Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Saluran pencernaan memberi tubuh persediaan akan air,elektrolit, dan zat makanan yangterus menerus. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan (1) pergerakan makanan melalui saluran pencernaan, (2) sekresi getah pencernaan dan pencernaan makanan, (3) absorpsi air berbagaielektrolit, dan hasil pencernaan, (4) sirkulasi darah melalui organ-organ gastrointestinal untuk membawa zat-zat yang diabsorbsi, dan (5) pengaturan semua fungsi ini oleh sistem lokal,saraf, dan hormone. Setiap bagian dari saluran pencernaan disesuaikan terhadap fungsispesifiknya : beberapa untuk pasase makanan yang sederhana, seperti esophagus; yang lainuntuk penyimpanan makanan sementara, seperti lambung; dan yang lain untuk pencernaandan absorpsi, seperti usus halus.Agar makanan dapat dicerna secara optimal dalam saluran pencernaan, waktu yangdiperlukan makanan pada masing-masing bagian saluran bersifat sangat penting. Selain itu, pencampuran yang tepat juga harus dilakukan. Tetapi karena kebutuhan untuk pencampurandan propulsi (pendorongan) sangat berbeda pada tiap tingkat proses, berbagai mekanismeumpan balik hormonal dan saraf otomatis akan mengontrol waktu dari tiap aspek proses inisehingga pencampuran dan pendorongan akan terjadi secara optimal, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.Di sepanjang traktus gastrointestinal, kelenjar sekretoris mempunyai dua fungsi utama :Pertama, enzim-enzim pencernaan disekresi pada sebagian besar daerah saluran pencernaan,dari rongga mulut sampai ujung distal ileum. Kedua, kelenjar mucus, dari rongga mulutsampai ke anus, mengeluarkan mucus untuk melumaskan dan melindungi semua bagiansaluran pencernaan. Kebanyakan sekresi

pencernaan terbentuk hanya sebagai responsterhadap keberadaan makanan di dalam saluran pencernaan, dan jumlah yang disekresi padasetiap segmen traktus hamper sama dengan jumlah yang dibutuhkan untuk pencernaan yangsesuai. Selanjutnya, pada beberapa bagian traktus gastrointestinal, bahkan jenis enzim danzat-zat lainnya dari sekresi bervariasi sesuai dengan tipe makanan yang ada.Bahan makanan utama yang diperlukan oleh tubuh yang hidup, (selain jumlah kecil zatseperti vitamin dan mineral) dapat digolongkan sebagai karbohidrat, lemak dan protein, bahan-bahan ini biasanya tidak dapat diserap dalam bentuk alami melalui mukosa saluran pencernaan dan, karena alasan ini bahan-bahan tersebut tidak berguna sebagai zat nutrisitanpa pencernaan awal. Dalam prosesnya yang berkangsung terus-menerus bukan tidak mungkin saluran pencernaan

mengalami gangguan atau bahkan kelainan. Hal ini tentu saja akan mengganggu proses pencernaan. Pengobatan yang efektif untuk kebanyakan

gangguangastrointestinal bergantung pada pengetahuan dasar mengenai fisiologi gastrointestinal. Olehkarena hal-hal di atas maka dalam makalah ini akan membahas prinsip-prinsip umum fungsigastrointestinal(Motilitas, pengaturan saraf dan sirkulasi darah), propulsi dan pencampuranmakanan dalam saluran pencernaan, fungsi sekresi saluran pencernaan, pencernaan danabsorpsi dalam traktus gastrointestinal serta fisiologi gangguan gastrointestinal.

BAB II PEMBAHASAN A. Sistem Pencernaan Untuk mengetahui permasalahan pencernaan dan memilih obat yang tepat kita perlu mengenal juga sistem pencernaan kita. Adapun sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut : menerima makanan memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut pencernaan) menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

B. Jenis Penyakit Sistem Pencernaan 1. Gangguan pada gigi penyebab : kotoran pada gigi yang menumpuk.menyebabkan : - Karang gigi, gusi berdarah, pembengkakan dan bau mulut - Menjadi tempat bakteri yang menghasilkan asam yang dapat mengikis email dan menyebabkan gigi berlubang 2. Konstipasi (sembelit) Sulit buang air besar karena feses (tinja) terlalu lama didalam usus besar akibatnya terjadi absorbsi (penyerapan) air berlebih sehingga feses kering dan sulitdikeluarkan Beberapa faktor penyebab: kurang minum, kurang makan berserat, tidak

membiasakan diri BAB setiap hari, usia, stres, kurang aktivitas fisik 3. Diare Gangguan pencernaan yang menyebabkan fases sangat cair karena peristaltic atau gerakan otot-otot pencernaan yang sangat cepat. Penyebabnya: bisa karena makanan, stress, atau organism yang menyebabkan kerusakan pada bagian dinding sel usus. 4. Gangguan akibat infeksi a. Gastritis peradangan yang terjadi dibagian mukosa lambung yang sering terjadi pada orang yang beusian lanjut. Tidak begitu berbahaya, namun lama-kelamaan akan menyebabkann kerusakan mukosa lambung sehingga bersifat akut. Peradangan dinding lambung menyebabkan nyeri perut, mual, muntah, feses berwarna hitam. Penyebab: virus, bakteri, stres, alergi, racun, alkohol. b. Maag (tukak lambung) Terdapat luka atau pengikisan pada dinding lambung dan usus 12 jari Dapat disebabkan karena: Bakteri Heliobacter pillory dan Produksi asam lambung berlebih c. Kolera Gejala : diare yang hebat, muntah, kejang otot. Penyebab : bakteri Vibrio cholerae yang masuk lewat makanan d. Disentri Menyerang usus besar Gejala: BAB berair, feses berlendir disertai darah, kram perut Penyebab: bakteri Entamoeba histolitica

5. Gangguan pada kelenjar pencernaan Hepatitis, Pankreatitis, Batu empedu, Parotitis 6. Radang usus buntu (appendisitis) Peradangan pada umbai cacing (appendiks) Penyembuhan dilakukan dengan appendectomy (operasi pemotongan pada apendiks) C. Jenis-Jenis Obat Pencernaan Obat kembung 1. Cisapride - adalah obat yang meningkatkan pergerakan atau kontraksi dari lambung dan usus. Obat ini digunakan untuk mengobati gejala seperti kembung yang disebabkan kembalinya asam lambung ke esopha 2. Dimethicone dan derivatnya Dimethicone mempunyai Derivatnya adalah nama lain dimethylpolysiloxane. yang merupakan campuran yang

simethicone

polydiethylpolysiloxane.

Merupakan

obat

antifoaming

diperuntukan untuk mengurangi kembung, ketidaknyamanan dan sakit yang disebabkan kelebihan gas pada saluran cerna dan usus. Cara kerjanya dengan menurunkan tegangan permukaan dari gas sehingga buih di dalam pencernaan membentuk gelembung yang besar yang mudah dikeluarkan oleh tubuh. Bentuk sediaan yang ada adalah tablet, kapsul dan cairan suspensi. Obat ini tidak diserap oleh tubuh ke aliran darah, sehingga relatif aman, efek samping hanya berupa konstipasi, diare dan nyeri perut.

3. Clebopride Diindikasikan untuk mual & muntah yang disebabkan berbagai hal baik obat maupun penyakit. 4. Metoclopramide Metoclopramide merangsang merupakan saluran benzamida tersubstitusi makanan empedu yang tanpa atau

motilitas

pencernaan lambung,

mempengaruhi

sekresi

pankreas. Metoclopramide mempunyai aktivitas parasimpatomimetik dan mempunyai sifat antagonis reseptor dopamin dengan efek langsung pada kemoreseptor "trigger zone". Metoclopramide

kemungkinan juga mempunyai sifat antagonis reseptor serotonin. 5. Hyoscine Merupakan alkaloid yang bersifat antikolinergik dengan fungsi untuk gangguan kontraksi saluran pencernaan, kandung empedu, saluran kemih dan saluran alat kelamin wanita. Sediaannya biasanya dikombinasi dengan metampiron atau paracetamol. 6. Mesalazine Mesalazine termasuk golongan obat aminosalisilat. Obat ini

digunakan untuk mengurangi pembengkakan pada radang usus besar. Akibat radang usus besar terjadinya pembengkakan dan pendarahan pada usus besar yang menyebabkan gejala sakit pada abdominal dan diare bercampur darah, nanah dan lendir. Mesalazine bekerja dengan mengurangi pembengkakan pada usus, sehingga mengurangi gejala yang disebabkan penyakit.

Antispamodik Antispasmodik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kejang pada saluran cerna yang mungkin disebabkan diare, gastritis, tukak peptik dan sebagainya. 1. Hyoscine Obat ini beraksi pada sistem saraf otonom dan mencegah kejang otot. Obat ini biasa digunakan untuk pra pengobatan untuk mengosongkan secresi paru-paru. Obat ini juga digunakan untuk pengobatan tukak lambung. 2. Clidinium Kombinasi chlordiazepoxide dan clidinium bromide digunakan untuk mengobati lambung yang luka dan teriritasi. Obat ini membantu mengobati kram perut dan abdominal.

Chlordiazepoxide dapat menyebabkan kecanduan. Meskipun demikian, sewaktu mengkonsumsi chlordiazepoxide dan clidinium bromide, jangan minum dengan dosis besar atau minum lebih lama dari yang dokter resepkan. Toleransi mungkin terjadi karena pemakaian jangka panjang atau berlebihan yang membuat pengobatan kurag efektif. Obat ini harus dikonsumsi secara teratur agar pengobatannya efektif. Jangan lewatkan dosis walaupun anda pikir anda tak membutuhkannya. Jangan konsumsi kombinasi obat ini lebih dari 4 bulan atau menghentikan pengobatan tanpa konsultasi ke dokter anda terlebih dahalu. Penghentian obat yang mendadak akan memperparah kondisi penyakit anda dan

menimbulkan

gejala

withdrawal

symptoms

(anxiousness,

sleeplessness, and irritability). 3. Mebeverine Obat ini digolongkan sebagai obat antispasmodic. Mebeverine digunakan untuk mengobati kram dan kejang pada perut dan usus. Mebeverine khususnya digunakan dalam pengobatan irritable bowel syndrome (IBS) dan konsisi sejenis. Di Indonesia Mebeverine hanya tersedia dalam bentuk tablet. 4. Papaverine Papaverine digunakan untuk meningkatkan peredaran darah pada pasien dengan masalah sirkulasi darah. Papaverine bekerja dengan merelaksasi saluran darah sehingga darah dapat mengalir lebih mudah ke jantung dan seluruh tubuh. Papaverine adalah golongan alkaloid opium yang diindikasikan untuk kolik

kandungan empedu dan ginjal dimana dibutuhkan relaksasi pada otot polos, emboli perifer dan mesenterik. Sediaannya selain tunggal juga ada yang dikombinasi dengan obat Metamizole. Obat Diare Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa mencapi lebih dari 500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam keadaan normal bisa menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%.

Pengobatan Diare merupakan suatu gejala, pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan penderita diare hanya perlu

menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obatobatan tertentu, untuk menghentikan diare.Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein. Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau

loperamide.Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare. Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan attapulgit aktif. Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus.Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam. Untuk pemilihan golongan obat diare ini yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter. Obat Diare 8. Rececordil Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang

pertama kali dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut. Berdasarkan uji klinis didapatkan bahwa anti diare ini memberikan hasil klinis yang baik dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Produk ini juga merupakan anti diare pertama yang cara kerjanya mengembalikan keseimbangan sistem tubuh dalam mengatur penyebaran air dan elektrolit ke usus. Selain itu, Hidrasec pun mampu menghambat enkephalinase dengan baik. Dengan demikian, efek samping yang ditimbulkannya sangat minimal. 9. Loperamide Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara emeperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai ialah kolik abdomen, sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi. 10. Nifuroxazide Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan. Aktifitas antimikroba Nifuroxazide lebih besar dari obat anti infeksi intestinal biasa seperti kloroyodokuin. Pada konsentrasi encer (1 : 25.000) Nifuroxazide masih memiliki daya bakterisidal. Obat diare ini diindikasikan untuk diare akut, diare yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus,

10

kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk anak-anak maupun dewasa. 11. Dioctahedral smectite Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak dengan diare akut.

Obat Sembelit Sembelit (Konstipasi) adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan buang air besar atau jarang buang air besar. Konstipasi akut dimulai secara tiba-tiba dan tampak dengan jelas. Konstipasi menahun (kronik), kapan mulainya tidak jelas dan menetap selama beberapa bulan atau tahun. Jika konstipasi disebabkan oleh suatu penyakit, maka penyakitnya harus diobati. Jika tidak ditemukan penyakit lain sebagai penyebabnya, pencegahan dan pengobatan terbaik untuk konstipasi adalah gabungan dari olah raga, makanan kaya serat dan penggunaan obat-obatan yang sesuai untuk sementara waktu. Sayur-sayuran, buah-buahan dan gandum merupakan sumber serat yang baik. Supaya bisa bekerja dengan baik, serat harus dikonsumsi bersamaan dengan sejumlah besar cairan.

11

OBAT-OBAT PENCAHAR Banyak orang menggunakan obat pencahar (laksatif) untuk menghilangkan konstipasi.Beberapa obat aman digunakan dalam jangka waktu lama, obat lainnya hanya boleh digunakan sesekali. Beberapa obat digunakan untuk mencegah konstipasi, obat lainnya digunakan untuk mengobati konstipasi. Golongan obat-obat pencahar yang biasa digunakan adalah: 1. Bulking Agents, (gandum, psilium, kalsium polikarbofil dan metilselulosa) bisa menambahkan serat pada tinja. Penambahan serat ini akan merangsang kontraksi alami usus dan tinja yang berserat lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan. Bulking agents bekerja perlahan dan merupakan obat yang paling aman untuk merangsang buang air besar yang teratur. Pada mulanya diberikan dalam jumlah kecil. Dosisnya ditingkatkan secara bertahap, sampai dicapai keteraturan dalam buang air besar. Orang yang

menggunakan bahan-bahan ini harus selalu minum banyak cairan. 2. Pelunak Tinja, dokusat akan meningkatkan jumlah air yang dapat diserap oleh tinja. Sebenarnya bahan ini adalah detergen yang menurunkan memungkinkan tegangan air permukaan tinja dari tinja, sehingga dan

menembus

dengan

mudah

menjadikannya lebih lunak. Peningkatan jumlah serat akan merangsang kontraksi alami dari usus besar dan membantu melunakkan tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. 3.Minyak Mineral, minyak mineral akan melunakkan tinja dan memudahkannya keluar dari tubuh. Tetapi bahan ini akan

12

menurunkan penyerapan dari vitamin yang larut dalam lemak. Dan jika seseorang yang dalam keadaan lemah menghirup minyak mineral secara tidak sengaja, bisa terjadi iritasi yang serius pada jaringan paru-paru. Selain itu, minyak mineral juga bisa merembes dari rektum. 4. Bahan-bahan Osmotik, mendorong sejumlah besar air ke dalam usus besar, sehingga tinja menjadi lunak dan mudah dilepaskan. Cairan yang berlebihan juga meregangkan dinding usus besar dan merangsang kontraksi. Pencahar ini mengandung garam-garam (fosfat, sulfat danmagnesium) atau gula (laktulosa dan sorbitol). Beberapa bahan osmotik mengandung natrium,

menyebabkan retensi (penahanan) cairan pada penderita penyakit ginjal atau gagal jantung, terutama jika diberikan dalam jumlah besar. Bahan osmotik yang mengandung magnesium dan fosfat sebagian diserap ke dalam aliran darah dan berbahaya untuk penderita gagal ginjal. Pencahar ini pada umumnya bekerja dalam 3 jam dan lebih baik digunakan sebagai pengobatan daripada untuk pencegahan. Bahan ini juga digunakan untuk mengosongkan usus sebelum pemeriksaan rontgen pada saluran pencernaan dan sebelum kolonoskopi. 5. Pencahar Perangsang, secara langsung merangsang dinding usus besar untuk berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Obat ini mengandung substansi yang dapat mengiritasi seperti senna, kaskara, fenolftalein, bisakodil atau minyak kastor. Obat ini bekerja setelah 6-8 jam dan menghasilkan tinja setengah padat, tapi sering

13

menyebabkan kram perut. Dalam bentuksupositoria (obat yang dimasukkan melalui lubang dubur), akan bekerja setelah 15-60 menit. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada usus besar, juga seseorang bisa menjadi tergantung pada obat ini sehingga usus menjadi malas berkontraksi (Lazy Bowel Syndromes). Pencahar ini sering digunakan untuk mengosongkan usus besar sebelum proses diagnostik dan untuk mencegah atau mengobati konstipasi yang disebabkan karena obat yang

memperlambat kontraksi usus besar (misalnya narkotik).

Obat Digestan Digestan adalah obat pencernaan yang membantu proses pencernaan berisi enzim-enzim atau campurannya yang berguna untuk memperbaiki fungsi pencernaan. Digestan bermanfaat pada defisiensi satu atau lebih zat yang berfungsi mencerna makanan di saluran cerna. Proses pencernaan makanan dipengaruhi oleh HCl (asam lambung), enzim pencernaan dan empedu. Adapun secara garis besar sediaan digestan yang bermanfaat adalah sebagai berikut : 1. Enzim Pankreas - Enzim pankreas dalam sediaan dikenal sebagai pankreatin dan pankrelipase. Kedua zat tersebut mengandung amilase, tripsin (protease) dan lipase. Pankrelipase berasal dari pankreas hewan, aktivitas lipasenya relatif lebih tinggi daripada pankreatin. Pankrelipase diindikasikan pada keadaan defesiensi sekret pankreas misalnya pada pankreatitis dan mukovisidosis. Ennzim ini dirusak asam lambung

14

sehingga harus dibuat dalam bentuk tablet enteral. Enzim pankreas sedikit sekali menyebabkan efek samping. Dosis tinggi dapat

menyebabkan mual dan diare dan juga hiperurisemia. 2. Pepsin - adalah enzim proteolitik yang kurang penting dibanding dengan enzim pankreas. Pada defisiensi pepsin, tidak ditemukan gejala yang serius. Defisiensi pepsin total ditemukan pada pasien aklorhidria. Kegagalan lambung untuk mensekresi pepsin dan asam dengan rangsangan yang adekuat disebut akilia gastrika, sering terjadi pada pasien anemia pernisiosa dan karsinoma lambung. 3. Empedu - mengandung asam empedu dan konjugatnya. Zat empedu yang penting untuk manusia ialah garam natrium asam kolat dan asam kenodeoksikolat. Selain penting untuk penyerapan lemak, empedu juga penting untuk absorpsi zat larut lemak misalnya vitamin A, D, E dan K. Dalam jumlah besar, garam empedu dapat menetralkan asam lambung yang masuk ke duodenum. Pada keadaan normal hati mensekresi 24 g garam empedu atau 700 - 1000 ml cairan empedu/hari. Kira-kira 85 % empedu diabsorpsi pada usus kecil bagian bawah (sirkulasi

enterohepatik), sehingga hanya 80 mg garam empedu yang harus disintesis perharinya. Asam-asam empedu meningkatkan sekresi empedu dan disebut zat koleretik, garam empedu kurang

memperlihatkan aktivitas koleretik. Asam dehidrokolat suatu kolat semisintetik terutama aktif untuk merangsang empedu

dengan BM (Berat molekul) rendah karena itu dinamakan zaat hidrokoleretik. Zat ini hanya merangsang pengeluaran empedu dan bukan prosuksi empedu. Berbeda dengan asam kolat, asam

15

kenodeoksikolat menurunkan kadar kolesterol dalam empedu. Obat ini berguna untuk mengatasi batu kolesterol kandung empedu pada pasien tertentu. Asam kenodeoksikolat bekerja dengan menurunkan absorpsi kolesterol dari usus dan menurunkan sintesis kolesterol. Bila kadar asam kenodeoksikolat mencapai 70 % empedu total, maka larutan empedu yang tadinya jenuh kolesterol menjadi tidak jenuh. Garam empedu menurunkan resistensi mukosa saluran cerna terhadap asam lambung. Kenyataan ini diduga mempunyai implikasi terhadap

terjadinya gastritis, tkak peptik dan refluks esofagus.

Kolagogum, Kolelitolitik dan Hepatik Protektor Pada obat pencernaan golongan ini tidak langsung berkaitan dengan saluran cerna tetapi lebih kepada fungsi hati dan empedu yang bermasalah. Obat yang menstimulasi aliran empedu ke duodenum disebut Kolagogum. Hingga kini belum ada pengobatan efektif pilihan untuk penyakit hepatitis yang kronis karena virus. Banyak penderita menjadi sirosis salah satu komplikasi yang terkenal atau menjadi kanker hati stadium awal. Pilihan pengobatan sampai sekarang masih dengan interferon alfa. Hanya sedikit penderita yang dapat merespon dengan baik pengobatan ini. Pada infeksi hepatitis B 19 - 41 % penderita mencapai keberhasilan pengobatan dan infeksi hepatitis C 15 25%. Sehingga dibutuhkan obat / vitamin atau suplemen untuk memperbaiki kondisi tersebut . Ada beberapa zat aktif yang diindikasikan untuk masalah ini , seperti di bawah ini :

16

h.Ursodeoksikolat - Penelitian terkini menunjukkan bahwa garam empedu hidrofilik ursodeoksikolat dapat meningkatkan hasil

pengobatan dengan interferon alfa. Aksi kerja dari ursodeoksikolat adalah dengan memberi efek cytoprotektif langsung, dan efek pada siklus enterohepatik pada efek korelatif potensial asam empedu dan efek imunomodulate. Asaam Ursodeoksikolat biasanya diberikan dalam terapi tunggal dalam dosis 8 -10 mg per kg berat badan. Selain itu dapat digunakan untuk meningkatkan efek interferon - alpha pada terapi kombinasi. i. AARC - atau asam amino rantai cabang, merupakan asam amino esensial yang terdiri dari asam amino Valin, Leusin, & Isoleusin. Pada penderita penyakit hati kronis atau sirosis hati kadar AARC ini akan menurun. Dalam sediaannya biasanya dikombinasi dengan asam amino lainnya atau vitamin dan mineral. j.Chenodeoxycholic - Chenodeoxycholic acid adalah asam empedu. Chenodeoxycholic acid adalah satu dari empat asam organik utama yang diproduksi oleh hati. Chenodeoxycholic acid disintesa hati dari kolesterol. Chenodeoxycholic acid dan asam kolat adalah asam empedu yang paling penting pada manusia. Chenodeoxycholic acid diindikasikan untuk batu empedu kolesterol, khususnya pada pasien yang beresiko tinggi untuk pembedahan, tidak dapat ditolong dengan pembedahan sama sekali atau yang menolak kolesistektomi (membuang kandung empedu yang sakit atau yang berisi batu dengan pembedahan). k. Zat aktif lainnya - Banyak zat yang berasal dari alam seperti silymarin, lecitin, ekstrak rimpang-rimpangan maupun tanaman lainnya yang

17

dalam penelitian bermanfaat untuk kesehatan hati. Selain itu juga sediaan yang ada dikombinasi dengan multivitamin atau zat lainnya dengan komposisi yang telah diatur khusus untuk penderita penyakit hati. Kalaupun sediaan kombinasi ini atau sering disebut multivitamin atau suplemen untuk hati masuk dalam kategori obat bebas tetap penggunaannya harus sesuai dengan resep dokter dan petunjuk pemakainnya dalam kemasan.

18

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Obat pencernaan adalah jenis obat-obatan yang membantu dalam menyembuhkan gannguan yang terjadi dalam system pencernaan kita. Dimana diketahui bahwa system pencernaan adalah system dalam tubuh manusia yang fungsinya menerima makanan, mencernanya menjadi energy dan nutrisi serta mengelauarkan prosesnya melalui dubur. System pencernaan yang dikarenakan mempunyai peran penting terkadang bisa terjadi masalah akibat pola makan yang tidak teratur, gaya hidup kurang sehat, jarang berolahreaga, infeksi, bakteri, virus serta kelainan pada organorgan alat pencernaan. Maka dari itu, kita harus lebih mengenaln system pencernaan, penyakitnya dan obat-obatan yang bisa membantu dalam penyembuhan atau pencegahan agar tidak terjadi hal demikian.

19

Daftar Pustaka

1. Arjatmo Tjokronegoro, dkk. (2003) Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II.Jakarta: FKUI 2. Aru, W Sudoyo. (2007). Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III. Jakarta: FKUI 3. Ni Luh Gede Yasmin Asih, Skp. (2004). Keperawatan Medical Bedah Klien Dengan Gangguan Sistem gastrointestinal. Jakarta : EGC 4. Soeparman Sarwono Waspadji. (1998). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 5. Sylvia A. Price dan Mary P. Standridge. (2005). Alih Bahasa : Brahm N. Pendit. Patofisiologi Jakarta : EGC

20