kata yang baik-baik. Diri kita seolah tidak bisa menerima dikatakan yang buruk-buruk. Hasil penelitian dr John Cacioppo dari Universitas Chicago menemukan bahwa, seperti dikutip dari artikel ini, kalimat negatif memberikan efek besar terhadap otak. Dampak ini disebut negative bias. Karena itu, kritikan akan lebih membekas di ingatan dibanding pujian. Jika kalimat negatif diucapkan orangtua kepada anak yang masih kecil maka efeknya bisa fatal. Janganlah sekali-sekali mengucapkan kepada anak kata-kata seperti ini: kamu bodoh, kamu pemalas, kamu nakal, kamu pelawan, kamu pembohong, kamu

8. Kata kata kotor dan porno, Kol 3:8 Buanglah semuanya inikata kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9. Kata kata tajam dan pedas Maz 140:4 - Mereka menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular senduk ada dibawah bibirnya. 10. Gosip Yak 1:26 - Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. 11. Menyindir Maz 12:3,4 Mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.Biarlah Allah mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar. 12. Menghakimi, Mat 7:1,3 Janganlah kamu menghakimi,supaya kamu tidak di hakimi. Mengapakah kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok didalam matamu tidak engkau ketahui? Begitu banyak dosa yang bisa diakibatkan oleh si lidah ini. Lalu bagaimana kita mengendalikannya ? Hanya melalui pertolongan yang diberikan Kristus kita pasti dapat mengekang lidah. Meskipun sulit menjinakkan lidah, Tuhan akan bekerja bagi kita, bila kita menyerahkan kehendak kita kepadaNya. Sebenarnya, pikiran harus terlebih dahulu di atasi sebelum lidah dijinakan, tetapi untuk mengendalikan pikiran kita harus terlebih dahulu menyerahkan hati kepada Allah. Betapa pentingnya untuk berhati-hati menggunakan lidah, Luka akibat lidah sering kali sulit dihapus. Mari kita baca ilustrasi-terkenal di bawah ini : Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu - minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. Oleh sebab itu, perkataan kita selama hidup, merupakan bagian penting dari kehidupan. Seperti apa kita ingin hidup baik di hari ini, maupun di hari yang

akan datang, sama pentingnya dengan apa yang kita katakan setiap hari. Karena itu menjaga lidah kita setiap hari, adalah cara terbaik memelihara hidup. Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia. Amin