Anda di halaman 1dari 2

NAMA: Firman M.

Nur
NIM: 1007025121
Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR)pertama kali diteliti oleh Kloepper dan
Scroth (1982) untuk menggambarkan bakteri tanah yang mendiami daerah perakaran tanaman
yang dinokulasikan ke dalam benih dan ternyata meningkatkan pertumbuhan tanaman. Proses
kolonisasi selengkapnya adalah sebagai berikut: kemampuan mempertahankan diri (survive) dari
proses inokulasi ke dalam benih, penggandaan diri dalam spermosfer (daerah isekeliling benih)
dalam responsnya terhadap eksudat benih, penyerangan terhadap permukaan akar, dan
berkolonisasi/mendiami daerah perkaran untukmemperkuat sistem perakaran (Nelson, 2004).
Ketidakefektifan PGPR di lapangan seringkali berhubungan dengan ketidakmampuannya
dalam mendiami daerah perakaran (Bloemberg and Lugtenberg, 2001). Identifikasi mengenai
ciri atau sifat bakteri yang bervariasi serta gen spesifik yang berkontribusi dalam proses ini,
hanya sedikit. Memasukkan gerakannya, chemotaxis pada benih dan eksudate akar, produksi pili
atau fimbriae, produksi sel spesifik komponen permukaan, kemampuan dalam menggunakan
komponen spesik dari eksudat akar, sekresi, dan quorum sensing. Genus mutan mengubah
ekspresi dari sifat ini dan membantu pemahaman kita mengenai aturan yang tepat yang masing-
masing memegang peranan dalam proses kolonisasi ini.
Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas, tentunya memiliki keragaman
mikroba yang tinggi dan sangat berharga yang perlu dikelola secara benar dan efektif. Salah satu
yang menjadi perhaetian adalah mikroorganisme berguna yang dimanfaatkan secara maksimal di
dalam sistem PHT. Secara keseluruhan habitat hidup mikroorganisme berguna terdapat di dalam
tanah sekitar akar tumbuhan (rhizosfer), daun, bunga dan buah (Hasanudin, 2003). Rizosfer
adalah bagian dari tanah yang dipengaruhi oleh akar dan merupakan area yang dapat
meningkatkan kegiatan dan jumlah organisme, serta adanya interaksi yang kompleks antara
mikroorganisme dan akar. Beberapa mikroorganisme rizosfer berperan penting dalam siklus hara
dan proses pembentukan tanah, pertumbuhan tanaman, mempengaruhi aktivitas mikroorganisme
serta sebagai pengendali hayati terhadap patogen akar (Foster,1985). Dengan adanya berbagai
senyawa yang menstimulir pertumbuhan mikroba, menyebabkan jumlah mikroba di lingkungan
rhizosfer sangat tinggi. Salah satu mikroba yang menghuni tanah adalah cendawan. Cendawan
tanah dapat bertahan dalam keadaan inang tidak tersedia dengan cara sebagai safrofit pada bahan
organik yang sudah melapuk atau dorman dalam bentuk spora atau sklerotium
Beberapa cendawan tanah yang telah diteliti dalam pemanfaatan sebagai entomopatogen
dan antagonis. Cendawan yang diketahui sebagai entomopatogen, di antaranya adalah Beauveria
NAMA: Firman M. Nur
NIM: 1007025121
bassiana dan Metarhizium anisopliae. Cendawan B. bassiana secara alami terdapat di dalam
tanah sebagai jamur safrofit juga dikenal sebagai parasit agresif yang dapat menginfeksi
serangga pada berbagai umur dan stadium seperti telur, larva dan dewasa). Konidia dan miselia
dalam jumlah banyak, bermassa padat dapat menyebar pada seluruh tubuh serangga yang
terinfeksi (Feron 1981). B. bassiana merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang
telah diuji dapat mematikan banyak spesies serangga seperti P. xylostella, Darna catenata,
Helicoverpa armigera, Hypothenemus hampei, Phthorimaea operrculella, Conopomorpha
cramerella, Captotermes sp., Spodoptera exigua dan Ostrinia furnacalis (Diana Daud dan Besse,
1998). Cendawan M. anisopliae banyak ditemukan di dalam tanah, bersifat saprofit, dan
umumnya dijumpai pada berbagai stadia serangga yang terinfeksi, tumbuh pada suhu 6585F
dan kelembapan 3090% ini dapat membunuh serangga, tungau, dan caplak seperti halnya B.
bassiana (Genther et al.,2004). Dalam menginfeksi serangga dan akarina, konidia berkecambah
pada kutikula inang dan melakukan penetrasi dengan enzim hidrolisis (peptidase dan kitinase),
lalu dengan bantuan tekanan mekanis enzim tersebut menghancurkan kutikula dengan cara lisis
(Onofre et al., 2001).
Nurariaty (2006), melaporkan bahwa di ekosistem pertanaman kakao di Sulsel ditemukan
beberapa cendawan entomopatogen yakni B. bassiana, Aspergillus sp., Gliocephalis sp.,
Fusarium sp. dan Penicillium sp. yang diperoleh dari kadaver pupa PBK. Selanjutnya pada
tahun 2009 juga ditemukan cendawan Fusarium sp., Rhizopus sp. dan Gliocladium sp. Serta
Trichoderma sp. (Nurariaty, 2010). Selama ini, hanya cendawan B. bassiana yang diketahui
sebagai entomopatogen pada hama PBK, tetapi ternyata bahwa peran cendawan Penicillium sp.
lebih tinggi daripada B. bassiana dan Aspergillus sp. (Nurariaty, 2006).
Efektivitas penghambatan Trichoderma spp. yang merupakan cendawan yang bersifat
antagonis terhadap cendawan Sclerotium rolfsii, Aspergillus niger, dan Fusarium di beberapa
lahan di Lampung dan Sumatera Selatan. Selanjutnya, Sri Mulyati (2009) melaporkan bahwa
pemberian agensia hayati Trichoderma sp dengan Gliocladium sp secara gabungan mampu
menekan intensitas penyakit Rhizoctonia solani sampai 90 % pada tanaman jagung.
Berdasarkan fenomena tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi
berbagai jenis cendawan dari rhizosfer tanaman kakao dalam rangka pengendalian hama dan
penyakit tanaman kakao.