Anda di halaman 1dari 7

No. 1.

Obat Deksametason

Interaksi Dengan Obat Lain Substrat CYP3A4 (minor) : Induktor CYP2A6 (lemah), 2B6 (lemah), 2C8 (lemah), 2C9 (lemah), 3A4 (lemah). Aminoglutethimide : Dapat menurunkan kadar/efek deksametason, melalui induksi enzim mikrosomal. Antasida : Meningkatkan absorpsi kortikosteroid, selang waktu pemberian 2 jam. Antikolinesterase: Pemberian bersama akan menimbulkan rasa lemah pada penderita myasthenia gravis. Anti jamur Azole : Dapat meningkatkan kadar kortikosteroid. Barbiturat : Akan menurunkan kadar/efek deksametason. Penghambat saluran kalsium (nondihidropiridin) : Kemungkinan meningkatkan kadar kortikosteroid. Siklosporin : Kortikosteroid dapat meningkatkan kadar siklosporin dan sebaliknya, siklosporin dapat meningkatkan kadar kortikosteroid. Estrogen : Kemungkinan meningkatkan kadar kortikosteroid. Fluorokuinolon : Penggunaan bersamaan akan meningkatkan risiko ruptur tendon, terutama pada usia lanjut. Isoniazid : Konsentrasi isoniazid akan turun. Antibiotika makrolida : Kemungkinan meningkatkan kadar/efek deksametason. Penghambat neuromuskuler : Pemberian bersama akan meningkatkan risiko miopati. Antiinflamasi non steroid : Hati-hati karena meningkatkan efek samping pada saluran pencernaan. Rifampisin : Menurunkan kadar/efek deksametason. Vaksin (mati) : Deksametason menurunkan efek vaksin. Pada pasien dengan terapi kortikosteroid > 14 hari, tunggu setidaknya 1 bulan sebelum diberikan imunisasi. Dengan Makanan Makanan : Deksametason akan berinterferensi dengan kalsium. Batasi

2.

Prednison

3.

Glikazid

Vaksin hidup : Deksametason meningkatkan risiko infeksi. Penggunaan vaksin hidup kontraindikasi pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah. Obat-obat yang menginduksi enzim-enzim hepatik, seperti fenobarbital, fenitoin, dan rimfamisin dapat meningkatkan klirens kortikosteroid. Oleh sebab itu, jika terapi kortikosteroid diberikan bersama-sama obatobat tersebut, maka dosis kortikosteroid harus ditingkatkan untuk mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Obat-obat seperti troleandomisin dan ketokonazol dapat menghambat metabolisme kortikosteroid, dan akibatnya akan menurunkan klirens atau ekskresi kortikosteroid. Oleh sebab itu jika diberikan bersamaan, maka dosis kortikosteroid harus disesuaikan untuk menghindari toksisitas steroid. Kortikosteroid dapat meningkatkan klirens aspirin dosis tinggi yang diberikan secara kronis. Hal ini dapat menurunkan kadar salisilat di dalam serum, dan apabila terapi kortikosteroid dihentikan akan meningkatkan resiko toksisitas salisilat. Aspirin harus digunakan secara berhati-hati apabila diberikan bersama-sama dengan kortikosteroid pada pasien yang menderita hipoprotrombinemia. Efek kortikosteroid pada terapi antikoagulan oral bervariasi. Beberapa laporan menunjukkan adanya peningkatan dan laporan lainnya menunjukkan penurunan efek antikoagulan apabila diberikan bersama-sama dengan kortikosteroid. Oleh sebab itu indeks koagulasi harus selalu dimonitor untuk mempertahankan efek antikoagulan sebagaimana yang diharapkan. Alkohol : dapat menambah efek hipoglikemik. Analgetika (azapropazon, fenilbutazon, dan lain-lain): meningkatkan efek sulfonilurea. Antagonis kalsium : misalnya nifedipin kadang-kadang mengganggu toleransi glukosa. Antagonis Hormon : aminoglutetimid dapat mempercepat metabolisme OHO; oktreotid dapat menurunkan kebutuhan insulin dan OHO.

4.

ISDN (Isosorbid Dinitrat)

Antihipertensi diazoksid : melawan efek hipoglikemik. Antibakteri (kloramfenikol, kotrimoksasol, 4-kuinolon, sulfonamida dan trimetoprim) : meningkatkan efek sulfonilurea. Antibakteri rifampisin : menurunkan efek sulfonilurea (mempercepat metabolisme). Antidepresan (inhibitor MAO) : meningkatkan efek hipoglikemik Antijamur : flukonazol dan mikonazol menaikkan kadar plasma sulfonilurea. Anti ulkus : simetidin meningkatkan efek hipoglikemik sulfonilurea. Hormon steroid : estrogen dan progesterone (kontrasepsi oral) antagonis efek hipoglikemia. Klofibrat : dapat memperbaiki toleransi glukosa dan mempunyai efek aditif terhadap OHO. Penyekat adrenoreseptor beta : meningkatkan efek hipoglikemik dan menutupi gejala peringatan, misalnya tremor. Penghambat ACE : dapat menambah efek hipoglikemik. Urikosurik : sulfinpirazona meningkatkan efek sulfonilurea. Substrat CYP3A4 (mayor). Penginduksi CYP3A4: Penginduksi CYP3A4 dapat menurunkan kadar/efek isosorbid dinitrat. Contoh obat ini adalah aminoglutethimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin, dan rifamisin. Penghambat CYP3A4: Dapat meningkatkan kadar/efek isosorbid dinitrat. Contoh obat ini adalah antifungi golongan azol, kalritromisin, diklofenak,doksisiklin, eritromisin, imatinib, isoniazid, nefazodon, nikardipin, propofol, penghambat protease,kuinidin, telithromisin, dan verapamil. Sildenafil, tadalafil, vardenafil: Menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik bila digunakan bersama (kontraindikasi), harus diberi interval 24 jam.

Makanan : Obat ini bisa diberikan tanpa terpengaruh oleh adanya makanan.

5.

6.

7.

Etanol: dapat meningkatkan risiko hipotensi. Metotreksat : Meningkatkan toksisitas Metotreksat dengan menurunkan eliminasi di ginjal. Kloramfenikol Kloramfenikol menghambat enzim sitokrom P450 irreversibel memperpanjang T (dicumarol, phenytoin, chlorpopamide, dan t olbutamide). Mengendapkan berbagai obat lain dari larut annya, merupakan antagonis kerja bakterisidal penisilin dan aminoglikosida. Phenobarbital dan rifampin mempercepat eliminasi dari kloramfenikol. Omeprazole Omeprazole dapat memperpanjang eliminasi obat-obat yang dimetabolisme melalui sitokrom P450 di dalam hati yaitu: Diazepam, Fenitoin dan Warfarin. Pemantauan penderita yang juga mendapatkan pengobatan fenitoin atau warfarin. Tidak ditemukan interaksi dengan Propanolol dan Teofilin. Omeprazole mengurangi absorpsi obat-obat yang absorpsinya dipengaruhi oleh pH lambung yaitu; Ketokonazole, ester, Ampisilin, garam besi. Furosemid Hipokalemia yang diinduksi oleh furosemid akan menyebabkan toksisitas pada digoksin dan dapat meningkatkan risiko aritmia dengan obat-obat yang dapat meningkatkan interval QT, termasuk antiaritmia tipe Ia dan III, cisaprid dan beberapa kuinolon (sparfloksasin, gatifloksasin dan moksifloksasin). Risiko toksisitas litium dan salisilat akan meningkat dengan adanya diuretik loop. Efek hipotensi dan/atau efek lanjut pada ginjal dari inhibitor ACE dan anti inflamasi non steroid akan meningkat dengan adanya hipovolemia yang diinduksi oleh furosemida, Efek obat bloker adrenergik perifer atau bloker ganglion dapat ditingkatkan oleh furosemid. Furosemid dapat meningkatkan risiko toksisitas dengan agen ototoksik lain (aminoglikosida, cis-platinum), terutama pada pasien dengan disfungsi ginjal.

Makanan: Konsentrasi furosemid menurun dengan adanya makanan. Hindari dong quai, efedra, yohimbe, ginseng (memperparah hipotensi), bawang putih (dapat meningkatkan efek hipertensi), batasi penggunaan licorice.

8.

Ketoconazole

9.

Clonidine

Efek sinergis diuretik lebih cenderung terjadi pada penggunaan bersama obat antihipertensi lain dan hipotensi dapat terjadi. Indometasin, aspirin, fenobarbital, fenitoin dan antiinflamasi non steroid dapat menurunkan efek natriuretik dan hipotensif dari furosemid. Colestipol, kolestiramin dan sukralfat akan menurunkan efek furosemid, beri jarak pemberian 2 jam. Furosemid dapat mengantagonis efek relaksan otot skeletal (tubokurarin). Toleransi glukosa dapat diturunkan oleh furosemid, perlu penyesuaian dosis obat hipoglikemik. Metformin dapat menurunkan konsentrasi furosemid. Pemberian bersama-sama dengan terfenadin dan asetamizol. Absorbsi Ketoconazole maksimal bila diberikan pada waktu makan. Absorbsinya terganggu kalau sekresi asam lambung berkurang, pada pasien yang diberikan obatobat penetral asam (antasida) harus diberikan 2 jam atau lebih setelah Ketoconazole. Pemberian bersama dengan rifampicin dapat menurunkan konsentrasi plasma kedua obat. Pemberian bersama dengan INH dapat menurunkan konsentrasi plasma Ketoconazole, bila kombinasi ini digunakan konsentrasi plasma harus dimonitor. Antipsikotik : penggunaan bersama dengan antipsikotik (khususnya yang berpotensi rendah) atau nitroprusiddapat menghasilkan efek hipotensi tambahan. Beta bloker : potensiasi bradikardia pada pasien yang menerima klonidin dan dapat memperparah kambuhnya hipertensi setelah penghentian terapi; penghentian beta bloker dilakukan beberapa hari sebelum penurunan dosis klonidin. Depresan SSP : efek sedatif mungkin meningkat; monitor untuk kenaikan efek ini; yang menyebabkan efek ini termasuk barbiturat, benzodiazepin,

Makanan: Hindari dong quai, jika klonidin diindikasikan sebagai antihipertensi (aktivitas estrogenik). Hindari efedra, yohimbe, ginseng (memperparah hipertensi).

10.

Captopril

opiod, analgesik, etanol dan golongan sedatif lainnya. Siklosporin : klonidin dapat meningkatkan konsentrasi serum siklosporin (juga takrolimus), penyesuaian dosis siklosporin harus dilakukan. Obat hipoglikemik : klonidin dapat menurunkan gejala hipoglikemia, monitor pasien yang meminum obat diabetes. Anestesi lokal : klonidin epidural dapat memperpanjang blokade sensori dan motorik anestesi lokal. Analgesik narkotik : akan mempotensiasi efek hipotensif klonidin. Antidepresan trisiklik : efek antihipertensi klonidin diantagonis oleh antidepresan trisiklik. Antidepresan trisiklin dapat mempengaruhi respon hipertensi yang berhubungan dengan penghentian secara tiba-tiba terapi klonidin; hindari penggunaan kombinasi ini dan pertimbangkan alternatif lain. Verapamil : penggunaan bersamaan dapat menyebabkan hipotensi dan blok AV pada beberapa pasien (dokumentasi terbatas);monitor pasien. Etanol : dapat menyebabkan depresi SSP. Pemberian obat diuretik hemat kalium (spironolakton-triamteren, anulona) dan preparat kalium harus dilakukan dengan hati-hati karena adanya bahaya hiperkalemia. Penghambat enzim siklooksigenase sepeti indometasin, dapat menghambat efek kaptopril. Disfungsi neurologik pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi kaptopril dan simetidin. Kombinasi kaptopril dengan allopurinol tidak dianjurkan, terutama gagal ginjal kronik.

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Nama Obat Hidroklortiazide Propanolol Kloramfenikol Metoklopramid Primakuin Fenasetin Fenitoin Ibuprofen Simetidin Isosorbid Dinitrat (ISDN)

Adverse Drug Reaction (ADR) Hipokalemia Gagal jantung Anemia aplastik Konvulsi Anemia hemolitik akut Interstisial nefritis dan toksisitas okular Efek teratogenik (fetal hydantoin syndrome) Ulkus gastrointestinal Trombositopenia Bradikardi paradoksikal