Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kotrimoksazol merupakan kombinasi dari sulfametoksazol dan

trimetoprim dengan perbandingan 5:1, bersifat bakterisid dengan spektrum kerja lebih lebar dibandingkan dengan sulfonamida. Trimetoprim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatik obligat pada dua tahap yang berurutan pada bakteri sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergistik. Spektrum antibakteri trimetoprim mirip sulfametoksazol. Namun demikian, Trimetoprim 20-50 kali lebih poten (kuat) dari sulfametoksazol (Mycek, 1995). Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapetik yang diharapkan. Prosedur pengujian dan penetapan kadar pengujian diberikan untuk menetapkan kesesuaian dengan persyaratan kadar, mutu dan kemurnian yang tertera pada Farmakope (Depkes, 1995). Kotrimoksazol merupakan pengobatan yang efektif untuk infeksi-infeksi seperti: saluran kemih, alat kelamin (prostatitis), saluran cerna, dan pernapasan (bronchitis) sehingga pengawasan terhadap zat berkhasiat kotrimoksazol perlu dijaga karena jika tidak memenuhi persyaratan dapat mengakibatkan terjadinya efek samping yang tidak diinginkan. Menurut Clarkes Analysis of Drug & Poisons Edisi Ketiga (2004), Sulfametoksazol dan Trimetoprim dapat ditetapkan kadarnya dengan

Universitas Sumatera Utara

menggunakan Kromatografi Lapis Tipis, Spektrofotometri UV, Spektrofotometri Inframerah, Spektrofotometri Massa, Kromatografi Gas, dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Menurut United States Pharmacopeia (USP) Edisi XXXIV (2011) bahwa kombinasi Sulfametoksazol dan Trimetoprim ditentukan kadarnya menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan fase gerak campuran

air:asetonitril:trietilamin (1400:400:2) v/v, menggunakan detektor 254 nm dengan kolom L1 (25 cm x 4,6 mm), dan laju alir 2 ml/menit dimana persyaratan kadar untuk suspensi kotrimoksazol baik untuk sulfametoksazol maupun trimetoprim mengandung tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Metode kromatografi cair kinerja tinggi memiliki banyak keuntungan yaitu: kecepatan analisis tinggi, daya pisahnya baik, mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran, mudah untuk memperoleh kembali cuplikan, kolom dapat dipakai berulang kali, dan perangkatnya dapat digunakan secara otomatis dan kuantitatif (Gandjar dan Rohman, 2007). Berdasarkan hal ini, penulis melakukan pengujian kadar Kotrimoksazol dalam suspensi dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari penetapan kadar Kotrimoksazol dalam sediaan suspensi adalah untuk mengetahui apakah kadar Kotrimoksazol dalam sediaan suspensi memenuhi persyaratan yang dipersyaratkan United States Pharmacopeia (USP) Edisi XXXIV.
Universitas Sumatera Utara

1.3

Manfaat Manfaat yang diperoleh dari penetapan kadar Kotrimoksazol dalam

sediaan suspensi adalah agar dapat mengetahui bahwa sediaan suspensi Kotrimoksazol yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan yang

dipersyaratkan United States Pharmacopeia (USP) Edisi XXXIV sehingga aman untuk dikonsumsi.

Universitas Sumatera Utara