Anda di halaman 1dari 45

1 Kasus 4 Kulit Kuning

Seorang bayi baru lahir 10 jam yang lalu, lahir sponta cukup bulan, berat badan lahir 2800 gram dibawa ibunya ke Rumah Sakit (RS) dengan keluhan kulit tampak kuning. Selain itu, bayi tidak mau menyusu. Pada pemeriksaan fisik bayi tampak letargi, sklera ikterik, ikterik kepala dan leher sampai umbilikus. Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan bilirubin total 14 mg/dl. Bayi tersebut diberikan terapi dan dirawat di RS. Selama empat hari perawatan di RS didapatkan urin pasien berwarna gelap dan feses dempul. Pasien kemudian dirujuk untuk ditangani dokter bedah.

STEP 1 (CLARIFY UNFAMILIAR TERMS) 1. Letargi : Keadaan terjadinya penurunan kesadaran contoh

mengantuk apatis somnolen 2. Ikterik :Perubahan warna menjadi kuning karena penimbunan

pigmen empedu dalam tubuh biasanya pada sclera dan kulit 3. Bilirubin total : Jumlah pengukuran total bilirubin dalam darah yang meliputi bilirubin terkonyugasi dan tak terkonyugasi. Nilai rujukan untuk dewasa 0,1 1,2 mg/dL, anak-anak 0,2 0,8 mg/dL, dan bayi 1 12 mg/dL. 4. Bilirubin indirek : bilirubin tidak terkonjugasi yang larut pada lemak menembus jaringan,menembus sawar darah otak belum terkonjugasi oleh enzim glukotonit transparase. 5. Feses dempul : Feses yang belum terwanai oleh sterkobilin putih seperti dempul 6. Urin gelap : Karena tidak terwanai urobilin

2 STEP 2 (DEFINE THE PROBLEM) 1. Bagaimana pembentukan bilirubin ? 2. Apa penyebab dan mekanisme kulit kuning pada bayi ? 3. Macam-macam ikterus ? 4. Mengapa bayi tidak mau menyusui ? 5. Bagaimana terjadinya letargi,sclera ikterik,kepala,leher,umbilicus ? 6. Bagaimana terjadi fese dempul ,urin berwarna gelap ? 7. Penegakan diagnosis (derajat ikterus) ? 8. Penatalaksanaan ?

STEP 3 (BRAINSTORM POSSIBLE HYPOTHESIS OR EXPLANATION) 1)

3 2) a. Hati belum matur b. Ikterus fisiologis c. Ketidakcocokan darah ibu dengan janin d. Ibunya mempunyai penyakit diabetes e. Sindrom criggler najjor (gangguan kromosom 2) f. Produksi bilirubin masih biasa sembuh g. Gangguan konjugasi h. Obstruksi bilirubin direk i. Pemecahan eritrosit bilirubin indireck j. Hepatitis penularan

3) a. Ikterus fisiologis Timbul pada hari ke 2 dan ke 3 Kadar bilirubin indirect tidak melebihi 10 % Ikterus menghilang pada 10 hari pertama Factor RAS

b. Ikterus patologi Terjadi 24 jam pertama Bilirubin >10 mg/dl Perhari >5 mg/dl (hilang 2 minggu)

c. Ikterus 72 jam Karena infeksi Dehidrasi asidosis Pengaruh obat

Letargi menaikan UCB melewati sawar darah karena ikterus bayi apatis letargi terjadi tidak mau menyusui

Kenaikan UCB tidak bias di ekskresi masuk jaringan menumpuk di jaringan penyebaran diperifer

4 6 Ikterus konjugasi bilirubin menurun menaikan dalam darah UCB obstruksi CB darah tidak tersalurkan menjadi feses dempul 7. Penegakan diagnosis a. Anamnesis Bayi lahir 10 jam lalu Ku kulit terlihat kuning Tidak mau menyusu Riwayat ibu gizi infeksi virus umur Golongan darah Kelahiran keberapa Imunisasi ibu saat hamil

b. Pemeriksaan fisik Infeksi Letargi Sclera ikterik Kepala kuning Leher kuning Umbilicus kuning

c. Pemeriksaan penunjang Bilirubin total Urine Fese Darh lengkap Bilirubin direct Bilirubin indirect SGOT SGPT Tes fungsi hati Tes fungsi ginjal USG

Derajat ikterus I II

Daerah ikterus

Perkiraan kadar bilirubin 5 8 mg/dL atas (di atas 8 12 mg/dL

Kepala dan leher Sampai badan

umbilikus) III Sampai badan bawah (di bawah 12 16 mg/dL umbilikus) hingga tungkai atas (di atas lutut) IV Sampai lengan, tungkai bawah 15 18 mg/dL lutut V Sampai telapak tangan dan kaki >15 mg/Dl

1) Penatalaksanaan a. Dijemur b. Disinar biru c. ASI d. Pemeriksaan secara dini e. Imunisasi f. Pemeriksaan golongan darah

6 STEP 4 (ARRANGE EXPLANATION INTO TENTATIVE SOLUTION)

Penegakan diagnosis

penatalaksanaan

Feses dempul dan urin gelap

Letargi dan sklera Kulit kuning Bayi tidak mau menyusu

Macam-macam ikterus

Fisiologi bilirubin

Penyebab dan mekanisme

STEP 5 (DEFINE LEARNING OBJECTIVES) 1.Penyebab dan mekanisme ikterus menurut waktu ? 2 Mekanisme derajat ikterus ? 3.Macam-macam ikterus ? 4.Faktor yang berhubungan dari ikterus ? (dari riwayat hamil ibu dan melahirkan) ? 5.Penatalaksanaan ? 6.Jelaskan tentang pemeriksaan penunjang: a. Perbedaan darah rutin dan darh rutin b. Berkaitan dengan kasus

7 STEP 7 (SYNTHESIZE AND TEST ACQUIRED INFORMATION) 1) Penyebab ikterus a. Ikterus Prehepatik Peningkatan pembentukkan bilirubin dapat disebabkan oleh: Kelainan pada sel darah merah Infeksi seperti malaria, sepsis dan lain-lain Toksin yang berasal dari luar tubuh seperti obat-obatan, maupun yang berasal dari dalam tubuh seperti yang terjadi pada reaksi transfusi dan eritroblastosis fetalis b. Ikterus Hepatoseluler (hepatik) Kerusakan sel hati akan menyebabkan konyugasi bilirubin terganggu, sehingga bilirubin direk akan meningkat. Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan: Hepatitis oleh virus, bakteri, parasit Sirosis hepatitis Tumor Bahan kimia seperti arsen, fosfor Penyakit lain seperti hemokromatis, hipertiroidi dan penyakit Nieman Pick c. Ikterus Pascahepatik (obstruktif) Bendungan dalam saluran empedu akan menyebabkan peninggian bilirubin konyugasi yang larut dalam air. Sebagai akibat bendungan ini bilirubin akam mengalami regurgitasi kembali ke dalam hati dan terus memasuki peredaran darah. Misal pada penyumbatam saluran empedu (kolestasis). d. Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama yaitu: Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain Infeksi intrauterin (virus, toksoplasma, sifilis, dan kadang-kadang bakteri) Defisiensi enzim Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD)

8 e. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama dengan penyebab: Inkomtabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain Infeksi intra uterin (oleh virus, toksoplasma, lues dan kadang bakteri) Kadang oleh defisiensi G-6-PO f. Ikterus yang timbul 24 72 jam setelah lahir dengan penyebab: Biasanya ikteruk fisiologis Masih ada kemungkinan inkompatibitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg%/24 jam Polisitemia Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan sub oiponeurosis, perdarahan hepar sub kapsuler dan lain-lain) Dehidrasis asidosis Defisiensi enzim eritrosis lainnya

g. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama dengan penyebab: Biasanya karena infeksi (sepsis) Dehidrasi asidosis Defisiensi enzim G-6-PD Pengaruh obat Sindrom gilber

h. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya dengan penyebab : Biasanya karena obstruksi Hipotiroidime Hipo breast milk jaundice Infeksi Neonatal hepatitis Galaktosemia

9 2) Derajat ikterus berdasarkan kriteria Kramer Derajar ikterus I II Daerah ikterus Kepala dan leher Perkiraan kadar bilirubin 5 8 mg/Dl

Sampai badan atas (di 8 12 mg/Dl atas umbilikus) Sampai badan bawah (di 12 16 mg/Dl bawah umbilikus) hingga tungkai atas (di atas lutut) Sampai lengan, tungkai 15 18 mg/Dl bawah lutut

III

IV

Sampai telapak tangan >15 mg/Dl dan kaki

3) Macam-macam ikterus a. Ikterus fifiologis Keadaan hiperbilirubin karena faktor fisiologis yang merupakan gejala normal dan sering dialami bayi baru lahir. Ikterus fisiologis diantaranya: Timbul pada hari ke dua dan ketiga. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% untuk neonatus lebih bulan. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik.

b. Ikterus Patologik Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik sebagai berikut: Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.

10 Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik

4) Faktor Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Ikterus Faktor ibu a. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh dari pengalaman latihan atau melalui proses belajar. Proses belajar seseorang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, kemampuan beradaptasi, kreatif dan inovatif, kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Pengetahuan merupakan kemampuan kognitif yang paling rendah namun sangat penting, karena dapat membentuk perilaku seseorang. Ketika seseorang mendapatkan pengetahuan baru, orang tersebut diharapkan mampu menyebutkan informasi itu kembali

menginterpretasikannnya dengan benar dan dapat mengaplikasikannya, ia juga diharapkan dapat melakukan analisa, sintesa dan eveluasi. Dengan demikian diharapkan semakin tinggi kemampuan kognitif paru ibu terhadap terjadinya ikterus patologis maupun fisiologis pada bayi baru lahir, dianjurkan semakin banyak pula perubahan perilaku positif dalam memberikan ASI sedini mungkin. b. Usia Perkembangan organ-organ reproduksi pada ibu yang masih muda belum optimal, juga kematangan jiwa dan emosi yang kurang dan menurut Depkes usia yang baik untuk hamil adalah 20-35 tahun. Bayi - bayi yang berasal dari ibu yang berusia muda mempunyai angka kematian yang lebih tinggi, kejadian prematuritas dan BBLR yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi dari ibu yang lebih tua. Bayi dengan BBLR dari ibu masih muda biasanya disertai dengan kelainan kongenital, cacat fisik, dan cacat mental,

11 termasuk epilepsi, Retardasi mental, dan tuli dan bisa menyebabkan ikterus. Bayi-bayi ini jika berhasil hidup akan menimbulkan masalah yang lebih besar, kemungkinan bayi tersebut akan mengaalami pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat/tidak optimal, termasuk cacat karena prospek pembinaan fisik dan psikososial yang kurang memadai/ kurang mencukupi. c. Tingkat pendidikan Pendidikan merupakan alat yang dapat mengubah nilai dan norma keluarga. Melalui pendidikan, seseorang dapat menerima lebih banyak informasi dan memperluas cakrawala berfikir sehingga mudah

mengembangkan diri dalam mengambil keputusan dan bertindak. Ibu yang berpendidikan rendah sulit untuk menerima motivasi. Ibu yang

berpendidikan rendah biasanya kurang menyadari pentingnya perawatan pra kelahiran, punya keterbatasan dalam memperoleh pelayanan antenatal yang adekuat, keterbatasan mengkonsumsi makanan yang bergizi selama hamil yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi ibu dan janin yang dikandungnya. Menunjukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki tingkat pengetahuan perawatan bayi tinggi sekitar 73,3%, dan 70% bayi yang tidak mengalami ikterus. d. Riwayat Kesehatan Ibu Pada Saat Hamil. Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998). Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan antenatal (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi. Kunjungan Antental Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan kesejahteraan

12 bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006). Menurut Depkes RI (1994) tujuan ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat. Hampir semua ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya berjalan lancar, persalinan berjalan normal, dan melahirkan bayi sehat. Untuk mewujudkan keinginan tersebut tak pelak lagi dibutuhkan pemeriksaan kehamilan yang teratur. Sebenarnya bukan hanya untuk ibu, pemeriksaan kehamilan pun bermanfaat untuk kesejahteraan janin. "Untuk ibu, misalnya, pemeriksaan berguna untuk mendeteksi dini jika ada komplikasi kehamilan, sehingga dapat segera mengobatinya, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan selama kehamilan, mempersiapkan mental dan fisik dalam menghadapi persalinan; mengetahui berbagai masalah yang berkaitan dengan

kehamilannya, juga bila kehamilannya dikategorikan dalam risiko tinggi, sehingga dapat segera ditentukan pertolongan persalinan yang aman kelak." Sementara untuk bayi, pemeriksaan itu bisa meningkatkan kesehatan janin dan mencegah janin lahir prematur, berat bayi lahir rendah, lahir mati, ataupun mengalami kematian saat baru lahir. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah: Anamnesa Terdiri atas pertanyaan tentang identitas, lama menstruasi, tanggal menstruasi terakhir, dan keluhan yang berkaitan dengan kehamilan. Misalnya, mual-muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati, nafsu makan berkurang atau bertambah. Juga ditanyakan riwayat kehamilan sebelumnya jika itu bukan kehamilan pertamanya. Pemeriksaan Fisik Mencakup berat badan, adanya anemia atau tidak dengan melihat pasien pucat, pengukuran tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu. e. Pemeriksaan Laboratorium

13 Pemeriksaan drah terdiri dari: HB, gula darah, sampai golongan darah guna mengetahui ada atau tidaknya ketidaksesuaian golongan darah dan rhesus. f. Faktor bayi Inkompatibilitas Rhesus Kira-kira 85% orang kulit putih mempunyai rhesus positif dan 15% rhesus negatif. Hemolisis biasanya terjadi bila ibu mempunyai rhesus negatif dan janin rhesus positif. Bila sel darah janin masuk ke peredaran darah ibu, maka ibu akan dirangsang oleh antigen Rh sehingga membentuk antibodi terhadap Rh. Zat antibodi Rh ini dapat melalui plasenta dan masuk ke dalam peredaran darah janin dan selanjutnya menyebabkan penghancuran sel darah merah janin (hemolisis). Hemolisis ini terjadi dalam kandungan dan akibatnya ialah pembentukan sel darah merah dilakukan oleh tubuh bayi secara berlebihan, sehingga akan didapatkan sel darah merah berarti yang banyak. Oleh karena itu pula keadaan ini disebut erotroblastosis fetalis. Pengaruh kelainan ini biasanya tidak terlihat pada anak pertama, akan tetapi menjadi makin nyata pada anak yang dilahirkan selanjutnya. Bila ibu sebelum mengandung anak pertama pernah mendapat transfusi darah yang inkompatibel atau ibu mengalami keguguran dengan janin yang mempunyai rhesus positif, pengaruh kelainan inkompatibilitas rhesus ini akan terlihat pada bayi yang dilahirkan kemudian. Bayi yang lahir mungkin mati (stillbirth) atau berupa hidrops fetalis yang hanya dapat hidup beberapa jam dengan gejala edema yang berat, asites, anemia dan hepatosplenomegali. Biasanya bayi seperti ini mempunyai plasenta yang besar, bayi tampak pucat dan cairan amnion berwarna kuning emas. Eritroblastosis fetalis pada saat lahir tampak normal, tetapi beberapa jam kemudian timbul ikterus yang yang dapat makin lama makin berat (hiperbilirubinemia) mengakibatkan kernikterus,

hepatosplenomegali dan pada pemeriksaan darah tepi akan didapat anemia, retikulositolis, jumlah normoblas dan eritroblas lebih banyak

14 daripada biasa, banyak sel darah (seri granulosit) muda. Kadar bilirubin direct dan indirect meninggi, juga terdapat bilirubin dalam urin dan tinja. Inkompatibilitas ABO Menurut statistik kira-kira 20% dari seluruh kehamilan terlihat dalam ketidakselarasan golongan darah ABO dari 75% dari jumlah ini terdiri dari ibu golongan darah O dan janin golongan darah A atau B. Walaupun demikian hanya pada sebagian kecil tampak pengaruh hemolisis pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan oleh karena isoaglutonin anti A dan anti-B yang terdapat dalam serum ibu. Sebagian besar berbentuk19-S, yaitu gamaglobulin-M yang tidak dapat melalui plasenta (merupakan makro- globulin) dan disebut isoaglutinin natura. Hanya sebagian kecil dari ibu yang mempunyai golongan darah O, mempunyai antibodi 7-S, yaitu gamaglobulin g (Isoglutinin imun) yang tinggi dan dapat melalui plasenta sehingga mengakibatkan hemolitis pada bayi. Pada inkomptabilitas ABO, darah donor harus golongan O, rhesus (-) atau resus yang sama dengan ibu dan bayinya. Crossmatched terhadap ibu dan bayi yang mempunyai titer rendah antibodi anti A dan anti B. Biasanya menggunakan eritrosit golongan O dengan plasma AB, untuk memastikan tidak ada antibodi A dan anti B yang muncul. Masa Gestasi Definisi masa gestasi adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy). Jenis-jenis masa gestasi menurut WHO (1979) dikelompokan menjadi tiga yaitu: a) Kehamilan cukup bulan (term / aterm) : masa gestasi 37-42 minggu ( 259 294 hari). b) Kehamilan kurang bulan (preterm) : masa gestasi kurang dari 37 minggu (259 hari).

15 c) Kehamilan lewat waktu (postterm) : masa gestasi lebih dari 42 minggu (294 hari). d) Berat Badan Bayi Lahir Definisi berat badan lahir Berat badan berasal dari kata berat dan badan, menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1997) berat mengandung pengertian besar ukurannya atau hasil ukur, sedangkan berat badan bayi lahir adalah Hasil ukur dari tubuh bayi saat di timbang. Pembagian berat badan lahir Pembagian berat badan lahir menurut WHO tahun 1961 berat badan bayi lahir dikelompokan menjadi tiga yaitu: a) Berat badan bayi kurang dari atau sama dengan 2500 gram b) Berat badan bayi antara 2500 - 4000 gram c) Berat badan > 4000 gram d) Bayi Prematur Bayi prematur adalah bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran disebut bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur sesuai masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterine yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat postnatal. Bayi baru lahir mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonates yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit. Masalah yang umum terjadi diantaranya disstres syndrome (RDS),

hiperbilirubinemia, hypoglikemia, edema paru. Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung berat badannya, umur kehamilan, dan

16 penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75%-80% angka kesakitan dan kematian neonates. Jenis persalinan a) Definisi jenis persalinan Jenis menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1997) adalah berbagai macam cara. Sedangkan persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Berdasarkan pengertian di atas jenis persalinan adalah berbagai macam proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri). Pengelompokan persalinan dengan tindakan Persalinan dengan tindakan adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea. Persalinan dengan tindakan terdiri dari : a) Persalinan spontan adalah persalinan normal tanpa

memerlukan tindakan dan komplikasi bagi bayi baru lahir. b) Persalinan tidak spontan adalah persalinan yang memerlukan bantuan atau tindakan yang terdiri dari persalinan anjuran dan buatan. Asfiksia Definisi asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Pengelompokan asfiksia Tingkat asfiksia neonatorum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu: Asupan ASI ASI merupakan gizi bayi terbaik, sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI eksklusif menurut

17 WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI. Setelah masa ini, bayi mesti dikenalkan dengan makanan pendamping ASI. Contohnya bubur susu, bubur saring, dan nasi tim. Mulai usia ini kapasitas pencernaan, enzim pencernaan, dan kemampuan metabolisme bayi sudah siap untuk menerima makanan lain selain ASI. Kebutuhan gizi bayi tidak tercukupi dari ASI saja. Sekitar 70% kebutuhan gizi bayi tercukupi dari ASI dan 30% dari makanan pendamping ASI. Agar bayi memiliki memori yang memudahkan dia mengonsumsi aneka bahan makanan bergizi, maka perlu dikenalkan tekstur dan rasa sejak dini. Standar kebutuhan gizi bayi adalah sebagai berikut : a) Kalori: 100-120 per kilogram berat badan. Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya: 8 x 100 /120 = 800/960kkal b) Protein: 1,5-2 gram per kilogram berat badan. Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya 8 x 1,5/2 = 12/16 : 4 =3/4 gram c) Karbohidrat: 50-60 persen dari total kebutuhan kalori sehari. Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 50%-nya = 400 : 4 = 100 gram d) Lemak: 20 persen dari total kalori. Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 20%-nya = 160 : 40 = 40 gram Terpapar sinar matahari Sinar matahari pagi memiliki spektrum sinar biru yang bermanfaat mengurangi kadar bilirubin dalam darah. Kegunaan sinar matahari pagi. Berikutnya adalah menghangatkan tubuh bayi sekaligus membantu mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Alhasil, suara

18 ngrok-ngrok napas bayi, terutama yang berbakat alergi, dapat dikurangi. Apalagi kalau sambil dijemur dalam posisi telentang, dada bayidari bagian bawah menuju ke leher ditepuk-tepuk dengan lembut. Sinar matahari pagi juga merangsang pembentukan vitamin D dalam tubuh. Vitamin ini diketahui berfungsi sebagai pembuka kalsium agar mudah terserap ke dalam aliran darah, sampai akhirnya menyatu di dalam tulang. Paparan yang dibutuhkan tak perlu lama, cukup sekitar 15 menit pada pagi hari. Terapi ini dilakukan dibawah sinar mentari pagi antara jam 7 hingga 9 selama sekitar setengah jam dengan dilakukan variasi posisi (telentang dan tengkurap maupun miring). Perhatikan Waktu Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dan menghindari bayi dari dampak yang tidak diinginkan. Penilaian Awal Biasanya untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistem APGAR. Nilai APGAR akan membantu dalam, menentukan tingkat keserisan dari depresi bayi baru lahir yang terjadi serta langkah segera yang akan diambil. Hal yang perlu dinilai anatara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung reaksi terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi, masing-masing diberi tanda 0, 1 atau 2. Sesuai dengan kondisi bayi. 5) Penatakalsanaan Pengobatan yang diberikan sesuai dengan analisa penyebab yang mungkin danmemastikan kondisi ikterus pada bayi kita masih dalam batas normal (fisiologis) ataukahsudah patologis. Tujuan pengobatan adalah mencegah agar konsentrasi bilirubin indirect dalam darah tidak mencapai kadar yang menimbulkan neurotoksisitas, dianjurkandilakukan transfuse tukar dan atau fototerapi. Resiko cidera susunan saraf pusat akibat bilirubin harus diimbangi dengan resiko pengobatan masing-masing bayi. Kriteria yangharus dipergunakan untuk memulai fototerapi. Oleh karena fototerapi membutuhkanwaktu 12-24 jam, sebelum memperlihatkan panjang yang dapat diukur, maka tindakanini

19 harus dimulai pada kadar bilirubin, kurang dari kadar yang diberikan. Penggunaanfototerapi sesuai dengananjuran dokter biasanya diberikan pada neonates dengan kadar bilirubin tidak lebih dari 10 mg%. Penatalaksanaan umum Penatalaksanaan ikterus secara umum menurut Surasmi (2003) antara lain yaitu: a. Memeriksa golongan darah ibu, (Rh, ABO) dan lain lain pada waktu hamil b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yangdapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi c. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengankebutuhan bayi baru lahir imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat d. Pengobatan terhadap faktor penyebab bila diketahui Penatalaksanaan berdasarkan waktu timbulnya ikterus neonatorum Dapat dicegah berdasarkan waktu timbulnya gejala dandiatasi dengan penatalaksanaan ikterus yang timbul pada 24 jam pertama pemeriksaan yang dilakukan: a. Kadar bilirubin serum berkala b. Darah tepi lengkap c. Golongan darah ibu dan bayi diperiksa Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD biakan darah atau biopsihepar bila perlu. d. .Ikterus yang timbul 24 72 jam setelah lahir: Pemeriksaan yang perludiperhatikan: Bila keadaan bayi baik dan peningkatan tidak cepat dapat dilakukan pemeriksaan darah tepi Periksa kadar bilirubin berkala

e. Pemeriksaan penyaring enzim G-6-PD dan pemeriksaan lainnya f. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertamaIkterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya Pemeriksaan yang dilakukan : a. Pemeriksaan bilirubin direct dan indirect berkala

20 b. Pemeriksaan darah tepi c. Pemeriksaan penyaring G-6-PD d. Biarkan darah, biopsi hepar bila ada indikasi g. Ragam Terapi Jika setelah tiga-empat hari kelebihan bilirubin masih terjadi, maka bayi harussegera mendapatkan terapi. Bentuk terapi ini macam-macam, disesuaikan dengan kadar kelebihan yang ada. Terapi Sinar (fototerapi)Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin dalam darah kembali ke ambang batas normal. Dengan fototerapi, bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya menjagakadar bilirubin agar tidak terus meningkat sehingga menimbulkan risiko yang lebih fatal. Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon dengan panjang gelombang tertentu. Lampu yangdigunakan sekitar 12 buah dan disusun secara paralel. Di bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang disebut flexy glass yang berfungsi meningkatkan energi sinar sehingga intensitasnya lebih efektif. Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi. Seluruh pakaiannya dilepas, kecuali mata dan alat kelamin harus ditutup dengan menggunakan kain kasa. Tujuannya untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari lampu-lampu tersebut. Seperti diketahui, pertumbuhan mata bayi belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian retinanya, begitu pula alat kelaminnya, agar kelak tak terjadi risiko terhadap organ reproduksi itu, seperti kemandulan.Pada saat dilakukan fototerapi, posisi tubuh bayi akan diubah-ubah, telentang lalu telungkup agar penyinaran berlangsung merata. Dokter akan terus mengontrol apakah kadar bilirubinnya sudah kembali normal atau belum. Jika sudah turun dan berada di bawah

21 ambang batas bahaya, maka terapi bisa dihentikan. Rata-rata dalam jangka waktu dua hari si bayi sudah boleh dibawa pulang. Meski relatif efektif, tetaplah waspada terhadap dampak fototerapi. Ada kecenderungan bayi yang menjalani proses terapi sinar mengalami dehidrasi karena malas minum. Sementara, proses pemecahan bilirubin justru akanmeningkatkan pengeluaran cairan empedu ke organ usus. Hasilnya gerakan peristaltik usus meningkat dan menyebabkan diare. Memang tak semua bayi akan mengalaminya, hanya pada kasus tertentu saja. Yang pasti, untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan diare, orang tua mesti tetap memberikan ASI pada si kecil. Terapi Transfusi Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukanterapi transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya

keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain. Proses tukar darah akan dilakukan bertahap. Bila dengan sekali tukar darah, kadar bilirubin sudah menunjukkan angka yang menggembirakan, maka terapi transfusi bisa berhenti. Tapi bila masih tinggimaka perlu dilakukan proses tranfusi kembali. Efek samping yang bisa muncul adalah masuknya kuman penyakit yang bersumber dari darah yang dimasukkan kedalam tubuh bayi. Meski begitu, terapi ini terbilang efektif untuk menurun kankadar bilirubin yang tinggi. Terapi Obat-obatan

22 Terapi lainnya adalah dengan obat-obatan. Misalnya, obat Phenobarbital atau luminal untuk meningkatkan pengikatan bilirubin di sel-sel hati sehingga bilirubin yang sifatnya indirect berubah menjadi direct. Ada juga obat-obatan yang mengandung plasma atau albumin yang berguna untuk mengurangi timbunan bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati. Biasanya terapiini dilakukan bersamaan dengan terapi lain, seperti fototerapi. Jika sudah tampak perbaikan maka terapi obat-obatan ini dikurangi bahkan dihentikan. Efek sampingnya adalah mengantuk. Akibatnya, bayi jadi banyak tidur dan kurang minum ASI sehingga dikhawatirkan terjadi kekurangan kadar gula dalam darah yang justru memicu peningkatan bilirubin. Oleh karena itu, terapi obat-obatan bukan menjadi pilihan utama untuk menangani hiperbilirubin karena biasanyadengan fototerapi si kecil sudah bisa ditangani . Menyusui Bayi dengan ASI Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urin.Untuk itu bayi harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar buang air besar dan kecilnya. Terapi Sinar Matahari Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi

tambahan.Biasanya dianjurkansetelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi dijemur selama setengah jam dengan posisi yang berbeda-beda. Seperempat jam dalam keadaan telentang, misalnya, seperempat jam kemudian telungkup. Lakukan antara jam 7.00 sampai 9.00. Inilah waktu dimana sinar surya efektif mengurangi kadar bilirubin. Di bawah jam tujuh, sinar ultraviolet belum cukup efektif, sedangkan di atas jam sembilan kekuatannya sudah terlalu tinggi sehingga akan merusak kulit. Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung

23 kematahari karena dapat merusak matanya. Perhatikan pula situasi di sekeliling,keadaan udara harus bersih. 6) Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan 1) Hemoglobin / Haemoglobin (Hb) Hemoglobin atau yang sering disingkat dengan Hb merupakan salah satu dari sekian banyak tolak ukur apakah anda terkena anemia atau tidak.Hemoglobin adalah suatu protein yang berada di dalam darah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. Jadi, oksigen yang telah dihirup dan masuk ke paru-paru nantinya akan diangkut lagi oleh hemoglobin di dalam darah untuk didistribusikan ke otak, jantung, ginjal, otot, tulang dan seluruh organ tubuh. Orang-orang yang tidak pernah atau jarang mengkonsumsi vitamin dan mineral, ibu hamil, orang yang mengalami perdarahan akibat terluka, terkena infeksi kronis atau penyakit kronis seperti TBC, tumor, gangguan hati, dan gangguan kesehatan lainnya, bisa saja terjadi penurunan kadar Hb. Raut wajah akan terlihat pucat dan kuyu. Tubuh pun menjadi lemas, tidak bertenaga dan mudah lelah. Nilai normal: Dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL Wanita 12-16 gram/dL BaLita 9-15 gram/dL,bayi 10-17 gram/dL Wanita hamil 10-15 gram/dL Anak 11-16 gram/dL Neonatus 14-27 gram/Dl

a) Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat

24 antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan

sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL. b) Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.

2)

Hematokrit (Ht) Hematokrit atau biasa disingkat Ht merupakan perbandingan antara proporsi volume sampel darah Anda dengan sel darah merah (eritrosit) yang diukur dalam satuan millimeter per desiliter dari darah keseluruhan, bias juga dinyatakan dalam persen. Jadi pengukuran ini bisa dihubungkan dengan tingkat kekentalan darah. Semakin tinggi presentasenya berarti semakin tinggi kekentalan darahnya, atau sebaliknya. Bersama kadar

hemoglobin, kadar hematokrit biasanya dikaitkan dengan derajat anemia yang diderita. Nilai normal Dewasa pria 40-54% Wanita 37-47% Wanita hamil 30-46% Anak 31-45%, balita 35-44% Bayi 29-54% Neonatus 40-68% Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin. Ht tinggi(meningkat) hemokonsentrasi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar,

25 dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%. Ht rendah hemodilusi (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, leukemia, kehamilan,malnutrisi, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%. Kadar ht normal 3x nilai hb

3) Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count) Leukosit juga disebut sel darah putih walaupun sebenarnya tidak berwarna alias bening. Di dalam sel darah putih terkandung unsur-unsur darah seperti basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit. Keadaan dimana leukosit meninggi disebut leukositosis, biasa muncul pada darah setelah menjalani latihan olah raga yang berat, terkena infeksi kronis (tifus, cacingan, TBC, dan lain-lain), atau setelah terkena luka bakar yang luas. Pada saat leukemia kadar leukosit sangat tinggi, bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan kadar normalnya. Jika kadar leukosit terlalu tinggi, leukosit tersebut justru akan merusak leukosit lainnya, dan ini juga akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kadar leukosit akan turun seiring dengan sembuhnya satu sumber penyakit. Jika memang yang bermasalah adalah leukosit itu sendiri misalnya leukemia, dokter akan memberikan pengobatan khusus untuk menurunkan kadar leukosit. Ada juga yang disebut leukopenia. Kondisi ini terjadi karena kadar leukosit anda kurang dari normal. Leukopeni biasanya timbul akibat mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat-obatan kanker, keracunan benzene, urethane, dan logamlogam tertentu, infeksi kronis, anemia, dan juga faktor keturunan.

26 Jika kadarnya terlalu rendah, tentu akan berpengaruh pada system kekebalan tubuh. Tubuh akan lebih mudah terkena berbagai penyakit infeksi, agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya. Nilai normal 4500-10000 sel/mm3 Neonatus 9000-30000 sel/mm3 Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3 Anak 10 tahun 4500-13500/mm3 Ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3 Postpartum 9700-25700 sel/mm3 Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu: Anemia hemolitik Sirosis hati dengan nekrosis Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga) Keracunan berbagai macam zat Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid. Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat

disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya. Leukosit (hitung jenis)

27 Darah terdiri atas komponen-komponen seperti eritrosit, trombosit, hemoglobin, dan leukosit. Leukosit sendiri terdiri atas sel leukosit basofil, eusinofil, neutrofil (terdiri atas neutrofil batang dan neutrofil segmen), monosit dan limfosit. Besarnya kadar-kadar zat penyusun leukosit tersebut dinyatakan dalam persen. Biasanya, persentase tertinggi ada pada neutrofil segmen dan limfosit, sementara persentase terendah ada pada eosinofil, basofil, dan monosit. Kadangkala persentase eosinofil lebih tinggi, misalnya pada keadaan infeksi kronis seperti cacingan, keracunan, dan perdarahan. Bisa juga terjadi persentase limfosit dan monosit lebih tinggi yaitu pada penyakit hati dan anemia kronis. Nilai normal hitung jenis: Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3) Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3) Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3) Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3) Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3) Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3) Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat. Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

28 Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the rightbiasanya merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin. 4) Hitung trombosit / platelet count Trombosit sering dikaitkan dengan penyakit demam berdarah atau DBD. Pada penderita DBD, terjadi penurunan kadar trombosit dalam darah secara signifikan. Trombosit yang menurun menyebabkan terjadinya

pendarahan pada kulit karena trombosit berfungsi sebagai salah satu pembeku darah. Tidak semua trombosit yang rendah lantas dikaitkan dengan DBD. Rendahnya trombosit juga bias merupakan kelainan bawaan. Hal ini terjadi karena produksi trombosit seseorang memang sangat rendah. Trombosit yang rendah menimbulkan gangguan pada system pembekuan darah. Oleh karena itu, pada penderita DBD dengan kadar trombosit rendah akan mempermudah munculnya titik-titik pendarahan pada kulit, hidung bahkan otak. Nilai normal: Dewasa 150.000-400.000 sel/mm3 Anak 150.000-450.000 sel/mm3. Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat

ditemukan pada demam berdarah dengue (DBD), anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3. Peningkatan ditemukan trombosit pada (trombositosis) keganasan, dapat sirosis,

penyakit

29 polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3. leukemia (kanker sel darah putih), polisitemia vera (kadar sel darah merah yang sangat meninggi), penyebaran tumor ganas, penyakit-penyakit vaskuler seperti lupus

(gangguan system imun atau kekebalan tubuh), setelah operasi pembedahan, perdarahan, dan pada orang yang baru berhenti mengkonsumsi alcohol. 5) Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR) Pemeriksaan ini ditujukan untuk melihat kecepatan darah dalam membentuk endapan. Sekian cc darah akan dimasukkan ke dalam satu tabung pengukuran dan dinilai pada berapa millimeter pengendapan itu muncul. Laju endap darah dilakukan untuk menilai berapa kecepatan eritrosit atau sel darah merah bisa mengendap dalam tabung pengukuran yang diukur selama satu jam. Laju endap darah bisa menurun akibat kelainankelainan sel darah merah seperti polisitemia vera yaitu suatu penyakit dimana sel darah merah sangat banyak sehingga darah menjadi sangat kental. Jika dilakukan pemeriksaan laju endap darah maka kecepatan timbulnya pengendapan menjadi sangat lambat karena volume sel darah merah hamper sama dengan darah keseluruhan. Pemeriksaan laju endap darah sangat berguna untuk mendeteksi adanya suatu peradangan dan bahkan perjalanan atau aktivitas suatu penyakit. Nilai normal Dewasa pria <15 mm/jam pertama

30 Wanita <20 mm/jam pertama Ansia pria <20 mm/jam pertama Wanita <30-40 mm/jam pertama Wanita hamil 18-70 mm/jam pertama Anak <10 mm/jam pertama

LED yang meninggi Dalam satu jam apabila mengalami cedera, peradangan, atau kehamilan meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis, gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit

keganasan. jika menderita infeksi kronis atau kasus-kasus dimana peradangan menjadi kambuh, misalnya TBC atau rematik. Adanya tumor, keracunan logam, radang ginjal maupun lever juga kadang memberikan nilai yang tinggi untuk laju endap darah. LED yang sangat rendah Menandakan gagal jantung dan poikilositosis, Laju endap darah bisa LED yang menurun Akibat kelainan-kelainan sel darah merah seperti

polisitemia vera yaitu suatu penyakit dimana sel darah merah sangat banyak sehingga darah menjadi sangat kental. Jika dilakukan pemeriksaan laju endap darah maka kecepatan timbulnya pengendapan menjadi sangat lambat karena volume sel darah merah hamper sama dengan darah keseluruhan. 6) Hitung eritrosit (di beberapa instansi) Eritrosit atau sering disebut sel darah merah, adalah bagian darah dengan komposisi terbanyak di dalam darah. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat

metabolisme makanan untuk dapat menghasilkan energi

31 serta mengangkut O2 (oksigen) dan CO2 (karbon dioksida). Pada penyakit-penyakit kronis seperti penyakit hati, anemia, dan leukemia bias ditemui penurunan jumlah sel darah merah. Pada pemeriksaan lanjutan, biasanya laboratorium akan melampirkan nilai-nilai seperti MCV dan MCHC. MC (mean cospuscular) adalah jenis pemeriksaan untuk menilai kadar eritrosit rata-rata. Pemeriksaan ini biasanya dijadikan indikator untuk melihat kadar anemia seseorang. MCV atau mean cospuscular volume

digunakan untuk mengukur indeks volume eritrosit dalam darah. MCH atau mean cospuscular haemoglobin untuk mengukur indeks warna pada eritrosit dalam darah. Adapun MCHC atau mean cospuscular haemoglobin concentration untuk mengukur indeks saturasi eritrosit dalam darah. Sekali lagi, pemeriksaan ini ditujukan untuk

menegakkan penyakit anemia yang diderita seseorang. Nilai-nilai ini menggambarkan beraneka ragam bentuk atau wajah sel darah merah. Hal ini penting untuk mengetahui apakah ada kelainan pada sel darah merah. Nilai normal wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3 pria 4.5-6.2 juta sel/mm3. Bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3 anak 3.6-4.8 juta sel/mm3. Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemiasickle cell. Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan fungsi sumsum

32 tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat) Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl) MCV = Hematokrit x 10 Eritrosit Nilai normal = 82-92 fl MCH (Mean Corpuscular Eritrosit Hemoglobin) (HER), atau yaitu

Hemoglobin

Rata-Rata

banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg) MCH = Hemoglobin x 10Eritrosit Nilai normal = 27-31 pg MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata

(KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah gr/dl) MCHC = Hemoglobin x 100Hematokrit Nilai normal = 32-37 %

7) Pemeriksaan bilirubin Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari

perombakan heme dari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel

33 membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan dan

mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air, sehingga disebut bilirubin direk atau

glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk bilirubin terkonjugasi. Proses konjugasi melibatkan enzim glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk monoglukoronida atau ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. terkonjugasi dikeluarkan melalui proses energi kedalam sistem bilier. Bilirubin berikatan dengan albumin sehingga zat ini dapat diangkut ke seluruh tubuh. Dalam bentuk ini, spesies molekular disebut bilirubin tak terkonjujgasi. Sewaktu zat ini beredar melalui hati, hepatosit melakukan fungsi sebagai berikut : a. Penyerapan bilirubin dan sirkulasi b. Konjugasi enzimatik sebagai bilirubin glukuronida c. Pengangkutan dan ekskresi bilirubin terkonjugasi ke dalam empedu untuk dikeluarkan dari tubuh Konjugasi intrasel asam glukoronat ke dua tempat di molekul bilirubin menyebabkan bilirubin bermuatan negatif, sehingga bilirubin terkonjugasi ini larut dalam fase air. Apabila terjadi obstruksi atau kegagalan lain untuk mengekskresikan bilirubin terkonjugasi ini zat ini akan masuk kembali ke dan tertimbun dalam sirkulasi. Selain bilirubin masuk ke dalam usus, bakteri kolon mengubah bilirubin menjadi urobilinogen yaitu beberapa senyawa tidak berwarna yang kemudian mengalami oksidasi menjadi pigmen coklat urobilin. Urobilin diekskresikan dalam feses tetapi sebagian urobilinogen direabsorpsi melalui usus, dan melalui

34 sirkulasi portal diserap oleh hati dan direekskresikan dalam empedu. Karena larut air, urobilinogen juga dapat keluar melalui urin apabila mencapai ginjal.(3:295) Pembentukan bilirubin. Dalam keadaan fisiologis, masa hidup eritrosit manusia sekitar 120 hari, eritrosit mengalami lisis 1-2108 setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat badan 70 kg, dimana diperhitungkan hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr per hari. Sel-sel eritrosit tua dikeluarkan dari sirkulasi dan dihancurkan oleh limpa. Apoprotein dari hemoglobin dihidrolisis menjadi komponen asam-asam aminonya. Katabolisme heme dari semua hemeprotein terjadi dalam fraksi mikrosom sel

retikuloendotel oleh sistem enzim yang kompleks yaitu heme oksigenase yang merupakan enzim dari keluarga besar sitokrom P450. Langkah awal pemecahan gugus heme ialah pemutusan jembatan metena membentuk biliverdin, suatu tetrapirol linier. Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksireaksi ini memerlukan oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang dapat digunakan kembali, karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena dan biliverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin reduktase yang menggunakan NADPH sehingga rantai metenil menjadi rantai metilen antara cincin pirol III IV dan membentuk pigmen berwarna kuning yaitu bilirubin. Perubahan warna pada memar merupakan petunjuk reaksi degradasi ini. Bilirubin bersifat lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin. Dalam setiap 1 gr hemoglobin yang lisis akan membentuk 35 mg bilirubin dan tiap hari dibentuk sekitar 250 350 mg pada seorang dewasa, berasal dari pemecahan hemoglobin, proses erytropoetik yang tidak efekif dan pemecahan hemprotein lainnya. Bilirubin dari jaringan retikuloendotel adalah

35 bentuk yang sedikit larut dalam plasma dan air. Bilirubin ini akan diikat nonkovalen dan diangkut oleh albumin ke hepar. Dalam 100 ml plasma hanya lebih kurang 25 mg bilirubin yang dapat diikat kuat pada albumin. Bilirubin yang melebihi jumlah ini hanya terikat longgar hingga mudah lepas dan berdifusi ke jaringan. Bilirubin yang sampai dihati akan dilepas dari albumin dan diambil pada permukaan sinusoid hepatosit oleh suatu protein pembawa yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi ini mempunyai kapasitas yang sangat besar tetapi penggambilan bilirubin akan tergantung pada kelancaran proses yang akan dilewati bilirubin berikutnya. Bilirubin nonpolar akan menetap dalam sel jika tidak diubah menjadi bentuk larut. Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi bentuk larut yang dapat

diekskresikan dengan mudah kedalam kandung empedu. Proses perubahan tersebut melibatkan asam glukoronat yang

dikonjugasikan dengan bilirubin, dikatalisis oleh enzim bilirubin glukoronosiltransferase. Hati mengandung sedikitnya dua isoform enzym glukoronosiltransferase yang terdapat terutama pada retikulum endoplasma. Reaksi konjugasi ini berlangsung dua tahap, memerlukan UDP asam glukoronat sebagai donor glukoronat. Tahap pertama akan membentuk bilirubin

monoglukoronida sebagai senyawa antara yang kemudian dikonversi menjadi bilirubin diglukoronida yang larut pada tahap kedua. Metabolisme Bilirubin. Hati merupakan organ terbesar, terletak di kuadran kanan atas rongga abdomen. Hati melakukan banyak fungsi penting dan berbeda-beda dan trgantung pada sistem darahnya yang unik dan sel-selnya yang sangat khusus. Hati tertutupi kapsul fibroelastik berupa kapsul glisson. Kapsul glisson berisi pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Hati terbagi menjadi lobus kanan dan lobus kiri. Tiap lobus tersusun

36 atas unit-unit kecil yang disebut lobulus. Lobulus terdiri sel-sel hati, disebut hepatosit yang menyatu dalam lempeng. Hepatosit dan jaringan hati mudah mengalami regenerasi. Hati menerima darah dari 2 sumber, yaitu arteri hepatika (banyak mengandung oksigen) yang mengalirkan darah 500 ml/mnt dan vena porta (kurang kandungan oksigen tapi kaya zat gizi, dan mungkin berisi zat toksik dan bakteri) yang menerima darah dari lambung, usus, pankreas dan limpa; mengalirkan darah 1000 ml/mnt. Kedua sumber tersebut mengalir ke kapiler hati yang disebut sinusoid lalu diteruskan ke vena sentralis ditiap lobulus. Dan dari semua lobulus ke vena hepatika berlanjut ke vena kava inferior. Tekanan darah di sistem porta hepatika sangat rendah, 3 mmHg dan di vena kava hampir 0 mmHg. Karena tidak ada resistensi aliran melalui vena porta dan vena kava sehingga darah mudah masuk dan keluar hati. Hati menjalankan berbagai macam fungsi terutama metabolisme, baik anabolisme atau katabolisme molekul-molekul makanan dasar (gula, asam lemak, asam amino) dilakukan oleh sel-sel hati. Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam lemak maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari berbagai heme protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % ) terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam proses penghancuran eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping itu sekitar 20 % dari bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan lisis eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit dihancurkan setiap jam. Dengan demikian bila hemoglobin dihancurkan dalam tubuh, bagian protein globin dapat dipakai kembali baik sebagai protein globin maupun dalam bentuk asam- asam aminonya.

37 Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan heme oleh enzim hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh enzim bilirubin reduksitase. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tak larut air, bilirubin yang sekresikan ke dalam darah diikat albumin untuk diangkut dalam plasma. Hepatosit adalah sel yang dapat melepaskan ikatan, dan mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat menjadi bersifat larut dalam air. Bilirubin yang larut dalam air masuk ke dalam saluran empedu dan diekskresikan ke dalam usus . Didalam usus oleh flora usus bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang tak berwarna dan larut air, urobilinogen mudah dioksidasi menjadi urobilirubin yang berwarna. Sebagian terbesar dari urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi sebagian kecil diserap kembali oleh darah vena porta dikembalikan ke hati. Urobilinogen yang demikian mengalami daur ulang, keluar lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang masuk dalam sirkulasi sistemik, kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan diekskresi bersama urin. Metabolisme bilirubin dalam hati dibagi menjadi 3 proses: a. Pengambilan (uptake) bilirubin oleh sel hati b. Konjugasi bilirubin c. Sekresi bilirubin ke dalam empedu 8) Bilirubin terkonjugasi /direk Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut dalam air sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin ) masuk ke saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi urobilinogen. Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan

38 oleh gangguan ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson dan Rotor, Recurrent (benign)

intrahepatic cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu. Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin dengan hasil negatif. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Stabilitas Bilirubin Total. Dalam suatu pemeriksaan bilirubin total, sampel akan selalu berbubungan langsung dengan faktor luar. Hal ini erat sekali terhadap kestabilan kadar sampel yang akan diperiksa, sehingga dalam pemeriksaan tersebut harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas kadar bilirubin total dalam serum diantaranya yaitu: a. Sinar Stabilitas bilirubin dalam serum pada suhu kamar tidak stabil dan mudah terjadi kerusakan terutama oleh sinar, baik sinar lampu ataupun sinar matahari. Serum atau plasma heparin boleh digunakan, hindari sampel yang hemolisis dan sinar matahari langsung. Sinar matahari langsung dapat menyebabkan penurunan kadar bilirubin serum sampai 50% dalam satu jam, dan pengukuran bilirubin total hendaknya dikerjakan dalam waktu dua hingga tiga jam setelah pengumpulan darah. Bila dilakukan penyimpanan serum hendaknya disimpan di tempat yang gelap, dan tabung atau botol yang berisi serum di bungkus dengan kertas hitam atau aluminium foil untuk menjaga stabilitas serum dan disimpan pada suhu yang rendah atau lemari pendingin. b. Suhu Penyimpanan Suhu merupakan faktor luar yang selalu berhubungan langsung terhadap sampel, baik saat penyimpanan maupun saat pemeriksaan. Pemeriksaan kadar bilirubin total sebaiknya diperiksa segera, tapi dalam keaadaan tertentu pemeriksaan kadar bilirubin total bisa dilakukan penyimpanan. Dengan penyimpanan

39 yang benar stabilitas serum masih stabil dalam waktu satu hari bila disimpan pada suhu 15 C-25C, empat hari pada suhu 2C8C, dan tiga bulan pada penyimpanan -20C . (DialineDiagnostik ). Lamanya sampel kontak dengan faktor-faktor di atas berpengaruh terhadap kadar bilirubin didalam sampel sehingga perlu upaya mengurangi pengaruh tersebut serta mengoptimalkan kadar bilirubin total di dalam serum agar dapat bereaksi dengan zat pereaksi secara sempurna, sedangkan reagen bilirubin total akan tetap stabil berada pada suhu 2-8C dalam keadaan tertutup, terhindar dari kontaminan dan sinar. Dalam hal ini dapat dimungkinkan bahwa penurunan kadar bilirubin dipengaruhi oleh kenaikan suhu dan pengaruh sinar yang berintensitas tinggi. b) Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi. Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Hemoglobin Hematokrit Leukosit (White Blood Cell / WBC) Trombosit (platelet) Eritrosit (Red Blood Cell / RBC) Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) Hitung Jenis Leukosit (Diff Count) Platelet Disribution Width (PDW) Red Cell Distribution Width (RDW)

40 Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke suatu Rumah Sakit yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar nilai normal biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan tersebut, sehingga diagnosa dan terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu laboratorium untuk melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam. 1) Hemoglobin

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Dalam menentukan normal atau tidaknya kadar hemoglobin seseorang kita harus memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbeda-beda di tiap laboratorium klinik, yaitu: Bayi baru lahir : 17-22 gram/dL Umur 1 minggu : 15-20 gram/dL Umur 1 bulan : 11-15 gram/Dl Anak anak : 11-13 gram/dl Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl

Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll). Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang paru paru, tumor, preeklampsi, hemokonsentrasi, dll.

41 2) Hematokrit

Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan untuk wanita berkisar 36,1% - 44,3%. Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi pada penyakit-penyakit yang sama. 3) Leukosit (White Blood Cell / WBC)

Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolik toksin, dll. Nilai normal leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/ul darah. Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit infeksi bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia, gagal ginjal, dll 4) Trombosit (platelet)

Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit bergerombol). Nilai normal trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000 sel/ul darah. Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian orang biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa ditemukan pada kasus demam berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP), supresi sumsum tulang, dll. 5) Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)

Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paruparu untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.Nilai normal eritrosit pada pria berkisar

42 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta 5,4 juta sel/ul darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit yang rendah bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti kanker dan lupus. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl) MCV = Hematokrit x 10 Eritrosit Nilai normal = 82-92 fl MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit RataRata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg) MCH = Hemoglobin x 10 Eritrosit Nilai normal = 27-31 pg

MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah gr/dl) MCHC = Hemoglobin x 100 Hematokrit Nilai normal = 32-37 % 6) Laju Endap Darah

43 Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan panjang pipet Westergreen bisa dua kali panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang sangat tinggi masih terdeteksi. Nilai normal LED pada metode Westergreen : 7) Laki-laki : 0 15 mm/jam Perempuan : 0 20 mm/jam

Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)

Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masingmasing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya dinyatakan dalam sel/l. Nilai normal : Eosinofil 1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%, Monosit 2-8% 8) Platelet Disribution Width (PDW) PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi dapat ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis,

44 sedangkan kadar PDW yang rendah dapat menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil. Red Cell Distribution Width (RDW)RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang tinggi dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12, sedangkan jika didapat hasil RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang mempunyai ukuran variasi yang kecil.

45 DAFTAR PUSTAKA

Hassan, R dkk. 2007. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Isselbacher, K.J dkk. 1999.Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Harrison Vol 1. Jakarta: EGC. Mansjoer, A dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Ed 3 Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. Nelson, W.D dkk. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Vol 2 Ed 15. Jakarta: EGC. Price, S.A dan Wilson, L.M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Vol 1 Ed 6. Jakarta: EGC. Rudolph, A.M dkk. 2007. Buku Ajar Pediatri Rudolph Vol 1 Ed 20. Jakarta: EGC.