Anda di halaman 1dari 16

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Anatomi Telinga
Telinga merupakan organ pendengaran dan sistem keseimbangan, terdiri
dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
2








Gambar 2.1 Anatomi Telinga
3

Sebagai Organ Pendengaran (N. Choclearis)
1. Telinga Luar
2

Terdiri dari 4 bagian:
a. Auricula
Berfungsi untuk mengumpulkan suara yang diterima.
b. Meatus Acusticus Eksternus
Berfungsi untuk menyalurkan atau meneruskan suara ke Kanalis
auditorius eksternus.
c. Kanalis Auditorius Eksternus
Berfungsi untuk meneruskan suara ke membran timpani.
d. Membran Timpani
Berfungsi untuk resonator pengubah gelombang udara menjadi
gelombang mekanik.

4



2. Telinga Tengah
2

Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan
rongga hidung dan tenggorokan, dihubungkan melalui tuba
eustachius, yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua
sisi gendang telinga. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan
tertutup, akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan
dan menguap. Setelah sampai pada gendang telinga, gelombang suara
akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga, lalu dengan perlahan
disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. Tulag-tulang
yang saling berhubungan ini sering disebut Martil, Landasan, dan
Sanggurgi secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan
tingkap lonjong didalam telinga dalam. Pergerakan dari oval window
(tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi
kedalam telinga dalam.
Telinga tengah terdiri dari:
a. Tuba Auditorius (Eustachius)
Berfungsi sebagai penghubung faring dan cavum nasofaring
untuk:
Proteksi : melindungi dari kuman
Drainase : mengeluarkan cairan
Aerofungsi : menyamakan tekanan luar dan dalam
b. Tulang-Tulang Pendengaran (Maleus, Inkus, dan Stapes)
Berfungsi untuk memperkuat gerakan mekanik dan membran
timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga
perilimfe pada skala vestibule akan berkembang.
3. Telinga Dalam
2

Telinga dalam terdiri dari:
a. Koklea
Dibagi menjadi:
- Skala Vestibule: mengandung perilimfe
- Skala Media: mengandung endolimfe
5



- Skala Timpani: mengandung perilimfe
b. Organo Corti
Mengandung sel-sel rambut yang merupakan reseptor pendengaran
dimembran basilaris.
Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari koklea
berbentuk spiral yang disebut rumah siput. Sepanjang jalur rumah
siput terdiri dari 20.000 sel-sel rambut yang mengubah getaran
suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak.
Diotak getaran tersebut akan diinterpretasi sebagai makna suatu
bunyi. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh
rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan.
Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang
keras secara terus menerus. Gangguan pendengaran seperti ini
biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. Hal ini
dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi
yang diperlukan sebagai contoh percakapan. Efeknya hampir selalu
sama, menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan
pada kondisi bising. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti
kicauan burung menghilang bersamaan, orang-orang terlihat hanya
seperti berguman dan anda sering meminta mereka untuk
mengulangi apa yang mereka katakan. Hal ini karena otak tidak
dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan
sebagai contoh mengerti percakapan. Contoh kecil seperti
menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta
seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Hanya
dengan 6 atau 7 nada yang salah, melodi akan sulit dikenali dan
suaranya tidak benar secara keseluruhan. Sekali sel-sel rambut
telinga dalam menglami kerusakan, tidak ada cara apapun yang
dapat memperbaikinya. Sebuah alat bantu dengar akan dapat
membantu menambah kemampuan mendengar anda. Andapun
dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjafi
6



lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari paparan dari
bising yang keras.
2
Sebagai Sistem Keseimbangan (N. Vestibularis)
2

1. Canalis Semisirkularis
Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi
anguler atau rotasional kepala, misalnya ketika memulai atau
berhenti berputar, berjungkir balik, atau memutar kepala. Tiap-tiap
telinga memiliki tiga kanalis semisirkularis yang tegak lurus satu
sama lain.
2. Urtikulus
Urtikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak didalam
rongga tulang diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut-
rambut pada sel rambut asertif diorgan ini menonjol kedalam suatu
lembar gelatinosa diatasnya, yang gerakannya menyebabkan
perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial
disel rambut. Sel-sel rambut urtikulus mendeteksi akselerasi atau
deselerasi linear horizontal, tetapi tidak memberikan informasi
mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.
3. Sacculus
Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak didalam
rongga tulang diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Sacculus
memiliki fungsi serupa dengan urtikulus, kecuali dia berespons
secara selektif terhadap keminringan kepala menjauhi posisi
horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap
akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau
berada dalam elevator).

B. Fisiologi Pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh telinga yang dialirkan ke telinga dan
mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini
diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
7



Selanjutnya stapes menggerakan perilimfe dalam skala vestibuli kemudian
getaran diteruskan melalui rissener yang mendorong endolimfe dan membran
basal ke arah bawah, perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga
tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.
Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion
natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang n.VIII yang kemudian
meneruskan rangsangan ke pusat sensori pendengaran diotak melalui saraf
pusat yang ada dilobus temporalis.
Kelainan atau Gangguan Fisiologi Telinga
1,2

1. Tuli Konduktif
Karena kelainan ditelinga luar atau ditelinga tengah
a. Kelainan ditelinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah
astresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna
sirkumskripta, osteoma liang telinga.
b. Kelainan ditelinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah
tuba katar atau sumbatan pada tuba eustachius, dan dislokasi tulang
pendengaran.
2. Tuli Perseptif atau Neurosensoris
Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. Auditorius) atau kerusakan
pada sirkuit sistem saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalami
penurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara
dan akan terjadi kelainan pada organo corti, saraf (n. Coclearis dan n.
Vestibularis).
3. Tuli Campuran
Terjadi karena tuli konduktif yang pada pengobatannya tidak
sempurna sehingga terjadi infeksi sekunder (tuli neurosensoris).
Kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seseorang kurang dapat
mendengar dan mengerti suara atau percakapan yang didengar untuk
mendiagnosis kurang pendengaran. Sebagai dokter umum cukuplah
memperhatikan keempat aspek penting berikut ini:
- Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.
8



- Jenis kurang pendengaran (KP).
- Derajat kurang pendengaran (KP).
- Menentukan penyebab kurang pendengaran (KP).
a) Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak
Dalam penentuan apakah ada kurang pendengaran atau tidak pada
penderita, hal penting yang harus diperhatikan adalah umur penderita. Respon
manusia terhadap suara atau percakapan yang didengarnya tergantung pada
umur pertumbuhannya. Usia 6 tahun diambil sebagai batas, kurang dari 6
tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung
umurnya, sedangkan >6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan
yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik
kurang pendengaran. Pada kedua golongan umur tersebut, maka dalam referat
ini yang diuraikan hanya diagnostik kurang pendengaran pada anak usia >6
tahun dan dewasa.
b) Jenis kurang pendengaran (KP)
Jenis kurang pendengaran berdasarkan lokalisasi lesi:
1) KP jenis hantaran
Lokalisasi gangguan atau lesi trletak pada telinga luar atau telinga tengah.
2) KP jenis sensorineural
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (koklea dan n.
VIII).
3) KP jenis campuran
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga
dalam.
4) KP jenis sentral
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang
otak sampai dengan korteks otak.
5) KP jenis fungsional
Pada KP jenis ini tidak ditemukan adanya gangguan atau lesi organik
pada sistem pendengaran baik perifer maupun sentral, melainkan
berdasarkan adanya masalah psikologis atau emosional.
9



c) Menentukan penyebab KP
Menentukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara keempat
batasan atau aspek tersebut diatas, untuk itu diperlukan :
1) Anamnesis yang kuat dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut.
2) Pemeriksaan umum dan khusus (telinga, hidung dan tenggorokan) yang
teliti.
3) Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto dan laboratorium).
Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran
penderita, yaitu:
1. Tes garpu penala
2. Tes berbisik
3. Pemeriksaan audiometri
4. Tes BERA

C. Tes Penala
Uji pendengaran klinis memerlukan garpu tala. Garpu tala tunggal yang
terbaik adalah garpu tala Riverbank 512 Hz. Garpu tala yang berfrekuensi lebih
tinggi mungkin tak dapat mempertahankan terdengarnya nada cukup lama agar
memadai untuk uji pendengaran, sedangkan garpu tala dengan frekuensi lebih
rendah merangsang sensasi getar pada tulang yang adakalanya sulit dibedakan
dengan pendengaran nada rendah. Uji garpu tala dasar adalah uji Rinne dan
Weber. Uji pendengran lainnya adalah uji Schwabach, uji bing (uji oklusi), dan
uji stenger.
4







Gambar 2.2 Tes Rinne
10



1. Tes Rinne
Tujuan melakukan tes rinne adalah untuk membandingkan antara
hantaran tulang (HT) dengan hantara udara (HU) pada telinga yang
diperiksa.
4,5
Ada 2 macam tes Rinne, yaitu :
a. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya tegak lurus pada prosesus mastoid (belakang meatus
akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera
garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien.
Tes rinne positif (+) jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya
tes rinnr negatif (-) jika pasien tidak dapat mendengarnya.
b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya tegak lurus pada prosesus mastoid pasien. Segera pindahkan
garpu tala didepan meatus akustikus ekternus. Kita menanyakan kepada
pasien apakah bunyi garpu tala didepan meatus akustikus eksternus
lebih keras dari pada dibelakang meatus akustikus eksternus (prosesus
mastoid). Tes rinne positif (+) jika pasien mendengar didepan meatus
akustikus eksternus lebih keras. Sebaliknya jika pasien mendengar
didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras
dibelakang.

Tabel 2.1 Hasil Uji Tes Rinne, Macam Gangguan Pendengaran Dan
Lokasi Gangguan Pendengaran
4
Hasil Uji Rinne Status Pendengaran Lokasi
Positif (+) HU
HT
Normal atau gangguan
sesorineural
Tak ada atau koklearis-
retrokoklearis
Negatif (-) HU <
HT
Gangguan konduksi Telinga luar atau tengah

Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari
pemeriksa maupun pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya
11



meletakan garpu tala tidak tegak lurus, tangkai garpu tala mengenai
rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikula pasien.
4
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat
bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita
menempatkan garpu tala di prosesus mastoid pasien. Akibatnya getaran
kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala
kedepan meatus akustikus eksternus. Juga bisa karena jaringan lemak
prosesus mastoid pasien tebal.
4
2. Tes Weber







Gambar 2.3 Tes Weber
6
Tujuan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara
kedua pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garpu
tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakan tegak lurus pada garis horizontal.
Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras.
Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka
terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua telinga pasien sama-
sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka artinya tidak ada
lateralisasi.
5
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak,
sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan patologis
pada MAE atau cavum timpani misalnya: otitis media purulenta pada
telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus didalam cavum timpani ini akan
bergetar, bila ada bunyi segala getaran akan terdengar disebelah kanan.
5

12



3. Tes Schwabach
Tujuan tes schwabach adalah untuk membandingkan daya transport
melalui hantaran mastoid antara pemeriksa (normal) dengan pasien.
Gelombang-gelombang dalam endolympe dapat ditimbulkan oleh getaran
yang datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak,
khususnya osteo temporal.
5
Cara pemeriksaan nya yaitu dengan meletakan pangkal garpu tala yang
sudah digetarkan pada puncak kepala pasien. Pasien akan mendengar suara
garpu tala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar
suara garpu tala lagi. Pada saat pasien tidak mendengar suara garpu tala
lagi , maka pemeriksa akan memindahkan garpu tala itu ke puncak kepala
orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).
Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi: akan mendengar suara
atau tidak mendengar suara.
5







Gambar 2.4 Tes Schwabach
7

Tabel 2.2 Contoh Hasil Tes Penala Seseorang Dengan Kurang Pendengaran
PadaTelinga Kanan
5
Uji Telinga Kanan Telinga Kiri
Rinne Negatif (-) Positif (+)

Weber Lateralisasi ke kanan
Schwabach Memanjang Sesuai dengan pemeriksa
Kesimpulan : tuli konduktif pada telinga kanan


13



Tabel 2.3 Kesimpulan Hasil Tes Penala
5
Tes
Diagnosis
Rinne Weber schwabach
Positif (+)
Tidak ada
lateralisasi
Sama dengan
pemeriksa
Normal
Negatif (-)
Lateralisasi ke
telinga yang sakit
Memanjang Tuli konduktif
Positif
Lateralisasi ke
telinga yang sehat
Memendek
Tuli
sensorineural
Catatan : pada tuli konduktif < 30 db, Rinne masih bisa positif (+).

4. Tes Bing (Tes Oklusi)
Cara pemeriksaan : tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai
menutup liang telinga, sehingga terdapat tuli konduktif kira-kira 30 db.
Penala digetarkan dan diletakan pada pertengahan kepala (seperti pada tes
weber).
5
Penilaian : bila terdapat lateralisasi ke telinga yang di tutup , berarti
telinga tersebut normal. Bila bunyi pada telinga yang di tutup tidak
bertambah keras, berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif.
5
5. Tes Stenger
Tes stenger digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik (simulasi atau
pura-pura tuli).
Cara pemeriksaan : menggunakan prinsip masking. Misalnya pada
seseorang yang berpura-pura tuli pada telinga kiri. Dua buah garpu tala
yang identik digetarkan dan masing-masing diletakan didepan telinga kiri
dan kanan, dengan cara tidak kelihatan oleh yang diperiksa. Penala pertama
digetarkan dan diletakan di depan telinga kanan (yang normal) sehingga
jelas terdengar. Kemudian penala yang kedua digetarkan lebih keras dan
diletakan didepan telinga kiri (yang pura-pura tuli). Apabila kedua telinga
normal karena efek masking, hanya telinga kiri yang mendengar bunyi; jadi
telinga kanan tidak akan mendengar bunyi. Tetapi bila telinga kiri tuli,
telinga kanan tetap mendengar bunyi.
5

14



D. Tes Berbisik
Pemeriksaan ini bersifat semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian
secara kasar. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah ruangan yang cukup
tenang, dengan panjang minimal 6 meter. Pada nilai normal tes berbisik : 5/6-
6/6.
5
Cara pemeriksaannya ialah dengan membisikan kata-kata yang dikenal
penderita dimana kata-kata itu mengandung huruf lunak dan huruf desis. Lalu
diukur berapa meter jarak penderita dengan pembisiknya sewaktu penderita
dapat mengulangi kata-kata yang dibisikan dengan benar. Pada orang normal
dapat mendengar 80% dari kata-kata yang dibsikan pada jarak 6-10 meter.
Apabila < 5 atau 6 meter berarti ada kekurangan pendengaran. Apabila
penderita tak dapat mendengarkan kata-kata dengan huruf lunak, berarti tuli
konduksi. Sebaliknya bila tak dapat mendengar kata-kata dengan huruf desis
berarti tuli sensorineural. Apabila dengan suara bisik sudah tidak dapat
mendengar, dites dengan suara konversasi atau percakapan biasa. Orang
normal dapat mendengar suara konversasi pada jarak 200 meter.
5

Penilaian (menurut Feldmann) :
Normal : 6-8 meter
Tuli ringan : 4- <6 meter
Tuli sedang : 1- <4 meter
Tuli berat : 25 cm - <1 meter
Tuli total : <25 cm

E. Audiometri
Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level
pendengaran seseorang. Audiometri tidak hanya dipergunakan untuk mengukur
ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan
lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Uji
audiometri ada dua macam : Audiometri nada murni dan audiometri tutur.
4


15



1. Audiometri Nada Murni
Pada pemeriksaan audiometri nada murni perlu dipahami hal-hal seperti
ini, nada murni, bising NB (narrow band) dan WN (white noise), frekuensi,
intensitas bunyi, ambang dengar, nilai nol audiometrik, standar ISO dan
ASA, notasi pada audiogram, jenis dan derajat ketulian serta gap dan
masking.
5
Untuk membuat audiogram diperlukan alat audimeter. Bagian dari
audiometer tombol pengatur intensitas bunyi, tombol pengatur frekuensi,
headphone untuk memeriksa AC (hantaran udara), bone conductor untuk
memeriksa BC (hantaran tulang).
5
Untuk pemeriksaan audiogram, dipakai grafik AC, yaitu dibuat dengan
garis lurus penuh (intesitas yang diperiksa antara 125-8000 Hz) dan grafik
BC yaitu dibuat dengan garis terputus-putus (intensitas yang diperiksa :
250-4000 Hz). Untuk telinga kiri dipakai warna biru, sedangkan telinga
kanan, warna merah.
5






Gambar 2.5 Tes Audiometri
8
Jenis dan Derajat Ketulian Serta Gap Pada Audiogram Telinga
Pada interpretasi audiogram harus ditulis telinga yang mana, apa
jenis ketuliannya, bagaimana derajat ketuliannya, misal : telinga kiri
tuli campura sedang.
Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang
dengar hantaran udaranya (AC) saja.
Derajat ketulian ISO :
o 0 25 dB = normal
o > 25 40 dB = tuli ringan
16



o > 40 55 dB = tuli sedang
o > 55 70 dB = tuli sedang berat
o > 70 90 dB = tuli berat
o > 90 dB = tuli sangat berat
Jenis ketulian :
o Normal :
AC dan BC sama atau < 25 dB, atau AC dan BC berimpit,
tidak ada gap
o Tuli perseptif (sensorineural)
AC dan BC > 25 dB, atau AC dan BC berimpit (tidak ada gap)
o Tuli konduktif
BC normal atau < 25 dB, atau > 25 dB, atau antara AC dan BC
terdapat gap
o Tuli campur
BC > 25 dB, atau AC > BC, terdapat gap

Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC
dan BC terdapat perbedaan 10 dB, minimal pada 2 frekuensi yang
berdekatan.
5
2. Audiometri Tutur (Speech Audiometry)
5

Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku
kata).
Monosilabus = satu suku kata
Bisilabus = dua suku kata
Kata-kata ini disusun dalam daftar yang disebut : phonetically balance
word LBT (PB, LIST).
Pasien diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset
tape recorder. Pada tuli perseptif koklea, pasien sulit untuk membedakan
bunyi S, R, N, C, H, CH, sedangkan pada tuli retrokoklea lebih sulit lagi.
Misalnya pada tuli perseptif koklea, kata kadar didengarnya kasar,
sedangkan kata pasar didengarnya padar.
17



Apabila kata yang betul : speech discrimination score :
o 90 100% = berarti pendengaran normal
o 75 90% = tuli ringan
o 60 75% = tuli sedang
o 50 60 % = kesukaran mengikuti pembicaraan sehari-hari
o < 50% = tuli berat
Guna pemeriksaan ini adalah untuk menilai kemampuan pasien dalam
pembicaraan sehari-hari, dan untuk menilai untuk pemberian alat bantu
dengar (hearing aid).
Istilah :
- SRT (speech resption test) = kemampuan untuk mengulangi kata-kata
yang benar sebanyak 50%, biasanya 20-30 dB diatas ambang
pendengaran.
- SDS (speech discrimination score) = skor tertinggi yang dapat dicapai
oleh seseorang pada intensitas tertentu.

F. Brainstem Evoked Response Ausiometry (BERA) atau Auditory
Brainstem Response (ABR)
BERA merupakan pemeriksaan elektrofisiologik untuk menilai integritas
sistem auditorik, bersifat obyektif, dan tidak invasif. Dapat memeriksa bayi,
dewasa, bahkan penderita koma.
5
BERA merupakan cara pengukuran evoked potential (aktifitas listrik yang
dihasilkan oleh nervus VIII, pusat-pusat neural dan traktus didalam batang
otak) sebagai respon terhadap stimulus auditorik. Stimulus bunyi yang
digunakan berupa bunyi click atau tone burst yang diberikan melalui
headphone, insert probe (paling efisien) atau bone vibrator. Stimulus click
merupakan impuls listrik dengan onset cepat dan durasi yang sangat singkat
(0,1 ms), menghasilkan respon pada average frequency antara 2000 4000 Hz.
Tone burst juga merupakan stimulus dengan durasi singkat namun memiliki
frekuensi yang spesifik.
5,9
18



Respon terhadap stimulus auditorik berupa evoked potential yang sinkron,
direkam melalui elektroda permukaan (surface electrode) yang ditempelkan
pada kulit kepala (dahi dan prosesus mastoid), kemudian diproses melalui
program komputer dan ditampilkan sebagai 5 gelombang defleksi positif
(gelombang I V) yang terjadi sekitar 2 12 ms setelah stimulus diberikan.
Analisis gelombang BERA berdasarkan morfologi gelombang, masa laten, dan
amplitudo gelombang.
9
Kekurangan pada pemeriksaan ini adalah bayi atau anak diharuskan untuk
tetap diam tidak bergerak karena potensi elektrik yang terekam oleh alat
tersebut dari saraf auditori sabgat kecil, sehingga pergerakan otot sedikit saja
(contoh : mengedip) bisa mengajaukan pemeriksaan. Untuk itu pemeriksaan
BERA harus dilakukan saat bayi atau anak tidur. Anak dibawah usia 3 tahun
diharuskan tidur dengan alami (bukan hasil medikasi atau provokasi obat-
obatan). Sedangkan anak usia diatas 3 tahun bisa diberikan obat-obatan sedatif
selama pemeriksaan.
9
Kombinasi pemeriksaan Oto Acoustic Emission (OAE) dan BERA
merupakan baku emas dalam mendeteksi gangguan pendengaran pada anak,
karena pada OAE kita hanya bisa menilai keadaan atau fungsi, koklea
sedangkan untuk fungsi organ-organ pendengaran lain yang lebih dalam
(hingga ke otak) bisa digunakan BERA.
5







Gambar 2.6 Tes BERA
10