Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Respirasi atau oksidasi glukosa secara lengkap merupakan proses
pembentukan energi yang utama untuk kebanyakan sel. Pada waktu glukosa
dipecah dalam suatu rangkaian reaksi enzimatis, beberapa energy dibebaskan dan
diubah menjadi bentuk ikatan phosphate bertenaga tinggi (ATP) dan sebagian lagi
hilang sebagai panas. (Rahayu dan Yuliani, 2014)
Proses respirasi dapat ditulis secara sederhana dengan persamaan reaksi
sebagai berikut :
C
6
H
12
O
6
+ 6H
2
6CO
2
+ 6H
2
O
Proses respirasi berdasarkan ketersediaan oksigen dibedakan atas respirasi aerob
jika terkena oksigen dan respirasi anaerob jika tidak/ kurang terkena oksigen.
(Rahayu dan Yuliani, 2014)
Respirasi juga merupakan salah satu pembangun proses metabolism. Pada
proses ini melibatkan serangkaian reaksi enzimatis yang juga melibatkan enzim,
sehingga beberapa faktor yang mempengaruhi sifat protein juga mempengaruhi
proses respirasi. Terkait dengan proses ini, dikenal juga respirasi anaerob, yang
terjadi manakala ketersediaan oksigen terbatas. (Rahayu dan Yuliani, 2014)

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, rumusan masalah pada praktikum ini adalah
bagaimana pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengamati pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah.


2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O
2
dan
melepaskan CO
2
dalam volume yang sama. Namun seperti kita ketahui, respirasi
lebih dari sekadar pertukaran gas secara sederhana. Proses keseluruhan merupakan
reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO
2
dan O
2
yang diserap
direduksi menjadi H
2
O. Pati, fruktan, sukrosa, atau gula yang lainnya, lemak, asam
organik, bahkan protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi. (Salisbury & Ross,
1995)
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik
menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik yang
terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam
respirasi aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi.
Sedangkan dalam respirasi anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan
dihasilkan senyawa selain karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam
asetat dan sedikit energi. (Lovelles, 1991)
Secara sederhana, proses respirasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Glikolisis:
Glukosa > 2 asam piruvat + 2 NADH + 2 ATP
2. Siklus Krebs:
2 asetil piruvat > 2 asetil KoA + 2 CO
2
+ 2 NADH + 2 ATP
2 asetil KoA > 4 CO
2
+ 6 NADH + 2 FADH
2

3. Rantai transpor elektron:
10 NADH + 5O
2
> 10 NAD
+
+ 10 H
2
O + 30 ATP
2 FADH
2
+ O
2
> 2 FAD + 2 H
2
O + 4 ATP
Jadi, total energi yang dihasilkan dari proses respirasi adalah 38 ATP.(Danang,
2008).
Sebagian besar energi yang dilepaskan selama respirasi kira-kira 2870 kj atau
686 kal per mol glukosa berupa bahang. Bila suhu rendah, bahang ini dapat
3
merangsang metabolisme dan menguntungkan beberapa spesies tertentu, tapi
biasanya bahang tersebut dilepas ke atmosfer atau ke tanah, dan berpengaruh kecil
terhadap tumbuhan. Yang lebih penting dari bahang adalah energi yang terhimpun
dalam ATP, sebab senyawa ini digunakan untuk berbagai proses esensial dalam
kehidupan, misalnya pertumbuhan dan penimbunan ion. (Salisbury & Ross, 1995)
Respirasi merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi komponen, masing-
masing dikatalisis oleh enzim yang berbeda. Respirasi merupakan oksidasi (dengan
produk yang sama seperti pembakaran) yang berlangsung di medium air dengan Ph
mendekati netral, pada suhu sedang dan tanpa asap. Pemecahan bertahap dan
berjenjang molekul besar merupakan cara untuk mengubah energi menjadi ATP.
Lebih lanjut, sejalan dengan berlangsungnya pemecahan, kerangka karbon-antara
disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya dari tumbuhan.
Produk ini meliputi asam amino untuk protein, nukleotida untuk asam nukleat, dan
prazat karbon untuk pigmen porfirin (seperti klorofil dan sitokrom). Tentu saja bila
senyawa tersebut terbentuk, pengubahan substrat awal respirasi menjadi CO
2
dan
H
2
O tidaklah lengkap. Biasanya hanya beberapa substrat respirasi yang dioksidasi
seluruhnya menjadi CO
2
dan H
2
O (proses katabolik/penguraian), sedangkan sisanya
digunakan dalam proses sintesis (anabolisme/pembentukan) terutama di dalam sel
yang sedang tumbuh. Energi yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna beberapa
senyawa dapat digunakan untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan. Bila tumbuhan sedang tumbuh, laju respirasi meningkat sebagai akibat
dari permintaan pertumbuhan, tapi beberapa senyawa yang hilang dialihkan ke dalam
reksi sintesis dan tidak pernah muncul sebagai CO
2
. (Salisbury & Ross, 1995)
Berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi laju respirasi, diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Ketersediaan substrat
Respirai bergantung pada ketersediaan substrat. Tumbuhan yang kandungan pati,
fruktan, atau gulanya rendah, melakukan respirasi pada laju yang rendah. Tumbuhan
yang kahat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan. Bahkan
laju respirasi daun sering lebih cepat segera setelah matahari tenggelam, saat
4
kandungan gula tinggi dibandingkan dengan ketika matahari terbit, saat kandungan
gulanya lebih rendah. Selain itu, daun yang ternaungi atau daun bagian bawah
biasanya berespirasi lebih lambat daripada daun sebelah atas yang terkena cahaya
lebih banyak. Bila hal ini tidak terjadi, maka daun sebelah bawah akan lebih cepat
mati. Perbedaan kandungan gula akibat tak berimbangnya laju fotosintesis mungkin
yang menyebabkan laju respirasi yang lebih rendah pada daun yang ternaungi.
(Salisbury & Ross, 1995)
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh
tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada
tumbuhan yang sama. Keragaman normal kandungan O
2
udara terlalu kecil untuk
mempengaruhi respirasi sebagian besar daun dan batang. Lagi pula, laju penetrasi O
2

kedalam daun, batang, dan akar biasanya cukup untuk mempertahankan tingkat
pengambilan O
2
oleh mitokondria.(Salisbury & Ross, 1995)
3. Suhu
Peningkatan suhu sampai 40C atau lebih, laju respirasi malahan menurun, khususnya
bila tumbuhan berada pada keadaan ini dalam jangka waktu yang lama. Nampaknya
enzim yang diperlukan mulai mengalami denaturasi dengan cepat pada suhu yang
tinggi, mencegah peningkatan metabolik yang semestinya terjadi. Pada kecambah
kacang kapri, peningkatan suhu dari 25 menjadi 45C mula-mula meningkatkan
respirasi dengan cepat, tapi setelah dua jam lajunya mulai berkurang. Kemungkinan
penjelasannya ialah jangka waktu dua jam sudah cukup lama untuk merusak sebagian
enzim respirasi. (Salisbury & Ross, 1995)
4. Jenis dan Umur Tumbuhan
Perbedaan morfologi yang besar pada masing-masing anggota kerajaan tumbuhan
tentunya juga terdapat perbedaan metabolism. Berbagai organ dan jaringan tumbuhan
juga menmapakkan keragaman laju respirasi yang besar. Pucuk akar dan organ
lainnya yang mengandung sel meristematik dengan presentase protoplasma dan
protein yang tinggi mempunyai laju respirasi yang tinggi berdasarkan bobot kering.
Umur tumbuhan juga mempengaruhi respirasinya hingga derajat tertentu. Pada bunga
5
matahari, respirasi tetap tinggi selama jangka waktu pertumbuhan vegetatif yang
pesat, tapi kemudian menurun saat mulai perbungaan. Pada contoh ini dan contoh
lainnya, sebagian besar respirasi dilakukan oleh daun dan akar muda dan bunga yang
sedang tumbuh. (Salisbury & Ross, 1995)


























6
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis percobaan yang dilakukan adalah percobaan eksperimental, karena
percobaan dilakukan di laboratorium dan pada percobaan ini terdapat variabel
manipulasi, variabel kontrol dan variabel respon.

B. Variabel Penelitian
Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam percobaan ini sebagai
berikut:
- Variabel manipulasi : Suhu (Suhu ruangan (28
0
C) dan suhu incubator
(37
0
C))
- Variabel kontrol :
Kecambah hijau umur 2 hari
Larutan NAOH 0,5 M dan HCl 0,5 M
Larutan BaCl
2
0,5 M
- Variabel respon : Kecepatan respirasi kecambah

C. Alat dan Bahan
1. Alat
- Erlenmeyer 250 ml 6 buah
- Timbangan 1 buah
- Spuit 1 buah
- Kain Kasa secukupnya
- Benang secukupnya
- Plastik secukupnya
- Pipet 1 buah



7
2. Bahan
- Kecambah umur 2 hari
- Larutan NAOH 0,5 M
- Larutan HCl 0,5 M
- Larutan BaCl2 0,5 M

D. Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Siapkan 6 erlenmeyer kemudian mengisi masing-masing erlenmeyer tersebut
dengan 30 mL larutan NaOH 0,5 M.
3. Timbang 5 gram kecambah yang disediakan kemudian membungkusnya
dengan kain kasa dan mengikatnya dengan seutas tali. Masing-masing 2
sampel untuk suhu rungan dan 2 sampel untuk suhu di dalam ruang inkubator.
4. Masukkan ke dalam erlenmeyer dan menggantungkan bungkusan kecambah
tersebut diatas larutan NaOH 0,5 M dengan bantuan talinya, kemudian
menutup rapat-rapat botol tersebut dengan plastik dan karet.
5. Simpan 3 erlenmeyer yang mana 2 erlenmeyer berisi kecambah dan 1
erlenmeyer tanpa kecambah (kontrol) masing-masing di dalam ruang dengan
suhu ruangan dan 3 erlenmeyer yang lainnya di dalam inkubator yang
suhunya 37
0
C.
6. Setelah 24 jam, melakukan titrasi untuk mengetahui jumlah gas CO
2
yang
dilepaskan selama proses respirasi kecambah.
7. Ambil 5 mL larutan NaOH dalam botol, kemudian memasukkan kedalam
erlenmeyer yang lain. Kemudian menambahkan 2,5 larutan BaCl
2
dan
menetesi dengan 2 tetes larutan PP sehingga larutan berwarna merah.
Selanjutnya larutan tersebut dititrasi dengan larutan HCl 0,5 M. Titrasi
dihentikan setelah warna merah hilang.





8
8. Alur Kerja




























Kecambah ditimbang 5 gr dan dibungkus dalam kain kasa
kemudian diikat dengan tali
6 Erlenmeyer masing-masing diisi dengan larutan NaOH 0,5 M
Dimasukkan kedalam Erlenmeyer (4 buah) dengan cara
menggantungkan diatas larutan NaOH kemudian botol ditutup
plastik rapat
Simpan 2 botol berisi
kecambah terbungkus dan
1 botol tanpa kecambah
(kontrol) dalam suhu
ruangan (28
0
C)
Setelah 24 jam, lakukan titrasi untuk mengetahui jumlah gas
CO
2
yang dilepaskan selama respirasi kecambah
Simpan 2 botol berisi
kecambah terbungkus dan
1 botol tanpa kecambah
(kontrol) dalam suhu
ruangan (28
0
C)
Larutan kemudian dititrasi dengan HCl 0,5 M hingga warna
larutan merah tepat hilang
9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil dari praktikum yang kami lakukan tentang pengaruh suhu terhadap
kecepatan respirasi kecambah, didapatkan hasil kecepatan respirasi yang berbeda
pula. (tabel 1)
Tabel 1. Pengaruh Suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah

No Hasil
Suhu Ruangan (28
0
C) Suhu Inkubator (37
0
C)
Kontrol Kecambah 1 Kecambah 2 Kontrol Kecambah 1 Kecambah 2
1 Volume HCl (ml) 1 0,89 0,84 0,95 0,85 0,85
2
Volume NaOH
terikat CO
2
(ml)
24 24,66 24,96 24,3 24,9 24,9
3
CO
2
hasil respirasi
(ml)
0,81 0,6
4 Laju Reaksi 0,034 = 34 x 10
-3
0,025 = 25 x 10
-3


Dari hasil tabel diatas, untuk lebih mengetahui perbedaan laju respirasi pada
masing-masing suhu dapat dibuat histogram seperti dibawah ini,

Keterangan :
X : Suhu (
0
C)
Y : Laju Respirasi (ml/jam)
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
28 37
0.034
0.025
10
B. Analisis Data
Berdasarkan hasil tabel data dan histogram diatas maka dapat diketahui bahwa
besarnya suhu berpengaruh terhadap laju respirasi terhadap kecambah kacang
hijau, pada suhu ruangan (28
0
C) volume CO
2
hasil respirasi sebesar 0,81 ml
dengan laju respirasi 0,034 ml/jam. Sedangkan pada suhu inkubator (37
0
C)
volume CO
2
hasil respirasi sebesar o,6 ml dengan laju respirasi sebesar 0,025
ml/jam.
Hasil tersebut dipengaruhi oleh volume HCl yang digunakan pada saat proses
titrasi pada masing-masing perlakuan. Pada suhu ruangan, volume HCL yang
digunakan pada NaOH kontrol sebanyak 1 ml dengan NaOH terikat CO
2
sebanyak 24 ml , sedangkan pada perlakuan 1 dan 2 sebanyak 0,89 ml dan 0,84
ml dengan NaOH terikat CO
2
sebesar 24,66 ml dan 24,96 ml. Pada suhu inkubator
(37
0
C) volume HCl yang digunakan pada NaOH kontrol sebanyak 0,95 ml
dengan NaOH terikat CO
2
sebesar 24,3 ml, sedangkan pada perlakuan 1 dan 2
sama yakni sebanyak 0,85 ml dengan volume NaOH terikat CO
2
yang sama juga
yakni sebanyak 24,9 ml.

C. Pembahasan
Berdasarkan analis data diatas maka dapat diketahui bahwa besarnya suhu
mempengaruhi kadar CO
2
yang dilepaskan dari proses respirasi kecambah,
dimana pada suhu ruangan (28
0
C) diperoleh volume CO
2
hasil respirasi dan laju
reaksi yang lebih besar dibandingkan pada suhu inkubator (37
0
C). Namun, hasil
ini tidak sesuai dengan teori yang ada, dimana seharusnya suhu pada inkubator
menghasilkan volume CO
2
yang lebih banyak dikarenakan keadaan suhunya
dibuat konstan (stabil), dimana pada suhu yang konstan (stabil) kerja enzim akan
lebih optimal tanpa mengalami kerusakan. Seperti yang kita ketahui bahwa proses
respirasi melibatkan kerja berbagai enzim. Karena enzim tidak mengalami
kerusakan maka enzim akan mempercepat pengubahan glukosa menjadi karbon
dioksida. Oleh karena itu, CO
2
yang dilepaskan dari respirasi kecambah lebih
11
besar. Selain itu, pada suhu yang lebih tinggi volume CO
2
akan lebih banyak
diikat oleh NaOH sehingga kadar CO
2
-
yang dilepaskan makin besar. (Salisbury
& Ross, 1995)
Ketidaksesuaian hasil percobaan yang didapat dengan teori yang ada diduga
disebabkan oleh beberapa hal, Antara lain : perubahan suhu ruangan selama
proses respirasi yang dilakukan 24 jam, karena suhu ruangan sendir tidak
terkontrol sehingga peningkatan suhu bisa saja terjadi. Hal lain yang dapat
mempengaruhi yaitu kandungan protein pada kecambah, yang mungkin saja telah
berkurang karena suatu hal. Karena besarnya kandungan protein juga
mempengaruhi kecepatan laju respirasi dari suatu tanaman. (Salisbury & Ross,
1995)



















12
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Suhu berpengaruh terhadap kecepatan respirasi kecambah. Semakin tinggi
suhu maka kecepatan respirasi kecambah semakin berkurang. Hal ini tidak sesuai
dengan teori yang seharusnya, Dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi
pada saat percobaan.

B. Saran
Dalam percobaan Pengaruh suhu terhadap Kecepatan Respirasi Kecambah
beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh praktikan antara lain tidak berbicara
pada saat melakukan proses titrasi, karena CO
2
hasil respirasi praktikan yang juga
ikut terikat oleh NaOH sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori
yang ada, dan lagi kehati-hatian dan ketelitian juga perlu ditingkatkan agar hasil
yang diperoleh maksimal.














13
DAFTAR PUSTAKA


Salisbury, Frank B dan Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung:
ITB
Rahayu, Y.S dan Yuliani. 2014. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya :
Laboratorium Fistum-Biologi UNESA
Loveless. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Daerah Tropik. Jakarta: PT
Gramedia.



















14
Lampiran 1
Dokumentasi Praktikum Pengaruh Suhu terhadap Kecepatan Laju Reaksi
Kecambah



Gambar 1. Menimbang kecambah sebanyak 5
gr



Gambar 2. Membungkus kecambah
yang telah ditimbang dengan kain
kasa.


Gambar 3. Menutup mulut Erlenmeyer
menggunakan plastik



Gambar 4. Meletakkan rancangan
praktikum pada inkubator (37
0
C).



15

Gambar 5. Meletakkan Rancangan praktikum
lainnya pada suhu ruang (28
0
C)
Gambar 6. Penambahan
Penambahan BaCl
2
ke dalam NaOH
setelah dibiarkan selama 24 jam .


Gambar 7. Penambahan dua tetes PP ke dalam
NaOH.
Gambar 8. Warna NaOH setelah
ditetsi PP


Gambar 9. Proses titrasi NaOH oleh HCl
menggunakan spuid.


Gambar 10. Warna NaOH setelah
dititrasi dengan HCl berubah
menjadi putih kembali.






16


Lampiran 2
Perhitungan Laju Respirasi Pada Suhu Ruangan (28
0
C) Dan Suhu Inkubator
(37
0
C)


A. Suhu Ruang (28
0
C)
1. Kecambah 1
- Volume HCl = 0,89 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 0,89 ml = 5,34 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2

= 30 5,34 ml = 24,66 ml
2. Kecambah 2
- Volume HCl = 0,89 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 0,84 = 5,04 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2


= 30 5,04 = 24,96 ml
3. Kontrol
- Volume HCl = 1 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 1 ml = 6 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2

= 30 6 ml = 24 ml
Volume CO
2
hasil respirasi
= Volume rata-rata NaOH terikat CO
2
Volume NaOH terikat C0
2
kontrol
= 24,81 24 = 0,81 ml

Laju Reaksi
= Volume CO
2
hasil respirasi/24 jam
= 0,81 ml/24 jam = 0,034 ml/jam




17

4. Suhu Inkubator (37
0
C)

1. Kecambah 1
- Volume HCl = 0,85 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 0,85 ml = 5,1 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2


= 30 5,1 ml = 24,9 ml
2. Kecambah 2
- Volume HCl = 0,85 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 0,85 ml = 5,1 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2


= 30 5,1 ml = 24,9 ml
3. Kontrol
- Volume HCl = 0,95 ml
- NaOH tidak terikat CO
2
=

x Volume HCl
= 6 x 0,95 ml = 5,7 ml
- NaOH terikat CO
2
= 30 volume NaOH tidak terikat CO
2

= 30 5,7 ml = 24,3 ml
Volume CO
2
hasil respirasi
= Volume rata-rata NaOH terikat CO
2
Volume NaOH terikat C0
2
kontrol
= 24,9 24,3 = 0,6 ml

Laju Reaksi
= Volume CO
2
hasil respirasi/24 jam
= 0,6 ml/ 24 jam = 0,025 ml/jam