Anda di halaman 1dari 5

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) 3 - 4 Juli 2013, Bandung, Indonesia

Rancang Bangun Instrumen Akuisisi Data Temperatur Menggunakan IC LM35DZ dan Mikrokontroler ATMEGA8535 Berbasis Perangkat Lunak LabVIEW
Arsul Rahman*, Hendro, dan Neny Kurniasih

Abstrak Telah dibuat instrumen akuisisi data temperatur dengan menggunakan sebuah komputer. Sistem instrumen ini terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Sistem perangkat keras yang dimaksud adalah sensor temperatur LM35DZ, pengkondisi sinyal, mikrokontroler ATMEGA8535, dan sebuah komputer. Sedangkan perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dan memperagakan hasil pengukuran adalah berbasis LabVIEW. Informasi temperatur ditampilkan dalam bentuk digital, analog, dan grafik secara real time. Kelebihan lain dari instrumen ini ialah data temperatur dapat disimpan ke dalam format file. Berdasarkan analisis data, instrumen ini memiliki spesifiaksi akurasi 99,6 %, presisi 0,1C, resolusi 0,1C, dan sensitivitas 50 mV/C, dengan jangkauan pengukuran 0C 100C. Kata-kata kunci: temperatur, akuisisi data temperatur, mikrokontroler, sensor temperatur Pendahuluan Salah satu besaran fisis di alam adalah temperatur. Temperatur sering digunakan dalam penelitian baik di bidang ilmu fisika, kimia, biologi dan ilmu lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi, alat ukur temperatur mulai menggunakan sistem akuisisi data. Sistem akuisisi data merupakan sistem instrumentasi elektronik yang terdiri dari sejumlah elemen yang secara bersama-sama bertujuan melakukan pengukuran, menyimpan, dan mengolah hasil pengukuran. Secara sederhana, sistem akuisisi data terdiri dari sensor, perangkat keras akusisi data, dan sebuah komputer [1]. Jika dibandingkan dengan pengukuran konvensional, sistem akuisisi data berbasis komputer dapat melakukan pengolahan, visualisasi, dan penyimpanan data pengukuran [2]. Salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan dalam membuat sistem akuisisi data berbasis komputer yang cukup terkenal adalah LabVIEW. Perangkat lunak ini dibuat oleh perusahaan National Instrument (NI). Dengan memakai pemrograman ini pembuatan program instrumen akuisisi data menjadi lebih mudah dan cepat. Perusahaan National Instrumen juga memproduksi perangkat keras akuisisi data. Namun harganya mahal sehingga menyulitkan untuk kegiatan eksperimental dalam penelitian yang bersifat mandiri. Penelitian tentang akuisisi data yang berhubungan dengan LabVIEW sebenarnya telah pernah dilakukan oleh Didik K, Katherin I [3], namun masih pada tahap perancangan sistem perangkat keras akuisisi data. Pada penelitian ini dilakukan suatu perancangan sistem instrumen akuisisi data temperatur yang cukup murah dan memiliki fungsi umum. Fungsi umum tersebut antara lain dapat menampilkan besaran temperatur, menampilkan grafik temperatur terhadap waktu secara real time, melakukan proses pencuplikan, dan penyimpanan data. Dalam perancangan instrumen ini dibatasi hanya menggunakan satu masukan (input) temperatur. Teori Untuk membuat instrumen ini, maka beberapa elemen atau komponen dan rangkaian elektronika harus diintegrasikan agar dapat saling berhubungan satu dengan yang lain melakukan suatu kerja sehingga tujuan atau fungsi sistem tercapai. Secara keseluruhan diagram blok instrumen ini ditunjukkan pada Gambar 1 berikut :
Program ADC Program LabVIEW

sensor temperatur

pengkondisi Sinyal

ADC mikrokontroler ATMEGA8535 USART

komputer

Serial Com

Gambar 1. Diagram blok sistem akuisisi data dengan komputer. Pada Gambar 1 sensor temperatur yang digunakan dengan tipe LM35DZ. Sensor temperatur ini memiliki keistimewaan yaitu memiliki sensitivitas linear sebesar 10 mV/oC dan jangkauan maksimal operasi temperatur antara 55oC sampai +150oC [4]. Pada penelitian ini tegangan keluaran sensor ini dijadikan sebagai temperatur referensi. Mikrokontroler adalah sebuah terintegrasi yang di dalamnya mikroprosesor, memori, port I/O, dan lainnya. Dalam penelitian ini rangkaian terkoneksi peripheral digunakan

ISBN 978-602-19655-4-2

53

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) 3 - 4 Juli 2013, Bandung, Indonesia

mikrokontroler keluarga AVR tipe ATMEGA8535. Salah satu kelebihan dari mikrokontroler ini adalah telah terintegrasi dengan rangkaian ADC (Analog to Digital Converter) dan memiliki USART yang telah terprogram untuk komunikasi serial dengan interface lain. Dalam penelitian ini jumlah pin dari port ADC yang digunakan hanya satu pin karena sensor temperatur yang digunakan hanya satu. Agar ADC mikrokontroler ATMEGA8535 dapat bekerja, maka dibuat alur program ADC seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
Mulai

rentang skala temperatur yang dibuat adalah 0oC sampai 100 oC dimana ketika temperaturnya 100 o C tegangan keluaran sensor sebesar 1000 mV, maka penguatan rangkaian pengkondisi sinyal harus diatur sebesar 5 kali. Untuk mengolah dan menampilkan data yang dikirimkan oleh mikrokontroler digunakan program perangkat lunak LabVIEW. Program LabVIEW tersebut terdiri dari jendela Block Diagram dan jendela Front Panel.,

Inisialisasi port A, ADC, USART

Baca sensor temperatur

Gambar 4. Jendela Block Diagram.


Konversi ADC

Konversi ADC selesai Y Baca data digital hasil konversi

Kirim data digital ke komputer

Gambar 5. jendela Front Panel.


Selesai

Gambar 2. Alur kerja pemrograman mikrokontroler ATMEGA8535. Untuk membuat program ADC mikrokontroler dari gambar 2 dalam penelitian ini digunakan perangkat lunak CodeVision AVR. Sinyal keluaran dari sensor temperatur harus disesuaikan dengan kebutuhan input ADC mikrokontroler. Untuk menyesuaikannya dibuat rangkaian pengkondisi sinyal (Signal Conditioning). Skema rangkaiannya ditampilkan pada Gambar 3.
VCC

Perancangan program LabVIEW dibagi atas beberapa bagian. Pertama, program komunikasi serial yang berfungsi untuk membuka komunikasi data dengan mikrokontroler, Kedua, program konversi ADC ke temperatur, Ketiga, program indikator, terdiri atas penampil besaran temperatur dalam mode digital dan analog, penampil grafik temperatur terhadap waktu, dan penampil temperatur maksimum dan minimum. Program yang terakhir adalah program kontrol, terdiri atas program penyimpanan data, program pengatur temperatur maksimum-minimum dan program pencuplikan data. Dalam penelitian ini program LabVIEW tidak memberikan perintah kepada mikrokontroler, tetapi hanya menerima input data dari mikrokontroler

VCC

1 2 3

1K5

10K

8 + 1 R2 =10K

LM35DZ

2 - LM358 4 150K 300 nF 0,1 F

150K

vo
R1 = 2K

Gambar 3. Rangkaian pengkondisi sinyal. Pada Gambar 3, besar penguatan bergantung pada tegangan maksimum masukan ADC sebesar 5 V. Karena dalam rancangan instrumen ini,

Agar program LabVIEW dapat mengkonversi data keluaran ADC menjadi besaran temperatur maka dibuat persamaan konversinya. Persamaan konversi ini diperoleh melalui eksperimen menggunakan medium air dan es dengan cara mencatat temperatur yang diperoleh dari sensor temperatur yang dimulai dari 0 oC sampai mencapai titik didih air dan secara bersamaan mencatat data keluaran ADC di komputer. Dari hubungan data keluaran ADC (dADC) terhadap temperatur keluaran sensor (Ts) dapat ditentukan persamaan konversinya melalui grafik. Dalam

ISBN 978-602-19655-4-2

54

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) 3 - 4 Juli 2013, Bandung, Indonesia

aplikasinya persamaan konversi tersebut dimasukan ke dalam program LabVIEW untuk diolah menjadi besaran temperatur yang ditampilkan melalui monitor komputer. Selanjutnya adalah melakukan karakterisasi instrumen. Karakterisasi instrumen terdiri atas beberapa bagian. Pertama membuat grafik dari pengukuran temperatur yang diperoleh dari monitor komputer/instrumen (Tins) terhadap temperatur keluaran dari sensor (Ts) secara bersamaan. Kedua, menentukan besaran spesifikasi instrumen yang dibuat. Besaran spesifikasi tersebut terdiri dari besaran presisi, akurasi, resolusi dan sensitivitas. Penentuan besaran presisi dan akurasi dilakukan dengan mengukur temperatur yang ditampilkan di monitor komputer secara berulang. Besaran presisi diketahui dari hasil perhitungan kesalahan mutlak temperatur (ST) menggunakan program aplikasi Microsoft Excel. Untuk besaran akurasi diperoleh dari perhitungan kesalahan relatif temperatur yang ditampilkan di monitor komputer dengan menggunakan persamaan :
S Kesalahan relatif T x 100 % . T

menggunakan program LabVIEW diperlihatkan pada Gambar 7.

Gambar 7. Tampilan instrumen akuisisi data temperatur menggunakan program LabVIEW. Hasil pengukuran hubungan antara data keluaran ADC (dADC) terhadap temperatur yang diperoleh dari keluaran sensor temperatur (Ts) ditampilkan melalui Gambar 8 berikut.

(1)

Besaran resolusi diperoleh dari perbandingan antara rentang skala temperatur dari instrumen yang dibuat sebesar 100oC terhadap resolusi ADC mikrokontroler ATMEGA8535 sebesar 10 bit. Sedangkan besaran sensitivitas ditentukan dengan mengukur tegangan yang dimasukkan ke ADC (vinADC) terhadap temperatur yang ditampilkan di monitor komputer (Ts). Kemudian dibuat grafik hubungan antara tegangan temperatur di monitor komputer terhadap tegangan yang dimasukkan ke ADC. Selanjutnya menentukan persamaan grafiknya. Hasil dan Diskusi Dari hasil perancangan perangkat keras akuisisi data temperatur diperoleh rangkaian seperti Gambar 6.

Gambar 8. Grafik hubungan dADC - Ts. Pada Gambar 8 diperoleh persamaan grafik seperti ditunjukkan pada Persamaan (2).
d 10,14T 1,89 . s

ADC

(2)

Persamaan (2) dapat dituliskan ke dalam bentuk Persamaan (3) yang merupakan persamaan konversi.
T s d 1,89 ADC . 10,14

(3)

Hasil pengujian temperatur yang ditampilkan di monitor komputer (Tins) terhadap temperatur keluaran dari sensor temperatur (Ts) diperlihatkan pada Gambar 9.

Gambar 6. Rangkaian perangkat keras akuisisi data. Sedangkan hasil perancangan program perangkat lunak akusisi data temperatur
ISBN 978-602-19655-4-2 55

Gambar 9. Grafik karakterisasi Tins - Ts.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) 3 - 4 Juli 2013, Bandung, Indonesia

Dari grafik pada Gambar 9 diperoleh hubungan dari kedua variabel yang dituliskan pada persamaan (4).
T 1,000T 0,055 . ins s

(4)

Pengujian karakterisasi instrumen diperoleh hasil antara lain : Pengujian tingkat presisi dari instrumen di tampilkan melalui Gambar 10. Gambar 12 Grafik hubungan antara Tins vin ADC Pada Gambar 12 diperoleh persamaan seperti dituliskan melalui Persamaan (5).
20,14v 0,126 . T ins in ADC

(5)

Pada Persamaan (5) diperoleh sensitivitas instrumen adalah 20,14C/V 20C/V. Nilai besaran sensitivitas tersebut dapat dituliskan dalam bentuk lain yaitu 0,02C/mV atau 50 mV/ C. Gambar 10. Grafik kesalahan mutlak pengukuran temperatur melalui instrumen. Pada Gambar 10 diketahui bahwa kesalahan mutlak terkecil sebesar 0oC saat temperatur 0 oC dan kesalahan mutlak terbesar adalah 0,195 oC saat temperatur 36,0 oC. Hasil perhitungan kesalahan mutlak rata-rata 0,036 C, sehingga dapat diketahui bahwa tingkat kepresisian instrumen ini sebesar 0,095 C 0,1 C. Hasil pengujian tingkat akurasi instrumen ditampilkan melalui Gambar 11 berikut. Kesimpulan Instrumen akuisisi data temperatur dengan menggunakan komputer, sensor temperatur IC LM35DZ, mikrokontroler ATMEGA8535, serta perangkat lunak LabVIEW, diperoleh hasil pengukuran dengan akurasi 99,4 %, presisi 0,1 C, resolusi 0,1 C, dan sensitivitas 50 mV/C atau 5 mV/0,1C dengan jangkauan pengukuran 0C sampai 100C. Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang telah memberikan bantuan beasiswa selama pendidikan berlangsung. Referensi [1] Larsen, LabVIEW for Engineers, Holly Stark (editor), Penerbit Prentice Hall, New Jersey, p.142, (2011). [2] National Instruments, What Is Data Acquisition, http://www.ni.com/dataacquisition/what-is/. [accessed 28 June 2013] [3] D. Kusanto, K. Indriawati, "Perancangan Sistem Akuisisi Data Sebagai Alternatif Modul DAQ LabVIEW Menggunakan Mikrokontroler ATMEGA8535", URI http://digilib.its.ac.id/public/ITSUndergraduate-12713-Paper.pdf [accessed 28 June 2013] [4] Afrie S, 20 Aplikasi mikrokontroler ATMEGA8535 & ATMEGA16 menggunakan BASCOM-AVR, Penerbit Andi, Yogyakarta, p. 41, (2011).

Gambar 11. Grafik Kesalahan relatif pengukuran temperatur menggunakan instrumen. Pada Gambar 11 terlihat kesalahan relatif terendah adalah 0 % pada temperatur 0C, dan kesalahan relatif tertinggi adalah 4,7 % pada temperatur 2C. Hasil perhitungan kesalahan relatif rata-rata diperoleh 99,56 %, sehingga dapat diketahui bahwa tingkat akurasi instrumen ini adalah 99,6 %. Dari hasil perhitungan diperoleh pula tingkat resolusi instrumen sebesar 0,1 C. Untuk hasil pengukuran sensitivitas ditampilkan melalui grafik seperti ditunjukkan pada Gambar 12.

ISBN 978-602-19655-4-2

56

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) 3 - 4 Juli 2013, Bandung, Indonesia

Arsul Rahman*

Hendro KK Fisika Teori Energi Tinggi dan Instrumentasi Program Studi Fisika FMIPA ITB e-mail : hendro@fi.itb.ac.id Neny Kurniasi KK Fisika Bumi dan Sistem Kompleks Program Studi Fisika FMIPA ITB e-mail : neny@fi.itb.ac.id
* Correspondens author

ISBN 978-602-19655-4-2

57