Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Epidemiologi banyak digunakan dalam analisis masalah gizi masyarakat. Masalah ini erat hubungannya dengan berbagai factor yang menyangkut pola hidup masyarakat. Pendekatan masalah gizi masyarakat melalui epidemiologi gizi bertujuan untuk menganalisis berbagai factor yang berhubungan erat denngan timbulnya masalah gizi masyarakat. Penanggulangan masalah gizi masyarakat yang disertai denngan surveilans gizi lebih mengarah kepada penanggulangan berbagai faktor yang berkaitan erat dengan timbulnya masalah tersebut dalam masyarakat dantidak hanya terbatas padea sasaran individu atau lingkungan keluarga saja. Dari berbagai contoh ruang lingkup penggunaan epidemiologi tersebut, memperjelas bahwa disiplin ilmu epidemiologi sebagai dasar filosofi dalam usaha pendekatan analisis masalah yang timbul dalam masyarakat. Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa. Tetapi merekapun bisa menolak bila makanan yang disajikan tidak memenuhi selera mereka. Oleh karena itu sebagai orang tua kita juga harus berlaku demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan yang memang menjadi kegemaran si anak.Intake gizi yang baik berperan penting di dalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal. Dan pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang. Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi-gizi yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan. Ibu biasanya justru membelikan makanan yang enak kepada anaknya tanpa tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi-gizi yang cukup atau tidak, dan tidak mengimbanginya dengan makanan sehat yang mengandung banyak gizi.

1.2 Tujuan a. Tujuan Umum Untuk mengetahui Status Gizi pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Birobuli yang berkaitan dengan Epidemiologi. b. Tujuan Khusus Mengetahui Pengertian Epidemiologi gizi Untuk mengetahui program-program yang dilakukan Puskesmas Birobuli dalam mengatasi masalah gizi. Pencegahan Masalah Gizi

BAB 2

Pembahasan
2.1.Epidemiologi Gizi A. Pengertian Epidemiologi Gizi Epidemiologi gizi merupakan penerapan teknik epidemiologi dalam upaya memahami penyebab (kausa) pemyakit di dalam populasi yang terpajan dengan satu atau lebih faktor gizi yang diyakini sangat penting. Epidemiologi dalam ilmu gizi bertujuan untuk : menguraikan distribusi, pola dan luas penyakit pada populasi manusia; memahami mengapa penyakit lebih sering terjadi pada sebagian kelompok atau orang memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola dan merencanakan pelayanan bagi pencegahan, pengendalian dan penanganan penyakit.

2.2.Pemenuhan Gizi Pada Balita A. Mengenal Balita Secara harfiah, balita atau anak bawah lima tahun adalah anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi usia dibawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini. Namun, karena faal (kerja alat tubuh semestinya) bayi usia di bawah satu tahun berbeda dengan anak usia diatas satu tahun, banyak ilmuwan yang membedakannya. Utamanya, makanan bayi berbentuk cair, yaitu air susu ibu (ASI), sedangkan umumnya anak usia lebih dari satu tahun mulai menerima makanan padat seperti orang dewasa. Anak usia 1-5 tahun dapat pula dikatakan mulai disapih atau selepas menyusu sampai dengan prasekolah. Sesuai dengan pertumbuhan badan dan perkembangan kecerdasannya, faal tubuhnya juga mengalami perkembangan sehingga jenis makanan dan cara pemberiannya pun harus disesuaikan dengan keadaannya. Menurut Persagi (1992), berdasarkan karakteristiknya, balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan batita dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia prasekolah. Batita sering disebut konsumen pasif, sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif. B. Prinsip Gizi Bagi Balita Semakin terpenuhinya prinsip pemberian gizi maka semakin menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita.Misalnya: pemberian gizi yang baik akan memperlihatkan dampak yang baik pada penampilan. Penampilan balita akan tampak segar tubuhnya,kesehatannya pun tampak dari kuatnya daya tahan tubuh balita,dalam hal pertumbuhan balita akan tumbuh semakin cepat,dan perkembangan daya pikirnya semakin baik.

2.3.Gambaran Umum Puskesmas Birobuli Puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan terdepan memiliki arti penting dalam membantu mempercepat tercapainya visi Indonesia Sehat, Profil Kesehatan sebagai salah satu instrument penunjang dalam rangka penyediaan informasi kesehatan kepada masyarakat dan instansi terkait yang memanfaatkan informasi kesehatan, diterbitkan sekali dalam setahun dan digunakan sebagai sarana penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi tahunan kegiatan, pemantauan pencapaian standar minimal Kota Palu dan pemantauan pencapaian Kecamatan Sehat dan memuat hasil analisis program-program kesehatan secara menyeluruh, yang meliputi : Informasi gambaran umum Puskesmas Birobuli yang memberikan gambaran tentang keadaan demografi, kadaan penduduk, tingkat pendidikan dan keadaan social ekonomi. Informasi Pembangunan Kesehatan Daerah yang menguraikan secara ringkas visi dan misi serta strategi pengembangan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Birobuli serta program-program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan pada tahun 2011 serta target-target tahunan program.

Informasi pembangunan kesehatan yang menyajikan hasil-hasil yang dicapai oleh pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Birobuli dalam rangka mencapai Kecamatan Sehat, dimana uraiannya berupa narasi terhadap indikator-indikator di bidang derajat kesehatan, perilaku masyarakat, Kesehatan Lingkungan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Informasi kinerja pembangunan kesehatan yang menyajikan tentang kegiatankegiatan multi sektor yang dilaksanakan dalam rangka mencapai Kecamatan Sehat, Uraian berupa kinerja dari kegiatan-kegiatan sektor terkait dan perbandingan antara kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesma Birobuli.

2.4.Data Puskesmas Birobuli Dari data yang diambil diwilayah kerja Puskesmas Birobuli pada tahun 2011 diperoleh data berdasarkan Jenis Kelamin. Kegiatan ini dilakukan di Posyandu yang bertujuan untuk memantau perkembangan Status Gizi anak Balita untuk Tahun 2011. Gambaran Status Gizi Bayi/Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Birobuli, adalah: dikelurahan Birobuli utara diwilayah kerja Puskesmas Birobuli yang berjumlah 879 balita yang ditimbang (Laki-laki berjumlah 420 dan Perempuan berjumlah 459), 21 balita yang gizi lebih, 762 balita gizi Baik, 91 balita mengalami gizi kurang, dan 4 balita yang mengalami gizi buruk. Di kelurahan Lolu utara wilayah kerja Puskesmas Birobuli yang berjumlah 741 balita ditimbang (Laki-laki berjumlah 370 dan Perempuan berjumlah 371), 32 balita gizi lebih, 613 balita gizi Baik, 84 balita mengalami gizi kurang, dan 2 balita yang mengalami gizi buruk. Sedangkan di Kelurahan Lolu selatan diwilayah kerja Puskesmas Birobuli yang berjumlah 715 balita yang ditimbang (Laki-laki berjumlah 366 dan Perempuan berjumlah 349), 20 balita yang gizi lebih, 622 balita gizi Baik, 80 balita mengalami gizi kurang, dan 3 balita yang mengalami gizi buruk. Dari data pada Tahun 2011 diwilayah kerja Puskesmas Birobuli Pada kelompok Jenis Kelamin Jumlah Balita di Posyandu adalah 2335 balita yang ditimbang, 73 balita gizi Lebih atau 3,17%, 1997 balita yang mengalami gizi Baik atau 85,47%, 255 balita

mengalami gizi Kurang atau 10,96%, sedangkan 9 balita mengalami gizi Buruk atau 0,38%. Dari 2335 balita yang ditimbang 9 balita mengalami gizi buruk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik berikut:

Gambaran Status Gizi Balita Puskesmas Birobuli Tahun 2011


100 80 60 40 20 0 Gizi Baik Gizi Kurang

Gizi Buruk

Gizi Lebih Gizi Buruk 0.4 0.27 0.42 0.39 Gizi Lebih 2.39 4.32 2.8 3.13

Birobuli Utara Lolu Utara Lolu Selatan Puskesmas

Gizi Baik 86.69 82.73 80.99 85.52

Gizi Kurang 10.35 11.34 11.19 10.92

Dari data tersebut ternyata masih ada balita yang menderita gizi buruk, sebagai lembaga kesehatan atau tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat yaitu Puskesmas, untuk menanggapi data tersebut puskesmas telah membuat berbagai program program untuk mengatasi gizi kurang, gizi lebih, dan gizi buruk. a. Cakupan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada anak umur 6-23 bulan keluarga miskin pada Tahun 2011 adalah 110 (46,22%) dari 238 jumlah bayi BGM Gakin hal ini sangat perlu mendapat perhatian khusus pada semua sector terkait termasuk dari pemerintah daerah, dan berarti belum mencapai target SPM Kota Palu Tahun 2011 yakni 100%.
6

b.

Pemantauan Garam Beryodium di tingkat kelurahan Untuk Tahun 2011 dilakukan Pemantauan Garam Beryodium.

Sampai pada tahun 2011, sarana UKBM yang telah terbentuk dan dikembangkan diwilayah kerja Puskesmas Birobuli adalah: Posyandu Posyandu adalah wahana kesehatan bersumber daya masyarakat yang memberikan pelayanan 5 kegiatan utama yaitu KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan P2 Diare yang dilakukan dari,oleh, untuk dan bersama masyarakat. Posyandu Balita Jumlah Posyandu Balita ada 22 buah, dengan kader aktif sebanyak 76 orang sedang yang tidak aktif 34 orang. Ratio kader terhadap posyandu adalah 4 orang, berarti setiap posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Birobuli memiliki kader aktif 4 orang. Bila dilihat dari segi tingkat perkembangan posyandu, pada Tahun 2011 persentase posyandu berada pada tingkat pratama 6 Posyandu (27,27%), pada Tingkat Madya 8 Posyandu (36,36%), Tingkat Purnama 6 Posyandu (27,27%), dan Tingkat Mandiri (9,09%) mengalami peningkatan dari Tahun 2010 dimana tingkat pratama sebesar 14 (63,63%), pada tingkat Madya 5 (22,72%), pada tingkat purnama 3 (13,63%), dan mandiri 0%. Ada beberapa Program program yang dilakukan oleh puskesmas Birobuli yaitu seperti berikut:

Program Kesehatan Puskesmas Birobuli


Program kesehatan Puskesmas mengacu pada program kesehatan nasional dengan Visi Indonesia sehat, dengan mempertimbangkan paradigma masyarakat, dimana masyarakat semakin sadar akan tuntutan pelayanan kesehatan yang lebih optimal, dengan dilandasi oleh kesadaran dan keyakinan bahwa kesehatan merupakan hak azasi manusia, sehingga pemerintah dalam hal ini lembaga pelayanan kesehatan dituntut peka terhadap

berbagai permasalahan kesehatan yang berkembang di masyarakat serta memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada masyarakat. A. V I S I Dengan memperhatikan kondisi nyata pelayanan kesehatan saat ini, maka disepakati bahwa Visi Puskesmas Birobuli adalah Terwujudnya Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang cepat, tepat dan bermutu serta berkeadilan dalam mewujudkan Palu Sehat. B. M I S I Visi Puskesmas Birobuli, dijabarkan dalam 4 Misi, yaitu : 1. Meningkatkan mutu dan jangkauan layanan baik dalam maupun luar gedung. 2. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Khususnya Ibu hamil, Bayi, Balita, dan Lansia. 3. Mewujudkan Lingkungan Sehat melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya-upaya dibidang kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas. 5. Meningkatkan Profesionalisme dan kinerja tenaga kesehatan (Provider) 6. Menciptakan suasana kerja yang nyaman dan kekeluargaan. C. MOTTO Adapun motto yang membangun semangat kerja di Puskesmas Birobuli adalah : Kunjungan dan Kesembuhan Anda adalah Harapan dan Doa Kami

2.5.Program Program Puskesmas Birobuli Program Gizi dan Posyandu, dengan kegiatan : a. Penyuluhan Gizi di Posyandu dan Keseluruhan (TP PKK) b. Posyandu dengan kegiatan : - Penimbangan Balita - Distribusi Paket Gizi terdiri dari Vitamin A, Tablet Fe, Trufit dan Procurma - Pembinaaan posyandu c. Pelatihan dan pembinaan kader posyandu d. Lomba balita dan UPGK e. Pembinaan balita BGM f. PTM MP-ASI untuk umur 6-11 bulan dan Biscuit untuk umur 12-23 bulan selama 3 bulan berturut-turut

g. Monitoring Garam beryodium h. Penanganan Gizi buruk anak Balita i. Pelayanan Kesehatan Balita di Posyandu 2.6.Penanganan Gizi Buruk dan Gizi Kurang Memperbaiki anak dengan status kurang gizi boleh dibilang lebih mudah daripada anak dengan gizi buruk. Anak bergizi kurang biasanya disebabkan karena kekurangan gizi mikro seperti zat besi, vitamin, atau yodium. Penambahan gizi dalam asupan makanan sangat diperlukan untuk memperbaiki status gizi anak. Sedangkan untuk anak bergizi buruk, penanganan seperti ini tidak serta merta dapat memperbaiki status gizinya. "(Status gizi buruk) Harus dimulai dengan pendekatan medis dulu karena sudah masuk dalam tahap yang cukup berbahaya, dan harus ditangani dengan benar," ujar Saptawati. Biasanya untuk penanganan tahap awal ini, anak bergizi buruk akan diberi pengobatan medis selama dua hari sampai berat badannya meningkat sedikit. Peningkatan berat badan ini berkisar antara lima sampai 10 gram per kilogram berat badannya semula. "Ketika sudah memiliki berat tubuh yang meningkat, anak bisa dikatakan sudah meningkat status gizinya. Kemudian proses selanjutnya harus didukung oleh orangtua masing-masing," beber Saptawati. Keadaan gizi dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi apabila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien. Zat gizi ini memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat tertinggi. Status gizi kurang terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Sementara status gizi lebih terjadi apabila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis dan membahayakan. Status gizi kurang maupun status gizi lebih akan mengakibatkan gangguan kesehatan
9

2.7.Pencegahan Masalah Gizi 1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama mencakup promosi kesehatan dan perlindungan khusus dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat terhadap hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kekurangan gizi. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat pertama : a. Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan. b. Memberikan MP-ASI setelah umur 6 bulan. c. Menyusui diteruskan sampai umur 2 tahun. d. Menggunakan garam beryodium e. Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anak balita. f. Pemberian imunisasi dasar lengkap.

2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Pencegahan tingkat kedua lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi dini untuk menemukan kasus gizi kurang di dalam populasi. Pencegahan tingkat kedua bertujuan untuk menghentikan perkembangan kasus gizi kurang menuju suatu perkembangan ke arah kerusakan atau ketidakmampuan. Tindakan yang termasuk

dalam pencegahan tingkat kedua : a. Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat badannya tidak naik atau gizi kurang. b. Deteksi dini (penemuan kasus baru gizi kurang) melalui bulan penimbangan balita di posyandu. c. Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi). d. Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk. e. Pemantauan Status Gizi (PSG)

10

3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Pencegahan tingkat ketiga ditujukan untuk membatasi atau menghalangi ketidakmampuan, kondisi atau gangguan sehingga tidak berkembang ke arah lanjut yang membutuhkan perawatan intensif. Pencegahan tingkat ketiga juga mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat masalah gizi sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat ketiga : a. Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan. b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak. c. Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan puskesmas dan rumah sakit. d. Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi.

11

BAB 3

Penutup
3.1.Kesimpulaan Epidemiologi dalam ilmu gizi bertujuan untuk: menguraikan distribusi, pola dan luas penyakit pada populasi manusia; memahami mengapa penyakit lebih sering terjadi pada sebagian kelompok atau orang memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola dan merencanakan pelayanan bagi pencegahan, pengendalian dan penanganan penyakit. Berdasarkan perkembangan masalah gizi di wilayah Kerja Puskesmas Birobuli pada Tahun 2011 pada kelompok Jenis Kelamin dari 2335 jumlah Balita yang ditimbang, 1997 orang dengan gizi baik (85,5%), gizi kurang 255 orang (10,9%), gizi buruk 9 orang (0,39%), 73 orang (3,13%) gizi lebih dengan penanganan 100%. Hal tersebut berarti telah mencapai target SPM Kota Tahun 2010 yakni 100% Balita Gizi Buruk mendapat perawatan

3.2.Saran Tahap pertumbuhan dan perkembangan pada masa balita merupakan tahap yang paling penting untuk diperhatikan asupan nutrisinya, karena fase balita (usia 1 5 tahun) merupakan fase keemasan. Oleh karena itu, sebaiknya petugas kesehatan yang bergerak di bidang gizi khususnya tenaga kesehatan di puskesmas agar lebih aktif dalam pengerakan pembangunan yang berwawasan kesehatan yang melibatkan para orangtua dan pihak-pihak yang terlibat sangat perlu untuk memberikan perhatian serta kasih sayangnya untuk si kecil supaya pertumbuhan dan perkembangannya baik.

12

DAFTAR PUSTAKA
Profil Puskesmas Birobuli Tahun 2011. http://deviratnasariwulandari.blogspot.com/2011/04/epidemiologi-gizi.html http://www.indonesian-publichealth.com/2013/03/pemantauan-status-gizi.html http://harrbiyyani.wordpress.com/2013/05/06/gizi-seimbang-bagi-balita-sebagai-tugasgizi-dalam-kebidanan/

13