Anda di halaman 1dari 32

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

Kelompok 3 Albert Christy Melly Kusumardini Citra Rachma Yunisa Rahma A Elsa Elfrida M. Okta Febi A

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


BPH merupakan keadaan terjadinya proliferasi otot dan sel epitel di dalam prostat atau pembesaran kelenjar prostat. Karena kelenjar prostat mengelilingi uretra, maka jika terjadi pembesaran kelenjar prostat akan terjadi penghambatan pada uretra masalah urinasi.

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


BPH kemungkinan merupakan bagian normal dari proses penuaan pada pria yang dapat disebabkan oleh perubahan dalam keseimbangan hormon dan faktor pertumbuhan sel. Pria usia > 50 tahun lebih berisiko dalam perkembangan BPH. Namun alasan mengapa beberapa pria memiliki simptom yang lebih parah sedangkan beberapa yang lainnya tidak belum diketahui secara pasti.

PATOFISIOLOGI
Penyebab masih belum jelas Mekanisme : 1. Diduga kuat terkait dengan aktivitas hormon intraprostatic dihydrotestosterone (DHT) dan enzim 5-reductase tipe II. DHT memiliki pengaruh yang cukup besar pada pertumbuhan fase I & II kelenjar prostat menstimulasi pertumbuhan sel dan menghambat tjdnya kematian sel pembesaran prostat.

2. Tonus -adrenergic yang berlebihan pada otot polos prostat, leher kandung kemih dan uretra posterior kontraksi kelenjar prostat mempersempit uretra. (Lee, 2002)
4

Faktor Risiko BPH


Obesitas Kurangnya aktivitas fisik Disfungsi ereksi Peningkatan usia Riwayat keluarga yang mengalami BPH

Simptom yang berasosiasi dengan BPH


Simptom yang umum terjadi :
Keinginan untuk mengosongkan kandung air kemih secara sering, terutama di malam hari. Kesulitan dalam memulai urinasi Dribbling setelah urinari selesai Menurunnya ukuran dan kekuatan aliran urin Adanya sensasi urinasi yang tidak tuntas Tidak mampu menunda urinasi ketika timbul keinginan untuk urinasi Pushing atau straining dalam urinasi

Manifestasi Klinis
Pasien BPH dapat menunjukkan berbagai macam tanda dan gejala. Gejala BPH berganti-ganti dari waktu ke waktu dan mungkin dapat semakin parah, menjadi stabil atau semakin buruk secara spontan. Berbagai tanda dan gejala dapat dibagi ke dalam dua kategori:
Obstruktif : terjadi ketika faktor dinamik dan atau faktor statik mengurangi pengosongan kandung kemih. Iritatif : hasil dari obstruksi yang sudah berjalan lama pada leher kandung kemih.

Gejala pengosongan obstruktif meliputi : Meunggu untuk mulai kencing Tidak puas saat selesai berkemih Paparan kencing terputus-putus & pancaran yang lemah Gejala pengosongan iritatif meliputi : Frekuensi kencing yang terlalu sering Terbangun ditengah malam karena sering kencing Sulit menahan kencing Rasa sakit saat kencing

Pemeriksaan BPH
Terdapat dua pemeriksaan yang penting yaitu : 1. Darah Pemeriksaan darah yang perlu dilakukan khusus untuk prostat adalah kreatinin serum, elektrolit (Natrium dan Kalium), dan PSA (Prostate Spesific Antigen). 2. Urin Pemeriksaan urin yang perlu dilakukan adalah sedimen urin dan kultur.

cont
Diagnosis BPH ditegakkan dengan pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination/DRE). Karena letak kelenjar prostat di antara kandung kemih dan rektum dan dapat dengan mudah memeriksanya dengan memasukkan jari bersarung tangan dan berpelumas ke dalam anus pasien. Kemudian meraba permukaan kelenjar prostat untuk menilai ukuran, bentuk, dan teksturnya. Meskipun tidak nyaman, prosedur ini hanya berlangsung satu menit atau kurang dan tidak menyakitkan.

Macam-macam pemeriksaan
1. Symptom score (AUA) - 0-7 mild - 8-19 moderate - 20-35 severe 2. Pengukuran kadar Prostate-specific antigen (PSA) Pengukuran Prostate-specific antigen (PSA) Dalam kasus di mana bentuk kelenjar prostat terganggu, PSA akan bocor ke dalam sirkulasi. Pada penderita BPH kadar PSA meningkat 30-50%.

3. Pengukuran kadar kreatinin obstruksi kandung kemih karena BPH dapat menyebabkan hidronefrosis dan gagal ginjal Ketika disfungsi ginjal ditemukan, diabetes dan hipertensi adalah penyebab tingginya kadar kreatinin 4. Radiologi -prostate size -prostate shape 5. Endoscopy urethrocystoscopy.

Interpretasi Kasus
Subjective
Pria usia 58 tahun Seorang profesor di perguruan tinggi Pasien BPH Tidak merasa terganggu dengan gejala yang dialaminya

Objective
Lower urinary tract symptom (LUTS) AUA symptom score 21 Laju aliran 11 ml/detik Post-void residual 60 ml Volume prostat (dari pengukuran TRUS) 65 ml Kadar prostate specific antigen (PSA) 3,2 ng/ml

Interpretasi Kasus
Severe BPH
AUA symptom score 20
Laju aliran < 12 ml/s PVR

AUA symptom score 21


Laju aliran 11 ml/s PVR 60 ml

Kegagalan dlm pengosongan kandung kemih

Marker pembesaran kelenjar prostat

PSA 1,4 ng/ml

PSA 3,2 ng/ml

Severe BPH

Terapi Farmakologi

Tujuan terapi
- Meringankan manifestasi klinik - Mencegah komplikasi serius - Menurunkan resiko kebutuhan terhadap operasi

Guideline Therapy

Guideline Therapy

Golongan Obat
1. 5-alpha-reductase inhibitor (Penurun faktor statik) a. finasteride, dutasterid MK: memblok enzim 5-alpha-reduktase (enzim intraselular yang mengubah testosteron menjadi androgen 5-alpha-dihidrotestosteron (DHT)) Indikasi: Hiperplasia prostat ringan ESO: Impotensi, libido, dan volume ejakulat menurun Dosis: finasteride 5mg oral perhari, dutasterid 0,5mg oral sehari satu kali

b. Flutamid MK: Memblok dihidrotestosteron pada reseptor intraselularnya Indikasi: Tumour flare pada terapi kanker prostat dengan gonadorelin ESO: Ginekomastia, mual, muntah, diare, nafsu makan naik, insomnia, kelelahan, dilaporkan libido menurun, penghambatan spermatogenesis, nyeri lambung, nyeri dada, sakit kepala, edema, penglihatan kabur, haus, ruam kulit, gangguan fungsi hati. Dosis: 250 mg oral (2 kapsul) setiap 8 jam

2. Antagonis adrenergik-alpha (Penurun faktor dinamik) MK: Memblok reseptor alpha-1 adrenergik di dalam jaringan stromal prostatik (Prazozin, Terazosin, Doksazosin) dan memblok reseptor alpha-1A di dalam prostat (Tamsulosin) Indikasi: Retensi urin, gagal jantung, antihipertensi, penyakit vaskular ESO: Hipotensi, sedasi, pusing, kantuk, lemah, lesu, depresi, sakit kepala, mulut kering, mual, sering berkemih, takikardia, palpitasi. DOSIS: prazozin dosis awal 1 mg 2-3 kali sehari, perawatan 6-20mg/hari dalam dosis terbagi. Tamsulosin 0,2-0,4mg satu kali sehari

Perbandingan antagonis adrenergik-alpha dengan 5-alpha-reductase inhibitor

Pilihan Terapi
Kombinasi tamsulosin dan dutasteride (CombAT) Alasan: kombinasi terapi ini digunakan pada pasien dengan TRUS > 30ml dan PSA > 1,5 ng/mL. Dutasteride dapat menurunkan resiko retensi urin akut dan rostate-related surgery. Tamsulosin merelaksasi kandung kemih dan otot prostat. Penggunaan kombinasi ini meningkatkan urinary flow secara maksimal dari pada bentuk tunggalnya Meningkatkan efek masing-masing obat dibandingkan bentuk tunggalnya

Indikasi: BPH symptomatic dengan pembesaran prostat ES: impotensi, menurunkan libido, ejaculation disorder, pusing, hipotensi, vertigo IO: ketokonazole, warfarin, metabolisme lemah pada CYP 2D6 Perhatian: tidak diberikan pada wanita yang akan atau sedang hamil Dosis: kapsull mengandung dutasteride 0,5mg dan tamsulosin 0,4mg, 30 menit setelah makan

Terapi Non Farmakologi

Terapi Non Farmakologi


Memakan makanan bergizi (misallnya Vitamin A, E, dan C sbg antioksidan yang mencegah pertumbuhan sel kanker, karena kasus BPH bisa berkembang menjadi kanker prostat. Segera berkemih pada saat keinginan untuk berkemih muncul Menghindari asupan cairan yang berlebihan (terutama pada malam hari) Penderita BPH sebaiknya menghindari pemakaian obat flu dan sinus yang dijual bebas, yang mengandung dekongestan karena bisa meningkatkan gejala BPH Teknik distraksi seperti penile squeeze dan breathing exercise untuk mengontrol gejala iritasi

Monitoring Terapi

Monitoring
Tes AUA symptom score Pengukuran PSA dan Digital Rectal Examination minimal setahun sekali Pengukuran BUN dan Serum Creatinine Pengukuran Peak and Average urinary flow rate (terutama bagi pasien yang menjalani operasi) Pengukuran PVR urine volume

Monitoring
Pengukuran BUN, Scr dan PSA penting untuk mengetahui kemungkinan pasien menderita prostate cancer, sehingga operasi saja belum cukup untuk menyelesaikan penyakit pasien.(Sebenanya malah perlu sebelum terapi didiagnosis untuk membedakan dengan prostate cancer, oleh karena itu dilakukan TRUS sebelum di terapi)

Daftar Pustaka
Dipiro, Joseph T. Et al., 2008, Pharmacotherapy: A pathophysiologic Approach, 7th ed., McGraw Hill, New York, page 1387-1395. www.medscape.com www.ncbi.com