Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Elektron pada suatu medan magnet memiliki suatu karakteristik tertentu yang berbeda dengan elektron bebas .Untuk mengetahui karakteristik tersebut kita menggunakan suatu media yang ideal konservatif, yaitu digunakan suatu tabung hampa udara / Vakum yang disebut tabung Helmholtz Coil With Holder (HC). Yang tidak ada pengaruh luar baik gaya maupun energi lain yang dapat mempengaruhi lintasan elektron yang sedang bergerak dan hanya dipengaruhi oleh medan magnet. Pada praktikum Lintasan Elektron dalam Medan Magnet ini kita akan menyelidiki, bagaimana karakteristik suatu elektron bila dilewatkan dalam suatu medan magnet, terutama lintasannya ketika dia bergerak. 1.2. Identifikasi Masalah Pada praktikum ini akan didapat nilai muatan spesifik electron dengan

bantuan medan magnetik homogen yang dapat mendefleksikan sinar electron sehingga dari sini akan dipancarkan suatu sinar defleksi pada suatu tabung hampa udara yang melingkar dengan jari-jari tertentu dari besar tegangan dengan arus yang diberikan pada kumparan yang dimaksudkan untuk menciptakan medan magnet yang diinginkan, sehingga besar medan magnet dapat mempengaruhi pergerakan elektron. 1.3. Tujuan 1. Menghitung muatan spesifik e/m melalui pembelokan berkas elektron oleh medan magnetik homogen.

BAB II TEORI DASAR


Penelitian-penelitian terbaru menyebabkan teori dan model atom semakin berkembang dan kebenarannya semakin nyata. Teori dan model atom dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh John Dalton yang selanjutnya dikembangkan oleh Joseph John Thompson, Ernest Rutherford, Niels Bohr dan teori atom menggunakan mekanika gelombang. A. Model Atom John Dalton Hukum kekekalan massa yang disampaikan oleh Lavoisier dan hukum perbandingan tetap yang dijelaskan oleh Proust mendasari John Dalton untuk mengemukakan teori dan model atomnya pada tahun 1803, yaitu: atom adalah bagian terkecil suatu unsur atom tidak dapat diciptakan, dimusnahkan, terbagi lagi atau diubah menjadi zat lain atom atom suatu unsurr adalah sama dalam segala hal tetapi berbeda dengan atom atom dari unsur lain reaksi kimia merupakan proses penggabungan atau pemisahan atom dari unsur unsur yang terlihat kelemahan teori atom dalton adalah tidak dapat membedakan pengertian atom dan molekul serta atom ternyata bukan partikel yang terkecil.

Gambar 1. Model atom John Dalton

B. Model Atom Joseph John Thompson Joseph John Thompson merupakan penemu elektron. Thompson mencoba menjelaskan keberadaan elektron menggunakan teori dan model atomnya. Menurut Thompson, elektron tersebar secara merata di dalam atom yang dianggap sebagai suatu bola yang bermuatan positif. Model atom yang dikemukakan oleh Thompson sering disebut sebagai model roti kismis dengan roti sebagai atom yang bermuatan positif dan kismis sebagai elektron yang tersebar merata di seluruh bagian roti. Atom secara keseluruhan bersifat netral.

Gambar 2. Model atom Joseph John Thompson C. Model Atom Ernest Rutherford Penelitian penembakan sinar alfa pada plat tipis emas membuat Rutherford dapat mengusulkan teori dan model atom untuk memperbaiki teori dan model atom Thompson. Menurut Rutherford, atom mempunyai inti yang bermuatan positif dan merupakan pusat massa atom dan elektron-elektron

mengelilinginya. - atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dengan muatan positif yang massanya merupakan massa atom tersebut - elektron elektron dalam atom bergerak mengelilingi inti tersebut banyaknya elektron dalam atom sama dengan banyaknya proton dalam inti dan ini sesuai dengan dengan nomor atomnya.

Gambar 3. Model Atom Ernest Rutherford D. Model Atom Niels Bohr Niels Bohr selanjutnya menyempurnakan model atom yang dikemukakan oeh Rutherford. Penjelasan Bohr didasarkan pada penelitiannya tentang spektrum garis atom hidrogen. Beberapa hal yang dijelaskan oleh Bohr adalah - Atom terdiri dari inti yang bermuatan positif dan di sekitarnya beredar elektron-elektron yang bermuatan negatif. - Elektron beredar mengelilingi inti atom pada orbit tertentu yang dikenal sebagai keadaan gerakan yang stasioner (tetap) yang selanjutnya disebut dengan tingkat energi utama (kulit elektron) yang dinyatakan dengan bilangan kuantum utama (n). - Selama elektron dalam lintasan stasioner, energi akan tetap sehingga tidak ada cahaya yang dipancarkan. - Elektron hanya dapat berpindah dari lintasan stasioner yang lebih rendah ke lintasan stasioner yang lebih tinggi jika menyerap energi. Sebaliknya, jika elektron berpidah dari lintasan stasioner yang lebih tinggi ke rendah terjadi pelepasan energi. - Pada keadaan normal (tanpa pengaruh luar), elektron menempati tingkat energi terendah (disebut tingkat dasar = ground state).

Kelemahan Model Atom Niels Bohr 1. Hanya dapat menerangkan spektrum dari atom atau ion yang mengandung satu elektron dan tidak sesuai dengan spektrum atom atau ion yang berelktron banyak. 2. Tidak mampu menerangkan bahwa atom dapat membentuk molekul melalui ikatan kimia.

Gambar 4. Model Atom Niels Bohr Elektron merupakan suatu partikel yang memiliki suatu massa tertentu dan memiliki muatan dengan nilai yang sangat tertentu. Karena elektron memiliki suatu nilai muatan tertentu dan memiliki massa yang tertentu maka akan menimbulkan suatu muatan spesifik yang merupakan perbandingan dari muatan yang dimiliki oleh elektron tersebut dengan nilai massa yang juga dimiliki oleh elektron tersebut. Ketika elektron lepas dari kulitnya karena dipancarkan oleh pemancar elektron maka elektron tersebut menerima energi, dan ketika elektron tersebut kembali pada kulitnya elektron tersebut akan memancarkan energi berupa sinar yang merupkan defleksinya yang biasa disebut sinar foton tetapi pada percobaan ini frekuensinya sangat lemah karena energi yang dilepaskannyapun sangat lemah. Pada saat elektron keluar dari pemancar elektron maka ia akan langsung terpengaruhi oleh suatu medan yang sengaja dibuat yaitu medan magnet homogen, sehingga dari sini akan timbul suatu gaya yang biasa disebut gaya lorentz yang disebabkan oleh interaksi dari muatan yang dimiliki oleh elektron

yang bergerak dan besar kuat medan magnetik homogen disertai dengan kecepatan dari elektron tersebut bergerak. Gaya yang dialami partikel bermuatan yang bergerak dalam medan magnetic Dari hasil suatu pengamatan diperoleh kesimpulan yaitu : Partikel bermuatan yang bergerak di dalam suatu daerah medan magnetik akan mengalami gaya. Gaya ini disebut gaya lorentz. Sebuah electron yang begerak dengan kecepatan konstan v dibawah pengaruh medan magnet homogen B yang arahnya tegak lurus terhadap arah gerakan electron akan mengalami gaya Lorentz sebesar:

Jika muatan listrik adalah e dan bergerak dengan kecepatan v maka kuat arus adalah sebagai berikut :

q t
q l lq t t

Dengan demikian diperolah :

il

lintasan yang ditempuh oleh suatu muatan dalam suatu selang waktu sama dengan besar kecepatan ( v l / t ), sehingga :
l t il qv il q

selanjutnya kita masukan hubungan ini ke rumus gaya Lorentz sehingga kita dapatkan rumusan sebagai berikut :
F ilB sin F qvb sin

Karena lintasan gerak electron berupa lingkaran dan tegak lurus dengan arah medan magnetic yang diciptakan oleh kumparan maka antara medan magnetic dengan arah kecepatan electron bergerak memiliki suadut 900, dengan demikian diperoleh rumus sebagai berikut :

F qvB
Bila sebuah partikel bermuatan listrik bergerak tegak lurus dengan medan magnet homogen yang mempengaruhi selama geraknya, maka muatan akan bergerak dengan lintasan berupa lingkaran. Sebuah muatan positif bergerak dalam medan magnet B (dengan arah menembus bidang) secara terus menerus akan membentuk lintasan lingkaran dengan gaya Lorentz yang timbul menuju ke pusat lingkaran.

Gaya Lorentz yang membentuk lingkaran ini dan mengarah ke pusat disebut juga dengan gaya sentripetal. Setiap benda yang bergerak membentuk lintasan lingkaran harus tetap diberikan gaya agar benda tersebut terus berputar. Anda dapat membuktikannya dengan mengikat sebuah benda (sebaiknya berbentuk bulat atau segiempat) pada salah satu ujung tali. Setelah itu putarlah tali tersebut, sehingga benda tersebut ikut berputar. Jika anda menghentikan putaran, maka benda tersebut perlahan-lahan berhenti. Hal dikarenakan tidak ada gaya yang diberikan. Agar benda tetap berputar maka harus diberikan gaya secara terus menerus, yang dalam hal ini adalah tangan anda yang memutar tali.

Besarnya gaya tersebut, dapat dihitung dengan Hukum II Newton untuk komponen radial :

v2 Fs m R
Partikel (electron) yang bergerak tersebut memiliki energy kinetic akibat beda potensial V yang besarnya:

Sehingga kecepatan elektronnya dapat ditentukan dengan persamaan: Karena elektron bermassa m dan mutan e tersebut bergerak dalam medan magnetik (dalam kumparan helmholtz) maka akan mengalami gaya lorentz yang menyebabkan elektron bergerak melingkar dengan jari-jari r dan menghasilkan gaya sentripetal.Pada gerak melingkar ini besar gaya sentripetal sama dengan besar gaya medan magnet pada electron,sehingga didapat persamaan berikut:

v2 = R

BAB III PROSEDUR PERCOBAAN


Alat-alat Percobaan 1. Fine Beam tube (FBT) Digunakan sebagai tabung hampa udara untuk menempatkan electron sehingga bebas bergerak . 2. Helmholtz Coil With Holder (HC) Digunakan untuk menempatkan FBT dan kumparan sehingga keduanya saling berhubungan. 3. Tesla meter Digunakan untuk mengukur besar medan magnetic. 4. Tangansial B Probe 5. Stabilis power supply Digunakan untuk memberikan tegangan masukan pada rangkaian sehingga rangkaian percobaan dapat berjalan dengan baik. 6. Volt meter Digunakan untuk mengukur tegangan yang mempengaruhi rangkaian EFBT. 7. Controllable Current Source Digunakan untuk mengontrol besarnya aliran arus yang dimasukan kedalam rakaian sehingga pemancaran electron lebih terencana. 8. AV meter Digunakan untuk mengukur arus dan tegangan. 9. Jangka sorong Digunakan untuk mengukur diameter lingkaran dari lintasan electron yang berupa deflesi sinar electron. 10. Kabel-kabel penghubung Digunakan untuk menyambungkan rangkaian yang satu ke rangkaian yang lainnya.

Prosedur Percobaan A. Kalibrasi Arus terhadap Medan Magnet (B= f (I)) 1. Mengangkat Fine Beam Tube dengan hati-hati, menyimpannya di tempat yang aman 2. Menempatkan Tangential B-Probe yang sudah dihubungkan dengan tesla meter ditengah-tengah antara kedua kumparan Helmholtz ! 3. Menghubungkan input kumparan Helmholtz dengan Controllable Curent source! (Lihat gambar)

4. Menghubungkan

tesla meter dan controllable cureent source dengan

jaringan PLN 220 V! 5. Menyalakan tesla meter dan controllable current source, mencatat angka yang ditunjukkan tesla meter untuk setiap variasi yang diberikan (0 2 A)!

B. Pengamatan Jari-jari Lintasan Elektron sebagai fungsi dari Tegangan r = f(Ua), 1. Memastikan sumber arus dan sumber tegangan dalam keadaan mati. 2. Membuat Rangkaian seperti pada gambar!

3. Meangkat tangential B-Probe, menempatkan dengan hati-hati Fine Beam Tube pada tempat semula. 4. Meyalakan Stabillis Power Supply dan Contollable Curent source ! 5. Memvariasikan tegangan anoda pada arus koil konstan, dengan mengatur e dan f, ukur jarak e dan f sebagai diameter lintasan electron untuk setiap variasi tegangan anoda ! 6. Melakukan percobaan 5 minimal 10 variasi tegangan (100V 300V) ! 7. Melakukan prosedur 5 dan 6 untuk arus konstan yang berbeda ! (Besar nilai arus tanyakan pada asisten)!

C. Pengamatan Jari-jari Lintasan Elektron sebagai fungsi dari Medan Magnet r = f(B) Pada Tegangan konstan. 1. Memastikan Sumber arus den sumber tegangan dalam keadaan mati ! 2. Membuat rangkaian seperti pada gambar ! 3. Meyalakan Stabilis Power Supply dan Controllable Curent Source ! 4. Memvariasikan aus koil pada tegangan anoda konstan, amati dan mencatat perubahan diameter lintasan untuk setiap varisi arus koil dengan mengatur e dan f! 5. Melakukan percobaan 4 minimal 10 variasi tegangan (1 A 2 A)! 6. Melakukan prosedur 4 dan 5 untuk tegangan anoda konstan yang berbeda ! (Besar nilai tegangan anoda tanyakan pada asisten)!

D. Mencatat Arus Sebagai fungsi dari Tegangan Anoda (I = f (Ua)) Pada Jari-jari konstan. 1. Memastikan sumber arus dan sumber tegangan dalam keadaan mati. 2. Membuat rangkaian seperti gambar! 3. Meyalakan Stabillis Power Supply dan controllable current source, memasukkan tegangan anoda maksimum (300 V), mengatur arus sehingga lintasan electron mempunyai diameter tertentu !

4. Memvariasikan tegangan anoda (300 V 100 V), mengatur kembali arus setiap variasi tegangan sehingga diameter lintasan electron sama dengan diamter pada keadaan awal ! (minimal 10 variasi) 5. Mengulangi langkah 3-4, untuk diameter lintasan electron tertentu lainnya!

DAFTAR PUSTAKA
1. Beiser, Arthur.1992. Konsep Fisika Modern 3rd ed. Erlangga : Jakarta. 2. Kenneth S. Krane. 1993. Fisika Modern, Penerjemah Hans J. Wosparkik. Universitas Indonesia : Jakarta.

BAB IV TABEL DATA


1. Pengukuran Jari-jari Lintasan Elektron sebagai Fungsi Tegangan r = f(V) pada arus konstan : I= A V (volt) d (cm) I= A V (volt) d (cm) I= A V (volt) d (cm)

2. Pengukuran Jari-jari Lintasan Elektron Sebagai Fungsi Medan Magnet r=f(B) pada Tegangan Konstan : V = Volt I (A) d (cm) V = Volt I (A) d (cm) V = Volt I (A) d (cm)

3. Menentukan Hubungan Arus Kumparan-Tegangan Anoda (I = f (V)) Pada Jari-jari Konstan pada R konstan : d = cm I (A) V (volt) I (A) d = cm V (volt) I (A) d = cm V (volt)