Anda di halaman 1dari 23

PROPOSAL SCADA

SISTEM KONTROL FAN PADA MENARA PENDINGIN


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah SCADA


Oleh
Kelompok : 9
Kelas : 3-TPTL
Anggota : - Devi Permata (111724008)
- Iqbal M.Tawakal (111724015)
- Vin Fiyanthi T. (111724030)







POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TEKNIK KONVERSI ENERGI
TEKNOLOGI PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di jaman yang semakin maju ini, terlahir banyak solusi yang dapat memecahkan
permasalahan manusia. Permasalahan yang timbul akibat keterbatasan manusia ataupun dari
faktor lain, kini sedikit demi sedikit sudah dapat diatasi. Salah satu solusi yang dapat
memecahkan permasalan manusia yaitu dengan menggunakan sistem kendali berbasis
komputer. Dengan menggunakan sistem kendali berbasis komputer, diharapkan dapat
membantu dan meringankan pekerjaan manusia serta menjadi solusi untuk setiap
permasalahan manusia.
Mikrokontroler merupakan suatu pengendali berukuran mikro, yang dapat digunakan
bersamaan dengan alat elektronik lainnya. Keunggulan yang dimiliki mikrokontroler yaitu
sebagai suatu sistem kendali.
Pemakaian mikrokontroler umumnya digunakan dalam embedded systems yaitu sub-
sistem mikrokomputer khusus sebagai bagian dari suatu sistem yang pengontrolnya yaitu
mikrokontroler dihubungkan dalam suatu mesin. Ciri khas dari embedded systems adalah
tidak melakukan transformasi data tetapi langsung berinteraksi dengan perangkat luar seperti
sensor dan aktuator.
Pada pembangkit listrik, salah satu sub-sistem yang penting adalah sistem pendingin.
Hampir semua pembangkit membutuhkan sistem pendingin, seperti PLTU, PLTG dan PLTP.
Sistem pendingin yang ada pada pembangkit tersebut adalah kondensor dan cooling tower,
maka dari itu kelompok kami memilih kontrol untuk fan pada cooling tower sebagai judul
dari proyek yang kami buat.




1.2 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, tujuan yang ingin dicapai penulis
adalah :
a) Mengetahui aplikasi/penggunaan dari mikrokontroller (arduino)
b) Dapat mengontrol sistem pendingin (coolling tower) pada pembangkit listrik
c) Menaikkan efisiensi dari sistem pendingin
















BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Mikrokontroler
Mikrokontroler merupakan suatu IC yang di dalamnya berisi CPU, ROM,
RAM, dan I/O. Dengan adanya CPU tersebut maka mikrokontroler dapat
melakukan proses berfikir berdasarkan program yang telah diberikan kepadanya.
Mikrokontroler banyak terdapat pada peralatan elektronik yang serba otomatis,
mesin fax, dan peralatan elektronik lainnya. Mikrokontroler dapat disebut pula
sebagai komputer yang berukuran kecil yang berdaya rendah sehingga sebuah
baterai dapat memberikan daya. Mikrokontroler terdiri dari beberapa bagian seperti
yang terlihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.1 Bagian Mikrokontroler
Pada Gambar 2.1. di atas tampak suatu mikrokontroler standar yang
tersusun atas komponen-komponen sebagai berikut :
a. Central Processing Unit (CPU)
CPU merupakan bagian utama dalam suatu mikrokontroler. CPU pada
mikrokontroler ada yang berukuran 8 bit ada pula yang berukuran 16 bit. CPU ini
akan membaca program yang tersimpan di dalam ROM dan melaksanakannya.

b. Read Only Memory (ROM)
ROM merupakan suatu memori (alat untuk mengingat) yang sifatnya hanya
dibaca saja. Dengan demikian ROM tidak dapat ditulisi. Dalam dunia
mikrokontroler ROM digunakan untuk menyimpan program bagi mikrokontroler
tersebut. Program tersimpan dalm format biner (0 atau 1). Susunan bilangan
biner tersebut bila telah terbaca oleh mikrokontroler akan memiliki arti tersendiri.
c. Random Acces Memory (RAM)
Berbeda dengan ROM, RAM adalah jenis memori selain dapat dibaca juga dapat
ditulis berulang kali. Tentunya dalam pemakaian mikrokontroler ada semacam
data yang bisa berubah pada saat mikrokontroler tersebut bekerja. Perubahan
data tersebut tentunya juga akan tersimpan ke dalam memori. Isi pada RAM akan
hilang jika catu daya listrik hilang.
d. Input / Output (I/O)
Untuk berkomunikasi dengan dunia luar, maka mikrokontroler menggunakan
terminal I/O (port I/O), yang digunakan untuk masukan atau keluaran.
e. Komponen lainnya
Beberapa mikrokontroler memiliki timer/counter, ADC (Analog to Digital
Converter), dan komponen lainnya. Pemilihan komponen tambahan yang sesuai
dengan tugas mikrokontr oler akan sangat membantu perancangan sehingga dapat
mempertahankan ukuran yang kecil. Apabila komponen komponen tersebut belum
ada pada suatu mikrokontroler, umumnya komponen tersebut masih dapat
ditambahkan pada sistem mikrokontroler melalui port-portnya.





2.2. Arduino
Arduino didefinisikan sebagai sebuah platform elektronik yang open source,
berbasis pada software dan hardware yang fleksibel dan mudah digunakan, yang
ditujukan untuk seniman, desainer, hobbies dan setiap orang yang tertarik dalam
membuat objek atau lingkungan yang interaktif (Artanto, 2012:1).
Arduino sebagai sebuah platform komputasi fisik (Physical Computing) yang
open source pada board input ouput sederhana, yang dimaksud dengan platform
komputasi fisik disini adalah sebuah sistem fisik hyang interaktif dengan penggunaan
software dan hardware yang dapat mendeteksi dan merespons situasi dan kondisi.
Menurut Artanto (2012:2), kelebihan arduino dari platform hardware
mikrokontroler lain adalah:
1. IDE Arduino merupakan multiplatform, yang dapat dijalankan di berbagai sistem
operasi, seperti Windows, Macintosh dan Linux.
2. IDE Arduino dibuat berdasarkan pada IDE Processing, yang sederhana sehingga
mudah digunakan.
3. Pemrograman arduino menggunakan kabel yang terhubung dengan port USB,
bukan port serial. Fitur ini berguna karena banyak komputer yang sekarang ini
tidak memiliki port serial.
4. Arduino adalah hardware dan software open source pembaca bisa mendownload
software dan gambar rangkaian arduino tanpa harus membayar ke pembuat
arduino.
5. Biaya hardware cukup murah, sehingga tidak terlalu menakutkan untuk membuat
kesalahan.
6. Proyek arduino ini dikembangkan dalam lingkungan pendidikan sehingga bagi
pemula akan lebih cepat dan mudah mempelajarinya.
7. Memiliki begitu banyak pengguna dan komunitas di internet dapat membantu
setiap kesulitan yang dihadapi.
2.2.1. Hardware
Papan Arduino merupakan papan mikrokontroler yang berukuran kecil
atau dapat diartikan juga dengan suatu rangkaian berukuran kecil yang
didalamnya terdapat komputer berbentuk suatu chip yang kecil.
Pada Gambar 2.2. dapat dilihat sebuah papan Arduino dengan
beberapa bagian komponen didalamnya.






Gambar 2.2. Hardware Arduino
Pada hardware arduino terdiri dari 20 pin yang meliputi:
a. 14 pin IO Digital (pin 013)
Sejumlah pin digital dengan nomor 013 yang dapat dijadikan input atau
output yang diatur dengan cara membuat program IDE.
b. 6 pin Input Analog (pin 05)
Sejumlah pin analog bernomor 05 yang dapat digunakan untuk membaca
nilai input yang memiliki nilai analog dan mengubahnya ke dalam angka
antara 0 dan 1023.
c. 6 pin Output Analog (pin 3, 5, 6, 9, 10 dan 11)
Sejumlah pin yang sebenarnya merupakan pin digital tetapi sejumlah pin
tersebut dapat diprogram kembali menjadi pin output analog dengan cara
membuat programnya pada IDE.
Papan Arduino Uno dapat mengambil daya dari USB port pada
komputer dengan menggunakan USB charger atau dapat pula mengambil
daya dengan menggunakan suatu AC adapter dengan tegangan 9 volt.
Jika tidak terdapat power supply yang melalui AC adapter, maka papan
Arduino akan mengambil daya dari USB port. Tetapi apabila diberikan
daya melalui AC adapter secara bersamaan dengan USB port maka papan
Arduino akan mengambil daya melalui AC adapter secara otomatis.
2.2.2. Software Arduino
Software arduino yang digunakan adalah driver dan IDE, walaupun masih ada
beberapa software lain yang sangat berguna selama pengembangan arduino.
IDE atau Integrated Development Environment suatu program khusus untuk
suatu komputer agar dapat membuat suatu rancangan atau sketsa program
untuk papan Arduino. IDE arduino merupakan software yang sangat canggih
ditulis dengan menggunakan java. IDE arduino terdiri dari:
1. Editor Program
Sebuah window yang memungkinkan pengguna menulis dan mengedit
program dalam bahasa processing
2. Compiler
Sebuah modul yang mengubah kode program menjadi kode biner
bagaimanapun sebuah mikrokontroler tidak akan bisa memahami bahasa
processing.
3. Uploader
Sebuah modul yang memuat kode biner dari komputer ke dalam memory
di dalam papan arduino
Dalam bahasa pemrograman arduino ada tiga bagian utama yaitu struktur,
variabel dan fungsi (Artanto, 2012:27):
1. Struktur Program Arduino
a. Kerangka Program
Kerangka program arduino sangat sederhana, yaitu terdiri atas dua
blok. Blok pertama adalah void setup() dan blok kedua adalah void
loop.
1). Blok Void setup ()
Berisi kode program yang hanya dijalankan sekali sesaat setelah
arduino dihidupkan atau di-reset. Merupakan bagian persiapan atau
instalasi program.
2). Blok void loop()
Berisi kode program yang akan dijalankan terus menerus. Merupakan
tempat untuk program utama.

2. Sintaks Program
Baik blok void setup loop () maupun blok function harus diberi tanda
kurung kurawal buka { sebagai tanda awal program di blok itu dan
kurung kurawal tutup } sebagai tanda akhir program.
3. Variabel
Sebuah program secara garis besar dapat didefinisikan sebagai instruksi
untuk memindahkan angka dengan cara yang cerdas dengan menggunakan
sebuah varibel.


4. Fungsi
Pada bagian ini meliputi fungsi input output digital, input output
analog, advanced I/O, fungsi waktu, fungsi matematika serta fungsi
komunikasi.
Pada proses Uploader dimana pada proses ini mengubah bahasa
pemrograman yang nantinya dicompile oleh avr-gcc (avr-gcc compiler)
yang hasilnya akan disimpan kedalam papan arduino.
Avr-gcc compiler merupakan suatu bagian penting untuk software
bersifat open source. Dengan adanya avr-gcc compiler, maka akan
membuat bahasa pemrogaman dapat dimengerti oleh mikrokontroler.
Proses terakhir ini sangat penting, karena dengan adanya proses ini maka
akan membuat proses pemrogaman mikrokontroler menjadi sangat
mudah.
Berikut ini merupakan gambaran siklus yang terjadi dalam
melakukan pemrogaman Arduino:
1. Koneksikan papan Arduino dengan komputer melalui USB port.
2. Tuliskan sketsa rancangan suatu program yang akan dimasukkan ke
dalam papan Arduino.
3. Upload sketsa program ke dalam papan Arduino melalui kabel USB
dan kemudian tunggu beberapa saat untuk melakukan restart pada
papan Arduino.
4. Papan Arduino akan mengeksekusi rancangan sketsa program yang
telah dibuat dan di-upload ke papan Arduino.




2.3. Sistem Pendingin
Berdasarkan siklusnya, terdapat 2 macam sistem air pendingin utama yang lazim
diterapkan di PLTU yaitu :
1. sistem siklus terbuka (once through)
2. sistem siklus tertutup (recirculation cooling tower).
Pada umumnya sistem air pendingin utama terdiri dari komponen :
1. Intake (untuk sistem air pendingin siklus terbuka)
2. Saringan (screen)
3. Pompa (cooling water pump CWP)
4. Katup dan Pemipaan (piping)
5. Menara pendingin (cooling tower)
Disini akan lebih dibahas sistem pendingin siklus tertutup menggunakan cooling tower.
Sistem Air Pendingin Tertutup
Secara prinsip, sistem air pendingin utama siklus tertutup menggunakan media air
pendingin yang sama secara berulang dalam sirkulasi tertutup seperti terlihat pada
gambar 3 Sistem ini membutuhkan biaya investasi yang lebih besar dibanding sistem
siklus terbuka. Hal ini karena menggunakan menara pendingin yang mahal.
Biaya operasinya juga lebih besar karena sistemnya tidak dapat dibuat syphonic effect
sehingga memerlukan tenaga pemompaan yang lebih besar. Bahkan apbial
menggunakan sistem draft (tarikan) paksa memerlukan beberapa fan yang beroperasi
terus menerus.
Namun sistem siklus tertutup merupakan solusi terhadap tersedianya jumlah air yang
terbatas, karena air pendingin dipakai berulang-ulang dan kehilangan air pendingin
relatif sedikit.

Gb 3. Aplikasi Sistem Air Pendingin Utama Siklus Tertutup

Sirkulasi air pendingin adalah dari bak penampung menara pendingin (cooling tower)
dipompakan ke kondensor oleh pompa air pendingin utama (CWP) untuk
mengkondensasikan uap bekas dengan cara menyerap panas laten dari uap bekas
tersebut. Akibat proses dikondensor, temperatuir air pendingin keluar kondensor akan
mengalami kenaikkan. Karena air akan disirkulasikan kembali ke kondensor, maka air
pendingin ini harus didinginkan terlebih dahulu.
Proses pendinginan air dilaksanakan di Menara pendingin (Cooling Tower). Didalam
menara pendingin, air pendingin didinginkan oleh udara sehingga temperaturnya
kembali turun dan siap disirkulasikan kembali kedalam kondensor. Gambar. 4
merupakan contoh aplikasi sistem air pendingin utama siklus tertutup.
Dalam contoh aplikasi sistem air pendingin utama siklus tertutup, fungsi sebagian besar
komponennya seperti kondensor, Auxiliary Cooling water heat Exchanger, Traveling
Screen sama seperti dalam sistem air pendingin utama siklus terbuka. Perbedaannya
hanya terletak pada menara pendingin (Cooling Tower) yang tidak terdapat pada sistem
air pendingin siklus terbuka. Sedangkan gambar dibawah menunjukkan proses
pembuangan panas yang mengakibatkan terbawanya butir air (drift) ke udara sekitar
menara pendingin.
Gambar 4 memperlihatkan aliran pembuangan udara/gas panas (drift) dari menara
pendingin ke atmosfir, dimana sebagian tetes air ikut terbawa. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya jumlah air pendingin didalam siklus tertutup.

Gb. 4 pembuangan panas di menara pendingin siklus tertutup
2.3.1. Cooling Tower
1. Definisi Cooling Tower
Secara umum cooling tower dapat dikategorikan sebagai pendingin
evaporatif yang digunakan untuk mendinginkan air atau media kerja
lainnya sampai bertemperatur mendekati temperatur bola basah udara
sekitar. Kegunaan utama dari cooling tower adalah untuk membuang
panas yang diserap akibat sirkulasi air sistem pendingin yang digunakan
pada pembangkit daya, kilang petroleum, pabrik petrokimia, pabrik
pemrosesan gas alam, pabrik makanan, pabrik semikonduktor, dan
fasilitas-fasilitas industri lainnya.(www.wikipedia.org, 2002)
Jika suatu pabrik tidak dilengkapi dengan cooling tower dan hanya
menggunakan sirkulasi air pendingin sekali pakai, air pendingin yang
telah digunakan dan mengalami kenaikkan temperatur selanjutnya
dibuang ke laut, danau atau sungai yang ditentukan. Pembuangan
sejumlah air hangat tersebut dapat meningkatkan temperatur sungai atau
danau tersebut sehingga dapat merusak ekosistem lokal. Cooling tower
dapat digunakan untuk membuang panas ke atmosfir sebagai pengganti
angin serta difusi udara yang menyebarkan panas ke area yang lebih luas.
Sistem operasi dari cooling tower ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Sistem operasi cooling tower
2. Klasifikasi Cooling Tower
Cooling tower dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal, antara lain:
1. Menurut metode perpindahan panas
a. Wet cooling tower (cooling tower basah)
Pada cooling tower jenis ini, air panas didinginkan sampai pada
temperatur yang lebih rendah dari temperatur bola basah udara
sekitar, jika udara relatif kering. Seperti udara jenuh yang
melewati aliran air, kedua aliran akan relatif sama. Udara, jika
tidak jenuh, akan menyerap uap air lebih banyak, meninggalkan
sedikit panas pada aliran air.
b. Dry cooler (pendingin kering)
Cooling tower ini beroperasi dengan pemindahan panas melewati
permukaan yang memisahkan fluida kerja dengan udara ambient.
Dengan demikian akan terjadi perpindahan panas konveksi dari
fluida kerja, panas yang dipindahkan lebih besar daripada proses
penguapan.
c. Fluid cooler (pendingin fluida)
Pada cooling tower ini saluran fluida kerja dilewatkan melalui
pipa, dimana air hangat dipercikkan dan kipas dihidupkan untuk
membuang panas dari air. Perpindahan panas yang dihasilkan
lebih mendekati ke cooling tower basah, dengan keuntungan
seperti pada pendingin kering yakni melindungi fluida kerja dari
lingkungan terbuka.
2. Menurut metode pembangkitan aliran udara
a. Natural draft (penggerak udara alami)
Udara dialirkan dengan memanfaatkan gaya buoyancy melewati
cerobong yang tinggi. Udara campuran secara alami meningkat
sampai terjadi perbedaan densiti dengan udara kering, pendingin
udara luar. Udara campuran panas memiliki densiti yang lebih
kecil daripada udara yang lebih kering pada temperatur dan
tekanan yang sama. Buoyancy udara campuran tersebut
menghasilkan arus udara melewati menara.
b. Mechanical draft (penggerak udara mekanik),
Menara draft mekanik memiliki fan yang besar untuk mendorong
atau mengalirkan udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh
turun diatas permukaan bahan pengisi, yang membantu untuk
meningkatkan waktu kontak antara air dan udara. hal ini
membantu dalam memaksimalkan perpindahan panas diantara
keduanya. Menurut letak kipasnya jenis ini terbagi menjadi dua,
antara lain:
1. Induced draft
Kipas pada cooling tower ini berada di bagian keluaran yang
menghisap udara melintasi menara. Hal ini menghasilkan
kecepatan udara masukan rendah dan kecepatan udara keluaran
yang tinggi, sehingga mengurangi kemungkinan resirkulasi
udara.
2. Forced draft
Pada cooling tower ini kipas terletak pada bagian masukan tower,
sehingga menyebabkan kecepatan udara yang tinggi pada bagian
masukan dan kecepatan yang rendah pada bagian keluaran.
Kecepatan yang rendah pada bagian keluaran menyebabkan lebih
mudah terjadi resirkulasi udara. Kerugian lainnya desain
penggerak paksa membutuhkan daya motor yang lebih tinggi
daripada desain kipas pada tipe induced draft. Keuntungan
penggerak paksa adalah kemampuannya dalam bekerja pada
tekanan statik yang tinggi.
3. Menurut arah aliran udara terhadap aliran air
a. Aliran crossflow
Pada tipe ini, aliran udara bergerak memotong secara
tegak lurus terhadap aliran air pada bahan pengisi.
Kemudian udara melintasi menara melalui bagian
keluaran udara akibat gaya tarik dari fan yang berputar.
Gambar 2 menunjukkan desain tipe cooling tower dengan
aliran crossflow.

Gambar 2. Cooling tower tipe aliran crossflow

b. Aliran counterflow
Pada tipe ini, aliran udara pada saat melewati bahan
pengisi (fill material) sejajar dengan aliran air dengan
arah yang berlawanan. Gambar 3 menunjukkan desain
tipe cooling tower dengan aliran counterflow.

Gambar 3. Cooling tower tipe aliran counterflow
c. Komponen Cooling Tower
Komponen dasar sebuah cooling tower meliputi rangka
dan wadah, bahan pengisi, kolam air dingin, eliminator
aliran, saluran masuk udara, louver, nosel dan fan.
Rangka dan wadah
Menara memiliki rangka berstruktur yang
menunjang tutup luar (wadah/casing), motor, fan,
dan komponen lainnya.
Bahan Pengisi
Hampir seluruh menara menggunakan bahan
pengisi (terbuat dari plastik atau kayu) untuk
memfasilitasi perpindahan panas dengan
memaksimalkan kontak udara dan air. Terdapat
dua jenis bahan pengisi:
1. Bahan pengisi berbentuk percikan/Splash fill
Air jatuh diatas lapisan yang berurut dari batang
pemercik horisontal, secara terus menerus pecah
menjadi tetesan yang lebih kecil, sambil
membasahi permukaan bahan pengisi. Bahan
pengisi percikan dari plastik memberikan
perpindahan panas yang lebih baik daripada bahan
pengisi percikan dari kayu.
2. Bahan pengisi berbentuk film
Terdiri dari permukaan plastik tipis dengan jarak
yang berdekatan dimana diatasnya terdapat
semprotan air, membentuk lapisan film yang tipis
dan melakukan kontak dengan udara.
Permukaannya dapat berbentuk datar,
bergelombang, berlekuk, atau pola lainnya. Jenis
bahan pengisi film lebih efisien dan memberi
perpindahan panas yang sama dalam volume yang
lebih kecil daripada bahan pengisi jenis splash.


Gambar 4. Bahan pengisi berbentuk film

Kolam air dingin
Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian
bawah menara, dan menerima air dingin yang
mengalir turun melalui menara dan bahan pengisi.
Kolam biasanya memiliki sebuah lubang atau titik
terendah untuk pengeluaran air dingin.
Drift eliminator
Alat ini berfungsi untuk menangkap tetes-tetes air
yang terjebak dalam aliran udara supaya tidak
hilang ke atmosfir. Saat ini hampir kebanyakan
spesifikasi pengguna akhir mengasumsikan
kehilangan karena kerugian ini sebesar 0,02%.
(www.energyefficiencyasia.org, 2004)



Gambar 5. Drift eliminator

Saluran udara masuk
Merupakan titik masuk bagi udara menuju menara.
Saluran masuk bisa berada pada seluruh sisi
menara (desain aliran crossflow) atau berada di
bagian bawah menara (desain aliran counterflow).
Louver
Pada umumnya, menara dengan aliran crossflow
memiliki saluran masuk louver. Kegunaan louver
adalah untuk menyamakan aliran udara ke bahan
pengisi dan menahan air dalam menara. Material
yang sering digunakan untuk louver adalah asbes.
Beberapa desain untuk menara aliran counterflow
tidak memerlukan louver.


Nosel
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi
bahan pengisi. Distribusi air yang seragam pada
puncak bahan pengisi adalah penting untuk
mendapatkan pembasahan yang benar dari seluruh
permukaan bahan pengisi. Nosel dapat dipasang
dan menyemprot dengan pola bundar atau segi
empat, atau dapat menjadi bagian dari rakitan yang
berputar seperti pada menara dengan beberapa
potongan lintang yang memutar.

Fan
Fan aksial (jenis baling-baling) dan sentrifugal
keduanya digunakan dalam menara. Umumnya fan
dengan baling-baling/propeller digunakan pada
menara induced draft dan baik fan propeller dan
sentrifugal dua-duanya ditemukan dalam menara
forced draft. Tergantung pada ukurannya, jenis fan
propeller yang digunakan sudah dipasang tetap
atau dengan dapat dirubah-rubah/ diatur. Sebuah
fan dengan baling-baling yang dapat diatur tidak
secara otomatis dapat digunakan diatas range yang
cukup luas sebab fan dapat disesuaikan untuk
mengirim aliran udara yang dikehendaki pada
pemakaian tenaga terendah. Baling-baling yang
dapat diatur secara otomatis dapat beragam aliran
udaranya dalam rangka merespon perubahan
kondisi beban. (www.spxcooling.com, 2006)

Gambar Fan




BAB III
PEMBUATAN ALAT
3.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk merancang sistem pendingin (coolling tower) pada
pembangkit listrik
Arduino UNO R3
Baterai 9 Volt
Kipas/Motor Dc 12 Volt
Transistor TIP 120
Sensor Suhu LM35
Resistor 1 kilo ohm
Kapasitor
Protoboard
3.2. Diagram Blok Pengendalian
Aplikasi Desktop (C# .Net)
Sensor Suhu (LM35)
Arduino R3
Kipas DC 12V
Basis Data (MS Access)


Prinsip kerja dari kontrol fan pada cooling tower ini adalah memanfaatkan panas dari
air pendingin kondensor yang mengalami perubahan temperatur karena menyerap
kalor dari uap yang masuk ke kondensor untuk dikondensasikan. Panas dari air
pendingin di deteksi oleh alat sensor suhu yaitu LM35, pada saat LM35 mendeteksi
adanya panas dari air pendingin, secara cepat alat tersebut akan merespon dan
mengirimkan signal ke aktuator yang berupa fan untuk menghasilkan putaran.