Anda di halaman 1dari 43

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Setelah dikeluarkannya pakto 1988, industri perbankan di Indonesia
terlihat semakin semarak, pertumbuhannya semakin meningkat, baik bank
pemerintah maupun bank swasta. Bank-bank tersebut saling berlomba membuka
cabang-cabangnya di beberapa sudut kota di Indonesia atau di beberapa wilayah
daerah sampai tingkat kecamatan. Hal ini menyebabkan timbulnya persaingan
antara bank menjadi sangat ketat. Bank-bank tersebut berusaha menarik perhatian
para calon nasabahnya guna memperoleh masukan dana dan mampu menyalurkan
dana tersebut sebanyak-banyaknya dengan harapan dapat memberikan hasil yang
diinginkan secara optimal.
Agar mempunyai daya saing yang tinggi, diupayakan agar menciptakan
bank-bank yang sehat. Suatu bank yang selalu berhati-hati dalam usahanya yang
nantinya akan memberikan dampak positif, dalam bentuk resiko usaha yang kecil.
Resiko yang kecil ini akan meningkatkan daya saing bank yang bersangkutan,
mengingat resiko merupakan salah satu aspek yang diperhatikan dalam persaingan
di dunia keuangan.
Dengan kondisi persaingan yang ketat, tajam, menuntut kemampuan
manajemen untuk mengelola perbankan sampai ke tingkat unit-unit usahanya di
mana berada dengan efisien. Untuk mewujudkan efisiensi perbankan, diperlukan
kemampuan manajemen dalam merencanakan, mengkoordinasikan dan
mengendalikan berbagai aktivitas dan program-program yang dilaksanakan, serta
sumber daya yang dimiliki dan digunakan perusahaan.
Untuk memenuhi tuntutan jaman ini, perlu kiranya bagi perbankan untuk
meningkatkan kapasitas kerjanya dan kualitas layanan yang baik dengan
membuka cabang-cabang pembantu maupun dengan menggunakan teknologi
informasi yang efisien dan tepat. Dalam era persaingan global seperti sekarang ini
memicu dan mendorong para pelaku bisnis untuk peka, cepat tanggap dan proaktif
terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Fleksibilitas dalam tindakan
yang mau dan mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk
2

memformulasikan kapasitas kerja dan sistem informasi yang cepat, tepat, akurat
dan memadai bagi para eksekutif sebagai informasi untuk pengambilan keputusan
sehubungan dengan pekerjaan yang dihadapinya.
Dengan pembukaan cabang-cabang pembantu bagi perbankan sudah
barang tentu menjadikan organisasinya menjadi semakin kompleks. Untuk itu
perlu disusun suatu sistem organisasi yang mampu untuk melaksanakan
pengendalian manajemen dengan baik, yang memudahkan pengaturan dan
pelaksanaan tugas-tugas di dalam organisasi/lembaga perbankan.
Untuk mendorong perusahaan mampu bersaing dalam persaingan global
yang semakin ketat, pengendalian manajemen merupakan syarat mutlak yang
harus dilakukan para manajer profesional. Tujuan pengendalian manajemen
diantaranya adalah tercapainya kesesuaian dan keharmonisan antara tujuan
organisasi perbankan dengan tujuan manajer pelaksana, tujuan kelompok, maupun
tujuan perorangan dalam organisasi atau lembaga tersebut. Perekrutan dan
penyusunan serta penempatan staf tenaga karja yang efektif, dengan menciptakan
iklim kerja yang kondusif dan sambil memberikan dorongan yang positif,
diharapkan mampu membawa sukses bagi otganisasi perbankan.
Dalam menerapkan pengendalian manajemen, harus terdapat unsur-unsur
yang terbagi dalam kelompok struktur dan proses. Termasuk dalam kelompok
struktur adalah : (1) Struktur organisasi, (2) Jaringan informasi, (3) Sistem
penghargaan (Mulyadi dan Setiawan, 1995 : 5). Sedangkan yang terdapat dalam
kelompok proses adalah : (1) Pemrograman, (2) Penganggaran, (3) Pelaksanaan
dan Pengukuran, (4) Evaluasi Kinerja (Anthony, 1996 : 30 ).
Penerapan unsur-unsur pengendalian manajemen tersebut, ditujukan untuk
mengetahui apakah kegiatan masing-masing unit bisnis telah dilakukan mengarah
pada tujuan yang ditentukan. Pengukuran kegiatan dapat dilihat dengan
membandingkan tujuan yang diinginkan dengan prestasi yang telah dicapai oleh
unit bisnis atau pusat pertanggungjawaban. Prestasi adalah suatu keadaan yang
menunjukan tingkatan keberhasilan kegiatan manajemen, dalam istilah yang lebih
populer saat ini disebut dengan kinerja (performance) yang merupakan penilaian
baik bagi setiap individu karyawan maupun untuk para eksekutif/manajer. Oleh
3

karena itu pengendalian manajemen perlu dirancang secara sistematis dan
dijalankan secara periodik untuk dapat menghasilkan suatu penilaian yang
obyektif dan adil. Karena penilaian kinerja tersebut akan bermanfaat bagi
karyawan ataupun manajer yang dinilai prestasi kerjanya, maupun akan
bermanfaat bagi organisasi atau lembaganya, berkaitan dengan kelangsungan
hidup perbankan secara menyeluruh.
Di samping itu dengan penilaian kinerja akan ada kaitannya dengan
kontraprestasi serta untuk menyadarkan dan meyakinkan bagi manajer maupun
karyawan mengenai pentingnya tindakan korelasi-perbaikan atas pekerjaan-
pekerjaan yang telah dilakukan. Manajer juga akan dapat menilai kepuasan kerja
para karyawan atas pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, misalnya
pengembangan karier, promosi jabatan, penyesuaian gaji/insentif dan sebagainya.
Penilaian kinerja itu penting karena berkaitan dengan imbalan,
kontraprestasi, reward, sanksi atau hukuman, tergantung prestasi kerja yang
dicapainya. Pemberian imbalan/kontraprestasi, sanksi yang sesuai, tepat seimbang
dengan prestasi kerjanya, akan dapat mendorong/menumbuhkan motivasi kerja
yang tinggi dan akhirnya menimbulkan kepuasan kerja, selanjutnya dapat
menumbuhkan komitmen kerjasama organisasi dengan baik dan sehat.
Dengan komitmen yang tinggi, berarti seseorang tersebut memiliki usaha
yang secara sungguh-sungguh, serta ada keterkaitan untuk melaksanakan
program-program guna mencapai anggaran yang telah disepakati bersama.
Tercapainya target suatu anggaran yang telah disepakati adalah merupakan suatu
prestasi untuk kerja sendiri, karena anggaran mencakup seluruh kegiatan dan
tujuan organisasi.
Untuk mengurangi atau bahkan untuk menghilangkan rasa dan sikap
keragu-raguan dalam bertindak maupun dalam pengambilan keputusan, perlu
didukung adanya informasi yang relevan lagi memadai serta komitmen yang
tinggi juga partisipasi yang sungguh-sungguh. Disamping itu informasi yang
relevan dengan pekerjaan dapat memperbaiki kinerja, sebab dapat memberikan
atau dapat dipakai untuk memprediksi keadaan ketidakpastian lebih tepat sehingga
4

memungkinkan untuk memiliki suatu kesempatan yang efektif, memudahkan
dalam pengambilan keputusan.
Rochman Ari (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Sistem
Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial di BPR di Wilayah Kerja
Bank Indonesia di Surakarta menyimpulkan bahwa: 1) Variabel management of
uncertainly, efficiency, goal congruence, employee discretion, innovation
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial, sedangkan variabel
risk tolerance berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja manajerial 2)
Variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja manajerial adalah variabel
efficiency. Dari uraian diatas penulis mengambil judul: PENGARUH
STRUKTUR SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN DAN PROSES
SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN TERHADAP KINERJA
MANAJERIAL PADA BANK JATIM CABANG JEMBER DAN KANTOR
CABANG PEMBANTU.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah struktur sistem
pengendalian manajemen dan proses sistem pengendalian manajemen
berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada Bank Jatim Cabang Jember dan
kantor cabang pembantu ?

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui struktur sistem pengendalian
manajemen dan proses sistem pengendalian manajemen berpengaruh atau tidak
terhadap kinerja manajerial pada Bank Jatim Cabang Jember dan kantor cabang
pembantu.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
5




a. Bagi Peneliti dan Akademisi
Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi
kemajuan akademisi dan dapat dijadikan bahan acuan bagi penelitian
selanjutnya dengna topik yang sama.
b. Bagi Instansi yang Bersangkutan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dan
sumbangan yang bermanfaat tentang pengaruh dari sistem pengendalian
manajemen terhadap kinerja manajerial perusahaan
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dari penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi peneliti-
peneliti selanjutnya untuk masalah serupa.











6

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Sistem Pengendalian Manajemen
2.1.1.1 Pengertian Sistem
Pengertian sistem menurut Abdul Halim, Achmad Tjahjono, dan Muh.
Fakhri Husein (2003:3) adalah sebagai berikut: Sistem adalah suatu kegiatan
yang telah ditentukan caranya dan biasanya dilakukan berulang-ulang. Menurut
Anthony dan Govindarajan yang dialihbahasakan oleh F.X. Kurniawan
Tjakrawala (2005:7), pengertian sistem yaitu: Sebuah sistem merupakan suatu
cara tertentu dan biasanya berulang untuk melaksanakan suatu atau serangkaian
aktivitas. Dalam kegiatan suatu organisasi, banyak tindakan manajemen yang
tidak sistematis. Keadaan tidak memungkinkan bagi seorang manajer untuk
menggunakan aturan sistem yang telah ditetapkan, sehingga manajer
menggunakan pertimbangan pribadinya dalam bertindak. Kegiatan seperti ini
biasanya berkaitan dengan interaksi antara manajer yang satu dengan yang lainnya
dan manajer dengan bawahannya. Ketepatan sistem itu sendiri akhirnya
tergantung pada kemampuan manajer mengatur seseorang, tidak lagi berdasarkan
aturan yang ditentukan oleh sistem tersebut.
2.1.1.2 Pengertian Pengendalian
Pengendalian berkaitan erat dengan fungsi manajemen, dimana fungsi ini
diawali dari perencanaan dan diikuti dengan pengendalian agar tujuan perusahaan
tercapai dengan efektif dan efisien. Fungsi manajemen dimulai dari perencanaan,
yaitu penetapan tujuan perusahaan secara umum. Langkah selanjutnya adalah
menentukan langkah apa dan bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan.
Kebijakan-kebijakan yang harus diambil oleh manajemen untuk mencapai tujuan
perusahaan biasa disebut dengan strategi. Setelah strategi diterapkan, manajemen
perusahaan membutuhkan keyakinan bahwa operasi perusahaan telah diarahkan
sesuai dengan tujuan perusahaan dan dilaksanakan dengan menggunakan strategi
yang tepat. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai dengan efektif dan efisien,
7

manajemen harus memerlukan suatu proses yang disebut pengendalian.
Pengendalian menurut Hansen & Mowen yang direvisi oleh Abdul Halim,
Achmad Tjahjono, dan Muh. Fakhri Husein (2003:4) adalah sebagai berikut:
Pengendalian adalah proses penetapan standar, dengan menerima umpan balik
berupa kinerja sesungguhnya, dan mengambil tindakan yang diperlukan jika
kinerja sesungguhnya berbeda secara signifikan dengan apa yang telah
direncanakan.

2.1.1.2.1 Elemen-elemen Sistem Pengendalian
Suatu sistem pengendalian mempunyai beberapa elemen yang
memungkinkan pengendalian berjalan dengan baik. Elemen-elemen sistem
pengendalian menurut Anthony & Govindarajan yang dialihbahasakan oleh F.X.
Kurniawan Tjakrawala (2005:3), adalah:
a) Pelacak (detector) atau sensor yakni sebuah perangkat yang mengukur apa
yang sesungguhnya terjadi dalam proses yang sedang dikendalikan.
b) Penaksir (assessor) yakni suatu perangkat yang menentukan signifikansi
dari peristiwa aktual dengan membandingkannya dengan beberapa standar
atau ekspektasi dari apa yang seharusnya terjadi.
c) Effector yakni suatu perangkat (yang sering disebut feedback) yang
mengubah perilaku jika assessor mengindikasikan kebutuhan yang perlu
dipenuhi.
d) Jaringan Komunikasi yakni alat yang mengirim informasi antara detector
dan assessor dan antara assessor dan effector

2.1.1.3 Pengertian Manajemen
Salah satu pengertian manajemen adalah seni mencapai tujuan melalui
tangan orang lain. Pengertian yang lain adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian pekerjaan anggota organisasi,
serta pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Sebuah organisasi terdiri dari sekelompok orang yang bekerja bersama-sama
untuk mencapai tujuan tertentu bersama. Fungsi-fungsi manajemen
8

menurutStephen P. Robbins dan Mary Coulter yang dialihbahasakan oleh T.
Hermaya dan Harry Slamet (2004:8) adalah sebagai berikut:
a) Fungsi Perencanaan (Planning), yaitu fungsi manajemen yang mencakup
proses menentukan tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang harus
melakukan, bagaimana cara mengelompokkan tugas-tugas itu, siapa harus
melapor ke siapa, dan dimana keputusan harus dibuat.
b) Fungsi Pengorganisasian (Organizing), yaitu fungsi manajemen yang
mencakup proses memotivasi bawahan, mempengaruhi individu atau tim
sewaktu mereka bekerja, memiliki saluran komunikasi yang paling efektif,
dan memecahkan dengan berbagai cara masalah perilaku karyawan.
c) Fungsi Kepemimpinan (Actuating), yaitu fungsi manajemen yang
mencakup proses memantau kinerja aktual, membandingkan aktual dengan
standar, dan membuat koreksinya, jika perlu.
d) Fungsi Pengendalian (Controlling), yaitu fungsi manajemen yang
mencakup proses mendefinisikan sasaran, menetapkan strategi untuk
mencapai sasaran itu dan menyusun rencana untuk mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan sejumlah kegiatan.
Pengertian Proses Manajemen menurut Stephen P. Robbins & Mary
Coulter yang dialihbahasakan oleh T. Hermaya dan Harry Slamet (2004:8) yaitu:
Proses manajemen adalah serangkaian keputusan dan kegiatan kerja yang sedang
terjadi yang dialami oleh para manajer sewaktu mereka merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan.

2.1.1.4 Pengertian Pengendalian Manajemen
Pengendalian manajemen merupakan proses untuk memotivasi dan
memberi semangat anggota organisasi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Pengendalian manajemen juga
merupakan suatu proses untuk mendeteksi dan mengoreksi kesalahan- kesalahan
unjuk kerja yang tidak disengaja dan ketidakberesan yang disengaja.


9

2.1.1.4.1 Jenis Pengendalian Manajemen
Menurut jenisnya, pengendalian manajemen dapat dikelompokkan dalam
lima bagian, yaitu:
a) Pengendalian Preventif (Preventive Controls)
Yaitu pengendalian yang dilakukan sebagai upaya untuk mencegah
terjadinya penyimpangan, sebagai upaya antisipasi manajemen sebelum
terjadinya masalah yang tidak diinginkan.
b) Pengendalian Detektif (Detective Controls)
Yaitu pengendalian yang menekankan pada upaya penemuan kesalahan
yang mungkin terjadi.
c) Pengendalian Korektif (Corrective Controls)
Merupakan upaya mengoreksi penyebab terjadinya masalah yang
diidentifikasi melalui pengendalian detektif, sebagai antisipasi agar
kesalahan yang sama tidak berulang di masa yang akan datang.
d) Pengendalian Langsung (Directive Controls)
Pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatan sedang berlangsung,
dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.
e) Pengendalian Kompensatif (Compensative Controls)
Yaitu upaya penguatan pengendalian karena diabaikannya suatu aktivitas
pengendalian.
Pada perusahaan yang relatif kecil, pimpinan perusahaan dapat
melaksanakan pengelolaan kegiatan perusahaan secara langsung. Pimpinan dapat
secara langsung merencanakan dan mengendalikan pelaksanaannya. Dengan
semakin berkembangnya perusahaan, pimpinan tidak akan mampu lagi mengelola
perusahaan sendirian. Untuk itu dia memerlukan bantuan staf lain untuk
melaksanakan sebagian fungsinya dengan cara delegasi wewenang kepada staf
tersebut. Untuk memastikan bahwa operasi perusahaan telah berjalan sesuai
dengan rencana maka diperlukan pengendalian manajemen. Pengendalian
manajemen dalam suatu perusahaan melibatkan beberapa macam aktivitas, seperti
perencanaan (planning) yang berarti apa yang harus dilakukan oleh perusahaan.
Langkah selanjutnya adalah koordinasi (coordinating) dengan beberapa bagian
10

yang ada dalam perusahaan untuk kepentingan pencapaian tujuan perusahaan.
Setelah koordinasi dilaksanakan kemudian mengkomunikasikan informasi kepada
semua tingkatan manajemen yang ada di dalam perusahaan. Pada setiap periode,
dilaksanakan evaluasi dan strategi apa yang harus dilakukan. Dengan demikian
pengendalian manajemen dilakukan untuk menjamin bahwa semua strategi yang
telah ditetapkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan. Definisi
pengendalian manajemen menurut Robert N. Anthony dan Vijay Govindarajan
yang dialihbahasakan oleh F.X Kurniawan Tjakrawala (2005:8) adalah sebagai
berikut: Pengendalian manajemen merupakan proses di mana para manajer
mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mengimplementasikan strategi
organisasi. Pengendalian manajemen terdiri atas bermacam-macam kegiatan,
diantaranya:
a) Merencanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh organisasi
b) Mengkoordinasikan kegiatan dari beberapa bagian organisasi
c) Mengkomunikasikan informasi
d) Mengevaluasi informasi
e) Memutuskan tindakan apa yang seharusnya diambil jika perlu
f) Mempengaruhi orang-orang untuk mengubah perilaku mereka
Dari definisi-definisi tersebut di atas, diketahui bahwa pengendalian
manajemen merupakan suatu proses yang digunakan oleh manajemen untuk
menjamin bahwa perusahaan yang dikelolanya telah melaksanakan strategi secara
efektif dan efisien. Dalam melaksanakan pengendaliannya, manajemen
menggunakan metode dan prosedur termasuk di dalamnya sistem pengendalian
manajemen yang terdiri atas struktur organisasi, wewenang, tanggung jawab, dan
informasi untuk melaksanakan pengendalian yang memastikan bahwa organisasi
telah berfungsi untuk mencapai tujuan. Tujuan pengendalian manajemen adalah
menjamin bahwa strategi yang dijalankan sesuai dengan tujuan organisasi yang
akan dituju. Jadi, apabila seorang manajer menemukan cara yang lebih baik dalam
operasi sehari-harinya, pengendalian manajemen seharusnya tidak melarang
manajer tersebut melakukan dengan cara yang menurut dia benar. Pengendalian
manajemen merupakan alat bagi manajemen dalam mengimplementasikan
11

rencana dan strategi dengan cara mempengaruhi anggota organisasi untuk
mencapai tujuan organisasi. Untuk mengembangkan pengendalian manajemen
yang efektif, organisasi harus memiliki tujuan, strategi, program dan kebijakan
yang jelas dan realistis. Pengendalian manajemen yang efektif pada dasarnya
memerlukan prosedur-prosedur yang tepat, sehingga memungkinkan bagi manajer
untuk melakukan pengawasan dan pengevaluasian atas masukan dan keluaran
secara optimum.
Dengan demikian, manajemen memerlukan suatu sistem untuk menangani
proses yang digunakan oleh manajemen untuk menjamin bahwa organisasi yang
dikelolanya telah melaksanakan strateginya secara efektif dan efisien, sistem
tersebut dikenal dengan istilah dengan Sistem Pengendalian Manajemen.

2.1.1.5 Pengertian Sistem Pengendalian Manajemen
2.1.1.5.1 Definisi Sistem Pengendalian Manajemen
Definisi Sistem Pengendalian Manajemen menurut R.A Supriyono
(2000:27): Sistem pengendalian manajemen adalah sistem yang digunakan oleh
manajemen untuk mempengaruhi anggota organisasinya agar melaksankan
strategi dan kebijakan organisasi secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai
tujuan organisasi, sistem pengendalian manajemen terdiri atas struktur dan
proses. Suatu sistem diciptakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem
Pengendalian Manajemen dirancang untuk mencapai tujuan perusahaan yang
ditetapkan dalam proses yang disebut perencanaan stratejik. Dalam proses ini
manajemen menetapkan tujuan perusahaan dan memutuskan berbagai strategi
untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mencapai tujuan melalui berbagai strategi
yang telah ditetapkan, manajemen memerlukan suatu sistem untuk
mengalokasikan penggunaan berbagai sumber ekonomi perusahaan secara efektif
dan efisien. Secara singkat dikatakan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen
merupakan suatu sistem yang digunakan oleh para manajer untuk mengarahkan
anggota organisasi agar melaksanakan kegiatan secara efektif dan efisien sesuai
strategi pokok yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran. Aktivitas
Sistem Pengendalian Manajemen meliputi aktivitas untuk merencanakan tujuan
12

yang hendak dicapai dan strategi yang harus dilaksanakan serta mengendalikan
dan mengarahkan operasi organisasi sesuai rencana dan tujuan perusahaan. Jadi,
Sistem Pengendalian Manajemen adalah merupakan suatu sistem yang dirancang
untuk menjamin bahwa organisasi telah melaksanakan strateginya secara efektif
dan efisien melalui para manajernya.

2.1.1.5.2 Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Struktur Sistem Pengendalian Manajemen merupakan komponen yang
saling berkaitan satu dengan lainnya yang secara bersama-sama digunakan untuk
mewujudkan suatu sistem. Struktur Sistem Pengendalian Manajemen dalam suatu
organisasi didasarkan pada tanggungjawab atas jabatannya disebut dengan
responsibility centers (pusat-pusat pertanggungjawaban). (Mulyadi, 2001 : 3).
Definisi pusat pertanggungjawaban menurut Abdul Halim, Achmad
Tjahjono, dan Muh. Fakhri Husein (2003:74): Pusat pertanggungjawaban
adalah satu unit organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer
pertanggungjawaban.
Jenis-jenis pusat pertanggungjawaban menurut Abdul Halim, Achmad
Tjahjono, dan Muh. Fakhri Husein (2003:74), adalah sebagai berikut:
a) Pusat Pendapatan, merupakan pusat pertanggungjawaban yang manajernya
diukur prestasinya berdasarkan pendapatannya. Manajer pusat pendapatan
tidak dimintai pertanggungjawabannya mengenai masukannya, karena dia
tidak mempengaruhi pemakaian masukan tersebut. Pusat pendapatan
bertanggung jawab terhadap pencapaian pendapatan yang ditargetkan
tanpa harus dibebani tanggung jawab pencapaian pendapatan yang
ditargetkan tanpa harus dibebani tanggung jawab mengenai biaya yang
terjadi di departemennya. Karena biaya seringkali tidak mempunyai
hubungan dengan pendapatan yang diperoleh oleh departemen tersebut.
Pada umumnya, biaya-biaya yang terjadi dalam pusat pendapatan
merupakan biaya kebijakan, maka pusat pandapatan umumnya juga
merupakan pusat biaya kebijakan.
b) Pusat Biaya, merupakan pusat pertanggungjawaban yang manajernya
13

diukur prestasinya atas dasar biayanya (nilai masukannya). Setiap pusat
pertanggungjawaban mengkonsumsi masukan dan menghasilkan
keluarannya tidak dapat atau tidak perlu diukur dalam bentuk pendapatan.
Hal ini disebabkan karena kemungkinan keluaran pusat biaya tersebut
tidak bertanggung jawab atas keluaran pusat biaya tersebut.
c) Pusat Laba, merupakan pusat pertanggungjawaban yang manajernya
diukur dari selisih antara pendapatan dengan biaya untuk memperoleh
pendapatan tersebut. Dalam pusat laba, masukan dan keluarannya diukur
dalam satuan uang untuk menghitung laba yang merupakan dasar
pengukuran prestasi manajer. Dalam akuntansi keuangan, pendapatan
diakui dan dicatat pada saat terjadi transaksi penjualan. Suatu pusat
pertanggungjawaban merupakan pusat laba jika manajemen menghendaki
untuk mengukur keluaran pusat pertanggungjawaban tersebut dalam
satuan uang dan manajer pusat pertanggungjawaban tersebut diukur
prestasinya atas dasar selisih antara pendapatan dengan biayanya.
d) Pusat Investasi, adalah pusat laba yang prestasi manajernya diukur dengan
menghubungkan laba yang diperoleh pusat pertanggungjawaban tersebut
dengan investasi yang bersangkutan. Ukuran prestasi manajer pusat
investasi dapat berupa rasio antara laba dengan investasi yang digunakan
untuk memperoleh laba.

2.1.1.5.3 Proses Sistem Pengendalian Manajemen
Proses merupakan seperangkat tindakan yang dilakukan untuk memastikan
bahwa organisasi bekerja untuk mencapai tujuannya melibatkan banyak
komunikasi. Komunikasi ini dapat bersifat formal dan informal. Komunikasi
informal dapat berupa percakapan, memo, pertemuan, dan lain-lain. Komunikasi
formal meliputi tahap-tahap yang terstruktur yang saling terkait. Menurut Abdul
Halim, Achmad Tjahjono, dan Muh. Fakhri Husein (2003:15) menyatakan bahwa
proses sistem pengendalian manajemen meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
a) Perencanaan Strategi (Pemrograman), adalah proses memutuskan
program-program utama yang akan dilakukan suatu organisasi dalam
14

rangka implementasi strategi dan menaksir jumlah sumber daya yang akan
dialokasikan untuk tiap-tiap program jangka panjang beberapa tahun yang
akan datang. Keluaran dari proses perencanaan strategi berbentuk
dokumen yang dinamakan strategic plan (atau sering juga disebut
program). Informasi tentang program meliputi beberapa tahun yang akan
datang, biasanya meliputi tiga atau lima tahun. Dalam perusahaan yang
berorientasi laba, setiap produk utama atau lini produk disebut sebagai
program. Sedangkan dalam organisasi nirlaba, bentuk utama jasa
organisasi yang ditawarkan merupakan suatu program.
b) Penyusunan Anggaran, adalah proses pengoperasionalan rencana dalam
bentuk pengkuantifikasian, biasanya dalam unit moneter, untuk kurun
waktu tertentu. Hasil dari penyusunan anggaran adalah anggaran.
Anggaran merupakan rencana yang diungkapkan secara kuantitatif,
biasanya dalam unit moneter, meliputi periode waktu tertentu, biasanya
satu tahun. Program atau strategic plan yang telah disetujui pada tahap
sebelumnya, merupakan titik awal dalam mempersiapkan anggaran.
Anggaran menunjukkan jabaran dari program dengan menggunakan
informasi terkini. Dalam anggaran, program dihubungkan terhadap pusat
pertanggungjawaban, bukannya program secara individual. Anggaran
menggambarkan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh setiap manajer yang
bertanggungjawab terhadap sebuah program atau bagian dari program.
Proses penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan suatu proses
negosiasi antara manajer pusat pertanggungjawaban dan atasannya.
c) Pelaksanaan dan Pengukuran. Selama tahun anggaran manajer melakukan
program atau bagian dari program yang menjadi tanggung jawabnya.
Laporan yang dibuat hendaknya menunjukkan dapat menyediakan
informasi tentang program dan pusat pertanggungjawaban. Laporan pusat
pertanggungjawaban juga harus menunjukkan informasi untuk mengukur
kinerja keuangan maupun non keuangan, informasi internal maupun
informasi eksternal.
d) Evaluasi Kinerja. Kegiatan terakhir dari proses pengendalian manajemen
15

adalah menilai kinerja manajer pusat pertanggungjawaban. Prestasi kerja
pada intinya bisa dilihat dari efisien dan efektif tidaknya suatu pusat
pertanggungjawaban menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi anggaran
dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.1.2 Kinerja Manajerial
Kinerja adalah kualitas dan kuantitas dari pekerjaan yang diselesaikan oleh
individu maupun kelompok dalam dunia kerja. Kinerja manajerial adalah
penilaian atas hasil pelaksanaan peran manajer yang dijalankan dalam organisasi
yang diukur melalui kegiatan-kegiatan manajer yang meliputi perencanaan,
pengkoordinasian, pengaturan staf, pengawasan, dan evaluasi (Mulyadi, 2003).
` Kinerja manajerial yang diperoleh manajer merupakan salah satu faktor
yang dapat dicapai untuk meningkatkan efektivitas organisasi. Informasi tentang
kinerja manajerial bawahan sangat diperlukan oleh manajemen puncak untuk
memotivasi dan menentukan sistem penghargaan terhadap manajer agar mampu
mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien.

2.1.3 Aspek-aspek Kinerja Manajerial
Terdapat delapan aspek kinerja manajerial yang harus diperhatikan oleh
manajer, antara lain (Margareth, 2005:17-19):
a) Perencanaan adalah menentukan tujuan, kebijakan, langkah-langkah dan
aksi seperti penjadwalan kerja, anggaran dan pemrograman.
b) Investigasi adalah mengumpulkan dan menyiapkan informasi dalam
bentuk rekaman, laporan dan data-data, mengukur hasil output,
menyimpan hasil, dan melakukan analisa.
c) Koordinasi adalah pertukaran informasi dengan orang-orang di
departemen lain termasuk orang-orang yang dibawahinya dalam rangka
menghubungkan dan menyesuaikan prosedur, kebijakan dan program.
16

d) Evaluasi adalah penyerahan dan pemeriksaan proposal maupun laporan
hasil penyelidikan (pemeriksaan karyawan dilihat dari penggunaan
anggaran dan inspeksi produk).
e) Supervisi adalah mengarahkan, memimpin, dan mengembangkan orang-
orang yang bekerja dibawah departemen tersebut.
f) Pemilihan staf adalah mempertahankan kekuatan pekerjaan di bidang
yang menjadi tanggungjawab departemen tersebut (menyeleksi dan
mempromosikan orang-orang dibawah departemen tersebut).
g) Negosiasi adalah membeli, menjual, maupun mengadakan kontrak untuk
barang-barang maupun layanan jasa (mengadakan kontrak dengan
supplier, mengadakan penawaran kolektif).
h) Perwakilan adalah memajukan ketertarikan-ketertarikan umum organisasi
melalui pidato, konsultasi maupun kontak individu atau kelompok diluar
perusahaan.

2.2 Penelitian Terdahulu
Wibawa, Rochman Ari (2010) melakukan penelitian tentang pengaruh
sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial di BPR di wilayah
kerja Bank Indonesia di Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti
empiris pengaruh variabel sistem pengendalian manajemen (ditinjau dari risk
tolerance, management of uncertainly, efficiency, goal congruence, employee
discretion, innovation) terhadap kinerja manajerial Bank Perkreditan Rakyat di
wilayah kerja Bank Indonesia Surakarta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1)
Variabel management of uncertainly, efficiency, goal congruence, employee
discretion, innovation berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial,
sedangkan variabel risk tolerance berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja
manajerial 2) Variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja manajerial
adalah variabel efficiency.
Monalestari (2010) melakukan penelitian untuk mengetahui apakah sistem
pengendalian manajemen memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
kinerja melalui pendekatan Balance Scorecard. Metode yang digunakan dalam
17

penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan survei.
Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan yang menunjukkan bahwa sistem
pengendalian manajemen memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
kinerja melalui pendekatan Balance Scorecard.
2.3 Perumusan Hipotesis
Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:










Dari gambar diatas, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini yang
termasuk ke dalam variabel independen adalah Struktur Sistem Pengendalian
Manajemen dan Proses Sistem Pengendalian Manajemen. Sedangkan yang
termasuk kedalam variabel dependen adalah Kinerja Manajerial.

2.3.1 Pengaruh Struktur Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja
Manajerial
Menurut Mulyadi (2001:6) struktur dan proses merupakan dua hal yang
membangun sistem pengedalian manajemen. Sistem pengendalian manajemen
menyediakan struktur yang memungkinkan proses perencanaan dan implementasi
rencana dapat dijalankan. Sistem pengendalian manajemen juga menyediakan
berbagai sistem untuk melaksanakan proses perencanaan dan proses implementasi
rencana. Melalui sistem pengendalian manajemen, keseluruhan kegiatan utama
untuk menjadikan perusahaan sebagai institusi pencipta kekayaan dapat
Struktur Sistem
Pengendalian
Manajemen
Kinerja Manajerial
Proses Sistem
Pengendalian
Manajemen
18

dilaksanakan secara terstruktur, terkoordinasi, terjadwal, dan terpadu sehingga
menjanjikan tercapainya tujuan perusahaan dan bertambahnya kekayaan dalam
jumlah yang memadai.
Imas Purnamasari (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa struktur
sistem pengendalian manajemen memiliki hubungan yang kuat dengan kinerja
keuangan. Selanjutnya dari nilai koefisien korelasi yang diperoleh dapat diketahui
keberagaman variabel kinerja keuangan setiap daerah operasi di PT. KAI melalu
nilai ROI ditentukan oleh struktur pengendalian manajemen sebesar 34,57%. Hal
ini mengindikasikan kinerja keuangan setiap periode salah satunya ditentukan
oleh struktur pengedalian manajemen.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
H
1
: Struktur sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap
kinerja manajerial.
2.3.2 Pengaruh Proses Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja
Manajerial
Menurut Anthony and Recce (1999:859), proses sistem pengendalian
manajemen merupakan langkah yang diambil oleh organisasi untuk
mengalokasikan sumber daya dan tujuan organisasi yang terdiri dari pemrograman
(programming), penganggaran (budgeting), pelaksanaan dan pengukuran
(operating and measurement), dan analisa serta pelaporan (reporting and
analyzing).
Masagus Asaari (2005) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh sistem pengendalian manajemen (struktur pengendalian
manajemen dan proses pengendalian manajemen) terhadap kinerja keuangan pada
rumah sakit umum tipe B di propinsi DKI Jakarta mengemukakan bahwa: a)
struktur pengendalian manajemen berpengaruh positif terhadap proses
pengendalian manajemen, b) proses pengendalian manajemen berpengaruh positif
terhadap kinerja keuangan yang ditunjukkan, c) struktur pengendalian manajemen
19

berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, d) struktur pengendalian
manajemen melaui proses pengendalian manajemen berpengaruh positif terhadap
kinerja keuangan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
H
2
: Proses sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap kinerja
manajerial.
















20

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian empiris untuk menguji seberapa besar
pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya dengan menggunakan data
primer, yaitu sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber ahli dan
secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan peneliti
(Indriantoro dan Supomo, 1999). Data yang ada diukur dengan angka dan diolah
dengan prosedur statistik sehingga diperoleh data baru sesuai kebutuhan yang
dapat dijadikan sebagai kesimpulan dalam rangka menjawab hipotesis yang
diajukan.

3.2 Jenis dan Sumber Data
Dalam menganalisis pengaruh sistem pengendalian manajemen terhadap
kinerja manajerial, peneliti menggunakan jenis data primer. Data primer
merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden untuk menjawab
pertanyaan penelitian. Data primer diperoleh melalui survey responden.

3.3 Populasi dan Sampel
Menurut Indriantoro (1999), populasi merupakan sekelompok orang,
kejadian, segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah semua penyelia pada Bank Jatim Cabang
Jember.
Teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh
(sensus). Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah manajer (penyelia)
yang telah bekerja minimal lima (5) tahun pada Bank Jatim cabang Jember.

3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan
teknik kuesioner. Kuesioner disampaikan dan dikumpulkan secara langsung oleh
peneliti kepada responden, dengan pertimbangan peneliti dapat berhubungan
21

langsung dengan responden untuk memberi penjelasan seperlunya mengenai
kuesioner. Selain itu teknik ini memiliki tingkat tanggapan yang relatif tinggi
dibandingkan dengan pendistribusian kuesioner melalui pos (Indriantoro dan
Supomo, 1999).

3.5 Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya
Setiap variabel yang ada dalam penelitian perlu diukur sesuai dengan
kebutuhan penelitian. Penelitian ini menggunakan dua variabel independen yaitu
Struktur Sistem Pengendalian Manajemen dan Proses Sistem Pengendalian
Manajemen serta satu variabel dependen yaitu Kinerja Manajerial. Berikut ini
definisi operasional dari variabel-variabel yang terlibat beserta pengukurannya.

3.5.1 Variabel Independen
Variabel independen, yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya variabel yang lainnya (variabel
dependen).Variabel independen dalam penelitian ini adalah Sruktur Sistem
Pengendalian Manajemen dan Proses Sistem Pengendalian Manajemen. Struktur
Sistem Pengendalian Manajemen dalam suatu organisasi didasarkan pada
tanggungjawab atas jabatannya disebut dengan pusat-pusat pertanggungjawaban
(Mulyadi, 2001 : 3).

3.5.1.1 Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Struktur Sistem Pengendalian Manajemen merupakan komponen yang
saling berkaitan satu dengan lainnya yang secara bersama-sama digunakan untuk
mewujudkan suatu sistem (Anthony dan Govindarajan, 2001 : 132).
Pengukuran Struktur Sistem Pengendalian Manajemen dalam penelitian
ini menggunakan kuesioner yang meliputi enam instrumen yang masing-masing
instrumen diukur dengan menggunakan lima skala Likert. Poin (1) menunjukkan
ya dan sangat jelas, poin (2) menunjukkan ya dan jelas, poin (3) menunjukkan ya
dan cukup jelas, poin (4) menunjukkan ya tetapi kurang jelas, sedangkan poin (5)
menunjukkan tidak.
22

3.5.1.2 Proses Sistem Pengendalian Manajemen
MenurutAbdul Halim, Achmad Tjahjono, dan Muh. Fakhri Husein
(2003:15),proses merupakan seperangkat tindakan yang dilakukan untuk
memastikan bahwa organisasi bekerja dengan baik untuk mencapai tujuannya.
Pengukuran Proses Sistem Pengendalian Manajemen dalam penelitian ini
menggunakan sepuluh instrumen yang masing-masing instrumen diukur dengan
menggunakan lima skala Likert. Poin (1) menunjukkan ya dan sangat jelas, poin
(2) menunjukkan ya dan jelas, poin (3) menunjukkan ya dan cukup jelas, poin (4)
menunjukkan ya tetapi kurang jelas, sedangkan poin (5) menunjukkan tidak.

3.5.2 Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dijelaskan dan dipengaruhi
oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja
manajerial.

3.5.2.1 Kinerja Manajerial
Menurut Mulyadi (2003), kinerja manajerial adalah penilaian atas hasil
pelaksanaan peran manajer yang dijalankan dalam organisasi yang diukur melalui
kegiatan-kegiatan manajer yang meliputi perencanaan, investigasi,
pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staf, negosiasi, dan
perwakilan.
Pengukuran kinerja manajerial dalam penelitian ini meliputi delapan
instrumen seperti yang telah disebutkan di atas. Instrumen penelitian ini
dikembangkan oleh Mahoney (1963) dalam Farisaturrabbani (2007). Masing-
masing bagian akan diukur dengan menggunakan lima (5) skala Likert. Poin satu
(1) menunjukkan sangat rendah, poin dua (2) menunjukkan rendah, poin tiga (3)
menunjukkan cukup, poin empat (4) menunjukkan tinggi, dan poin lima (5)
menunjukkan sangat tinggi.



23

3.6 Analisis Data
3.6.1 Uji Hipotesis
Dalam penelitianini, analisis data menggunakan pendekatan Partial Least
Square (PLS) dengan menggunakan software Smart PLS. PLS adalah analisis
persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat
melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural
(Jogiyanto, 2011). Menurut Ghozali dalam Zakya (2011), PLS merupakan
pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis
kovarianmenjadi berbasis varian.SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji
kausalitas atau teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model.
PLS merupakan metode analisis yang powerfull (Wold dalam Zakya,
2011) karena tidak didasarkan pada banyak asumsi.Misalnya,data harus
terdistribusi normal dan sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya
hubungan antar variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis construct yang
dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif. Hal ini tidak dapat dilakukan
oleh SEM yang berbasis kovarian karena akan menjadiunidentified model.
Pendekatan PLS adalah distribution free (tidak mengasumsikan data berdistribusi
tertentu, dapat berupa nominal, kategori, ordinal, interval maupun rasio). PLS
tepat untuk model prediksi, dasar teorilemah (membangun teori
baru),mengabaikan asumsi klasik sehingga PLS lebih kuat secara praktikal karena
lebih efisien dalam proses eksekusi. Untuk mengetahui persamaan linear yang
digunakan dalam membentuk variabel yang digunakan dalam penelitian, berikut
persamaan regresi yang dapat dibentuk:

Y=a+b
1
X
1
+b
2
X
2
+e
Keterangan: Y = Kinerja Manajerial
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
X
1
= Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
X
2
= Proses Sistem Pengendalian Manajemen
24

e = Error
Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari dua tahap:
a. Menggambarkan measurement model/outer model
Measurement model menunjukkan hubungan variabel laten dengan
indikatornya.
1) Convergent validity : menggambarkan korelasi antara construct
dengan indikatornya. Semakin besar korelasinya semakin baik.
Convergent validity dilihat dari nilai outer loadings-nya. Korelasi
dianggap baik jika nilai outer loadings lebih besar dari 0,5.
2) Discriminant validity : menggambarkanvaliditas construct yang
digunakan dalam Measurement model diukur dengan :penelitian.
Construct dianggap valid jika nilai AVE lebih besar dari 0,5.
3) Composite reliability : menggambarkan kelayakan construct yang
digunakan dalam penelitian. Nilai composite reliability yang baik
memiliki nilai 0,70.
b. Menggambarkan structural model atau inner model
Structural model menunjukkan hubungan antarvariabel laten.Structural
model diuji dengan:
1) Analisis jalur (path analysis): menggambarkan pengaruh dan
signifikansi antarvariabel laten dalam penelitian. Nilai path
analysis dapatdilihat dari hasil path coefficients dan t-values untuk
signifikansi model prediksi.
2) Goodness of fit: menggambarkan variabilitas dari variabel laten
dalam model penelitian. Nilai goodness of fit diperoleh dari
koefisien determinasi (R
2
). R
2
merupakan ukuran tingkat
variabilitas perubahan variabel independen terhadap variabel
dependen.




25

3.7 Konsep Model Penelitian



























Struktur Sistem
Pengendalian
Manajemen
Kinerja Manajerial
Proses Sistem
Pengendalian
Manajemen
26

BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Profil Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur
Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, yang dikenal dengan sebutan
Bank JATIM, didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961 di Surabaya. Landasan
hukum pendirian adalah Akte Notaris Anwar Mahajudin Nomor 91 tanggal 17
Agustus 1961 dan dilengkapi dengan landasan operasional Surat Keputusan
Menteri Keuangan Nomor BUM.9-4-5 tanggal 15 Agustus 1961.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang
Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, pada tahun 1967 dilakukan
penyempurnaan melalui Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur
Nomor 2 Tahun 1976 yang menyangkut Status Bank Pembangunan Daerah dari
bentuk Perseroan Terbatas (PT) menjadi Badan Usaha Milik Daerah(BUMD).
Secara operasional dan seiring dengan perkembangannya, maka pada
tahun 1990 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur meningkatkan statusnya dari
Bank Umum menjadi Bank Umum Devisa, hal ini ditetapkan dengan Surat
Keputusan Bank Indonesia Nomor 23/28/KEP/DIR tanggal 2 Agustus 1990.
Untuk memperkuat permodalan, maka pada tahun 1994 dilakukan
perubahan terhadap Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1992 tanggal 28 Desember
1992 menjadi Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 26
Tahun 1994 tanggal 29 Desember 1994 yaitu merubah Struktur
Permodalan/Kepemilikan dengan diijinkannya Modal Saham dari Pihak Ketiga
sebagai salah satu unsur kepemilikan dengan komposisi maksimal 30%.
Dalam rangka mempertahankan eksistensi dan mengimbangi tuntutan
perbankan saat itu, maka sesuai dengan Rapat Umum Pemegang Saham Tahun
Buku 1997 telah disetujui perubahan bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan
Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Badan Hukum Bank
Pembangunan Daerah, maka pada tanggal 20 Maret 1999 Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur telah mensahkan
27

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank
Pembangunan Daerah Jawa Timur dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi
Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.
Sesuai dengan Akte Notaris R. Sonny Hidayat Yulistyo, S.H. Nomor 1
tanggal 1 Mei 1999 yang telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri
Kehakiman Nomor C2-8227.HT.01.01.Th tanggal 5 Mei 1999 dan telah
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 25 Mei 1999 Nomor
42 Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3008, selanjutnya secara
resmi menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.
Visi dan Misi yang dimiliki oleh Bank Jatim adalah:
Visi
1. Menjadi bank yang sehat berkembang secara wajar
2. Memiliki manajemen dan sumber daya manusia yang profesional
Misi
1. Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta ikut mengembangkan
usaha kecil dan menengah
2. Memperoleh laba optimal

4.2 Deskripsi Responden Penelitian
Deskripsi responden diperlukan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan
responden yang digunakan dalam penelitian.adapun deskripsi responden yang
digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi responden berdasarkan jenis
kelamin yang digunakan untuk mengetahui prosentase responden laki laki dan
perempuan, dan deskripsi responden berdasarkan tingkat pendidikan yang
digunakan untuk mengetahui responden berdasarkan tingkat pendidikan.

4.2.1 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini
dimaksudkan untuk mengidentifikasi responden yang menjadi obyek penelitian
berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan hasil pengumpulan data primer, diketahui
jumlah responden berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut:
28

Tabel 4.1 Jumlah Dan Prosentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Prosentase
1 Laki-Laki 9 50%
2 Perempuan 9 50%
Jumlah 18 100%
Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa jumlah keseluruhan
responden yang berjenis kelamin laki laki adalah 9 orang atau dengan kata lain
50% dari keseluruhan responden adalah responden yang berjenis kelamin laki
laki, sedangkan jumlah responden perempuan adalah 9 orang atau dengan kata
lain 50% dari keseluruhan responden adalah responden yang berjenis kelamin
perempuan. Hal ini dapat diketahui bahwa proporsi responden laki laki dan
perempuan berimbang.

4.2.2 Deskripsi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Deskripsi responden berdasarkan tingkat pendidikan dimaksudkan untuk
mengidentifikasi responden berdasarkan pendidikan responden. Berdasarkan hasil
pengumpulan data primer, dapat diketahui jumlah responden berdasarkan tingkat
pendidikannya adalah sebagi berikut:

Tabel 4.2 Jumlah Dan Prosentase Responden Berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan Jumlah Prosentase
1 S2 2 11.1%
2 S1 16 88.9%
Jumlah 18 100%
Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa terdapat 2 orang responden
atau 11,1% dari keseluruhan responden yang berpendidikan tingkat Strata-2 (S2),
16 orang responden atau 88,9% dari keseluruhan responden yang berpendidikan
29

Strata-1 (S1). Hal ini dapt diketahui bahwa mayoritas responden yang menjadi
obyek dalam penelitian ini berpendidikan Sarjana (S1).

4.3 Analisa Data
4.3.1 Statistik Deskriptif
Hasil analisis statistic deskriptif dengan menggunakan software SPSS 17.0
dapat diketahui sebagai berikut:
1. Variabel Struktur Sistem Pengendalian
Hasil analisis statistic deskriptif dari variabel struktur system pengendalian
adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Struktur Sistem
Pengendalian
x1.1 x1.2 x1.3 x1.4 x1.5 x1.6 x1total
Mean 4,3889 4,1111 4,2222 4,0556 4,3889 4,0556 25,2222
Median 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 25,0000
Mode 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 24,00
SD 0.50163 0.75840 0.42799 0.23570 0.50163 0.80237 2.34033
Range 1,00 3,00 1,00 1,00 1,00 3,00 9,00
Minimum 4,00 2,00 4,00 4,00 4,00 2,00 20,00
Maximum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 29,00
Sum 79,00 74,00 76,00 73,00 79,00 73,00 454,00
Sumber: lampiran 1 (diolah)











3
0

2. Variabel Proses Sistem Pengendalian
Hasil analisis statistik deskriptif pada variabel proses sistem pengendalian disajikan pada tabel berikut:
Table 4.4 Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Proses Sistem Pengendalian
x2.1 x2.2 x2.3 x2.4 x2.5 x2.6 x2.7 x2.8 x2.9 x2.10 x2total
Mean 4,3333 4,0556 4,0000 4,1667 4,2222 4,1111 3,9444 4,0000 3,6667 3,6111 40,3889
Median 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 40,0000
Mode 4,00 4,00 4,00 5,00 4,00 4,00 4,00 4,00 3,00 4,00 39,00
SD 0.59409 0.72536 0.59409 0.92355 0.54832 0.90025 0.99836 0.90749 1.02899 0.60768 4.39437
Range 2,00 2,00 2,00 3,00 2,00 4,00 4,00 4,00 4,00 2,00 17,00
Minimum 3,00 3,00 3,00 2,00 3,00 1,00 1,00 1,00 1,00 3,00 32,00
Maximum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 49,00
Sum 78,00 73,00 72,00 75,00 76,00 74,00 71,00 72,00 66,00 65,00 727,00
Sumber: lampiran 2 (diolah)






3
1

3. Variabel Kinerja Manajerial
Hasil analisa statistik deskriptif untuk variabel kinerja manajerial adalah sebagai berikut:

Table 4.5 Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kinerja Manajerial
y1.1 y1.2 y1.3 y1.4 y1.5 y1.6 y1.7 y1total
Mean 3,7778 3,8333 3,8889 3,7778 3,6111 3,6667 3,8333 26,5556
Median 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 4,0000 26,5000
Mode 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 27,00
SD 0.64676 0.51450 0.67640 0.64676 0.91644 0.68599 0.78591 3.60102
Range 2,00 2,00 3,00 2,00 4,00 3,00 3,00 19,00
Minimum 3,00 3,00 2,00 3,00 1,00 2,00 2,00 16,00
Maximum 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 35,00
Sum 68,00 69,00 70,00 68,00 65,00 66,00 69,00 478,00

Sumber: lampiran 3 (diolah)


32

4.4 Uji Hipotesis
Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan pendekatan Partial Least
Square (PLS) dengan menggunakan software SmartPLS.PLS adalah analisis
persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat
melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural
(Jogiyanto, 2011). Ada dua pengujian yang dilakukan dengan menggunakan
pendekatan PLS, yaitu uji outer model (uji indikator) dan inner model (uji
struktural).
a. Uji Outer Model (Uji Indikator)
Uji outer model pada prinsipnya adalah menguji indikator terhadap
variabel laten atau dengan kata lain mengukur seberapa jauh indikator itu dapat
menjelaskan variabel latennya. Untuk indikator reflektif seperti yang digunakan
dalam penelitian ini, pengujian dilakukan dengan melihat hasil outer loadings
(convergent validity), discriminant validity, dan composite reliability.
1) Convergent validity
Convergent validity dari uji outer model dapat dilihat dari hasil outer
loadings model penelitian dengan indikator reflektif yang menunjukkan korelasi
antara nilai indikator dengan construct-nya. Indikator individu dianggap validjika
memiliki nilai korelasi di atas 0,70 dan signifikansi t-statistic > 1,96 untuk
hipotesis two tailed. Namun pada riset tahap pengembangan skala, nilai loading
0,50 sampai 0,60 masih dapat diterima. Hasil outer loadings dapat diperoleh
setelah melakukan bootstraping dalam prosedur PLS terhadap model penelitian.
Berikut ini model penelitian setelah dilakukan bootstraping.







33



Gambar 4.1 Hasil Bootstraping Model Penelitian

Tabel 4.6 Hasil outer loadings 1

Original
Sample (O)
Sample Mean
(M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard Error
(STERR)
X1.1 <- Struktur SPM 0.638155 0.617776 0.119132 0.119132
X1.2 <- Struktur SPM 0.923309 0.840841 0.166844 0.166844
X1.3 <- Struktur SPM 0.461204 0.454620 0.226432 0.226432
X1.4 <- Struktur SPM -0.190642 -0.220045 0.153796 0.153796
X1.5 <- Struktur SPM 0.456206 0.382834 0.231452 0.231452
X1.6 <- Struktur SPM 0.925061 0.831144 0.240337 0.240337
X2.1 <- Proses SPM 0.253222 0.199890 0.282930 0.282930
X2.10 <- Proses SPM -0.194899 -0.168248 0.173075 0.173075


34

X2.2 <- Proses SPM 0.131392 0.094457 0.263788 0.263788
X2.3 <- Proses SPM 0.638763 0.587930 0.217901 0.217901
X2.4 <- Proses SPM 0.243667 0.192910 0.323317 0.323317
X2.5 <- Proses SPM 0.863877 0.805901 0.105391 0.105391
X2.6 <- Proses SPM 0.754961 0.711021 0.107071 0.107071
X2.7 <- Proses SPM 0.731047 0.674543 0.121112 0.121112
X2.8 <- Proses SPM 0.842965 0.792976 0.102233 0.102233
X2.9 <- Proses SPM 0.919815 0.874516 0.078809 0.078809
Y1.1 <- Kinerja
Manajerial
0.628695 0.595395 0.184586 0.184586
Y1.2 <- Kinerja
Manajerial
0.794337 0.791941 0.090803 0.090803
Y1.3 <- Kinerja
Manajerial
0.810549 0.775315 0.118247 0.118247
Y1.4 <- Kinerja
Manajerial
0.592613 0.611398 0.083687 0.083687
Y1.5 <- Kinerja
Manajerial
0.691976 0.622243 0.220862 0.220862
Y1.6 <- Kinerja
Manajerial
0.799149 0.780036 0.092078 0.092078
Y1.7 <- Kinerja
Manajerial
0.643952 0.606271 0.203207 0.203207

Berdasarkan tabel di atas, indikator X
1.3
, X
1.4
,X
1.5
, X
2.1,
X
2.2,
X
2.4,
X
2.10,
dan
Y
1.4
ternyata tidak valid karena memiliki nilai loading di bawah 0,6, sehingga
harus dikeluarkan dari model penelitian.
Selanjutnya dilakukan rebootstraping terhadap model penelitian setelah
menghilangkan delapan indikator tersebut.Berikut ini model penelitian setelah
dilakukan rebootstraping.






35



Gambar 5.2 Hasil Rebootstraping Model Penelitian














Gambar 4.2 Hasil Rebootstraping Model Penelitian

Model penelitian di atas menunjukkan bahwa indikator X
1.3
, X
1.4
,X
1.5
, X
2.1,
X
2.2,
X
2.4,
X
2.10,
dan Y
1.4
telah dihapus dari model penelitian
sebelumnya.Berdasarkan model penelitian tersebut, maka dapat diketahui hasil
outer loadings 2 untuk menilai convergent validity.Hasil outer loadings 2 dapat
dilihat pada tabel 4.7









36

Tabel 4.7 Hasil Outer Loadings 2

Original
Sample (O)
Sample
Mean (M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard
Error
(STERR)
X1.1 <- Struktur SPM 0.693925 0.704556 0.073973 0.073973
X1.2 <- Struktur SPM 0.942338 0.926388 0.059809 0.059809
X1.6 <- Struktur SPM 0.902585 0.863456 0.167227 0.167227
X2.5 <- Proses SPM 0.917609 0.906737 0.037844 0.037844
X2.6 <- Proses SPM 0.896778 0.892194 0.050647 0.050647
X2.7 <- Proses SPM 0.816851 0.809765 0.094937 0.094937
X2.8 <- Proses SPM 0.952696 0.948578 0.021826 0.021826
X2.9 <- Proses SPM 0.974649 0.969219 0.014460 0.014460
Y1.1 <- Kinerja
Manajerial
0.668533 0.690149 0.088502 0.088502
Y1.2 <- Kinerja
Manajerial
0.729866 0.731335 0.060783 0.060783
Y1.3 <- Kinerja
Manajerial
0.831813 0.790531 0.103553 0.103553
Y1.5 <- Kinerja
Manajerial
0.728137 0.616344 0.286757 0.286757
Y1.6 <- Kinerja
Manajerial
0.777897 0.704783 0.172124 0.172124
Y1.7 <- Kinerja
Manajerial
0.666421 0.571500 0.254449 0.254449

Berdasarkan hasil outer loadings 2 di atas, dapat diketahui bahwa
semua indikator telah valid karena memiliki nilai loading di atas 0,6.
2) Discriminant validity
Discriminant validity diukur dengan melihat nilai AVE yang
digunakan untuk mengetahui validitas construct yang digunakan dalam penelitian.
Construct model penelitian dianggap valid jika nilai AVElebih besar dari 0,5.
Hasil AVE dapat dilihat pada tabel 4.8.



37

Tabel 4.8 Hasil Average Variance Extracted (AVE)


Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai AVE
construct Struktur SPM (X
1
) sebesar 0.728064. Nilai AVE construct Proses SPM
(X
2
) sebesar 0.834207. Nilai AVE constructKinerja manajerial(Y
1
) sebesar
0.728064. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki
discriminant validity yang cukup karena memiliki nilai di atas 0,5.
3) Composite Reliability
Uji outer model juga dilakukan dengan melihat hasil composite
reliability.Nilai composite reliability yang baik apabila memiliki nilai 0,70.
Hasil composite reliability dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil Composite Reliability
Composite Reliability
Kinerja Manajerial 0.875793
Proses SPM 0.961639
Struktur SPM 0.887654

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa hasil composite
reliability semua construct menunjukkan nilai di atas 0,7, yaitu 0.875793 untuk
kinerja manajerial (Y
1
), 0.887654 untuk struktur SPM (X
1
), dan 0.961639 untuk
proses SPM (X
2
). Hal ini menunjukkan bahwa semua construct layak untuk
dilakukan uji inner model.
b. Uji Inner Model (Uji Struktural)
Uji inner model pada prinsipnya adalah menguji pengaruh antara satu
variabel lain dengan variabel laten lainnya baik eksogen maupun endogen. Dapat
dikatakan juga menguji hipotesis antara variabel laten yang satu dengan variabel
AVE
Kinerja Manajerial 0.541830
Proses SPM 0.834207
Struktur SPM 0.728064


38

laten lainnya. Pengujian dilakukan dengan melihat hasil path analysis dan
goodness of fit.Stabilitas dari estimasi ini diuji dengan menggunakan uji t-statistic
yang diperoleh lewat prosedur bootstraping.
1) Analisis jalur (Path analysis)
Path analysis menunjukkan pengaruh dan signifikansi antarvariabel laten
dalam penelitian. Hasil path analysis dilihat dari besarnya koefisien jalur
struktural (path coefficients) dan nilai t-values untuk signifikansi model
prediksi.Hasil path coefficients dapat dilihat pada tabel 5.7.
















Gambar 4.3 Hasil Rebootstraping Model Penelitian







39

Tabel 4.10 Hasil Path Coefficients

Original
Sample
(O)
Sample
Mean (M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard
Error
(STERR)
T
Statistics
|
|
Signifikansi
T Statitic >
1,96
Proses SPM ->
Kinerja
Manajerial
-0.268937 -0.322951 0.119910 0.119910 2.242824
Berpengaruh
signifikan
Struktur SPM ->
Kinerja
Manajerial
0.538762 0.501829 0.170170 0.170170 3.166032
Berpengaruh
signifikan

Koefisien jalur proses SPM (X
2
) terhadap kinerja manajerial (Y
1
) memiliki
nilai parameter sebesar -0.268937. Hal ini menunjukkan adanya hubungan negatif
dari proses SPM perusahaan terhadap kinerja manajerial perusahaan sebesar
0,196636. Sedangkan nilai t-statistic > t-tabel atau 2.242824 > 1,96 yang artinya
proses SPM perusahaan berpengaruh secara positif terhadap kinerja manajerial
sehingga hipotesis pertama penelitian diterima.
Koefisien jalur struktur SPM (X
1
) terhadap kinerja manajerial (Z
1
)
memiliki nilai parameter sebesar 0.538762. Hal ini menunjukkan adanya
hubungan positif dari struktur SPM terhadap kinerja manajerial sebesar
0,808066.Sedangkan nilai t-statistic > t-tabel atau 3.166032 > 1,96 yang artinya
struktur SPM berpengaruh secara positif terhadap kinerja manajerial, sehingga
hipotesis kedua penelitian diterima.
2) Goodness of fit
Goodness of fit menunjukkan variabilitas dari variabel laten dalam model
penelitian. Nilai goodness of fit diperoleh dari koefisien R (R square).Hasil R
square dapat dilihat pada tabel 4.11.






40

Tabel 4.11 Hasil R Square
R Square
Kinerja Manajerial 0.438942
Proses SPM
Struktur SPM

Berdasarkan tabel R square di atas, dapat diketahui bahwa variabilitas
Kinerja Manajerial (Y
1
) dapat dijelaskan oleh variabilitas proses SPM (X
2
), dan
Struktur SPM (X
1
) sebesar 43%, sisanya sebesar 57% merupakan variabilitas lain
yang tidak terdapat dalam model penelitian

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
4.5.1 Pengaruh Struktur SPM terhadap Kinerja Manajerial.
Berdasarkan hasil analisis jalur menggunakan pendekatan PLS, diperoleh
hasil bahwa koefisien jalur struktur sistem pengendalian manajemen (X
1
) terhadap
kinerja manajerial (Y
1
) memiliki nilai parameter sebesar 0.538762. Hasil ini
menunjukkan bahwa struktur sistem pengendalian manajemen mempunyai
pengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial, artinya dengan semakin
baik struktur sistem pengendalian manajemen maka akan semakin baik pula
kinerja manajerialnya.
Salah satu elemen struktur sistem pengendalian manajemen adalah pusat
pertanggungjawaban. Pusat pertanggung jawaban merupakan suatu unit organisasi
yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab. Dengan demikian
struktur sistem pengendalian majemen yang baik tidak lepas dari kinerja
manajerial yang baik pula sehingga tujuan dari perusahaan dapat tercapai.
Hasil penelitian ini mendukung Wibawa, Rochman Ari (2010) yang
melakukan penelitian tentang pengaruh sistem pengendalian manajemen terhadap
kinerja manajerial di BPR di wilayah kerja Bank Indonesia di Surakarta.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Variabel management of uncertainly,
efficiency, goal congruence, employee discretion, innovation berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja manajerial, sedangkan variabel risk tolerance


41

berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja manajerial 2) Variabel yang
paling dominan mempengaruhi kinerja manajerial adalah variabel efficiency.
Hasil penelitian ini juga dikuatkan oleh Imas Purnamasari (2009) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa struktur sistem pengendalian manajemen
memiliki hubungan yang kuat dengan kinerja keuangan.

4.5.2 Pengaruh Proses SPM terhadap Kinerja Manajerial
Berdasarkan hasil analisis jalur menggunakan pendekatan PLS,diperoleh
hasil bahwa koefisien jalur proses sistem pengendalian manajemen (X
2
) terhadap
kinerja manajerial (Y
1
) memiliki nilai parameter sebesar -0.268937. Hasil ini
menunjukkan bahwa proses sistem pengendalian manajemen mempunyai
hubungan yang negatif signifikan dengan kinerja manajerial. Artinya semakin
tidak berjalan baiknya proses sistem pengendalian maka kinerja manajerial
semakin baik.
Hasil ini dapat menjelaskan bahwa peran manajer dalam pencapaian tujuan
perusahaan sangat baik, namun proses tercapainya tujuan tersebut tidak berjalan
dengan baik dikarenakan komunikasi manajer dengan karyawan yang tidak
efektif.












42

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada Bank Jatim
Cabang Jember dan Kantor Cabang Pembantu mengenai Pengaruh Struktur
Sistem Pengendalian Manajemen dan Proses Sistem Pengendalian Manajemen
terhadap Kinerja Manajerial pada Bank Jatim Cabang Jember dan Kantor Cabang
Pembantu, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
a. Struktur sistem pengendalian manajemen berpengaruh positif signifikan
terhadap kinerja manajerial Bank Jatim Cabang Jember dan Kantor
Cabang Pembantu. Dengan demikian semakin baiknya struktur sistem
pengendalian manajemen tidak terlepas dari kinerja manajerial yang baik.
b. Proses sistem pengendalian manajemen berpengaruh negatif signifikan
terhadap kinerja manajerial. Dengan demikian peran manajer dalam
pencapaian tujuan perusahaan sudah sangat baik, namun proses
tercapainya tujuan tersebut tidak berjalan dengan baik dikarenakan
komunikasi manajer dengan karyawan yang tidak efektif.
c. Struktur dan proses sistem pengendalian manajemen memiliki pengaruh
signifikan terhadap kinerja manajerial Bank Jatim Cabang Jember dan
Kantor Cabang Pembantu. Dengan demikian dapat dikatakan, struktur dan
proses sistem pengendalian manajemen keduanya mempengaruhi
ketercapaian tujuan perusahaan (Bank Jatim) dapat tercapai.

5.2 Keterbatasan Penelitian
Setiap penelitian tentu memiliki keterbatasan keterbatasan. Adapun
keterbatasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peneliti tidak dapat melakukan penelitian di kantor cabang kota lainnya
karena tidak diberikan izin penelitian oleh kantor cabang yang dituju oleh
peneliti.


43

2. Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan kuesioner yaitu
terkadang jawaban yang diberikan oleh sampel tidak menunjukkan keadaan
sesungguhnya.

5.3 Saran
Adapun saran yang peneliti rekomendasikan kepada beberapa pihak terkait
hasil penelitian ini ialah :
1. Kepada Bank Jatim Cabang Jember dan Kantor Cabang Pembantu
diupayakan agar terus meningkatkan struktur pengendalian manajemen
dan proses sistem pengendalian manajemen karena pengaruh dari
keduannya sangat dominan dalam kinerja manajerial.
2. Bagi peneliti selanjutnya
a. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini hanya dua variabel,
oleh sebab itu pada penelitian selanjutnya dapat menambahkan
variabel lainnya yang berhubungan dengan kinerja manajerial.
Sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai
faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja manajerial selain
struktur sistem pengendalian manajemen dan proses sistem
pengendalian manajemen.
b. Sebaiknya lebih mengevaluasi pertanyaan-pertanyaan yang akan
digunakan untuk kuesioner, terutama untuk pertanyaan yang
ambigu, sehungga dapat mengurangi bahkan menghilangkan
makna ambigu dari pertanyaan tersebut.