Anda di halaman 1dari 78

Unfamiliar Terms

Emboli paru (Pulmonary Embolism) adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paruparu) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah.

aPTT: activated partial thromboplastin time. adalah uji laboratorium untuk menilai aktifitas faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor Hagemen), pre-kalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor IX (factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart), faktor V (proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen) PT / prothrombin time : untuk mengukur f-VII, F-X, F-V

D-dimer adalah D-dimer atau fragmen D-dimer (bahasa Inggris: fibrin degradation fragment) adalah suatu jenis uji sampel darah di laboratorium yang bertujuan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit dan kondisi yang menyebabkan hiperkoagulabilitas: suatu kecenderungan darah untuk membeku melebihi ukuran normal. Salah satu kondisi yang umum ditemukan adalah pada trombosis vena dalam (DVT, deep vein thrombosis) yang berhubungan dengan pembekuan darah di dalam pembuluh darah balik (vena) di dalam tubuh terutama di kaki yang menyebabkan penyumbatan alirah darah di kaki sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan jaringan. Hal ini juga dapat menimbulkan gumpalan kecil yang terpecah dan berjalan mengikuti aliran darah menuju bagian lain di tubuh sehingga dapat menimbulkan embolisme paru (PE, pulmonary embolism - bekuan darah di paru-paru).

Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan terjadinya gumpalan darah (trombus) pada pembuluh darah balik (vena) dalam di daerah tungkai bawah. ACA atau sindrom anticardiolipin disebabkan darah lebih cepat membeku dibanding kondisi normal.Mengentalnya darah mengganggu metabolisme tubuh yang bisa menyebabkan stroke dan jantung. ACA juga bisa menyebabkan kematian karena peredaran darah tidak lancar atau tidak bersikulasi ke seluruh tubuh. Gejala ACA yaitu sering pusing, mual-mual dan kesemutan. ACA bisa disebabkan pola hidup yang tidak sehat. Misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan instan, kolesterol, lemak, merokok, dan polusi udara INR (International Normalized ratio) adalah tes darah yang mengukur derajat dari pengenceran darah. (Lebih tinggi nilai untuk INR, lebih encer darahnya)

Obat anti agregasi trombosit adalah obat yg digunakan untuk mencegah Trombosit beragregasi dan membentuk trombus atau tromboemboli. Lupus antikoagulan adalah pemeriksaan terhadap antibodi

Efek Rokok Terhadap Pembuluh Darah


Karbonmonoksida: merupakan sejenis gas yang tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran zat arang atau karbon yang tidak sempurna. Gas ini memiliki sifat racun yang dapat mengurangi kemampuan darah membawa oksigen. Arsenic: sejenis unsur kimia yang digunakan untuk membunuh serangga. Nitrogen oksida: Unsur kimia ini dapat mengganggu saluran pernafasan bahkan merangsang kerusakan dan perubahan kulit tubuh. Ammonium karbonat: zat ini membentuk plak kuning pada permukaan lidah dan menggangu kelenjar makanan dan perasa yang terdapat dipermukaan lidah. Ammonia: merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Ammonia ini sangat mudah memasuki sel-sel tubuh Formic acid: jenis cairan yang tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat mengakibatkan lepuh. Cairan ini sangat tajam dan baunya menusuk. Acrolein: sejenis zat tidak berwarna, seperti aldehid. Zat ini diperoleh dengan mengambil cairan dari gliserol dengan metode pengeringan. Cairan ini sangat menganggu bagi kesehatan.

Efek Rokok Terhadap Pembuluh Darah


Hydrogen cyanide: sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. Nitrous oksida: sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit.Formaldehyde: zat yang banyak digunakan sebagai pengawet dalam laboratorium (formalin). Phenol: merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organic seperti kayu dan arang, selain diperoleh dari ter arang. Phenol terikat dengan protein dan menghalangi aktivitas enzim. Acetol: hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide: sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen). Pyridine: cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan untuk mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride: adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu dimana hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang utama. Zat ini adalah merupakan compound organic yang dapat beracun. Methanol: sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian.

Efek Rokok Terhadap Pembuluh Darah


Berbagai penyakit mulai dari rusaknya selaput lendir sampai penyakit keganasan seperti kanker dapat ditimbulkan dari perilaku merokok. Beberapa penyakit tersebut antara lain : Penyakit paru Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Penyakit jantung koroner. Seperti yang telah diuraikan diatas mengenai zat-zat yang terkandung dalam rorok. Pengaruh utama pada penyakit jantung terutama disebakan oleh dua bahan kimia penting yang ada dalam rokok, yakni nikotin dan karbonmonoksida. Dimana nikotin dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah jantung, sedangkan CO menyebabkan pasokan oksigen untuk jantung berkurang karena berikatan dengan Hb darah.

Efek Rokok Terhadap Pembuluh Darah


Impotensi Tjokronegoro, seorang dokter spesialis andrologi universitas Indonesia mengungkapkan bahwa, nikotin yang beredar melalui darah akan dibawa keseluruh tubuh termasuk organ reproduksi. Zat ini akan menggangu proses spermatogenesis sehingga kualitas sperma menjadi buruk. Sedangkan Taher menambahkan, selain merusak kualitas sperma, rokok juga menjadi faktor resiko gangguan fungsi seksual terutama gangguan disfungsi ereksi (DE). Dalam penelitiannya, sekitar seperlima dari penderita DE disebabkan oleh karena kebiasaan merokok.

Kanker kulit, mulut, bibir dan kerongkongan. Tar yang terkandung dalam rokok dapat mengikis selaput lendir dimulut, bibir dan kerongkongan. Ampas tar yang tertimbun merubah sifat sel-sel normal menjadi sel ganas yang menyebakan kanker. Selain itu, kanker mulut dan bibir ini juga dapat disebabkan karena panas dari asap. Sedangkan untuk kanker kerongkongan, didapatkan data bahwa pada perokok kemungkinan terjadinya kanker kerongkongan dan usus adalah 5-10 kali lebih banyak daripada bukan perokok (Basyir 2005)

Efek Rokok Terhadap Pembuluh Darah


Merusak otak dan indera. Sama halnya dengan jantung, dampak rokok terhadap otak juga disebabkan karena penyempitan pembuluh darah otak yang diakibatkan karena efek nikotin terhadap pembuluh darah dan supply oksigen yang menurun terhadap organ termasuk otak dan organ tubuh lainnya. Sehingga sebetulnya nikotin ini dapat mengganggu seluruh system tubuh. Mengancam kehamilan. Hal ini terutama ditujukan pada wanita perokok. Banyak hasil penelitian yang menggungkapkan bahwa wanita hamil yang merokok meiliki resiko melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah, kecacatan, keguguran bahkan bayi meninggal saat dilahirkan.

Hemostasis
Definisi : Proses tubuh yang secara simultan menghentikan perdarahan dari tempat yang cedera, sekaligus mempertahankan darah dalam keadaan cair di dalam kompartemen vaskular. Mekanisme hemostatik normal terdiri dari 4 sistem utama : 1. Sistem Pembuluh Darah ( Vaskular ) 2. Trombosit 3. Sistem Pembekuan 4. Sistem Fibrinolitik

Hemostasis
Faktor-faktor yang mempengaruhi : 1. Vaskuler - Vasokontriksi dipengaruhi oleh : * usia * gizi * letak pendarahan * ukuran luka 2. Ekstravaskuler - jaringan sekitar luka - faktor jaringan ( tromboplastin/ F3 ) 3. Intravaskuler - trombosit -faktor pembekuan lain

Hemostasis
Injury Platelet Adhesion Tissue factor

Serotonin

Platelet activation Shape change, granule secretion and activation of GPIIb/IIIa

Pletelet phospholipid Blood Coagulation Cascade

Vasoconstriction

Thromboxane A2, ADP Platelet aggregation

Reduced Blood flow

Thrombin Primary Haemostatic plug Fibrin Stable haemostatic plug

Hemostatis
Intavaskular
Trombopoiesis Trombosit adalah fragmen sitoplasmik tanpa inti berdiameter 2-4 mm yang berasal dari megakariosit. Proses pematangan selama 710 hari di dalam sumsum tulang. Trombosit dihasilkan oleh sumsum tulang (stem sel) yang berdiferensiasi menjadi megakariosit (Candrasoma,2005). Megakariosit ini melakukan replikasi inti endomitotiknya kemudian volume sitoplasma membesar seiring dengan penambahan lobus inti menjadi kelipatannya. Kemudian sitoplasma menjadi granular dan trombosit dilepaskan dalam bentuk platelet/keping-keping. Enzim pengatur utama produksi trombosit adalah trombopoietin yang dihasilkan di hati dan ginjal, dengan reseptor C-MPL serta suatu reseptor lain, yaitu interleukin11 (A.V Hoffbrand et al, 2005). Trombosit berperan penting dalam hemostasis, penghentian perdarahan dari cedera pembuluh darah (Guyton,1997; Sherwood,2001

Hemostatis
Intavaskular
Trombosit Normal 150.000 400.000/ mm3 Interval semenjak diferensiasi sel induk manusia sampai produksi trombosit 10 hari Pengatur utama produksi trombosit trombopoietin ( hati dan ginjal ) reseptorny C-MPL Berperan dalam hemostasis Jika berkurang trombositopenia Jika berlebih trombositosis

Hemostasis
Intavaskular
Struktur Trombosit Secara ultrastruktur, trombosit terdiri atas : Zona Perifer : terdiri atas glikokalik, suatu membran ekstra yang terletak di bagian paling luar ; di dalamnya terdapat membran plasma, dan lebih dalam lagi terdapat sistem kanal terbuka Zona Sol-Gel : terdiri atas mikrotubulus, mikrofilamen, sistem tubulus padat ( berisi nukleotida adenin dan kalsium). Selain itu juga terdapat trombostenin, suatu protein penting untuk fungsi kontraktil. Zona organel : terdiri atas granula padat, mitokondria, granula alfa, dan organela ( lisosom dan Retikulum Endoplasmik )

Hemostasis

Hemostasis

Hemostasis
Fungsi Trombosit 1. Hemostasis Menyumbat dan melekat pada dinding pembuluh darah yang rusak 2. Menghasilkan : - Faktor-faktor trombosit - Serotonin vasokontriksi - ADP agregasi - Trombastenin Retraksi bekuan 3. Adhesi trombosit perlekatan trombosit tergantung F VIIIvW 4. Reaksi Pelepasan melepaskan isi granula 5. Agregasi Trombosit 6. Aktivitas Prokoagulan 7. Fusi Trombosit

Hemostasis

Hemostasis
Kelainan Trombosit
Trombositopeni adalah berkurangnya jumlah trombosit dibawah normal. Trombositopeni dapat terjadi karena beberapa keadaan : Penurunan produksi (megakariositopeni), terjadi bila fungsi sumsum tulang terganggu . Meningkatnya destruksi (megakariositosis), terjadi akibat trombosit yang beredar berhubungan dengan mekanisme imun. Akibat pemakaian yang berlebihan (megakariositosis), misalnya pada DIC (Disseminated Intravasculer Coagulation), kebakaran, trauma. Pengenceran trombosit. Dapat terjadi oleh karena tranfusi yang dibiarkan dalam waktu singkat dengan memakai darah murni yang disimpan sehingga dapat mengakibatkan kegagalan hemostatik pada resipien.

Hemostasis
Kelainan Trombosit
Trombositosis Trombositosis adalah meningkatnya jumlah trombosit pada peredaran darah diatas normal, yaitu lebih dari 400 x 109 / L. Pada trombositosis apabila rangsangan-rangsangan yang menyebabkan trombositosis ditiadakan maka jumlah trombosit kembali normal, misalnya terjadi pada perdarahan yang akut, contohnya pada trauma waktu pembedahan atau melahirkan. Trombositemi Trombositemi yaitu peningkatan jumlah trombosit oleh proses yang ganas. Misalnya pada lekemia mielositik kronik. Jumlah trombosit pada trombositemi dapat melebihi 1.000x109/L.

Hemostasis
Kelainan Trombosit
Kelainan Kualitas Trombosit Trombositopati Trombositopati adalah keadaan yang menggambarkan kelainan trombosit terutama yang melibatkan platelet faktor 3 dan selanjutnya pembentukan tromboplastin plasma. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan bawaan / didapat.

Hemostasis
Kelainan Pembekuan Kelainan pembekuan herediter - Hemofilia A - Defisiensi faktor IX - Penyakit Willebrand Kelainan pembekuan didapat - Defisiensi vitamin K - DIC - Defisiensi Koagulasi yang disebabkan antibodi - Sindrom tranfusi masif

Hemostasis
HEMOFILIA Gangguan koagulasi herediter yang paling sering dijumpai Termasuk penyakit resesif terkait kromosom X Disebabkan mutasi gen faktor VIII/IX Pria hemofilia - Anak perempuan carrier - Anak laki-laki tidak terkena Wanita carrier anak laki-laki pasti hemofilia Pengelompokan : - Hemofilia A defisiensi / tidak adanya aktivitas faktor antihemofilia VIII - Hemofilia B/ penyakit Christmas tidak ada faktor IX

Hemostasis
HEMOFILIA Klasifikasi - Berat kadar aktivitas faktor <1% ( perdarahan spontan ) - Sedang kadar aktivitas faktor 1-5 % - Ringan > 5% perdarahan karena trauma atau pembedahan

Hemostasis
HEMOFILIA A Gambaran Klinis Bayi perdarahan pasca sirkumsisi, perdarahan sendi/ jaringan lunak, memar berlebihan saat mulai bayi aktif Pasien sakit berat hemartrosis berulang yang nyeri dan hematom otot deformitas sendi progresif, kecacatan Perdarahan berkepanjangan setelah ekstraksi gigi Hematuria dan perdarahan saluran cerna yang spontan Perdarahn operatif dan pascatrauma, perdarahan intraserebral spontan Pseudotumor hemolitik di tulang panjang, pelvis, jari tangan dan kaki akibat perdarahan subperiosteum berulang dengan destruksi tulang, pembentukan tulang baru, pelebaran tulang, dan fraktur patologik.

Hemostasis
HEMOFILIA A Temuan Klinis dan Laboratorium - Lokasi utama perdarahan otot, sendi, pascatrauma, pascaoperasi - Jumlah trombosit, masa perdarahan, masa protrombin normal - Masa tromboplastin parsial memanjang - FVIII rendah - F IX, FVW normal - Agregasi trombosit yang diinduksi ristocetin normal

Hemostasis
HEMOFILIA B Memiliki gambaran klinis dan hasil laboratorium seperti hemofilia A, hanya berbeda dengan adanya defisiensi F IX sedangkan F VIII normal Perdarahan diatasi dengan pemberian konsentrat F IX atau FIX rekombinan ( pemberian dosis lebih tinggi dibandingkan F IX dari plasma )

Hemostasis
PENYAKIT VON WILLEBRAND Gangguan koagulasi herediter yang paling sering terjadi kerena penurunan kadar atau fungsi faktor VW yang abnormal akibat mutasi titik atau delesi besar. Faktor VW adalah suatu protein yang berguna : - Adhesi trombosit pada endotel yang rusak - Molekul pembawa faktor VIII dan melindungi dirinya dari destruksi prematur Pewarisan bersifat autosomal dominan dengan ekspresi yang bervariasi

Hemostasis
PENYAKIT VON WILLEBRAND
Interpertasi Lab - Masa perdarahan memanjang - APTT memanjang atau normal - Faktor VIII, F VW turun - Jumlah trombosit, PT normal - Agregasi trombosit yang diinduksi ristocetin terganggu

Hemostasis
DEFESIENSI VITAMIN K
Vitamin K diperoleh dari sayuran hijau dan sintesis oleh bakteri dalam usus Biasanya disebabkan diet yang tidak adekuat, malabsorpsi, inhibisi vit K oleh obat ( cth : warfarin ) Jenisnya : - Penyakit hemoragik pada neonatus - Defisiensi vit K pada anak atau dewasa Etiologi ikterus obstruktif, penyakit pankreas atau usus halus Diagnosis PT dan APTT memanjang ; kadar F II, VII, IX, X plasma rendah

Hemostasis
DIC ( Diseminated Intravascular Coagulation ) Suatu sindrom yang ditandai dengan adanya perdarahan akibat trombin bersirkulasi dalam darah pada daerah tertentu. Etiologi
Penyakit yang disertai DIC fulminan/ akut * Bidang obstetri emboli cairan amnion * Bidang hematologi reaksi transfusi darah, leukemia, hemolisis berat, tranfusi masif * Infeksi : trauma , parasit ( malaria ), septikemia, penyakit hati akut, luka bakar , kelainan vaskular dll.

Hemostasis
DIC ( Diseminated Intravascular Coagulation )
Penyakit yang disetai DIC derajat rendah * Keganasan * Penyakit kardiovaskular * Penyakit autoimun * Penyakit ginjal menahun * Peradangan * Penyakit hati menahun Gejala Klinis * Perdarahan dapat terjadi di semua tempat ekimosis, hematom, hematuria, perdarahan gusi, epistaksis, hemoptisis * Kesadaran turun koma akibat perdarahan otak * Gagal ginjal & gagal nafas akut * Iskemia vokal

Hemostasis
DIC ( Diseminated Intravascular Coagulation ) Pemeriksaan : - PT abnormal ( kadang kurang efektif dalam menegakkan diagnosis ) - APTT memanjang pada fulminan - FDP meningkat - D-Dimer meningkat - Trombositopenia

Hemostasis
DEFESIENSI KOAGULASI yang Disebabkan Oleh Antibodi Aloantibodi terhadap faktor VIII ditemukan 510% penderita hemofilia menyebabkan sindrom perdarahan

Hemostasis
SINDROM Tranfusi Masif disebabkan : - Kehilangan darah menurunnya kadar trombosit, faktor pembekuan dan inhibitor - Pengenceran faktor terjadi selama pergantian dengan darah simpan - Penyimpanan 24 jm, 4OC trombosit agregasi, fungsi memburuk, jumlah trombosit menurun progresif - Faktor pembekuan V dan VIII tidak dapat dipertahankan setelah beberapa hari

Hemostatis
Kelainan Perdarahan Vaskuler Merupakan sekelompok keadaan heterogen, yang ditandai oleh mudah memar dan perdarahan spontan dari pembuluh darah kecil. Perdarahan menimbulakan petekie, ekimosis, atau keduanya. Masa perdarahan normal dan uji hemostatis lain juga normal. Defek vaskular dapat bersifat herediter atau didapat.

Hemostatis
Klasifikasi Perdarahan Vaskuler Herediter : Yang bersifat Herediter - Hereditary haemorrhagic telangictasia (HHT) - Ehlers Danlos syndrome (EDS) - Osteogenesis imperfecta (OI) - pseudoxantoma elasticum (PXE) Yang bersifat didapat - Henoch Schonlein Syndrome - Purpura senilis - Purpura karena kortikosteroid - Purpura simpleks - Scurvy - Purpura karena obat-obatan - Purpura karena infeksi - Purpura mekanik

Hemostatis
Kelainan perdarahan vaskuler herediter a. Telangiektasia hemoragik herediter pembengkakan mikrovaskular melebar, yang muncul selama masa anak dan jumlahnya bertambah saat dewasa. Telangesia muncul pada kulit, selaput lendir dan organ-organ dalam.

Hemostatis
Kelainan perdarahan vaskuler herediter b. Kelainan jaringan ikat Misal pada sindrom Ehlers-Danlos terdapat kelainan herediter disertai dengan purpura yang terjadi akibat gangguan agregasi trombosit, hiperekstensibilitas sendi, dan kulit pecah-pecah yang hiperelastis c. Osteogenesis Imperfecta (OI) Kelainan pada perubahan struktur dan fungsi kolagen tipe 1 yang ditandai dengan kelemahan dan kerapuhan tulang menyeluruh pada tubuh.

Hemostatis
Kelainan perdarahan vaskuler herediter d. Pseudoxantoma elasticum (PXE) Merupakan kelainan degenerasi jaringan ikat yang jarang ditemui. Ditemukan klasifikasi pada kulit, retina, dan pembuluh darah. Namun, walaupun jaringan ikat merupakan komponen utama ligamen ( jaringan yang menunjang tulang ), PXE tidak mengenai ligamen.

Hemostatis
Kelainan perdarahan vaskuler didapat : 1. Mudah memar sederhana ( pada wanita sehat usia subur ). 2. Purpura senilis karena atrofi jaringan penunjang pembuluh darah kulit ( pada dorsal lengan bawah dan tangan ). 3. Purpura yang berkaitan dengan infeksi 4. Sindrom Henoch-Schonlein yang ditemukan pada anak dan disertai infeksi 5. Skorbut pada defisiensi vitamin c 6. Purpura steroid ( berkaitan dengan terapi steroid jangka panjang atau sindrom Cushing ) 7. Vaskulitis Sekunder. Perdarahan akibat vaskulitis dapat datang dengan petekhie, purpuram atau perdarahan ke dalam organ.

Fibrinolisis
PEMBENTUKAN FIBRIN TROMBIN MENGUBAH F XIII -> F XIIIa F I (fibrinogen) menjadi Fibrin monomer Fibrin monomer diubah menjadi fibrin stabil oleh F XIIIa

Fibrinolisis
Faktor yang dapat mempengaruhi fibrinolisis yaitu : Usia Proses fibrinolisis pada Anak dan dewasa lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah. Merokok Merokok dapat menaikkan fibrinogen darah, menambah agregrasi trombosit, menaikkan hematoknit dan viskositas darah .

Fibrinolisis
Faktor yang dapat mempengaruhi fibrinolisis yaitu :
Aktivitas fisik Darah akan mengalami hiperkoagulasi (lebih encer) setelah seseorang mengadakan aktivitas fisik. Ini disebabkan meningkatnya aktivitas 2 faktor yang dapat membuat darah lebih encer yaitu : koagulan faktor VIII dan APTT (Activated Partial Prothrombin Time). Untuk memacu hiperkoagulasi, faktor VIII harus meningkat banyak, sedangkan APTT harus mengalami pemendekan. Pada sistem fibrinolisis komponen yang berperan terdiri dari : plasminogen, aktivator plasminogen, dan inhibitor plasminogen.

Fibrinolisis
Aktivator-aktivator plasminogen memecah peptide dari plasminogen dan membentuk plasmin rantai dua. Aktifasi menjadi plasmin dapat terjadi melalui tiga jalur yaitu : 1. Jalur intrinsik, melibatkan aktifasi dari proaktifator sirkulasi melalui faktor XIIa dan kalikrein, yang aktivatornya berasal dari plasma (dalam darah). 2. Jalur ekstrinsik, dimana aktivator-aktivator dilepaskan ke aliran darah dari jaringan yang rusak, endotel, sel-sel atau dinding pembuluh darah ( semua aktifator juga protease). 3. Jalur eksogen, dimana plasminogen diaktifasi dengan aktivator yang berasal dari luar tubuh seperti streptokinase (bakteri) yang dibentuk oleh Streptokokkus -hemoliticus dan urokinase (urin).

Fibrinolisis

Trombosis
Trombosis adalah terbentuknya sebuah clot atau trombus dalam lumen dari pembuluh darah, menyumbat aliran darah sistem sirkulasi. Thromboembolism adalah bentuk umum menggambarkan trombosis dan komplikasi utama dimana embolisation. Ketika sebuah trombus menempati lebih dari 75% dari permukaan daerah lumen arteri, aliran darah menuju ke jaringan berkurang mengakibatkan tandatanda sebab hipoksia dan akumulasi produksi metabolic seperti lactid acid.

Trombosis
Penyebab : - Bentuk klasik, thrombosis disebabkan abnormal satu atau lebih pengikut ( Virchows Triad ) - Komposisi darah ( hipercogulability ) - Kualitas dinding pembuluh ( cedera sel endoteal ) - Sifat aliran darah ( hemostasis )

Trombosis
Penyebab : Arterial Trombosis Trombosis : peristiwa terjadinya trombus Trombus : endapan padatan pada dinding pembuluh darah dimana terjadi beberapa kelainan Penyebab paling sering adalah arterosclerosis Operasi memberikan hasil yang baik jika dilakukan 6 jam sampai 10 jam Symtom menurut sir lewis tidak ada perbedaan antara obstruksi karena trombus dan emboli 1. Pucat dan dingin 2. Nyeri saat bergerak 3. Numbness 4. Colaps pada vena superficial 5. Hyperaestesia dan muscle weakness

Trombosis
Trombosis Vena Dalam Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan terjadinya gumpalan darah ( trombus ) pada pembuluh darah balik ( vena ) dalam di daerah tungkai bawah. Trombus yang terbentuk di tungkai bawah tersebut dapat lepas dari tempatnya dan berjalan mengikuti aliran darah, disebut dengan emboli . Emboli yang terbentuk dapat mengikuti aliran darah hingga ke jantung dan paru. Biasanya emboli tersebut akan menyumbat di salah satu atau lebih pembuluh darah paru, menimbulkan suatu keadaan yang disebut embolisme paru ( pulmonary embolism )

Trombosis
Penyebab Trombosis Vena Dalam 1. Cedera pada pembuluh darah balik Pembuluh darah balik dapat cedera selama terjadinya tindakan bedah, suntikan bahan yang mengiritasi pembuluh darah balik, atau kelainan-kelainan tertentu pada pembuluh darah balik. 2. Peningkatan kecenderungan terjadinya pembekuan darah. Terdapat beberapa kelainan yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kecenderungan terjadinya pembekuan darah. Beberapa jenis kanker dan penggunaan kontrasepsi oral dapat memudahkan terjadinya pembekuan darah. Kadang-kadang pembekuan darah juga dapat terjadi setelah proses persalinan atau setelah tindakan operasi. Selain itu pembekuan darah juga mudah terjadi pada individu yang brusia tua, keadaan dehidrasi, dan pada individu yang merokok.

Trombosis
Penyebab Trombosis Vena Dalam

3. Melambatnya aliran darah pada pembuluh darah balik


Hal ini dapat terjadi pada keadaan seperti perawatan lama di rumah sakit atau pada penerbangan jarak jauh. Pada keadaan tersebut otot-otot pada daerah tungkai bawah tidak berkontraksi sehingga aliran darah dari kaki menuju ke jantung berkurang. Akibatnya aliran darah pada pembuluh darah balik melambat dan memudahkan terjadinya trombosis .

Trombosis
Gejala Trombosis Vena Dalam Gejala nyeri dada, akibat dari embolisme paru, adalah indikasi pertama adanya suatu kelainan. Jika trombus besar dan menyumbat aliran darah pada pembuluh darah balik yang besar, maka akan timbul gejala pembengkakan pada tungkai bawah, yang nyeri dan hangat pada perabaan. Gejala lebih lanjut dari trombosis vena dalam adalah terjadinya perubahan warna pada kulit di sekitar daerah yang terkena menjadi kecoklatan. Hal ini terjadi karena sel darah merah akan keluar dari pembuluh darah balik yang bersangkutan dan mengumpul dibawah kulit.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Lab Pemeriksaan penyaring faktor pembekuan yg rutin dikerjakan dilaboratorium adalah pemeriksaan prothrombin time (PT), activator partial thromboplastin (aPTT) dan thrombin (TT)

Prothrombin Time
Dilakukan dengan menambahkan suatu bahan yg berasal dari jaringan (biasanya dari otak,plasenta dan paru-paru) pada plasma sitrat dan engan memberikan kelebihan ca2+ kemudian diukur waktu terbentuknya bekuan. Pemanjangan masa protrombin berhubungan dengan defisiensi faktor2 koagulasi jalur ekstrinsik seperti faktor VII,faktor X,faktor V, protrombin dan fibrinogen, kombinasi dari faktor2 ini,atau oleh karena adanya suatu inhibitor.

Activated Partial Thromboplatin Time (masa tromboplastin parsial teraktivasi)


Dilakukan dengan menambahkan aktivator seperti kaolin, ellegic acid atau celite dan juga fosfolipid standard untuk mengaktifkan faktor kontak pada plasma sitrat. Lalu ditambahkan ion kalsium dan diukur waktu sampai terbentuknya bekuan. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kelainan kadar dan fungsi faktor2 koagulasi faktor intrinsik; prekallikrein,HMWK,faktor XII, faktor XI, faktor IX, faktor VIII dan aktifitas jalur bersama; faktor X,faktor V, protrombin dan fibrinogen, serta adanya inhibitor

Masa tromboplastin parsial teraktivasi (activated partial thromboplastin time, APTT) adalah uji laboratorium untuk menilai aktifitas faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor Hagemen), pre-kalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor IX (factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart), faktor V (proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Tes ini untuk monitoring terapi heparin atau adanya circulating anticoagulant. APTT memanjang karena defisiensi faktor koagulasi instrinsik dan bersama jika kadarnya <> 7 detik dari nilai normal, maka hasil pemeriksaan itu dianggap abnormal.

APTT memanjang dijumpai pada :Defisiensi bawaan


Jika PPT normal kemungkinan kekurangan :
Faktor VIII Faktor IX Faktor XI Faktor XII

Jika faktor-faktor koagulasi tersebut normal, kemungkinan kekurangan HMW kininogen (Fitzgerald factor) Defisiensi vitamin K, defisiensi protrombin, hipofibrinogenemia.

Defisiensi didapat dan kondisi abnormal seperti :


Penyakit hati (sirosis hati) Leukemia (mielositik, monositik) Penyakit von Willebrand (hemophilia vaskular) Malaria Koagulopati konsumtif, seperti pada disseminated intravascular coagulation (DIC) Circulating anticoagulant (antiprothrombinase atau circulating anticoagulant terhadap suatu faktor koagulasi) Selama terapi antikoagulan oral atau heparin

Pemeriksaan APTT dapat dilakukan dengan cara manual (visual) atau dengan alat otomatis (koagulometer), yang menggunakan metode fotooptik dan elektro-mekanik. Teknik manual memiliki bias individu yang sangat besar sehingga tidak dianjurkan lagi. Tetapi pada keadaan dimana kadar fibrinogen sangat rendah dan tidak dapat dideteksi dengan alat otomatis, metode ini masih dapat digunakan. Metode otomatis dapat memeriksa sampel dalam jumlah besar dengan cepat dan teliti. Prinsip dari uji APTT adalah menginkubasikan plasma sitrat yang mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali kalsium dan trombosit dengan tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif (mis. kaolin, ellagic acid, mikronized silica atau celite koloidal). Setelah ditambah kalsium maka akan terjadi bekuan fibrin. Waktu koagulasi dicatat sebagai APTT. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah darah vena dengan antikoagulan trisodium sitrat 3.2% (0.109M) dengan perbandingan 9:1. Gunakan tabung plastik atau gelas yang dilapisi silikon. Sampel dipusingkan selama 15 menit dengan kecepatan 2.500 g. Plasma dipisahkan dalam tabung plastik tahan 4 jam pada suhu 205oC. Jika dalam terapi heparin, plasma masih stabil dalam 2 jam pada suhu 205oC kalau sampling dengan antikoagulan citrate dan 4 jam pada suhu 205oC kalau sampling dengan tabung CTAD.

Nilai Rujukan Nilai normal uji APTT adalah 20 35 detik, namun hasil ini bisa bervariasi untuk tiap laboratorium tergantung pada peralatan dan reagen yang digunakan. Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium : Pembekuan sampel darah, Sampel darah hemolisis atau berbusa akibat dikocok-kocok, Pengambilan sampel darah pada intravena-lines (mis. pada infus heparin).

Thrombin Time (Masa Trombin )


Pemeriksaan ini dilakukan dengan menambahkan trombin eksogen pada plasma sitrat, lalu dilakukan waktu terjadinya bekuan. Defisiensi atau abnormalitas fibrinogen dan adanya heparin atau fibrin (ogen) degradation product (FDP) adalah yg paling sering menyebabkan perpanjangan TT

D-dimer
Prinsipnya, apabila fibrin diuraikan oleh plasmin, terjadi pembebasan neoantigen, dalam hal ini adalah 2 fragmen D dari tempat ikatan silang gama di fibrin Uji ini menggunakan antibodi monoklonal terhadap fragmen DD Dijumpai pada >90% gangguan trombotik/tromboembolik

Penatalaksanaan dan pengobatan

Penatalaksanaan kelainan pendarahan herediter


Asam traneksamat dan asam aminokaproat adalah obat-obatan antifibrinolitik bermanfaat yang dapat mengurangi pendarahan akibat kelainan vaskular atau trombositopenia, namun obat ini merupakan kontraindikasi bila terdapat hematuria karena dapat menyebabkan bekuan darah yang menyumbat saluran ginjal

Pengobatan Trombositosis
Jumlah trombosit diatas 1.000.000 atau pasien simptomatik, dimulai dengan mengurangi aktivitas sumsum tulang dengan agen sitotoksik (hidrokdiurea agrilyn dan antikoagulan)

Pengobatan Purpura trombositopenia Autoimun (ITP) Kronis


Kortikosteroid : prednisolon 1mg/kg tiap hari,dosis diturunkan perlahan setelah 10-14 hari. Pada pasien yg berespon buruk, dosis diturunkan lebih lambat tetapi dipertimbangkan untuk splenektomi atau imunosupretif alternatif Splenektomi : dianjurkan pada psien yg mempunyai nilai hitung trombosit <30 x 109/l setelah pengobatan steroid 3 bulan atau pasien yg membutuhkan steroid dalam dosis yg terlalu tinggi Terapi Ig intravena dosis tinggi : dosis yg dianjurkan sebesar 400mg/kg/hari selama 5 hari atau 1g/kg/hari selama 2 hari. Terapi ini sangat berguna khususnya bagi penderita pendarahan yg mengancam jiwa, pada ITP yg refrakter terhadap steroid, saat kehamilan, atau sebelum pembedahan

Obat-obat imunosupretif : siklofosfamid,azatioprin,vinkristin, atau sikloporin secara sendiri atau dalam kombinasi. Untuk pasien yang tidak berespon baik terhadap steroid dan splenektomi Pengobatan lain : danazol dan Ig anti D Transfusi trombosit: konsentrat trombosit berguna bagi penderita pendarahan akut yg mengancam jiwa

Pengobatan ITP Akut


Trombosit >30 x 109 /l = tidak perlu pengobatan kecuali terjadi pendarahan berat Trombosit <20 x 109 /l = steroid dan atau Ig intravena

Pengobatan purpura pasca transfusi dengan pemberian Ig intravena, pertukaran plasma, atau kortikosteroid Pengobatan trombositopenia imun yg diinduksi obat dengan menghentikan semua obat yg dicurigai, tetapii konsentrat trombosit harus diberikan pada psien dengan pendarahan yg berbahaya. Pengobatan purpura trombositopenia trombotik (TTP) adalah pertukaran plasma, plasma beku segars, dan kriosupernatan

Pengobatan hemofilia A
Terapi penggantian faktor VIII (FVIII rekombinan, preparat FVIII yg dimurnikan Perdarahan spontan diatas 20% dari normal Operasi besar, perdarahan pascatrauma serius, perdarahan di tempat serius 100% diatas normal, jika perdarahan akut sudah berhenti pertahankan diatas 50% DDAVP (desmopresia) hemofilia ringan Intravena keadaan iistirahat Per-nasal setelah trauma kecelakaan atau perdarahan Tindakan suportif lokal (untuk hemotrosis,hematoma) pengistirahatan bagian yg sakit, pencegahan trauma lebih lanjut

Pengobatan penyakit Von Willebrand


Tindakan lokal dan obat anti fibrinotik, misalnya asam traneksamat untuk pendarahan ringan Infus DDAVP (desmopresin = mengontrol pendarahan dan merangsang pelepasan faktor VIII) bagi VWD tipe 1 (penurunan VW masih normal) Konsentrat faktor VIII dengan kemurnian sedang (mengandung VWF dan faktor VIII) untuk pasien dengan kadar VWF sangat rendah Plasma beku segar kriopesipitan

Pengobatan defisiensi vit.K


Profilaksis = pemberian vit.K pada bayi baru lahir, injeksi intramuskular tunggal 1 mg. Pada dewasa profilaksis vit K 5 mg peroral/hari Perdarahan aktif atau sebelum biopsi hati = vit.K 10mg intravena lambat (koreksi dalam 6 jam), diulang 2 hari berikutnya.

Penatalaksanaan DIC (Diseminated intravaskular Coagulation)


Atasi penyakit primer yg meyebabkan DIC Pemberian heparin = 200 unit/kgBB, IV @4-6 jam. Kenaikan kadar fibrinogen plasma nyata dalam 6-8 jam, setelah 24-48 jam sesudah mencapai harga normal. Terapi pengganti = darah/ packed red cell diberikan untuk menggantikan darah yg keluar. Apabila masih terjadi perdarahan sampai 1 minggu, diberi platelet concentrate. Obat penghambat fibrinolitik : sodium warfarin (tidak boleh di beri EACA krn dpt menyebabkan trombosis)