Anda di halaman 1dari 3

RILIS PANDANGAN DAN SIKAP BEM KM UGM TENTANG Relokasi Pedagang Pasar Sunday Morning UGM

Berakhirnya kontrak yang mengikat antara pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan para Pedagang Pasar Sunday Morning UGM pada September 2013 lalu, menjadi permulaan konflik atau sengketa antara kedua pihak tersebut. UGM sebagai pihak pertama merasa perlu melakukan relokasi Pedagang Sunday Morning UGM ke wilayah sayap timur perbatasan UGM dan UNY, guna penataan wilayah kampus dengan cara mengalihkan lajur kendaraan lebih ke sayap timur yang tujuannya adalah menambah ruang civitas akademika UGM untuk berolahraga dan aktivitas akademik lainnya yang nyaman dan kondusif. Disisi lain, para Pedagang merasa dirinya tidak mengganggu konsep penataan wilayah kampus UGM tersebut karena merasa hanya melakukan aktifitas perdagangan pada hari minggu dan dengan durasi hanya 5 sampai 6 jam saja. Para pedagang juga merasa, bahwa pihak UGM tidak melakukan sistem relokasi yang baik dikarenakan tempat relokasinya belum ditata dengan jelas dan kurang koordinasi dengan warga Karangmalang selaku warga sekitar yang beraktivitas di sekitar sayap timur tersebut. Hal ini membuat para pedagang berebut lapak dan juga mendapat intimidasi dari warga sekitar tempat relokasi dikarenakan lokasi parkir dan penataannya menutup akses warga untuk beraktivitas. Belakangan, konflik ini semakin kompleks dimana ruang musyawarah mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan cara-cara yang lebih keras. Berdasarkan hal-hal tersebut, kami BEM KM UGM dengan melakukan diskusi dan investigasi mendalam terkait konflik ini dari kedua belah pihak menyimpulkan hal hal berikut: 1. Bahwa pihak Universitas Gadjah Mada telah beberapa kali mengadakan pertemuan atau musyawarah dengan pihak pedagang yang diwakili oleh HIMPA (Himpunan Paguyuban Pedagang Sunday Morning), akan tetapi tidak efektif dikarenakan: a. Menurut pihak Universitas Gadjah Mada: Perwakilan dari pihak pedagang selalu berganti ganti, dimana perwakilan - perwakilan tersebut tidak mengkomunikasikan dengan baik kepada seluruh pedagang sehingga mengakibatkan informasi yang terputus. b. Menurut pihak Pedagang: Penyampaian dari pihak UGM bersifat monoton sehingga lebih terkesan sebagai sosialisasi semata bukan berupa musyawarah yang menghasilkan kemufakatan dan kurang diterimanya pertimbangan dan masukan dari pihak pedagang sendiri di setiap pertemuannya. Pada pertemuan terakhir, di Gedung PKKH Purnabudaya, pihak UGM mengundang seluruh pedagang, akan tetapi kesempatan ini tidak dimaksimalkan oleh pihak pedagang dengan melakukan tindakan walk out padahal diberikan kesempatan bertanya dan berpendapat sebanyak 4 kali. Alasan pedagang melakukan hal tersebut dikarenakan tidak melihat forum tersebut sebagai forum musyawarah tetapi foru sosialisasi.

2. Bahwa sinkronisasi jumlah pedagang telah dilakukan antara kedua pihak, dimana pada awalnya yag terdata oleh pihak UGM hanya sekitar 600 pedagang, telah diubah menjadi 784 pedagang dan jumlah tersebut telah disepakati kembali. 3. Bahwa dalam uji coba relokasi yang telah dilakukan beberapa kali, tidak menjadi efektif dikarenakan belum adanya penataan yang jelas mengenai letak lapak atau kavling jualan dan tempat parkir ditambah lagi terdapat pedagang-pedagang tambahan yang berjualan diluar 784 pedagang yang telah disepakati tersebut. 4. Bahwa pengelolaan Pasar Sunday Morning UGM tetap dijalankan oleh pihak UGM. Awalnya hal pengelolaan ini menjadi ketakutan para pedagang ketika diserahkan kepada warga sekitar tempat relokasi, akan tetapi pihak UGM kembali memastikan bahwa pengelolaan tetap berada pada pihak UGM. 5. Bahwa dikarenakan kurang koordinasinya antar tripatride yaitu pihak UGM, Pedagang, dan pihak Karangmalang, mengakibatkan terjadinya intimidasi dalam bentuk bentrok fisik oleh pihak warga sekitar tempat relokasi yang merasa cukup terganggu dengan keberadaan pedagang dan tempat parkir yang belum teratur. Hal ini membuat para pedagang merasa tidak aman saat berjualan di sana. 6. Bahwa terjadi perubahan statement dari pihak pedagang dari menerima relokasi dengan syarat-syarat sebagaimana kesepakatan dalam Rekomendasi Ombudsman Perwakilan DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan, menjadi menolak relokasi Pasar Sunday Morning UGM. 7. Bahwa terdapat oknum oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan lahan pasar Sunday Morning UGM, untuk kepentingannya sendiri dengan menaikkan atau menentukan sendiri harga lapak atau kavling kepada pedagang. Oknum ini terdapat dalam unsur pedagang dan unsur karyawan UGM, dan pihak UGM selaku pengelola telah mendata dan memantau oknum-oknum tersebut guna pengumpulan bukti untuk kemudian ditindak sebagaimana mestinya. 8. Bahwa dalam unsur pedagang sendiri, terdapat pedagang pedagang yang kemampuan ekonominya menengah ke atas. Hal ini bertentangan dengan konsep pedagang Pasar Sunday Morning UGM, yang dikenal sebagai Pedagang Usaha Kecil (PUK). Berdasarkan uraian tersebut ditambah dengan data data pendukung lainnya, maka BEM KM UGM bersikap MENERIMA RELOKASI PASAR SUNDAY MORNING dengan syarat syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak, sebagai berikut: 1. Musyawarah sebagai upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan seluruh pihak yang terkait. Meminta pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan musyawarah kembali dengan segera, agar tercipta keputusan yang saling menguntungkan terkait penataan dan pengkondisian tempat relokasi Pasar Sunday Morning UGM. Musyawarah yang dimaksud adalah kegiatan bertukar pendapat untuk mendapatkan kesepakatan bersama yang dengan mengedepankan rasa keadilan dan keseimbangan kepentingan para pihak.

2. Pemenuhan kebutuhan fasilitas pedagang di lokasi relokasi. Meminta kepada pihak UGM untuk memenuhi fasilitas fasilitas relokasi sebagaimana tercantum dalam Rekomendasi Ombudsman Perwakilan DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan guna kenyamanan pedagang dan pengunjung Pasar Sunday Morning UGM. 3. Pendataan ulang 784 pedagang yang telah terdaftar tersebut dengan memperhatikan syarat syarat pelaku usaha kecil (PUK). Meminta pihak UGM dan pihak Pedagang untuk kembali melakukan pendataan dan verifikasi terhadap 784 pedagang guna memprioritaskan pedagang kecil dan mendeteksi oknum oknum yang tidak bertanggung jawab yang merugikan pihak UGM dan Pedagang. 4. Penataan alokasi lahan kavling pedagang di lokasi relokasi. Meminta pihak UGM untuk melakukan penataan dan pembagian alokasi lahan kavling dengan jelas kepada pedagang yang akan direlokasi, guna menciptakan keamanan dan kenyamanan bersama serta keadilan dalam penggunaan lahan setiap pedagang. 5. Pembersihan oknum oknum yang diduga bermasalah yang berada di dalam pihak pihak berkepentingan. Menuntut pembersihan oknum-oknum yang diduga bermasalah dan tidak bertanggung jawab yang terdapat dalam pihak pihak terkait. 6. Dilakukannya komunikasi terbuka secara intensif antara pihak UGM dengan warga Karangmalang dengan tujuan untuk menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi kedepannya. Meminta komunikasi yang intens dan sosialisasi terkait relokasi ini dari pihak UGM terhadap pihak warga Karangmalang guna mencapai solusi-solusi atas konflik yang mungkin terjadi dari kebijakan relokasi ini. Demikian pernyataan sikap dari BEM KM UGM selaku salah satu bagian dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada,yang berkewajiban mendorong kebaikan dan kebenaran dalam penyelenggaraan pendidikan di kampus ini.