Anda di halaman 1dari 4

Mengelola HAM untuk Rumah Rakyat

Banjir besar yang melanda Jakarta awal tahun ini masih menyisakan PR yang belum terselesaikan, yaitu soal penanganan permukiman kumuh di sepanjang bantaran sungai-sungai di Jakarta, terutama di DAS Kali Ciliwung. Kementerian PU menyebutkan kendalanya adalah soal pembebasan lahan dan menudingnya sebagai tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta. Situasi ini akhirnya menyudutkan Pemprov DKI Jakarta yang didesak untuk segera menuntaskan pembebasan lahan bantaran sungai. Hingga kini persoalan ini menjadi dilema yang belum menemukan jalan keluarnya.

Gambar. Tindakan tegas untuk penghuni bantaran sungai. (sumber:www.merdeka.com)

Akhirnya reaksi Gubernur DKI Jakarta adalah berulangkali menyatakan bahwa masalah ini tidak gampang karena menyangkut nasib puluhan ribu (sebenarnya hingga ratusan ribu KK) yang telah menghuni bantaran Kali Ciliwung selama puluhan tahun. Sedangkan Wakil Gubernur DKI Jakarta bereaksi dengan menyatakan akan melakukan tindakan tegas. Pak Wagub menyatakan, Kalau kita ambil tindakan tegas dibilang pelanggaran HAM. Sekarang terendam semua, pelanggaran HAM nggak? Atas nama HAM orang-orang ini dibelain untuk tenggelamkan Jakarta. Dari pengalaman di berbagai metropolitan mancanegara, penanganan permukiman kumuh berikut penghuninya memang termasuk persoalan yang paling kompleks dalam pengelolaan pembangunan kota. Ada banyak kepentingan, anggapan, isu dan mitos-mitos yang selalu menyertainya, sehingga membuat masalah semakin rumit. Demikian pula konsep penanganan di berbagai metropolitan lain di dunia, adalah konsep yang rumit pula. Pada kesempatan ini

penulis akan mencoba menguraikannya terlebih dahulu pada titik persoalan Hak Asasi Manusia (HAM), bagaimana penjelasan duduk perkaranya secara lebih proporsional.

Pertama, jaminan akan HAM untuk rumah rakyat sudah menjadi amanah UUD1945 pasal
28H yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Di dalam Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) Tahun 2004 dijabarkan bagaimana peran negara dalam pemenuhan HAM, yaitu adanya kewajiban untuk memenuhi (obligation to fulfill), kewajiban untuk melindungi (obligation to protect) dan adanya kewajiban untuk menghormati (obligation to respect). Artinya, pada dasarnya negara wajib memenuhi hak akan tempat tinggal. Namun ketika negara belum mampu memenuhi, maka negara wajib melindungi. Demikian pula, ketika negara belum mampu melindungi, maka negara berkewajiban untuk menghormatinya.

Kedua, dengan demikian, pemenuhan HAM-tempat tinggal berarti semua penanganan terkait
tempat tinggal setiap warga negara harus memberi solusi tempat tinggal dan lingkungan yang baik dan sehat melalui berbagai strategi dan program yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara. Dengan adanya landasan konstitusional tersebut, sudah bukan jamannya lagi penanganan urusan tempat tinggal warga dilakukan dengan menggusur warga atau mengganti rugi seadanya, karena ini berarti melanggar HAM-tempat tinggal. Bisa dipahami bahwa masalah HAM-tempat tinggal lebih utama untuk diselesaikan dengan baik.

Ketiga, pertanyaannya kemudian, bagaimana strategi dan program yang harus dikembangkan
oleh pemerintah? HAM-tempat tinggal sudah menjamin adanya solusi tempat tinggal dan lingkungan yang baik dan sehat. Artinya, HAM-tempat tinggal tidak mengharuskan negara memberikan rumah satu-persatu untuk setiap orang atau setiap keluarga yang terkena dampak pembangunan atau bencana alam. Dengan demikian, ini menyangkut persoalan desain program pembangunan perumahan dan permukiman seperti apa yang harus dikembangkan? Bagaimana bentuk program yang di satu sisi memenuhi HAM-tempat tinggal warga dan di sisi lain tidak membebani fiskal negara secara berlebihan? Pemerintah RI harus punya strategi dan program yang seperti ini. Dari pengalaman di berbagai negara, program penanganan permukiman kumuh dikembangkan secara komprehensif dan terpadu, bukan melalui daftar proyek-proyek kecil yang sederhana seperti dilakukan selama ini. Secara singkat, program tersebut harus meliputi 3 (tiga) komponen utama, yaitu program penataan kawasan kota secara komprehensif ( urban redevelopment), program penyiapan, pendampingan dan pengorganisasian warga untuk melaksanakan pemukiman kembali (resettlement) dan program untuk menyiapkan kawasan permukiman baru (new area development) termasuk membangun kota-kota baru.
2

Keempat, mengamati kompleksitas program seperti ini, tentunya pemerintah daerah atau
pemerintah kota belum memiliki kapasitas yang memadai untuk menyelenggarakannya. Sebagaimana juga dilakukan di negara-negara lain, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah nasional untuk memimpin pelaksanaannya. Tanggung jawab pemerintah nasional ini terkait dengan tugasnya untuk menata kota-kota, terutama kota-kota metropolitan dan kota-kota besar di seluruh tanah air. Pemerintah memiliki semua sumberdaya dan kewenangan yang dibutuhkan untuk itu. Untuk menangani kasus Jakarta saja, ada banyak sekali landasan legalnya, yaitu: penanganan bencana nasional, penataan ibukota negara, implementasi kawasan strategis nasional, implementasi pusat kegiatan nasional, dan program penanggulangan kemiskinan nasional. Demikian juga justifikasi legal untuk kota-kota metropolitan lainnya seperti Surabaya, Medan, dan Makassar sebagai kawasan strategis nasional masih menjadi tanggung jawab pemerintah nasional. Sedangkan sumberdaya kelembagaan yang dimiliki pemerintah nasional sangatlah banyak, yaitu Direktorat Pengembangan Permukiman, Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan dan direktorat lainnya di bawah Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, disamping Direktorat Perkotaan dan lainnya di bawah Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Perkotaan di bawah Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri dan Direktorat Permukiman dan Direktorat Perkotaan di Kantor Bappenas. Tentunya berbagai sumbedaya kelembagaan ini melibatkan sumberdaya manusia dan sumberdaya anggaran yang besar sekali untuk bisa dikelola secara efisien dan efektif dalam mengembangkan model penanganan komprehensif masalah permukiman dan perkotaan di seluruh tanah air NKRI.

Kelima, dengan demikian, pemenuhan HAM-tempat tinggal memang tidak sederhana dan
tidak boleh dipandang secara sederhana. Kini banyak berkembang cara pandang yang hanya menyederhanakan masalah. Sebagai contoh, pemenuhan HAM-tempat tinggal bukan berarti begitu saja melegalkan yang ilegal. Mengapa? Karena harus adanya tahap-tahapan menghormati, melindungi dan memenuhi sebagai mekanisme pemenuhan HAM. Selain itu, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa warga kumuh yang semakin difasilitasi akan semakin mengundang banyak penghuni liar. Ini adalah mitos yang tidak bisa dibenarkan. Mengapa? Di dalam penanganan kawasan secara komprehensif, salah satu komponen program urban redevelopment adalah dikembangkannya program pengendalian penghuni liar (squatter control). Squatter control harus menjamin kawasan-kawasan yang telah ditata agar memiliki ketahanan ruang untuk tidak diserobot lagi, baik oleh penghuni semula maupun oleh penghuni baru. Sistem squatter control harus bekerja secara rutin dengan terus menerus menghalangi proses pencaplokan lahan secara ilegal.

Pada dasarnya, penyerobotan dan berkembangnya permukiman kumuh selama puluhan tahun adalah bentuk-bentuk pembiaran yang masif terhadap ruang-ruang kota yang marjinal, yaitu ruang-ruang kota yang luput dari penataan ruang yang efektif. Ruang-ruang marjinal adalah ruang-ruang kota yang tidak diawasi karena dipandang tidak strategis dan tidak potensial untuk pengembangan properti. Dengan demikian, kota-kota yang semakin banyak ruang marjinal di dalamnya adalah kota-kota yang paling kuat mengundang penyerobotan sehingga menjadi kota yang banyak permukiman kumuhnya. Sejalan dengan itu, semakin lama dibiarkan maka semakin tumbuh rasa berhak tempat tinggal dan semakin melanggar HAM-tempat tinggal jika ditangani secara sederhana. Dapat disimpulkan, kota-kota besar yang banyak sekali terdapat ruang marjinalnya adalah kota-kota yang hanya berorientasi pada pelayanan bisnis properti dan mengabaikan pemenuhan hak tempat tinggal bagi masyarakat berpendapatan rendah dan miskin perkotaan. Dengan demikian, squatter control adalah bentuk program anti-pembiaran yang wajib dijalankan setiap pemerintah kota sehingga menjamin kawasan-kawasan yang berpotensi diserobot untuk tidak semakin diserobot lagi dan mampu menekan tumbuhnya ruang-ruang marjinal kota secara efektif. Sebagai penutup, sebenarnya warga negara tidak terlalu ambil pusing apakah penanganan kumuh itu merupakan tanggung jawab pemerintah nasional (pusat) atau pemerintah provinsi atau pemerintah kota. Pemerintah tidak perlu pula menunjuk-nunjukkan tidak beresnya koordinasi antar tingkatan dan antar sektoral lembaga-lembaga pemerintah. Warga masyarakat hanya tahu itu tanggung jawab pemerintah. Pemerintah juga harus segera menghentikan cara-cara yang bertentangan dengan HAM seperti menggusur atau mengganti rugi seadanya dalam penanganan permukiman kumuh di perkotaan. Sebaliknya, justru pemerintah harus sungguh-sungguh menunjukkan komitmennya untuk memenuhi Hak Tempat Tinggal yang baik dan sehat sebagaimana menjadi amanat Konstitusi NKRI. ***