Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN

MIKROBIOLOGI FARMASI
PEWARNAAN SEDERHANA DAN PENGAMATAN JAMUR

Disusun Oleh:
Teori 4/ kelp. G
1. Asy Sahid A.M

18123578A

2. Prabansari Puteri L.J 18123580A


3. Asela Nonilista P.L

18123581A

4. Franz June Navirius 18123582A

UNIVERSITAS SETIA BUDI


FAKULTAS FARMASI

SURAKARTA
2013

A. Judul
Pewarnaan Sederhana dan Pengamatan Jamur
B. Dasar Teori
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang
khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras
dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati
bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau
pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat
dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah pewarna sederhana dapat
diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja
(Gupte, 1990). Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana
karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang
digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya
bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi,
peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu
preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka
semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer.
Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang
khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu
pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural.
Pemberian warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan
tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan

pewarnaan sederhana. Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau
membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai
mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras mikroba
dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan. Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan
strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat
(Entjang, 2003)
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri
itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka
dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan
mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara
yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Rizki, 2008).
Pewarnaan sederhana
Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk
melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan.
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat
dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya
digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnapewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zatzat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen
kromoforiknya bermuatan positif).
Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut.
Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri
secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen (30-60
detik), ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).

C. Alat dan Bahan


Pengamatan Jamur:

Alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1.
2.

Pipet tetes
Gelas Objek
Cover Glass
Mikroskop
Spirtus
Lampu Bunsen
Jarum Ose
Tissue
Bahan:
Tempe atau roti berjamur
KOH 10%

Pewarnaan Sederhana:

Alat:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Pipet
Bunsen
Mikroskop
Tissue
Jarum Ose
Gelas Objek
Cover Glass
Spirtus
Gelas Benda
Gelas Penutup

Bahan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bakteri Sampel A
Bakteri Sampel B
Alkohol 96%
Larutan Kristal Violet
Safarin
Larutan Iodin

D. Cara Kerja
Pengamatan Jamur:
1.
Siapkan alat dan bahan (tempe atau roti berjamur) yang akan digunakan.
2.
Mensterilkan gelas objek
3.
Memanaskan gelas objek dan OSE denga buncen burner.
4.
Meneteskan larutan KOH 10% pada gelas objek sebnyak 1 tetes.
5.
Mengambil media sediaan jamur dengan menggunakan OSE yang telah di sterilkan
dan mencampurkannya dengan larutan KOH 10% diatas gelas objek.
6.
Setelah sediaan jamur telah bercampur dengan KOH 10%, kemudian tutup dengan
menggunakan cover glass.
7.
Kemudian mengamati sediaan jamur tersebut di bawah mikroskop.
Pewarnaan Sederhana:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Disiapkan dua gelas benda dan penutupnya,


Bakteri sempel A dan B diteteskan satu tetes pada masing-masing gelas benda,
Sampel dipanaskan diatas api Bunsen hingga terfiksasi, jangan sampai pecah
1 tetes kristal violet diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian didiamkan selama 30
detik. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga warnanya hilang,
1 tetes iodine diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian didiamkan selama 1 menit.
Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga warnanya hilang,
1 tetes etanol 96% diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian didiamkan selama 30
detik. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga warnanya hilang,
1 tetes safranin diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian didiamkan selama 1 menit.
Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga warnanya hilang,
Setelah pembilasan terakhir, gelas benda dikeringkan dan diamati di bawah mikroskop. Jika
terbentuk warna ungu maka termasuk golongan bakteri gram positif , dan jika terbentuk
warna merah atau merah muda maka termasuk golongan bakteri gram negatif.

E. Hasil

F. Pembahasan
Dalam praktikum ini untuk mengetahui organisme organisme dapat dilakukan dengan
cara pewarnaan atau pengecetan sederhana dan pengecetan negative, pewarnaan atau
pengecetan sederhana dapat di gunakan sebagai media untuk melihat bentuk-bentuk dan
struktur-struktur sel bakteri yang sangat beragam sesuai dengan tempat hidupnya, biasanya
menggunakan jenis pewarnaan seperti SAFRAMIN, KRISTAL VIOLET, METHYLEN BLUE
Pewarnaan pada sampel makanan yang akan di uji bakteri akan memperjelas bakteribakteri tersebut dan dalam uji ini sangat dianjurkan untuk membuat alat-alat yang akan

digunakan dalam keadaan steril karena sangat penting dalam pengamatan bakteri tersebut dan
juga di lakukan fiksasi yaitu teknik yang digunakan supaya smear bakteri yang menempel di
obyek glass tidak larut dalam pencucian selama pewarnaan.
Pada mulanya, sampel roti yang telah membusuk kami ambil menggunakan jarum ose
yang telah disterilkan dengan api spiritus kemudian digosokkan pada permukaan objek glass
yang telah ditetesi aquadest steril. Kemudian di tutup dek glass dan di amati dibawah mikroskop
dengan perbesaran mula-mula 10x kemudian dilanjutkan dengan perbesaran 40x bila sudah
ditemukan misselium dan sporanya.
Pada saat pewarnaan, setelah bakteri kita ambil menggunakan jarum ose dan
digesekkan di objek glass, objek glass tersebut harus di fiksasi dahulu kemudian dilakukan
pewarnaan.
Pada praktikum ini sering ditemukan beberapa masalah, sebagai berikut:
1. Pada saat pengamatan menggunakan mikroskop sulit ditemukannya spora dan
misselium karena ukurannya yang sangat kecil
2. Sulit membedakan misselium dan spora
Masalah-masalah diatas terjadi karena beberapa factor sebagai berikut:
1. Kurang sterilnya alat dan bahan praktikum
2. Salahnya prosedur kerja yang dilakukan oleh mahasiswa
3. Mahasiswa belum paham tentang materi yang akan dipraktekkan

G. Kesimpulan
Pada praktikum yang telah kami lakukan, kami mencari spora dan misselium suatu jamur
pada permukaan roti dan tempe yang telah membusuk dengan menggunakan mikroskop.
Begitu pula pada pewarnaan sederhana, kami menggunakan suatu bakteri yang telah diisolasi
terlebih dahulu kemudian kami fiksasi dan di beri cat wana setelah itu kami amati dibawah
mikroskop
H. Daftar Pustaka

http://rikedianhusada.blogspot.com/p/cara-pewarnaan-bakteri.html