Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN Penyakit dan gangguan saluran napas masih merupakan masalah terbesar di Indonesia pada saat ini.

Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberkulosis asma dan bronkitis masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi merupakan penyebab yang tersering. Kemajuan dalam bidang diagnostik dan pengobatan menyebabkan turunnya insidens penyakit saluran napas akibat infeksi. Di lain pihak kemajuan dalam bidang industri dan transportasi menimbulkan masalah baru dalam bidang kesehatan yaitu polusi udara Di dunia bronkitis merupakan masalah dunia. Frekuensi bronkitis lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan industri. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki laki dibanding wanita. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik. !enurut "#$ tahun %&&' Di (egara barat, kekerapan bronkitis diperkirakan sebanyak ),'* di antara populasi. Di Amerika +erikat, menurut (ational ,enter for #ealth +tatisti-s, kira kira ada ). juta orang menderita bronkitis. Bronkitis akut se-ara konsisten menempati peringkat )& besar sebagai salah satu penyakit tersering di klinik pengobatan. Kelainan ini mempengaruhi sekitar / * orang dewasa per tahun, dengan insiden yang lebih tinggi diamati selama musim dingin dan musim gugur. Bronkitis akut adalah infeksi saluran pernapasan akut di mana batuk yang berlangsung selama ) ' minggu , dengan atau tanpa dahak, dengan batuk dianggap sebagai gejala utama. 0Albert, %&)& 1 2anda tanda lain dan gejala mungkin termasuk produksi sputum , dyspnea, mengi, nyeri dada, demam, suara serak, malaise, ronki, dan -ra-kle. !asing masing dapat hadir dalam berbagai derajat atau mungkin akan absen sama sekali . +putum mungkin jernih, putih, kuning, hijau , atau bahkan diwarnai dengan darah. Peroksidase dirilis oleh leukosit dalam dahak menyebabkan perubahan warna , maka, warna saja tidak boleh dianggap indikasi infeksi bakteri. 34aluasi penyakit Di Indonesia belum ada laporan tentang angka presentase yang pasti mengenai penyakit ini.

1|Page

batuk

akut

atau

diagnosis

dugaan

bronkitis

akut

harus

fokus

pada

mengesampingkan penyakit serius seperti pneumoni. Pada pasien dengan batuk berlangsung ' minggu atau lebih , radiografi dada dapat dibenarkan. 0,lini-al Pra-ti-e 5uideline for 2reatment of A-ute Bron-hitis, %&)%1 Bronkitis kronis didefinisikan sebagai batuk produktif persisten selama paling sedikit ' bulan berturut turut pada paling sedikit % tahun berturut turut. 06obin, %&&71 Bronkitis kronis sering terjadi pada perokok dan penduduk di kota kota yang dipenuuhi kabut asap8 beberapa penelitian menunjukan bahwa %&* %/* laki laki berusia anatara .& 9/ tahun mengidap penyakit ini. Diagnosis bronkitis kronis ditegakan berdasarkan data klinis. 06obin, %&&71

2|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI DAN FISIOLOGI SALURAN PERNAFASAN ). Anatomi Bronkitis terjadi pada bronkus dan -abang : -abangnya, oleh karena itu perlu diketahui terlebih dahulu anatomi dan fisiologi dari saluran pernapasan. ,abang utama bronkus kanan dan kiri akan ber-abang menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis. Per-abangan ini berjalan terus menerus menjadi bronkus yang ukurannya semakin ke-il sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu bronkiolus yang tidak mengandung al4eoli. 0"ilson dan Pri-e, %&&91 Bronkiolus terminalis mempunyai diameter kurang lebih ) mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh kartilago tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. +eluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi . +etelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional dari paru. Asinus terdiri atas bronkiolus respiratorius, duktus al4eolaris dan sakkus al4eolaris terminalis. Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki diameter &,/ sampai ) -m. 2erdapat sekitar %' per-abangan mulai dari trakea sampai sakkus al4eolaris terminalis. Al4eolus dipisahkan dari al4eolus di dekatnya oleh septum. ;ubang pada dinding ini dinamakan pori pori Kohn yang memungkinkan komunikasi antara sakkus. Al4eolus hanya selapis sel saja, namun jika seluruh al4eolus yang berjumlah sekitar '&& juta itu dibentangkan akan seluas satu lapangan tenis . 0"ilson dan Pri-e, %&&91

3|Page

Al4eolus pada hakikatnya merupakan gelembung yang dikelilingi oleh kapiler kapiler darah. Batas antara -airan dengan gas akan membentuk suatu tegangan permukaan yang -enderung men-egah ekspansi pada saat inspirasi dan -enderung kolaps saat ekspirasi. Di sinilah letak peranan surfaktan sebagai lipoprotein yang mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi saat inspirasi sekaligus men-egah kolaps saat ekspirasi. Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas al4eolus dipengaruhi oleh kematangan sel sel al4eolus, en<im biosintetik utamanya alfa anti tripsin, ke-epatan regenerasi, 4entilasi yang adekuat serta perfusi ke dinding al4eolus. Defisiensi surfaktan, en<im biosintesis serta mekanisme inflamasi yang berjung pada pelepasan produk yang mempengaruhi elastisitas paru menjadi dasar patogenesis emphysema, dan penyakit lainnya. 0"ilson dan Pri-e, %&&91 Bronkus merupakan per-abangan dari tra-hea. 2erdiri dari bronkus de=tra dan bron-hus sinistra> Bronkus dextra, mempunyai bentuk yang lebih besar, lebih pendek dan letaknya lebih 4ertikal daripada bronkus sinistra. #al ini disebabkan oleh desakan dari ar-us aortae pada ujung -audal tra-hea ke arah kanan, sehingga benda benda asing mudah masuk ke dalam bronkus

4|Page

de=tra. Panjangnya kira kira %,/ -m dan masuk kedalam hilus pulmonis setinggi 4ertebra thora-alis ?I. ?ena A<ygos melengkung di sebelah -ranialnya. Ateria pulmonalis pada mulanya berada di sebelah inferior, kemudian berada di sebelah 4entralnya. !embentuk tiga -abang 0bronkus sekunder1, masing masing menuju ke lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior. Bronkus sekunder yang menuju ke ke lobus superior letaknya di sebelah -ranial a.pulmonalis dan disebut bronkusepar ter ialis. ,abang bronkus yang menuju ke lobus medius dan lobus inferior berada di sebelah -audal a.pulmonalis disebut bronkushyparterialis. +elanjutnya bronkus sekunder tersebut memper-abangkan bronkus tertier yang menuju ke segmen pulmo. 0;uhulima, %&&.1 Bronkus s n stra, mempunyai diameter yang lebih ke-il, tetapi bentuknya lebih panjang daripada bronkus de=tra. Berada di sebelah -audal ar-us aortae, menyilang di sebelah 4entral oesophagus, du-tus thora-i-us, dan aorta thora-alis. Pada mulanya berada di sebelah superior arteri pulmonalis, lalu di sebelah dorsalnya dan akhirnya berada di sebelah inferiornya sebelum bronkus ber-abang menuju ke lobus superior dan lobus inferior, disebut letak bronkus hyparterialis. Pada tepi lateral batas tra-hea dan bronkus terdapat lymphonodus tra-heobron-hialis superior dan pada bifur-atio tra-hea 0di sebelah -audal1 terdapat lymphonodus tra-heobron-hialis inferior. Bronkus memperoleh 4as-ularisasi dari a.thyroidea inferior. Inner4asinya berasal dari (.4agus, n 6e-urrens, dan trun-us sympathi-us %. Fisiologi. a! Struktur dan "un#s sa$uran na%as nor&a$ Se$ e% te$ %er&ukaan +el epitel permukaan pada saluran intrapulmoner pada dasarnya dibentuk oleh dua tipe sel, yaitu sel silia dan sel sekretori. +el sekretori dibagi menjadi subtipe berdasarkan penampakan mikroskopik 0misalnya +el -lara, goblet dan serous 1. +elain musin, sel sekretori juga melepaskan beberapa molekul antikmikroba

5|Page

0sebagai

-ontaoh

defensin,

lisosim,

dan

IgA1,

molekul

immunomodulator 0sekretoglobin dan sitokin1 dan molekul pelindung 0protein trefoil dan heregulin1, semuanya ini tergabung dalam mukus.0 Fahy @?, Di-key BF, %&)&1 Ke$en'ar su(&ukosa Pada saluran napas besar 0diameter lumen A%mm1, kelenjar submukosa berkontribusi pada sekresi musin. Kelenjar dihubungan dengan lumen saluran napas oleh duktus silia superfisial yang mendorong sekresi keluar dan duktus kolektus nonsilia profundus. Kelenjar sumukosa berlokasi diantara otot polos dan kartilago. +el mukous membentuk 9&* 4olume kelenjar. +el serous yang berlokasi didistal, membentuk .&* 4olume kelenjar, mensekresi proyeoglikan dan protein antimikroba. Pada keadaan patologi, 4olume kenjar submukosa dapat meningkat melebihi 4olume normal. La% san &ukosa )$a% san $end r* ;endir melapisi seluruh saluran napas, dimana kandungan terbanyaknya adalah -airan, dengan kerakteristik fisik solid. Kandungan normal mukus adalah B7* air dan ' * solid 0musin, protein nonmusin, garam, lemak dan sel debris1. 0 Fahy @?, Di-key BF, %&)&1 (! Mekan s&e k$ rens sa$uran na%as Pertama, mukus didorong ke proksimal saluran napas oleh gerakan silia, yang akan membersihkan partikel partikel inhalasi, patogen dan menghilangkan bahan bahan kimia yang mungkin dapat merusak paru. !usin polimerik se-ara terus menerus disintesis dan disekresikan untuk melapisi lapisan mukosa. Ke-epatan normal silia )% sampai )/=Cdetik, menghasilkan ke-epatan )mmCmenit untuk membersihkan lapisan mukosa. Ke-epatan mucociliary clearance meningkat dalam keadaan

6|Page

hidrasi tinggi. Dan ke-epatan gerakan silia meningkat oleh akti4itas purinergik, adrenergik, kolinergik dan reseptor agonis adenosin, serta bahan iritan kimia. !ekanisme kedua, adalah dengan mengeluarkan mukus dengan refleks batuk. Ini mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa penyakit paru yang disebabkan oleh kerusakan fungsi silia tidak terlalu berat dibandingkan dengan yang disebabkan dehidrasi, yang menghalangi kedua mekanisme klirens saluran napas. !eskipun batuk berkontribusi dalam membersikan mukus pada penyakit dengan peningkatan produksi mukus atau gangguan fungsi silia, ini dapat menyulitkan gejala 06obbin, %&&71

7|Page