Anda di halaman 1dari 9

SETELAH

35 TAHUN ITU

BY. AIDA. M. AFFANDI


aida_2708@yahoo.com

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 1


Setelah 35 Tahun itu,…

Ketika sesuatu itu ada, ia seperti tiada arti


Ketika sesuatu itu ada, ia selalu tersakiti
Ketika sesuatu itu pergi, artinya begitu terasa
Ketika sesuatu itu pergi, seolah ingin membahagiakannya
Seandainya,..oh seandainya,...

Tubuhku menggigil terasa dingin menusuk seluruh sendi tulang


tubuhku. Sangat sakit, aku seperti berada di ketinggian beberapa ribu
meter dikelilingi gunung es dan gundukan salju. Napasku yang melaju
cepat seperti habis dikejar anjing gila yang galak. Tubuhku lemah
pasca melahirkan anak laki-lakiku di saat usiaku sudah melangkah di
angka 40 tahun.

Malu rasanya melahirkan di usia yang sudah tak muda lagi, bidan
sering mengingatkan bahwa kehamilan di usia di atas 35 tahun atau
usia yang masih terbilang muda adalah kehamilan dan persalinan yang
sangat membutuhkan ekstra perhatian. Selain karena faktor Mortalitas
yang terbilang tinggi pada usia tersebut, juga kasus double riskan
pada kehamilan di atas 35 tahun, mulai dari diabetes, preeklamsia
hingga hipertensi.

Namun itulah yang terjadi padaku, aku justru melahirkan anak ke


enamku di saat cucuku sudah berjumlah dua orang. Terkadang
terdengar gurauan tetangga-tetanggaku yang terang-terangan
mengejek kehamilanku ini.

/” lu mah getol banget mpok,..kayaknya baru kemaren cucu lu lahir,


nah sekarang elu yang mau brojol bae”/ rasanya telingaku gatal
mendengar ocehan mulut-mulut yang senang gosip itu
menertawakanku. Aku hanya bisa diam tiap kali mereka mengejek
kehamilanku. Oh Tuhan, andai saja aku bisa memilih tentu aku tak
ingin melahirkan untuk kesekian kalinya ditambah besarnya beban
yang kupikul sendiri.

Namun aku ingat kata-kata seorang ustadzah yang membesarkan


hatiku pada sebuah pengajian mingguan di kampungku, bahwa tiap
anak itu telah ditentukan Allah tiap-tiap rezkinya dan seseorang itu
tidak akan meninggalkan dunia sebelum memenuhi semua rezeki yang
telah ditetapkan Yang Maha Pemberi.

Saat itu pukul 1 dini hari. Tentu semua anggota keluargaku tengah
tertidur pulas, aku merasakan mulas yang luarbiasa, kontraksi hebat

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 2


menandakan bayiku akan segera lahir ke dunia ini. Sambil menahan
sakit, aku berjalan perlahan ke kamar anak laki-lakiku Awan yang
terlahir tuna rungu.

”Awan, bangun..kutarik kakinya perlahan, kulihat dia perlahan


membuka matanya. Kuberi isyarat dengan menunjukkan jari
telunjukku ke rumah tetangga kami, lalu kuusap perutku yang semakin
mulas. Gerakan tanganku cepat memberikan instruksi pada Awan agar
meminta bantuan menjemput bidan desa untukku. Awan mengangguk
angguk dengan mimik wajah yang sangat khawatir, kulihat dia
setengah berlari mencari bantuan.

Sejam berlalu Awan juga belum kembali, pembukaan demi pembukaan


terus berjalan, rasa sakit akibat kontraksi semakin hebat, setengah
berdiri dan hampir jongkok aku menunggu bidan datang. Keinginan
untuk mengejan juga tak terbendungkan lagi. Semakin kuat dan kuat.
Bayiku ingin segera keluar dari dalam hangatnya rahimku. Kucari
ketenangan hati dengan perlahan-lahan menarik napas menghirup
oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuang karbondioksida perlahan
lewat mulut, sehingga rasa sakit yang teramat itu terasa lebih ringan.

Aku mengejan sekuatnya, setelah hampir 3 jam menunggu bidan yang


belum juga datang. Suara tangisan bayi kecilku memecah kesunyian
pagi menjelang fajar. Tubuhnya kecil dan begitu dingin, bekas air
ketuban dan darah masih melekat di tubuhnya bahkan mengering.
Bayi kecilku laki-laki lahir di pukul 4 pagi tanpa bantuan siapapun. Tali
plasentanya pun belum digunting, tubuh kecilnya juga belum
dimandikan air hangat. Tubuhnya kedinginan, agak sempoyongan aku
menarik kain panjang dari dalam lemari untuk menyelimutinya,
hingga akhirnya dia tertidur pulas di pangkuanku.

Perlahan airmataku berjatuhan, bukan karena sakit yang kurasakan.


Namun karena kesendirian yang merayapi perlahan relung-relung
hatiku yang dalam. Suamiku, ayah dari anakku memilih menginap di
kebun kami, justru di saat kehamilanku semakin besar. Bukannya
memberikanku perhatian, malah memberikanku kegalauan yang
semakin menjadi.

--------------

Aku seorang kuli cuci setrika di sebuah komplek perumahan dekat


pemukiman kampungku. Setiap hari aku harus selalu datang ke rumah
beberapa orang majikanku sebelum jam 7 pagi, karena aku harus
menyuci dan menyetrika di beberapa rumah sekaligus. Profesi ini
sudah aku lakoni semenjak kelahiran anak pertamaku.

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 3


Suamiku yang sering ku panggil ”Aki”, laki-laki yang menikahiku saat
aku sudah menjadi janda diusia 17 tahun. Pernikahanku yang pertama
hanya bertahan satu setengah tahun, terus terang aku belum siap
untuk menikah saat itu, sikapku yang masih terlalu kekanak-kanakan
membuat perceraian itu terjadi. Aku punya 1 orang anak dari suami
pertamaku, kegagalanku berumah tangga dengan suamiku terdahulu
membuatku sering bersikap lebih sabar menghadapi sikap aki.
walaupun terkadang hatiku sangat jengkel dengan sikapnya yang
sangat tidak peduli apalagi proaktif bekerjasama denganku mendidik
anak dan memenuhi kebutuhan kami.

Aku tinggal di tengah kota Jakarta, namun kampungku semakin


terpinggir oleh banyaknya pendatang setiap tahunnya ke Jakarta.
Walaupun banyak pendatang, namun tetap saja pola pikir orangtuaku
dan beberapa orangtua lainnya di kampungku tak berubah, persoalan
pendidikan untuk anak tidak begitu penting bagi mereka. Bahkan aku
dinikahkan di usia 14 tahun.

Di awal pernikahan kami, Aki sangat baik dan manis. Namun Aki
berubah setelah kelahiran anak pertama kami. Dia menjadi kasar dan
dingin, semua kemesraannya dulu seperti menguap entah kemana.
Mungkin bagi aki kemesraan itu hanya berlaku untuk pasangan di
masa bulan madu saja. Aki tak pernah mengerti bahwa kehidupan
berumahtangga adalah sebuah pelajaran seumur hidup, bukan hanya
urusan saling memberi dan menerima. Aki tak pernah tahu bagaimana
mesranya Rasulullah memperlakukan istri-istrinya, memanggil Aisyah
r.a dengan Humaira, oh sungguh romantisnya Rasulullah hingga akhir
hayatnya.

Setiap hari Aki hanya pergi ke kebun dan mencari rumput untuk pakan
kambingnya, saat kambingnya sudah laku terjual maka seluruh
uangnya dibelikan beras untuk jatah makan kami sekeluarga 1 bulan.
Jika beras telah habis maka dia akan membelinya lagi dengan sisa
uang yang ada. Seolah-olah telah terselesaikan tugasnya menjadi
kepala keluarga dengan menyediakan stok beras di rumah, lalu
dengan tenang dia hanya menghabiskan waktunya dengan tidur-
tiduran seharian di rumah tanpa mau peduli dengan kebutuhan
sekolah anak-anak kami.

Gaji sebagai seorang kuli cuci sungguh tak mencukupi 3 orang anakku
yang masih sekolah. Sementara 3 orang anakku yang lainnya sudah
berumahtangga, kebutuhan hidup mereka juga sangat pas-pasan.
Rasanya berat hati ini untuk meminta bantuan pada anak-anakku yang
lainnya. Akhirnya kebutuhan sekolah dan makan sehari-hari
ditanggung sepenuhnya di tanganku. Berulang kali mulutku lelah

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 4


untuk meminta suamiku mencari pekerjaan tambahan atau menjual
hasil kebun kami ke pasar. Tapi aki tetap tak berkutik dan tak berubah.

/”Ki,..kepala keluarga itu bukan aku, aku istri Aki yang seharusnya
merawat anak, mendidik dan menjaga harta yang Aki dapat.
Kenyataannya sekarang semua orang bisa melihat, aku bukan hanya
istri tapi juga sekaligus kepala keluarga yang menyedihkan”/

Aki terbiasa diam setiap kali aku mengomelinya. Dia tetap dingin dan
marah-marah jika aku tak sempat masak untuk makan siangnya, atau
marah-marah saat baju-baju belum sempat dicuci. Terkadang aku
menyesali kehidupanku seperti ini, ingin rasanya aku meminta cerai
padanya. Tapi aku memilih bertahan demi anak-anak dan rasa malu
pada orangtuaku, karena aku tak ingin gagal lagi dalam pernikahanku
ini. Namun inilah hasil dari keputusanku, aku harus selangkah lebih
tangguh dari wanita-wanita yang lain.

Banyak hal yang mengganjal di hatiku, namun tak pernah sedikitpun


sungkan kuungkapkan ke aki, walaupun dengan caraku sendiri yaitu
omelan. Bahwa aku lelah menjadi istrinya yang harus menanggung
segala hal sementara aki hanya sebagai penonton dalam rumah
tangga kami. Omelanku bahkan tak berharga buat aki. Berbicara
dengan lemah lembut di depan aki ibarat sedang bicara dengan batu,
diam tanpa jawaban.

-------------

Hari ini aku mendapatkan pekerjaan tambahan menjadi pembantu


rumah tangga dan mengurus seorang bayi dan ibunya yang baru
melahirkan. Aku menerima pekerjaan itu karena biaya sekolah ketiga
anakku yang tidak bisa ditunda-tunda seperti sebelumnya. Terkadang
harus membayar uang sekolah Yuni, tapi nunggak dulu pembayaran
sekolah Anggun dan Ipung. Ah, sungguh berat biaya sekolah dan hidup
di Jakarta ini.

Aku memanggil majikanku itu Adek, masih sangat muda seusia dengan
anak ketigaku. Karena mengurusi rumah sekaligus mengurus bayi,
terkadang aku harus pulang ke rumah di sore hari. Tak terasa sudah
hampir sebulan aku bekerja sebagai PRT. Setiap kali aku pulang aki
selalu cemberut dan marah-marah. Mungkin karena sudah begitu
faham karakter suamiku, aku menjadi biasa dengan kata-kata yang
diucapkannya. Terkadang aku diam tak mengomentari kata-katanya.
Terkadang aku pura-pura tak acuh dengan nada ketus dari bibirnya.

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 5


/”kenapa lu, selalu pulang sore...gua mau makan kagak ada makanan.
Nah sekarang tiap kali pulang, selalu mandi ampe diguyur tuh satu
badan. Habis junuban lu??’/

Aku yang sedang mandi langsung terkejut dengan tuduhan aki.


Tulang-tulang di sekujur tubuhku yang terasa penat semakin terasa
penat dan nyeri dengan perkataan aki. Apa yang difikirkan oleh
suamiku ini. Bukankah aku sudah memberitahukan bahwa aku
mendapat pekerjaan baru sebagai PRT. Tentu seharian aku penuh
peluh dan kotor, apa aki tak faham tentang pentingnya Thaharah
sebelum beribadah. Oh Tuhan kepalanya dipenuhi oleh bisikan-bisikan
syaitan. Bahkan sekarang dia berani menuduhku, sungguh terlalu di
saat usia pernikahan kami di tahun 35 tahun.

”Ki, engga usah nuduh-nuduh gua yang macam-macam, gua kerja


bertaon-taon Cuma buat kebutuhan kita ama buat biaya bocah-bocah
sekolah. Kalau aki ga setuju gua jadi pembantu ampe pulang sore, gua
berhenti aja. Tapi aki kudu ingat semua kebutuhan anak-anak aki yang
kudu nyari”

Kulihat wajahnya tegang saat aku menantang tuduhan yang ditujukan


nya kepadaku. Wajahnya merah mungkin marah atau juga menahan
malu karena tak mempercayai aku yang telah bertahun-tahun tetap
sabar menjadi istrinya.

”ya udah,..terserah elu aja”...aki berlalu dari hadapanku dengan


jawaban yang sangat menyakitkan hatiku. Terkadang aku berharap
suatu saat dia mengambil sebagian beban di pundakku, tapi jangankan
semua beban sedikit beban saja tak pernah berkurang dari pundakku.
malah aki menambah beban perasaanku dengan menuduhku yang
bukan-bukan. Mungkin ini akan menjadi mimpiku yang belum
terwujud. Kenyataannya aku justru semakin memikul beban
cemburunya karena aki telah lama kehilangan kepercayaan dirinya
sebagai suami dan kepala keluarga.

Aku hampir menangis di depan majikanku. Menceritakan curahan


hatiku dan kegelisahan jiwaku selama hampir 35 tahun ini. Menurut
majikanku aki memang telah hilang rasa percaya diri, terutama saat
semua hal ditangani olehku. Merasa kalah denganku dan lingkungan di
sekitar kami. Sehingga muncullah rasa curiga berlebihan dan cemburu.
Masih untung dia tak pernah berbuat kasar dan memukulku, hanya
ucapannya yang sering menyakitkan di hatiku. Tapi bagi majikanku itu
tetap bagian kekerasan dalam rumah tangga yang menyerang
kejiwaan seseorang.

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 6


/”Mpok harus ngomong ama aki kalo aki udah kelewatan, kalo emang
aki ga bisa membahagiakan mpok secara materi setidaknya aki harus
jaga perasaan mpok sebagai istrinya”//majikanku memberikan saran
yang menguatkan hatiku.

Semenjak perselisihanku dengan aki, badanku benar-benar tidak


sehat. Flu yang menyerangku sudah hampir dua minggu ini belum juga
hilang. Terkadang mataku berkunang-kunang. Namun mengingat
anak-anak, aku harus tetap bekerja. Mengingat tanggung jawab yang
berada di pundakku membuatku menguatkan diri dan tubuh ini.

Majikanku sangat baik. Dia mengantarkanku ke dokter, memang


seperti yang kuduga, aku harus istirahat total. Dokter menyebutkan
beberapa gejala penyakitku disebabkan oleh beberapa penyakit, bisa
jadi sudah komplikasi, begitu dokter memberi keterangan untuk
penyakit yang telah lama menggerogoti tubuhku. Aku tidak begitu
faham dengan istilah-istilah kedokteran yang disebutkannya tadi.

Aku berfikir mungkin penyakit asam lambungku semakin berat.


Ditambah pula penyakit-penyakit lainnya seperti asam uratku. Bekerja
terlalu berat selama bertahun-tahun, ditambah pula faktor fisikku yang
selalu tak pernah sehat semenjak kecil, karena imunitas tubuhku
kurang baik. Beberapa kali aku merasakan mual yang hebat, rasanya
kepalaku berputar kencang, seperti berada dalam biduk yang diterjang
ombak besar. Oleng ke kiri dan ke kanan sehingga aku lemas tak
berdaya.

Hari ini aku memaksakan masuk kerja, tapi aku dipaksa pulang oleh
majikanku karena kondisiku belum juga membaik. Aku kembali ke
rumah dengan tubuh lemah. Bibirku terasa bergetar, wajahku pucat
membeku seperti kehilangan pasokan oksigen yang besar. Aku
termangu menatap seluruh jari jemariku membiru. Ada apa dengan
tubuhku. Ada apa dengan kepalaku yang semakin terasa berat.

Sudah hampir tiga hari, aki tak pernah menjawab salam apalagi tegur
sapa denganku. Tiap kali aku mempersiapkan makanan untuk makan
siangnya, aki selalu menjawab dengan ketus.

//”gimana suka elu aja”//hatiku terkadang telah terbiasa dengan sikap


ketus aki. Namun semenjak dia mulai mengoreksi kesetiaanku
padanya tempo hari telah membuat hatiku menjadi hancur. Namun
kini semakin remuk ditambah keadaan tubuhku yang semakin lemah.

Besok tepat 35 tahun perkawinanku dengan aki. Ternyata setelah 35


tahun ini tak pernah ada yang istimewa di tanggal itu. Kami tetap
sibuk dengan diri masing-masing, bahkan aki tak pernah bertanya

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 7


mengapa aku memasakkannya masakan yang berbeda di hari itu.
Baginya itu hanya tanggal, dan sikapnya tetap tidak berubah.

Malam ini Tubuhku semakin lemah saat kudengar suara adzan shubuh
dari surau yang letaknya tak jauh dari gubuk reot kami. Tubuhku
sempoyongan, menjangkau timba yang dihubungkan dengan katrol
sumur. Aku terjatuh, terduduk tak bergerak ”Allahu Akbar”,..hanya itu
yang terucap di bibirku setelah semuanya terasa gelap dan berhenti.

--------

//”maafin Yuni yang belum bisa membantu emak, Cuma sering


nyusahin emak tapi bukan berarti emak boleh pergi begitu
cepat”//,..Yuni menangis terisak bersama kedua adiknya persis duduk
di samping mayat wanita paruh baya yang dipanggilnya emak. Wanita
itu membanting tulang menjadi istri sekaligus kepala keluarga. Hanya
untuk satu hal, demi kebahagiaan anak-anaknya.

//”Walaupun emak ga pernah sekolah, tapi emak mau anak-anak emak


semuanya sekolah yang bener, biar semua capek emak bisa terganti
dengan nilai-nilai sekolah kalian yang bagus”//,..kata-kata wanita itu
terus terngiang-ngiang di telinga Yuni. Sungguh besar cita-cita emak
hingga akhir hayatnya masih tetap memikirkan keadaan anak-
anaknya.

Laki-laki tua itu sedari tadi diam, terpekur menatap ke jasad wanita
yang telah dinikahinya selama 35 tahun lalu itu. Wajahnya tanpa
ekspresi, hanya kehampaan yang terlihat dari sorot mata yang dalam
itu. Tak sedikitpun ia beranjak dari jasad wanita itu. Sampai semua
proses pemakaman selesai laki-laki tua itu masih tak beranjak dari
nisan yang masih basah itu.

//”Maafkan aku istriku, maafkan aku karena tak pernah membuatmu


bahagia selama hidup di sisiku”, Maafkan aku karena telah menyia-
nyiakanmu selama bersamaku, Maafkan aku mungkin tiada maaf lagi
untuk suami seperti diriku, Maafkan aku karena aku tak pernah mau
mengungkapkan rasa cintaku padamu//perlahan kata-kata itu terucap
dari bibir yang setengah bergetar menahan harunya perpisahan
dengan sang istri.

Terkadang kita tak pernah menyadari sesuatu itu sangat berharga


ketika ia ada di hadapan kita. Terkadang kita tak pernah mau memberi
ketika ia ada di samping kita. Terkadang kita sering menyakiti di saat
sesuatu itu begitu nyata di hadapan kita. Namun ketika waktu itu
berganti, sesuatu itu telah tiada lagi. Kita hanya terpaku dengan kata-

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 8


kata ”Seandainya masih ada waktu,...”. ”Seandainya waktu bisa
terulang kembali”,..

Sebelum perasaan menyesal itu hadir, sebelum kata terlambat itu


tertambatkan, sebelum segalanya tak mungkin lagi. Saat ini, sekarang
juga, jangan pernah ragu untuk ungkapkan cinta pada seseorang yang
kita cintai. Karena kita tak pernah tau, apa besok kita masih punya
cukup waktu untuk mengatakannya lagi, atau apa kita masih punya
banyak waktu untuk membuatnya bahagia di sepanjang usianya
bersama kita, atau apakah kita masih punya kesempatan untuk
menunjukkan sikap dan perasaan cinta yang kita miliki padanya.
Sehingga ia tahu dan merasakan bahwa kita teramat
membutuhkannya, bahwa kita teramat mencintai dan menyayanginya.

Untuk suamiku tercinta,..


Terimakasih tlah membuat segalanya indah,..
Untuk suamiku tersayang,..
Berjanjilah kau akan selalu membawa kami ke syurga

Oktober 2009, 4104. doc[Type text] Page 9