Anda di halaman 1dari 73

KEGAWATDARURATAN KEGAWATDARURATAN

PARU PARU
Nirwan Nirwan Arief Arief Nirwan Nirwan Arief Arief
Departemen Departemen Pulmonologi Pulmonologi & & Ilmu Ilmu Kedokteran Kedokteran Respirasi Respirasi FKUI FKUI
RS RS Persahabatan Persahabatan
Tanggal Upload : 29 April 2009
HEMOPTISIS HEMOPTISIS
Istilah hemoptisis Istilah hemoptisis
Ekspektorasi darah akibat perdarahan pada Ekspektorasi darah akibat perdarahan pada
saluran napas di bawah laring, atau perdarahan saluran napas di bawah laring, atau perdarahan
yang keluar ke saluran napas di bawah laring. yang keluar ke saluran napas di bawah laring.
Batuk darah lebih sering merupakan tanda atau Batuk darah lebih sering merupakan tanda atau
gejala dari penyakit dasar sehingga etiologinya gejala dari penyakit dasar sehingga etiologinya
harus dicari melalui pemeriksaan yang seksama harus dicari melalui pemeriksaan yang seksama
ANATOMI VASKULARISASI PARU ANATOMI VASKULARISASI PARU
Sirkulasi darah paru berasal dari 2 sistem sirkulasi yaitu sirkulasi Sirkulasi darah paru berasal dari 2 sistem sirkulasi yaitu sirkulasi
pulmoner dan sirkulasi bronkial. pulmoner dan sirkulasi bronkial.
Arteri pulmonalis membawa darah dari ventrikel kanan menuju Arteri pulmonalis membawa darah dari ventrikel kanan menuju
pembuluh darah kapiler paru dan kembali ke atrium kiri melalui vena pembuluh darah kapiler paru dan kembali ke atrium kiri melalui vena
pulmonalis. pulmonalis.
Sirkulasi pulmoner merupakan suatu sistem sirkulasi dengan Sirkulasi pulmoner merupakan suatu sistem sirkulasi dengan
tekanan rendah yaitu berkisar 15 tekanan rendah yaitu berkisar 15--20 mmHg pada saat sistolik dan 5 20 mmHg pada saat sistolik dan 5--
10 mm Hg pada saat diastolik. 10 mm Hg pada saat diastolik.
Arteri pulmonalis berjalan sepanjang bronkus, dan hanya Arteri pulmonalis berjalan sepanjang bronkus, dan hanya
memperdarahi bronkiolus terminalis serta selanjutnya bercabang memperdarahi bronkiolus terminalis serta selanjutnya bercabang--
cabang ke alveolus membentuk pembuluh darah kapiler paru yang cabang ke alveolus membentuk pembuluh darah kapiler paru yang
berfungsi dalam pertukaran gas.7 berfungsi dalam pertukaran gas.7
ANATOMI VASKULARISASI PARU ANATOMI VASKULARISASI PARU
Sirkulasi bronkial berfungsi sebagai pemberi nutrisi pada paru dan Sirkulasi bronkial berfungsi sebagai pemberi nutrisi pada paru dan
saluran napas. saluran napas.
Pembuluh darah pada sirkulasi bronkial memiliki tekanan sesuai Pembuluh darah pada sirkulasi bronkial memiliki tekanan sesuai
tekanan pembuluh darah sistemik. tekanan pembuluh darah sistemik.
Umumnya arteri bronkialis berasal dari aorta atau pada beberapa Umumnya arteri bronkialis berasal dari aorta atau pada beberapa
individu berasal dari arteri interkostalis. Namun arteri bronkialis individu berasal dari arteri interkostalis. Namun arteri bronkialis
dapat pula berasal atau memiliki kolateral dengan arteri subklavia, dapat pula berasal atau memiliki kolateral dengan arteri subklavia,
brakhiosefalik, mamaria interna, frenikus dan arteri koroner. brakhiosefalik, mamaria interna, frenikus dan arteri koroner.
Pleura parietalis diperdarahi oleh arteri interkostalis, mamaria Pleura parietalis diperdarahi oleh arteri interkostalis, mamaria
interna dan muskulofrenikus, sedangkan pleura viseralis diperdarahi interna dan muskulofrenikus, sedangkan pleura viseralis diperdarahi
oleh cabang arteri bronkialis oleh cabang arteri bronkialis
Skema sirkulasi bronkial dan anastomosis Skema sirkulasi bronkial dan anastomosis
sirkulasi bronkial dengan sirkulasi pulmoner sirkulasi bronkial dengan sirkulasi pulmoner
Sumber perdarahan Sumber perdarahan
Sirkulasi bronkial Sirkulasi bronkial 95% radang paru, Ca 95% radang paru, Ca
paru paru
Sirkulasi pulmonal 5% infark paru, emboli Sirkulasi pulmonal 5% infark paru, emboli
paru, aneurisma Rasmussen paru, aneurisma Rasmussen
Etiologi Etiologi
Infeksi : tuberkulosis, Infeksi : tuberkulosis, necrotizing pneumoni necrotizing pneumonia (Staphyllococcus, a (Staphyllococcus,
Klebsiella, Legionella), jamur, parasit virus. Klebsiella, Legionella), jamur, parasit virus.
Kelainan paru seperti bronkitis, bronkiektasis, emboli paru, kistik Kelainan paru seperti bronkitis, bronkiektasis, emboli paru, kistik
fibrosis, emfisema bulosa fibrosis, emfisema bulosa fibrosis, emfisema bulosa fibrosis, emfisema bulosa
Neoplasma : kanker paru, adenoma bronkial, tumor metastasis Neoplasma : kanker paru, adenoma bronkial, tumor metastasis
Kelainan hematologis : disfungsi trombosit, trombositopenia, Kelainan hematologis : disfungsi trombosit, trombositopenia,
disseminated intravascular coagulation disseminated intravascular coagulation
Kelainan jantung : stenosis mitral, endokarditis trikuspid Kelainan jantung : stenosis mitral, endokarditis trikuspid
Etiologi Etiologi
Kelainan pembuluh darah : hipertensi pulmonar, malformasi arterivena, Kelainan pembuluh darah : hipertensi pulmonar, malformasi arterivena,
aneurisma aorta aneurisma aorta
Trauma : jejas toraks, ruptur bronkus, emboli lemak Trauma : jejas toraks, ruptur bronkus, emboli lemak
Iatrogenik : bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi Swan Iatrogenik : bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi Swan- -Ganz, limfangiografi Ganz, limfangiografi Iatrogenik : bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi Swan Iatrogenik : bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi Swan- -Ganz, limfangiografi Ganz, limfangiografi
Kelainan sistemik : sindrom Goodpasture, Kelainan sistemik : sindrom Goodpasture, idiopathic pulmonary idiopathic pulmonary
hemosiderosis hemosiderosis, , systemic lupus erithematosus systemic lupus erithematosus, vaskulitis (granulomatosis , vaskulitis (granulomatosis
Wegener, purpura Henoch Wegener, purpura Henoch--Schoenlein, sindrom Chrug Schoenlein, sindrom Chrug- -Strauss) Strauss)
Obat/toksin : aspirin, antikoagulan, penisilamin, kokain Obat/toksin : aspirin, antikoagulan, penisilamin, kokain
Lain Lain--lain : endometriosis, bronkolitiasis, fistula bronkopleura, benda asing, lain : endometriosis, bronkolitiasis, fistula bronkopleura, benda asing,
hemoptisis kriptogenik, amiloidosis hemoptisis kriptogenik, amiloidosis
Kekerapan etiologi Kekerapan etiologi
Amerika Amerika
Beberapa dekade lalu : TB, bronkiektasis Beberapa dekade lalu : TB, bronkiektasis
Sekarang : Ca + bronkitis Sekarang : Ca + bronkitis
Negara berkembang : penyakit infeksi Negara berkembang : penyakit infeksi
RS Persahabatan (Retno W, dkk) RS Persahabatan (Retno W, dkk)
TB, bronkiektasis, pasca TB, Ca paru TB, bronkiektasis, pasca TB, Ca paru
Patogenesis batuk darah Patogenesis batuk darah
Disebabkan oleh berbagai penyakit yang Disebabkan oleh berbagai penyakit yang
mendasarinya pada prinsipnya hampir mendasarinya pada prinsipnya hampir
sama, yaitu bila terjadi penyakit/kelainan sama, yaitu bila terjadi penyakit/kelainan sama, yaitu bila terjadi penyakit/kelainan sama, yaitu bila terjadi penyakit/kelainan
pada parenkim paru, sistem sirkulasi pada parenkim paru, sistem sirkulasi
bronkial atau pulmoner, maupun pleura bronkial atau pulmoner, maupun pleura
sehingga terjadi perdarahan pada kedua sehingga terjadi perdarahan pada kedua
sistem sirkulasi tersebut. sistem sirkulasi tersebut.
Patofisiologi batuk darah pada TB Patofisiologi batuk darah pada TB
Ekspektorasi darah dapat terjadi akibat infeksi tuberkulosis yang masih Ekspektorasi darah dapat terjadi akibat infeksi tuberkulosis yang masih
aktif ataupun akibat kelainan yang ditimbulkan akibat penyakit TB yang aktif ataupun akibat kelainan yang ditimbulkan akibat penyakit TB yang
telah sembuh. telah sembuh.
Susunan parenkim paru dan pembuluh darahnya dirusak oleh penyakit ini Susunan parenkim paru dan pembuluh darahnya dirusak oleh penyakit ini
sehingga terjadi bronkiektasis dengan hipervaskularisasi, pelebaran sehingga terjadi bronkiektasis dengan hipervaskularisasi, pelebaran
pembuluh darah bronkial, anastomosis pembuluh darah bronkial dan pembuluh darah bronkial, anastomosis pembuluh darah bronkial dan pembuluh darah bronkial, anastomosis pembuluh darah bronkial dan pembuluh darah bronkial, anastomosis pembuluh darah bronkial dan
pulmoner pulmoner
Kaviti dan terjadi pneumonitis TB akut Kaviti dan terjadi pneumonitis TB akut ulserasi bronkus, nekrosis ulserasi bronkus, nekrosis
pembuluh darah di sekitarnya dan alveoli bagian distal. pembuluh darah di sekitarnya dan alveoli bagian distal.
Erosi lesi kalsifikasi pada arteri bronkial, ekspektorasi bronkolit Erosi lesi kalsifikasi pada arteri bronkial, ekspektorasi bronkolit
Ruptur aneurisma Rasmussen telah diketahui sebagai penyebab batuk Ruptur aneurisma Rasmussen telah diketahui sebagai penyebab batuk
darah masif pada penderita TB ataupun pada bekas penderita TB. darah masif pada penderita TB ataupun pada bekas penderita TB.
Kematian akibat batuk darah masif pada penderita TB berkisar antara 5 Kematian akibat batuk darah masif pada penderita TB berkisar antara 5- -
7%. 7%.
Patofisiologi batuk darah pada Patofisiologi batuk darah pada
bronkiektasis bronkiektasis
Perubahan arteri bronkial yaitu hipertrofi, Perubahan arteri bronkial yaitu hipertrofi,
peningkatan/pertambahan jumlah jaring vaskuler peningkatan/pertambahan jumlah jaring vaskuler
(vascular bed). (vascular bed). (vascular bed). (vascular bed).
Perdarahan dapat terjadi akibat infeksi ataupun Perdarahan dapat terjadi akibat infeksi ataupun
proses inflamasi. proses inflamasi.
Patofisiologi batuk darah pada Patofisiologi batuk darah pada
infeksi jamur paru infeksi jamur paru
Angioinvasi oleh elemen jamur menimbulkan kerusakan Angioinvasi oleh elemen jamur menimbulkan kerusakan
pada parenkim dan struktur vaskuler sehingga dapat pada parenkim dan struktur vaskuler sehingga dapat
menimbulkan infark paru dan perdarahan. menimbulkan infark paru dan perdarahan.
Trauma mekanik akibat pergerakan Trauma mekanik akibat pergerakan fungus ball fungus ball di dalam di dalam
kaviti, jejas vaskuler akibat endotoksin kaviti, jejas vaskuler akibat endotoksin Aspergillus Aspergillus, dan , dan
kerusakan vaskuler akibat reaksi hipersensitiviti tipe III kerusakan vaskuler akibat reaksi hipersensitiviti tipe III
Patofisiologi batuk darah pada Patofisiologi batuk darah pada
abses paru abses paru
Proses nekrosis pada parenkim paru dan Proses nekrosis pada parenkim paru dan
pembuluh darahnya. pembuluh darahnya. pembuluh darahnya. pembuluh darahnya.
Patofisiologi batuk darah pada Patofisiologi batuk darah pada
stenosis mitral stenosis mitral
Peningkatan tekanan atrium kiri menyebabkan pleksus Peningkatan tekanan atrium kiri menyebabkan pleksus
submukosa vena bronkial mengalami dilatasi untuk submukosa vena bronkial mengalami dilatasi untuk
mengakomodasi peningkatan aliran darah. mengakomodasi peningkatan aliran darah.
Varises pembuluh darah tersebut apabila terpajan pada Varises pembuluh darah tersebut apabila terpajan pada
infeksi saluran napas atas, batuk, atau peningkatan infeksi saluran napas atas, batuk, atau peningkatan
volume intravaskuler seperti pada kehamilan dapat volume intravaskuler seperti pada kehamilan dapat
menimbulkan hemoptisis. menimbulkan hemoptisis.
Patofisiologi batuk darah pada Patofisiologi batuk darah pada
keganasan keganasan
Hemoptisis dapat terjadi akibat proses Hemoptisis dapat terjadi akibat proses
nekrosis dan inflamasi pembuluh darah nekrosis dan inflamasi pembuluh darah nekrosis dan inflamasi pembuluh darah nekrosis dan inflamasi pembuluh darah
pada jaringan tumor. pada jaringan tumor.
Kriteria batuk darah masif Kriteria batuk darah masif
Berbagai literatur bervariasi Berbagai literatur bervariasi
Bleeding rate 100 Bleeding rate 100 1000/24 jam 1000/24 jam
RS Persahabatan tahun 1978 RS Persahabatan tahun 1978
Batuk darah sedikitnya 600 mL /24 jam Batuk darah sedikitnya 600 mL /24 jam 1. 1. Batuk darah sedikitnya 600 mL /24 jam Batuk darah sedikitnya 600 mL /24 jam
2. 2. Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi lebih dari 250 Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi lebih dari 250
mL/24 jam, Hb < 10g% dan masih terus mL/24 jam, Hb < 10g% dan masih terus
berlangsung berlangsung
3. 3. Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi lebih dari 250 Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi lebih dari 250
mL/24 jam, Hb > 10g% dalam 48 jam belum mL/24 jam, Hb > 10g% dalam 48 jam belum
berhenti. berhenti.
DIAGNOSIS BATUK DARAH DIAGNOSIS BATUK DARAH
Anamnesis teliti Anamnesis teliti
Bedakan dengan hematemesis, Bedakan dengan hematemesis,
epistaksis dan perdarahan gusi epistaksis dan perdarahan gusi
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik
] ] Selain toraks, periksa organ lain THT, Selain toraks, periksa organ lain THT,
abdomen dll abdomen dll
Perbedaan hemoptisis dengan
hematemesis
Hemoptisis Hematemesis
Warna Merah segar dan berbusa Merah gelap atau hitam Warna Merah segar dan berbusa Merah gelap atau hitam
PH Basa Asam
Konsistensi Dapat bercampur dahak Dapat bercampur dengan makanan
Gejala Diikuti dengan batuk atau
mungkin didahului suara seperti
berkumur
Dapat didahului dengan mual
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM LABORATORIUM
[[ Darah rutin : Hb, leko, Ht Darah rutin : Hb, leko, Ht
[[ Uji faal pembekuan darah Uji faal pembekuan darah [[ Uji faal pembekuan darah Uji faal pembekuan darah
[[ Kuman BTA, MO lain, jamur Kuman BTA, MO lain, jamur
[[ Sitologi sputum Sitologi sputum
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
+ + Foto toraks PA dan lateral Foto toraks PA dan lateral
~ ~ atelektasis atelektasis ~~ kalsifikasi kalsifikasi
~~ infiltrat infiltrat ~~ kaviti kaviti ~~ infiltrat infiltrat ~~ kaviti kaviti
~~ fibrosis fibrosis ~~ tumor tumor
~~ cincin cincin--cincin / sarang tawon cincin / sarang tawon
+ + CT Scan toraks CT Scan toraks
Pemeriksaan angiografi dan sken perfusi paru Pemeriksaan angiografi dan sken perfusi paru
4 4 Melihat emboli paru Melihat emboli paru
4 4 15% kasus hemoptisis tidak diketahui 15% kasus hemoptisis tidak diketahui
penyebabnya penyebabnya penyebabnya penyebabnya
~~ idiopatik idiopatik
~~ hemoptisis essential hemoptisis essential
PENATALAKSANAAN PENATALAKSANAAN
Tujuan Tujuan
1. Mencegah asfiksia 1. Mencegah asfiksia
2. Melokalisasi asal perdarahan 2. Melokalisasi asal perdarahan 2. Melokalisasi asal perdarahan 2. Melokalisasi asal perdarahan
3. Menghentikan perdarahan 3. Menghentikan perdarahan
4. Mendapatkan diagnosis + 4. Mendapatkan diagnosis + tatalaksana
penyakit dasar
Tahap I . Pembebasan jalan napas Tahap I . Pembebasan jalan napas
dan stabilisasi penderita : dan stabilisasi penderita :
// Menenangkan dan mengistirahatkan Menenangkan dan mengistirahatkan
penderita, os diberitahu agar tidak takut penderita, os diberitahu agar tidak takut
membatukkan darah yang ada di saluran membatukkan darah yang ada di saluran
napasnya napasnya napasnya napasnya
// Menjaga agar jalan napas tetap terbuka Menjaga agar jalan napas tetap terbuka
bila perlu dilakukan pengisapan (dengan bila perlu dilakukan pengisapan (dengan
bronkoskop akan lebih baik) bronkoskop akan lebih baik)
// Resusitasi cairan / darah Resusitasi cairan / darah
TINDAKAN YANG DILAKUKAN PADA TINDAKAN YANG DILAKUKAN PADA
SERANGAN BATUK DARAH TERGANTUNG SERANGAN BATUK DARAH TERGANTUNG
KEADAAN OS YAITU : KEADAAN OS YAITU :
Os dng KU dan refleks batuk baik; penderita duduk dan Os dng KU dan refleks batuk baik; penderita duduk dan
diinstruksikan cara membatukkan darah dengan benar diinstruksikan cara membatukkan darah dengan benar
Os dengan KU berat dan refleks batuk tidak adekuat; posisi Os dengan KU berat dan refleks batuk tidak adekuat; posisi Os dengan KU berat dan refleks batuk tidak adekuat; posisi Os dengan KU berat dan refleks batuk tidak adekuat; posisi
Trendelenberg ringan dan miring ke sisi yang sakit. Trendelenberg ringan dan miring ke sisi yang sakit.
Bila batuk darah terus berlanjut pasang ETT Bila batuk darah terus berlanjut pasang ETT -- -- bila bila
perlu dipasang Forgatys chateter perlu dipasang Forgatys chateter
Pemasangan ventilasi mekanik bila terjadi Pemasangan ventilasi mekanik bila terjadi
gagal napas gagal napas
Intubasi paru unilateral Intubasi paru unilateral
Pipa endotrakeal lumen ganda Pipa endotrakeal lumen ganda
TAHAP II. LOKALISASI SUMBER DAN TAHAP II. LOKALISASI SUMBER DAN
MENCARI PENYEBAB PERDARAHAN : MENCARI PENYEBAB PERDARAHAN :
Tahap kedua ini dapat dilakukan dengan Tahap kedua ini dapat dilakukan dengan
pemeriksaan radiologi (foto toraks, CT Scan pemeriksaan radiologi (foto toraks, CT Scan pemeriksaan radiologi (foto toraks, CT Scan pemeriksaan radiologi (foto toraks, CT Scan
toraks, angiografi) toraks, angiografi)
Pemeriksaan bronkoskopi menggunakan Pemeriksaan bronkoskopi menggunakan
bronkoskop fleksibel atau bronkoskopi kaku bronkoskop fleksibel atau bronkoskopi kaku
TAHAP III. PEMBERIAN TERAPI TAHAP III. PEMBERIAN TERAPI
SPESIFIK : SPESIFIK :
Terapi spesifik ditujukan untuk menghentikan dan Terapi spesifik ditujukan untuk menghentikan dan
mencegah berulangnya perdarahan, terdiri dari : mencegah berulangnya perdarahan, terdiri dari :
1. 1. Terapi dengan bronkoskop Terapi dengan bronkoskop 1. 1. Terapi dengan bronkoskop Terapi dengan bronkoskop
2. 2. Terapi medikamentosa Terapi medikamentosa
3. 3. Embolisasi arteri pulmonalis/bronkialis Embolisasi arteri pulmonalis/bronkialis
4. 4. Bedah Bedah
5. 5. Radioterapi Radioterapi
Terapi menggunakan bronkoskop Terapi menggunakan bronkoskop
~~ Bila bronkus dengan larutan garam fisiologis Bila bronkus dengan larutan garam fisiologis
dingin dingin
~~ Pemberian obat topikal vasokonstriksi Pemberian obat topikal vasokonstriksi ~~ Pemberian obat topikal vasokonstriksi Pemberian obat topikal vasokonstriksi
pembuluh darah diusahakan dengan larutan pembuluh darah diusahakan dengan larutan
epineprin (1:20.000) melalui BSOL epineprin (1:20.000) melalui BSOL
~~ Tamponade endobronkial Tamponade endobronkial
~~ Fotokoagulasi laser (Nd Fotokoagulasi laser (Nd--YAG Laser) YAG Laser)
Terapi medikamentosa Terapi medikamentosa
Vasopresin intravena merupakan vasokonstriktor sistemik dengan dosis 0,2 Vasopresin intravena merupakan vasokonstriktor sistemik dengan dosis 0,2--0,4 unit 0,4 unit
/menit telah digunakan untuk mengatasi hemoptisis masif. Obat ini menghentikan /menit telah digunakan untuk mengatasi hemoptisis masif. Obat ini menghentikan
perdaraan dengan konstriksi arteri bronkial. Namun perlu berhati perdaraan dengan konstriksi arteri bronkial. Namun perlu berhati--hati terutama pada hati terutama pada
penderita penyakit pembuluh darah koroner maupun hipertensi penderita penyakit pembuluh darah koroner maupun hipertensi
Pemberian asam traneksamat (antifibrinolitik) untuk menghambat aktivasi Pemberian asam traneksamat (antifibrinolitik) untuk menghambat aktivasi
plasminogen dilaporkan dapat mengontrol hemoptisis pada penderita fibrosis kistik plasminogen dilaporkan dapat mengontrol hemoptisis pada penderita fibrosis kistik
yang tidak dapat terkontrol oleh embolisasi arteri bronkial yang tidak dapat terkontrol oleh embolisasi arteri bronkial
Pemberian kortikosteroid sistemik dengan obat sitotoksik dan plasmaferesis mungkin Pemberian kortikosteroid sistemik dengan obat sitotoksik dan plasmaferesis mungkin
dapat bermanfaat pada penderita hemoptisis masif akibat perdarahan alveolar dapat bermanfaat pada penderita hemoptisis masif akibat perdarahan alveolar
penyakit autoimun. penyakit autoimun.
Pemberian Pemberian gonadotropin releasing hormon agonist gonadotropin releasing hormon agonist (GnRH) atau danazol mungkin (GnRH) atau danazol mungkin
bermanfaat pada terapi jangka panjang penderita hemoptisis katamenial bermanfaat pada terapi jangka panjang penderita hemoptisis katamenial
Hemoptisis karena penyakitt infeksi seperti TB, infeksi jamur atau kuman lain
maka diberikan antituberkulosis, antijamur ataupun antibiotik.
PNEUMOTORAKS PNEUMOTORAKS
Definisi
Terdapatnya udara bebas antara pleura viseral dan
pleura parietal
Kebocoran udara ke dalam ronggal pleura akan
menyebabkan jaringan paru kolaps sesuai dengan
proporsi udara yang memasuki rongga pleura
Diagram patogenesis pneumotoraks
(A) ruptur bleb pelura di daerah apeks akan menyebabkan
pneumotoraks spontan primer
(B) Robekan pleura viseral menyebabkan penumotoraks spontan
sekunder
(C)Pneumotoraks traumatik dapat menyebabkan diseksi pohon
trakeobronkial
Thoracoscopic view of a bleb
Thoracoscopic view of a bulla
Klasifikasi pneumotoraks Klasifikasi pneumotoraks
Spontan Spontan
Iatrogenik Iatrogenik
Traumatik Traumatik Traumatik Traumatik
Artifisial Artifisial
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS SPONTAN
+ + Pneumotoraks spontan primer : tanpa Pneumotoraks spontan primer : tanpa
ada penyakit paru secara klinis ada penyakit paru secara klinis
+ + Pneumotoraks spontan sekunder : Pneumotoraks spontan sekunder :
timbul sebagai komplikasi dari timbul sebagai komplikasi dari
penyakit paru pada o.s tersebut penyakit paru pada o.s tersebut
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS SPONTAN
PRIMER (PSP) PRIMER (PSP)
EE Tanpa ada penyakit paru secara klinis Tanpa ada penyakit paru secara klinis
Timbul pada umur 10 Timbul pada umur 10--30, tinggi, kurus 30, tinggi, kurus EE Timbul pada umur 10 Timbul pada umur 10--30, tinggi, kurus 30, tinggi, kurus
EE Adanya bullae supleural 76 Adanya bullae supleural 76 -- 100% 100%
(VATS), 100% (torakotomi) (VATS), 100% (torakotomi)
Recurrence rate : 20 Recurrence rate : 20 -- 60% 60%
Berkurang bila dilakukan pleurodesis Berkurang bila dilakukan pleurodesis
Dipengaruhi oleh sex (laki Dipengaruhi oleh sex (laki--laki laki 71,4% 71,4%
perempuan 31,6%) tinggi, kebiasaan perempuan 31,6%) tinggi, kebiasaan
merokok merokok
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS SPONTAN
SEKUNDER (PSS) SEKUNDER (PSS)
Potensial timbul kegawatan Potensial timbul kegawatan
Adanya penyakit paru sebagai paru sebagai Adanya penyakit paru sebagai paru sebagai
penyebab penyebab keterbatasan cardiopulmonary keterbatasan cardiopulmonary penyebab penyebab keterbatasan cardiopulmonary keterbatasan cardiopulmonary
reserve reserve
Paling sering pada PPOK Paling sering pada PPOK
2 2 -- 6,3 kasus / 100.000 populasi / tahun 6,3 kasus / 100.000 populasi / tahun
Kematian dengan pasien PPOK dan PSS Kematian dengan pasien PPOK dan PSS
bervariasi antara 1 bervariasi antara 1--17% 17%
5% pasien meninggal sebelum sempat 5% pasien meninggal sebelum sempat
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS SPONTAN
SEKUNDER (PSS) SEKUNDER (PSS)
5% pasien meninggal sebelum sempat 5% pasien meninggal sebelum sempat
pemasangan WSD pemasangan WSD
Reccurance rate 40 Reccurance rate 40--60% 60%
Pneumotoraks kateminal harus dicurigai pada Pneumotoraks kateminal harus dicurigai pada
perempuan 30 perempuan 30--40 tahun 40 tahun
Causes of Secondary Spontaneous pneumothorax Causes of Secondary Spontaneous pneumothorax
Airway disease (COPD, cystic fibrosis, status Airway disease (COPD, cystic fibrosis, status
asthmaticus) asthmaticus)
Infectious lung disease (Pneumocystiis carinii Infectious lung disease (Pneumocystiis carinii
pneumonia, Necrotizing pneumonia, pneumonia, Necrotizing pneumonia,
Tuberculosis) Tuberculosis)
Interstitial lung disease (Sarcoidosis, idiopathic Interstitial lung disease (Sarcoidosis, idiopathic
pulmonary fibrosis, Langerhanss pulmonary fibrosis, Langerhanss--cell cell pulmonary fibrosis, Langerhanss pulmonary fibrosis, Langerhanss--cell cell
granulomatosis, Lymphangioleiomyomatosis, granulomatosis, Lymphangioleiomyomatosis,
tuberous sclerosis) tuberous sclerosis)
Connective lung disease (Rheumatoid arthritis, Connective lung disease (Rheumatoid arthritis,
ankylosing spondylitis, polymyositis, ankylosing spondylitis, polymyositis,
scleroderma, marfans syndrome) scleroderma, marfans syndrome)
Cancer(sarcoma, lung cancer) Cancer(sarcoma, lung cancer)
Thoracic endometriosis (related to menses) Thoracic endometriosis (related to menses)
PNEUMOTORAKS PNEUMOTORAKS
KATAMENIAL KATAMENIAL
+ + Berhubungan dengan siklus haid Berhubungan dengan siklus haid
+ + Endometriosis Endometriosis
+ + Berulang Berulang
PNEUMOTORAKS VENTIL PNEUMOTORAKS VENTIL
// Sesak tambah berat Sesak tambah berat
// Gelisah, kesadaran menurun Gelisah, kesadaran menurun // Gelisah, kesadaran menurun Gelisah, kesadaran menurun
// Gawat darurat paru Gawat darurat paru
// Tindakan segera Tindakan segera
DIAGNOSIS DIAGNOSIS
ANAMNESIS ANAMNESIS
+ + Sesak napas tiba Sesak napas tiba--tiba tiba
+ + Nyeri dada yang menusuk Nyeri dada yang menusuk + + Nyeri dada yang menusuk Nyeri dada yang menusuk
+ + Batuk Batuk--batuk batuk
+ + Perburukan gejala yang cepat (bila ventil) Perburukan gejala yang cepat (bila ventil)
+ + Riwayat trauma, penyakit paru / tindakan Riwayat trauma, penyakit paru / tindakan
medis medis
PEMERIKSAAN FISIS PEMERIKSAAN FISIS
Gejala ringan sampai berat, umpamanya : Gejala ringan sampai berat, umpamanya :
~~ Gelisah Gelisah -- kesadaran menurun kesadaran menurun
~~ Sesak napas Sesak napas
~~ Takikardi sampai bradikardi Takikardi sampai bradikardi
PEMERIKSAAN FISIS PARU PEMERIKSAAN FISIS PARU
~~ Inspeksi : Inspeksi : -- statis : asimetris, bagian yang statis : asimetris, bagian yang
sakit cembung sakit cembung
-- dinamis : yang sakit tertinggal dinamis : yang sakit tertinggal
~~ Palpipasi : Palpipasi : -- sela iga melebar sela iga melebar
-- fremitus lebih lemah fremitus lebih lemah -- fremitus lebih lemah fremitus lebih lemah
~~ Perkusi : Perkusi : -- hipersonor hipersonor
-- pergeseran mediastinum pergeseran mediastinum
~~ Auskultasi : Auskultasi : -- suara napas melemah suara napas melemah -- hilang hilang
Ket : pemeriksaan / gejala Ket : pemeriksaan / gejala--gejala ini sangat gejala ini sangat
tergantung dari luasnya pneumotoraks dan tergantung dari luasnya pneumotoraks dan
fungsi paru o.s fungsi paru o.s
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
4 4 Foto toraks PA + lat : Foto toraks PA + lat :
~~ Garis penguncupan paru (halus) Garis penguncupan paru (halus)
~~ Paru kolaps Paru kolaps ~~ Paru kolaps Paru kolaps
~~ Bayangan radiolusen / avaskuler Bayangan radiolusen / avaskuler
~~ Air Air--fluid level fluid level
~ Pendorongan mediastinum ~ Pendorongan mediastinum
4 4 CT Scanning CT Scanning -- -- bila ada foto toraks bila ada foto toraks
belum dapat menerangkan belum dapat menerangkan
Percentage of the
collapse area :
[hemithorax (A x B)
Quantitation of
Pneumothorax Size
[hemithorax (A x B)
collapse area (a x b)] :
hemithorax (A x B)
PENATALAKSANAAN UMUM PENATALAKSANAAN UMUM
Tujuan : Tujuan :
+ + Mengeluarkan udara dalam rongga pleura Mengeluarkan udara dalam rongga pleura
+ + Mengusahakan penyembuhan lesi di pleura Mengusahakan penyembuhan lesi di pleura
+ + Mencegah timbulnya pneumotoraks Mencegah timbulnya pneumotoraks
ulangan (ulangan) ulangan (ulangan)
+ + Mengurangi masa rawat Mengurangi masa rawat
PENATALAKSANAAN UMUM PENATALAKSANAAN UMUM
TIDAK SESAK TIDAK SESAK
Kurang dari 15% konservatif Kurang dari 15% konservatif
Lebih dari 15% Lebih dari 15%
~~ punksi pleura punksi pleura
~~ mini WSD / Venocath mini WSD / Venocath
~~ WSD permanen WSD permanen
~~ rawat rawat
~~ tusuk dengan jarum segera pada ventil tusuk dengan jarum segera pada ventil
pneumotoraks (kontra ventil) pneumotoraks (kontra ventil)
PENATALAKSANAAN PENATALAKSANAAN
Umpamanya Umpamanya
Cari penyakit utama (underlying disease) Cari penyakit utama (underlying disease)
Infeksi Infeksi -- antibiotik antibiotik
TB Paru TB Paru OAT OAT
Ca Ca operatif (?) operatif (?)
WATER SEALED DRAINAGE WATER SEALED DRAINAGE
(WSD) (WSD)
Perlu diperhatikan : Perlu diperhatikan :
-- Undulasi Undulasi
-- Infeksi Infeksi
-- Jangan tersumbat Jangan tersumbat
-- Pertimbangkan : continous suction Pertimbangkan : continous suction
PENATALAKSANAAN PENATALAKSANAAN
PSP PSP
O O Pemberian oksigen : Pemberian oksigen :
~~ meningkatkan absorbsi 4x lipat meningkatkan absorbsi 4x lipat ~~ meningkatkan absorbsi 4x lipat meningkatkan absorbsi 4x lipat
~~ harus diberikan pada semua pasien harus diberikan pada semua pasien
yang dirawat yang dirawat
PENATALAKSANAAN PSP PENATALAKSANAAN PSP
O O Observasi Observasi
~~ PSP kurang dari 15% dari klinis PSP kurang dari 15% dari klinis
stabil, absorbsi rata stabil, absorbsi rata--rata 1,25% / rata 1,25% /
24 jam 24 jam
~ ~ Dapat dirawat di rumah setelah Dapat dirawat di rumah setelah
observasi 6 jam di RS asal ada observasi 6 jam di RS asal ada
akses yang cepat ke RS akses yang cepat ke RS
Simple aspiration Simple aspiration
~~ PSP lebih 15% hemithorax PSP lebih 15% hemithorax
~~ Intravenous catheter (venocath) Intravenous catheter (venocath) ~~ Intravenous catheter (venocath) Intravenous catheter (venocath)
~~ Bila gagal Bila gagal WSD/Heimlich WSD/Heimlich
Oxygen supplementation Oxygen supplementation
Tube thoracostomy with pleurodesis Tube thoracostomy with pleurodesis
PENATALAKSANAAN PSS PENATALAKSANAAN PSS
Tube thoracostomy with pleurodesis Tube thoracostomy with pleurodesis
after air leak resolves after air leak resolves
Thoracoscopy (VATS) Thoracoscopy (VATS)
Thoracotomy Thoracotomy
PARU TIDAK MENGEMBANG PARU TIDAK MENGEMBANG
Penyebab Penyebab
-- Fistel tidak menutup Fistel tidak menutup
-- Fibrosis pleura Fibrosis pleura
-- Sumbatan bronkus Sumbatan bronkus -- Sumbatan bronkus Sumbatan bronkus
-- Sumbatan pada pipa WSD Sumbatan pada pipa WSD
-- Perlu pertimbangan : Perlu pertimbangan :
-- Bronkoskopi Bronkoskopi
-- Torakoskopi Torakoskopi
-- Operasi : Operasi : ~~ dekortikasi dekortikasi
~~ pleurodesis pleurodesis
PLEURODESIS PLEURODESIS
EE Talk Talk
EE Tetrasiklin, minosiklin, doxysiklin Tetrasiklin, minosiklin, doxysiklin
EE Sitostatika Sitostatika EE Sitostatika Sitostatika
~~ Bleomisin 45 mg Bleomisin 45 mg
~~ Adriamisin 60 mg Adriamisin 60 mg
EE Ulangan tiap 2 minggu Ulangan tiap 2 minggu 3 kali 3 kali