Anda di halaman 1dari 27

PENDAHULUAN

Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus,
ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka
kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan.
Ikterus ini pada sebagian penderita dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi mungkin
bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan
kematian. Oleh karena itu, setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan perhatian, terutama
apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi.

Skenario 16: Bayi 34 minggu gestasi lahir spontan pervaginam dengan berat 2000gr dan ketuban
sedikit keruh. Bayi menangis kuat, aktif, denyut jantung 140x/menit, (+) reflex bersin dengan
extremitas sedikit biru. Setelah 48 jam dirawat gabung dengan ibunya, bayi tampak kuning dari
kepala hingga dada, namun kuat menyusu dan aktif.

Anamnesis
Anamnesis ikterus pada riwayat obstetri sebelumnya sangat membantu dalam menegakkan
diagnosis hiperbilirubinemia pada bayi. Termasuk dalam hal ini anamnesis mengenai :
Berapa lama onset terjadinya ?
Golongan darah serta rhesus dari ibu.
Apakah anak tampak lesu dan kurang mau minum ?
Riwayat inkompatabilitas darah pada bayi sebelumnya
Riwayat transfusi tukar pada bayi sebelumnya.
Terapi sinar pada bayi sebelumnya.
Faktor risiko kehamilan dan persalinan
o Kehamilan dengan komplikasi
o Persalinan dengan tindakan/komplikasi
o Obat yang diberikan pada ibu selama hamil/persalinan
o Kehamilan dengan diabetes melitus
o Malnutrisi intrauterine
o Infeksi intranatal, dan lain-lain.
Penilaian Ikterus Menurut Kramer
Menurut Kramer, ikterus dimulai dari kepala, leher, dan seterusnya. Untuk penilaian ikterus,
Kramer membagi tubuh bayi baru lahir dalam 5 bagian yang dimulai dari kepala dan leher, dada
sampai pusat, pusat bagian bawah sampai tumit, tumit-pergelangan kaki dan bahu pergelangan
tangan dan kaki serta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan.
1
Cara pemeriksaannya ialah dengan menekan jari telunjuk ditempat yang tulangnya menonjol
seperti tulang hidung, tulang dada, lutut, dan lainnya. Kemudian penilaian kadar bilirubin dari
tiap-tiap nomor disesuaikan dengan angka rata-rata di dalam gambar dibawah.
1

Gambar 1 Pembagian derajat ikterus menurut Kramer
1


Tabel 1 Hubungan kadar bilirubin dengan ikterus
1



Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan telanjang di bawah lampu yang terang
yang berfunsi juga sebagai pemanas untuk mencegah kehilangan panas. Tangan serta alat
yang digunakan harus bersih dan hangat. Pemeriksaan fisik pada BBL paling kurang tiga
kali yaitu :
2

1. Pada saat lahir
2. Pemeriksaan yang dilakukan 24 jam di ruang perawatan
3. Pemeriksaan pada waktu pulang.

A. Pemeriksaan pertama BBL harus dilakukan di kamar bersalin, tujuannya adalah: 1) menilai
gangguan adaptasi BBL dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine yang memerlukan
resusitasi Bayi yang memerlukan resusitasi adalah bayi yang lahir dengan pernapasan
tidak adekuat, tonus otot kurang, ada mekonium di dalam cairan amnion atau lahir kurang
bulan.2) untuk menemukan kelainan sepeeti cacat bawaan yang perlu tindakan segera (mis.
Atresia ani, atresia esophagus), trauma lahir. 3) menentukan apakah BBL dapat dirawat
bersama ibu (rawat gabung) atau di tempat perawatan khusus untuk diawas, atau di ruang
intensif, atau segera dioperasi.
2

B. Pemeriksaan ke dua harus dilakukan kembali dalam 24 jam, yaitu sesudah bayi berada
dalam ruang perawatan. Tujuannya adalah kelainan yang luput dari pemeriksaan pertama
akan ditemukan pada pemeriksaan ini. Pemeriksaan di kamar bersalin dan di ruang perawat
sebaiknya di bawah lampu pemanas untuk mencegah hipotermi.
2

C. Bayi tidak boleh dipulangkan sebelum diperiksa kembali pada pemeriksaan terakhir. Hal
ini disebabkan kelainan pada BBL yang belum menghilang saat dipulangkan (Hematoma
sefal, ginekomasti, ikterus), atau mungkin pula adanya bising yang hilang timbul pada
masa BBL, atau bayi menderita penyakit yang didapat di rumah sakit seperti aspirasi
pneumonia, infeksi nosokomial dan lain-lain. Yang harus dicatat pada pemeriksaan fisik
adalah lingkar kepala, berat panjang, kelainan fisik yang ditemukan, frekuensi napas dan
nadi, serta keadaan tali pusat.
2



APGAR SCORE
2

Nilai Apgar adalah suatu ekspresi keadaaan fisiologis BBL dan dibatasi oleh waktu.
Banyak factor yang dapat mempengaruhi nilai Apgar, antara lain pengaruh obat-obatan,
trauma lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia, hipovolemia, dan kelahiran premature.

Tabel 2. APGAR SKOR
2

TANDA 0 1 2
Appearance Biru,pucat Badan pucat,
tungkai biru
Semuanya merah
muda
Pulse Tidak teraba < 100 > 100
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
Activity Lemas/lumpuh Gerakan
sedikit/fleksi
tungkai
Aktif/fleksi tungkai
baik/reaksi melawan
Respiratory Tidak ada Lambat, tidak
teratur
Baik, menangis kuat

Prosedur penilaian APGAR
2

1. Pastikan pencahayaan baik
2. Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dengan cepat & simultan.
Jumlahkan hasilnya
3. Lakukan tindakan dengan cepat & tepat sesuai dg hasilnya
4. Ulangi pada menit kelima
5. Ulangi pada menit kesepuluh
6. Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai

Penilaian
2

Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2, Nilai tertinggi adalah 10
1. Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik
2. Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan
resusitasi
3. Nilai 0 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera
sampai ventilasi

LUBCHENKO CURVE
3

Kurva Lubchenco sampai saat sekarang ini masih digunakan oleh setiap praktisi dalam merawat
bayi baru lahir. Kurva Lubchenco adalah kurva pertumbuhan yang disajikan dalam bentuk table.
Definisi tentang bayi prematur adalah setiap bayi baru lahir dengan berat lahir <2500 g. Definisi
ini direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics dan World Health Assembly.
Dokter ahli pediatrics dihadapkan pada masalah hubungan antara usia kehamilan dan
pertumbuhan janin. Dengan Kurva Lubchenco diharapkan dapat menunjukkan hubungan
pertumbuhan janin dan usia kehamilan.
Dari Kurva Lubchenco dimungkinkan definisi yang lebih tepat lahir prematur dan adopsi luas
dari istilah "kecil untuk usia kehamilan", "besar untuk usia kehamilan", "kelambatan
pertumbuhan intrauterine," dan janin dysmaturity.
3


Gambar 2 LubChenko Chart
4


Ballard Score
5
Ballad score digunakan untuk menilai refleks neurologis neonatus. Tidak seperti penilaian umur
kehamilan berdasarkan kriteria fisik yang dapat dilakukan segera setelah lahir, pemeriksaan
neurologis harus dilakukan saat bayi berada dalam keadaan tenang dan beristirahat. Bayi normal
dan sebagian bayi SMK BKB tanpa gangguan lain dapat diperiksa secara akurat pada jam-jam
pertama kehidupan. Namun pada bayi-bayi lain hal ini baru dapat dilakukan di akhir hari
pertama kehidupan dan bagi sebagian lain baru pada hari kedua atau ketiga. Selain itu bayi yang
depresi, afiksia, mengalami kerusakan neurologis, atau berada dalam keadaan sakit, sulit
diperiksa secara akurat. Dilema penilaian neurologis ini menyebabkan beberapa peneliti lebih
mempercayai kriteria fisik daripada kriteria neurologis dalam menilai umur kehamilan secara
klinis pada BBLR. Ballard et al menciptakan suatu versi pendek sistem penilaian neurologis.
Pada prosedur ini pengunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang
dan beristirahat sehingga dapat lebih diandalkan selama beberapa jam kehidupan. Kriteria
pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturasi
fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan fisik digabungkan, kemudian
dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.
5

Maturasi Fisik
Tabel 3 Maturasi Fisik
5


Penjelasan :
5
1. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan
dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh
karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat
timbul ruam selama pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan
berbeda-beda pada masing-masing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan
lingkungan intrauterin.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit agak
transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit
menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang
menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat
mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses
pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, sepeti sebuah
perkamen.

2. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme prematurity kulit
janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25
minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika
memasuki minggu ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah.
Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang
paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah
tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi
tergantung pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi.
Sebagai contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak.
Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili
jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi.



3. Garis Telapak Kaki
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan berkaitan
dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih
mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit
hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis
pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian dengan
menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu. Bayi very
premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk
membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan plantar maka
dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm
diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. Hasil
pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel.

4. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi esterogen
ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Pemeriksa
menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan
papila Montgomery. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola
dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam millimeter.
5. Mata / Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring perkembangannya
menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago
kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian lepaskan dan
pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi
semulanya. Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika
dilepaskan. Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan
perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra
superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely
premature palpebara akan menempel erat satu sama lain. Dengan bertambahnya
maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan
meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya.
Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu
diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada individu dengan usia
gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stres intrauterin dan faktor
humoral yang mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra.

6. Genitalia Pria
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada
minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar
minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas
atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit
skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae .
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada
nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang belum bisa dibedakan
jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga posmatur, scrotum
biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik, dengan rugae
yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan
yang sama.

7. Genitalia Wanita
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan
telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45
o
dari garis horisontal. Abduksi yang
berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol
sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan
menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak
begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan
matur labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang
membesar.
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterin.
Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal
gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora cenderung kecil
meskipun pada usia kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris
cenderung lebih menonjol.

Maturasi Neuromuskuler
5

Tabel 4. Maturasi Neuromuskuler
5

Penjelasan :
5
1. Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya tahanan
saat otot diregangkan. Ketika pematangan berlangsung, berangsur-angsur janin
mengalami peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana ekstremitas
bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada awal kehamilan hanya pergelangan
kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai
fleksi, kemudian diikuti dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus
pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur
menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif.
Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai
bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat
dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau
sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya.
Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.

2. Jendela pergelangan tangan/ Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan ekstensor
memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari
bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut
antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan
berturut-turut > 90, 90, 60, 45, 30, dan 0.

3. Gerakan lengan membalik/ Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur sudut
mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan
cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian
bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan.Amati
reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/ gerakan acak, Skor 1:
fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110-140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 ,
dan Skor 4: kembali ke fleksi penuh.

4. Sudut popliteal
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan menguji resistensi
ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok,
paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi rileks
dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu tangan
sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain. Jangan memberikan tekanan
pada paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu interpretasi.
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur sudut yang
terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus
menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum melakukan ekstensi
kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48
jam pertama usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan intrauterine.
Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi.
5. Scarf Sign (Tanda selendang)
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring telentang,
pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi
melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa
diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua
bahu harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi
siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada
tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus
xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4).

6. Tumit ke Telinga/ Heel To Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan memberikan
fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi
terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin
dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan
amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka
pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil
dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0);
dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4).





Hasil Pemeriksaan
Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan, kemudian
dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.
5
Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Maturasi Fisik dan Maturasi Neuromuskular
5


Pemeriksaan Fisik Bayi Normal
6

Pemeriksaan Antropometri
6

1. Lakukan pengukuran berat badan, panjang badan, lingkar kepala, dan lingkar dada
2. Lakukan penilaian hasil pengukuran:
- Berat badan normal adalah 2500-3500 gram
- Panjang badan normal adalah 45-50 cm.
- Lingkar kepala normal adalah 33-35 cm.
- Lingkar dada normal adalah 30-33 cm, apabila diameter kepala lebih besar 3 cm
dari lingkar dada maka bayi mengalami hidrocephalus dan apabila diameter kepala
lebih kecil 3 cm dari lingkar dada maka bayi mengalami microcephalus.

Pemeriksaan Kepala
Caput succedaneum, yaitu edema pada kulit kepala, lunak dan tidak berfiuktuasi,
batasnya tidak tegas, dan menyeberangi sutura dan akan hilang dalam beberapa
hari.
Cephal haematum, yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tanpak pada hari
pertama karena tertutup oleh caput succedaneum. Cirinya konsistensi lunak,
berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi tulang tengkorak, tidak menyeberangi sutura
dan apabila menyeberangi sutura kemungkinan mengalami fraktur tulang
tengkorak. Cephal haematum dapat hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan
1


Pemeriksaan Mata
Tentukan penilaian ada tidaknya kelainan, seperti :
Strabismus (koordinasi gerakan mata yang belum sempurna)
Kebutaan, seperti jarang berkedip atau sensitifitas terhadap cahaya berkurang.
Sindrom Down, ditemukan epicanthus melebar.
Glaukoma kongenital, terlihat pembesaran dan terjadi kekeruhan pada kornea.
Katarak kongenital, apabila terlihat pupil yang berwarna putih.

Pemeriksaan Telinga
Amati bentuk daun telinga, kadang ada ditemukan deformitas daun telinga. Yaitu adanya
ujung kulit preaurikular unilateral atau bilateral sering terjadi, jika bertangkai ujung ini
dapat diikat kuat pada dasarnya, akan menjadi gangrene kering dan pengelupasan.
Membrane timpani dengan mudah dilihat dengan otoskopi melalui kanalis auditorius
eksterna yang pendek dan lurus, normalnya membrane ini tapak abu-abu suram.
7

Pemeriksaan Hidung
6

Amati pola pernapasan, apabila bayi bernapas melalui mulut maka kemungkinan
bayi mengalami obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana bilateral, fraktur
tulang hidung, atau ensefalokel yang menojol ke nasofaring. Sedangkan
pernapasan cuping hidung akan menujukkan gangguan pada paru.
Amati mukosa lubang hidung, apabila terdapat sekret mukopurulen dan berdarah
perlu,dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.

Pemeriksaan Mulut
Lakukan inspeksi adanya kista yang ada pada mukosa mulut.
Amati warna, kemampuan refieks menghisap. Apabila lidah menjulur keluar dapat
dinilai adanya kecacatan kongenital.
Amati adanya bercak pada mukosa mulut, palatum dan pipi bisanya disebut sebagai
Monilia albicans.

Pemeriksaan Pada Leher
Amati pergerakan leher apabila terjadi keterbatasan dalam pergerakannya maka
kemungkinan terjadi kelainan pada tulang leher, seperti kelainan tiroid, hemangioma, dan
lain-lain.

Pemeriksaan Dada, Paru, dan Jantung
Apabila tidak simetris, kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis
diafragma atau hernia diafragmatika.
Pernapasan bayi normal pada umumnya dinding dada dan abdomen bergerak secara
bersamaan. Frekuensi pernapasan bayi normal antara 40-60 kali per menit,
perhitungannya harus satu menit penuh karena terdapat periodic breathing di mana
pola pernapasan pada neonatus terutama pada prematur ada henti napas yang
berlangsung 20 detik dan terjadi secara berkala.
Lakukan auskultasi paru dan jantung dengan menggunakan stetoskop untuk menilai
frekuensi, dan suara napas/jantung. Secara normal frekuensi denyut jantung antara
120-160 kali per menit.

Pemeriksaan Abdomen
Lakukan inspeksi bentuk abdomen. Apabila abdomen membuncit kemungkinan
disebabkan hepatosplenomegali atau cairan di dalam rongga perut, dan adanya
kembung.
Lakukan auskultasi adanya bising usus.
Lakukan perabaan hati. Umumnya teraba 2-3 cm di bawah arkus kosta kanan.
Limpa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri.

Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstremitas
Letakkan bayi dalam posisi tengkurap, raba sepanjang tulang bclakang untuk mencari
ada tidaknya kelainan, seperti skoliosis, meningokel, spina bifida, dan lain-lain.
Amati pergerakan ekstremitas. Untuk mengetahui adanya kelemahan, kelumpuhan, dan
kelainan bentuk jari.

Pemeriksaan Anus dan Rektum
Lakukan inspeksi pada anus dan rektum, untuk menilai adanya kelainan atresia ani
atau posisi anus.
Lakukan inspeksi ada tidaknya mekonium (umumnya keluar pada 24 jam) apabila
ditemukan dalam waktu 48 jam belum keluar maka kemungkinan adanya
mekonium plug syndrome, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan.


Klasifikasi Bayi Baru Lahir Berdasarkan Usia Kehamilan Dan Berat Lahir
1. Berdasarkan masa kehamilan
Bayi Kurang Bulan (Prematur) adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum
mencapai 37 minggu.
Bayi Cukup Bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38-42 minggu.
Bayi Lebih Bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 42
minggu.

2. Berdasarkan berat badan
Bayi normal bayi dengan berat lahir 2500 gram-4000 gram
Bayi berat lahir rendah (BBLR) bayi dengan berat lahir <2500 gram
Bayi Besar (Makrosomi) bayi dengan berat lahir >4000 gram
1


Pemeriksaan Penunjang
3
Bayi baru lahir (BBL) tampak kuning apabila kadar bilirubin serumnya kira-kira 6 mg/dl
atau 100 mikro mol/L (1 mg mg/dl = 17,1 mikro mol/L).7(levina) Pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Kadar Bilirubin Serum berkala. (normal: bilirubin total: <1 mg/dl; bilirubin direk: <0,3
mg/dl)
2. Darah tepi lengkap (blood smear perifer ) untuk menunjukkan sel darah merah abnormal
atau imatur, eritoblastosisi pada penyakit Rh atau sferosis pada inkompatibilitas ABO.
3. Golongan darah ibu dan bayi untuk mengidentifikasi inkompeten ABO.
4. Test Coombs pada tali pusat bayi baru lahir
Hasil positif test Coomb indirek membuktikan antibody Rh + anti A dan anti B dalam
darah ibu. Hasil positif dari test Coomb direk menandakan adanya sensitisasi ( Rh+, anti
A, anti B dari neonatus )
5. Biakan darah bila ada tanda-tanda sepsis
6. Biopsi hepar bila perlu.
Diagnosis Kerja
Ikterus Fisiologis
Bilirubin tidak terkonjugasi secara efisien akan dibersihkan oleh placenta. Kadar bilirubin di
dalam darah tali pusat hanya 1,5mg/dL. Ikterus diamati selama usia minggu pertama pada sekitar
60% bayi cukup bulan dan 80% bayi preterm. Warna kuning biasanya akibat di dalam kulit
terjadi akumulasi pigmen bilirubin yang larut lemak, tak terkonjugasi, non polar (bereaksi
indirek) yang dibentuk dari hemoglobin yang dibentuk oleh kerja heme oksigenase, biliverdin
reduktase dan agen pereduksi nonenzimatik dalam sel retikuloendotelial.
7

Pada lingkungan normal, kadar bilirubin dalam serum tali pusat yang bereaksi indirek adalah 1-
3mg/dL dan naik dengan kecepatan kurang dari 5mg/dL/24 jam, dengan demikian ikterus dapat
dilihat pada hari kedua sampai ketiga, biasanya berpuncak antara hari ke 2-4 dengan kadar 5-
6mg/dL dan menurun sampai dibawah 2mg/dL antara umur hari ke 5 dan ke-7. Ikterus yang
disertai dengan perubahan-perubahan ini disebut fisiologis dan diduga akibat kenaikan produksi
bilirubin pasca pemecahan sel darah merah janin dikombinasi dengan keterbatasan sementara
konjugasi bilirubin oleh hati.
7
Secara keseluruhan, 6-7% bayi cukup bulan mempunyai kadar bilirubin indirek lebih besar dari
12,9mg/dL dan kurang dari 3% mempunyai kadar yang lebih besar dari 15mg/dL.
Faktor resiko untuk mengalami hiperbilirubinemia indirek meliputi : diabetes pada ibu, ras (Cina,
Jepang, Korea, dan Amerika asli), prematuritas, obat-obatan (vit. K3, novobiosin), tempat yang
tinggi, polisitemia, jenis kelamin laki-laki, trisomi-21, memar kulit, sefalhematom, induksi
oksitosin, pemberian ASI, kehilangan berat badan (dehidrasi atau kehabisan kalori),
pembentukan tinja lambat, dan ada saudara yang mengalami ikterus fisiologis.
Pada bayi cukup bulan kadar bilirubin indirek menurun sampai menjadi kadar orang dewasa
(1mg/dL) pada umur 10-14 hari, hiperbilirubinemia indirek persisten sesudah 2 minggu memberi
kesan hemolisis, defisiensi glukoronil transferase herediter, ikterus ASI, hipotiroidisme atau
obsruksi usus.
7
Pada bayi premature kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau sedikit lebih lambat daripada
kenaikan bilirubin pada bayi cukup bulan tetapi jangka waktunya lama, puncaknya dicapai antara
hari ke-4 dan ke-7, gambarannya bergantung pada waktu yang diperlukan bayi premature untuk
mencapai mekanisme matur dalam metabolism dan ekskresi bilirubin. Biasanya kadar puncak 8-
12 mg/dL tidak dicapai sebelum hari ke-5 sampai ke-7, dan ikterus jarang diamati sesudah hari
ke -10.
7

Diagnosis Banding
Penyakit Hemolitik Bayi Baru Lahir Akibat Inkompatibilitas ABO
7
Inkompabilitas golongan darah utama antara ibu dan janin biasanya mengakibatkan penyakit
yang lebih ringan daripada inkompabilitas Rh.
7
Antibody ibu akan dibentuk melawan sel B jika ibu golongan darah A atau melawan sel A bila
ibu golongan darah B. namun biasanya ibu adalah golongan O dan bayi golongan A atau B.
walaupun inkompabilitas ABO terjadi pada 20-25% kehamilan, penyakit hemolitik hanya
berkembang pada 10%.

Sebagian besar kasusnya ringan, dengan ikterus sebagai satu-satunya manifestasi klinis. Bayi
biasanya tidak terkena secara menyeluruh pada saat lahir, tidak ada pucat, dan hidrops fetalis
sangat jarang. Hati dan limpa tidak sangat membesar,jika ditemukan. Ikterus biasanya timbul
pada 24 jam pertama. Kadang-kadang penyakit ini menjadi berat dan gejala serta tanda kern
ikterus berkembang dengan cepat.
Diagnosis dugaan didasarkan pada adanya inkompabilitas ABO, uji Coombs direk positif lemah
sampai sedang, dan adanya sferosit pada pulasan darah yang kadang-kadang memberi kesan
adanya sferositosis herediter. Kadar hemoglobin biasanya normal tetapi dapat rendah, retikulosit
dapat naik 10-15% dengan polikromasia luas dan kenaikan jumlah sel darah merah berinti.
Hiperbilirubinemia sering merupakan satu-satunya kelainan laboratorium, pada 10-20% bayi
yang terkena kadar serum bilirubin tak terkonjugasinya dapat mencapai 20mg/dL atau lebih jika
tidak dilakukan fototerapi.

Sepsis Pada Bayi Baru Lahir
8
Sepsis pada BBL adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan
ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih.
Keadaan ini sering terjadi pada bayi beresiko misalnya pada BKB, BBLR, bayi dengan sindrom
gangguan nafas atau bayi yang lahir dari ibu beresiko. Sepsis neonatal biasanya dibagi dalam dua
kelompok yaitu sepsis awitan dini dan awitan lambat. Pada awitan dini, kelainan ditemukan pada
hari-hari pertama kehidupan (usia dibawah 3 hari). Infeksi terjadi secara vertikal karena penyakit
ibu atau infeksi yang diderita ibu selama persalinan atau melahirkan. Sementara itu, pada sepsis
awitan lambat terjadi karena disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan di sekitar
bayi. Gambaran klinis pasien sepsis neonatal tidak spesifik. Tanda dan gejala sepsis neonatal
tidak berbeda dengan penyakit non infeksi BBL lain. Gambaran klinis sepsis dapat berupa
hipo/hipernatremia, hipoglikemi dan kadang- kadang hiperglikemi. Selanjutnya akan terlihat
berbagai kelainan dan gangguan fungsi organ tubuh. Gangguan fungsi organ tersebut antara lain
kelainan susunan saraf pusat seperti latergi, refleks hisap buruk, menangis lemah dan bayi
menjadi irritabel serta mungkin disertai kejang. Kelainan kardiovaskuler seperti hipotensi, pucat,
sianosis, dan dingin. Bayi dapat pula memperlihatkan kelainan hematologik, gastrointestinal
ataupun gangguan respirasi seperti perdarahan, ikterus, muntah, diare, distensi abdomen, dan
lain-lainnya. Hb< 5g/dl, bilirubin total >3 mg%, trombosit <100.000.3 Pada sepsis dapat
dijumpai uji Coombs direk yang negatif, trombositopenia.
Ada beberapa penyebab sepsis neonatus salah satunya adalah spesis yang dapat disebabkan oleh
Rubella virus yang menyebabkan malformasi jika infeksi terjadi pada usia kehamilan dini. Bayi
yang terinfeksi juga dapat terlahir dengan menunjukkan gejala viremia aktif seperti ikterus,
hepatosplenomegali, purpura, dan sesekali lesi pada tulang dan paru. Hal ini dapat mengikuti
infeksi yang terjadi kemudian pada kehamilan dan tidak berlanjut menjadi malformasi.
8

Etiologi
Metabolisme bilirubin bayi baru lahir berada dalam transisi dari stadium janin yang selama
waktu tersebut plasenta merupakan tempat utama eliminasi bilirubin yang larut lemak, ke
stadium dewasa yang selama waktu tersebut bentuk bilirubin terkonjugasi yang larut air
dieksresikan dari sel hati kedalam system biliaris dan kemudian masuk ke dalam saluran
pencernaan.

Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh
beberapa faktor. Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi :
9

1. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya pada hemolisis yang
meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, AB0, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PD,
piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.

2. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia
dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom criggler-Najjar).
Penyebab lain yaitu defisiensi protein. Protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam
uptake bilirubin ke sel hepar.

3. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan
albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole.Defisiensi albumin
menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah
melekat ke sel otak.

4. Gangguan dalam ekskresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar hepar. Kelainan diluar hepar
biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau
kerusakan hepar oleh penyebab lain.

Epidemiologi
Ikterus diamati selama usia minggu pertama pada sekitar 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi
preterm. Secara keseluruhan, 6-7% bayi cukup bulan mempunyai kadar bilirubin indirek lebih
besar dari 12,9mg/dL dan kurang dari 3% mempunyai kadar yang lebih besar dari 15mg/dL.
7

Patofisiologi
10
Metabolisme bilirubin
Penumpukan bilirubin merupakan penyebab terjadinya kuning pada bayi baru lahir. Bilirubin
adalah hasil pemecahan sel darah merah (SDM). Hemoglobin (Hb) yang berada di dalam SDM
akan dipecah menjadi bilirubin. Satu gram Hb akan menghasilkan 34 mg bilirubin.
Bilirubin ini dinamakan bilirubin indirek yang larut dalam lemak dan akan diangkut ke hati
terikat oleh albumin. Di dalam hati bilirubin dikonyugasi oleh enzim glukoronid transferase
menjadi bilirubin direk yang larut dalam air untuk kemudian disalurkan melalui saluran empedu
di dalam dan di luar hati ke usus.
Di dalam usus bilirubin direk ini akan terikat oleh makanan dan dikeluarkan sebagai sterkobilin
bersama bersama tinja. Apabila tidak ada makanan di dalam usus, bilirubin direk ini akan diubah
oleh enzim di dalam usus yang juga terdapat di dalam air susu ibu (ASI), yaitu beta-
glukoronidase menjadi bilirubin indirek yang akan diserap kembali dari dalam usus ke dalam
aliran darah. Bilirubin indirek ini akan diikat oleh albumin dan kembali ke dalam hati. Rangkaian
ini disebut siklus enterohepatik (rantai usus-hati).

I kterus pada neonatus
Peningkatan bilirubin pada neonatus sering terjadi akibat :
Selama masa janin, bilirubin diekskresi (dikeluarkan) melalui plasenta ibu,
sedangkan setelah lahir harus diekskresi oleh bayi sendiri dan memerlukan waktu
adaptasi selama kurang lebih satu minggu
Jumlah sel darah merah lebih banyak pada neonatus
Lama hidup sel darah merah pada neonatus lebih singkat dibanding lama hidup sel darah
merah pada usia yang lebih tua
Jumlah albumin untuk mengikat bilirubin pada bayi prematur (bayi kurang bulan) atau
bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan intrauterin (dalam kandungan) sedikit.
Uptake (ambilan) dan konyugasi (pengikatan) bilirubin oleh hati belum sempurna,
terutama pada bayi prematur
Sirkulasi enterohepatik meningkat

Manifestasi Klinis
8
Sekitar 50% bayi baru lahir terlihat ikterus selama minggu pertama setelah dilahirkan. Mekanise
yang paling sering terjadi adalah fisiologis dan mencerminkan kekurangan sementara dalam
system konjugasi.
Dalam klinis penting untuk mengenali bayi yang tidak membutuhkan intervensi atau
pemeriksaan, daripada mengukur kadar bilirubin. Bayi seperti ini mengikuti prinsip utama
ikterus fisiologis:
Kuning tidak terlihat pada 24 jam pertama
Bayi tetap sehat
Serum bilirubin tidak mencapai kadar yang harus mendapatkan perawatan
Kuning hilang dalam 14 hari.

Penatalaksanaan
Ikterus fisiologis tidak memerlukan penanganan yang khusus, kecuali pemberian minum sedini
mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang mencukupi. Pemberian minu sedini mungkin
akan meningkatkan motilitas usus dan juga menyebabkan bakteri diintroduksi ke usus. Bakteri
dapat mengubah bilirubin direk menjadi urobilin yang tidak dapat diabsorpsi kembali. Dengan
demikian kadar bilirubin serum akan turun. Meletakkan bayi dibawah sinar matahari selama 15-
20 menit, ini dilakukan setiap hari antara pukul 6.30-08.00. Selama ikterus masih terlihat,
perawat harus memperhatikan pemberian minum dengan jumlah cairan dan kalori yang encukupi
dan pemantauan perkembangan ikterus. Apabila ikterus makin meningkat intensitasnya, harus
segera dilaporkan karena mungkin membutuhkan penanganan yang lebih khusus.
1
Tujuan terapi adalah adalah mencegah kadar bilirubin indirek dalam darah mencapai kadar yang
memungkinkan terjadinya neurotoksisitas, dianjurkan untuk fototerapi, dan jika tidak berhasil
transfuse tukar dilakukan untuk mempertahankan kadar maksimum bilirubin total dalam serum
dibawah kadar yang disarankan.
7
Fototerapi
7
Fototerapi hanya merupakan indikasi sesudah hiperbilirubinemia yang patologis ditegakkan.
Penyebab dasar hiperbilirubin harus diobati bersama-sama. Fototerapi profilaksis pada bayi
BBLSR dapat mencegah hiperbilirubinemia dan mengurangi insidens transfusi tukar. Dengan
fototerapi, bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam air tanpa
harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya menjaga kadar bilirubin agar tak
terus meningkat sehingga menimbulkan risiko yang lebih fatal.
Bayi normal yang mendapat fototerapi selama 1-3 hari mempunyai kadar puncak bilirubin serum
sekitar setengah dari bayi yang tidak diobati. Bayi premature yang tanpa hemolisis berarti
biasanya bilirubin serumnya turun 1-3mg/dL sesudah 12-24 jam menjalani fototerapi
konvesional, dan kadar puncak yang dicapai dapat diturunkan 3-6mg/dL.
Transfusi Tukar
7
Pengobatan yang diterima secara luas ini harus diulangi sesering yang diperlukan untuk
mempertahankan kadar bilirubin indirek dalam serum dibawah kadar yang disarankan.
Munculnya tanda-tanda klinis yang member kesan kernikterus merupakan indikasi untuk
melakukan transfuse tukar pada kadar bilirubin serum berapapun.
Bayi cukup bulan yang sehat dengan ikterus fisiologis atau akibat ASI dapat mentoleransi kadar
bilirubin sedikit lebih tinggi dari 25mg/dL tanpa tampak sakit, sedangkan bayi premature yang
sakit dapat mengalami ikterus pada kadar bilirubin yang sangat rendah. Kadar yang endekati
perkiraan kritis pada setiap bayi dapat merupakan indikasi untuk transfuse tukar semasa usia satu
atau dua hari ketika kenaikan yang lebih lanjut diantisipasi, tetapi bukan pada hari ke-4 pada bayi
cukup bulan atau pada hari ke-7 pada bayi premature, ketika penurunan yang terjadi segera bisa
diantisipasi saat mekanisme konjugasi hati menjadi lebih efektif.
Fenobarbital
7
Fenobarbital memperbesar konjugasi dan ekskresi bilirubin. Pemberiannya akan membatasi
perkembangan ikterus fisiologis pada bayi baru lahir bila diberikan pada ibu dengan dosisi
90mg/24 jam. Meskipun demikian fenobarbital tidak secara rutin dianjurkan untuk mengobati
ikterus pada neonatus karena pengaruhnya pada metabolism bilirubin biasanya tidak terlihat
sebelum mencapai beberapa hari pemberian, karena efektivitas obat ini lebih kecil dari fototerapi
dalam menurunkan kadar bilirubin, dank arena dapat mempunyai efek sedative yang tidak
menguntukan serta tidak menambah respon fototerapi.

Komplikasi Ikterus Pada Neonatus

Kern I kterus
11
Komplikasi terberat ikterus pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin, atau kern ikterus.
Terjadi pada keadaan hiperbiirubinemia indirek yang sangat tinggi, cedera sawar darah otak, dan
adanya molekul yang berkompetisi dengan bilirubin untuk mengikat albumin. Adanya keadaan
seperti hipoksemia, hiperkarbia, hipotermia, hipoglikemia, hipoalbuminemia, dan
hiperosmolalitas, dapat menurunkan ambang toksisitas bilirubin dengan membuka sawar darah
otak. Pada bayi cukup bulan tanpa hemolisis, kernikterus jarang dijumpai pada kadar hemoglobin
kurang dari 25mg/dL. Semakin rendah berat lahir bayi, semakin rendah kadar toksik.

Pada bayi cukup bulan, ensefalopati bilirubin biasanya bermanifestasi pada hari kedua dan
kelima. Gambaran klinisnya tidak dapat dibedakan dari sepsis, asfiksia, perdarahan
intraventrikular, dan hipoglikemia. Gejala ensefalopati bilirubin meliputi letargi, tidak mau
makan, reflex moro yang lemah. Pada akhir minggu pertama kehidupan bayi menjadi demam
dan hipertonik disertai tangisan nada tinggi (high pitched cry). Reflex tendon dan respirasi
menjadi terdepresi. Bayi akan mengalami opistotonus disertai penonjolan dahi ke anterior. Dapat
mulai terjadi kejang tonik-klonik umum. Jika bayi dapat bertahan hidup, gambaran-gambaran
klinis ini akan menghilang dala usia dua bulan, kecuali sisa kekakuan otot, opistotonus, gerakan
ireguler, dan kejang. Pada akhirnya anak tersebut mengalami koreoatetosis, tuli sensorineural,
strabismus, kelainan pandangan keatas dan disarthria.

Pencegahan
Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :
Pengawasan antenatal yang baik
Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi. Pada masa kehamilan dan
kelahiran, misalnya sulfafurazole, novobiosin, oksitosin dan lain-lainnya
Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonates
Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus
Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir
Pemberian makanan yang dini
Pencegahan infeksi
Prognosis
Prognosis ikterus fisiologis umumnya baik, pada umumnya tanpa pengobatan apapun akan
sembuh sendiri, sangat jarang sampai menimbulkan komplikasi. Tetapi identifikasi dan terapi
dini ikterus neonatorum dapat mencegah kerusakan otak berat (ensefalopati bilirubin).
Daftar Pustaka
1. Surasmi A, Handayani S, Kusuma HN. Perawatan bayi resiko tinggi. Jakarta: EGC;
2003.h.57-60
2. Kosim SA, Yunanto A, Dewi R, Sarosa IG, Usman A. Buku ajar neonatologi. Edisi
ke-1. Jakarta: ikatan dokter anak Indonesia;2010.h.12-13,71-86
3. Susi N, Syamsi RM, Sikumbang TMN, Hartanto H, Vera, Bani A. Buku ajar pediatri
Rudolph. Edisi 20, vol 1. Jakarta : EGC;2006.h.242-58
4. Gambar 2. Grafik Lubchenko. Diunduh dari:
http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/08/pertumbuhan-janin.html. 27 Mei 2014
5. Ballard Score. Diunduh dari: http://blogs.unpad.ac.id/maryati/files/2011/01/Ballard-
Score.pdf. 27 Mei 2014
6. Wahidiyat I, Matondang CS, Sastroasmoro S. Diagnosis Fisis Pada Anak. Jakarta:
FKUI; 1991
7. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi ke-15.
Jakarta: EGC; 2012
8. Meadow R, Newell SJ. Lecture notes pediatrika. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2003.h.75-9
9. Damanik SM, Sukadi A, Aminullah A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, et al . Buku
ajar neonatologi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2012
10. Suradi R, Letupeirissa D. Air susu ibu dan ikterus. Diunduh dari:
http://idai.or.id/public-articles/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-ikterus.html. 27 Mei 2014
11. Schwartz W. Pedoman klinis pediatric. Jakarta: EGC; 2005.h.484






Makalah PBL Blok 25

Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan
Dengan Ikterus Fisiologis









Oleh:
Baby Ventisa 102011179
baby.k_2207@yahoo.com


Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6
Telp. 021-56942061
Jakarta Barat