Anda di halaman 1dari 3

Pe nghias Bi bir

Jika mendengar kata „penghias bibir", mungkin sebagian akan berasosiasi pada gincu atau lainnya
yang sejenis yang memoles bibir dari luar, menjadikan bibir ini tampak lebih menarik dan lebih
indah katanya.

Namun tidak demikian halnya dengan penghias bibir seorang muslim. Bukanlah gincu yang
menyolok warnanya hingga menarik orang yang melihat, tetapi penghias bibir itu adalah berdzikir
dengan kalimat-kalimat thoyyibah (kalimat yang baik) yang juga merupakan salah satu tanda
kepribadian muslim.

Kita dianjurkan berdzikir setiap saat, dari bangun hingga tidur kembali. Secara harfiah, arti dzikir
adalah mengingat Allah dengan menyebut nama-nama-Nya. Insya Allah, dengan membiasakan
lidah untuk mengucap kalimat-kalimat thoyyibah, akan semakin mempertinggi ma’rifat
(pengetahuan) kita kepada Allah swt. Dengan dekat kepada Allah, hati jadi tenang.

Berikut ini adalah tujuh kalimat thoyyibah yang harus menjadi penghias bibir umat setiap waktu.

Bisami llahi rrahm aani rrahim

Diucapkan setiap kita mengawali segala perbuatan baik. Insya Allah, jika lidah kita terbiasa,
perbuatan ini sudah menjadi refleks kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menjaga diri dari
perbuatan buruk. Karena senantiasa kita diingatkan bahwa ada Allah yang melihat perbuatan kita.

Kalimat ini sekaligus mengingatkan kita, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, termasuk diri
kita yang hina ini. Juga setiap perbuatan kita, hendaknya semua berada di garis yang ditetapkan
Allah.

Dalam sebuah hadits Rasulullh menyatakan, „Bahwa setiap perbuatan baik yang tidak dimulai
dengan kalimat basmalah, maka perbuatan itu tak berkah".

Alh amdul illah

Inti dari ucapan dzikir ini adalah ungkapan rasa syukur atas karunia dan rahmat Allah swt.
Sesungguhnyalah, pancaran perasaan syukur adalah energi kehidupan yang sangat besar bagi
manusia. Mereka yang paling banyak bisa bersyukur, berarti telah memiliki yang terbanyak
dibanding orang lain. Mengenai hal ini Allah swt berfirman :

Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema'lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. 14:7)

Dengan mengucap kalimat ini setiap selesai melakukan satu pekerjaan kebaikan, manusia seakan
menguatkan keyakinannya bahwa tak akan pernah terjadi sesuatupun tanpa campur tangan Allah.
Jika sesuatu itu baik, dirasakan sebagai pertolongan Allah. Jika sesuatu itu kurang baik, tetap
disyukuri dengan berkeyakinan bahwa itupun sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Dan manakala seseorang telah terbiasa mengucap syukur untuk hal-hal yang kecil, maka ketika
Allah menganugerahkan nikmat yang sedikit lebih besar, maka kenikmatan yang dirasakan orang
tersebut akan berlipat ganda.

Astaghfir ullah

Difirmankan dala QS Ali Imran : 135 :

" Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengatahui. (QS.3:135)

Sesungguhnya Maha Suci Allah Yang Maha Sempurna. Setelah Ia ciptakan manusia sebagai
makhluk hidup yang secara sunatullah bisa berbuat khilaf, sekaligus Ia berikan „obat" bagi
kekhilafan tersebut. Bagi mereka yang pandai meminum obat ini, maka mereka tak akan terserang
penyakit hati yang lebih serius. Allah Maha Pengampun, terutama bagi siapapun yang segera
bertobat begitu sadar telah berbuat khilaf.

Umat Islam harus membasahkan bibir mereka dengan istighfar ini, sehingga noda-noda dosa yang
sempat menempel sedikit demi sedikit setiap hari tidak segera bertumpuk menjadi nokhtah hitam
yang tebal. Semakin lama noda-noda ini tertumpuk, akan menjadi semakin sulit untuk
menghilangkannya. Maka benarlah bahwa kebanyakan kesalahan besar berawal dari kekeliruan-
kekeliruan kecil yang tidak dibenahi.

Sayangnya, seringkali manusia terlambat menyadari kekhilafannya itu. Untuk menghindari


keterlambatan tobat, maka dianjurkan untuk istiqomah mengucapkan dzikir ini setiap hari, terutama
setelah sholat, walau dirasakan tak ada kesalahan yang diperbuat. Rasulullaah saw sendiri, yang
sudah dijamin ma’shum (terjaga dari dosa), dalam sehari mengucap istighfar setidaknya 100 kali.

Insya Alla h

Diucapkan ketika seseorang berniat hendak melakukan sesuatu di masa yang akan datang. Dzikir
ini akan mengingatkan kita, bahwa kehendak Allah adalah diatas segalanya. Tak seorang pun
mengetahui apa yang akan terjadi detik setelah ini. Itu sebabnya, tak akan pernah ada janji yang
diikat 100 % antar manusia , kecuali dengan menambahkan kalimat, Insya Allah.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan
mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada
Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk
kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (QS. 18:23-24)

Sayangnya, banyak orang mempergunakan kalimat ini secara keliru, hingga berkembang
anggapan bahwa kalimat mulia ini diucapkan sebagai kelonggaran untuk tidak menepati janji.
Perbuatan umum ini banyak menggejala dalam sebagian masyarakat, sehingga membuat banyak
orang memandang negatif kalimat ini.
Adalah tanggung jawab kita bersama, kaum muslimin, untuk meluruskan pandangan ini. Dimulai
dengan diri kita sendiri. Mari kita buktikan bahwa ucapan Insya Allah bukan berarti niat untuk
melanggar. Akan tetapi sebagai ikatan janji yang sudah pasti akan ditepati secara logika manusia,
disertai kepasrahan terhadap kehendak Allah yang sewaktu-waktu bisa membuyarkan rencana.

Laa Ha ula wa laa quww ata illaa bi llaah

Dzikir yang merupakan mengakuan terhadap kefanaan manusia dan ke Maha Kuasa-an Allah ini
diucapkan ketika seseorang mengambil keputusan (ber’azam). Kalimat thoyyibah ini adalah
pancaran dari sikap tawakal seseorang. Setelah berupaya nyata mempertimbangkan, maka ketika
keputusan diambil, dilanjutkan dengan tawakal kepada Allah, yang dinyatakan dalam sikap
menerima resiko apapun yang terjadi nantinya akibat diputuskannya keputusan tadi.

„ ... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. 3:159)

Laa Ilaa ha illa Alla h

Banyak hadits nabi Muhammad yang menyebutkan keutamaan kelimat thoyyibah ini. Bahkan
disebutkan pula sebagai kunci pintu syurga. Dalam prakteknya, masih banyak muslim yang terus
menerus melafalkan kalimat ini dalam setiap kesempatan, tapi sayang masih hanya sekedar
refleks bibir saja.

Padahal, andai seseorang mengucapkan dzikir ini dengan mengupas hikmahnya, sungguh nikmat
dan manfaatnya akan diperoleh tiada habis-habisnya. Karena penjabaran arti dari kalimat ini begitu
luasnya. Dan manfaatnya pun bisa dirasakan di setiap waktu dan dalam kondisi apapun. Intinya
satu : mengingat kebesaran Allah swt.

Inna lil ahi wa inna il aihi ro oji’u un

Sungguh benar bahwa manusia adalah milik Allah, dan setiap inci tubuhnya berada dalam
genggamanNya. Namun kenyataan bahwa segala sesuatu itu pasti kembali kepada pemiliknya,
Allah swt, tak jarang sulit untuk bisa diterima manusia. Dzikir yang diucapkan saat menghadapi
musibah ini akan membantu kita untuk mengingatkan akan hal ini.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa
lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS. 2:155-156)

Insya Allah, dengan membiasakan meresapi hikmat kalimat ini, kita menjadi lapang dada dalam
menghadapi setiap peristiwa, seburuk apapun, yang sudah menjadi takdir kita. Semakin dalam
seseorang menghayati hikmah dzikir ini semakin ringan dia menghadapi kehidupan yang berat ini,
tanpa harus menghadapi stress dan depresi.