Anda di halaman 1dari 18

Petani Indonesia Masih Miskin

PADANG- Hari ini ribuan petani menggelar aksi demonstrasi di sejumlah wilayah di
Indonesia dalam rangka hari tani nasional ke-51. Di Padang, Sumatera Barat, ribuan petani
memusatkan aksi di di Taman Budaya Padang, jalan Diponegoro.

Para petani mengungkapkan keprihatinannya karena masih banyaknya petani miskin di
Indonesia.

Hingga Maret 2011 kondisi kehidupan para petani di Indonesia masih miskin. Dari sensus
pertanian terakhir tahun 2003m, penduduk yang rentan miskin sebanyak 27 juta jiwa, jumlah
tersebut berasal dari petani gurem. Petani gurem ini mengolah tanah garapannya di bawah 0,5
hektar. Sementara dari hasil proyeksi Serikat Petani Indonesia (SPI) pada tahun 2008
mencatat 15,6 juta jiwa atau 55,1 persen petani gurem, kata Sukardi Bendang, Dewan
Pengurus Wilayah SPI Sumatera Barat saat peringatan Hari Tani Nasional ke-51 di Taman
Budaya Padang, jalan Diponegoro, Sabtu (24/9/2011).

Sukardi mengatakan dari jumlah tersebut, bila setiap kepala keluarga memiliki 3 orang anak
saja, maka jumlah penduduk miskin ini bertambah menjadi 78 juta jiwa. Tingginya angka
prosentase petani gurem tersebut jelas menggambarkan ketimpangan agraria begitu besar dan
pada akhirnya menyebabkan konflik agraria. Dalam catatan Badan Pertanahan Nasional pada
tahun 2011 ada 2.791 kasus pertanahan, ungkapnya.

Kondisi petani ini semakin memprihatinkan karena pertanian di Indonesia secara umum
masih subsiten, kepemilikan kepemilikian lahan yangh sempit yang berdampak kepada
pendapatan para petani yang rendah. Di satu sisi petani tidak memiliki sertifikat yang biasa
digunakan agunan.

Dengan kondisi ini menjadikan petani terjebak kepada tengkulak maupun rentenir yang
memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi. Meski kondisi tercekik namun itulah
solusinya para petani bisa mendapatkan modalnya dan para rentenir sendiri memberikan
kemudahan proses peminjaman, tambah Sukardi.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi ketimpangan agraria dan konfliknya,
dimana pemerintah berjanji untuk mendistribusikan tanah-tanah kepada para petani melaluhi
Program Agraria Nasional (PPAN). Janji itu disampaikan saat peresmian program strategis
pertanahan yang digagas oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) di kawasan Cilincing,
Jakarta Utara pada bulan Januari 2010, ungkap Sukardi.

Kemudian janji kedua disampaikan pada bulan September 2010 di istana melalui Staf Khusus
Kepresidenan (SKP) Bidang Pangan dan Energi dan SKP Bidang Otonomi Pembangunan
Daerah. Bahkan janji ketiga kalinya di sampaikan Kepala BPN pada peringatan hari Tani ke-
50 di Istana Bogor bahkan saat itu Kepala BPN mengatakan soal pendistribusian tanah-tanah
ke petani sudah dirumuskan pada peraturan pemerintah (PP) tentang reforma agraria.

Padahal Indonesia sebagai anggota FAO seharusnya melaksanakan pembaharuan agraria
sebagai salah satu rekomendasi dari International Conferrence on Agrarian Reform and Rural
Development tahun 2006 di Proto Alegre, katanya.

Namun janji tinggal janji pemerintah justru mengeluarkan kebijakan melaluhi berbagai
Undan-undang yang menyimpang dari UUD 1945 pasal 33 dan UUPA 5 tahun 1960. Sebagai
contoh UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air yang mengakibatkan privatisasi sumber air,
UU No.18/2004 tentang perkebunan yang mengakibatkan ratusan petani dikriminalkan,
Perpres 36/2005 dan revisi Perpres 67/2006 tentang pencabutan hak atas tanah untuk
kepentingan umum dan UU No.27/2007 tentang penanaman modal yang membenarkan
pemodal menguasai secara dominan disektor pertanian pangan dan perkebunan.

Dan terakhir adalah kebijakan korporatisasi pertanian dan pangan yang intinya memberikan
ruang dan otoritas besar bagi korporasi untuk menguasai lahan pertanian dan produksinya,
terang Sukardi.

Carut marutnya kondisi pertanian saat ini menurutnya sangat mendesak yang dilakukan
pemerintah adalah melaksanakan pembaharuan agraria yang sejatinya adalah upaya korektif
untuk menata ulang struktur agraria yang timpang dan memungkinkan eksploitas manusia
atas manusia, menuju tatanan baru dengan struktur yang bersendikan kepada keadilan agraria.

Keadilan agraria yang dimaksud adalah dimana dijaminnya tidak adanya konsentrasi dalam
penguasaan dan pemanfaatan agraria oleh segelintir orang. Kemudian didukung dengan
kebijakan harga pembelihan hasil produksi pertanian, tata niaga yang berpihak pada produsen
kecil dan mekanisme keuangan petani, ujarnya.
(ugo)














Catetan angin-anginan seadanya
front page
Berbagi E-book
Salam Kenal
Bukan Cerita Bergambar
RSS
Urgensi Administrasi Publik
tipuan kuno,kurang inovativ. .
PEMBERDAYAAN PETANI DALAM
RANGKA PEMANTAPAN KETAHANAN
PANGAN NASIONAL
15 Jan
Krisis perekonomian yang terjadi saat ini tidak hanya di
Indonesia. Di seluruh belahan bumi, banyak negara yang sedang mengalami kesulitan untuk
memenuhi kehidupan rakyatnya. Adanya krisis global saat ini juga semakin membuat krisis
bertambah sulit. Banyak kalangan yang memperkirakan kalau krisis perekonomian yang semakin
kompleks ini bisa mengarah kepada krisis pangan. Kelaparan akan menjadi ancaman yang akan
menyusul kemiskinan massal yang terjadi saat ini. Sebelum krisis pangan terjadi, sejak jauh- jauh
hari, sudah banyak pemikir maupun praktisi yang mati-matian menggodok kebijakan kebijakan
maupun sekedar sumbangan pemikiran untuk mengantisipasinya. Semuanya itu berdiri di atas satu
sikap, bernama Ketahanan Pangan. Di dalam hal ini perlu sekali pemerintah membuat kebijakan-
kebijakan yang baik untuk mengatasi krisis pangan yang akan terjadi.
Berbicara tentang kebijakan pemerintah, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh
pemerintah untuk mengantisipasi bahaya krisis pangan. Yang paling utama adalah dengan
meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk semakin memantapkan ketahanan pangan di bumi
Indonesia.
Latar Belakang Masalah
Di negara kita, kesulitan dalam penyeimbangan neraca pangan sudah dialami sebelum awal
krisis moneter terjadi pada pertengahan tahun 1997. Bahkan, pemenuhan kebutuhan beras yang
pernah diatasi secara swasembada pada tahun 1986, sampai saat sekarang ini ternyata tidak dapat
dipertahankan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 1999[1] kita telah mengimpor beras
sebanyak 1.8 juta ton pada tahun 1995; 2.1 juta ton pada tahun 1996; 0.3 juta ton pada tahun 1997;
2.8 juta ton pada tahun 1998; 4.7 juta ton pada tahun 1999. Di awal tahun 2000 kita bahkan dibanjiri
dengan beras impor yang diberitakan ilegal, sedangkan di awal tahun 2006 kita diramaikan dengan
keputusan pemerintah untuk mengimpor beras, yang dianggap tidak berpihak kepada petani
meskipun hal itu bukan merupakan issue baru dan disadari pula bahwa petani kita pun merupakan
konsumen beras. Bahkan, pada tahun ini kita dirisaukan dengan impor benih padi yang konon tidak
berjalan mulus pula sampai ke tangan petani, padahal hasilnya diharapkan dapat mendongkrak
produksi beras.
Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga
kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan
pangan pada pihak manapun. Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam
ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan dan petani adalah juga sekaligus kelompok
konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk
membeli pangan. Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga
harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.
Disinilah perlu sekali peranan pemerintah dalam melakukan pemberdayaan petani.
Kesejahteraan petani pangan yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan
prospek ketahanan pangan nasional. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan
keterbatasan, diantaranya yang utama adalah :
a. Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali
tenaga kerjanya (they are poor becouse they are poor) , dalam hal ini keterbatasan
sumber daya manusia yang ada (rendahnya kualitas pendidikan yang dimiliki petani pada
umumnya) menjadi masalah yang cukup rumit, disisi lain kemiskinan yang structural
menjadikan akses petani terhadap pendidikan sangat minim.
b. Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. Pada
umumnya petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki tanah kurang dari 1/3 hektar, jika
dilihat dari sisi produksi tentu saja dengan luas tanah semacam ini tidak dapat di
gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari bagi petani.
c. Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan , ketersediaan modal perlu
mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah pada umumnya permasalahan yang
paling mendasar yang dialami oleh petani adalah keterbatasan modal baik balam
penyediaan pupuk atau benih.
d. Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik .
petani di indonesia kebanyakan masih mengolah tanah dengan cara tradisional hanya
sebagaian kecil saja yang sudah menggunakan teknologi canggih.tentu saja dari hasil
aproduksinya sangat terbatas dan tidak bisa maksimal.
e. Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai . pertanian di
indonesia mayoritas masih berada di wilayah pedesaan sehingga akses untuk
mendapatkan sarana dan prasarana penunjang seperti air, listrik , kondisi jalan yang
bagus dan telekomunikasi sangat terbatas
f. Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining
position) yang sangat lemah .
g. Ketidak-mampuan, kelemahan, atau ketidak-tahuan petani sendiri.
Tanpa menyelesaian yang mendasar dan komprehensif dalam berbagai aspek diatas kesejahteraan
petani akan terancam dan ketahanan pangan akan sangat sulit dicapai. Maka disinilah peranan
pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah harus dijadikan sebagai pernhatian utama demi
terwujudnya ketahanan pangan karena ketahanan pangan dapat terwujud dengan baik jika
pengelolaanya dikelola mulai dari tataran mikro (mulai dari rumah tangga), jika akses masyarakat
dalam mendapatkan kebutuhan pangan sudah baik maka ketahanan pangan di tataran makro sudah
pasti secara otomatis akan dapat terwujud.
Analisis Masalah
Pembangunan ketahanan pangan pada hakekatnya adalah pemberdayaan masyarakat, yang
berarti meningkatkan kemandirian dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam
mewujudkan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dari waktu ke waktu. Masyarakat yang
terlibat dalam pembangunan ketahanan pangan meliputi produsen, pengusaha, konsumen, aparatur
pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat.
Mengingat luasnya substansi dan banyaknya pelaku yang terlibat dalam pengembangan sistem
ketahanan pangan, maka kerja sama yang sinergis dan terarah antar institusi dan komponen
masyarakat sangat diperlukan. Pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui
suatu kerja sama yang kolektif dari seluruh pihak yang terkait (stakeholders), khususnya masyarakat
produsen (petani), pengolah, pemasar dan konsumen pangan dan pemerintah.
Pengadaan pangan bagi bangsa Indonesia hingga saat ini memang masih mengkhawatirkan.
Padahal, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan telah
memberikan arahan bagaimana kita harus mencapai ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 mengatakan,bahwa Ketahanan
pangan diwujudkan bersama oleh masyarakat dan pemerintah dan dikembangkan mulai tingkat
rumah tangga. Apabila setiap rumah tangga Indonesia sudah mencapai tahapan ketahanan pangan,
maka secara otomatis ketahanan pangan masyarakat, daerah dan nasional akan tercapai. Dengan
demikian, arah pengembangan ketahanan pangan berawal dari rumah tangga, masyarakat, daerah
dan kemandirian nasional bukan mengikuti proses sebaliknya.
Karena fokusnya pada rumah tangga, maka yang menjadi kegiatan prioritas dalam pembangunan
ketahanan pangan adalah pemberdayaan masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dalam
mewujudkan ketahanan pangan. Pemberdayaan masyarakat tersebut diupayakan melalui
peningkatan kapasitas SDM agar dapat secara bersaing memasuki pasar tenaga kerja dan
kesempatan berusaha yang dapat menciptakan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Proses pemberdayaan tersebut tidak lagi menganut pola serapan, tetapi didesentralisasikan sesuai
potensi dan keragaman sumberdaya wilayah. Demikian pula kesempatan berusaha tidak harus selalu
pada usahatani padi (karena dengan luas lahan sempit tidak mungkin dapat meningkatkan
kesejahteraannya), tetapi juga pada usaha tani non padi perlu dikembangkan. Dalam kaitannya
dengan itu, upaya peningkatan ketahanan pangan tidak perlu terfokus pada pengembangan
pertanian (dalam arti primer), tetapi diarahkan pada sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing,
berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi.
Dengan adanya peningkatan pendapatan, maka daya beli rumah tangga mengakses bahan pangan
akan meningkat. Kemampuan membeli tersebut akan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk
memilih (freedom to choose) pangan yang beragam untuk memenuhi kecukupan gizinya. Karena itu
upaya pemantapan ketahanan pangan tidak dilakukan dengan menyediakan pangan murah, tetapi
dengan meningkatkan daya beli.
Dalam konteks inilah maka membangun kemandirian pangan pada tingkat rumah tangga ditempuh
dengan membangun kemampuan (daya beli) rumah tangga tersebut untuk memperoleh pangan
(dari produksi sendiri ataupun dari pasar) yang cukup, bergizi, aman dan halal, untuk menjalani
kehidupan yang sehat dan produktif. Dengan demikian menghasilkan sendiri kemampuan
memperoleh peningkatan pendapatan (daya beli) secara berkelanjutan. Dalam kaitan ini, maka
kebebasan mengatur perdagangan pangan di daerah tidak perlu dibatasi, tetapi didorong dan
diarahkan agar memberi manfaat yang optimal bagi konsumen dan produsen pangan di daerah yang
bersngkutan sehingga kemandirian pangan akan dapat diwujudkan.
Rekomendasi Kebijakan
Dapat kita lihat sampai sekarang ini program pemerintah dalam kaitanya dengan
pembangunan ketahanan pangan masih belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada
umumnya, pembangunan ketahanan pangan yang ada masih bersifat pada tataran makro saja
pemenuhan pangan pada tingkatan unit masyarakat terkecil masih terkesan terabaikan. Untuk
mengatasi hal itu semua ada Berbagai upaya pemberdayaan untuk peningkatan kemandirian
masyarakat khususnya pemberdayaan petani dapat dilakukan melalui :
Pertama, pemberdayaan dalam pengembangan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Hal ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan penyuluh dan peneliti. Teknologi yang
dikembangkan harus berdasarkan spesifik lokasi yang mempunyai keunggulan dalam kesesuaian
dengan ekosistem setempat dan memanfaatkan input yang tersedia di lokasi serta memperhatikan
keseimbangan lingkungan.
Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan teknologi ini dapat dilakukan dengan
memanfaatkan hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan para peneliti. Teknologi tersebut tentu
yang benar-benar bisa dikerjakan petani di lapangan, sedangkan penguasaan teknologinya dapat
dilakukan melalui penyuluhan dan penelitian. Dengan cara tersebut diharapkan akan berkontribusi
langsung terhadap peningkatan usahatani dan kesejahtraan petani.
Kedua, penyediaan fasilitas kepada masyarakat hendaknya tidak terbatas pebngadaan sarana
produksi, tetapi dengan sarana pengembangan agribisnis lain yang diperlukan seperti informasi
pasar, peningkatan akses terhadap pasar, permodalan serta pengembangan kerjasama kemitraan
dengan lembaga usaha lain.
Dengan tersedianya berbagai fasilitas yang dibutuhkan petani tersebut diharapkan selain para petani
dapat berusaha tani dengan baik juga ada kepastian pemasaran hasil dengan harga yang
menguntungkan, sehingga selain ada peningkatan kesejahteraan petani juga timbul kegairahan
dalam mengembangkan usahatani.
Ketiga, Revitalitasasi kelembagaan dan sistem ketahanan pangan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan
melalui pengembangan lumbung pangan. Pemanfaatan potensi bahan pangan lokal dan peningkatan
spesifik berdasarkan budaya lokal sesuai dengan perkembangan selera masyarakat yang dinamis.
Revitalisasi kelembagaan dan sistem ketahanan pangan masyarakat yang sangat urgen dilakukan
sekarang adalah pengembnagan lumbung pangan, agar mampu memberikan kontribusi yang lebih
signifikan terhadap upaya mewujudkan ketahanan pangan. Untuk itu diperlukan upaya pembenahan
lumbung pangan yangb tidak hanya dakam arti fisik lumbung, tetapi juga pengelolaannya agar
mampu menjadi lembaga penggerak perekonomian di pedesaan.
Pemberdayaan petani untuk mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani
seperti diuraikan diatas, hanya dapat dilakukan dengan mensinergikan semua unsur terkait dengan
pembangunan pertanian. Untuk koordinasi antara instansi pemerintah dan masyarakat intensinya
perlu ditingkatkan.
Di sisi lain berdasarkan pendekatan sistem pangan, strategi pencapaian ketahanan pangan
juga dapat ditempuh melalui berbagai kebijakan di setiap subsistemnya, di antaranya sebagai
berikut:
Subsistem konsumsi pangan
Di subsistem konsumsi (masyarakat konsumen) pangan, kebijakan peningkatan pendapatan
dan daya beli masyarakat ditempuh dengan strategi penciptaan lapang kerja baru dan, khususnya
oleh pemerintahan yang sekarang, pelaksanaan program subsidi langsung tunai (SLT) bagi rakyat
yang miskin; kebijakan diversifikasi pangan dan perbaikan kebiasaan makan ditempuh melalui
strategi pencarian komoditi pangan alternatif; kebijakan perbaikan/promosi kesehatan.ditempuh
dengan strategi perbaikan gizi; kebijakan mutu pangan ditempuh melalui strategi penyelenggaraan
sistem jaminan mutu pangan. Khusus mengenai strategi penciptaan lapangan kerja baru, kebijakan
pemerintah dalam peningkatan keterampilan masyarakat untuk masuk di pasar kerja ditempuh
dengan strategi pembangunan diklat. Namun, kebijakan makro ekonomi perlu mendukung hal ini,
misalnya berupa kemudahan akses permodalan yang terbuka bagi para usahawan baru terhadap
dana kredit dari bank. Kenyataan di lapang menunjukkan bahwa kebijakan Bank Indonesia untuk
mencapai hal ini tidak selalu bersesuaian dengan kebijakan bank-bank umum di aspek yang sama.
Dalam konteks penyediaan lapangan kerja, pemerintah kita juga memberikan kesempatan kepada
kalangan generasi mudanya untuk bekerja di luar negeri.
Subsistem produksi pangan
Di subsistem produksi pangan stratum on farm, kebijakan intensifikasi pertanian yang
diutamakan untuk produksi padi masih perlu dipertahankan karena status padi sebagai komoditi
yang berimplikasi politis, yakni melalui strategi teknologi, ekonomi, rekayasa sosial, dan nilai
tambah yang diterapkan dalam praktek produksi. Kebijakan ekstensifikasi pertanian ditempuh
melalui strategi penetapan wilayah pengembangan dan pewilayahan pertanian. Dengan strategi ini
dilakukan pembangunan lahan-lahan pertanian baru untuk produksi pangan, baik berupa lahan
kering maupun lahan basah (sawah) yang dikaitkan dengan kegiatan transmigrasi. Dalam subsektor
hortikultura, ditempuh strategi pembangunan, pemantapan, dan pengembangan sentra produksi
buah-buahan unggulan yang dikaitkan dengan pembangunan kebun induknya. Kebijakan rehabilitasi
pertanian ditempuh sejalan dengan strategi penetapan komoditi prioritas, yakni rehabilitasi
jaringan irigasi sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi padi; rehabilitasi kebun bibit
sebagai bagian dari strategi pengembangan buah-buahan prospektif. Kebijakan diversifikasi
pertanian dilaksanakan melalui strategi diversifikasi horizontal dengan rekayasa sistem pertanian
terpadu yang melibatkan usaha tani tanaman, ternak, dan atau ikan secara komplementer dan
sinergis, sesuai dengan kondisi agroklimat lahannya.
Dalam stratum off-farm, kebijakan di subsistem produksi ditempuh melalui strategi
pengembangan industri pertanian (agroindustri), khususnya teknologi pengolahan pangan yang
dapat menghasilkan beragam produk yang dapat mendorong konsumen melaksanakan diversifikasi
konsumsi pangan dan berdaya saing kuat di pasar global. Pengembangan industri pengolahan
pangan tersebut juga akan menciptakan diversifikasi pertanian secara vertikal yang mampu
memberikan nilai tambah bagi komoditi pertanian yang diusahakan.
Subsistem peredaran pangan
Di subsistem peredaran (pengadaan dan distribusi) pangan, kebijakan pengelolaan
cadangan pangan dan stabilisasi harga pangan dijalankan khususnya untuk komoditi beras. Untuk
komoditi ini, kebijakan pengelolaan cadangan pangan ditempuh dengan penerapan strategi
pengendalian ekspor dan impor dan penetapan lama persediaan beras cadangan yang aman untuk
ketahanan pangan. Kebijakan stabilisasi harga beras ditempuh, jika perlu, dengan strategi penetapan
harga dasar gabah dan harga tertinggi dan intervensi pasar beras dengan mempertimbangkan harga
beras di pasaran internasional. Kebijakan pengembangan pasar komoditi ditempuh dengan
melaksanakan strategi penciptaan iklim usaha agribisnis yang kompetitif, dengan pengaturan tata
niaganya yang tidak menghambat mekanisme pasar sempurna. Dalam konteks pencapaian
mekanisme pasar sempurna, perlu pertimbangan yang memadai agar strategi untuk stabilisasi harga
beras tidak mengganggu pengaturan tata niaganya tersebut.
Kesimpulan
Sistem pangan nasional harus dibangun menuju ketahanan pangan nasional yang berbasis
pada penyediaan pangan di tingkat individu. Paradigma baru dalam pembangunan sistem pangan
nasional ini akan menjamin ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, lokal, regional, dan
nasional. Meskipun demikian, mengingat demikian kompleks permasalahan yang tercakup,
ketahanan pangan di kelima jenjang itu hendaknya dibangun secara bersamaan.
Ketahanan pangan nasional bermakna pengadaan pangan nasional (yakni penyediaan
pangan secara nasional), dan distribusi pangan nasional (yakni penyediaan pangan di setiap
individu). Kedua makna ini menuntut adanya kebijakan pangan secara nasional yang dipegang
wewenangnya oleh pemerintah pusat (yang berfungsi steering) dan kebijakan pangan secara
regional, lokal, rumah tangga, dan individu yang dipegang wewenangnya oleh pemerintah daerah
otonom (kabupaten/kota, yang berfungsi rowing).
Fungsi steering oleh pemerintah pusat berupa arah pembangunan ketahanan pangan
sebagai komponen yang penting bagi kesejahteraan dan keutuhan bangsa Indonesia. Dalam konteks
ini, kelak diperlukan adanya evaluasi, apakah lembaga atau lembaga-lembaga tinggi negara yang kini
ada telah cukup berhasil dengan efisien memantapkan ketahanan pangan, sebagaimana yang
diharapkan, misalnya, oleh salah satu peran sektor pertaniannya dalam rangka revitalisasi pertanian,
perikanan, dan kehutanan.
Fungsi rowing oleh pemerintah daerah otonom berupa keberlanjutan koordinasi
antarlembaga terkait yang mendukung ketercapaian ketahanan pangan bagi setiap individu bangsa
Indonesia yang bertempat tinggal di daerah otonom tersebut. Dalam konteks ini, perlu dievaluasi
pula, seberapa besar kebijakan pemerintah daerah dalam mendorong dan memfasilitasi sektor
swasta untuk berperan dalam pembangunan ketahanan pangan bagi sesama bangsanya.
Daftar Pustaka
1. Marwan, l. 1994. Strategi dan langkah operasional penelitian tanaman pangan berwawasan
lingkungan . puslitbangtan. Badan litbang pertanian
2. judul artikel, pemberdayaan petani
http://luthfifatah.wordpress.com/2008/06/10/pemberdayaan-petani/, di unduh pada
tanggal 02 januari 2009 pada pukul 16.35 wib
1. Amang , B. 1955. Kebijakan pangan nasional. Penerbit PT. Dharma karsa utama
jakarta,cetakan 1
2. judul artikel, pemberdayaan petani dalam mewujudkan desa mandiri dan sejahtera.
http://fema.ipb.ac.id/index.php/model-pemberdayaan-petani-dalam-mewujudkan-desa-
mandiri-dan-sejahtera/, diunduh pada tanggal 02 januari 2009 pada pukul 16.45 wib
1. judul artikel,Ketahanan Pangan,potensi pertanian yang terabaikan
http://www.nabble.com/-sastra-pembebasanKetahanan-Pangan,-Potensi-Pertanian-
Terabaikan-td11169388.html,. di unduh pada tanggal 02 januari 2009 pada pukul 16.30 wib
About these ads
Suka
Be the first to like this.


Tentang Angga Pratama Hardiansya Putra
jangan ada rahasia di antara kita, tapi anda tak perlu tahu semuanya.
Lihat semua tulisan oleh Angga Pratama Hardiansya Putra
10 Komentar
Posted by Angga Pratama Hardiansya Putra pada Januari 15, 2009 in umum

Kaitkata: kebijakan
Urgensi Administrasi Publik
tipuan kuno,kurang inovativ. .
10 Respon untuk PEMBERDAYAAN PETANI DALAM RANGKA PEMANTAPAN KETAHANAN
PANGAN NASIONAL
1.
morphine
Februari 13, 2009 at 11:52 am
fjgakefgaufvjg .
fufuufufu , pusiing

2.
trianasari dian
Oktober 7, 2009 at 2:59 am
penting nii buat tugas gw..

3.
SAUT BOANGMANALU
Januari 24, 2010 at 5:13 pm
TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP
BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI.
KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-
BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM
http://boeangsaoet.wordpress.com

4.
yudho febriansyah
April 26, 2010 at 2:14 pm
saya mahasiswa stikes ahmad yani cimahi sedang mencari tugas tentang sistem
produksi pangan yang mencakup lahan, kebutuhan permintaan, harga, penerapan
teknologi dan panca usaha tani sekaligus dengan pendangan sosial budaya masyarakat
terhadap panganjika ad tolong d krim k email saya yah mohon bantuannya
terima kasih sebelumnya

5.
jack deda
November 19, 2010 at 9:26 am
saya mahasiswa tugas belajar sekolah penyuluhan pertanian yang sedang mencari
informasi tentang model peningkatan kesejahteraan produsen dalam bidang
pertanian jika ada informasi ini, mohon dikirim ke email saya yah mohon
bantuannya.
terima kasih sebelumnya

6.
otniel
Mei 7, 2011 at 11:55 am
saya setuju dengan tulisan ini, dan saya kira yang paling utama adalah bagaimana
kesadaran semua manusia kemudian yang paling penting adalah bagaimana
pemerintah kita ini bisa lebih serius dalam artian mereka harus bisa merasakan
peneritaan masyarakat sendiri sehingga program yang dijalankan bisa tersentuh dan
benar-benar bisa dirasakan dan tujuan akhirnya adalah kesejahteraan bersama yang
berkesinambungan

7.
Petani Samosir
Juli 8, 2011 at 2:41 pm
Bagus tulisannya Pasti Banyak manfaatnya bagi orang2 yang sadar dengan
warning ketahanan pangan sekarang ini.. Ketahanan Pangan berhasil apabila Petani
dapat tersenyum itu tugas kita bersama..
Salam dari kami PETANI Samosir..
(PETANI : PEjuang TANpa Imbalan)

8.
LINO da costa
Januari 23, 2012 at 4:48 am
saya mau pesan buat skripsi saya sosiologi tapi,bisa bantu saya lewat email saya dan
untuk onkos setelah ada balasan baru saya kirim uang lewat rekenin,siapa saja yang
saya tujukan.

9.
rosi
April 11, 2012 at 10:39 am
boleh izin ada yang mau saya copy sdikit?

10.
Hima Muchlashin AlBathy
April 30, 2012 at 2:11 pm
Saya minta izin copy artikel anda ,,, thanks
Bagus banget buat tugas kuliah

Tinggalkan Balasan









Arsip
o Agustus 2012
o Mei 2012
o Maret 2012
o Februari 2012
o Januari 2012
o Desember 2011
o Januari 2011
o Oktober 2010
o April 2009
o Maret 2009
o Februari 2009
o Januari 2009
o Desember 2008
o November 2008
o Oktober 2008
o September 2008
o Agustus 2008
o April 2008
o Maret 2008
o Februari 2008

Januari 2009
S S R K J S M
Des Feb
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
yang terjerumus
o 42,059 korban


yang lagi ngliat. ..
Banner








Tag
demokrasi education gak penting HIBURAN kebijakan Lelucon love PARIWISATA politics
ponorogo sebuah kritikan Seputar Kampus umum

Blog pada WordPress.com. Tema: Choco oleh .css{mayo}.
Entri (RSS) dan Komentar (RSS)
Ikuti
Follow Catetan angin-anginan seadanya
Get every new post delivered to your Inbox.
Powered by WordPress.com